• Tidak ada hasil yang ditemukan

P OPAT A SAM

Dalam dokumen Tradisi dan Kepercayaan Umat Islam di Ka (Halaman 41-45)

O

rang

m

elayu

m

elawi

Fitri Nuraini

Budaya Popat Asam menjadi saalah satu tema pada tulisan ini, adalah tradisi pada masyarakat Tanjung Tengang di Kabupaten Melawi. Popat asam terdiri dari dua kata, yang pertama popat yang berarti memotong dan asam berarti buah asam. Popat Asam selain sebagai budaya juga merupakan adat istiadat yang sudah terjadi pada masa lalu. Sampai sekarang ini masih tetap dipertahankan dan dipopulerkan.

Tradisi tujuh bulanan atau disebut juga popat asam yaitu upacara tradisional selamatan terhadap bayi yang masih dalam kandungan. Masyarakat yang ada di Melawi sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan, sampai-sampai ada kebudayaan yang sekarang ini masih asli keberadaannya. Popat Asam tidak bisa dihilangkan, karena bagi masyarakat Melawi popat asam memiliki nilai-nilai tersendiri.

Popat asam merupakan sebuah kebudayaan turun temurun yang dijadikan masyarakat Melawi sebagai adat istiadat yang bisa dikatakan sudah mendarah daging. Upacara ini dilaksanakan pada

usia kehamilan tujuh bulan dan pada kehamilan pertama kali. Upacara ini merupakan perwujudan dari rasa syukur, pada upacara ini seorang ibu ditaburi dengan beras kuning serta setiap orang yang hadir mendatangi sang ibu serta menaruh gunting dimulut ibu supaya ibu menggigit gunting tersebut. Masyarakat yang hadir serta keluarga dari belah pihak suami istri berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selalu diberikan rahmat dan berkah sehinngga bayi yang dilahirkan selamat dan sehat.

Seperti kita ketahui seseorang dapat dikatakan sebagai seorang yang bersyukur jika di dalam dirinya terdapat tiga unsur, yaitu mengakui kenikmatan yang diberikan oleh Allah dalam hatinya, mengucapkannya dengan lisan, dan mengimplementasikan perasaan syukur tersebut dengan perbuatan. Popat asam dengan demikian adalah ungkapan syukur.

Pak Alan (52) seorang tokoh masyarakat menyebutkan bahwasannya popat asam sudah dilakukan sejak zaman dulu. Tradisi ini lahir sehubungan dengan keyakinan warga bahwa apabila seorang ibu hamil maka untuk menghindari bencana ia harus mengadakan popat asam. Serangkaian acara tujuh bulanan dilakukan juga berbagai kegiatan tradisional yang tidak hanya dilakukan oleh istri tetapi juga oleh suami, di antaranya istri duduk bersampingan dengan suami dengan menduduki beras yang sudah ditakar dan ditutupi dengan kain panjang. Telur ayam kampung dimasukkan kedalam kain calon ibu hingga telurnya pecah. Kemudian suami dan istri tersebut akan disuapi oleh orang tua dari kedua belah pihak dengan campuran asam dan cabe yang sudah diulek. Masing- masing suami dan istri mendapat jatah memakan rujak yang sudah dibentuk bulat sebanyak tujuh kali tanpa meminum air sebelum rujak tersebut habis ditelan. Kemudian setelah disuapi oleh kedua orang tua dari kedua belah pihak barulah orang yang hadir boleh memakan rujak tersebut.

Biasanya orang Melawi saat mengadakan tujuh bulanan selain memakan rujak, juga membacakan ayat suci Al-Quran.

Lebih spesifik dalam pembacaan ayat suci Al-Quran ketika popat asam, dianjurkan untuk membaca surah Luqman, khususnya ayat yang ke 12-19.

Tujuan membacakan ayat tersebut tentu saja mengambil ibrah dari isi ayatnya, yang berkisah tentang seorang ayah yang bernama Luqman kepada anaknya dia didik dengan pendidikan aqidah atau keimanan, pendidikan ibadah, serta pendidikan akhlak. Selain pembacaan ayat tersebut, juga para masyarakat yang hadir senantiasa memanjatkan doa yang baik untuk masa depan si jabang bayi. Memohon kepada Allah agar ditentukan rezeki yang halal, luas, berkah, dan mudah dalam meraihnya. Serta agar jabang bayi tersebut diberikan umur yang berkah, senantiasa dalam ketaatan, dan mampu memberikan manfaat kepada orang lain, tidak menjadi orang yang pelit baik harta dan ilmu serta dimatikan dalam keadaan khusnul khatimah.

Sebuah kebudayaan tentu memiliki proses dan tata cara ritual yang dianggap memiliki kekuatan yang dapat menjadi penggerak kehidupan mereka. Dalam dunia pendidikan isi dari sebuah kebudayaan yang ada di masyarakat penting untuk dibicarakan, tujuannya agar kita mengetahui sebuah budaya secara menyeluruh. Sudah menjadi hal yang lumrah, bila kehadiran buah hati adalah seesuatu yang sangat diharapkan pasangan suami istri, sehingga ketika sang istri tercinta hamil mereka mengadakan acara-acara tertentu demi kebaikan sang buah hati. Secara khusus

tidak ditemukan dasar dalam syariat. Dalam fiqih disampaikan

bahwa apabila dalam kegiatan tersebut tidak terdapat hal-hal yang dilarang agama bahkan merupakan kebajikan seperti berbagi, maka hukumnya diperbolehkan.

Kehamilan adalah periode yang didambakan oleh seorang istri di dalam berumah tangga (pasca menikah). Karena proses kehamilan merupakan fase yang harus dilalui untuk menghadirkan anak di dalam keluarga. Beberapa hal yang menjadi landasan peringatan tujuh bulan kehamilan, antara lain: (1) sebagai tanda

syukur sorang hamba kepada tuhannya, Allah swt yang telah memberikan anugerah dengan memberikan amanah berupa seorang buah hati, anak; (2) sebagai pendidikan prenatal (pendidikan sebelum lahir) bagi janin yang mulai hidup atau mulai diberi ruh, yang kelak bertujuan agar sang buah hati menjadi anak yang sholeh/sholeha serta faham akan budaya.

Niat baik inipun harus disertai dengan cara-cara peringatan yang baik. Artinya peringatan tujuh bulanan diisi dengan membaca doa selamat. Popat asam mengandung beberapa hikmah, di antaranya sebagai berikut: (1) sebagai tanda syukur kepada Allah swt karena telah dikaruniai anak; (2) secara tidak langsung mengabarkan kepada masyarakat atau kerabat tentang anugerah yang dikaruniakan oleh Allah Swt; (3) mengawali kehidupan anak dengan perkara-perkara kebaikan; (4) mempererat hubungan silaturahim antaranggota masyarakat.

Popat asam merupakan sebuah realita kehidupan yang sudah mengalir dalam tubuh masyarakat dan mungkin tidak dapat dihilangkan dalam dinamika kehidupan. Sejarah telah membuktikan dalam kehidupan sehari-hari bahwasanya popat asam hingga saat ini masih terus dilakukan, juga masih dikembangkan dalam hidup bermasyarakat. Menanggapi hal ini popat asam merupakan murni hasil dari cipta karya masyarakat Melayu yang ada di kabupaten Melawi, yang tak ada masalah untuk dilestarikan.***

T

raDisi

L

INGGANG

K

ANDUNG

Dalam dokumen Tradisi dan Kepercayaan Umat Islam di Ka (Halaman 41-45)