BAB II : LATAR BELAKANG KEHIDUPAN NYAI AHMAD DAHLAN
B. Nyai Ahmad Dahlan dan Lingkungan Keluarga
Manusia dimana mereka hidup bayak dipengaruhi oleh lingkungannya, baik kehidupan keluarga, masyarakat sekeliling, dan juga pendidikan yang diterimanya. Ketiga lingkungan ini saling kait mengait dalam membentuk sikap tingkah laku dan pribadi seseorang. Dari lingkungan dan kehidupan masyarakat
26Ibid
, hlm. 13
27Mu’arif d
an Hajar Nur Setyowati, Srikandi-Srikandi’ Aisyiyah, Yogyakarta, Suara Muhammadiyah, 2011, hlm. 11
28Ibid
kampung Kauman ini maka terbentuklah pribadi muslim yang kuat dan teguh pada diri Nyai Ahmad Dahlan.29
Nyai Ahmad Dahlan, nama kecilnya Siti Walidah adalah putri Kyai Muhammad Fadhli, Penghulu Kraton Yogyakarta.30 Lahir di kampung Kauman pada 1872 M, anak keempat dari tujuh bersaudara: Kyai Lurah Nur, Haji Ja’far, Nyai Wardanah Husin, Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan), Haji Dawud, K.H. Ibrahim, dan K.H. Zaini. Semula, ayah Walidah berperofesi sebagai penghulu Kraton, tetapi diberhentikan karena sebuah sebab tertentu. Lalu, ia menekuni profesi sebagai saudagar batik. Kebanyakan, masyarakat Kauman bekerja sebagai
Abdi Dalem Pamethakan atau Abdi Dalem Putihan, sedangkan para istri bekerja
sambil membatik di rumah. Ternyata, usaha batik maju pesat, sehingga mengundang warga Kauman bekerja rangkap sebagai abdi dalem dan pengusaha batik. Kyai Fadhil termasuk juragan (batik) kaya di Kauman, sehingga kehidupan ekonomi Siti Walidah terbilang mapan.
Rata-rata, anak-anak di Kauman, termasuk anak-anak perempuan difasilitasi belajar agama, demikian juga Siti Walidah, dibimbing oleh orangtuanya atau para ulama Kauman di langgar-langgar.31 Meskipun secara formal, Nyai Ahmad Dahlan tidak pernah mendapat pendidikan di sekolah umum, kecuali mengaji Al Quran dan mendapat pelajaran agama dalam bahasa jawa
29
Suratmin, Nyai Ahmad Dahlan Pahlawan Nasional Amal dan Perjuangannya, Yogyakarta, Pimpinan Pusat Aisyiyah, 1990, hlm. 7
30
Kowani, Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, cetakan I, 1978, hlm. 11
31Mu’arif dan Haja
berhuruf Arab.32 Tidak heran, jika di Kauman ada banyak ulama, dan kebanyakan masyarakatnya menyadari betul pentingnnya pendidikan agama, tapi tidak dengan pengetahuan umum. Meski demikian, isteri Kyai Haji Ahmad Dahlan tidak merasa malu belajar membaca dan menulis latin bersama peserta pengajian perempuan atau para tetangga seusianya. Awal abad ke-20, sekitar dekade kedua atau ketiga, ketika berlangsung pembelajaran baca tulis Latin di pengajian perempuan di Kauman, usia Walidah sudah di atas 40-an atau 50-an, tapi semangat belajarnya masih tetap tinggi. Siti Walidah belajar menulis Latin lewat bimbingan Ibu Tjitrosoebono, istri tuan S. Tjitrosoebono (Commissie van Redactie Soeara Mohammadijah 1929-1930). Setelah berhasil belajar menulis Latin, Siti Walidah digambarkan sudah mulai dapat menulis bon, seperti ketika minta sapu dalam jumlah tertetu.33
Sejak kecil, Siti Walidah memang menonjol dibandingkan kawan- kawannya, lebih berani dan lancar bicaranya. Kemampuannya berdakwah diasahnya sejak Kyai Fadhil menaruh kepercayaan kepada putrinya ini untuk membantu mengajar di langgarnya atau bias disebut Langgar Kyai Fadhil. Pengalaman mengajar tersebut tentu membantu Siti Walidah mengelolah pengajian perempuan yang dirintisnya, yang kelak bakal menjadi pegiat-pegiat Aisyiyah awal. Ia digambarkan piawai mengajar. Caranya mengajar membikin terpikat murid-muridnya di Langgar. Siti Walidah juga dikenal pandai memotivasi murid-muridnya belajar, dan itu tetap berlanjut hingga Siti Walidah menikah. Begitu dianggap layak menikah, Siti Walidah berhadapan dengan perjodohan
32
J.B. Soedarmanta, Jejak-jejak Pahlawan Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia, Jakarta, Grasindo, 2007, hlm. 189
33
tanpa pilihan. Ia dijodohkan dengan salah satu putra kerabatnya sendiri. Siti Walidah mengalami perkawinan sistem famili yang banyak terjadi di Kauman, sehingga pada umumnya orang tua di kampung Kauman bersaudara karena pertalian darah, satu di antara tiga ikatan yang membentuk karakteristik masyarakat Kauman.
Siti Walidah dinikahkan dengan Muhammad Darwis, nama kecil Kyai Haji Ahmad Dahlan, pada 1889. Kedudukan Muhammad Darwis terhadap Siti Walidah tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Muhammad Darwis, lelaki kelahiran 1868 atau 4 tahun di atas Siti Walidah, adalah putra K.H. Abubakar, Khatib Amin Masjid Agung (Besar) Kesultanan Yogyakarta, dengan Siti Aminah (Nyai Abubakar). Baik Siti Aminah, Ibu Darwis, maupun Kyai Fadhil, ayah Walidah, adalah anak-anak dari K.H. Ibrahim, yang pernah menjabat Penghulu Kesultanan Yogyakarta.34 Atas perkawinannya itu mereka dikaruniai enam putera: Yohanah, H. Siraj Dahlan, Sitti Busyro, H. Sitti Aisyiyah, Irfan Dahlan (Jumhan) dan Siti Yuharon.35 Sejak menikah dengan Kyai Haji Ahmad Dahlan, dia selalu mendampingi suaminya untuk mengembangkan Muhammadiyah. Sebagi istri yang setia, dia banyak memberi dukungan moril, mengingat suaminya tidak hanya mengurusi organisasi tetapi juga mencari nafkah hidupnya dengan berdagang kain batik.36
Dalam memperdagangkan kain batik yang diperdagangkan itu diambil dari saudara-saudaranya maupun tetangganya. Kadang-kadang Nyai Ahmad Dahlan
34Ibid
. hlm. 26
35
Suratmin, Nyai Ahmad Dahlan Pahlawan Nasional Amal dan Perjuangannya, Yogyakarta, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1990, hlm. 37
36
juga membatik sendiri di rumah sebagai pekerjaan sambilan. Beberapa daerah diantaranya Jawa Barat, Jawa Timur dan Medan telah dijelajahi oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, untuk menjual barang-barang dagangannya. Beliau adalah orang yang suka bersilaturahmi. Sambil berdagang,kesempatan dipergunakan juga untuk mengadakan silaturahmi dengan masyarakat yang dikunjungi. Pembicaraan beliau berkisar tentang dakwah agama Islam. Dengan cara-cara demikian itu tidak mengherankan pemikiran beliau tentang agama Islam cepat tersebar diberbagai daerah. Di tempat itu pula yang dikemudian hari Muhammadiyah tumbuh dan berkembang.
Selama Kyai Haji Ahmad Dahlan pergi berdagang kebeberapa daerah itu Nyai Ahmad Dahlan tetap di rumah mengawasi pendidikan putera-puterinya dan mencukupi kebutuhan hidup rumah tangganya. Keadaan rumah tangga Kyai Haji Ahmad Dahlan dapat dijadikan contoh orang-orang disekitarnya. Barang-barang rumah tangga beliau bukanlah termasuk mewah tetapi karena diatur dengan baik dan rapi sehingga sedap dipandang mata. Rumah serta halamanya bersih. Oleh karena pandainya Nyai Ahmad Dahlan mengatur rumah tangga, tutur katanya yang halus serta sikapnya yang baik dan ramah itu menyebabkan orang lain suka berkunjung dan merasa kerasan di rumahnya.37
Nyai Ahmad Dahlan menyadari bahwa suaminya adalah seorang pemimpin pergerakan dalam Islam dan sebagai pejuang untuk memajukan bangsanya yang masih terbelakang. Maka sebagai seorang istri beliau dapat mengimbangi cita-cita suaminya. Pada waktu Kyai Haji Ahmad Dahlan merintis
37
Muhammadiyah beliau selalu mendampinginya. Organisasi Muhammadiyah saat itu belum merupakan suatu perkumpulan yang tersusun dengan baik, tetapi baru dalam taraf pengumpulan orang-orang di sekitarnya dengan mengadakan pengajian-pengajian. Dalam usaha mencapai cita-citanya yang mulia itu, maka mula-mula Nyai Ahmad Dahlan adalah satu-satunya tangan kanan suaminya. Nyai Ahmad Dahlan selalu berikhtiar agar jangan sampai gerakan Muhammadiyah itu hanya terbatas pada kaum laki-laki saja, tetapi beliau berharap dan berinisiatif untuk memberi didikan dan bimbingan pada para ibu.38
Nyai Ahmad Dahlan mendampingi suaminya bukanlah dalam keadaan senang saja, tetapi juga dalam keadaan bahaya dan kesedihan. Kyai Haji Ahmad Dahlan sesudah kembali dari bertabligh di Banyuwangi mendapat gangguan, ejekan, dan ancaman.39 Karena kegiatannya, Nyai Ahmad Dahlan pernah diancam akan dijadikan sandera dan suaminya akan dibunuh bila berani datang ke Banyuwangi. Namun, pasangan suami-istri itu tetap menjalankan rencananya semula untuk mengunjungi kota itu dan membangun cabang Muhammadiyah.40
Orang-orang Banyuwangi menghakimi, “Hai ulama palsu yang busuk, datanglah sekali lagi di Banyuwangi, kalau memang benar ajakanmu! Kami akan menyambut kedatanganmu dengan belati tajam, biarlah pulangmu menjadi bangkai! Bawalah isteri sekalian, supaya selesai juga atau kami jadikan budak belian!”.41
Kalimat bernada sengit mengacam ini memang ditujukan kepada Kyai Haji Ahmad Dahlan. Namun, bukan hanya sang pendiri Muhammadiyah saja yang
38Loc.cit 39 Suratmin, op.cit, hlm. 35 40 J.B. Soedarmanta, op.cit, hlm. 189
41Mu’arif dan Hajar Nur Setyowati, Srikandi-Srikandi’ Aisyiyah
, Yogyakarta, Suara Muhammadiyah, 2011, hlm. 20
menerima dampak psikologis dari ancaman tersebut. Dampak psikologis paling besar dirasakan oleh sang isteri, Nyai Ahmad Dahlan. Dia diancam bakal dipermalukan sebagai budak belian jika suaminya bersikukuh melaksanakan dakwahnya ke Banyuwangi. Tetapi, dia memang seorang isteri yang tabah. Sekalipun suaminya diancam bakal dibunuh dan dirinya akan dipermalukan sebagai budak belian, dia tetap konsisten menyokong suaminya berdakwah ke daerah Banyuwangi, bahkan Jawa Timur. Itu bukan kali pertama Nyai Ahmad Dahlan menerima teror dalam kapasitasnya sebagai isteri sang pembaru. Di masa awal Kyai Haji Ahmad Dahlan merintis reformasi Islam dengan cara kreatif berdakwah, dia mesti membiasakan diri berhadapan dengan teror yang ditujukan kepada suaminya, dan mau tidak mau kepada dirinya juga.
Nyai Ahmad Dahlan sepertinya sadar betul, inilah konsekuensi bersuamikan seorang ulama pembaru, melawan arus pemahaman keagamaan yang telah mapan dan tradisi berdakwah kebanyakan. Isteri Kyai Haji Ahmad Dahlan itu, tak mencukupkan dirinya sebagai pendamping hidup yang menyokong suaminya dari balik layar. Ia menempatkan dirinya juga sebagai kawan berjuang Kyai Haji Ahmad Dahlan, merintis pengajian bagi kaum perempuan, baik kaum muda, tua, maupun para buruh batik. Pengajian perempuan itu pula, yang menjadi pengajian Sopo Tresno yang menjadi embrio gerakan Aisyiyah. Nyai Ahmad Dahlan juga menyediakan rumahnya untuk pendidikan kaum putri melalui
internaat atau asrama putri, yang selanjutnya direplikasi oleh Aisyiyah di daerah
di luar Yogyakarta.42
42Mu’arif dan Hajar Nur Setyowati, op.cit