***
Tak kurasa senja kini berganti malam. Udara dingin kian menusuk pori-pori tubuhku. Tiba- tiba ada seorang wanita sepa- ruh baya berteriak memanggilku.
“Vicent...” “Ya, Ma...!”
“Cepat masuk ke rumah. Di luar udaranya dingin. Kamu bisa sakit!”
“Ya, Ma. Tunggu sebentar.”
Aku sangat beruntung mempunyai Mama yang sangat baik dan perhatian kepadaku. Mama yang selalu menjadi motivasiku untuk selalu tegar dan sabar menjalani hidup, walaupun kita telah ditinggalkan orang yang kita sayangi.
***
Pagi ini mentari bersinar cerah, seolah-olah menunjukan rasa semangat kepada seluruh manusia di bumi. Seperti aku yang semangat menjalani aktivitasku sehari-hari, yaitu sekolah dan sebagai pelayan bubur ayam di warung Pak Han. Aku beker- ja di warung Pak Han sudah sekitar satu tahun semenjak diting- gal oleh Defand. Dulu aku bekerja di warung Pak Han karena aku ingin mendapat biaya untuk pergi ke Singapura untuk ber- temu dengan Defand. Tapi, entah mengapa setelah tabunganku cukup aku merasakan keraguan. Ragu bahwa Defand tak lagi mengingat aku. Defand adalah segalanya bagiku. Hanya Defand dan mama yang mampu membuat aku bangkit dari keterpuruk- an. Hanya Defand yang mampu membuat aku tersenyum di tengah beban hidup yang aku jalani. Semenjak Defand pergi, hidupku terasa hampa. Walaupun ada Caca, David, dan Samuel, aku tetap saja merasa hampa. Caca, Samuel, dan David adalah sahabatku. Caca dan aku sama-sama bekerja di warung Pak Han. Sedangkan Samuel dan David adalah orang yang ber- untung. Mereka mempunyai keluarga yang sempurna. Hidup mereka pun sangat bahagia dan semua hal tercukupi. Mereka bertigalah yang kini memberiku motivasi untuk bertemu dengan
Defand. Dan, karena mereka, kini aku memberanikan diri untuk menyusul Defand.
“Vicent, ayo cepat berangkat. Nanti kamu bisa ketinggalan pesawat.”
“Eh iya, Ca,”
“Ma, Vicent berangkat dulu, ya!” “Iya Vicent, hati-hati.”
“Iya, Ma.”
Hari ini aku memutuskan untuk pergi ke Singapura untuk menyusul Defand. David, Samuel, dan Caca mengantarku ke bandara. Di dalam mobil aku melamun dan terdengar suara cempreng memanggil dan memecahkan lamunanku.
“Vicent!”
“Ya, Ca. Ada apa?”
“Kamu kenapa sih ngelamun terus? Harusnya kamu itu seneng akhirnya bisa ke Singapura menemui Defand.”
“Hmmm..., aku ragu, Ca. Aku takut kalau Defand melupa- kan aku.”
“Cent, aku yakin sampai kapan pun Defand tetap meng- ingatmu karena Defand cinta mati sama kamu!” Celetuk David.
“Ah kamu, Vid. Biasa aja.”
***
Setibanya di Singapura, aku langsung menuju hotel milik keluarga Defand. Di sana aku melihat Defand yang tampak ga- gah mengenakan jas dan dikawal oleh bodyguard-nya. Aku berteriak memanggilnya. Tapi, Defand tak meresponku. Alih- alih malah aku diusir oleh satpam. Aku semakin ragu. Tapi, aku mencoba untuk positif thinking bahwa Defand tak mendengar suaraku.
Lalu aku menunggu Defand di depan hotel sembari melihat orang-orang yang berlalu lalang di hotel itu. Tapi, hingga siang berganti senja Defand tak kunjung keluar hingga aku putuskan untuk pergi menikmati indahnya Singapura.
Senja kini berganti malam. Semilir udara dingin kian me- nusuk tubuhku hingga aku memutuskan untuk mencari
Defand ke dalam hiruk pikuk hotel itu. Rasa lelah menyerbuku. Rasa takut kini melandaku. Seribu keraguan pun muncul dalam benakku. Berat rasanya aku melangkahkan kaki ini, untuk masuk ke dalam hotel itu. Tapi, aku tetap mencoba untuk masuk dan berkeliling mencari Defand hingga aku menemukan sosok yang rasanya tak asing lagi untukku. Sosok Defand yang familiar itu membuatku semakin mudah untuk mengingat wajahnya.
Tapi, seketika itu juga aku terperangah, melihat Defand bercanda mesra dengan seorang wanita yang tak aku kenal. Hatiku terasa teriris-iris. Kakiku sulit untuk bergerak. Ingin rasanya aku berlari, menangis, dan berteriak sekencang mungkin. Tapi, apa dayaku. Aku tak bisa berbuat apa pun. Aku bagaikan patung.
Defand pun akhirnya melihatku. Tapi, ia berpura-pura tak mengenalku. Lukaku kini kian mengangga. Aku benar-benar menemukan jawaban atas semua keraguan dan ketakutanku selama ini. Aku mencoba melangkahkan kakiku untuk keluar dari hotel itu. Aku bingung. Aku tak tahu harus bagaimana seka- rang. Aku terus berdiri di samping gedung hotel yang megah itu dan memikirkan sifat Defand yang berubah drastis. Aku kecewa pada Defand. Kini aku tak dapat membendung air mataku lagi. Aku jatuh dalam lubang kesakitan dan aku tak bisa menghindari lagi.
“Vicent....!”
Aku terperangah melihat sosok yang telah memanggilku. Aku melihat Caca, David, dan Samuel di belakangku. Ingin rasa- nya aku mencurahkan rasa kecewaku ini. Aku ingin mencurah- kan rasa kecewaku ini kepada mereka. Aku menangis dalam pelukan Caca.
“Sudah kuduga akan terjadi seperti ini. Maaf, Cent. Se- belumya aku tidak memberitahumu bahwa Defand sekarang telah berubah,” celetuk Samuel.
Tapi, aku tak memperdulikan itu. Aku tak mampu berkata- kata lagi dan hanya bisa menangis. Aku benar-benar hancur.
***
Semenjak pulang dari Singapura, aku benar-benar trauma dengan namanya cinta. Tapi, kini aku tegar menjalani hidupku.
Toh, masih ada mama dan teman-temanku yang menyayangiku. Jika Defand bukan untukku, tapi setidaknya aku pernah me- rasakan kebahagiaan bersamanya dan pernah menjadi bunga dalam tidurnya. Kebahagiaanku bersamanya tak mungkin aku lupakan.
Sebulan berlalu semenjak aku pulang dari Singapura. Kini aku tetap menjalani aktivitasku seperti biasa di sekolah dan di warung Pak Han. Tiba-tiba David dan Samuel datang mengham- piriku.
“Vincent, dah selesai belum tugasmu? Jalan-jalan, yuk... Ajak Caca juga.”
Dalam sejenak aku memikirkan tawaran David, “oh, su- dah.... Tunggu sebentar, ya. Aku panggil Caca dulu.”
Aku berfikir kenapa aku tidak jalan-jalan dengan teman- teman. Aku pikir dengan jalan-jalan bisa membantuku melupa- kan Defand, lelaki kejam itu.
Sore itu indah dan cerah. David dan Samuel ternyata meng- ajakku pergi ke suatu tempat yang terasa asing bagiku. Tempat itu mewah, indah, dan elegan. Rumah itu terletak di atas bukit yang tinggi. Dari rumah itu kita dapat melihat indahnya kota.
Lalu David mengajak kita bertiga ke taman belakang rumah itu. Di sana sudah ada seorang pria jangkung yang aku kenal sebagai Defand. Caca, David, dan Samuel pergi meninggalkan aku dan Defand. Sungguh getir hatiku melihat wajah Defand lagi. Hening sejenak.
“Vicent, aku mau minta maaf atas kejadian yang lalu. Aku sungguh menyesal telah mengkhianati cinta kita. Aku ingin kita seperti dulu.”
Aku terdiam sejenak, “Maaf, Def. Aku tak bisa seperti dulu. Walaupun aku dulu sangat yakin kamu bisa mendapat wanita yang lebih baik dariku. Dan, lupakan masalah itu. Aku sudah memaafkanmu.”
Jujur sebenarnya aku masih mencintai Defand. Tapi, aku takut kalau suatu hari nanti Defand akan mengkhianati aku lagi. Aku berjalan tertunduk menghampiri Caca, David, dan Samuel.
“Vicent, bagaimana?!” Tanya Caca penasaran. “Apanya, Ca?”
“Kamu dan Defand.”
“Oh, aku dan Defand kini berteman. Pulang, yuk! Sudah malam. Kasihan Mama di rumah sendirian,” kataku sembari mengalihkan perhatian mereka bertiga.
***
Hari ini di sekolah ada murid baru. Siswa itu bernama Rifky. Bagiku Rifky adalah sosok yang baik dan pintar bergaul. Rifky sangat baik padaku. Padahal aku baru mengenalnya. Ber- minggu-minggu ini aku sering bermain bersama Rifky dan tanpa aku sadari aku telah mengaguminya. Entah mengapa hatiku terasa nyaman. Aku berharap sosok itu dapat menggantikan Defand. Hingga tiba saat yang kuanggap tepat untuk menyata- kan cintaku pada Rifky.
“Rif, a....aku.... aku suka kamu...,” kataku sambil terbata- bata saking nervous-nya.
Sejenak hening suasana di sekitarku. Lalu suara Rifky memecah keheningan itu. Aku semakin deg-degan menanti jawaban darinya.
“Maaf, Vicent. Aku gak bisa jadi pacarmu. Aku selama ini dekat denganmu karena aku melihat kamu sosok yang asik untuk dijadikan teman dan tidak lebih dari itu.”
Aku terdiam. Dalam hati kuberkata, sampai kapan Tuhan mau mengujiku dengan segala cobaan yang berat ini? Lagi-lagi aku gagal mendapatkan cinta dari laki-laki yang aku sayang. Tapi, kali ini aku tak terlalu memikirkan hal itu. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk mendapatkan cinta yang tulus dari orang yang aku cintai. Aku harus tetap tegar dan menatap ke depan. Aku yakin suatu saat aku akan bertemu dengan pangeranku yang akan selalu setia padaku. Aku tetap bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan aku orang- orang yang sayang padaku. Masa bodoh dengan pria-pria yang mencampakkan aku.
S
ORE mendung. Gadis cantik duduk menyangga wajahnya dengan kesepuluh jari lentiknya. Dia menatap langit men- dung dengan penuh harapan. Sebut saja dia: Krei. Krei adalah anak pemurung sejak kedua orangtuanya meninggal akibat kecelakaan, tepat ulang tahun Krei yang ke-17.“Andai saja langit tahu isi hatiku. Pasti ia akan menyampai- kan pada Tuhan, betapa aku merindukan orangtuaku...,” ujar Krei dalam hati.
Waktu pun terus beranjak. Telepon pun berbunyi, “Kriiing... Kriiing.... Kriiing...!”
Krei segera bergegas mengangkat telepon itu, “Halo..., de- ngan siapa saya bicara?”
“Hai, Krei! Ini aku. Lusi. Hari ini ada pesta ultah di tempat Ceterine. Kamu juga diundang, kan?” Ujar Lusi dalam telepon. “Iya, aku juga dapat. Tapi, aku bingung, mau berangkat atau tidak.”
Akhirnya dengan bujukan Lusi, Krei pun mau datang dalam pesta Ceterine nanti malam.
Malam pun datang dengan aroma nuansa kemewahan pesta Ceterine. Lusi dan Krei datang bersama. Mereka segera mencari tempat duduk untuk menikmati jamuan demi jamuan acara pesta Ceterine.