• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERKEMBANGAN MUSIK GEREJA HKBP (HURIA

2.2 Perkembangan Nyanyian di Gereja HKBP

2.2.2 Nyanyian Jemaat di HKBP

Dalam sejarah kekristenan di Tanah Batak, musik berperan sebagai alat penginjilan dan membangun persekutuan orang-orang Batak. Para missionaris yang datang ke Tanah Batak sudah dilengkapi dengan pengetahuan teori musik dan mampu memainkan alat-alat musik. Salah satunya adalah missionaris Nommensen yang menterjemahkan lagu-lagu rohani berbahasa Jerman ke dalam bahasa Batak Toba di Sipirok tahun 1871-1872 (Nomensen, tth:93).

Penerjemahan lagu gereja ke bahasa Batak Toba juga dilakukan oleh missionaris Johannsen, Puse, Metzler, Meerwaldt, Pdt. Otto Marcks, Paul Gerhard dan Pdt. Batak yang pertama. Hasil dari terjemahan lagu-lagu yang kemudian menjadi lagu-lagu dalam Buku Ende HKBP (Immanuel, 1907:75-84).

Sebagian besar sumber melodi nyanyian jemaat HKBP berasal dari nyanyian rohani Jerman dan Belanda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Batak Toba (Kruger, 1966:223; Hutauruk, 1993:60).

2.2.2.1 Himne Awal Protestan di Batak Toba

Tanggal masuknya himne gereja Protestan di daerah Batak Toba secara pasti masih belum jelas, akan tetapi kita dapat memahami tentang himne tersebut melalui beberapa tulisan, diantaranya; artikel yang ditulis oleh Ernst Quentmeier (1875-1962) merupakan misionaris RMG yang bekerja di Sumatera sekitar 1904-1938; dan dalam berita buletin "Berichte der Rheinische Mission" 1941 yang menggambarkan bagaimana perkembangan himne di Batak Toba. Dua tulisan di atas menyatakan bahwa misionaris Nommensen dan Johannsen adalah yang pertama memperkenalkan himne Kristen kepada orang Batak Kristen.

Pada awalnya, ada sembilan nyanyian dalam bahasa Jerman yang diterjemahkan ke dalam bahasa daerah untuk dinyanyikan oleh orang Kristen Batak (Quentmeier 1941:52). Kondisi ini terjadi selama akhir 1860-an atau awal 1870-an. Referensi himne dapat dilihat dari surat pribadi dengan Wolfgang Apelt; arsip-arsip di Wuppertal dan Museum Yayasan RMG

(sekarang dikenal sebagai

bahwa himne yang berisi 90 lagu pujian tanpa lagu dicetak dengan judul "Ende-ende ni halak Kristen na di Tanobatak, angka na marhatatoba". Himne ini diterbitkan di Bielefeld, Jerman tanpa memberikan tanggal publikasi. Artikel Quentmeier berikutnya menyebutkan buku himne gereja dicetak di Jerman, dalam rangka merayakan ulang tahun ke 20 pekerjaan misionaris di Sumatera Utara, himne ini berisi 98 pujian. Buku himne diterbitkan pada awal 1880-an, dalam referensi arsip Wuppertal menyebutkan bahwa buku himne ini diterbitkan dan dicetak di Gütersloh, Jerman pada tahun1881. Menurut arsip Wuppertal menyatakan bahwa tahun 1881 himne yang dikumpulkan berisi 121 himne tanpa lagu (bukan 98 seperti yang disebutkan oleh Quentmeier). Kumpulan lagu himne ini diberi judul "Ende-ende ni halak Kristen na di Tano ni halak Batak di Pulau Sumatera (Toba) ". (Quentmeier 1941:52).

Nyanyian ini dibagi dalam beberapa bagian sesuai dengan tema lagu, yaitu:

1. Nomor Ende 1-6 : Puji-pujian 2.Nomor Ende 1-18 : Nyanyian doa 3.Nomor Ende 19-34 : Nyanyian khotbah 4.Nomor Ende 35-38 : Nyanyian Advent

5.Nomor Ende 39-46 : Nyanyian tentang kelahiran Tuhan Yesus 6.Nomor Ende 47-49 : Nyanyian tentang kematian Tuhan Yesus 7.Nomor Ende 50-58 : Nyanyian tentang kebangkitan Tuhan Yesus 8.Nomor Ende 59-61 : Nyanyian tentang kenaikan Tuhan Yesus 9.Nomor Ende 62-64 : Nyanyian tentang turunnya Roh Kudus 10. Nomor Ende 65 : Nyanyian Baptisan Kudus

11. Nomor Ende 66-70 : Nyanyian Perjamuan Kudus 12. Nomor Ende 71-83 : Nyanyian untuk Tuhan Yesus

13. Nomor Ende 84-87 : Nyanyian tentang penderitaan

14. Nomor Ende 88-92 : nyanyian tentang dosa dan penghapusan dosa 15. Nomor Ende 93-102 : Nyanyian tentang kematian dan pengharapan 16. Nomor Ende 103-108: Nyanyian pagi hari

17. Nomor Ende 109-114: nyanyian sore hari 18. Nomor Ende 115-121: nyanyian tambahan

Referensi berikutnya adalah bahwa pada tahun 1901 himne ini diedit oleh misionaris Meerwaldt, yang berisi teks lagu 278 dan lagu. Hasil dari editan ini juga diterbitkan dan dicetak di Jerman (Bielefeld) dan lagi-lagi berjudul "Ende-ende ni halak Kristen na di Tano Batak, angka na morhata Toba". Himne yang diedit Meerwaldt kemudian diterbitkan kembali dalam 1923 dengan 53 himne tambahan. Himne ini dicetak ulang di Lagu Boti Sumatera Utara, di mana pada waktu itu RMG telah mendirikan rumah pencetakan. Akhirnya, pada tahun 1935 sebuah versi dari himne diproduksi di Lagu Boti memuat total 375 himne. Kumpulan lagu himne ini diberi judul "Boekoe Ende ni halak Kristen na di Tano Batak". Buku ende ini tampaknya menjadi versi standar untuk semua cetakan himne dari HKBP, buku ende ini diproduksi 6.000 dan terjual habis pada penerbitan tahun pertama. Quentmeier yang bekerja di Sumatera sekitar tahun 1904-1938 sebagai editor himne menyatakan dalam artikelnya, bahwa 2 tahun kemudian sebanyak 10.000 eksemplar Buku Ende ini dicetak untuk memenuhi permintaan. Himne terjemahan Pdt. F.H. Meerwaldt dalam bahasa Batak Toba berjudul

Hoho au uae g da Na u gkap do su go I a uel, : . Tahu , Paul

Gerhard menterjemahkan sebelas nyanyian jemaat (Immanuel, 1907:86-87), yaitu:

1. Behama panjalongku di Ho, o Tuhanki 2. Hamu ale donganku

4. Adong do Biru-biru i 5. Sai tiur ma langka muna 6. Bongoti ma rohangku 7. Sai hehe ma rohangku 8. Mata ni ari binsar saonnari 9. Lao modom do luhutna 10. Pasahat ma sudena 11. Tung beasa ma holsoan

Edisi ke 20 adalah dicetak pada tahun 1992 di Pematang Siantar, kota kedua terbesar di Sumatera Utara. Sumber nyanyian rohani dijabarkan seperti dari Jerman, Belanda dan Inggris dan banyak mencerminkan teologi yang ditandai RMG dalam pekerjaannya di Sumatera selama abad 19-an dan awal 20. Dalam Buku Ende edisi ke- 20 memuat 3 nyanyian yang dikaitkan dengan Martin Luther (1483-1546), "Ein feste Burg", "Vom Himmel hoch", dan "Aus tiefer

not", 17 adalah komposisi dari Paul Gerhardt (1607-1676); 7 adalah karya Gerhardt Tersteegen (1697 - 1769); 3 adalah himne dari Joachim Neander (1650-1680), dan 7 himne Hitung Ludwig von Zinzendorf Nicholaus (1700-1760) pendiri gereja Moravia. Himne ini berisi sekitar 250

nyanyian, 10 mazmur

pengaturan, dan 60 lagu-lagu rakyat rohani (Ger.: geistliche Volkslieder) (Quentmeier, 1941:54). Pada titik tertentu dalam sejarahnya jumlah himne dikurangi menjadi 373, untuk itu total himne menjadi 373 yang kemudian ada penambahan 232 himne selama pertengahan abad 20. Lagu-lagu tambahan ini disusun oleh Jerman Elfriede Suster misionaris lebih sulit (1896-1971), yang bekerja dengan RMG di Sumatera 1925-1940 dan mendirikan Sikola

Bibelvrow

(Sekolah Bibelvrow) di Narumonda, sebuah kota kecil di dataran tinggi Batak.

Melalui arsip RMG, menunjukkan bahwa pada tahun 1937 sebuah himne diterbitkan di Narumonda, kemungkinan untuk digunakan di sekolah Bibelvrow dalam menunjang pekerjaan mereka. Nyanyian rohani dalam bahasa Batak Toba mencakup baik teks dan lagu. Himne ini berjudul: "Ende taringot toe Haloeaon na gok ni pinatoepa Toehan Yesus Kristus" dikumpulkan dari berbagai sumber, baik Eropa dan Amerika. Sumber nyanyian ini berasal dari: Evangelischer Mazmur, Evangeliumssänger, Fellowship Nyanyian Rohani, Jungend bundlieder, Missionsharfe, Reichslieder, Sankey Lieder, dan lainnya. Kedua tematis (dengan mengacu pada teologi dinyatakan dalam teks-teks himne) dan Gaya (dengan mengacu pada yang formal struktur lagu-lagu himne) himne dalam koleksi Keras Elfriede adalah lebih evangelis dan Injil yang berorientasi daripada himne sebelumnya yang ditemukan di Buku Ende. Pergeseran musik dan tematik mungkin mencerminkan sebagian perubahan teologi RMG dari awal pekerjaan mereka di antara orang Batak Toba. menuju masa Elfrieda yang lebih sulit bekerja dengan mapan sebab gereja Batak yang berkembang sekitar 60 tahun kemudian. Nyanyian rohani dalam koleksi Elfrieda lebih sulit, menunjukkan gaya himne yang digunakan populer di

Eropa dan Amerika untuk jenis penginjilan dan

pedagogis. Untuk bertahun-tahun kedua kumpulan himne ini tetap terpisah - yang Buku Ende, Buku yang digunakan dalam liturgi ibadah HKBP dan Haluaon na Gok digunakan untuk kegiatan Bibelvrow. ((Robert Hodges, 2009:298)

Tahu , a ia Halua a Gok elu digu aka dala i adah ge eja HKBP

karena adanya pandangan yang berbeda dari para pendeta tentang nyanyian tersebut.

orang yang kerasukan/ ende ni na tondi-tondion.55 Kondisi ini juga disebabkan oleh sekelompok warga jemaat HKBP Janji Matogu dengan berpakaian serba putih naik ke menara

ge eja sa il e a ika e e apa a ia da i Buku e de Halua a Gok se a a

mengangkat tangan ke atas dan kadang-kadang bertepuk tangan, mereka berkata bahwa akhir jaman sudah dekat dan marilah kita naik ke surga. Perkataan ende na tondi-tondiaon adalah sebuah ejekan terhadap apa yang dilakukan oleh Elfriede Harder yang mendidik para wanita Batak Toba menjadi Bibelvrouw (pelayan wanita)

Akhirnya, pada tahun 1930 kedua buku nyanyian ini dibawa bersama dalam konteks ibadah liturgi dengan Haluaon na Gok bertindak sebagai suplemen untuk Buku Ende. Pada

tahu , Buku E de Halua a Gok sudah dite i a HKBP se agai a ia je aat da

dapat digunakan pada kebaktian minggu (Immanuel, 1959:7).

Tahun 1940 terbitlah Buku Ende HKBP yang sampai saat ini digunakan dalam ibadah- ibadah yang dilakukan oleh gereja HKBP. Jumlah nyanyian dalam Buku Ende HKBP berisikan 373 nyanyian. Adapun sumber nyanyian ini adalah56:

1.

EKG = Evangelisches Kirchen Gesangbuch, stammausgabe 1950 / 1951. Kitab

nyanyian gereja gereja evangelist di jerman. Sammausgabe adalah bagian

pokok yang di pakai oleh semua gereja regional di Jerman.

2.

EKG B = Evangelisches Kirchen Gesanbuch, Sonderausgabe. Sama dengan

EKG tapi ditambah dengan bagian khusus “sonderausgabe” yang dipakai oleh

gereja evangelis di daerah Berlin / Braindenburg.

55

Riris Johanna Siagian, 2001. Satu Visi menuju HKBP yang Baru. Kantor Pusat HKBP.

56

3.

EKGR = Sama dengan EKG. Kitab nyanyian ini dipakai oleh gereja evangelis

di daerah Rhendland, Wesfalen dan Lippe.

4.

EvPs = Evangelicher Psalter 1912. Kitab nyanyian Jerman yang berwarna

pietis.

5.

EvPs A = Sama dengan EvPs di tambah suplemen “ anhang”

6.

HAM = Hymns Ancient And Modern, London 1924.

7.

M.H = Methodist Hymn Book, London 1934

8.

HCL = Hymns of The Christian Life, Christian publication Inc, Harrisburg 1936

9.

L.U = Liber Usualis, kitab nyanyian Gregorian dari gereja Katolik.

10.Gtsl = Gotteslob, Katholisches Gebet

und Gesangbuch, Keuskupan

Regensburg, 1975.

11.Gms = Gemainshaft lieder, Basel 1950

12.Mzm =Mazmur jenewa, 1562.

13.EvGz = Evangelische Gezangen , Buku nyanyian Belanda1805 /1807

14.Julian = John Julian, Dictionary of hymonologi, New York 1957

15.Buku nyanyian gereja Protestant di Swiss 1952.

Tahun 1995 HKBP menerbitkan buku Bibel/AIkitab yang digabung dengan buku Ende HKBP yang ber-notasi angka. Disana penomoran Buku Ende bagian Haluaon Na Gok tidak lagi dimulai dan nomor 1 sampai 232 tetapi dimulai dengan nomor 374 sampai 556 pada saat penggabungan ini ada 49 nyanyian yang dibuang dari Haluaon Na Gok karena nyanyian tersebut telah ada pada Buku Ende HKBP bagian pertama.57 Buku Ende Haluaon na gok dicetak

57

dengan penomoran yang dimulai dan nomor 1 sampai 232. Baru pada tahun 1995 penomorannya dirubah dengan menggabungkannya ke Buku Ende yang sebelumnya, dimulai dengan nomor 374 sampai 556. Sejak Szuster Elifiede Harder mengumpulkan nyanyian ini, beliau telah menuliskan sumber nyanyian dalam buku nyanyian Haluaon Na Gok. Berikut sumber lagu Haluaon Na Gok: Buku Logu, Cantate, Carstem, Chrishhonalieder, Ende Angkola, Evangelischer Psalter, Evangeliumssanger, Fellowship Hymns, Frohe Botshaft, Guitarreileder jilid 1 dan 2, Judgenbundlieder, Missionsharfe, Musikant, Rettungsjubel, Reichslieder, Sankey Lieder, Sangergruss, Siegeslieder, Singet dem Herrn, Unser Lied , Vereinslieder, Wehr – und Waffenlieder, Zangbundel J. De Herr, Zangbundel Leger des Heils, )oekli ht da “elesele

semuanya berjumlah 26 sumber lagu58.

Tahun 1999 diterbitkan Buku Ende HKBP berbahasa Indonesia yang disebut dengan

Kidu g Je aat HKBP a g dike jaka oleh Pdt. Walde a “ilito ga a g pada saat itu

memengang jabatan sebagai kepala Biro Musik HKBP.

Pada Tahun 2003, melalui Rapat Pendeta HKBP yang diselenggarakan tanggal 8-10

Okto e e epakati pe ggu aa Buku E de “uple e HKBP a g e judul “a gap di Jaho a dala i adah ge eja HKBP. Ju lah a ia Buku E de “uple e adalah sebanyak 306 nyanyian yang disesuaikan dengan tema gereja. Buku Ende HKBP dan Buku Ende Suplemen kemudian disatukan dalam cetakan berikutnya sehingga jumlah nyanyian jemaat HKBP sampai saat ini berjumlah 862 buah.

Sumber lagu-lagu dala “a gap di Jaho a a ak e asal da i lagu-lagu koor dan lagu Sekolah Minggu, himne lagu gereja-gereja Barat dan lagu-lagu tradisi Batak. Lagu-lagu ini kemudian diterjemahkan serta sebagian lagu diarransemen kembali dari buku Lutheran

58

Worship; Zangbundel; with one Voice; Evangelisches Gesangbuch; Libens lieder; Gesange aus Tize; Hyms for The Living Church; Thuma Mina; The Book Of Hyms; Singing Youth ; Global Praise; Kidung Pujian Kristen; Mazmur dan Nyanyian Rohani.

Be e apa lagu “uple e “a gap di Jaho a dia ta anya: Las Rohangku Lao Mamuji (BE 656) Ale Amanami (BE 840); Husomba Ho Tuhan (BE 857); Dison Adong Huboan Tuhan (BE 848); Sangap Ma di Debata (BE 582); Nunga hehe Kristus (BES 632); Beta hita ale dongan (BES 661); Begema Tuhan i (BES 660); Hupillit asa marparbue (BES 727); O Tuhan togu-togu ma (BES 743).

2.2.2.2 Penggunaan Himne Dalam Liturgi HKBP

Liturgi HKBP (Agenda di Huria Kristen Batak Protestan) pada setiap ibadah minggu terdapat tujuh himne yang dinyanyikan secara bersama-sama oleh seluruh jemaat. Dari tujuh himne, biasanya hanya satu yang diambil dari Haluaon na Gok, yaitu sesudah khotbah. Pada awalnya, seluruh nomor himne dan teks kitab suci dituliskan pada papan tulis yang tergantung di dinding di kedua sisi gereja. Dalam prakteknya, himne yang bersumber dari Haluaon Na Gok diawali dengan huruf "HG", tujuannya adalah untuk membedakannya dari nomor Buku Ende. Perbedaan penomornan ini terjadi disebabkan oleh penomoran yang terpisah antara kedua himne (yaitu Buku Ende 1-373, Haluaon na Gok 1 -232). Seiring dengan waktu, penomoran kedua buku himne ini digabungkan (1-556 halaman) dan ternyata beberapa himne dari Haluaon na Gok (sebanyak 49 himne) di edit dan dikeluarkan sehingga mengurangi jumlah total himne Haluaon na Gok (menjadi 183 himne).

Perkembangan yang terjadi saat ini di beberapa gereja HKBP dalam hal penulisan Liturgi gereja adalah membuatnya dalam bentuk fotocopy menggantikan papan tulis yang digantung di didngding ke dua sisi gereja. Beberapa gereja HKBP dalam kertas fotocopi-an tersebut sudah menyertakan teks himne yang dinyanyikan dalam setiap ibadah minggu. Hal ini dilakukan oleh gereja dikarenakan sudah banyak jemaat yang tidak membawa Buku Ende saat kebaktian minggu.

Dalam perkembangan berikutnya, sumber nyanyian ibadah minggu gereja HKBP tidak lagi diambil dari Buku Ende, tetapi disesuaikan dengan perkembangan lagu rohani karismatik

a g ada. Meskipu elu dite i a se a a luas, aka tetapi e tuk i adah muda-mudi (ibadah Alternatif) e upaka e i a agai a a hi e gereja HKBP sudah mulai

ditinggalkan oleh uda/i HKBP itu se di i. Adapu alasa ke a aka dilaksa aka a ibadah alternatif adalah u tuk e egah a ga je aat HKBP e pi dah ge eja ke ge eja

Karismatik.

2.2.2.3 Notasi Himne

Sistem notasi dari Buku Ende mencerminkan aspek penting lainnya sejarah perkembangannya. Saat ini ada dua sistem notasi yang digunakan di gereja HKBP, yaitu: notasi angka dan notasi Balok. Dalam hal notasi penggunaan notasi, tidak ada refrensi pasti menyebutkan mana dari dari kedua sistem notasi ini yang muncul di Batak Toba.

Sistem notasi yang paling umum digunakan untuk himne dan nyanyian paduan suara adalah notasi angka. Catatan sejarah menunjukkan dengan jelas bahwa misionaris Jerman telah memperkenalkan brass, paduan suara dan organ pompa (Poti

marende) ke Batak Toba sekitar tahun 1880-an. Dalam semua kemungkinan kedua sistem notasi ini diperkenalkan dalam waktu yang sama, tetapi dikembangkan secara mandiri dalam situasi dan konteks tertentu.

2.2.2.4 Struktur Himne

Buku Ende Bukudalam bentuk yang sekarang berisi tiga indeks, yang pertama adalah tematik, musiman, dan indeks umum. Daftar kelompok himne dapat dilhat di bawah ini; himne 1-17 adalah Ende Pujian (Nyanyian Rohani Pujian), himne 18-37 adalah Ende di ari Minggu (Nyanyian Rohani untuk Minggu), himne 38-45 adalah Ende Adventus (Nyanyian Rohani untuk Advent), himne 46-62 adalah Ende di Hatutubu ni Tuhan Yesus (Nyanyian Rohani untuk kelahiran Yesus / Natal) dan sebagainya.

Indeks kedua adalah daftar abjad dari judul himne judul yang disesuaikan dengan nomor Buku Logu. Buku Logu disusun untuk iringan keyboard dengan gaya nyanyian paduan suara (SATB). Indeks ketiga adalah daftar sumber-sumber asli dari mana himne ditemukan. Sebagai contoh, himne nomor 449 di Buku Ende adalah "Sai solhot tu silangmi". Buku Logu No 300: “ai solhot tu sila g i", dan di bagian kanan atas "FH Nomor 72 . Indeks ketiga di belakang Buku Ende menunjukkan bahwa "FH" adalah singkatan untuk " Fellowship Hymns".

Judul a al a hi e adalah Jesus Keep Me Nea the C oss a g di iptaka tahu oleh

Fanny Crosby dan William Doane. (Robert Hodges, 2009:303)

Seperti disebutkan sebelumnya, tahun 1935 Buku Ende dan tahun 1937 Haluaon na Gok, sejak tahun 1970-an telah digabung sebagai satu volume himne dari HKBP yang kemudian tahun 2004 terjadi penambahan himne suplemen. Himne gereja HKBP sampai saat ini tidak mengalami perubahan lagi, Buku Ende ini adalah satu-satunya sumber nyanyian jemaat HKBP dalam setiap ibadah yang dilakukan.

Himne dari Buku Ende memainkan peran penting bagi masyarakat Kristen Batak Toba yaitu pemeliharaan identitas agama dan budaya. Himne ini juga dinyatakan tidak hanya dalam konteks ibadah Kristen, tetapi juga pada kehidupan keseharian/pengalaman hidup.

Peran signifikan dari himne Protestan dalam kehidupan orang Kristen Batak Toba terlihat pada seminar yang dilakukan, disini dapat ditemukan bagaimana partisipasi jemaat dalam setiap kegiatan gereja. Para jemaat menemukan bahwa ada himne tertentu yang memungkinkan mereka untuk merumuskan pemahaman mereka tentang kekristenan karena mereka tinggal dan mengalaminya pada hari-hari kehidupan. Himne ini memungkinkan mereka untuk mengekspresikan iman pemahaman mereka dengan mudah dan dalam makna yang lebih dalam.

Untuk jemaat, nyanyian dapat memberikan kekuatan makna yang melampaui arti dari teks lagu saja. Peran himne dari Buku Ende dalam kehidupan Batak Toba Protestan jauh melampaui penggunaannya dalam liturgi ibadah selama pelayanan Minggu. Bagi Batak Toba Protestan, himne ini digunakan untuk mendampingi keseluruhan kehidupan mereka, seperti; perayaan kelahiran, perkawinan, Tahun Baru, memasuki rumah baru, panen, dll.

Dokumen terkait