Iyem selaku janda muda pergi ke Pakan Baru tak pernah pu- lang. Juga tak pernah kirim uang. Menurut berita mulut,iyem men- jadi babu di ibukota propinsi itu. Samirin lebih memilih kakek dari ibu. Mungkin karena sudah terlan- jur intim dari orok.
Samirin tidak kenal air susu ibu. Sejak kecil hanya diberi susu hewan. Sejak kecil memang terus dalam asuhan kakek dan nenek. Tapi nenek mengasuh batas usia Samirin sampai 3 tahun. Nenek meninggal. Menyusul putranya yang terkena listrik.
Iyem menganggap mertuanya yang perempuan itu masih saja hidup.
Tak tau dia betapa susahnya si kakek merawat cucu. Yang mana dapur,yang mana cuci pakaian. Yang mana lagi uang belanja ka- dang ada kadang tidak.
• Kek suruh pak guru suruh beli buku.
• Buku apa Rin ?
• Buku matematika.
• Besok-besok lah ya.
• Kata pak guru hari senin harus sudah ada.
• Kakek nggak punya uang Rin.
• Sama baju seragam kek. Baju Mirin ketiaknya sudah koyak.
Wak Parkun tak sanggup lagi mejawab,buku saja belum ada kemungkinannya untuk menda- patkan uangnya. Ditambah lagi permintaan baju seragam.
Sejak kematian isteri Wak Parkun tidak lagi bekerja di truck taik. Dia beralih jual kangkung dipasar pagi. Tapi pahit sungguh pahit. Kadang-kadang kangkungnya tidak laku. Kalau setengah hari sore tak laku layulah yang terjadi. Terpaksa dibawa ke peternak ke-
linci. Tentu jual rugi. Subuh-subuh dia sudah mencegat penjual sayur dari luar kota. Dengan mengharap keuntungan lima rupiah perikat.
Dibentangkannya tikar ditumpukn- ya kangkung baik-baik. Pembeli berebut kalau nasib sedang mujur. Tapi lalat pun tak datag kalau masih sedang malang. Dan kalau sudah termakan modal,pinjam pada bank jalanan. Rente.
• Kek ini sudah hari
minggu,besok hari Senin mana buku matem atikanya kek?.
• Sabarlah ya kakek belum ada uang.
• Besok hari senin kek.
• Dia sudah seminggu absen jualan. Tersebab hujan pagi berturut-turut. Pada hari keenam ia jualan. Dasar nasib belum mau beruntung,ya tetap buntung. Pada hari keenam ia tidak absen. Cuaca bersih hu- jan tidak badai pun tidak. Tapi yang datang lebih dari topan laut. Menggencarkan. Petugas penertiban kota dengan nama terkenalnya polisi kotapraja datang. Diangkut mana yang bisa diangkut. Tak ayal kang- kung wak Parkun. Esoknya pun mengganggur lagi.
Seminggu tak jualan makanpun hutang-hutang,Samirin pula minta buku dan baju seragam,cincinlah sasaran untuk diuangkan. Berang- katlah ia ke PB.
• Suratnya kok bisa hilang wak? Tanya pemilik toko sambil mengamat-amati benda emas itu. Wak Parkun terdiam saja. Tapi batinnya bermonolog. Mengapalah aku dahulu seka- dar menjadi pekerja harian. Inilah jadinya tak punya pen- siun.
• Jual saja sama inang wak.
• Sama inang Dimana ?
• Sentral dekat pajak Dame.
• Setelah puas
mengamati,cincin itupun dis- erahkan kembali kepada wak Parkun. Si empunya men- erimanya seraya menokok- nokokkan logam itu kekaca lemari pajangan lirih-lirih.
Ketika itu masuk dua pengunjung toko. Keduanya laki-laki. Yang seorang menentang president bag. Langsung saja meletakkan tas president itu ke kaca lemari pajangan.
Membuka tas itu. Mengeluarkan sebuah kotak karton sebesar batu bata. Rupanya isi kotak itu memang batu bata. Dihantam- kan kekaca kuat-kuat. Kaca pun pecah.
Lelaki yang seorang lagi men- garahkan laras pestol kepada si penjual. Tak sampai lima menit habis tersapu semua bentuk emas di lemari pajangan.
Sebuah sedan muncul didepan. Rupanya memang sudah diatur. Perampok kabur.
Dengan langkah gemetar dan badan lemas si pemilik toko mel- angkah ketelepon.
Wak Parkun juga gemetaran bah- kan sampai terkencing-kencing. Terbayang olehnya wajah Samirin. Bagaimanapun buku matematika tak kan bisa terbeli.
Cincin harapan turut terbang dibawa perampok. Tadinya ter- jatuh ke lemari pajangan sewaktu ditokok-tokokkan ke lemari lirih lirin.
Pernah Terbit di Harian
Analisa,Ruang Rebana,14 Januari 1985.
Barangkali hanya sebagian masyarakat kota Tebing Tinggi (mungkin salah satu a-tau tak men- genal sama sekali) Ristata Siradt, Ali Soekardi dan Tandi Skober. Padahal me- reka adalah sastrawan Indone- sia dari Sumut, tepatnya kota Tebing Tinggi.Begitulah nasib sastrawan, terkadang tak dikenal atau tak diper- dulikan masyarakat daerahnya sendiri. Ka-rena itu, diharapkan menjadi tugas Pemko,lembaga/komunitas seni, para peminat, untuk mengenalkan nama, karya dan makna didaktisnya kepada masyarakat seluas-luasnya.
Ristata siradt, memang lahir di Laras Simalungun, 9-7-1932. Tetapi setelah beker-ja sebagai guru, ia tinggal, berkeluarga, berprestasi bahkan wafat di Bandarsono Tebing Tinggi. Karyanya dapat dinikmati di harian, majalah, buku, terbitan Medan dan Jakarta seperti Kunang-Kunang, Horison, Gembira, Terang Bulan dan Mimbar Indonesia. Telah di-anugrahi penghargaan dari Depdikbud Sumut, Pemko Tebing Tinggi dan Dewan Keseni-an Medan/Sumut. Sebelum berpulang, ia amanahkan klipping sastra buat generasi muda.
Ali Soekardi justru lahir di Tebing Tinggi, 4-1-1933. Hanya karena tuntutan kerja sebagai warta- wan, maka ia dan keluarga pindah ke Medan. Berkat kerja keras, sabar dan kemampuan, iapun dipercaya sebagai Pemred/Penjab harian Analisa Medan. Bersamaan i-tu, ia menulis puisi dan cerpen sejak 1950 di harian, majalah, buku terbitan Medan, Jakar-ta, Band- ung, Yogyakarta dan Surabaya. Telah mendapat berbagai penghargaan. Dan sebe lum berpulang, 2013, ia aman- ahkan buku biografinya kepada para pembaca.
Tandi Skober, lahir di Indram- ayu Jawa Barat, 22-9-1950. Tetapi ka- rena karir di B RI Tebing Tinggi, maka ia dan keluarga tinggal di Bagelen. Dari sini, ia giat menulis ko- lom dan
reporter harian di Medan. Karyanya cerpen, novel, skenario film dapat di- baca/di tonton di berbagai harian, ma- jalah, buku, televisi, terbitan Medan, Jakarta, Bandung, Lam pung. Telah mendapat penghargaan dari berbagai lomba, Dewan Kesenian Medan dan FF I 2004. Sebelum berpulang, 2013, ia amanahkan cerpen terakhirnya di Analisa.
Antologi puisi dan cerpen Muara Tiga, 2001, pada Dialog Utara 1X, temu sastra Indonesia-Malaysia di Medan-Tapsel, kebetulan saya editornya memuat cerpen Ristata Si dart, judul “Marsekal Pertama di Bumi Indonesia”. Cerpen ini menceritakan tentang man- tan Lurah pada zaman penjajahan Belanda.Ia mendapat penghargaan karena kesetiaannya pada pemerintahan kolonial itu. Tetapi setelah Belanda menyerah pada Jepang, Lurah ini pun dicopot sebab dianggap pengkhianat, membocorkan persembunyian pemuda.
Banyak pemuda dibredel, di- tangkap dan ditembak. Mengingat hal itu, para pemu- da lain bahkan ingin mengadili sang Lurah, Harjo. Hanya karena merasa kasihan, ia dibe- ba- slepaskan. Soalnya, ia gila. Gila hor- mat, gila pangkat, sebagai marsekal pertama di In- donesia dengan bintang perak bergambar singa. Ketika pemilihan Lurah, ia protes, sebab tak mau diganti. Lantas masyarakat, para pemuda yang selalu menggodanya, menaikkan pangkatnya menjadi jen- deral, pangkat 6 bintang yang terbuat dari tutup botol.
Sekali waktu, marsekal/ jenderal Harjo sidak ke prajuritnya, lembu, kerbau, kam-bing. Seekor lembu, hidung koyak, tanduk tinggal satu, karena disiksa pemiliknya, tak mau menghormat marsekal. Bahkan ia menyeruduk berkali-kali hingga jenderal tersung-kur, terjerembab dan rebah ke tanah. Kampung menjadi he- boh. Harjo gila diseruduk lem-bu gila.
Beberapa hari kemudian, terdengar kalau keduanya mati. Demikian cerpen meng- amanahkan bahwa pangkat dan jabatan tak selamanya melekat pada diri manusia.
Antologi puisi dan cerpen Muara Dua pada Dialog Utara IV, temu sastra Indone-sia-Malaysia, 1989, editor B.Y.Tand, memuat cerpen Ali Soekardi berjudul “Buah Terla- rang”. Menceritakan tentang seorang suami, Junir, merasa kalut mengha- dapi istrinya, Sal- miah, mengidam anak pertama. Baru usai memenuhi permintaan rujak kolam dan nonton drama di hotel Tiara, sekarang minta buah anggur pula. Bukan masalah su- lit dicari, tetapi selain harganya mahal, juga buah anggur dilarang pemerintah karena barang ekspor.
Sungguh tak diduga, disuatu sarapan pagi nasi goreng dan sege- las kopi, tiba-tiba Salmiah teringat buah anggur. Kali ini, ia tak memaksa melainkan membujuk, hingga Ju-nir merasa enak. Katanya, ia sadar kalau buah anggur itu mahal harganya. Tetapi ada yang murah, buah ang- gur Bang Kohar suami Kak Nafsiah bahkan boleh dibayar angsur. Sudah diambilnya sekilo. Junir menyetujui dengan perasaan lega. Berangkat kerja dengan gem- bira. Begitupun, di dalam hati ia bertanya, mengapa bisa urah, diangsur pula lagi?
Ternyata, koran pagi yang diantarnya ke meja pimpinan,sempat dibacanya sekilas. Berita itu men- jawab pertanyaan Junir bahwa barang ekspor yang dilarang dan berhasil di- tangkap, termasuk buah-buahan, ke- marin dimusnahkan. Kediaman Bang Kohar dekat lo- kasi pemusnahan. Demikian cerpen ini mengamanahkan agar hati-hati membeli barang- ba- rang murah. Jangan cepat membeli, meski barang itu sedang dibutuhkan. Kalau barang larangan itu dibeli juga, dikhawatirkan dapat berdampak negatif pada pembeli.