• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan (Desember 2016 - Februari 2017) di Desa Lubuk Kertang Kecamatan Brandan Barat Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara. Peta lokasi disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian

Deskripsi Lokasi Penelitian Stasiun 1

Terletak berdekatan dengan tepi pantai, secara geografis memiliki koordinat 04 o07’39,71”LU, 098o30’97,87”BT. Area ini memiliki ketersediaan mangrove jenis Rhizophora spp. dan Avicennia spp. yang jumlahnya melimpah. Kondisi stasiun 1 berdekatan dengan bibir pantai dan terpengaruh oleh pasang surut air laut. Kondisi stasiun 1 dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Stasiun 1

Stasiun 2

Terletak pada anak sungai yang langsung berbatasan dengan muara. Secara geografis, letak stasiun 2 berada pada koordinat 04o02’36,799”LU, 098o 17’46,498”BT. Area ini di dominasi oleh tanaman Avicennia spp. dan Rhizophora spp. Di area tersebut terdapat kegiatan penangkapan udang dalam bentuk perangkap. Stasiun ini memiliki substrat berlumpur. Kondisi stasiun 2 dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Stasiun 2

Stasiun 3

Terletak pada anak sungai yang berhubungan langsung dengan perairan sekitar muara. Stasiun ini terletak pada koordinat 04o03’06,302”LU, 098o 16’26,133”BT. Area ini dijumpai tumbuhan Rhizophora spp. yang melimpah. Dan tidak ditemukan lagi tumbuhan Avicennia spp. Stasiun ini memiliki substrat yang pada umumnya lumpur. Kondisi dari stasiun 3 dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Stasiun 3

Stasiun 4

Terletak pada anak sungai yang berhubungan langsung dengan muara sungai dan tempat pertemuan dari beberapa anak sungai lainnya. Letak geografis dari stasiun 4 adalah 04o03’43,682”LU, 098o16’47,364”BT. Beberapa dijumpai tumbuhan Sonneratia spp. dan didominasi oleh Rhizophora spp. Stasiun 4 memiliki substrat berlumpur. Kondisi stasiun 4 dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Stasiun 4

Stasiun 5

Terletak pada anak sungai lebih ke hulu dan tidak berbatasan langsung dengan muara. Pada stasiun ini dijumpai beberapa aktivitas warga seperti kebun sawit, dan terhubung pada anak sungai pada Ekowisata Mekar. Letak geografis dari stasiun 5 adalah 04 o 06’70,65”LU, 098o 28’20,10”BT. Pada stasiun ini terdapat Sonneratia spp. dalam jumlah yang melimpah. Stasiun 5 memiliki

substrat berlumpur. Kondisi stasiun 5 dapat dilihat pada Gambar 7. Keadaan umum dari lokasi penelitian di Setiap Stasiun dapat dilihat pada Lampiran 1.

Gambar 7. Stasiun 5

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Global Positioning System (GPS), meteran, tali plastik, gunting, kantong plastik, timbangan, kamera, thermometer, litter trap, litter bag, hand refraktometer, buku identifikasi mangrove (Noor, dkk., 2006) dan alat tulis.

Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah serasah daun mangrove, kertas label, karet gelang, tally sheet, spidol permanen, dan tisu.

Prosedur Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara dan observasi. Metode wawancara ini mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Diharapkan dengan cara ini dapat mengumpulkan informasi mengenai nilai dan manfaat dari ekosistem mangrove untuk perikanan. Metode observasi pada penelitian ini dilakukan dengan cara pencatatan secara sistematis terhadap jenis pohon, jumlah pohon, dan produksi serasah. Dalam metode ini akan dihasilkan data primer yang 19

digunakan dalam mengestimasi produksi perikanan melalui produksi serasah (Romadhon, 2008).

Objek penelitian adalah ekosistem mangrove, sumberdaya perikanan, dan

masyarakat. Obyek penelitian dipilih secara sengaja (purposive) (Yuningsih, dkk., 2013). Peneliti menggunakan metode tersebut dengan

pertimbangkan bahwa ada keterkaitan antara kawasan mangrove dengan sumberdaya perikanan di sekitarnya.

Jenis dan Sumber Data

Data primer meliputi karakteristik pohon mangrove, parameter fisika dan kimia lingkungan, produktivitas primer ekosistem mangrove, data sosial ekonomi nelayan dan petambak terkait dengan pemanfaatan ekosistem mangrove. Sedangkan data sekunder meliputi data produksi perikanan, jumlah nelayan, jumlah petambak, luas tambak dan mangrove (Tabel 1).

Tabel 1. Jenis Data Penelitian

No. Data Alat Metode Jenis 1. Kondisi Umum Lokasi Kertas dan

Bulpen Wawancara dan Pengamatan Langsung Primer dan Sekunder 2. Karakteristik Mangrove (Kerapatan, Tinggi, diameter, dan Jenis)

GPS, Kamera, Meteran, Tali Transek kuadran 10x10 m dan pengamatan visual Jenis : Noor dkk. (2006) Primer 3. Parameter Lingkungan (Suhu, Salinitas, Tekstur Sedimen) Refraktometer Termometer Plastik In situ Primer 4. Serasah Mangrove untuk menduga produksi perikanan Kantong plastik litter trap 1x1 m2

Sampel dioven pada suhu 105 . litter bag, timbangan, tali raffia o Primer C selama 24 jam. Setelah itu ditimbang. 5. Nilai Pemanfaatan (Konsumen Surplus) Bulpen, kertas, dan laptop Kuisioner Primer 6. Luas mangrove dan

tambak

Kertas dan Bulpen

Survey Primer dan Sekunder 7. Jumlah nelayan dan

petambak

Kertas dan Bulpen

Survey Primer dan Sekunder

Karakteristik Ekosistem Mangrove

Karakteristik ekosistem mangrove meliputi: kerapatan, jenis dan diameter batang. Untuk pengambilan sampel dilakukan pengamatan transek kuadran secara purposive sampling pada lima (5) stasiun, yang dianggap mewakili mangrove yang berbatasan dengan laut (stasiun 1 dan 2), dan mangrove bagian hulu (3, 4, dan 5). Pengambilan data mangrove dilakukan dengan cara menarik transek sejauh 100 m yang dibuat tegak lurus dari garis pantai. Pada setiap stasiun terdiri dari 3 plot dengan ukuran 10 x 10 m (pohon), sebagai ulangan (Bengen, 2004). Pada setiap plot yang telah ditentukan, hitung jumlah pohon mangrove untuk menghitung kerapatan pohon setiap stasiunnya. Pada setiap zona sepanjang transek garis, ukur parameter lingkungan yang ditentukan dan pada setiap petak contoh (plot), amati dan catat tipe substrat. Prosedur pengamatan dan pengambilan sampel dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Analisis Vegetasi Tingkat Pohon

Arah Rintis

Pengukuran Parameter Fisika dan Kimia

Parameter Fisika dan kimia yang diamati meliputi jenis substrat, suhu, salinitas. Stasiun pengambilan sampel dilakukan pada beberapa titik yaitu tiga titik yang berada pada plot dalam stasiun.

Produksi Serasah Mangrove

Produksi serasah mangrove dihitung dengan menggunakan metode litter trap. Litter trap berukuran 1 × 1 m² (Ashton, dkk., 1999) terbuat dari jaring waring dipasang di bawah kanopi pohon pada ketinggian kira-kira 1-1,5 m di atas permukaan tanah pada tiap-tiap petak atau plot. Tiap stasiun diletakkan 5 buah litter trap secara acak (Mahmudi, 2010). Serasah yang jatuh di atas jaring diambil dan dimasukkan ke dalam kantong plastik setiap 14 hari selama empat (4) kali (Aida, dkk., 2014). Selanjutnya serasah dipisahkan berdasarkan komponen daun, ranting dan buah. Setiap komponen ditimbang berat sebelum dioven (berat basah) dan setelah dioven pada suhu 105 ºC sampai beratnya konstan (berat kering) (Ashton, dkk., 1999). Desain dan ilustrasi pemasangan perangkap serasah selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Desain dan ilustrasi pemasangan perangkap serasah

Pemanfaatan Ekosistem Mangrove untuk Perikanan

Manfaat mangrove bagi masyarakat diidentifkasi dari kegiatan pemanfaatan perikanan seperti nelayan dan aktifitas pemanfatan habitat seperti tambak. Manfaat diperoleh dengan mengetahui pendapatan, harga ikan, pendidikan, umur, dan jumlah keluarga nelayan dan petambakdengan teknik wawancara. Pemilihan responden dilakukan dengan cara purposive sampling. Kemudian data tersebut diolah dengan Microsoft Excel dan software Maple 11 untuk mengetahui surplus konsumen dan nilai ekonomi pemanfaatan (Raharja, dkk., 2014).

Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Langkat. Data sekunder yang digunakan meliputi:

1. Statistik perikanan tangkap Kabupaten Langkat Tahun 2016. 2. Statistik perikanan budidaya Kabupaten Langkat Tahun 2016.

3. Data jumlah nelayan dan petambak di Desa Lubuk Kertang Tahun 2016. 4. Luas mangrove dan tambak Tahun 2016

Analisis Data

Analisis Hubungan Karakteristik Mangrove dan Parameter Fisika Kimia

Hubungan antara karakteristik mangrove dengan parameter lingkungan dianalisis dengan Agglomerative Hierarchical Clustering (AHC) untuk dikelompokkan dalam kelas yang memiliki karakteristik yang sama atau berdekatan (Aida, dkk., 2014). Analisis untuk mengelompokkan stasiun penelitian yang memiliki karakteristik yang sama atau mirip ke dalam satu kelas sehingga dapat dibedakan produksi serasah mangrove yang dihasilkan.

Analisis Indeks Nilai Penting

Menurut Bengen (2004), nilai penting ini memberikan gambaran tentang peranan suatu jenis mangrove dalam ekosistem dan dapat juga digunakan untuk mengetahui dominansi suatu spesies dalam komunitas. Indeks Nilai Penting untuk pohon merupakan penjumlahan kerapatan relatif, frekuensi relatif dan dominansi relatif. INP = KR + FR + DR Keterangan: KR (Kerapatan relatif) = x 100 % FR (Frekuensi Relatif) = x 100 % DR (Dominasi Relatif) = x 100 %

Analisis Indeks Keragaman (H’) Shannon-Wiener

Indeks keragaman (H’) menggambarkan keragaman, produktivitas, tekanan pada ekosistem, dan kestabilan ekosistem (Bengen, 2004).

H’ =

Keterangan :

Pi = ∑ni/N

H’ = Indeks Keragaman Shannon-Wiener

Pi = Jumlah individu suatu spesies/jumlah total seluruh spesies Ni = Jumlah individu spesies ke-i

N = Jumlah total individu

Kisaran nilai hasil perhitungan indeks keragaman (H’) menunjukkan bahwa jika: H’ > 3 : Keragaman spesies tinggi

1<H<3 : Keragaman spesies sedang H’<1 : Keragaman spesies rendah

Analisis Produktivitas Primer

Analisis produksi serasah dilakukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut (Mahmudi, dkk., 2008) :

Xj = (g/m²) (1)

Keterangan :

Xj = rata-rataproduksi serasah setiap ulangan pada periode tertentu Xi = produksi serasah setiap ulangan pada periode waktu tertentu (ke-i = 1,2,3,…n)

N = jumlah litter trap pengamatan

Dari produksi serasah daun mangrove yang dihasilkan, setelah mengalami proses grazing, ekspor dan dekomposisi, serasah daun akan menghasilkan nutrien (N, P) ke lingkungan perairan kemudian diperoleh nilai produktivitas primer dari serasah (de Weir, dkk., 2005). Produktivitas primer tersebut pada akhirnya akan menentukan stok ikan di perairan (Beveridge, 1984). Formula untuk pendugaan stok ikan dengan pendekatan serasah dapat dilihat Gambar 10.

Gambar 10. Formula Untuk Pendugaan Stok Ikan dengan Pendekatan Serasah

Analisis Luasan dan Perubahan Luasan Mangrove

Pra-pengolahan merupakan kegiatan koreksi citra secara geometris dan radiometrik, sehingga diperoleh data citra yang sudah memiliki posisi geografi yang sesuai dengan referensi dimuka bumi, serta data tersebut sudah mampu untuk dianalisis dan dioverlaykan dengan peta vektor digital lainnya. Selanjutnya Berat Kering (bk) Serasah Mangrove (g/m2/hr) Nutrien (g/hr) x g N/g bk/hr y g P/g bk/hr Produktivitas Primer (PP) g C/m2/hr ∑ Nutrien x 2 x 17 Ikan Herbivora (HF) g/m2/hr 10 x (b x ∑ PP) Ikan Karnivora (CF) g/m2/hr 10 % HF 25

citra raster yang sudah terkoreksi diinterpretasi dengan komposisi band RGB 453 pada Landsat 5 TM dan RGB 543 pada Landsat 8 OLI/TIRS untuk menampilkan wilayah mangrove dan ground check ke lapangan untuk membuktikan hasil interpretasi. Selanjutnya hasil interpretasi dilakukan digitasi dengan menu edit region. Pengolahan citra Landsat menggunakan software ER. Mapper 7.1 dan ArcMap 10.2.2 (Suwargana, 2008).

Hasil edit region tersebut dihitung luasnya dengan menu statistik area summary report. Hasilnya diperoleh dari perbandingan antara citra landsat Tahun 1996, Tahun 2006, dan Tahun 2016. Perubahan luas mangrove tersebut dimasukkan ke dalam model sebagai dinamika mangrove.

Analisis Nilai Pemanfaatan Perikanan

Pemanfaatan ekosistem mangrove di lokasi penelitian didominasi oleh kegiatan perikanan tangkap oleh nelayan dan pemanfaatan habitat mangrove sebagai tambak. Analisis nilai ekosistem mangrove untuk pemanfaatan perikanan

dan pemanfaatan habitat menggunakan pendekatan surplus konsumen (Raharja, dkk., 2014).

Causal Loop dan Model Dinamik Pengelolaan Sumberdaya Mangrove

Sebelum dibuat model, variabel yang terlibat didalamnya dibuat causal loop untuk melihat keterkaitan antar variabel. Pemodelan dilakukan melalui simulasi model dengan bantuan komputer software sistem dinamik Powersim Studio 10, yaitu dengan memasukkan variabel-variabel yang terkait (Noer, 2009). Pemodelan simulasi model keterkaitan sumberdaya mangrove dan produksi perikanan ini dilakukan dengan tiga (3) skenario, yaitu:

1) Skenario 1, kondisi tetap

Kondisi ekosistem mangrove dan pemanfaatan di Desa Lubuk Kertang belum mengalami penambahan/pengurangan.

2) Skenario 2, konservasi ekosistem mangrove

Kondisi ekosistem mangrove di Desa Lubuk Kertang dikonservasi dengan penambahan mangrove pada lahan yang tersedia.

3) Skenario3, penurunan kawasan mangrove

Pemodelan sistem dinamik keterkaitan sumberdaya mangrove dan produksi perikanan dari penangkapan dan budidaya dilakukan dengan mensimulasi luasan mangrove pada kondisi tetap dan kondisi optimal di Desa Lubuk Kertang dengan bantuan software sistem dinamik.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Mangrove merupakan ekosistem yang memiliki peranan penting dalam pengelolaan kawasan pesisir dan lautan. Namun semakin hari semakin kritis kondisi dan keberadaannya. Beberapa daerah pesisir di Indonesia sudah terlihat degradasi ekosistem mangrove akibat terjadinya eksploitasi. Hal ini disebabkan karena mangrove telah dialihfungsi menjadi peruntukkan lainnya oleh kegiatan pembangunan. Menurut Kusmana (2014) luas hutan mangrove di Indonesia yaitu 3.244.018 ha. Lebih dari setengah hutan mangrove yang ada dilaporkan rusak (69,5%), diantaranya 27,4% rusak ringan dan 41,9% rusak berat. Luas hutan mangrove di Pulau Sumatera yaitu ± 577.000 ha dan 50.369 ha berada di Provinsi Sumatera Utara.

Ekosistem mangrove memiliki peranan ekologi, sosial-ekonomi, dan sosial-budaya yang sangat penting. Fungsi ekologi hutan mangrove meliputi remediasi bahan pencemar, menjaga stabilitas pantai dari abrasi, intrusi air laut, dan gelombang badai, menjaga kealamian habitat, menjadi tempat bersarang, pemijahan dan pembesaran berbagai jenis ikan, udang, kerang dan fauna lain, serta pembentuk daratan. Fungsi sosial-ekonomi hutan mangrove meliputi kayu bagunan, kayu bakar, kayu lapis, bubur kertas, bagan penangkap ikan, dermaga, bahan obat, serta memiliki fungsi sosial-budaya sebagai areal konservasi, pendidikan, ekowisata, dan identitas budaya (Setyawan dan Winarno, 2006).

Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan. Keterkaitan ekosistem mangrove dengan sumberdaya ikan telah dibuktikan oleh Paw dan Chua (1989) yang melakukan penelitian di Filipina, dan menemukan 2

hubungan positif antara area mangrove dan penangkapan udang penaeid. Di Indonesia, Martosubroto dan Naamin (1977) membuktikan hubungan yang positif antara hasil tangkapan udang tahunan dan luas mangrove di seluruh Indonesia. Hal ini disebabkan karena mangrove berperan sebagai daerah pemijahan (spawning grounds) dan daerah pembesaran (nursery grounds) berbagai jenis ikan, kerang dan spesies lainnya. Selain itu serasah mangrove berupa daun, ranting dan biomassa lainnya yang jatuh menjadi sumber pakan biota perairan dan unsur hara yang sangat menentukan produktivitas perikanan laut (Zamroni dan Rohyani 2008).

Hutan mangrove yang berada di Desa Lubuk Kertang Kecamatan Brandan Barat dari tahun 2005 sampai tahun 2010 mengalami kerusakan yang terus menerus terjadi (Sari, 2012). Peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan ekonomi tidak menutup kemungkinan bagi pembukaan lahan yang lebih besar untuk tambak. Ironisnya, pembukaan di wilayah itu dengan melakukan konversi lahan hutan mangrove.

Kegiatan konversi lahan yang terus menerus tanpa memperhatikan daya dukung lahan, akan menurunkan tingkat kesuburan lahan serta menurunkan nilai ekonomis mangrove yang akhirnya berdampak pada masyarakat. Turner (1977) menyatakan bahwa secara ekonomi pembuatan tambak ikan seluas 1 hektar di kawasan mangrove alam akan menghasilkan ikan/udang sebanyak hanya 287 kg/tahun, namun hilangnya 1 hektar mangrove akan mengakibatkan kerugian 480 kg ikan/udang di lepas pantai per tahunnya. Oleh karena itu, dibutuhkan pengelolaan yang tepat dalam memadukan kegiatan produksi perikanan dan pengelolaan hutan mangrove yang lestari dan bersinergis.

Perumusan Masalah

Mangrove menyediakan daerah asuhan (nursery ground) bagi ikan, udang dan kepiting, serta mendukung produksi perikanan di perairan pesisir. Melalui proses rantai makanan, produktivitas primer dari ekosistem mangrove menyebabkan produksi perikanan daerah sekitarnya menjadi melimpah. Namun pemahaman tersebut bagi masyakarat dan pemangku kebijakan di wilayah pesisir belum sepenuhnya dimiliki karena sifatnya tidak terlihat secara langsung dan dalam waktu yang singkat, sehingga pengelolaan ekosistem mangrove tidak diintegrasikan dengan pengelolaan perikanan tangkap dan budidaya.

Kawasan mangrove di Desa Lubuk Kertang Langkat dimanfaatkan sebagai lahan tambak kepiting, udang, ikan, dan kebun kelapa sawit. Belum adanya rencana zonasi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (RZWP3K) menyebabkan pemanfaatan lahan pesisir tidak memperhatikan aspek ekologi, terutama keberadaan ekosistem mangrove. Aspek sosial dan ekonomi lebih diutamakan dengan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat pesisir melalui usaha pertambakan tanpa melihat peran ekosistem mangrove bagi keberlanjutan usahanya.

Penelitian ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan seberapa besar kontribusi fungsi ekosistem mangrove bagi produksi perikanan tangkap dan seberapa ideal pemanfaatan lahan pesisir sebagai kawasan mangrove dan sebagai lahan pertambakan agar berkelanjutan.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

1. Menghitung pendugaan nilai potensi manfaat perikanan sumbangan dari serasah mangrove.

2. Menghitung tingkat pemanfaatan ekonomi perikanan dari ekosistem mangrove.

3. Membuat model dinamik pengelolaan mangrove untuk pemanfaatan perikanan yang optimal dan berkelanjutan.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, dan sebagai pertimbangan dalam pengambilan kebijakan terkait pengelolaan mangrove dan perikanan serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya ekosistem mangrove.

Kerangka Pemikiran

Pemanfaatan ekosistem mangrove diidentifikasi sebagai pemanfaatan pada habitat mangrove dan kegiatan perikanan. Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan perikanan di sekitar ekosistem mangrove dilakukan perbandingan terhadap data mangrove. Sedangkan pemanfaatan habitat mangrove dianalisa tingkat degradasinya dengan menganalisa perubahan luasan mangrove. Hasil analisa luasan mangrove dan potensi perikanan dimodelkan secara dinamik untuk mencapai pengelolaan yang optimal dan berkelanjutan. Kerangka pemikiran dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Ekosistem Mangrove Serasah Mangrove

Produktivitas Primer Potensi Perikanan Tangkap Pemanfaatan Produksi Perikanan Tangkap Lahan Budidaya Tambak Pesisir Degradasi Pengelolaan Ekosistem Mangrove

yang optimal dan berkelanjutan Model Dinamik Produksi Perikanan

Budidaya

TINJAUAN PUSTAKA

Ekosistem Mangrove

Ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan di wilayah pesisir dan antara makhluk hidup itu sendiri, yang terpengaruh pasang surut air laut dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang mampu tumbuh dalam perairan asin/payau. Indonesia mempunyai luas hutan mangrove 25% dari luas hutan mangrove yang ada di dunia (Sanudin dan Harianja, 2009).

Peran ekosistem mangrove di wilayah pesisir dan laut dapat dihubungkan dengan fungsi ekosistem tersebut dalam menunjang keberadaan biota menurut beberapa aspek antara lain adalah fungsi fisik, biologi, dan sosial ekonomi. Salah satu alasan yang menjadikan ekosistem mangrove sangat terkait dengan perairan di sekitarnya adalah keunikan ekosistem mangrove yang merupakan batas yang menghubungkan antara ekosistem darat dan ekosistem laut, sehingga dapat mempengaruhi proses kehidupan biota (flora dan fauna) di wilayah tersebut. Berbeda dengan ekosistem darat, mangrove adalah ekosistem terbuka, yang dihubungkan dengan ekosistem laut melalui arus pasang surut (Kawaroe, 2001).

Perlu diketahui bahwa hutan mangrove tidak hanya melengkapi pangan bagi biota aquatik saja, akan tetapi juga dapat menciptakan suasana iklim yang kondusif bagi kehidupan biota aquatik, serta memiliki kontribusi terhadap keseimbangan siklus biologi di suatu perairan. Kekhasan tipe perakaran beberapa jenis tumbuhan mangrove seperti Rhizophora sp., Avicennia sp. dan Sonneratia sp. dan kondisi lantai hutan, kubangan serta alur-alur yang saling berhubungan merupakan perlidungan bagi larva berbagai biota laut (Pramudji, 2001).

ABSTRAK

ANNISA FITRI. Pengelolaan Ekosistem Mangrove dalam Upaya Meningkatkan Produksi Perikanan di Desa Lubuk Kertang Kecamatan Brandan Barat Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara. Dibimbing oleh MOHAMMAD BASYUNI dan ZULHAM APANDY HARAHAP.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2016 sampai dengan Februari 2017. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung pendugaan nilai potensi manfaat perikanan sumbangan dari serasah mangrove serta membuat model dinamik pengelolaan mangrove untuk pemanfaatan perikanan yang optimal dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan observasi yang dipilih secara sengaja dengan pertimbangan bahwa ada keterkaitan antara kawasan mangrove dengan sumberdaya perikanan di sekitarnya. Selanjutnya data yang didapat dimasukkan ke dalam model dinamik untuk disimulasikan hingga 75 tahun mendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendugaan nilai potensi perikanan sumbangan dari serasah mangrove sebesar 1202,282 kg/ha/tahun atau Rp. 22.663.023/ha/tahun. Pertambahan luas mangrove 10 ha/th menjadi upaya minimal agar pemanfaatan perikanan tetap berkelanjutan dan komposisi jenis Avicennia spp. 15,2%; Rhizophora spp. 60,8%; dan Sonneratia spp. 24 % menghasilkan nilai total yang lebih tinggi dibandingkan dengan komposisi jenis mangrove lainnya.

Kata kunci : Mangrove, Nutrien serasah, Produksi ikan, Nilai ekonomi, Model dinamik

ABSTRACT

ANNISA FITRI. Management of Mangrove Ecosystem in Efforts to Increase Fishery Production in Lubuk Kertang Village, Brandan Barat District, Langkat Regency, Sumatera Utara Province. Supervised by MOHAMMAD BASYUNI and ZULHAM APANDY HARAHAP.

The study was held in December 2016 to February 2017. The purpose of the study is to calculate the estimation of fishery potential value benefit that donated by mangrove litter and make dynamic model of mangrove management for optimum and sustainable fishery utilization. The study uses interview and observation method chosen purposively with the consideration that there is a link between mangrove area and fishery resources. Furthermore, the data obtained was entered into dynamic model for to be simulated for up to 75 years. The results showed that the estimation of fishery potential value benefit that donated by mangrove litter up to 1202,282 kg/ha/year or Rp. 22.663.023/ha/year. The increase of mangrove area up to 10 ha/year is minimum effort for sustainable fishery utilization and then the composition of Avicennia spp. 15,2%; Rhizophora spp. 60,8%; and Sonneratia spp. 24% obtain the total value higher than other mangrove species composition.

Keywords : Mangrove, Nutrient of litter, Fish production, Economic value, Dynamic model

PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DALAM UPAYA

Dokumen terkait