• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEIKSIS DAN TEKS NARAS

C. Teks naras

5. Novel al-Karnak

Novel yang ditulis oleh Naji>b Mah}fu>z} menceritakan permasalahan “tuduhan anti revolusi Mesir”. Revolusi yang merupakan suatu perubahan sosial dan kebudayaan yang terjadi secara cepat dan beresensi dasar pada kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan trauma atas kekalahan Mesir atas Israel pada perang Juni 1967 ..

Mengingat kekacauan yang terjadi saat itu sangat luar biasa. Adalah sebuah kafe Karnak adalah tempat berkumpulnya para pecinta revolusi yang kecewa akibat perang enam hari yang membawa Mesir terpuruk pada fase kemunduran, jauh sebelum revolusi 1952, ketika Mesir terjadi independen dari absolutism kerajaan. Tokoh-tokoh imajiner sebagai pecinta revolusi 1952 dalam novel ini seperti Qurunfula, Isma>’i>l al-Sheikh, Zainab Diya>b, H{ilmi> H{ama>da, dan Kha>lid S}afwan tidak lagi dapat menghirup udara kebebasan.

Tokoh kontroversial dalam al-Karnak ini adalah sosok Hilmi> Hama>da, salah seorang pengunjung setia kafe yang mendapat tuduhan “pengkhianat revolusi” karena gagasan politiknya yang bersifat sosialisme, sehingga berkali-kali diculik dan dipenjara yang menyiksa. Ia pun akhirnya tewas di ruang introgasi, penjara.

Melewati waktu yang tak lama, ketidakhadiran Hilmi> di kafe karnak membuat teror penculikan dan tuduhan “anti revolusi” meluas. Kali ini terjadi pada Isma>’i>l al-Sheikh dan Zainab Diya>b. Setelah mereka mendapat pernyataan bebas tuduhan kelompok komunis dan ikhwanul muslimin, mulailah babak “runtuhnya kecintaan revolusi”. Mereka menyadari bahwa berimbas dari perang yang telah membawa mereka

178

Rasheed el-Enany, Naguib Mahfouz: The Pursuit of Meaning (New York: T.p, 1993), 7.

179

memakna untuk meninggalkan revolusi. Banyak yang berubah pada diri, pikiran dan kecintaan pada revolusi. Tekanan dan siksaan yang mereka alami menjadikan mereka lemah, yang pada akhirnya mematahkan semangat mereka.

Berdasarkan pada intrinsik novel dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Tema

Tema yang diangkat dalam novel ini berdasarkan pada penulis yang mengenang sejarah tragedi Mesir pasca peperangan yang menyakitkan pada Juni 1967. Hal ini tampak pada kafe al-Karnak tersebut, sebagai tempat berkumpulnya aktivis ekstrim dan berpandangan provokatif. Dengan kebebasan berargumen tentang sebuah isu atas revolusi 1952.

2. Tokoh

Dalam penokohan ini, penulis atau Naji>b Mah}fu>z} adalah tokoh utama. Penulis memberikan porsi lebih pada bab tokoh tambahan, seperti: Qurunfula, Isma>’i>l al-Sheikh, Zainab Diya>b dan Kha>lid S}afwan. Namun, terdapat pula tokoh yang diceritakan secara sekilas seperti ‘A<rif Sulaima>n, Zainal ‘Abidin, Imam fawal, Jum’ah, Hilmi> Hama>da, T{aha al-Ghari>b, Rashid Majdi, Muhammad Bahjad, dan Munir Ah}mad.

Karakter tokoh dideskripsikan sebagai berikut:

Naji>b Mah}fu>z} adalah pengunjung kafe Karnak. Ia digambarkan sebagai sesosok laki-laki tua yang gemar minum kopi, membaca koran, menulis, dan diskusi di kafe tersebut. Secara fisik, beliau tidak terlalu dijelaskan, namun ia menceritakan tentang dirinya dengan cara dramatik. Ia juga seorang yang bijak, santun, dan baik hati. Hal ini dapat dilihat pada setiab halaman yang menunjukkan kebijakannya dalam menanggapi setiap masalah. Kemudian ia juga merupakan tokoh yang sangat kritis. Ia merupakan tokoh yang statis.

Qurunfula adalah mantan seorang penari, bintang dari Imaduddin. Ia merupakan bidadari impian di era 1940- an, Secara fisik ia di gambarkan sebagai wanita yang cantik dan memiliki mata berwana cokelat berbinar- binar. Dia merupakan sosok teladan yang tidak tertandingi dalam seni dan moral—karena ia telah merubah tari perut yang melibatkan tiga: Raqsu al Butn (belly), Raqsu Shadr (bossom), wa Raqsu Ajuz (buttock), ia juga merupakan sosok wanita yang santun. Selain itu, ia adalah wanita yang

dicintai para pengunjung kafenya. Dan tidak diketahui siapa diantara semua pengunjungnya yang dicintainya. Tokoh Qurunfula ini digambarkan penulis dengan dramatik.

‘A<rif Sulaima>n adalah sorang pelayan minuman di kafe Karnak. Secara fisik ia digambarkan sebagai seorang yang gendut, berambut putih, raut wajahnya terlihat putih dan patuh. Ia juga digambarkan penulis dengan dramatik.

Imam Fawal adalah seorang pelayan dan Jum`a adalah seorang tukang semir sepatu. Mereka berdua adalah orang yang paling kuat dalam menahan serangan. Keduannya tidak pernah menyerah menolak bahwa kekalahan adalah sebuah kenyataan. Ia juga digambarkan penulis dengan analitik.

Isma>’i>l al-Sheikh merupakan sosok yang khas, yang tidak berusaha menyembunyikan keyakinannya. Dia merupakan wujud nyata tipikal seorang revolusioner. secara fisik ia digambarkan sebagai orang yang menarik ia bertubuh kuat, perawakanya besar dan gagah. Ia digambarkan penulis secara analitik. orang yang merupakan wujud nyata tipikal seorang revolusioner. Dan menjadi mata-mata untuk mengawasi Hilmi>, sahabat karibnya.

Zainab Diya>b adalah seorang gadis muda yang cantik, yang setiap gerak langkahnya mampu memikat para lelaki, secara fisik ia digambarkan sebagai wanita berkulit hitam manis, bentuk badannya berkembang dengan bagus, langsing dan ramping. Ia merupakan aktivis muda yang mengalami pencabulan di salah satu ruang interogasi. Kondisi Zainab berubah drastis. Ia menjadi mata-mata dan pelacur. Zainab digambarkan penulis dengan dramatik. Dan ia juga menjadi mata-mata untuk mengawasi Hilmi>, yang menjadi sahabat karibnya sendiri. Kehidupannya bersifat dinamis.

Kha>lid S}afwan di gambarkan secara dramatik. Kha>lid S}afwan secara fisik digambarkannya sebagai seorang yang bertinggi badan sedang dengan wajah lonjong dan lebar, alis matanya lebat dan berdahi menonjol. tangan kanan pemerintah yang berwenang menangkap orang-orang yang dianggap sebagai penghianat revolusi. Selain itu, orang yang angkuh. Namun, agaknya sikapnya sedikit berubah dari sebelumnya. Ia menjadi keluarga dalam kafe Karnak setelah ia dipenjara dan hartanya habis.

Hilmi> Hama>da digambarkan secara dramatik. Hilmi> Hama>da adalah seorang mahasiswa kedokteran yang merupakan pengunjung setia

kafe Karnak. Secara fisik ia digambarkan sebagai seorang pemuda yang tampan dan langsing, selalu bersemangat saat memberikan argumen. Hilmi> merupakan pemuda yang penuh kesopanan dan cerdas. Selain itu, Hilmi> adalah pemuda yang penuh keseriusan dan baik hati. Hilmi> Hamada selalu bersemangat saat memberikan argumen. Hilmi> merupakan pemuda yang penuh kesopanan dan cerdas. Selain itu, Hilmi> adalah pemuda yang penuh keseriusan dan baik hati. Tokoh Hilmi> sama sekali tidak berubah dari awal sampai akhir cerita. Sehingga bersifat statis.

Kemudian Zainal ‘Abidin ‘Abdullah adalah seorang direktur Humas di sebuah perusahaan, Munir Ah}mad adalah merupakan pengunjung kafe Karnak. Ia muncul di akhir cerita, begitu juga dengan T{aha al-Ghari>b, Rashid Majdi, Muhammad Bahjad. Karakter fisik pada mereka tidaklah di gambarkan secara jelas. Ia hanyalah pengunjung kafe yang turut serta dalam membahas revolusi. Mereka juga digambarkan penulis dengan dramatik.

3. Alur

Novel ini beralur maju, dengan pendeskripsian alur cerita sebagai berikut:

Suatu hari penulis tidak sengaja datang ke sebuah kafe kecil, yang terletak di ujung jalan raya, yaitu al-Karnak. Saat itu ia bermaksud memperbaiki jam tanganya yang ternyata cukup menghabiskan waktu. Akhirnya ia putuskan untuk datang ke kafe tersebut. Sejak saat itu, kafe tersebut menjadi tempat yang paling favorit bagi penulis untuk sekedar menghabiskan waktu. Di sana ia bertemu dengan dengan pemilik kafe, seorang penari cantik di era 1940-an, Qurunfula.

Tak lama setelah penulis berkunjung di kafe tersebut, ia langsung menjadi bagian darinya. Di sana, ia menemukan sebuah hal yang menarik, sebuah hal yang sangat menakjubkan. Di balik kesederhanaan kafe tersebut, ternyata kafe itu adalah tempat berkumpulnya orang-orang eksterm dan berpandangan provokatif, baik golongan muda dan golongan tua. Mereka meluapkan pandangan-pandangan tersebut dengan berteriak keras maupun pelan, mereka mengekspresikan kenyataan sejarah revolusi 1952. Akan tetapi, kaum oposisi yang membisikkan bahwa pandangan ekstrem kiri harus diwaspadai karena berada di bawah bendera afiliasi ikhwanul muslimin—sebuah gerakan bawah tanah.

Kemudian alur ini terus berkembang sesuai jalan cerita dan seiring dengan waktu. Mah}fu>z} mulai mengarah topik yang berbeda—tentang

cinta—cinta beberapa orang terhadap Qurunfula dan cinta Qurunfula terhadap Hilmi> Hama>da.

Suatu hari keanehan terjadi di kota tersebut. Mah}fu>z} mendapati seluruh ruangan kafe Karnak sepi dan kosong. Hingga malam tiba, tidak seorang pun muncul begitu pula pada malam berikutnya. Ternyata terdengar kabar bahwa telah terjadi penangkapan besar-besaran. Memasukkan mereka (yang dianggap bersalah) ke dalam penjara.

Tiba-tiba mereka (Zainab Diya>b, Isma>’>il al-Sheikh, Himi> Hama>da dan beberapa lainnya) muncul kembali. Namun, saat seseorang bertanya kemana saja selama ini, mereka tak banyak bicara dan enggan menjawab. Melalui gerak tubuh mereka, seolah tergambar rasa takut yang besar. Terdengar kabar bahwa mereka diikat oleh perjanjian besar.

Kemudian, para pemuda itu kembali menghilang secara tiba-tiba dalam penangkapan misterius kedua kalinya. Mereka merasa takut dan kecewa. Kejadian yang serupa kerap terjadi setiap hari, namun pengaruhnya berbeda. Sehingga membawa kondisi saling curiga kepada apapun dan siapapun. Kini, bagi mereka yang tersisa hanyalah duduk melingkar sampai ajal menjemput, menyesali berlalunya masa kejayaan di masa lalu serta bertukar resep guna menunda kematian.

Menghilangnya golongan muda membuat suasana semakin mengerikan. Sebuah peristiwa besar menimpa negara Mesir secara keseluruhan. Angkatan bersenjata Mesir telah dikirim ke Sinai dengan kekuatan penuh. Seluruh kawasan meledak dalam korban perang. Mereka hanya bisa berharap, tanpa bisa lari dari keadaan yang telah membawa mereka pada akhir era perbudakkan. Perang Juni 1967 merupakan kekalahan bangsa Arab, namun juga kemenangan bagi negara Arab lainnya. Serta membawa perang besar antarnegara Arab lainnya. Bukan hanya Arab dan Israel.

Setelah perang Juni, mereka yang menghilang kembali ke kafe. Namun, tidak dengan Hilmi> Hama>da, ia meninggal saat di interogasi. Hal ini membuat semua pelangan kafe sedih. Terlebih Qurunfula, orang yang sangat mencintai Hilmi>. Peristiwa mencekam ini, memaksa para kalangan orang tua kembali ke masa lalu yang sangat jauh – di masa ‘Umar bin Khat}t}ab dan Rasulullah saw – untuk melupakan masa depan yang mengerikan.

Para pemuda adalah satu-satunya yang tidak menyerah dan tidak mengharapkan kebaikkan Amerika. Mereka mulai angkat bicara, tentang perjuangan baru dalam skala besar, sebuah konflik global antara kekuatan progresif dengan imperialisme.

Tengah cerita, berawal dari pertemuan antara Isma>’i>l al-Sheikh dengan Mah}fu>z}. Di sini, Isma>’i>l banyak menceritakan masalah yang dialaminya waktu kecil bersama kedua orang tuanya—dengan seorang ibu yang begitu menyayanginya dan mendukung pendidikannya serta seorang ayah yang tidak begitu mendukung pendidikannya—dan teman di masa kecilnya, Zainab.

Zainab dan Isma>’i>l adalah dua insan yang saling mencintai akan tetapi mereka ditimpa isu, melakukan skandal seksual. Pembicaraan mereka tidak hanya sampai di situ, Isma>’i>l juga bercerita di suatu malam Isma>’i>l di mana ia ditangkap sekelompok polisi dengan cara paksa kemudian di masukkan di sebuah sel yang hampa tanpa penerangan. Kondisinya sangat mengerikan. Bahkan, apapun yang tersisa dari rasa kemanusiaannnya, larut dalam perasaan ngeri. Ia dituduh telah bergabung dengan ikhwanul muslimin. Tuduhan itu menyebabkan siksaan yang keras terhadap dirinya. Keberuntungan berpihak pada Isma>’i>l, ia tidak terbukti bersalah. Meski begitu, ia tak dapat lepas begitu saja dari jeratan para polisi tersebut. Ia diikat dengan perjanjian besar, perjanjian yang menyiksa batinnya.

Kebebasan Isma>’i>l untuk menghirup udara segar di luar sel yang mengerikan itu, tidak berlangsung lama. Ia kembali dijebloskan ke dalam sel, kali ini ia mendapati Hilmi> Hama>da terkapar tak bergerak, meninggal di ruang interogasi.

Saat Mah}fu>z} bertemu dengan Zainab. Kali ini, Zainab banyak bercerita tentang dirinya. Di saat masa kecilnya, yang tinggal di kawasan kumuh hingga ia dilamar oleh seorang pedagang ayam yang merupakan saudagar kaya—di lingkungan miskin, ia adalah duda beranak tiga—tetapi Zainab menolak lamaran tersebut lantaran ia mencintai Isma>’i>l.

Cinta Zainab kepada Isma>’i>l berjalan penuh liku-liku. Di satu sisi orang tua Zainab yang tidak setuju, lantaran Isma>’i>l dianggap sebagai batu penghalang kehidupan keluarga Zainab dan Zainab sendiri. Di sisi lain, Zainab harus berpisah lantaran hubungannya dengan Isma>’i>l. Tak hanya itu, Zainab juga banyak menderita akibat dituduh melawan revolusi, ia

dimasukkan kedalam sel sebagaimana Isma>’i>l. Perlakuan yang ia dapatkan begitu mengerikan, sampai akhirnya ia harus kehilangan harga dirinya.

Akhirnya, keadaan yang menyiksa ini, memaksa Zainab menjadi seorang mata-mata dan memaksanya terjun dalam lembah pelacuran. Kondisi ini masih belum berakhir. Ia merasa putus asa untuk memperbaiki atau mengembalikannya pada kondisi semula. Sampai akhirnya, keyakinan Zainab untuk mendukung demonstrasi tergoyahkan dan benar-benar tercerabut dari akarnya. Dan semuanya itu terjadi serba tiba-tiba.

Sampai titik klimaks untuk kemudian menurun dan mencapai resolusi atau penyelesaian:

Pembicaraan mereka tentang revolusi dan insiden mengerikan mendapat sorotan terpanjang dari awal cerita hingga akhir cerita. Mereka merasa jenuh dengan yang dilakukannya. Sampai akhirnya mencoba mengganti topik pembicaraan. Namun, diskusi yang seperti itu, justru tidak bersemangat dan lesu. Hingga akhirnya kembali kepada topik semula.

Sampai akhirnya, suatu malam datanglah sesosok wajah asing di kafe Karnak dengan mengapit lengan seorang anak muda. Ia duduk di amping pintu masuk. Semua mata tertuju padanya. Melihat dengan heran. Sampai akhirnya mereka tahu bahwa Kha>lid S}afwan berada di kafe yang sama, di antara mereka. Mereka masih dalam kebingungan dengan tujuan Kha>lid S}afwan datang ke kafe Karnak.

Beberapa bulan kemudian Kha>lid S}afwan muncul kembali dalam kafe, menjelaskan tujuannya. Kha>lid mulai menjadi bagian dari kafe tersebut. Kha>lid mulai bergabung dengan komunitas pembela revolusi. Popularitasnya mencuat, bagai artis yang sedang naik daun. Beberapa orang mengagumi penyelidikannya dan mengagumi kekayaan informasi rahasia yang di milikinya. Bahkan sebagian yang lain membela Kha>lid serta menegaskan bahwa ia tidak pantas di persalahkan atas kejahatan yang telah dilakukannya. Hanya Qurunfula yang berbada pandangan dengan mereka yang mendukung keberadaan Kha>lid. Kendati demikian, ketika Kha>lid datang untuk bergabung kembali di komunitas kafe karnak, ia tetap mendapatkan sambutan hangat.

4. Latar

Dalam novel al-Karnak, terdapat beberapa latar yang membangun. Seperti latar tempat dan latar waktu.

Latar Tempat

Di sini kafe al-Karnak mendapatkan posisi sebagai tempat yang paling sering di sebutkan, lantaran banyaknya peristiwa yang terjadi di kafe tersebut. Hingga akhirnya penulis pun mengakhiri ceritanya di tempat tersebut. Meski, dalam novel tersebut juga terdapat beberapa tempat seperti penjara, dimana beberapa tokoh sempat berada di dalamnya dan mengalami siksaan yang begitu menyakitkan, sampai akhirnya Hilmi> Hama>da meninggal karena di tuduh bergabung dengan Ikhwanul Muslimin atau penentang revolusi. Akan tetapi, saya pribadi belum mengetahui secara jelas di mana kafe ini berada.

Latar Waktu

Novel al-Karnak memberikan gambaran waktu yang sangat jelas. Di akhir cerita penulis menunjukkan cerita rekaannya diselesaikan pada bulan Desember 1971. itu artinya, novel ini merujuk pada peristiwa di era tersebut. Dan dalam isi cerita yang menunjukkan rujukan kejadian pada peristiwa mengerikan Juni 1967.

5. Peristiwa

Dalam novel al-Karnak, penulis sebenarnya merujuk pada kejadian di Mesir. Yang mana, Mesir seolah-olah jatuh setelah lepas dari revolusi 1952, ketika Gamal Abd Nasser dan Anwar Sadat memimpin Mesir secara otoriter dan despotik. Mesir harus menerima kekalahan perang dengan Israel pada Juni 1967.

Peristiwa tersebut mengakibatkan luka dalam benak para tokoh al- Karnak. Namun, Kekalahan tersebut memaksa pelanggan kafe Karnak untuk menengok sejarah mereka jauh ke belakang. Bahkan mereka selalu dibayang-bayangi kebesaran masa lalu, yakni masa Khalifah Umar bin Khat}t}ab atau Rasulullah saw.

Peristiwa mencekam Mesir pada waktu itu. Hilmi> Hama>da, Zainab Diya>b, dan Isma>’i>l al-Sheikh harus menerima siksaan akibat dituduh melawan revolusi.

Selain itu, kehawatiran terus melanda para pengunjung kafe. Melihat teman-teman mereka datang dan pergi secara tiba-tiba, tanpa mau menjelaskan apa yang terjadi.

Dengan demikian, deiksis merupakan bentuk bahasa yang berfungsi sebagai penunjuk hal tertentu di luar bahasa melalui ciri-ciri referen identitas yang berubah-ubah tergantung konteks pengujar dan ujaran. Dalam

hal ini, kajian deiksis berdasarkan teori Louise Cummings yang meliputi 3 (tiga) macam, antara lain: deiksis persona, deiksis waktu, dan deiksis ruang. Suatu kata dikatakan mengandung deiksis, apabila referensinya berganti- ganti dan berubah-berubah bergantung pada situasi dan konteks ujaran. Dalam hal ini, deiksis persona merupakan dasar orientasi pengaruh kedeiktisan bagi deiksis ruang dan deiksis waktu, karena leksem-leksem ruang dan waktu yang tidak deiktis dapat menjadi deikstis bila dikaitkan dengan leksem persona. Maka dapat dikatakan bahwa deiksis persona merupakan deiksis asli, sedangkan deiksis ruang dan deiksis waktu adalah deiksis jabaran.

BAB III