• Tidak ada hasil yang ditemukan

Objek Penelitian

Dalam dokumen PENGARUH JARI JARI RODA TERHADAP WAKTU T (Halaman 10-34)

BAB III METODE PENELITIAN

B. Objek Penelitian

d. Jenis Penelitian

e. Teknik Pengumpulan Data f. Langkah Kerja

g. Teknik Analisis Data 4. BAB IV PEMBAHASAN

Pada bab IV, terdapat : a. Data Hasil Percobaan b. Penurunan Persamaan c. Pembahasan

5. BAB V KESIMPULAN Pada bab V, terdapat :

a. Kesimpulan b. Saran

5

[1.1] A. Istilah Dalam Mekanika Newtonian

1. Jarak dan Perpindahan

Jarak adalah panjang lintasan yang ditempuh benda dalam selang waktu tertentu.

Perpindahan suatu benda adalah perpindahan posisi dari suatu benda dalam selang waktu tertentu.

Dalam gerak satu dimensi (gerak benda pada hanya satu sumbu), perpindahan dapat ditulis :

βˆ†π‘₯ = π‘₯π‘βˆ’ π‘₯π‘Ž

Dimana :

βˆ†π‘₯ = Perpindahan

π‘₯π‘Ž = Posisi awal

π‘₯𝑏 = Posisi akhir 2. Kelajuan dan Kecepatan

Dalam kehidupan sehari-hari, kecepatan dan kelajuan adalah istilah yang sama. Sementara dalam fisika, ada perbedaan yang jelas

[1.2]

[1.3] antara kelajuan dan kecepatan.

Kelajuan adalah besaran skalar (hanya mempunyai besar/nilai), sementara kecepatan adalah besaran vektor (memiliki besar dan arah).

Kelajuan rata-rata sebuah benda dalam selang waktu tertentu didefinisikan sebagai jarak tempuh total dibagi waktu untuk menempuh jarak tersebut. Secara matematis dapat ditulis :

𝑣 =𝑑𝑑 Dimana :

𝑣 = Kelajuan rata-rata (π‘šπ‘ βˆ’1) 𝑑 = Jarak tempuh total (m) 𝑑 = Waktu tempuh total (s)

Kecepatan rata-rata selama selang waktu tertentu adalah perpindahan dibagi dengan selang waktu, atau secara matematis dapat ditulis : 𝑣̅ = Ξ”π‘₯Δ𝑑 = π‘₯𝑏𝑑 βˆ’ π‘₯π‘Ž π‘βˆ’ π‘‘π‘Ž Dimana : 𝑣̅ = Kecepatan rata-rata (π‘šπ‘ βˆ’1) βˆ†π‘₯ = Perpindahan (m) βˆ†π‘‘ = Selang waktu (s) π‘₯π‘Ž = Posisi awal (m)

[1.4]

[1.5] π‘₯𝑏 = Posisi akhir (m)

π‘‘π‘Ž = Waktu awal (s) 𝑑𝑏 = Waktu akhir (s)

Kecepatan rata-rata tidak menjelaskan secara detil tentang apa yang terjadi pada waktu tertentu. Sebagai contoh, saat berkendara, mobil tidak selalu melaju dengan konstan. Ada kalanya mobil melaju lebih cepat, lebih lambat, atau bahkan berhenti. Kecepatan benda pada waktu tertentu disebut kecepatan sesaat.

Kecepatan sesaat adalah kecepatan rata-rata dengan selang waktu mendekati nol, atau secara matematis dapat ditulis :

𝑣⃗ = limβˆ†π‘‘β†’0βˆ†π‘₯βˆ†π‘‘ Dimana :

𝑣⃗ = Kecepatan linear sesaat (π‘šπ‘ βˆ’1) βˆ†π‘₯ = Perpindahan (m)

βˆ†π‘‘ = Selang waktu (s)

Kecepatan sesaat juga dapat ditentukan dengan menurnkan posisi terhadap waktu, atau secara matematis dituliskan sebagai :

𝑣⃗ =π‘‘βˆ†π‘₯𝑑𝑑 Dimana :

𝑣⃗ = Kecepatan linear sesaat (π‘šπ‘ βˆ’1) βˆ†π‘₯ = Perpindahan (m)

[1.6] 𝑑 = Waktu perpindahan (s)

3. Percepatan

Percepatan adalah perubahan kecepatan benda. Karena kecepatan adalah besaran vektor (memiliki besar dan arah), maka percepatan dapat berarti perubahan arah kecepatan maupun perubahan besar kecepatan.

Percepatan rata-rata selama selang waktu tertentu adalah perubahan kecepatan dibagi selang waktu, atau secara matematis dapat ditulis :

π‘Žπ‘™Μ… = βˆ†π‘£βƒ—βˆ†π‘‘ = 𝑣⃗⃗⃗⃗⃗ βˆ’ π‘£π‘‘π‘π‘βˆ’ π‘‘π‘Žβƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—π‘Ž

Dimana :

π‘ŽΜ…π‘™ = Percepatan linear rata-rata (π‘šπ‘ βˆ’2) βˆ†π‘£βƒ— = Perubahan kecepatan linear (π‘šπ‘ βˆ’1) βˆ†π‘‘ = Selang waktu (s)

π‘£βƒ—π‘Ž = Kecepatan linear awal (π‘šπ‘ βˆ’1) 𝑣⃗𝑏 = Kecepatan linear akhir (π‘šπ‘ βˆ’1) π‘‘π‘Ž = Waktu awal (s)

[2.1]

[2.2] [1.7] Percepatan sesaat adalah perubahan kecepatan dalam selang waktu mendekati nol, atau secara matematis dapat ditulis :

π‘Žπ‘™

βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— = limβˆ†π‘‘β†’0βˆ†π‘£βƒ—βˆ†π‘‘

Dimana :

π‘Žπ‘™βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— = Percepatan linear sesaat (π‘šπ‘ βˆ’2) βˆ†π‘£βƒ— = Perubahan kecepatan (π‘šπ‘ βˆ’1) βˆ†π‘‘ = Selang waktu (s)

B. Gerak Lurus

1. Gerak Lurus Berubah Beraturan

Gerak lurus (dalam karya ilmiah ini akan disebut dengan gerak linear) berubah beraturan adalah gerak suatu benda yang mengalami percepatan tetap. Dalam GLBB, percepatan benda selama bergerak adalah sama. Percepatan sesaat benda sama dengan percepatan rata-rata benda, maka π‘ŽΜ…π‘™ dapat diganti dengan π‘Žπ‘™, sehingga persamaan [1.6] dapat ditulis :

π‘Žπ‘™= 𝑣𝑏⃗⃗⃗⃗⃗ βˆ’ 𝑣𝑑 βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—π‘Ž π‘βˆ’ π‘‘π‘Ž

Jika π‘‘π‘Ž = 0, 𝑑𝑏 = 𝑑, 𝑣⃗⃗⃗⃗⃗ = 𝑣0,π‘Ž dan 𝑣𝑏⃗⃗⃗⃗⃗ = 𝑣𝑑, maka persamaan [2.1] dapat ditulis :

[2.4]

[2.5]

[2.6] [2.3] 𝑣𝑑 = 𝑣0+ π‘Žπ‘™π‘‘

Karena kecepatan benda bertambah ataupun berkurang secara teratur, maka kecepatan rata-rata benda dapat diperolah dari rata-rata kecepatan awal benda dan kecepatan akhir benda, atau secara matematis dapat ditulis :

𝑣̅ = 𝑣0 + 𝑣2 𝑑

Menggunakan persamaan [1.2], dan mengganti d dengan βˆ†π‘₯, akan didapati persamaan :

βˆ†π‘₯ = 𝑣̅𝑑 = (𝑣0 + 𝑣𝑑2 ) 𝑑 βˆ†π‘₯ = 12(𝑣0+ 𝑣𝑑)𝑑

Dengan mensubstitusikan persamaan [2.3] ke persamaan [2.5], dapat diperoleh :

βˆ†π‘₯ = 12 (π‘£π‘œ+ 𝑣0 + π‘Žπ‘™π‘‘)𝑑

βˆ†π‘₯ = 𝑣0𝑑 +12 π‘Žπ‘™π‘‘2

Apabila persamaan 𝑑 dari persamaan [2.2] kita substitusikan ke persamaan [2.5], akan diperoleh :

[2.7] 𝑣𝑑2 = 𝑣02+ 2π‘Žπ‘™βˆ†π‘₯ Dimana : βˆ†π‘₯ = Perpindahan (m) π‘Žπ‘™ = Percepatan linear (π‘šπ‘ βˆ’2) 𝑑 = Selang waktu (s)

𝑣0 = Kecepatan linear awal (π‘šπ‘ βˆ’1) 𝑣𝑑 = Kecepatan linear akhir (π‘šπ‘ βˆ’1) 2. Gaya

Dalam mekanika, semua aksi yang bertendensi mengubah atau mempertahankan gerak suatu benda disebut gaya. Gaya umumnya diimajinasikan / digambarkan sebagai suatu dorongan atau tarikan pada benda. Gaya dapat diberikan secara terus menerus, seperti saat seseorang mendorong meja. Gaya dapat pula diberikan dalam selang waktu yang sangat singkat, seperti memukul bola tenis.

Gaya dibagi menjadi dua : gaya kontak (contact force) dan gaya medan (field force). Mendorong meja, menarik pegas, menendang bola, melempar koin, adalah contoh gaya kontak. Gaya gravitasi, gaya magnet, adalah contoh gaya medan.

Pengembangan konsep gaya telah banyak dilakukan dari abad pertengahan, sampai akhirnya Sir Isaac Newton berhasil

[2.8]

[2.9]

[2.10] menyatakan hukumnya tentang gerak, yaitu Mekanika Newton, yang terdiri dari :

a. Hukum I Newton

Hukum I Newton berbunyi :

β€œJika resultan gaya pada suatu benda sama dengan nol, benda

yang mula-mula diam akan terus diam, sedangkan benda yang mula-mula bergerak akan terus bergerak dengan

kecepatan tetap.”

Secara matematis, Hukum I Newton dapat ditulis : Σ𝐹 = 0

(untuk benda diam atau bergerak berubah beraturan)

b. Hukum II Newton

Hukum II Newton berbunyi :

β€œPercepatan yang dihasilkan oleh resultan gaya yang bekerja pada suatu benda berbanding lurus dengan resultan gaya, searah dengan resultan gaya, dan berbanding terbalik dengan

massa benda.”

Secara matematis, Hukum II Newton dapat ditulis :

π‘Žβƒ— = Ξ£πΉβƒ—π‘š π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘’ Σ𝐹⃗ = π‘šπ‘Žβƒ— c. Hukum III Newton

Hukum III Newton berbunyi :

β€œUntuk setiap aksi, terdapat suatu reaksi yang sama besar, tetapi berlawanan arah.”

Secara matematis, Hukum III Newton dapat ditulis ; πΉπ΄π‘˜π‘ π‘– = βˆ’πΉπ‘…π‘’π‘Žπ‘˜π‘ π‘–

[3.1]

[3.2] C. Gerak Rotasi

1. Posisi Sudut

Sebuah partikel bergerak dengan lintasan sebuah lingkaran berjari-jari r, telah bergerak di sepanjang lingkaran dengan jarak s. Posisi sudutnya (relatif terhadap posisi awalnya) adalah πœƒ, dengan hubungan :

πœƒ = π‘ π‘Ÿ

Dimana :

πœƒ = Posisi sudut (rad) 𝑠 = Posisi di lintasan

π‘Ÿ = Jarak partikel dengan poros

2 Perpindahan Sudut

Perpindahan sudut adalah perubahan posisi sudut, atau secara matematis dapat dituliskan sebagai :

βˆ†πœƒ = πœƒπ‘‘βˆ’ πœƒ0 Dimana :

βˆ†πœƒ = Perpindahan sudut (rad) πœƒ0 = Posisi sudut awal (rad) πœƒπ‘‘ = Posisi sudut akhir (rad)

[3.3] 3. Kecepatan Sudut

Kecepatan sudut (rata-rata) adalah perpindahan sudut per satuan waktu, atau dapat dituliskan sebagai :

πœ”Μ… =βˆ†πœƒβˆ†π‘‘ =πœƒπ‘‘π‘‘π‘‘βˆ’ πœƒβˆ’ 𝑑00

Dimana :

πœ”Μ… = Kecepatan sudut rata-rata (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’1) βˆ†πœƒ =Perpindahan sudut (rad)

βˆ†π‘‘ =Selang waktu (s) πœƒ0 =Posisi sudut awal (rad) πœƒπ‘‘ =Posisi sudut akhir (rad)

𝑑0 =Waktu saat posisi sudut awal (s) 𝑑𝑑 =Waktu saat posisi sudut akhir (s)

Sama seperti kecepatan rata-rata gerak translasi, kecepatan sudut rata-rata tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi dengan suatu partikel dengan akurat. Maka, digunakanlah pendekatan kecepatan sudut sesaat (πœ”).

Kecepatan sudut sesaat adalah kecepatan sudut rata-rata benda dengan selang waktu mendekat nol, atau secara matematis dapat ditulis sebagai :

[3.4]

[3.5]

[3.6] πœ”βƒ—βƒ—βƒ— = limβˆ†π‘‘β†’0βˆ†πœƒβˆ†π‘‘

Dimana :

πœ”βƒ—βƒ—βƒ— = Kecepatan sudut sesaat (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’1) βˆ†πœƒ = Perpindahan sudut (rad)

βˆ†π‘‘ = Selang waktu (s)

Kecepatan sesaat sudut juga dapat ditentukan dengan menurunkan posisi sudut terhadap waktu, atau secara matematis dapat ditulis sebagai :

πœ”βƒ—βƒ—βƒ— =π‘‘πœƒπ‘‘π‘‘ Dimana :

πœ”βƒ—βƒ—βƒ— = Kecepatan sudut sesaat (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’1) πœƒ = Posisi sudut (rad)

𝑑 = Waktu di posisi sudut tersebut (s) 4. Percepatan Sudut

Percepatan sudut adalah besar perubahan kecepatan sudut tiap satuan waktu..

Percepatan sudut rata-rata adalah besar perubahan kecepatan sudut dalam selang waktu tertentu, atau secara matematis dapat dituliskan sebagai :

π‘Žπ‘Ÿ

Μ…Μ…Μ… =βˆ†πœ”βˆ†π‘‘ =πœ”1βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— βˆ’ πœ”0𝑑 βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— 1βˆ’ 𝑑0

[3.7] Dimana :

π‘Žπ‘Ÿ

Μ…Μ…Μ… = Percepatan sudut rata-rata (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’2) βˆ†πœ” = Perubahan kecepatan sudut (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’1) βˆ†π‘‘ = Selang waktu perubahan kecepatan sudut (s) πœ”π‘‘

βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— = Kecepatan sudut akhir (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’1) πœ”0

βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— = Kecepatan sudut awal (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’1) 𝑑1 = Waktu saat kecepatan sudut akhir (s) 𝑑0 = Waktu saat kecepatan sudut awal (s)

Percepatan sudut sesaat adalah percepatan rata-rata dengan selang waktu yang sangat kecil, atau secara matematis dapat ditulis dengan :

π‘Žπ‘Ÿ

βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— = limβˆ†π‘‘β†’0βˆ†πœ”βˆ†π‘‘ Dimana :

π‘Žπ‘Ÿ

βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— =Percepatan sudut sesaat (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’2) βˆ†πœ” =Selisih kecepatan sudut (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’1) βˆ†π‘‘ =Selang waktu (s)

5. Torsi

Torsi (πœβƒ—), berasal dari bahasa latin, torquere, yang berarti memutar. Sesuai dengan definisinya, torsi adalah pendekatan fisika

[3.8]

[3.9]

[3.10]

[3.11] untuk menjelaskan gaya yang menyebabkan benda melakukan gerak melingkar. Jika dalam gerak linear (lurus), digunakan pendekatan gaya (𝐹⃗) sebagai penyebab gerak linear, dalam gerak rotasi, digunakan pendekatan torsi (πœβƒ—) sebagai penyebab gerak rotasi.

Besar torsi dapat dinyatakan sebagai hasil perkalian silang (cross-product) antar jari-jari (π‘Ÿβƒ—) dengan komponen gaya (𝐹⃗) yang tegak lurus dengan arah vektor jari-jari, atau secara matematis dapat ditulis sebagai :

πœβƒ— = πΉβƒ—π‘Ÿβƒ—

Apabila gaya (𝐹⃗) tidak tegak lurus dengan jari-jari (π‘Ÿβƒ—), maka harus ditentukan komponen gaya yang tegak lurus dengan jari-jari (𝐹′⃗⃗⃗⃗), yang besarnya dapat ditentukan dengan persamaan :

𝐹′

βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— = πΉβƒ—π‘ π‘–π‘›πœƒ

Dengan memasukkan persamaan [5.5] ke persamaan [5.4], dapat didapatkan persamaan baru yang lebih umum untuk menentukan nilai torsi, yaitu :

πœβƒ— = π‘Ÿβƒ—πΉβƒ—π‘ π‘–π‘›πœƒ

Jarak poros P dengan garis gaya (𝐹⃗) disebut dengan lengan momen(lever arm), dan dapat ditentukan menggunakan persamaan :

[3.12] Gambar 2.1 : Skema konsep torsi

Maka, dengan mensubstitusikan persamaan [3.11] ke persamaan [3.10], memberikan satu lagi cara untuk menentukan besarnya torsi, yaitu perkalian antara gaya dengan lengan momen, atau secara matematis dapat ditulis sebagai :

πœβƒ— = 𝐹⃗𝑑 Dimana : πœβƒ— = Torsi (Nm) π‘Ÿβƒ— = Jari-jari (m) 𝐹⃗ = Gaya (N) 𝐹′

βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— = Komponen gaya tegak lurus dengan jari-jari (N) πœƒ = Sudut antara gaya dengan jari-jari (rad atau Β° ) d = Lengan momen (m)

[3.13]

[3.14] 6. Momen Inersia

Momen Inersia dapat mudah dipahami jika kita menganalogikan persamaan dalam gerak linear dengan persamaan gerak melingkar. Sebagai contoh, dalam menentukan besar energi kinetik gerak linear, kita menggunakan persamaan :

πΈπΎπΏπ‘–π‘›π‘’π‘Žπ‘Ÿ = 12 π‘šπ‘£2

Dengan mensubstitusikan persamaan [4.1] dengan variabel v, maka akan didapatkan persamaan energi kinetik gerak rotasi, yaitu : πΈπΎπ‘…π‘œπ‘‘π‘Žπ‘ π‘– =12 π‘šπ‘Ÿ2πœ”2 Dimana : π‘š = Massa (m) v = Kecepatan linear (π‘šπ‘ βˆ’1) πœ” = Kecepatan sudut (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’1) r = Jari-jari (m)

Dari persamaan [3.13] dan persamaan [3.14], dapat dilihat bahwa 𝑣2 dalam gerak linear analog dengan πœ”2 dalam gerak rotasi. Maka, m dalam gerak translasi jugalah analog dengan π‘šπ‘Ÿ2 dalam gerak rotasi. π‘šπ‘Ÿ2 dalam gerak rotasi inilah yang disebut sebagai

[3.15]

[3.16] ]

[3.17] ] Momen Inersia, dan disimbolkan dengan I. Secara matematis, momen inersia sebuah partikel dapat disebutkan sebagai :

𝐼 = π‘šπ‘Ÿ2

Sebuah benda tegar tersusun oleh banyak partikel yang masing-masing memiliki massa m masing-masing dengan jarak r masing-masing dari poros, maka momen inersia I dari benda tegar dapat ditentukan dengan menjumlahkan momen inersia tiap partikel, atau secara matematis dapat ditulis sebagai :

βˆ‘ π‘šπ‘–π‘Ÿπ‘–2 = π‘š1π‘Ÿ12+ π‘š2π‘Ÿ22+ π‘š3π‘Ÿ32+ β‹―

Atau, jika massa benda tersebar secara merata, ditentukan dengan :

𝐼 = ∫ π‘Ÿ2π‘‘π‘š

Dimana,

r = Jarak partikel dengan poros

m = Massa partikel

Peran massa m dalam gerak linear sama dengan peran momen inersia I dalam gerak rotasi. Jika massa m pada gerak linear menyatakan ukuran kemampuan benda untuk mempertahankan kecepatan linearnya, momen inersia benda pada gerak rotasi menyatakan ukuran kemampuan benda untuk mempertahankan kecepatan sudutnya.

[3.18] ] [3.19] ] [3.20] ] [3.21] ] 7. Hubungan Torsi dengan Percepatan Sudut

Dengan mensubstitusikan π‘Žβƒ—βƒ—βƒ—βƒ—π‘™ di persamaan [4.2] ke dalam persamaan π‘Žβƒ— pada persamaan [2.9], diperoleh persamaan berikut :

𝐹⃗ = π‘šπ‘Ÿπ‘Žβƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—π‘Ÿ

Kalikan kedua ruas dengan π‘Ÿβƒ—, maka akan diperoleh :

π‘ŸπΉβƒ— = π‘šπ‘Ÿ2π‘Žπ‘Ÿβƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—

Dengan mensubstitusikan persamaan [3.8] ke persamaan [3.19], diperoleh persamaan :

πœβƒ— = πΌπ‘Žπ‘Ÿβƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—

Dengan mensubstitusikan π‘Žπ‘Ÿβƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— di persamaan [4.2] ke persamaan [3.20], akan diperoleh persamaan :

πœβƒ— = πΌπ‘Žπ‘‘βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—π‘Ÿ Dimana : πœβƒ— = Torsi (π‘π‘š) 𝐼 =Momen inersia (π‘˜π‘”π‘š2) π‘Žπ‘Ÿ βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— =Percepatan sudut (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’2) π‘Žπ‘™ βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— = Percepatan linear (π‘š π‘ βˆ’2) r = Jarak titik ke poros (m)

[3.22] ]

[4.1] 8. Energi Kinetik Rotasi

Dengan mensubstitusikan π‘šπ‘Ÿ2 dari persamaan [3.15] ke persamaan [3.14], akan diperoleh persamaan :

πΈπΎπ‘…π‘œπ‘‘π‘Žπ‘ π‘– =12 πΌπœ”2 Dimana, π‘š = Massa (kg) π‘Ÿ = Jari-jari (m) πœ” = Kecepatan sudut (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’1) 𝐼 = Momen inersia (π‘˜π‘”π‘š2) D. Hubungan Gerak Linear dan Gerak Melingkar

1. Hubungan Kecepatan Linear dan Kecepatan Sudut

Dengan persamaan [1.5] dan persamaan [3.5], kita dapat merumuskan hubungan antara kecepatan sudut dan kecepatan translasi, yaitu :

πœ”βƒ—βƒ—βƒ— =π‘£βƒ—π‘Ÿ Dimana :

πœ”βƒ—βƒ—βƒ— = Kecepatan sudut (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’1) 𝑣⃗ = Kecepatan translasi (π‘šπ‘ βˆ’1)

[4.2]

[5.1] π‘Ÿ = Jarak partikel dengan poros (m)

2. Hubungan Percepatan Sudut dengan Percepatan Linear

Hubungan percepatan sudut dengan percepatan linear dapat dituliskan secara matematis sebagai :

π‘Žπ‘™

βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— = π‘Ÿπ‘Žπ‘Ÿβƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— Dimana :

π‘Žπ‘™

βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— = Percepatan linear (π‘š π‘ βˆ’1) π‘Ÿ = Jarak partikel dengan poros (m) π‘Žπ‘Ÿ

βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— = Percepatan sudut (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’2) E. Hukum Kekekalan Energi

Dalam memecahkan permasalah dinamika gerak rotasi dapat digunakan Hk. II Newton mengenai gerak rotasi, yang dituliskan sebagai :

Ξ£πœβƒ— = πΌπ‘Žβƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—π‘Ÿ Dimana : πœβƒ— = Torsi (Nm) 𝐼 = Momen Inersia (π‘˜π‘”π‘š2) π‘Žπ‘Ÿ βƒ—βƒ—βƒ—βƒ—βƒ— = Percepatan sudut (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’2)

Permasalahan dinamika rotasi dapat dipecahkan dengan menggunakan hukum kekekalan energi mekanik.

[5.2] Hukum Kekekalan Energi Mekanik :

Jika pada suatu sistem hanya bekerja gaya-gaya dalam yang bersifat konservatif, energi mekanik sistem pada posisi apa saja selalu tetap.

Energi kinetik translasi dihitung berdasarkan anggapan bahwa benda adalah suatu partikel yang kelajuan linearnya sama dengan kelajuan pusat massa. Energi kinetik rotasi dihitung berdasarkan anggapan bahwa benda tegar berotasi terhadap poros yang melalui pusat massa.

Apabila benda bergerak menggelinding, terjadi gerak translasi dan gerak rotasi secara bersamaan. Maka, energi kinetik sistem adalah jumlah energi kinetik translasi dan energi kinetik rotasi, atau secara matematis dapat ditulis sebagai :

𝐸𝐾 = πΈπΎπ‘‡π‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘ π‘™π‘Žπ‘ π‘–+ πΈπΎπ‘…π‘œπ‘‘π‘Žπ‘ π‘– 𝐸𝐾 =12 π‘šπ‘£2+12 πΌπœ”2 Dimana : π‘š = Massa (kg) 𝑣 = Kecepatan linear (π‘šπ‘ βˆ’1) 𝐼 = Momen inersia (π‘˜π‘”π‘š2) πœ” = Kecepatan sudut (π‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘ βˆ’1)

[5.3] Maka, pada sebuah sistem yang konservatif, pada benda yang menggelinding berlaku hukum kekekalan energi mekanik, yang dapat ditulis sebagai :

πΈπ‘€π‘Ž = 𝐸𝑀𝑏 Dimana,

πΈπ‘€π‘Ž = Energi mekanik awal 𝐸𝑀𝑏 = Energi mekanik akhir F. Pengukuran

1. Besaran

Besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur, dihitung, dapat dinyatakan dengan angka, dan memiliki satuan. Dalam ilmu fisika, ada 7 besaran pokok yang dikenal, yaitu panjang [L], massa [M], waktu [T], suhu [πœƒ], kuat arus [I], intensitas cahaya [J], dan jumlah molekul [N]. Ketujuh besaran pokok tersebut dapat diturunkan menjadi besaran-besaran turunan seperti kecepatan [πΏπ‘‡βˆ’1].

2. Pengukuran

Pengukuran adalah suatu kegiatan membandingkan suatu besaran dengan besaran lain yang ditetapkan sebagai standar satuan. Sebagai contoh, saat kita mengukur panjang sebuah pensil, kita sedang membandingkan besaran panjang pensil dengan standar yang ada di mistar.

[6.1] Hasil pengukuran suatu besaran dilaporkan sebagai

π‘₯ = π‘₯0Β± βˆ†π‘₯ Dimana,

π‘₯ = Nilai pendekatan terhadap π‘₯0 π‘₯0 = Nilai benar pengukuran βˆ†π‘₯ = Ketidakpastian pengukuran

a. Pengukuran Tunggal

Pengukuran tunggal adalah kegiatan pengukuran yang dilakukan hanya dengan satu kali pengukuran. Adapun ketidakpastian dari pengukuran berulang adalah :

βˆ†π‘₯ =12 π‘ π‘˜π‘Žπ‘™π‘Ž π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘’π‘π‘–π‘™ b. Pengukuran Berulang

Pengukuran berulang adalah kegiatan pengukuran yang dilakukan berulang-ulang. Pengukuran berulang dilakukan saat pengukuran tunggal dirasa tidak mampu memberi hasil pengukuran yang akurat.

Misalkan suatu besaran fisika diukus sebanyak N kali dengan kondisi yang sama, dan diperoleh hasil-hasil pengukuran

[6.3] [6.2] π‘₯1, π‘₯2, π‘₯3, … , π‘₯𝑁 (disebut sebagai sampel), nilai terbaik sebagai pengganti nilai benar π‘₯0 adalah nilai rata-rata sampel (π‘₯Μ…) yang didapatkan melalui :

π‘₯Μ… = Ξ£π‘₯𝑁 =𝑖 π‘₯1, π‘₯2, π‘₯𝑁3, … , π‘₯𝑁

Dimana,

π‘₯Μ… = Rata-rata sampel 𝑁 = Banyak pengukuran

Sementara, nilai ketidakpastian dari pengukuran berulang dapat dinyatakan oleh simpangan baku nilai rata-rata sampel, yang secara matematis dapat ditulis sebagai :

βˆ†π‘₯ = 𝑆π‘₯Μ…= 𝑁1βˆšπ‘Ξ£π‘₯𝑖𝑁 βˆ’ 12βˆ’ (Ξ£π‘₯𝑖)2

Dimana,

βˆ†π‘₯ = Ketidakpastian pengukuran berulang 𝑆π‘₯Μ… = Simbangan baku nilai rata-rata sampel 𝑁 = Banyak pengukuran

28 A. Subjek Penelitian

Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebuah balok beroda dan 5 set roda dengan jari-jari yang berbeda-beda, yang dapat dilepas dan dipasang di balok beroda tersebut.

B. Objek Penelitian

Objek yang diteliti adalah waktu yang dibutuhkan oleh balok beroda dalam menempuh jarak tertentu ketika dibiarkan melaju di bidang miring dengan sudut tertentu

Dalam dokumen PENGARUH JARI JARI RODA TERHADAP WAKTU T (Halaman 10-34)

Dokumen terkait