• Tidak ada hasil yang ditemukan

Operasi penangkapan ikan dengan bubu nelayan

5. HASIL PENELITIAN

5.2 Teknik Pengoperasian Bubu Nelayan

5.2.3 Operasi penangkapan ikan dengan bubu nelayan

Berdasarkan hasil survei terhadap nelayan bubu, pemilihan konstruksi bubu nelayan dan metode pengoperasian merupakan ilmu yang diperoleh nelayan secara turun temurun (intuisi). Nelayan tidak dapat memberikan alasan yang pasti terhadap pemilihan metode pengoperasian bubu nelayan saat ini. Beberapa faktor yang diidentifikasi pada percobaan bubu nelayan disajikan pada Tabel 18.

61.20 98.46 138.89 195.25 0 50 100 150 200 250

Pulau Mursala Pulau Pini Pulau Nias Pulau Karang

Rata rata   Pergeseran   Posisi   Bubu   Konvensional   (m)

Tabel 18 Faktor pengoperasian bubu nelayan Sibolga

No Faktor pengoperasian Penelaahan

Sudah Belum

1 Waktu penjatuhan bubu √

2 Teknik penjatuhan bubu √

3 Gerak jatuh bubu √

4 Posisi peletakan bubu di dasar perairan √

5 Lama perendaman √

Sumber: Hasil wawancara nelayan bubu, 2011

Hasil observasi yang dilakukan terhadap nelayan bubu Sibolga menggambarkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi metode pengoperasian bubu nelayan. Faktor tersebut anatara lain: 1) jarak lokasi penjatuhan bubu dari aktivitas nelayan lain; 2) hasil tangkapan dari pengoperasian sebelumnya; 3) Proses menemukan bubu yang telah dijatuhkan.

Pada prinsipnya pengoperasian bubu kawat nelayan dilakukan pada dasar perairan khususnya daerah yang memiliki karang pantai (fringing reef). Terumbu karang pantai tumbuh dan berkembang tidak jauh dari pulau yang terletak disepanjang pantai Barat Sumatera. Jenis terumbu karang pantai yang digunakan nelayan sebagai tempat peletakan bubu adalah reef flat yaitu karang yang memiliki permukaan mendatar (Froelich, 2002). Pengoperasian bubu oleh nelayan dibagi menjadi empat tahap yaitu pra setting, setting, towing dan hauling

(Hermawan, 2007).

Sebelum masuk ke tahap pertama yaitu persiapan alat tangkap, biasanya bubu yang sudah selesai dirakit dan dicat, direndam terlebih dahulu sebelum dioperasikan. Waktu perendaman ini 4 sampai 6 hari atau dilihat dengan ciri terdapatnya biota dan lumut yang melekat pada kawat bubu. Hal ini bertujuan untuk menghindari bau polymer cat yang melekat pada kawat bubu pada saat dioperasikan pertama sekali.

Setting, kegiatan ini meliputi persiapan bubu yang sudah ditempatkan pada sisi kapal dan juga tali ris (main line) yang akan menghubungkan kedua bubu yang dijatuhkan ke dalam air. Setelah tiba di daerah fishing ground, kecepatan kapal motor dikurangi agar juru kemudi (tekong) bisa dengan mudah melihat topografi dasar perairan pada monitor. Setelah menentukan fishing ground yang

tepat maka juru kemudi memberikan perintah kepada anak buah kapal (ABK) untuk menjatuhkan bubu.

1) Penjatuhan bubu nelayan

Waktu penjatuhan bubu nelayan belum menjadi acuan yang konsisten dilakukan oleh nelayan. Nelayan dapat menjatuhkan bubu saat pagi, siang, sore dan bahkan malam hari. Hal tersebut dilakukan secara bersamaan dengan proses pencarian bubu. Jumlah bubu nelayan yang dapat dijatuhkan oleh nelayan dalam satu hari rata-rata 10 bubu, dengan jumlah maksimal 12 bubu dan minimal 5 bubu. Penjatuhan bubu dilakukan dengan dua pendekatan. Pendekatan pertama menempatkan bubu pada lokasi yang sama dengan lokasi saat diangkat, dilakukan bila jumlah hasil tangkapan sesuai. Pendekatan kedua dengan mencari lokasi baru, penjatuhan bubu dilakukan sesuai kriteria ekosistem yang mereka tentukan. Berdasarkan hasil wawancara, penjatuhan satu unit bubu membutuhkan waktu sekitar 1 sampai 3 menit.

Pemetaan dasar sebelum penjatuhan bubu nelayan dianalisis berdasarkan

conventional depth acoustic yang dimiliki nelayan. Hasil wawancara terhadap nelayan, bubu yang ditempatkan pada karang yang topografinya landai cenderung mengalami pergeseran sampai pada tahap hilang. Diantara empat lokasi penjatuhan bubu yang ditentukan pada penelitian ini, Pulau Karang merupakan tempat peletakan bubu nelayan mengalami ghost fishing terbesar. Berdasarkan pengalaman nelayan bubu Sibolga menunjukkan bahwa dari 30 unit bubu yang dijatuhkan di perairan Pulau Karang akan hilang sekitar 2 sampai 3 pasang bubu.

Penjatuhan bubu dimulai saat kapal telah menemukan titik koordinat yang sesuai dengan bentuk topografi yang diinginkan nelayan. Kecepatan kapal akan diperlambat, kemudian salah satu bubu ditempatkan pada bagian sisi badan kapal untuk dijatuhkan. Sebelum bubu pertama dijatuhkan, tekong kapal akan melihat tanda-tanda di sekitar perairan. Pada umumnya tanda yang digunakan oleh juru mudi kapal adalah pulau kecil yang ada di sekitar daerah penjatuhan bubu. Tujuan pengamatan lingkungan di sekitar penjatuhan agar arah pencarian bubu saat

hauling dapat disesuaikan dengan penjatuhan bubu. Juru mudi akan menggunakan arah yang berlawanan antara proses penjatuhan dan penarikan bubu.

Bubu nelayan yang dijatuhkan nelayan Sibolga menggunakan sistem rawai. Bubu ini menggunakan tali ris sebagai penghubung antara bubu pertama terhadap bubu yang lain. Tali ris yang digunakan memiliki panjang 24 meter dengan jarak penjatuhan setiap pasangan bubu sejauh 15 meter. Proses penjatuhan bubu diawali dengan pembersihan selimut kawat bubu, dilanjutkan dengan mengikatkan tali ris dan tali terajut. Beberapa kali pengoperasian, nelayan memberikan pemberat pada bagian dasar bubu dengan menggunakan batu karang yang telah diambil dari laut. Proses penjatuhan pasangan bubu berikutnya dimulai dengan menggerakkan kapal sesuai dengan arah topografi yang diinginkan juru mudi kapal. Biasanya penjatuhan pasangan bubu berikutnya kurang lebih 15 meter dari penjatuhan bubu pertama. Proses penjatuhan bubu dengan menggunakan tali ris penghubung akan mempermudah nelayan mencari bubu. Tali ris merupakan alat bantu yang akan disentuh oleh gancu saat proses penarikan, sehingga tali ris yang posisinya tidak mengkerut memastikan bubu berpeluang besar dapat ditemukan.

Proses penjatuhan bubu sangat mempengaruhi hasil tangkapan. Saat pengoperasian, nelayan akan menjatuhkan bubu sebagai sebuah tim karena mereka harus melakukan koordinasi. ABK akan mengikuti kode yang diberikan nahkoda kapal (tekong) sesaat setelah menemukan titik koordinat yang tepat. Proses penjatuhan bubu dilakukan pada bagian sisi sebelah kanan kapal nelayan. Bagan proses penjatuhan bubu kawat dapat dilihat pada Gambar 26.

Gambar 26 Diagram alir proses penjatuhan bubu nelayan Penentuan DPI

Kriteria:

1) Kedalaman > 30 meter 2) Topografi berkarang

3) Jauh dari garis pantai (>1 mil) 4) Memiliki substrat berlumpur

Kapal di perlambat dengan kecepatan <4 knot

Bubu 1 diletakkan di sisi kanan kapal

Mengikatkan tali ranjut sepanjang 3,5 m dan menghubungkan tali ris pada bubu lain

Kapal bergerak ke utara sejauh 10-15 m dan bubu kedua di jatuhkan

Bubu dijatuhkan tidak secara bersamaan agar tali ris (main line) dapat tetap renggang. Sebelum proses penjatuhan bubu, terlebih dahulu dilakukan pengukuran terhadap seluruh komponen penyusun bubu. Saat penjatuhan, kapal akan bergerak lambat (< 1 knot) dan tekong akan memperhatikan arah gerak haluan kapal. Perhatian kepada arah gerak kapal agar proses pencarian bubu lebih mudah, kapal akan bergerak ke arah yang berlawanan dengan saat penjatuhan.

Setelah menemukan fishing ground yang tepat, maka kapal akan berjangkar dan menyimpan titik koordinat dari posisi kapal. Ada beberapa kriteria penempatan bubu saat dijatuhkan ke dalam air yaitu: kedalaman air, bentuk dasar perairan, kondisi terumbu karang dan arus. Beberapa faktor lain adalah perairan yang jarang dikunjungi oleh nelayan bubu lain, untuk menghindari pencurian.

Penggunaan krieria yang konsisten dalam pengoperasian bubu diperoleh dari pengalaman nelayan Sibolga. Parameter perairan yang sering digunakan menjadi hasil pengamatan dalam penelitian pengoperasian bubu nelayan. Hasil identifikasi kriteria perairan saat penjatuhan bubu nelayan dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19 Kriteria perairan saat penjatuhan bubu nelayan

No Kriteria Nilai Parameter

Minimum Maksimum 1 Kedalaman air 30 meter 70 meter

2 Kecepatan arus 0,8 m/s 2,4 m/s 3 Sapuan tinggi karang 3 meter 8 meter 4 Substrat pasir berlumpur Lumpur

Kedalaman perairan menjadi salah satu faktor penting saat penjatuhan bubu. Nelayan Sibolga pada umumnya menjatuhkan bubu pada kedalaman di atas 30 meter untuk memperoleh hasil tangkapan yang lebih besar, sekaligus menghindari pengambilan bubu oleh nelayan atau alat tangkap lain. Dalamnya perairan sering mengakibatkan bubu yang dijatuhkan bergeser dari titik setting yang telah disimpan dalam alat akustik yang mereka miliki. Pada kedalaman 70 meter matahari sulit menembus kolom perairan, hal ini mempengaruhi para penyelam swallow tidak beroperasi pada kedalaman tersebut. Bagi nelayan bubu, pencurian hasil tangkapan oleh penyelam juga sering terjadi disekitar periaran yang dangkal.

Bentuk topografi dasar perairan adalah salah satu parameter utama yang digunakan oleh nelayan saat menjatuhkan bubu. Berdasarkan pengamatan di lapangan dan mengikuti kebiasaan nelayan, bentuk topografi yang memiliki karang menjulang dan warna permukaan garis pada echosounder terlihat merah adalah pilihan yang paling tepat menjatuhkan bubu. Hal ini didasarkan pada pengalaman nelayan yang menyimpulkan bahwa pewarnaan merah pada layar menunjukkan dasar perairan yang sangat sesuai untuk peletakan bubu.

Arus permukaan saat penjatuhan bubu dapat diketahui pada daerah fishing ground. Data kecepatan arus diambil pada posisi 98030'3170'' BT dan 1033''1172''' LU pada lokasi yang menjadi stasiun tempat penjatuhan bubu (Lampiran 3). Kecepatan arus yang diperoleh berkisar antara 0,8 m/s sampai dengan 2,4 m/s. Kecepatan arus permukaan semakin besar saat daerah pengoperasian menuju laut terbuka yaitu Samudera Hindia. Hasil wawancara pada nelayan bubu mengungkapkan bahwa variabel arus bukan menjadi faktor utama yang diperhatikan saat menjatuhkan bubu. Nelayan bubu melakukan penjatuhan atau

setting saat gelombang pada permukaan laut kecil dan akan bersandar pada pulau- pulau di sekitar pantai Barat Sumatera saat gelombang besar.

2) Pencarian bubu nelayan

Waktu yang dibutuhkan oleh nelayan untuk menemukan bubu nelayan di pantai Barat Sumatera berkisar antara 20 menit sampai pada 90 menit untuk satu pasang bubu. Lamanya kisaran waktu pencarian bubu sangat bervariasi dan tergantung pada daerah pengoperasian bubu. Berdasarkan stasiun percobaan, waktu pencarian bubu nelayan dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20 Waktu pencarian bubu nelayan di pantai Barat Sumatera

No Daerah Pengoperasian Waktu

Minimum Maksimum

1 Pulau Mursala 27 55

2 Pulau Pini 20 60

3 Pulau Nias 35 84

4 Pulau Karang 54 120

Perhitungan waktu pencarian bubu dilakukan saat memulai pengangkatan. Pengangkatan dilakukan setelah gancu menyentuh tali ris (main line) pasangan

bubu. Tal ris tersebut telah ditambatkan pada tali terajut di bawah funnel bubu. Tali terajut (branch line) bubu memiliki ukuran panjang 3,5 meter dan pada bagian tengah dibuat untaian tempat menambatkan tali ris. Hasil analisis data waktu pencarian bubu nelayan berdasarkan empat daerah perairan pengoperasian menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan.

Waktu pencarian bubu nelayan tentunya dilihat dari pergeseran yang dialami oleh alat tangkap itu sendiri. Hasil wawancara nelayan menyatakan bahwa pergeseran bubu yang cukup jauh menyebabkan bubu tidak dapat ditemukan kembali saat pencarian. Waktu pencarian pada suatu daerah pengoperasian akan dihentikan jika telah melebihi 2 jam.

Bubu nelayan di perairan Pulau Pini memiliki waktu minimum tercepat untuk ditemukan, sedangkan waktu maksimum untuk menemukan bubu terletak di perairan Pulau Karang. Pulau Mursala sebagai wilayah perairan yang paling dekat ke Sibolga memiliki waktu rata-rata pencarian bubu sebesar 38,3 menit. Rata-rata waktu pencarian bubu tercepat adalah di Pulau Pini sedangkan waktu rata-rata terlama pencarian bubu adalah di Pulau Karang. Pencarian bubu di Pulau Karang membutuhkan waktu rata-rata 79,3 menit.

Pencarian titik pengangkatan bubu nelayan sangat ditentukan dengan bentuk topografi yang terlihat pada layar echosounder. Tekong akan mengingat kembali ciri-ciri topografi perairan saat penyimpanan titik koordinat setting. Bubu kawat yang dimiliki nelayan Sibolga pada umumnya memperhatikan posisi dan kondisi perairan yang disekitarnya. Salah satu kriteria yang paling diperhatikan oleh nelayan adalah bagaimana bubu tidak mudah ditemukan oleh nelayan lain karena perendaman bubu di pantai Barat Sumatera cukup lama.

Hasil perhitungan waktu pencarian bubu nelayan, nelayan Sibolga hanya mampu mencari 5 sampai 10 unit bubu dalam satu hari. Secara teknis, sistem kerja pengoperasian bubu nelayan dapat dikategorikan tidak efisien karena penggunaan waktu yang lebih lama akan meningkatkan biaya operasional. Bubu nelayan yang tidak ditemukan dalam waktu lebih dari 2 jam akan dianggap hilang dan pencarian tidak dilanjutkan lagi. Pengalaman ini sangat sering terjadi khususnya pada perairan Pulau Karang dan Nias Selatan. Waktu rata-rata pencarian bubu nelayan dapat dilihat pada Gambar 27.

Gambar 27 Waktu rata-rata pencarian bubu nelayan

Dengan melihat hasil perhitungan waktu rata-rata pencarian bubu nelayan, dapat diperkirakan ada beberapa faktor alam yang mempengaruhi waktu pencarian bubu. Adapun faktor tersebut antara lain:

1) Kedalaman perairan, pengoperasian bubu di laut yang semakin dalam akan mempersulit daya gerak gancu dalam menemukan tali ris. Disamping sulitnya menemukan tali ris, gerakan arus di dasar perairan sering mempersulit tekong dalam membedakan gancu yang telah terkait dengan arus dasar yang kuat.

2) Posisi perairan terhadap samudera, perairan yang terbuka merupakan perairan yang memiliki arus dasar lebih kuat, sehingga bubu akan bergeser mengikuti arah gerak arus.

3) Topografi dasar perairan, jenis substrat yang disenangi oleh ikan target merupakan jenis substrat berlumpur. Penempatan bubu di sekitar karang akan membantu menahan gerak bubu saat dibawa oleh arus.