Bahasa verbal dan bahasa isyarat yang ditunjukkan seorang kiai sepuh tersebut sebagai simbol penghormatan (rasa ta‟dzim) seorang santri kepada gurunya dan sebagai bentuk pembelajaran ilmu akhlak kepada santrinya, bahwa urut-urutan penta‟dziman kepada guru dalam tradisi pesantren NU harus dimulai dari pesantren tertua, di mana dulu sang guru menimba ilmu. Perbedaan umur dalam konteks tuturan ini tidak diperhitungkan dalam menentukan pola komunikasi. Hal tersebut juga mengindikasikan bahwa status sosial dan pengaruh kiai yang berlatar belakang keturunan kiai pesantren (guru), berpengaruh besar terhadap pola komunikasi antara kiai dengan kiai yang berlatar belakang guru- santri. Bahkan sebagai bentuk rasa ta‟dzim kepada sang guru, para kiai sepuh yang berada di acara itu memohon lora tersebut agar berkenan menikahkan mempelai laki-laki. Begitu pula, para orang tua di kalangan NU merasa lebih afdlal, kalo yang mengakadnikahkan anaknya adalah kiai, terutama kiai yang merupakan mantan gurunya di pesantren.
5.1.2 Pola Komunikasi KG-KS dalam Situasi Formal
Dalam rapat-rapat pengurus NU yang melibatkan kiai yang
kedudukannya sebagai guru (KG) dan kiai yang berpredikat sebagai santri (KS),
pola komunikasi diikuti dengan penggunaan kode tutur yang mencerminkan
rasa hormat seorang santri kepada gurunya, seperti tercermin pada data berikut:
Data 2: Prakata Kiai Pesantren
(KG): Assalaamu‟alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
(KS): Waalaikumsalaam warahmatullaahi wabarakaatuh
(KG):Alhamdulillaahi rabbil „alamiin ashshalaatu wassalaamu alaa Rasuulillah wa‟alaa aalihi washahbihi ajmaiin. Saamponah bhâdân kaulâ mundud kasimpulan dâri jawabhân sareng-sareng (santrè khusus sarêng alumni khusus), angèngèngè masalah
128
kanca otabâ alumni khusus sè èlatè sareng orèng luar korang langkong saka‟dinto “ènggi saè manabi coma‟ alatè otabâ adampingè coma kalabân bâdâ filtêr sè nyarèng sopajâ setèl sarêng kabâdhâân sè ampon biasa kalabân salèng pengertèan. (Alhamdulillaahi rabbil „alamiin ashshalaatu wassalaamu alaa Rasuulillah wa‟alaa aalihii washahbihii ajmaiin. setelah saya mengambil kesimpulan dari jawaban teman-teman (para santri khusus dan alumni khusus), memperbolehkan masalah santri atau alumni khusus yang dilatih oleh orang luar kurang lebih demikian: iya baik kalau cuma melatih atau mendampingi, namun dengan ada filter yang menyaring supaya cocok dengan keadaan yang sudah biasa dengan saling pengertian)
„Alhamdulillaahi rabbil „alamiin ashshalaatu wassalaamu alaa Rasuulillah wa‟alaa aalihii washahbihii ajmaiin. Setelah saya menyimpulkan jawaban para santri dan alumni khusus tentang mereka yang dilatih oleh para ahli dari luar kurang lebih sebagai berikut: saya kira boleh-boleh saja kalau hanya melatih atau mengajari, selama ada filter yang dapat menyaring, agar tidak bertentangan dengan kultur pesantren dan adanya saling pengertian.‟
Tuturan tersebut (data 2) dimulai dengan salam dan ucapan syukur dalam
BA sebagai penciri identitas dan kebiasaan warga NU yang merupakan
masyarakat santri. Pada tuturan di atas, terdapat tuturan èngghi saè manabi
coma‟ alatè otabâ adampingè „baik kalau cuma melatih atau mendampingi‟. Kosa kode èngghi saè mengindikasikan bahwa KG pada prinsipnya menyetujui
tenaga dari luar untuk melatih dan mendampingi pengurus dan asatidz dalam
proses pelatihan, namun dengan syarat agar para tenaga dari luar paham terhadap
kultur pesantren. Hal ini ditegaskan dengan kata coma „namun‟ yang merupakan
kata prasyarat, yang menunjukkan penerimaan tenaga dari luar. Bandingkan
dengan data berikut:
Data 3: Samangkèn bâdân kaulâ anyo‟ona pamangghi dhâ‟ panjenengan sadhâjâ angèngèngè masalah bâtes-bâtes otabâ cara-cara kaangguy saterrosa. Maka dhari ka‟dinto, parlo sami usaha kaangguy masami pamanggi (salèng pengertian). Pola bisa ajâgâ kasaèan hubungan kaangguy saterrosa, sanaossa bâdâ perubahan-perubahan. Kalabân
129
aparèng onèng rambu-rambu sarêng cara-cara, jughân berusaha pola sobung masalah dâ‟ budina.
(sekarang saya mohon pendapat kepada anda semua mengingat masalah batas-batas atau cara-cara untuk selanjutnya. Maka dari itu, perlu sama usaha untuk menyamakan pendapat (saling pengertian). Mungkin bisa menjaga kebaikan hubungan untuk selanjutnya, walaupun ada perubahan-perubahan. Dengan memberitahu rambu-rambu dan cara-cara, juga berusaha mungkin tidak ada masalah ke belakangnya).
„Pada pertemuan ini, kami mohon pendapat peserta rapat tentang batasan-batasan ataupun metode yang akan digunakan selanjutnya. Oleh karena itu, diperlukan suatu usaha untuk menyamakan persepsi, yang kemungkinan dapat menjaga hubungan baik selanjutnya, walaupun nanti ada perubahan-perubahan. Dengan memberitahukan batasan-batasan (rambu-rambu pesantren) dan metode-metode pendekatannya mungkin dapat meminimalisir masalah-masalah yang akan terjadi‟.
Tuturan pada data (3) merupakan lanjutan dari tuturan data (2) namun
isinya merupakan permohonan, seperti tertera dalam kutipan data di atas
anyo‟ona pamanggi „mohon pendapat‟ sami usaha kaangguy masami pendapat „diperlukan suatu usaha untuk menyamakan persepsi‟. Tuturan tersebut merupkan bentuk kalimat permohonan agar partsisipan tutur memiliki pendapat
yang sama dalam mengelola pesantren. Pada sambutan tersebut terdapat tuturan
angèngèngè masalah bates-bates otabâ cara-cara kaangguy saterrosa „tentang masalah batas-batas atau cara-cara untuk selanjutnya‟. Tuturan tersebut dapat
diinferensi berbeda-beda oleh partisipan tutur, karena yang dimaksud
„batas-batas‟ pada tuturan tersebut tidak jelas, begitu juga kata „cara-cara‟ tidak jelas cara-cara apa dan bagaimana yang dimaksud. Ditinjau dari teori pragmatik, pada
tuturan tersebut terdapat pelanggaran terhadap kaidah-kaidah yang dapat
menunjang keberhasilan komunikasi yaitu pelanggaran terhadap prinsip kerja
sama Grice yang diformulasikan ke dalam 4 maksim, yang diantaranya adalah
130 mungkin‟ dan maksim cara yang menyebutkan „hindari kekaburan‟. Namun sebagai bentuk rasa hormat dan tawadlu agar tidak cangkolang kepada KG, para
kiai yang hadir tidak menanyakan tentang maksud dan tujuan tuturan tersebut.
Pada data (2) dan (3) tersebut kiai pengasuh pesantren dan sekaligus orang yang
dihormati dalam tuturan formal ini, kiai menggunakan kosa kode panjenengan
yang menunjukkan tingkat tutur È-B (Jawa: Krama Inggil).
KG dalam mengakhiri sambutannya menggunakan kata-kata penutup
dan tuturan yang menunjukkan hubungan sebab akibat (relevansi) dengan isi
tuturan sebelumnya. Hal tersebut dapat dilihat pada tuturan berikut ini:
Data 4: Maka dâri ka‟dinto, bâdân kaulâ anyo‟ona pamanggi neng è papanggiân ka‟dinto: (1) ponapa hal-hal sè kodhu èparèngagi onèng dâ‟ tenaga sè dâri luar, sopajah ta‟ ngacèwa‟agi dha‟ tenaga sè dâri luar jughân ta‟ sala paham; (2) ponapa hal-hal sè kodu èparèngagi onèng dâ‟ tenaga dâlem, sopajâ orèng dâlem ta‟ arassa tertekan jughân ta‟ sala paham.”
(Maka dari itu, saya mohon pendapat di pertemuan ini:(1) apa hal-hal yang harus diberitahukan kepada tenaga yang dari luar, supaya tidak mengecewakan kepada tenaga dari luar dan juga tidak salah paham;(2) apa hal-hal yang harus diberitahukan kepada tenaga dari dalam, agar orang dalam tidak measa tertekan dan juga tidak salah paham).
„Oleh karena itu, kami mohon masukan pada pertemuan ini:(1) Apa saja yang seharusnya dipaparkan kepada tenaga ahli dari luar, agar tdak kecewa dan juga tidak salah paham?; (2) Apa saja yang seharusnya dikemukakan kepada para pengurus dan ustadz, agar tdak merasa tertekan dan juga tidak salah paham.‟
Tuturan Maka dhari ka‟dinto „Oleh karena itu‟ sebagai penutup prakata
KG, memiliki hubungan sebab akibat (relevansi) dengan isi tuturan sebelumnya.
Dalam tuturan tersebut juga terdapat kosa kata serapan dari BI seperti maka,
tertekan, dan salah paham. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam situasi formal
131