BAB I PENDAHULUAN
1.6. O RIGINALITAS
Penelitian ini merupakan pengembangan dari (Putri, 2016) yang berjudul Analisis Pengaruh DPK, Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah Terhadap Profitabilitas dengan NPF sebagai Moderasi pada Bank Umum Syariah di Indonesia. Beberapa perbedaan dalam penelitian ini penulis sajikan pada tabel 1.2 berikut ini:
Tabel 1 2 Originalitas Penelitian
No Keterangan Penelitian Terdahulu
Penelitian Sekarang 1 Variabel Independen DPK, Pembiayaan
Mudharabah dan 2 Variabel Dependen Profitabilitas Profitabilitas
3 Variabel Moderating NPF NPF
Sumber: diolah oleh peneliti 2018
Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian terdahulu dengan menambahkan 2 (dua) variabel baru yaitu Pembiayaan Murabahah, dan juga capital adequacy ratio (CAR) sebagai variabel independen. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada penambahan variabel baru, waktu penelitian, serta metode pengolahan data yang digunakan.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN TELAAH LITERATUR
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Teori Laba Monopoli (Monopoli Theory of Profit)
Teori ini mengatakan bahwa beberapa perusahaan dengan kekuatan monopoli dapat membatasi output dan menetapkan harga yang lebih tinggi daripada bila perusahaan beroperasi dalam kondisi persaingan sempurna. Dengan demikian perusahaan menikmati keuntungan. Kekuatan monopoli ini dapat diperoleh melalui :
a. Penguasaan penuh atas supply bahan baku tertentu b. Skala ekonomi
c. Kepemilikan hak paten, atau d. Pembatasan daerah Pemerintah
Penjelasan lain tentang keuntungan di atas normal menghubungkan mereka dengan kekuatan monopoli yang dinikmati oleh perusahaan. Perusahaan dengan kekuatan monopoli membatasi output dan membebankan harga lebih tinggi daripada di bawah persaingan sempurna. Ini menyebabkan keuntungan di atas normal diperoleh oleh perusahaan monopolistik.
Laba sebagai suatu alat prediktif yang membantu dalam peramalan laba mendatang dan peristiwa ekonomi yang akan datang. Nilai laba di masa lalu, yang didasarkan pada biaya historis dan nilai berjalan, terbukti berguna dalam meramalkan nilai mendatang. Laba terdiri dari hasil opersional atau laba biasa dan
hasil-hasil nonoperasional atau keuntungan dan kerugian luar biasa di mana jumlah keseluruhannya sama dengan laba bersih. Laba bisa dipandang sebagai suatu ukuran efisiensi. Laba adalah suatu ukuran kepengurusan (stewardship) manajemen atas sumberdaya suatu kesatuan dan ukuran efisiensi manajemen dalam menjalankan usaha suatu perusahaan.
2.1.2. Teori Sinyal (Signaling Theory)
Signaling theory mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan manajemen untuk merealisasi kan pemilik. Sinyal dapat promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut baik daripada perusahaan lain (Jama’an, 2008).
Signalling theori menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Dorongan perusahaan untuk memberikan informasi karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar karena perusahaan mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan dan prospek yang akan datang daripada pihak luar (investor dan kreditor). Kurangya informasi bagi pihak luar mengenai perusahaan meyebabkan mereka melindungi diri mereka dengan mmberikan harga yang rendah untuk perusahaan. Perusahaan dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan mengurangi informasi asimetri. Salah satu cara untuk mengurangi informasi asimetri adalah dengan memberikan sinyal pada pihak luar.
18
Secara garis besar signalling theory erat kaitanya dengan ketersedian informasi. Laporan keuangan dapat digunakan untuk mengambil keputusan bagi para investor, laporan keuangan merupakan bagian terpenting dari analisi fundamental perusahaan. Pemeringkatan perusahaan yang telah go-public lazimnya didasarkan pada analisis rasio keuangan ini. Analisis ini dilakukan untuk mempermudah interpretasi terhadap laporan keuangan yang telah disajikan oleh manajemen.
Penggunaan teori signalling, informasi berupa ROA atau tingkat pengembalian terhadap aset atau juga seberapa besar laba yang didapat dari aset yang digunakan, dengan demikian jika ROA tinggi maka akan menjadi sinyal yang baik bagi para investor, karena dengan ROA tinggi menunjukkan kinerja perusahaan tersebut baik maka investor akan tertarik untuk menginvestasikan dananya yang berupa surat berharga atau saham. Permintaan saham yang banyak maka harga saham akan meningkat. Profitabilitas yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan baik, sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan akan meningkat.
2.2. Telaah Literatur 2.2.1. Profitabilitas
Profitabilitas (keuntungan) merupakan hasil dari kebijaksanaan yang diambil oleh manajemen. Rasio keuntungan untuk mengukur seberapa besar tingkat keuntungan yang dapatdiperoleh oleh perusahaan. Semakin besar tingkat keuntungan menunjukkan semakin baik manajemen dalam mengelola perusahaan (Biegel & John, 1992). Profitabilitas adalah ukuran spesifik dari performance
sebuah bank, dimana ia merupakan tujuan dari manajemen perusahaan dengan memaksimalkan nilai dari para pemegang saham, optimalisasi dari berbagai tingkat return dan minimalisasi resiko yang ada. Profitabilitas bank merupakan suatu kemampuan bank dalam menghasilkan laba.
Kemampuan ini dilakukan dalam suatu periode. Bank yang sehat adalah bank yang diukur secara profitabilitas atau rentabilitas yang terus meningkat diatas standar yang ditetapkan. Menurut (Riyadi, 2006), rasio profitabilitas adalah perbandingan laba (setelah pajak) dengan modal (modal inti) atau laba (sebelum pajak) dengan total aset yang dimiliki bank pada periode tertentu, untuk memperolehlaba diatas rata-rata, manajemen harus mampu meningkatkan pendapatandan mampumengurangi semua beban atas pendapatan (Darsono, 2006) manajemen harus memperluas pangsa pasar dengan tingkat harga yang menguntungkan dan menghapuskan aktivitas yang tidak bernilai tambah. Rasio Profitabilitas dapat diukur dengan Return On Asset.
Return on Asset (ROA) adalah salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Rasio profitabilitas ini sekaligus menggambarkan efisiensi kinerja bank yang bersangkutan. Semakin besar Return on Asset (ROA) suatu bank maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut, dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset.
Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 12/11/DPNP tanggal 31 Maret 2010 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan prinsip Syariah, Return on Asset (ROA) didapat dengan cara mambagi laba
20
sebelum pajak dengan rata-rata total aset dalam suatu periode, rumus yang digunakan untuk mencari Return on Asset (ROA) adalah sebagai berikut (Bank Indonesia):
Rasio ini menggambarkan perputaran aktiva diukur dari volume penjualan.
Semakin besar rasio ini semakin baik.Hal ini berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan memperoleh laba.
Tabel 2.1 Kriteria Kesehatan ROA
Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat Sehat ROA > 1,5%
2 Sehat 1.25% < ROA ≤ 1,5%
3 Cukup Sehat 0,5% < ROA ≤ 1,25%
4 Kurang Sehat 0% < ROA ≤ 0,5%
5 Tidak Sehat ROA ≤ 0%
Sumber : Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP Tahun 2004
2.2.2. Pembiayaan Murabahah
Prinsip ini merupakan suatu sistem yang menerapkan tata cara jual beli, dimana bank akan membeli terlebih dahulu barang yang dibutuhkan atau mengangkat nasabah sebagai agen bank melakukan pembelian barang atas nama bank, kemudian bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga sejumlah harga beli ditambah keuntungan (margin).
Bai’ al-murabahah pada dasarnya adalah transaksi jual beli barang dengan tambahan keuntungan yang disepakati, untuk memenuhi kebutuhan barang oleh nasabahnya, bank membeli barang dari supplier sesuai dengan spesifikasi barang yang dipesan atau dibutuhkan nasabah, kemudian bank menjual kembali barang
tersebut kepada nasabah dengan memperoleh margin keuntungan yang disepakati.
Nasabah sebagai pembeli dalam hal ini dapat memilih jenis transaksi tunai, cicilan, atau tagguhan. Umumnya, nasabah memilih metode pembayaran secara cicilan, untuk mengetahui skema al-Murabahah, dapat dilihat pada Gambar 2. 3 di bawah ini:
Gambar 2 .1 Skema Bai’ Al- Murabahah Sumber : Antonio (2001)
Bedasarkan penelitian (Muslim & Muhammad, 2014) menyatakan pembiayaan murabahah berpengaruh positif terhadap profitabilitas BPR Syariah di Indonesia. Dapat disimpulkan bila pembiayaan murabahah meningkat 1% dari total pembiayaan, maka profitabilitas akan naik sebesar 2,4%.
2.2.3. Pembiayaan Mudharabah
Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih dimana pemilik modal (shahib al-mal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian keuntungan. Bentuk ini menegaskan paduan kontribusi 100% modal kas dari shahib al-mal dan keahlian dkari mudharib.
Ketentuan umum skema pembiayaan mudahrabah adalah sebagai berikut: Jumlah modal yang diserahkan kepada nasabah selaku pengelola modal harus diserahkan
22
tunai dan dapat berupa uang atau barang yang dinyatakan nilainya dalam satuan uang. Apabila modal diserahkan secara bertahap harus jelas tahapannya dan disepakati bersama. Hasil dari pengelolaan pembiayaan mudharabah dapat diperhitungkan dengan cara, yakni: perhitungan dari pendapatan proyek (revenue sharing) perhitungan dari keuntungan proyek (profit sharing).
Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola.
Seandainya kelalaian diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggungjawab atas kerugian tersebut. Untuk mengetahui skema al-mudharabah, dapat dilihat pada Gambar 2.2 dibawah ini:
Gambar 2 .2 Skema Al- Mudharabah Sumber : (Antonio, 2001)
Berdasarkan penelitian (Fadholi, 2015) menyatakan bahwa pembiayaan mudharabah memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap ROA. Hasil ini konsisten dengan penelitian dari (Wicaksana, 2011) sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa pembiayaan mudharabah berpengaruh terhadap rasio ROA bank umum syariah di Indonesia.
2.2.4. Pembiayaan Musyarakah
Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerja sama untuk meningkatkan nilai aset yang mereka miliki secara bersama sama.
Semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih di mana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud. Secara spesifik bentuk kontribusidari pihak yang bekerja sama dapat berupa dana, barang perdagangan, kewiraswastaan, kepandaian, kepemilikan, peralatan atau intangible asset (seperti hak paten atau goodwill), kepercayaan/reputasi dan barang-barang lainnya yang dapat dinilai dengan uang.
Musyarakah adalah kerjasama antara kedua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan konstribusi dana dengan keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
Untuk mengetahui skema al-Musyarakah, dapat dilitah pada Gambar 2.1 di bawah ini:
24
Gambar 2.3 Skema Al-Musyarakah Sumber : (Antonio, 2001)
Bedasarkan penelitian (Rivai, 2017) menyatakan bahwa pembiayaan musyarakah berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas bank umum syariah. Pembiayaan musyarakah merupakan komponen pembiayaan bagi hasil yang memiliki pemasukan cukup besar bagi perbankan syariah sehingga berpengaruh positif terhadap profitabilitas.
2.2.5. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Menurut (Koncoro, 2002) mengemukakan bahwa CAR adalah rasio kecukupan modal yang harus disediakan untuk menjamin dana deposan.
Tujuannya adalah agar likuiditas/kemampuan bank membayar kepada deposan cukup terjamin. Modal merupakan salah satu faktor penting dalam rangka pengembangan usaha bisnis dan menampung resiko kerugian, semakin tinggi CAR maka semakin kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung resiko darisetiap kredit/aktiva produktif yang berisiko. Perhitungan penyediaan modal minimum atau kecukupan modal bank didasarkan pada rasio atau perbandingan
antara modal yang dimiliki bank dan jumlah Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Modal sendiri adalah total modal yang berasal dari perusahaan (bank) yang terdiri dari modal disetor, laba tak dibagi, dan cadangan yang dibentuk bank.
Sedangkan ATMR adalah merupakan penjumlahan ATMR aktiva neraca (aktiva yang dalam neraca) dan ATMR aktiva administrasif (aktiva yang bersifat administrative).
Langkah-langkah perhitungan penyediaan modal minimum bank adalah sebagai berikut (Ali, 2004):
1. ATMR aktiva neraca dihitung dengan cara mengalikan nilai nominal masing masing aktiva yang bersangkutan dengan bobot resiko dari masing-masing posaktiva neraca tersebut.
2. ATMR aktiva administratif dihitung dengan cara mengalikan nilai nominal rekening administratif yang bersangkutan dengan bobot sisiko dari masing masing pos rekening tersebut.
3. Total ATMR = ATMR aktiva neraca + ATMR aktiva administratif.
4. Rasio modal bank dihitung dengan cara membandingkan antara modal bank (modal inti + modal pelengkap) dan total ATMR. Rasio tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan :
ATMR = Aset Tertimbang Menurut Resiko
26
Hasil perhitungan rasio modal bank kemudian dibandingkan dengan kewajiban penyediaan modal minimum (yakni sebesar 8%). Berdasarkan perbandingan tersebut, dapatlah diketahui apakah bank yang bersangkutan telah memenuhi ketentuan kecukupan modal atau tidak.
Modal merupakan faktor penting dalam rangka pengembangan usaha bisnis dan menampung risiko kerugian, semakin tinggi CAR maka semakin kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari setiap kredit/ aktiva produktif yang berisiko. Modal disini meliputi: modal disetor maupun dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisa laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan.
Tabel 2.2 Kriteria Kesehatan CAR
Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat Sehat CAR > 12%
2 Sehat 9% ≤ CAR < 12%
3 Cukup Sehat 8% ≤ CAR < 9%
4 Kurang Sehat 6% < CAR < 8%
5 Tidak Sehat CAR ≤ 6%
Teori tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Nusantara, 2009) yang menguji pengaruh CAR terhadap ROA, dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa CAR mempunyai pengaruh yang positif terhadap ROA bank.
2.2.6. Non Performing Financing (NPF)
Non Performing Loan (NPL) pada bank konvensional atau pada bank Syariah disebut Non Performing Financing (NPF), merupakan rasio keuangan
yang berkaitan dengan risiko pembiayaan yang diberikan oleh bank, sehingga rasio ini menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola pembiayaan bermasalah yang diberikan oleh bank kepada nasabah. (Rivai &
Arviyan, 2010) menyatakan bahwa pembiayaan bank menurut kualitasnya pada hakikatnya didasarkan atas risiko kemungkinan menurut bank terhadap kondisi dan kepatuhan nasabah pembiayaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban untuk membayar bagi hasil, mengangsur, serta melunasi pembiayaan kepada bank. Jadi, unsur utama dalam menentukan kualitas tersebut meliputi waktu pembiayaan bagi hasil, pembayaran angsuran maupun pelunasan pokok pembiayaan dan diperinci sebagai berikut:
1. Pembiayaan Lancar (Pass)
Pembiayaan yang digolongkan kedalam pembiayaan lancar apabila memenuhi kriteria di bawah ini:
a. Pembayaran angsuran pokok dan bunga tepat waktu b. Memiliki mutasi rekening yang aktif
c. Bagian dari pembiayaan yang dijamin dengan angunan tunai (cash collateral)
2. Perhatian Khusus (Special Mention)
Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan dalam perhatian khusus apabila memenuhi kriteria di bawah ini:
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang belum melampaui 90 hari
b. Mutasi rekening relatif aktif
28
c. Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan d. Didukung oleh pinjaman baru
3. Kurang Lancar (Substandard) Capital Adequacy Ratio (CAR)
Modal merupakan faktor penting dalam rangka pengembangan usaha bisnis dan menampung risiko kerugian, semakin tinggi CAR maka semakin kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari setiap kredit/ aktiva produktif yang berisiko. Modal disini meliputi: modal disetor maupun dana setoran modal, cadangan umum, cadangan lainnya, sisa laba tahun lalu, dan laba tahun berjalan. Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan kurang lancar apabila memenuhi kriteria di bawah ini:
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 90 hari
b. Sering terjadi cerukan
c. Frekuensi mutasi rekening relatif rendah
d. Terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari
e. Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur f. Dokumentasi pinjaman yang lemah
4. Diragukan (Doubtful) Pembiayaan yang digolongkan kedalam pembiayaan diragukan apabila memenuhi kriteria di bawah ini:
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 180 hari
b. Terjadi cerukan yang bersifat permanen
c. Terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari d. Terjadi kapitalisasi bunga
e. Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian pembiayaan maupun peningkatan jaminan
5.2.1. Macet (Loss) Pembiayaan yang digolongkan ke dalam pembiayaan macet apabila memenuhi kriteria di bawah ini:
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 270 hari
b. Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru
c. Dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar
(Sumber: Rivai dan Veithzal, 2008)
Dari sekian kriteria kualitas pembiayaan di atas, maka akan dapat menentukan rasio Non Performing Financing (NPF). Semakin tinggi rasio NPF maka semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar, maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. Total pembiayaan dalam hal ini adalah pembiayaan yang diberikan kepada pihak ketiga tidak termasuk pembiayaan pada bank lain.
Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan dengan kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet. (Muhammad, 2005) menyatakan besarnya nilai NPF suatu bank dapat dihitung dengan rumus di bawah ini:
30
Rasio tersebut ditujukan untuk mengukur tingkat permasalahan pembiayaan yang dihadapi bank syariah. Dimana semakin tinggi rasio ini menunjukkan kualitas pembiayaan bank syariah semakin buruk. Nilai rasio ini kemudian dibandingkan dengan kriteria kesehatan NPF bank syariah yang ditetapkan oleh Bank Indonesia seperti yang tertera dalam Tabel 2.3
Tabel 2.3 Kriteria Kesehatan Non Performing Financing (NPF)
No. Nilai NPF Predikat
1 NPF>2% Sehat
2 2%≤NPF≤8% Sehat
3 5%≤NPF≤8% Cukup Sehat
4 8%≤NPF≤12% Kurang Sehat
Besarnya NPF menjadi salah satu penghambat tersalurnya pembiayaan perbankan. Peningkatan pembiayaan bermasalah ini menimbulkan pembentukan cadangan pembiayaan bermasalah ini menjadi semakin besar. Kerugian pembiayaan merupakan biaya yang berarti menurunkan laba. Tingginya nilai NPF dapat berdampak pada kesehatan bank. Semakin besar NPF maka semakin besar pula kerugian yang dialami bank, yang kemudian akan mengakibatkan berkurangnya keuntungan bank. Keuntungan yang berkurang akan mengakibatkan total asset bank tersebut juga ikut berkurang (Medina & Rina, 2018). Penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian (Nugroho, 2011) menyatakan bahwa NPF berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA.
BAB III
KERANGKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1. Kerangka Penelitian
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan, kemudian disusun konsep penelitian yang merupakan hubungan logis dari landasan teori dan kajian empiris yang0dapat0digambarkan0sebagai0berikut:
b
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual
Penelitian ini mengukur pembiayaan murabahah, pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah, capital adequacy ratio terhadap profitabilitas bank umum syariah dengan ratio non performing financing memoderasi. Penelitian ini diukur melalui laporan keuangan dan annual report yang di publis ke publik.
Pengungkapan yang baik oleh bank syariah diharapkan mampu menjawab ekspetasi deposan terkait sumber dana untuk melakukan operasional dan pengelolaan dana yang sesuai dengan aturan aturan syariah.
Pembiayaan Murabahah (X1)
Pembiayaan Mudharabah (X2)
Pembiayaan Musyarakah (X3)
Capital Adequacy Ratio (X4)
Profitabilitas Bank Umum Syari’ah
(Y)
Non Perfoming Financing
(NPF)
32
3.2. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara dari permasalahan yang menjadi objek penelitian dimana kebenarannya masih perlu untuk diuji. Penulis mengemukakan hipotesis sebagai berikut :
3.2.1 Pengaruh Pembiayaan Murabahah Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia
Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli (Adiwarman, 2008).
Pembiayaan dengan prinsip jual beli pada bank syariah dilakukan salah satunya melalui akad murabahah. Salah satu akad dari pembiayaan jual beli yaitu akad murabahah merupakan produk yang paling populer dalam industri perbankan syariah (Muhammad, 2005). Bedasarkan penelitian (Arfan, 2014) menyatakan pembiayaan murabahah berpengaruh positif terhadap profitabilitas BPR Syariah di Indonesia. Dapat disimpulkan bila pembiayaan murabahah meningkat 1% dari total pembiayaan, maka profitabilitas akan naik sebesar 2,4%.
Penelitian ini sejalan dengan bukti empiris dari (Wicaksana, 2011) menyatakan bahwa semakin tinggi pembiayaan murabahah yang merupakan salah satu jenis pembiayaan jual beli, maka semakin tinggi profitabilitas bank umum syariah yang diproksikan dengan Return on Asset. Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
H1: Pembiayaan Murabahah Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.
3.2.2 Pengaruh Pembiayaan Mudharabah Terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia
Mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih dimana pemilik modal (shahib al-mal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian keuntungan.
Bedasarkan penelitian (Fadholi, 2015) menyatakan bahwa pembiayaan mudharabah memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap ROA.
Penelitian ini sejalan dengan bukti empiris dari (Wicaksana, 2011) menyatakan bahwa semakin tinggi pembiayaan mudharabah maka semakin tinggi profitabilitas bank umum syariah yang diproksikan dengan Return on Asset. Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
H2: Pembiayaan Mudharabah Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.
3.2.3 Pengaruh Pembiayaan Musyarakah Terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia
Pembiayaan musyarakah adalah kerjasama antara kedua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan konstribusi dana dengan keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
(Karim, 2004) menyatakan bahwa pembiayaan musyarakah merupakan semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih dimana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud.
Keuntungan dan kerugian ditanggung bersama-sama sesuai dengan proporsi yang telah
34
ditetapkan sebelumnya. Melalu pembiayaan bagi hasil yang disalurkan, bank syariah akan memperoleh pendapatan berupa bagi hasil yang menjadi bagian bank.
Bedasarkan penelitian (Rivai, 2017) menyatakan bahwa pembiayaan musyarakah berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas bank umum syariah.
Penelitian ini sejalan dengan Bukti empiris dari (Wicaksana, 2011) menyatakan bahwa semakin tinggi pembiayaan musyarakah maka semakin tinggi profitabilitas bank umum syariah yang diproksikan dengan Return on Asset. Bedasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:
H3: Pembiayaan Musyarakah Berpengaruh Positif Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syari’ah Di Indonesia.
3.2.4 Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) Terhadap profitabilitas Bank Umum Syariah Di Indonesia
Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank seperti dana-dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain. Dengan kata lain CAR adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan
Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank seperti dana-dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain. Dengan kata lain CAR adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan