• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepala Desa

METODE PENELITIAN

I.5 Kerangka Teori

1.7 Operasional Variabel

1.7.1 Bagan Operasioanal Variabel

Untuk memudahkan pemahaman relasi antar variabel dalam penelitian ini, maka dapat dilihat pada bagan operasional variabel sebagai berikut :

BAGAN 1.1 Operasional Variabel Variabel X Konversi Lahan Variabel Y Tingkat Kemiskinan Masyarakat Adat

Konversi lahan dari hutan kemenyan milik masyarakat adat menjadi HTI milik TPL -Kegunaan Lahan -Kepemilikan lahan -Waktu Penebangan -Kerusakan Lingkungan -Upaya Mempertahankan Lahan

Tingakat Kemiskinan Di ukur berdasarkan 14 kriteria masyarakat miskin berdasarkan data BPS yaitu: -Luas Rumah -Lantai -Dinding -Sumber Air -Alat Penerang -Kepemilikan TPAB -Bahan Bakar -Konsumsi Makanan -Jumlah Makan Dalam Sehari -Pendapatan

-Pengeluaran -Konsumsi Pakaian -Tempat Memeriksa kesehatan -Pendidikan

1.7.2 Defenisi Operasional Variabel

Defenisi operasional merupakan suatu penjelasan makna dari karakteristik variabel penelitian, agar dapat diamati, diuji dan ditentukan kebenarannya oleh orang lain (Young, dalam Sarwono2006:28). Defenisi operasional dari variabel – variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Konversi Lahan(X)

Konversi lahan adalah variabel independen dalam penelitian ini. Variabel independen merupakan variabel stimulus atau variabel yang mempengaruhi variabel lain. Adapun indikator pada variabel ini yaitu “Konversi lahan dari hutan kemenyan milik masyarakat adat, menjadi HTI milik perusahaan TPL. Faktor – faktor atau unsur – unsur yang terdapat pada variabel ini antara lain :

a. Modernisasi, yaitu kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sesuai perkembangan jaman

b. Perusahaan, yaitu lapangan pekerjaan baru yang berbentuk padat modal

c. Hutan, yaitu sumber daya alam yang menyediakan berbagai kebutuhan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat

d. Kebijakan pemerintah, yaitu hukum atau undang – undang yang ditetapkan pemerintah yang terkait dengan pengalihan fungsi lahan.

2. Tingkat Kemiskinan Masyarakat Adat (Y)

Tingkat kemiskinan masyarakat adat adalah variabel dependen dalam penelitian ini. Variabel Dependen merupakan variabel yang memberikan sikap/ respon jika dihubungkan dengan variabel bebas atau variabel yang diamati dan diukur untuk menentukan pengaruh

yang disebabkan oleh variabel independen. Adapun indikator pada variabel ini, yaitu:

Ukuran kemiskinan menurut data BPS” yang meliputi:

1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2 perorang.

2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah / bambu / kayu murahan

3. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/ rumbia/ kayuberkualitas rendah / tembok tanpa plester

4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama – sama dengan rumah tangga lain

5. Sumber penerangan tidak menggunakan listrik

6. Sumber air minum berasal dari sumur/ mata air yang tidak terlindung/ sungai / air hujan 7. Bahan bakar untuk memasak sehari – hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah

8. Hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam satu kali dalam seminggu

9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun

10. Hanya mampu makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari

11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan dipuskesmas/ poliklinik

12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah : Petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan atau pekerjaan lainnya pendapatan dibawah Rp. 600.000,- perbulan

14. Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000 seperti seperti sepeda motor kredit/ non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

Jika minimal 9 variabel terpenuhi maka suatu rumah tangga dikategorikan sebagai rumah tangga miskin.

1.8 Hipotesa

Hipotesa adalah suatu pernyataan yang masih harus diuji kebenarannya secara empirik dan merupakan jawaban sementara atas pernyataan penelitian yang kebenarannya akan diuji berdasarkan data yang dikumpulkan (Soehartono, 2004 :26). Hipotesa dalam penelitian ini adalah :

Ho : Tidak terdapat hubungan konversi hutan terhadap kemiskinan yang sekarang terjadi di Masyarakat Adat Desa Pandumaan, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan

Ha : Terdapat hubungan konversi hutan terhadap kemiskinan yang sekarang terjadi di Masyarakay Adat Desa Pandumaan, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan.

Abstrak

Desa Pandumaan adalah desa yang menghasilkan kemenyan terbaik di Sumatera Utara tepatnya di Kabupaten Humbang Hasundutan. Kemenyan sangat berpotensi bertumbuh dengan baik karena kawasan hutan yang memiliki banyak pohon pelindung dan berada pada dataran tinggi yang sejuk. Penanaman kemenyan sudah menjadi warisan nenek moyang masyarakat Desa Pandumaan dan warisan ini disebut kearifan lokal. Namun sejak tahun 2009 terjadi pergejolakan pada Desa Pandumaan terkait masalah pengalihan fungsi hutan yang ditandai dengan dekeluarkannya SK register 44. Masalah muncul sejak masuk nya TPL yang menggantikan lahan kemenyan milik masyarakat adat Desa Pandumaan menjadi tanaman industri yaitu accalyptus. Hal ini menjadi masalah yang besar karena masyarakat Desa Pandumaan sudah bergantung pada kemenyan yang merupakan mata pencaharian utama mereka serta kebudayaan yang kuat tentang nilai yang sudah ditanamkan leluhur mereka sejak dahulu kala. Oleh sebab itu masyarakat Desa Pandumaan sampai saat ini tidak menerima kehadiran TPL di desa mereka karena menurut nilai yang berlaku di dalam masyarakat adat tersebut bahwa nenek moyang mereka tidak membenarkan lahan mereka diberikan kepada siapapun diluar marga atau turunan marga yang ada di desa tersebut. Sampai saat ini hukum tersebut masih berlaku di Desa Pandumaan. Selain kemenyan yang tidak lagi berproduksi banyak, tanaman – tanaman masyarakat Desa Pandumaan lainnya juga terimbas akibat penebangan hutan tersebut seperti padi, tomat, kopi dan sayur mayur.

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan pendekatan korelasi, yaitu metode yang bertujuan meneliti sejauh mana variabel pada faktor berkaitan pada variasi faktor lain. Penelitian korelasi adalah penelitian yang fokus pada pengujian hubungan antara dua variabel atau lebih. Tehnik statistik korelasi ini dipakai untuk menguraikan dan mengukur seberapa besar tingkat hubungan antara variabel. Jenis penelitian ini digunakan untuk dapat melihat sejauh mana pengaruh pengalihan fungsi lahan terhadap tingkat memiskinan masyarakat desa. Koesioner terbuka dan wawancara yang terstruktur menjadi tehnik serta instrumen dalam penelitian ini. Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini tidak terlalu mendalam, hanya sebagai antisipasi apabila ada pertanyaan dalam kuesioner yang tidak mau dijawab oleh responden. Penelitian ini dilakuka di Desa Pandumaan, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan.Untuk mewakili jumlah populasi yang ada, peneliti menggunakan tehnik penarikan sampel Taro Yamane dengan presisi 10% dan tingkat kepercayaan 90%. Jumlah sampel yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah 74 kepala keluarga yang bermata pencaharian sebagai petani.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah pengalihan fungsi lahan adalah masalah yang kompleks dan membutuhkan waktu yang lama dalam penyelesaiannya karena sudah ada dua persepsi kepemilikan lahan dalam masalah ini yaitu persepsi hukum adat dan persepsi hukum nasional. Kebijakan – kebijakan pemerintah belum berakhir dengan solusi dan dalam masalah ini justru masyarakat merasa bahwa pemerintah sama sekali belum melakukan apa – apa dan pemerintah juga tidak berpihak terhadap masyarakat adat. Pengalihan fungsi lahan di Desa Pandumaan berpengaruh negatif terhadap kehidupan masyarakat desa tersebut. Pendapatan mayarakat desa pandumaan menurun secara drastis keadaan semakin diperburuk dengan meningkatnya jumlah dan harga kebutuhan sehari – hari baik masalah sandang/ pangan, biaya pendidikan anak dan kesehatan. Akibat nya terjadi peningkatan kemiskinan di dalam masyarakat. Kehidupan masyarakat Desa Pandumaan saat ini berada pada posisi yang sulit dan membutuhkan bantuan dari berbagai masyarakat baik dalam hal pemikiran maupun bantuan materi. Kata Kunci

PENGARUH PENGALIHAN FUNGSI HUTAN TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN MASYARAKAT ADAT

(Studi Kasus di Desa Pandumaan, kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan)

Skripsi D I S U S U N OLEH :

NONNI SEREPINA TAMBUNAN 090901037

DEPARTEMEN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2013

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Dokumen terkait