• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KRITERIA TANAH YANG BISA DIBERIKAN

A. Pendaftaran Tanah

6. Obyek Pendaftaran Tanah

Obyek pendaftaran tanah ini diatur dalam PP No. 24 Tahun 1997 pada pasal 9 ayat (1) dan ayat (2), yaitu:

(1) Obyek Pendaftaran Tanah meliputi:

a. Bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan dan hak pakai.

b. Tanah hak pengelolaan.

c. Tanah wakaf

d. Hak milik atas satuan rumah susun e. Hak tanggungan

f. Tanah negara.

84 Ali Ahmad Chomzah, Hukum Agraria Jilid II, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, 2004, Hlm.16

85Ibid

(2) Dalam hal tanah Negara sebagai obyek pendaftaran tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, pendaftarannya dilakukan dengan cara membukukan bidang tanah yang merupakan tanah Negara dalam daftar tanah.

Boedi Harsono, mengatakan bahwa:

Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai ada yang diberikan oleh Negara, tetapi di mungkinkan juga diberikan oleh pemegang hak milik atas tanah. Artinya selama belum ada pengaturan mengenai tata cara pembebanannya dan disediakan formulir akta pendiriannya, untuk sementara belum ada Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai yang diberikan oleh pemegang Hak Milik atas tanah.

Maka yang kini merupakan objek pendaftaran tanah beru HGB dan Hak Pakai yang diberikan oleh Negara. Tanah Negara dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 termasuk objek yang didaftar.86

A. PENGERTIAN OPERASI PROYEK NASIONAL AGRARIA (PRONA)

1. PENGERTIAN PRONA Pengertian PRONA adalah :

“semua kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah dibidang pertanahan dengan suatu subsidi dibidang pendaftaran tanah pada khususnya,

86 86 Boedi Harsono, Hukum Agraria Sejarah Pembentukan UUPA Isi dan Pelaksanaannya Jilid 1 Hukum Tanah Nasional, Djambatan, Jakarta, 2008, hlm.460

yang berupa pensertifikatan tanah secara masal dalam rangka membantu masyarakat ekonomi lemah.”87

Prona merupakan salah satu bentuk kegiatan legalisasi aset dan pada hakekatnya merupakan proses administrasi pertanahan yang meliputi: adjukasi, pendaftaran tanah, sampai dengan penerbitan sertifikat atau tanda bukti hak atas tanah dan diselenggarakan secara massal oleh pemerintah.88

Prona awalnya diselenggarakan pada tahun 1981 berdasarkan keputusan menteri dalam negeri nomor 189 tahun 1981 tentang proyek operasi nasional agraria. Berdasarkan keputusan tersebut, Penyelenggara prona bertugas memproses sertifikasi tanah secara massal sebagai wujud dari program catur tertib di bidang pertanahan yang meliputi:

a. Tertib Hukum Pertanahan b. Tertib Administrasi Pertanahan c. Tertib Penggunaan Tanah

d. Tertib Pemeliharaan Tanah dan Lingkungan Hidup

PRONA mulai berlaku pada tanggal 15 Agustus 1981, dilaksanakan sebagai tindak lanjut Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 189 Tahun 1981 Tentang Proyek Operasi Nasional Agraria, dalam rangka pelaksanaan catur tata tertib di bidang pertanahan, sehingga program pensertifikatan tanah secara massal,

87 A.P.Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 1990, hlm.38

88 Wawancara dengan Bapak Nasep, di Kantor Badan Pertanahan Kota Peknabru, Tanggal 22-08-2016, Pukul 11.00 WIB

merupakan jaminan kepastian hukum bagi penguasaan dan pemilikan tanah sebagai tanda bukti yang kuat.89

Kegiatan prona pada prinsipnya merupakan kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali. Prona dilaksanakan secara terpadu dan ditujukan bagi segenap lapisan masyarakat terutama bagi golongan ekonomi lemah dan menyelesaikan secara tuntas terhadap sengketa-sengketa tanah yang bersifat strategis.90

Adapun pendaftaran tanah untuk pertama kali dapat dilihat dalam ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah. Pendaftaran tanah meliputi pendaftaran tanah untuk pertama kali dan kegiatan dilakukan melalui data yang tersedia.91

Kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali dilaksanakan melalui dua cara yaitu secara sistemik dan sporadik. Dalam peraturan pemerintah nomor 24 tahun 1997 kedua cara ini di beri penegasan bahwa pendaftaran tanah secara sistematik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali untuk dilakukan secara sistematik yang meliputi semua objek pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan. Sementara pendaftaran tanah secara sporadik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali mengenai suatu atau beberapa objek pendaftaran tanah dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan secara individual atau massal.

2. LATAR BELAKANG DAN LANDASAN YURIDIS PRONA

89 Dalam Menimbang huruf a Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 189 Tahun 1981 Tentang Proyek Operasi Nasional Agraria.

90www.bpn.go.id

91 Ketentuan pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, meliputi : a.

Pengumpulan dan pengolahan data fisik, b. Pembuktian dan Pembukuannya, c. Penerbitan Sertifikat, d. Penyajian data fisik dan data yuridis, e. Penyimpanan daftar umum dan dokumen.

Dengan berlakunya undang-undang pokok agraria nomor 5 tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria (UUPA) dan peraturan pelaksanaannya, maka pemerintah telah membuat suatu kebijakan untuk meningkatkan pelayanan bidang pertanahan yaitu pemberian sertifikat tanah secara massal melalui PRONA.

Sebenarnya pelaksanaan PRONA ini merupakan Implementasi dari pasal 19 ayat (1) UUPA, yang menyebutkan sebagai berikut:

“untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur oleh peraturan pemerintah.”92

Kebijaksanaan ini dimaksudkan agar setiap masyarakat ekonomi lemah dengan memperhatikan aspek keberpihakan dapat memiliki sertifikat tanah atau hak milik atas tanah dengan biaya yang lebih murah. Program ini diadakan dengan tujuan untuk memberikan jaminan kepastian hukum kepada pemegang hak atas tanah.

Adapun dalam keputusan menteri dalam negeri Nomor 189 Tahun 198i Tentang Proyek Operasi Nasional Agraria, belum mengatur ketentuan mengenai pelaksanaan pendaftaran tanah dan penyelesaian sengketa yang bersifat strategis.

Untuk itu terkait dengan adanya pelaksanaan pendaftaran tanah masih mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, sedangkan untuk penyelesaian sengketa yang dimaksud dalam PRONA dapat dilakukan dengan menggunakan keputusan Kepala BPN RI No.34 Tahun 2007

92 Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960

tentang petunjuk teknis penanganan dan penyelesaian masalah pertanahan sebagai dasar hukum pelaksanaan tersebut.

Tujuan prona adalah memberikan pelayanan pendaftaran tanah pertama kali dengan proses yang sederhana, cepat, dan murah dalam rangka percepatan pendaftaran tanah diseluruh indonesia dengan mengutamakan daerah miskin atau tertinggal, daerah pertanian subur atau berkembang, daerah penyangga kota, pinggiran kota atau daerah miskin kota, daerah pengembangan ekonomi rakyat.

Prona bertujuan memberikan peleyanan pendaftraan tanah pertama kali dengan proses yang sederhana, mudah, cepat dan murah dalam rangka percepatan pendaftaran tanah di seluruh Indonesia untuk menjamin kepastian hukum hak atas tanah.93

Prona merupakan salah satu wujud upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan ekonomi lemah sampai dengan menengah.

Dasar Hukum PRONA :94

a. UU No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Pokok-Pokok Agraria

b. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 Tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah

c. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah

93 Pasal 2 ayat (1) PERMEN Agraria dan Tata Ruang Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 4 Tahun 2015 tentang Progran Nasional Agrraia (PRONA)

94 www.bpn.go.id

d. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 Tentang Tarif Atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Badan Pertanahan Nasional

e. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 Tentang Badan Pertanahan Nasional

f. Perkaban No,3/1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP No.24/1997 g. Perkaban No,3/1999 Tentang Pelimpahan Kewenanagan Pemberian

dan pembatalan Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah Negara

h. Perkaban No.9/1999 Tentang tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan

i. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia No.4/2006 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi dan Kantor Pertanahan Nasional.

j. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 189 Tahun 1981 tentang Proyek Operasi Nasional Agraria.

k. Peraturan Menteri Agraria dan Tata ruang / Kepala BPN RI Nomor 1 Tahun 2015 tentang Program Nasional Agraria (PRONA)

l. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 4 Tahun 2015 Tentang Program Nasional Agraria (PRONA).

3. SASARAN DAN OBYEK PRONA

Dalam pelaksanaan PRONA semua warga negara Indonesia atau pemegang hak atas tanah berhak untuk menjadi peserta prona, namun tidak semua warga negara indonesia akan menjadi peserta prona. Maka dari itu dalam menentukan peserta PRONA secara teknis diadakan penggolongan. Penggolongan ini dimaksudkan untuk melindungi golongan ekonomi pada 3 golongan, yaitu Sasaran dari pelaksanaan prona adalah :

1. Subyek prona adalah pemilik tanah perseorangan yang termasuk masyarakat golongan ekonomi lemah dan masih mampu membayar biaya administrasi.

2. Obyek prona adalah pendaftaran tanah pertama kali terhadap tamah-tanah yang belum terdaftar.

3. Obyek prona adalah tanah pertanian yang luasnya kurang dari 2 HA (dua hektar), atau tanah non pertanian yang luasnya kurang dari 200 M2 (dua ratus meter persegi) karena tanah di Kota Pekanbaru merupakan Tanah yang berasal dari Tanah Negara.

Pemerintah sendiri menetapkan beberapa kriteri obyek prona, antara lain:95 a. Tanah sudah dikuasai secara fisik

b. Mempunyai alas hak baik Surat Keterangan Ganti Rugi (SKGR) ataupun Surat Tebang sebagai bukti kepemilikan

c. Tanah tidak dalam keadaan sengketa

95 Wawantara dengan bapak Nasep, Di Kantor Pertanahan Kota Pekanbaru.

d. Tanah berada dalam wilayah kabupaten lokasi peserta program yang diikutsertakan dengan KTP

e. Memenuhi ketentuan tentang luas tanah maksimal obyek prona.

Dengan demikian sasaran prona yang utama adalah masyarakat golongan ekonomi lemah yang mempunyai hak milik atas tanah.

4. Lokasi Prona

Untuk penentuan lokasi PRONA diadakan diseluruh kabupaten/kotamadya di seluruh Indonesia, dan ditetapkan secara berkelompok. Dalam hal ini oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) kabupaten/kotamadya merupakan instansi pemerintah yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan PRONA ini. Dalam penentuan Lokasi ini harus dikaitkan dengan pelaksanaannya, pembagian kerja tetap dilakukan secara fungsional sesuai dengan bidang tugas masing-masing, supaya tetap terjamin adanya kebenaran formil dan materil dan/atau pelaksanaan proyek ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.96

Lokasi penelitian yang akan diteliti dalam tesis ini tepatnya berada di Provinsi Riau, Kota Pekanbaru. Dimana hingga saat penelitian ini dilaksanakan Program ini masih terlaksana di Kota Pekanbaru. Riau adalah salah satu Provinsi di Indonesia yang terletak dibagian tengah pulau Sumatera. Provinsi ini terletak dibagian tengah pantai timur Pulau Sumatera, yaitu disepanjang pesisir selat malaka. Pekanbaru merupakan ibu kota dan juga sebagai kota terbesar di Riau.

Sejarah Singkat Kota Pekanbaru

96 Adrian Sutedi, Sertifikat Hak Atas Tanah, Sinar Garfika, Jakarta, 2012, hlm.71.

Perkembangan kota ini pada awalnya tidak terlepas dari fungsi Sungai Siak sebagai sarana transportasi dalam mendistribusikan hasil bumi dari pedalaman dan dataran tinggi Minangkabau ke wilayah pesisir Selat Malaka. Pada abad ke-18, wilayah Senapelan di tepi Sungai Siak, menjadi pasar (pekan) bagi para pedagang Minangkabau. Seiring dengan berjalannya waktu, daerah ini berkembang menjadi tempat permukiman yang ramai. Pada tanggal 23 Juni1784, berdasarkan musyawarah "Dewan Menteri" dari Kesultanan Siak, yang terdiri dari datuk empat suku (Pesisir, Limapuluh, Tanah Datar, dan Kampar), kawasan ini dinamai dengan Pekanbaru, dan dikemudian hari diperingati sebagai hari jadi kota ini.97

Berdasarkan Besluit van Het Inlandsch Zelfbestuur van Siak No.1 tanggal 19 Oktober 1919, Pekanbaru menjadi bagian distrik dari Kesultanan Siak.

Namun pada tahun 1931, Pekanbaru dimasukkan ke dalam wilayah Kampar Kiri yang dikepalai oleh seorang controleur yang berkedudukan di Pekanbaru dan berstatus landschap sampai tahun 1940.98

Kemudian menjadi ibukota Onderafdeling Kampar Kiri sampai tahun 1942. Setelah pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, Pekanbaru dikepalai oleh seorang gubernur militer yang disebut gokung. Selepas kemerdekaan Indonesia, berdasarkan Ketetapan Gubernur Sumatera di Medan tanggal 17 Mei 1946 Nomor 103, Pekanbaru dijadikan daerah otonom yang disebut Haminte atau Kotapraja. Kemudian pada tanggal 19 Maret 1956, berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1956 Republik Indonesia,

97https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pekanbaru

98Ibid

Pekanbaru (Pakanbaru) menjadi daerah otonom kota kecil dalam lingkungan Provinsi Sumatera Tengah.99

Selanjutnya sejak tanggal 9 Agustus 1957 berdasarkan Undang-undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 Republik Indonesia, Pekanbaru masuk ke dalam wilayah Provinsi Riau yang baru terbentuk. Kota Pekanbaru resmi menjadi ibu kota Provinsi Riau pada tanggal 20 Januari 1959 berdasarkan Kepmendagri nomor Desember 52/I/44-25 sebelumnya yang menjadi ibu kota adalah Tanjung Pinang (kini menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau). Letak kota pun strategis, terletak di simpul tiga pertumbuhan indonesia-malaysia-singapura, dan di jalur lintas angkatan lintas timur sumatera.100

Kota pekanbaru terletak antara 101°14‟ - 101°34‟ Bujur Timur dan 0°25‟

- 0°45‟ Lintang Utara. Dengan ketinggian dari permukaan laut berkisar 5 – 50 meter. Permukana wilayann baguan utara landai dan bergelombang dengan ketinggian berkisar 5 – 11 meter. Kota ini termasuk beriklim tropis dengan suhu udara maksimum berkisar antara 34.1 °C hingga 35.6 °C, dan suhu minimum antara 20.2 °C hingga 23.0 °C.101

Sebelum tahun 1960 Pekanbaru hanyalah kota dengan luas 16 km2 yang kemudian bertambah menjadi 62.96 km2 dengan 2 kecamatan yaitu kecamatan Senapelan dan kecamatan Limapuluh. Selanjutnya pada tahun 1965 menjadi 6 kecamatan. Berdasarkan peraturan pemerintah no. 19 tahun 1987 tanggal 7 September 1987 daerah kota pekanbaru diperluas dari 62,96 Km2 menjadi 446,50 Km2 terdiri dari 8 kecamatan dan 45 Kelurahan/desa. Dari hasil

99Ibid

100Ibid

101Ibid

pengukuran/pematokan dilapangan yang dilakukan oleh BPN Tingkat I Riau maka ditetapkan wilayah kota Pekanbaru adalah 632,26 km2.102

Kota pekanbaru sendiri terdiri dari delapan Kecamatan, antara lain:

Tampan, Bukit raya, Lima puluh, Pekanbaru Kota, Sukajadi, Senapelan, Rumbai, Sail. Setelah adanya pemekaran dibeberapa kecamatan, sejak Tahun 2013 berdasarkan Badan Pusat Statistik Kota Pekanbaru, jumlah kecamatan di Pekanbaru berubah menjadi:103

Tabel 1.

Nomor Kecamatan Luas Wilayah (km2)

1 Tampan 59,81

2 Payung Sekaki 43,24

3 Bukit Raya 22,05

4 Marpoyan Damai 29,74

5 Tenayan Raya 171,27

6 Lima Puluh 4,04

7 Sail 3,26

8 Pekanbaru Kota 2,26

9 Sukajadi 3,76

10 Senapelan 6,65

11 Rumbai 128,85

12 Rumbai Pesisir 157,33

102 Ibid

103 Sumber: Http://pekanbarukota.bps.go.id di akses pada tanggal 25 Februari 2017, Pukul 11.00 WIB, di Kota dumai.

Jumlah 632,26

BAB III

PELAKSANAAN PROYEK OPERASI NASIONAL AGRARIA (PRONA) DI KOTA PEKANBARU A. PRONA bila dikaitkan dengan landreform di Indonesia

1) Pengertian Landreform

UUPA selain merupakan politik hukum pertanahan bagi bangsa Indonesia, juga merupakan suatu titik tolak perombakan struktur pertanahan yang disebut landreform. Di Indonesia hal mana dapat dilihat dalam pasal 19 UUPA, yang berarti bahwa sebagai undang-undang atau peraturan lain yang berkaitan dengan pelaksanaan landreform tidak boleh keluar dari sistematika yang dikembangkan oleh UUPA.104

Istilah landreform pada mulanya dicetuskan oleh lenin dan banyak digunakan di Negara Komunis. Landreform di Indonesia tidaklah sama dengan landreform yang ada di negara Komunis. Landreform di Indonesia bukan hanya

dalam pengertian politis belaka, tetapi juga merupakan pengertian teknis. Selain itu landreform bukan hanya dilaksanakan untuk kepentingan negara saja, melainkan ditujukan untuk memberi kemakmuran bagi raykyat baik secara individual maupun secara bersama dengan cara mengakhiri hak milik perorangan, sedang landreform dinegara Komunis semata-mata hanya untuk kepentingan partai.105

Secara Harfiah Landreform berasal dari kata inggris, yaitu Land yang artinya Tanah dan Reform yang berarti perubahan atau perombakan.106 Jadi Landreform berarti: memberikan pelayanan pendaftaran tanah pertama kali dengan proses yang sederhana, cepat, dan murah dalam rangka percepatan pendaftaran tanah diseluruh indonesia dengan mengutamakan daerah miskin atau

104 Zaidar, Dasar Filosofis Hukum Agraria Indonesia, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2006, Hlm. 84

105 Ibid, Hlm. 85

106 Ibid

tertinggal, daerah pertanian subur atau berkembang, daerah penyangga kota, pinggiran kota atau daerah miskin kota, daerah pengembangan ekonomi rakyat.

Landreform adalah “penataan kembali sistem pendaftaran tanah baik

mengenai peruntukkan, persediaan, penggunaan, penguasaan, pemilikan tanah serta peralihan haknyan sehingga tanah-tanah tersebut lebih baik dan produktif serta meningkatkan taraf hidup masyarakat khususnya para petani penggarap.107

2) Dasar Hukum Landreform

Dalam membicarakan dasar hukum landreform berarti membicarakan baik dari segi kebijakan ataupun sistemnya. Oleh karena itu tidak bisa terlepas dari politik agraria (pertanahan) nasional, sebagaimana yang terdapat dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Pokok Agraria dan beberapa peraturan lainnya.

3) Tujuan Landreform

Secara Umum Landreform di Indonesia bertujuan untuk:108

a) Untuk mengadakan pembagian yang adil atas sumber penghidupan rakyat tani yang berupa tanah, dengan maksud agar ada pembagian

107 AffAn Mukti, Pembahasan Pokok-Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960, USU Press, Medan, 2010, Hlm.42

108Boedi, Harsono, Hukum Agraria Indonesia Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok-Pokok Agraria Isi dan Pelaksanaannya Jilid I Hukum Tanah Nasional, Djambatan, Jakarta, 2008, Hlm.365.

hasil yang adil pula, dengan merombak struktur pertanahan sama sekali secara revosulioner, guna merealisasikan keadilan sosial.

b) Untuk melaksanakan prinsip: tanah untuk tani, agar tidak terjadi lagi tanah sebagai objek spekulasi dan objek pemerasan.

c) Untuk memperkuat dan meperluas hak milik atas tanah bagi setiap warga negara Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, yang berfungsi sosial. Suatu pengakuan dan perlindungan terhadap hak privat bezit, yaitu hak milik sebagai hak yang terkuat, bersifat perseorangan dan turun-temurun, tetapi berfungsi sosial.

d) Untuk mengakhiri sisten tuan-tuan tanah dan menghapuskan pemilikan dan penguasaan tanah secara besar-besaran dengan tak terbatas, dengan penyelenggaraan batas maksimum dan batas minimum untuk tiap keluarga. Sebagai kepala keluarga dapat seorang laki-laki ataupun perempuan. Dengan demikian mengikis pula sistem liberalisme dan kapitalisme atas tanah dan memberikan perlindungan terhadap golongan yang ekonomis lemah.

e) Untuk mempertinggi produksi nasional dan mendorong penyelenggaraannya pertanian yang intensif secara gotong-royong dalam bentuk koperasi dan bentuk gotong-royong lainnya, untuk mencapai kesejahteraan yang merata dan adil, dibarengi dengan sistem perkreditan yang khusus ditujukan kepada golongan tani.

Dilihat dari berbagai aspek, pelaksanaan Landreform di Indonesia meliputi:

Tujuan Sosial Ekonomi109

a) Untuk memperbaiki keadaan sosial ekonomi rakyat dengan memperkuat hak milik serta memberi isi dari fungsi sosial pada hak milik tersebut.

b) Untuk memperbaiki produksi nasional khususnya disektor pertanian guna mempertinggi penghasilan dan taraf hidup rakyat.

Tujuan Sosial Politik110

a) Mengakhiri sistem tuan tanah dan menghapuskan kepemilikan tanah yang luas.

b) Mengadakan pembagian yang adil atas sumber penghidupan rakyat tani berupa tanah dengan maksud agar pembagian yang adil pula.

Tujuan Mental Psikologi111

a) Meningkatkan kegairahan kerja bagi para petani penggarap dengan jalan memberikan kepastian hak mengenai kepemilikan tanah.

b) Memperbaiki hubungan kerja antara pemilik tanah dengan penggarapnya.

Tujuan yang hendak dicapai oleh landreform ialah keadilan agraria.

Dengan keadilan agraria akan dicapai kesejahteraan rakyat tani di pedesaan

109 AffAn Mukti, Pembahasan Pokok-Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960, USU Press, Medan, 2010, Hlm.49

110 Ibid

111 Ibid

sebagai tulang punggung ekonomi negara agraris. Kesejahteraan rakyat juga berarti kemakmuran bangsa dan negara.112

4) Perkembangan Landreform dari masa ke masa a) Zaman Orde Lama

Orde lama telah menempatkan Landreform sebagai kebijakan revosulioner dalam pembangunan yang semestinya. Bahwa syarat pokok untuk pembangunan tata perekonomian adalah pembebasan berjuta-juta kaum petani dan rakyat yang pada umumnya dari pengaruh koloniasme, imperialisme, feodalisme dan kapitalisme dengan melaksanakan landreform menurut hukum negara Indonesia.113

Diberlakukannya UU No.5/1960 tentang Peraturan Pokok Agrarria membawa perubahan besar dan fundamental terhadap buku II Kita Undang-Undang Hukum Perdata dan Hukum Agraria/Pertanahan di Indonesia. Sejak diberlakukannya UU tersebut, seluruh ketentuan-ketentuan mengenai hak-hak berkenaan dengan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dihapuskan dari buku ke II Kitab Undang-Undang Hukum Perdata kecuali Ketentuan mengenai Hipotik.114

Menurut Utrecht, Landreform merupakan strategi politik agraria yang dilatarbelakangi oleh perseteruan beberapa kepentingan, terutama kepantingan para petani tak bertanah melawan kepentingan para tuan tanah. Kepentingan dari

112 Ira Sumaya, Analisis Hukum Landreform Sebagai Uoaya Meningkatkan Pendapatan Ekonomi Masyarakat(Studi pada Kegiatan Redistribusi Tanah di Kota Medan Periode 2007-2008), USU, 2009, Hlm.62

113 Lilis Nur Faizah, Landreform Sejarah Dari Masa ke Masa, Tugas Mata Kuliah Landreform (UGM, 2007), diakses melalui www.zeilla.wordpress.com, 5 Maret 2017, Hlm 6

114 Sri Soedewi Masjchoen, Hukum Perdata, Hak Jaminan atas Tanah, Cetakan IV, Liberty, Yogyakarta, 1981, Hlm. 1

dua golongan ini muncul pada tingkat elite kenegaraan, dimana terbentuk tiga golongan radikal yang mengusulkan pembagian tanah berdasarkan prinsip “tanah bagi mereka yang benar-benar menggarapnya”. Mereka yang memiliki tanah luas adalah telah melakukan penghisapan terhadap manusia lainnya. Golongan ini terdiri dari PKI, PNI, dan Parta Murba. Golongan kedua ini adalah konservatif yang terdiri dari partai-partai islam dan sebagian PNI. Inti dari pendapat golongan ini adalah penolakan dilakukannya pembatasan atas pemilikan tanah dan tuduhan pemilikan tanah luas sebagai penghisapan. Golongan ketiga adalah golongan yang kompromis terhadap kedua golongan lainnya. Mereka menerima pendapat golongan radikal tetapi dengan penerapan yang bertahap. Dalam golongan inilah Soekarno dan Sadjarwo (Menteri Agraria) sebagai dua tokoh penting dalam perumusan UUPA menjadi anggotanya.115

Pelaksanaan program ini ditandai dengan Program Pendaftaran Tanah berdasar Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961, untuk mengetahui dan memberi kepastian hukum tentang pemilikan tanah dan penguasaan tanah.

Kemudian penentuan tanah-tanah berlebih (melebihi batas maksimum pemilikan) yang selanjutnya dibagi-bagikan kepada sebanyak mungkin petani tidak bertanah.

Termasuk juga pelaksanaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1960 Tentang Perjanjian Bagi Hasil.116

b) Landreform Zaman Orde Baru

Di masa orde baru, kedudukan negara yang dominan semakin dikukuhkan oleh UU NO.5/1967 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan dan Peraturan

115 Iswantoro, Perkembangan Landreform dalam Pemerintah Indonesia, Vol.8, NO.3, Mei, 2009, Hlm 6

116 Ibid

Pemerintah di bawahnya, dan UU No.11/1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan dan Peraturan Pemerintah di bawahnya. Dalam prakteknya kedudukan negara yang dominan tersebut sebagaimana terkonsepsi dalam apa yang disebut sebagai hak menguasai dari negara, terbukti telah dimanfaatkan oleh

Pemerintah di bawahnya, dan UU No.11/1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan dan Peraturan Pemerintah di bawahnya. Dalam prakteknya kedudukan negara yang dominan tersebut sebagaimana terkonsepsi dalam apa yang disebut sebagai hak menguasai dari negara, terbukti telah dimanfaatkan oleh

Dokumen terkait