• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai Tukar Petani

Dalam dokumen Kajian Ekonomi Regional Jawa Tengah (Halaman 65-70)

Konsumen masih optimis pada penghasilannya saat ini, namun tidak seoptimis periode sebelumnya

5.3. Nilai Tukar Petani

6.

Berdasarkan data per Februari 2014 Penduduk yang bekerja di sektor Pertanian, sektor Industri dan sektor Perdagangan mencapai 73% dari penduduk yang bekerja. Persentase penduduk yang bekerja di sektor tersebut masing-masing 31%, 20%, dan 22%. Kodisi penyerapan tenaga kerja tersebut berbeda dengan struktur ekonomi Jawa Tengah yang dibentuk ketiga sektor tersebut, yang masing-masing sebesar 18%, 33%, dan 21%.

Konsentrasi jumlah penduduk bekerja terutama untuk sektor informal. Kegiatan formal terdiri dari mereka yang b e r s t a t u s b e r u s a h a d i b a n t u b u r u h t e t a p d a n buruh/karyawan. Sementara kelompok kegiatan informal umumnya adalah mereka yang berstatus di luar itu. Jumlah pekerja informal dalam perekonomian mencapai 62%. Jumlah ini menurun dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 66%. Penurunan tersebut disebakan adanya peningkatan jumah buruh/karyawan/pegawai yang bekerja di sektor formal di bulan Februari yang cukup signifikan hingga 590 ribu orang.

A n g k a p e n g a n g g u r a n p a d a F e b r u a r i 2 0 1 4 menunjukkan penurunan. Secara tahunan maupun dibanding Agustus 2013, jumlah penduduk usia produktif yang menganggur menurun.

Masih tumbuhnya ekonomi Jawa Tengah meski melambat mengindikasikan masih terserapnya angkatan kerja daerah. Selain itu, terlihat pula peningkatan jumlah angkatan kerja yang diiringi dengan peningkatan penduduk yang bekerja. Sedangkan jumlah bukan angkatan kerja mengalami penurunan.

Kualitas penduduk yang bekerja belum mengalami perbaikan. Penyerapan tenaga kerja sebagian besar masih didominasi oleh penduduk yang berpendidikan rendah (SD ke bawah), dengan porsi 54,5%. Sementara pekerja yang berpendidikan tinggi hanya mencakup 6,5%. Sisanya merupakan pekerja berpendidikan menengah. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya maupun terhadap periode Agustus 2013, komposisi ini tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Nilai Tukar Petani (NTP) pada periode laporan cenderung naik. NTP dapat dijadikan sebagai indikator pengukur kemampuan tukar produk pertanian dengan barang dan jasa yang diperlukan petani untuk konsumsi rumah tangganya dan untuk keperluan dalam memproduksi produk pertanian. Rata-rata NTP pada triwulan II 2014 naik sebesar 0,29% (Grafik 5.1). Di tengah penurunan kinerja sektor pertanian, kesejahteraan petani masih terjaga cenderung naik.

5.2. Pengangguran

Tabel 5.3. Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan,

Februari 2013 – Februari 2014 (juta orang)

Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah

URAIAN 2014

Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran Bukan Angkatan Kerja Tk. Partisipasi Angkatan Kerja (%) Tk. Pengangguran Terbuka (%)

Februari Agustus Februari

17,47 16,50 0,96 7,32 70,48 5,51 17,52 16,47 1,05 7,36 70,43 6,01 17,72 16,75 0,97 7,26 70,93 5,45 2013 1. 2. 3. 4. 14

5.3. Nilai Tukar Petani

114 112 110 108 106 104 102 100 98 96 I II III IV 2013

Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah

Indeks Harga yang diterima,

Indeks Harga yang dibayar dan Nilai Tukar Petani

Grafik 5.2 INDEKS 101 101 101 100 100 100 99 99

INDEKS HARGA DIBAYAR PETANI INDEKS HARGA DITERIMA PETANI NTP (RHS)

2014

INDEKS

I II

Hal ini mendorong konsumsi rumah tangga pada periode laporan. Konsumsi rumah tangga naik dibanding periode sebelumnya.

Pendapatan petani naik dibarengi dengan biaya yang menurun. Pendapatan petani naik terkonfirmasi dari meningkatnya indeks harga yang diterima petani, sejalan dengan masih berlangsungnya musim panen. Indeks harga dibayar petani turun, sejalan dengan kecenderungan inflasi yang turun.

Angka kemiskinan naik terkait dengan kenaikan garis kemiskinan. Data terakhir BPS menunjukkan adanya peningkatan jumlah kemiskinan di bulan Maret 2014. Tingkat kemiskinan di bulan tersebut sebesar 4.837 ribu jiwa atau 14,46% dari jumlah penduduk Jawa Tengah, dan menurun dibanding bulan September 2013 yang sebesar 4.705 ribu jiwa. Sementara secara persentase, jumlah penduduk miskin tersebut naik 2,81% dibanding bulan September 2013 atau naik 2,15% dibanding bulan yang sama tahun 2013.

Dibandingkan dengan September tahun lalu, meningkatnya angka kemiskinan di bulan Maret 2014 terutama terjadi di daerah perkotaan. Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah penduduk miskin di perkotaan naik sebesar 1,74% atau naik 3,97% dibandingkan September 2013. Sementara di pedesaan, secara tahunan penduduk miskin naik sebesar 2,40%. Hal yang sama bila dibandingkan bulan September 2013, angka kemiskinan di desa terlihat meningkat sebesar 2,01%. Jumlah penduduk miskin di perkotaan pada Maret 2014 mencapai 1.945 ribu jiwa. Sedangkan di pedesaan mencapai 2.891 ribu jiwa atau memiliki porsi 60% dari total penduduk miskin di Jawa Tengah.

Garis Kemiskinan terus mengalami peningkatan. Dalam enam bulan terakhir, garis kemiskinan kota dan desa meningkat 4,27% dari Rp261.881 per kapita/bulan menjadi Rp273.056 per kapita/bulan. BPS mendefinisikan garis kemiskinan sebagai nilai pengeluaran kebutuhan minimum yang harus dikeluarkan oleh satu orang. Apabila rata-rata

5.4. Tingkat Kemiskinan

Sumber : BPS, diolah

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Jawa Tengah Tahun 2010-2013 (ribuan orang) Grafik 5.3 Kota Desa Kota+Desa 6000 5000 4000 3000 2000 1000

-2010 2011 Mar - 2012 Sep - 2012 Mar - 2013 Sep - 2013 RIBU ORANG

pengeluaran perkapita per bulan dibawah garis kemiskinan maka dikategorikan sebagai penduduk miskin. Kenaikan garis kemiskinan dapat mempengaruhi angka kemiskinan karena secara langsung meningkatkan ambang nilai kemiskinan.

Berdasarkan pembagian kelompok kemiskinan antara perkotaan dan pedesaan, garis kemiskinan di perkotaan dalam periode yang sama tercatat mengalami peningkatan sebesar 8,69% dari Rp268,397 per kapita/bulan menjadi Rp279.036 per kapita/bulan. Sementara itu, garis kemiskinan di daerah pedesaan mengalami kenaikan sebesar 12,24%, dari Rp256.368 per kapita/bulan menjadi Rp273.056 per kapita/bulan. Lebih tingginya kenaikan garis kemiskinan di desa ini diperkirakan menjadi salah satu pendorong masih tingginya jumlah kemiskinan di pedesaan.

Survei Konsumen (SK) yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah V juga dapat digunakan untuk melihat indikator kesejahteraan masyarakat. Indikator tersebut adalah penghasilan masyarakat dan pembelian barang tahan lama.

K o n s u m e n t e t a p o p t i m i s d a l a m m e m a n d a n g penghasilan saat ini. Hasil survei menunjukkan konsumen Jawa Tengah masih optimis dalam memandang penghasilan saat ini, meski tidak sebaik periode sebelumnya. Berdasar survei konsumen yang dilakukan Bank Indonesia di Jawa Tengah, indeks penghasilan melanjutkan tren penurunan sejak akhir tahun. Hal ini sejalan dengan perlambatan ekonomi Jawa Tengah.

Optimisme konsumen dalam melakukan konsumsi barang tahan lama tidak setinggi periode sebelumnya. Sejalan dengan menurunnya optimisme penghasilan, masyarakat juga memandang triwulan ini merupakan periode yang tidak cukup baik untuk melakukan pembelian barang tahan lama.

Meski demikian, konsumsi rumah tangga masih naik pada periode laporan, didorong persiapan penyelenggaraan Pemilu.Konsumsi barang tidak tahan lama, diindikasikan masih naik, terkonfirmasi dari masih naiknya penjualan riil hasil Survei Penjualan Eceran yang dilakukan Bank Indonesia.

PDRB Per Kapita meningkat. PDRB per kapita diperoleh dari pembagian nilai PDRB atas dasar harga berlaku dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Pada tahun 2013, angka PDRB per kapita menunjukkan peningkatan sebesar 11,2% dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2012, PDRB per kapita sebesar Rp16.863.000 kemudian meningkat menjadi Rp18.751.300 pada tahun 2013.

Ketimpangan pendapatan yang diukur dengan Indeks Gini cenderung meningkat, meski masih dibawah kondisi nasional. Indeks gini merupakan ukuran untuk melihat ketimpangan pendapatan masyarakat. Semakin rendah nilai gini ratio menunjukkan ketimpangan yang rendah. Ketimpangan yang rendah ditunjukkan dengan angka yang lebih kecil dari 0,3. Untuk Provinsi Jawa Tengah,meski PDRB terus meningkat namun tren gini ratio dalam lima tahun menunjukkan adanya peningkatan. Pada tahun 2009, indeks daerah sebesar 0,32 dan meningkat menjadi 0,387 pada tahun 2013. Meski demikian, indeks gini ratio daerah masih lebih rendah ketimbang nasional yang pada tahun 2013 mencapai 0,413.

5.5. Pemerataan Pendapatan

Tabel 5.4.Garis Kemiskinan, Jumlah Menurut Daerah, 2010-Maret 2014 (Rupiah)

Sumber : BPS Jawa Tengah GARIS KEMISKINAN

Kota Desa Kota & Desa

2010 2011 Mar 2012 Sept 2012 205.606 179.982 192.435 222.430 198.814 209.611 234.799 211.823 222.327 245.817 223.622 233.769 1. 2. 3. Sept 2013 Mar 2013 254.801 235.202 244.161 268.397 256.368 261.881 Mar 2014 279.036 267.991 273.056

Grafik 5.5.Indeks Gini Ratio

Sumber : BPS

JAWA TENGAH INDONESIA

0,50 0,40 0,30 0,20 0,10 0

Grafik 5.4.PDRB Per Kapita

Sumber : BPS

JAWA TENGAH INDONESIA

40.000 35.000 30.000 25.000 20.000 15.000 10.000 5.000 0 2011 2012 2013 2011 2012 2013 2014 2015

OUTLOOK PERTUMBUHAN EKONOMI

Dalam dokumen Kajian Ekonomi Regional Jawa Tengah (Halaman 65-70)

Dokumen terkait