• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

3 METODE PENELITIAN

5.1 Identifikasi dan Estimasi Sumber Nitrogen dari Daratan

5.2.2 Nitrit (NO 2 ) di Perairan Sungai dan Pesisir

Nitrit (NO2) di perairan merupakan bentuk nitrogen yang teroksidasi dan merupakan senyawa toksik yang dapat mematikan organisma air. Senyawa nitrit biasanya tidak bertahan lama dalam perairan dan merupakan keadaan sementara proses oksidasi antara amonia dan nitrat (Alaerst dan Santika, 1997 dalam

Sedyowati, 2005). Keberadaan nitrit di perairan menggambarkan berlangsungnya proses biologis perombakan bahan organik yang memiliki kadar oksigen terlarut

y = 0.4646x + 0.0153 R2 = 0.835 0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0 0.2 0.4 0.6 0.8

Kons e ntr as i Nitr at di Sungai (m g/lite r )

K o n s e n tr a s i N it ra t d i P e s is ir ( m g /l it e r)

pada perairan sungai di Tanjungpinang adalah berkisar antara 0,006 - 0,366 mg/l memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan kandungan nitrit di perairan pesisir laut yaitu berkisar antara 0,004 - 0,220 mg/l. Nilai tersebut jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan nilai kandungan nitrat. Lebih lanjut sebaran kandungan nitrit di perairan sungai dan pesisir wilayah Tanjungpinang dapat di lihat pada Gambar 27.

Gambar 27. Sebaran konsentrasi nitrit pada perairan sungai dan pesisir Tanjungpinang

Gambar 27 memperlihatkan nilai kandungan nitrit pada perairan sungai yang paling tertinggi ditemukan di Sungai Ladi yaitu 0,366 mg/l, dan tertinggi berikutnya ditemukan pada Sungai Tanjung Unggat dan Sungai Ular yang masing-masing memiliki nilai rata-rata sebesar 0,302 mg/l dan 0,278 mg/l. Selanjutnya perairan Sungai Carang dan Sungai Jang memiliki nilai kandungan nitrit sebesar 0,073 mg/l dan 0,029 mg/l. Sedangkan nilai kandungan nitrit rata-rata terendah ditemukan di Sungai Dompak hanya sebesar 0,006 mg/l. Keberadaan nitrit di perairan menggambarkan berlangsungnya proses biologi perombakan bahan organik dengan kandungan oksigen terlarut sangat rendah (Effendi, 2003). 0,000 0,050 0,100 0,150 0,200 0,250 0,300 0,350 0,400

Sei Ular Sei Ladi Sei Carang Tg.Unggat Sei Jang Dompak

N it ri t (m g /l ) Sungai Pesisir

Kandungan nitrit tertinggi untuk perairan pesisir di temukan pada kawasan perairan pesisir Tanjung unggat dengan nilai rata-rata sebesar 0,220 mg/l. Nilai kandungan nitrit tertinggi ke dua ditemukan di perairan pesisir laut Sungai Carang yaitu sebesar 0,100 mg/l, selanjutnya pesisir laut kawasan Sungai Ladi dan pesisir Sungai Ular adalah sebesar 0,054 mg/l dan 0,021 mg/l. Pada perairan kawasan pesisir Sungai Jang dan laut sekitar pelabuhan memiliki nilai kandungan nitrit rata-rata adalah sebesar 0,019 mg/l dan 0,012 mg/l. Sedangkan nilai kandungan nitrit terendah ditemukan pada perairan laut Selat Dompak dan laut sekitar Selat Riau yaitu hanya 0,004 mg/l.

Sebagaimana diketahui nitrit biasa ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit di perairan alami, kadarnya lebih kecil dari pada nitrat, karena nitrit bersifat tidak stabil jika terdapat oksigen. Nitrit merupakan bentuk peralihan (intermediate) dari amonia menjadi nitrat melalui proses nitrifikasi, dan antara nitrat menjadi gas nitrogen melalui proses denitrifikasi yang berlangsung pada kondisi anaerob. Selain itu, adanya perbedaan kandungan nitrit di perairan disebabkan oleh pergantian musim yang mengakibatkan perubahan suhu dan keberadaan oksigen terlarut di perairan (Nybakken, 1992).

Perairan alami mengandung nitrit sekitar 0,001 mg/l dan sebaliknya tidak melebihi 0,06 mg/l (Effendi, 2003). Kadar nitrit yang melebihi dari 0,05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sensitif. Nilai kandungan nitrit yang cukup tinggi di perairan pesisir sungai Tanjung Unggat (0,220 mg/l) dan perairan pesisir kawasan Sungai Carang (0,100 mg/l), dapat diartikan bahwa nilai nitrit pada perairan tersebut sudah melebihi batas yang tidak aman bagi biota laut. Hubungan antara konsentrasi nitrit di perairan sungai dengan konsentrasi nitrit di perairan pesisir dijelaskan dengan persamaan regresi yang dihasilkan yaitu = 0,2083 + 0,033, dengan koefisien determinasi sebesar = 0,1696. Hal ini menunjukkan bahwa variasi konsentrasi nitrit di perairan pesisir hanya bisa dijelaskan oleh variasi konsentrai nitrit di sungai sebanyak 16,96%, sedangkan jumlah persentase yang lebih besar dipengaruhi oleh faktor-faktor yang lain di perairan. Rendahnya nilai persentase hubungan konsentrasi nitrit di pesisir oleh nitrit di perairan sungai disebabkan karena senyawa nitrit bersifat tidak stabil.

Amonium di perairan berasal dari dekomposisi bahan organik dan ekskresi organisme (Goldman dan Horne, 1983). Dalam keadaan anaerobik, nitrat diubah oleh bakteri menjadi nitrit dan kemudian menjadi amonia yang dapat bersenyawa dengan air membentuk amonium. Adapun nilai rata-rata kandungan amonium di perairan sungai adalah sebesar 0,424 mg/l menunjukkan nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata kandungan amonium di perairan pesisir laut Tanjungpinang (0,201 mg/l). Lebih lanjut kandungan amonium pada masing-masing perairan sungai dan pesisir wilayah Kota Tanjungpinang dapat di lihat pada Gambar 28.

Gambar 28. Sebaran konsentrasi ammonium pada perairan sungai dan pesisir Tanjungpinang

Gambar 28 menunjukkan kandungan amonium di perairan sungai dengan nilai rata-rata tertinggi ditemukan di perairan Sungai Tanjung Unggat yaitu sebesar 1,182 mg/l. Nilai kandungan amonium tertinggi ke dua ditemukan di perairan Sungai Carang sebesar 0,817 mg/l, selanjutnya terdapat pada perairan Sungai Jang sebesar 0,239 mg/l. Pada perairan Sungai Dompak dan Sungai Ladi ditemukan nilai rata-rata kandungan amonium sebesar 0,119 mg/l dan 0,103 mg/l. Sedangkan nilai kandungan amonium terendah ditemukan di perairan Sungai Ular yaitu hanya sebesar 0,084 mg/l.

0,000 0,200 0,400 0,600 0,800 1,000 1,200 1,400

Sei Ular Sei Ladi Sei Carang Tg.Unggat Sei Jang Dompak

Am o n iu m ( m g /l ) Sungai Pesisir

Tingginya nilai kandungan amonium di perairan Sungai Tanjung Unggat disebabkan tingginya aktivitas proses penguraian bahan organik oleh bakteri dan mikro organisme lain, sehingga membentuk senyawa amonia beraksi dengan air (H2O) membentuk senyawa amonium. Keberadaan ion ammonium di perairan sering berfluktuasi tergantung kadar oksigen terlarut, selain itu pH dan suhu perairan juga sangat mempengaruhi.

Hasil pengamatan menunjukkan rata-rata nilai kandungan amonium tertinggi terdapat di perairan pesisir laut Tanjung Unggat yaitu sebesar 0,618 mg/l. Nilai rata-rata kandungan amonium tertinggi ke dua dan ke tiga ditemukan pada perairan pesisir laut Sungai Carang dan pesisir Sungai Jang masing-masing sebesar 0,299 mg/l dan 0,222 mg/l, serta perairan pesisir Sungai Ladi sebesar 0,131 mg/l. Pada perairan pesiisr laut Selat Dompak dan pesiisr laut sekitar pelabuhan menunjukkan nilai rata-rata kandungan amonium yang hampir sama yaitu masing-masing sebesar 0,104 mg/l dan 0,103 mg/l. Sedangkan nilai rata-rata kandungan amonium terendah ditemukan di perairan Laut Selat Riau yaitu hanya sebesar 0,063 mg/l.

Tingginya nilai kandungan amonium di kawasan perairan pesisir Tanjung Unggat disebabkan tingginya masukan bahan organik dari aliran sungai yang mudah terurai (baik mengandung unsur nitrogen maupun tidak). Namun demikian, kadar amonium dalam air laut sangat bervariasi dan dapat berubah dengan cepat. Menurut Hela dan Laevastu (1970), semakin tinggi pH dan suhu, semakin tinggi persentase pembentukan amonium di dalam perairan. Sedangkan salinitas bersifat sebaliknya, semakin tinggi salinitas, kandungan amonium bebas cenderung makin rendah. Distribusi vertikal kadar amonium semakin tinggi dengan pertambahan kedalaman laut dan sejalan dengan semakin rendahnya oksigen, sedangkan distribusi kadar ammonium semakin tinggi menuju ke arah pantai dan muara sungai.

Hubungan antara konsentrasi ammoniun di perairan sungai dengan konsentrasi amonium di perairan pesisir dapat dijelaskan menggunakan analisis regresi linear sederhana dengan hasil persamaan = 0,04257 + 0,0548, dengan koefisien determinasi sebesar = 0,9005. Hal ini menunjukkan bahwa 90,05% variasi konsentrasi amonium di perairan pesisir dapat dijelaskan oleh

oleh faktor-faktor yang lain pada perairan. Penjelasan lebih lanjut mengenai hubungan nitrat di perairan sungai dengan di pesisir disajikan pada Gambar 29.

Gambar 29. Hubungan konsentrasi amonium di perairan sungai dan pesisir Kota Tanjungpinang

5.2.4 Nitrogen Anorganik Terlarut (DIN) di Perairan Sungai dan Pesisir