r
Aku jadi nyesel deh. Coba tadi aku gak ngegosip sama Nindy, pasti kejadiannya gak akan jadi begini. Ya, inilah aku, Keyla, anak XI IPA2 yang rajin ngegosip. Sampai-sampai kejadian kayak tadi deh. Topik gosip tadi pun tak lepas dari urusan cowok. Dari kedua temanku, cuma aku yang gak punya cowok. So, aku anak SMA gitu... masa belum punya cowok. Gengsilah....
Sudah dua minggu ini aku bersama kedua temanku, Nindy dan Meta lagi hunting cowok buat aku. Ya, cowok yang ganteng, keren, smart, and so pasti kudu romantis. Itu harus ada. Yang paling sok jual mahal deh kalau urusan senyum. Tapi, anehnya Bu Sukma tuh guru Fisika apa guru PKN sih? Semua omongan- nya aja kayak presiden gitu.
“Keyla, kamu dengar Ibu bicara, gak? Cepat keluar!” Bentak Bu Sukma yang menggemparkan kelasku ini.
“I... iya.... Iya, Bu,” sahutku kemudian. Lalu aku mulai beranjak meninggalkan tempat dudukku dan bergegas menuju ruang guru, “Sabar dikit napa sih, Bu? Marah-marah terus. Darah tinggi baru rasain tuh. He... he...,” gerutuku dalam hati.
“Tet... tet.... tet.... tet...!”
Bel empat kali pun sudah berbunyi menandakan jam pelajaran ke-8 sudah berakhir. Semua anak SMA2 Airlangga Mandiri pun berhamburan keluar kelas.
“Minggir...! Minggir...gue duluan!” Teriak Meta menenteng tas ranselnya menuju anak-anak yang berdesak-desakan, “Duh, mana sih mereka?” ucap Meta mulai sebel.
“Hey...! hey.... Keyla! Nindy! Buruan deh! Lama amat. Jadi nebeng gue gak sih?” Ucapnya lagi sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan itu.
“Iya...! Iya, Ta! Tunggu kita dong,”ucap Nindy di sebelahku. Akhirnya kami bertiga pun pulang bareng Meta. Mengguna- kan mobil AVP-nya Meta. Sepanjang jalan aku BT banget soal- nya Meta cuma ngomongin cowoknya terus.
“Huh... mentang-mentang gue belum punya cowok. Kalian ini seenaknya,” gerutuku kesal.
Meta tak bosen-bosennya bercerita. Aku dan Nindy sudah gak betah mendengarkan ocehannya. Aduh, memang Meta itu
“Ratu Cerewet”. Sudah 30 menit aku di dalam mobil Meta. Akhir- nya sampai juga di rumahku.
Keadaan di rumah sepi. Aku langsung menuju kamarku. Kurebahkan tubuhku di spring bed. Sungguh hari yang melelah- kan. Kemudian, aku tertidur beberapa jam. Tapi, tiba-tiba aku terbangun gara-gara HP-ku berbunyi. Rupanya ada SMS dari nyokap. Malam ini belum bisa pulang. Mereka pulang lusa.
Huh... Kenapa sih banyak selalu gak ada waktu buat gue. Mending aku ngajak Nindy dan Meta buat makan di luar aja, ah. Kemudian aku bergegas ke kamar mandi. Lalu, kukenakan dress putihku. Sebaiknya telepon siapa dulu ya? Ah, mending Meta dulu deh. Cepat-cepat aku ambil HP-ku dan mencoba meng- hubungi Meta.
“Halo.... Meta, malam ini kita jalan bareng yuk. Aku lagi ke- sepian nih,” ucapku dengan nada semangat 45 yang membara.
“Aduh, Key.... gimana ya? Sebenarnya gue....”
“Pasti gak nolak kan? Tenang aja, kali ini gue deh yang nraktir.”
“Ehm... tapi, Key.... Coyi banget. Gue dah ada janji mau jalan sama Gilang. Lo tahu sendiri kan, gak mungkin gue ngecewain dia,” ucap Meta.
“Ya udah. Gak pren lo. Met malem,” kata terakhirku. Satu orang sudah mengundurkan diri. Nindy... ya, Nindy. “Halo, Nin. Jalan yuk....” ajakku.
“Kemana?”
Aha, bener kan. Dia pasti gak nolak, “Eh, ke mana aja deh. Gue laper banget nih. Ke tempat nongkrong biasa aja.”
“Kita bertiga, Key?”
“Gak. Meta udah mau ngedate sama Gilang,” ucapku agak kesal.
“Emmzt, banyak lo kemana? Tumben lo diizinin keluar?” “Biasalah. Mereka belum pulang dari luar kota.”
“Oh, urusan kantor ya?” Sahut Nindy lagi.
“Ya iyalah. Masa mau TKI ke Malaysia. Jadi, gimana, lo? Bisa kan?” Ucapku dengan berharap.
“Sebenarnya gue gak bisa. Gue udah ada rencana sama Radit buat nonton. Sori deh, Key.”
“Huh... kenapa dari tadi gak to the point aja sih? Pulsa tuh mahal tahu dan yang pasti suara gue tuh terlalu bagus. Jadi, harus sehemat mungkin gue ngomong,” sahutku.
“Sorry. Sorry.... sorry deh, Key. Tapi, aha, lo kenal kakak gue kan? Kebetulan banget sampai saat ini dia belum punya cewek. Lo bisa tuh PDKT sama kakak gue. Malem ini dia gak ada acara tuh. Soal ngomongnya, serahin sama gue, gimana?” “Gak ah. Maksudnya gak mau nolak. Kak Dicky gitu! Cewek mana yang bisa nolak dinner bareng kakak lo itu. Memang mau di mana?” Aku bersemangat.
“Di resto d’lezatos aja. Itu lho di Jalan Kemang.” “OK, aku tunggu ya. Malem Coey and thanks ya....” Kemudian aku langsung menuju ke resto itu. Sebelumnya aku tak mengira kalau bisa dinner bareng Kak Dicky. Akhirnya aku sampai juga.
“Oh, Kak Dicky. Kok Kakak sudah nyampe duluan sih,” ucapku agak grogi.
“Biasalah. Aku kan selalu on time. Apalagi dengan cewek secantik kamu,” ucapnya lembut.
Tak lama pelayan datang.
“Mau pesen apa, Key...,” ucapnya sambil menyodorkan buku menu restoran Prancis itu.
“Emh, apa ya?” Ucapku bingung. Soalnya aku gak tahu arti ‘dazri’, nama masakan semua ini. Semuanya pakai bahasa Prancis.
“Hayo kamu bingung ya.... Gara-gara gak tahu artinya ya?” Kak Dicky mulai meledekku.
“Hufh... Kok Kak Dicky tahu ya?” Gerutuku dalam hati. “Ya gaklah. Aku tuh sudah biasa makan di sini, Kak. Aku pesen Eschargo and teh anget aja deh. Ya, aku pesen tadi,” ucap- ku dengan percaya diri.
“Yang bener, Key? Tapi, kan... Ah, ya udah aku pesen teh anget sama hot dog aja deh.”
Tujuh menit kami menunggu. Akhirnya makanan datang. Dan, aku baru tahu kalau Kak Dicky juga kursus memasak sejak enam bulan terakhir ini.
“Hah?! Ini siput. Menjijikkan deh, makanannya ini!” Teriak- ku.
“Hahaha...” Kak Dicky tertawa.
Aku baru tahu kalau Eschargo itu adalah makanan dari siput yang dibakar diberi bumbu BBQ.
“Key... Key, kenapa sih kamu gak bilang dari tadi? Jadi, kamu tadi asal pilih ya?”
“Hehehe... iya, Kak. Abis dari tadi Kakak ngeledekin aku terus sih.”
Sumpah, malam ini aku gak ngira kejadiannya bakalan kayak gini. Tak lama kemudian....
“Hot dog apaan nih? Dagingnya terlalu gosong. Tomatnya udah gak fresh. Saosnya masa pedes gini and kejunya terlalu banyak. Ini gak sesuai dengan menu hot dog yang sehat. Payah...!” ucap Kak Dicky.
Hah?!” aku tercengang heran, “Gila nih. Orang mau makan apa mau jadi komentator kontes masak sih? Aneh juga ni kakaknya Nindy,” ucapku dalam hati.
Malam ini aku sebel banget. Kak Dicky yang sempat mem- buatku jatuh cinta tapi orangnya ternyata aneh.
Malam ini aku sempat berharap, kalau Kak Dicky akan mengungkapkan cintanya padaku. Tapi, terlalu banyak berha- rap tentang semua ini. Malam ini pun berlalu dengan lambat. Saat aku akan pulang dari restoran, aku juga sempat ber- harap Kak Dicky akan menawariku untuk ikut satu mobil de- ngannya. Tapi, kenyataannya dia pergi begitu saja. Ingin rasa- nya aku mengungkapkan semua itu. Bibir ini seakan kaku saat ingin melantunkan kata “I LOVE YOU”. Tuhan, beri aku kekuat- an. Dan, saat kami keluar dari restoran aku mencoba meng- ungkapkannya. Tiba-tiba jantungku berdebar lebih kencang. Dinginnya malam yang menusuk tubuhku seakan tak kurasa- kan. Aku menjadi berkeringat.
Akhirnya kuyakinkan diriku untuk mengungkapkan isi hatiku. Kami menuju halaman parkir. Lalu....
“Kak Dicky, eh... aku boleh tanya gak?”
“Boleh aja. Ada apa?” Sahutnya sambil menatapku. “Kak, sebenarnya aku... aku... aku....” Tiba tiba aku ragu untuk mengatakannya. Aku tertunduk. Apa yang harus kulaku- kan. Kak Dicky hanya diam saja. Tak lama HP Kak Dicky berde- ring. Ternyata dia mendapat telepon dari seseorang. Tapi, aku tak tahu itu telepon dari siapa. Pacar? Nindy? Nyokap Kak Dicky? Atau, siapa saja. Yang pasti si penelepon tadi membuat Kak Dicky panik dan sedikit tak percaya. Setelah ia sudah selesai menerima telepon itu aku langsung saja menghampirinya. Lalu aku mencoba bertanya kepadanya apa yang terjadi sebenarnya. Tapi, Kak Dicky hanya sempat bilang padaku, “Key, maaf. Aku harus cepat-cepat pulang. Ada urusan mendadak. Eh, tadi kamu ngomong apa? Eh, ya sudah. Kamu bisa telepon aku aja. Aku buru-buru nih. Night, Keyla,” ucapnya terakhir padaku.
Kemudian Kak Dicky langsung membuka pintu mobilnya dan pergi meninggalkanku sendiri di halaman parkir. Entah mengapa tubuhku terasa berat untuk melangkah. Mata ini tak tertahan untuk segera meneteskan airmata. Selama perjalanan pulang aku hanya bisa menangis. Dalam hatiku, aku ingin me- ronta dan menjerit. Tapi, apa gunanya aku melakukan itu semua. Sesampai di rumah aku langsung menuju kamarku. Bonyok- ku yang sudah datang dari luar kota tak kusambut dengan se- nyuman malam ini.
“Keyla bodoh! Keyla bodoh...!” Teriakku dalam kamar, “Apa- kah arti seorang Keyla di mata Kak Dicky?” Ucapku dalam hati. Kupandang langit-langit kamarku. Aku berpikir sejenak, buat apa aku menangisi Kak Dicky? Dia bukan siapa-siapaku. Pacar, bukan. Tapi, kenapa aku jadi gila gara-gara Kak Dicky. Aku tak boleh kayak gini. Aku harus jadi Keyla yang periang lagi. Mataku mulai terpejam. Tapi, tiba-tiba akh... HP-ku bergetar. Ternyata SMS dari Brian, temanku sekelas. Dia menanyakan PR Fisika Bu Sukma. Tapi, aku terlalu malas membalas SMS
itu. Dan, akhirnya mataku sudah terpejam dan seluruh tubuh- ku telah menyatu dengan alam semesta.
***
“Huh... oh my God. Give me someone. Cowok yang men- cintaiku, Tuhan.”
Keesokan harinya aku coba membuka facebook. Wah, John dengan wajah yang tersenyum lebar. Ya, John. Nanti malam ia mengajak aku nonton. Gila. Ini nyata kan?
Ok, John. Lo pasti keren abis. Pasti lo bule deh dari nama lo aja. John atau kalo gak anak blasteran Jerman-Batak nih. Oh, John. I’m coming.
Malam pun datang. Kita udah janjian di bioskop jam tujuh. Sebelumnya aku dah dandan sefeminim mungkin dan udah sengaja aku beli dua popcorn untuk nonton nanti. John kenalan- ku lewat dunia maya dua bulan ini. Dia ngajak aku nonton
Titanic. Sebelumnya aku juga udah pernah nonton sih tapi gak apalah. Demi John.
Tiba-tiba ada orang menepuk pundakku.
“Keyla, ya?” Suara lelaki yang kelihatannya amat gagah. Sejurus kemudian kubalikkan badanku dan aku mendapati seorang cowok yang tinggi tegap lumayan tampan.
Apakah ini John? John temenku di FB? Tapi, mana gak ada tampang bule sedikit pun. Tapi, lumayan juga orangnya.
“John...,” sapaku dengan suara lemah lembut.
“Yap, kamu Keyla bukan? Buruan filmnya udah mau mulai,” ajaknya dengan menarik tangan kiriku.
“Oh, ya. Ya.. Ya...”
Kami duduk di kursi agak tengah. Mulanya kami malu- malu.
“Key, ternyata kamu cantik banget. Lebih dari yang ku- pikirkan,” John mulai merayu.
“Ah, bisa aja. By the way, nama kamu John siapa?” “Nanti saja. Kalau kamu?” John berbalik tanya.
“Keyla Anggara Dinata. Hehehe. Belakangnya pake nama bokap gue. Lha, kamu?” Tanyaku penasaran.
“Namaku Sujohno. Keren kan?” Ucap John dengan PD- nya.
“Apa? Eh, iya. Gila. Sujohno? Sarap kali ni akan? Keren dilihat dari apa? Cakep? Gak. Keren? Gak juga. Aduh, parah ni anak. Mimpi apa gue semalam?
“Tuh, filmnya sudah mulai.” “Eh, iya. Iya...”
“Keyla, biasa aja kali. Gak usah grogi gitu. Mentang-men- tang deket sama cowok ganteng jadi salting gitu ya? Ucapnya lagi dengan setinggi langit ketujuh.
“What? What you said? Gila ni anak bener-bener sarap. Tampan apaan? Tampang panci? Hufh..., ucapku dalam hati. Sumpah, aku gak ngira semua ini bakal terjadi sama gue. Dua jam lebih aku lihat film itu dan saat terakhir.... Saat Jack tenggelam dan Rose menangisinya.... Tiba-tiba....
“Hi... hi... hi... Gila! Romantis banget. Jack gue salut sama lo...,” ucapnya dengan suara keras dan menangis lagi.
Ni cowok apa cewek sih? Lebay banget. Dengan spontan se- mua penonton lainnya pada neriakin John. Maksudnya, Sujohno. “Ih, orang ini benar-benar gila. Badannya aja yang gede. Tapi, hufh... kayak cewekaja,” ucapkudalamhati.
Hidup ini memang aneh. Gak sama Kak Dicky. Gak sama John. Keduanya aneh. Cinta ya... may be gak ada kata cinta buat seorang Keyla. Bener kata Bu Sukma, kalau Q tuh MC2. Tapi, ini cinta. Gak kayak rumus Einstein yang sudah pasti. Love
emang MC2 juga sih ya....
M = mengubah akal pikiran. C = cari sensasi aneh. C = cemburu and cakit ati pasti ada. Hufh, Keyla... gunain waktumu ini. Jangan hanya untuk cinta. Semangat, Keyla,” ucapku dalam hati dengan penuh keyakinan.
M
inggir loe...anak miskin kerjanya ganggu melulu,” kata Siska sambil melotot. Bola matanya yang memang sudah besar sampai-sampai kelihatan seperti mau copot.“Perasaan, gue nggak berdiri di tengah jalan dech, lagi pula gue nggak pernah tuh gangguin eloe. Yang ada eloe gangguin gue,” aku menoleh menatap Siska dan membalas ucapannya dengan nada lumayan tinggi.
“Loe pikir kalau loe di sini nggak ganggu gue, Hah? Loe tuh ganggu gue banget tau nggak, ganggu pemandangan gue. Please
dech...Orang miskin tuh nggak pantes ada di sini. Di sini tuh tempat orang-orang kaya. Anak miskin ja belagu pake acara sekolah segala. Seharusnya jam segini orang miskin tuh kerja di pinggir jalan sana, bukannya berkeliaran di sekolah elite kaya gini,” dengan nada centil Siska terus mengejekku.
Aku hanya bisa diam dan mencerna semua kata-kata Siska. Air mataku sudah mengambang di bola mataku. Tapi aku men- coba menahannya agar tidak menetes. “Aku nggak boleh nangis, Siska akan merasa semakin bangga kalau sudah bisa membuat air mataku jatuh walaupun hanya setetes,” pikirku dalam hati. Bel masuk sudah berbunyi. Siska bergegas menuju ruang kelas. Aku pun juga melakukan hal yang sama. Aku tidak mau masuk terlambat di hari terakhir ujianku ini. Semua ini aku lakukan demi ayahku. Aku tidak mau mengecawakannya, be-