• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oposisi Biner, Unsur Undecidable, dan Hierarki Metafisik

BAB II HIERARKI METAFISIK DAN IDEOLOGI TEKS DALAM TIGA

2.2 Hierarki Metafisik dan Ideologi dalam Cerpen “Profesor Pogob”

2.2.2 Oposisi Biner, Unsur Undecidable, dan Hierarki Metafisik

Sebelum menentukan hierarki yang terdapat dalam teks, perlu ditemukan oposisi biner pada tiap makna kata di dalam teks cerpen. Penentuan ini dilakukan untuk membuktikan bahwa setiap kata yang beroposisi di dalam teks memiliki keunggulan tersendiri. Ada makna kata yang lebih kuat dibandingkan makna kata yang lain. Hal ini yang membuat teks menjadi tidak stabil karena pembelaan terhadap kubu tertentu. Berikut adalah tabel yang berisikan oposisi biner pada cerpen “Profesor Pogob”.

Tabel 1

Oposisi Biner Cerpen “Profesor Pogob”

Kubu Profesor Pogob Kubu Demonstran

Berkobar Lelah

Tinggi Rendah

Rela Marah

Ringan Berat

Pemerintah Rakyat

Polisi Demonstran

Mendinginkan Ngompori

Tabel tersebut adalah bukti dari ketidakstabilan dalam teks cerpen “Profesor Pogob”. Kata berkobar yang seakan lebih baik dibandingkan dengan lelah. Kata berkobar digambarkan sebagai sebuah tindakan yang penuh dengan semangat dalam melakukan sesuatu sedangkan lelah sebuah keputusasaan. Padahal kata berkobar bisa saja bermakna suatu tindakan yang terlalu ambisius dan impulsif

sedangkan kata lelah bisa bermakna sebagai sebuah dampak dari usaha yang dilakukan terus-menerus.

Kata tinggi dalam teks juga seakan lebih baik dibandingkan kata rendah.

Kata tinggi digambarkan sebagai sifat yang lebih agung dibandingkan kata rendah.

Padahal kata tinggi juga bisa berkesan muluk dan rendah bisa dimaknai sebagai kesederhanaan. Kemudian kata rela seakan superior dibandingkan kata marah. Rela digambarkan sebagai kebaikan hati dan marah sebagai kedengkian. Padahal rela juga bisa dilihat sebagai tindakan menyerah dan kata marah juga bisa dilihat sebagai rasa tidak terima terhadap ketidakadilan.

Kata ringan di dalam teks cerpen juga terlihat lebih baik daripada kata berat.

Kata ringan digambarkan sebagai kemurahan hati dan kata berat bermakna sebaliknya. Padahal kata ringan juga bisa bermakna rapuh dan kata berat bermakna kuat dan kokoh. Kata pemerintah digambarkan lebih baik dibandingkan dengan kata rakyat. Kata pemerintah seakan bermakna berkuasa dan bertanggungjawab sedangkan kata rakyat seakan berkesan orang-orang yang banyak menuntut dan mudah tersulut. Padahal kata pemerintah juga bisa berkesan semena-mena dan kata rakyat sebagai orang kecil dan tidak berdaya.

Kata polisi di dalam teks juga berkesan lebih baik dibanding kata demonstran. Kata polisi seakan memiliki makna orang yang menjaga ketertiban dan melindungi masyarakat sedangkan kata demonstran sebagai orang-orang yang rusuh dan perusak. Padahal kata polisi juga bisa dilihat sebagai pekerjaan yang sewenang-wenang dan demonstran adalah kelompok pembela kepentingan rakyat.

Kata mendinginkan di dalam teks juga terlihat lebih baik dibandingkan kata

ngompori. Kata mendinginkan berkesan menenangkan dan kata ngompori bermakna sebaliknya. Padahal kata mendinginkan bisa bermakna mengacuhkan sedangkan ngompori bisa bermakna memberikan semangat.

Tabel 1 berisi oposisi biner dari cerpen “Profesor Pogob”. Bagian kiri tabel menunjukkan kata-kata yang menggambarkan kubu pertama dan bagian kanan adalah kubu kedua. Bagian kiri menunjukkan bahwa struktur di dalam teks cenderung berpihak kepada pihak dari kubu pertama. Keberpihakan ini terlihat dari makna yang terdapat pada bagian kiri tabel memiliki keunggulan tersendiri terhadap makna yang berada di bagian kanan tabel. Keberpihakan itulah yang mengakibatkan goyahnya pemaknaan di dalam cerpen.

Meskipun pemaknaan kata di dalam teks cerpen sudah teridentifikasikan, tetapi masih ada kata yang tidak bisa ditentukan keberpihakannya. Kata tersebut ialah kata koruptor. Hal tersebut terlihat pada dua kutipan berikut.

“...Tidak semua koruptor harus dihukum berat. Sangat banyak dari mereka adalah aset bangsa. Kalau mereka semua masuk penjara, negara kita akan macet. Perkara mereka korup satu atau dua miliar, ya tidak masalah.

Uang segitu terlalu rendah dibanding jasa-jasa tinggi mereka terhadap Republik Bragallbaz!...” (Tranggono, 2019)

“...Sementara itu, gembong-gembong koruptor terus mengasah pisau untuk merobek urat nadi jutaan orang miskin yang pontang-panting dihajar penderitaan karena negara sangat jarang hadir dalam hidup mereka.”

(Tranggono, 2019)

Kutipan pertama dan kedua memiliki makna yang berbeda terhadap kata koruptor. Pada kutipan pertama dijelaskan bahwa koruptor memiliki peran yang penting terhadap Negara Republik Bragallbaz. Ketidakhadiran para koruptor memiliki dampak yang besar terhadap negara. Kutipan tersebut juga menjelaskan bahwa koruptor harus diselamatkan demi kepentingan negara.

Berbeda dengan kutipan pertama, kutipan kedua menggambarkan kekejaman para koruptor. Kutipan itu memperlihatkan bahwa koruptor adalah orang yang jahat karena rela menyengsarakan orang miskin yang sudah menderita.

Hal tersebut membuat pemaknaan kata koruptor pada kutipan pertama dan kedua berlawanan. Pemaknaan kata koruptor tidak pasti antara orang yang penting dan harus diselamatkan demi kepentingan negara atau orang yang kejam dan sadis yang rela menindas orang lemah. Hal tersebut membuat kata koruptor undecidable dan tidak utuh.

Setelah menemukan oposisi biner di dalam teks, dapat disimpulkan bahwa cerpen “Profesor Pogob” memiliki dua kubu beserta hierarki metafisiknya. Kubu pertama adalah kubu yang memihak koruptor, yaitu Profesor Pogob, Pemerintah Negara Republik Bragallbaz, Dewan Perwakilan Tinggi Rakyat, dan para koruptor.

Kubu ini mendukung undang-undang tersebut karena mendapatkan keuntungan dan tujuan tertentu. Hal tersebut terlihat dalam kutipan-kutipan berikut.

“SENYUM Profesor Pagob berulang kali mengembang, saat menatap dada monitor handphone android-nya. Di medsos, kata-kata kasar, umpatan, caci-maki, bahkan kutukan bertaburan menghajar dirinya. Juga foto dan gambar yang merendahkan martabatnya. Namun, dia tetap tersenyum. “Dalam demokrasi rakyat punya hak marah. Demokrasi semakin cepat matang di tangan rakyat yang progesif.” Dia membatin. (Tranggono, 2019)

“Undang-undang tindak pidana korupsi yang berlaku sekarang ini justru bagus. Memanusiakan koruptor. Tidak semua koruptor harus dihukum berat. Sangat banyak dari mereka adalah aset bangsa. Kalau mereka semua masuk penjara, negara kita akan macet. Perkara mereka korup satu atau dua miliar, ya tidak masalah. Uang segitu terlalu rendah dibanding jasa-jasa tinggi mereka terhadap Republik Bragallbaz!” ujar Prof Pagob dalam jumpa pers di Istana.” (Tranggono, 2019)

“Berkali-kali Prof Pagob berani pasang badan demi membela rezim berkuasa. Ia pun rela jadi sansak. Dipukuli. Dimaki. Diludahi. “Aku memang bukan idealis seperti para pemimpi tolol,” Prof Pagob tertawa.”

(Tranggono, 2019)

Kutipan pertama merupakan paragraf pembuka di dalam cerpen. Kutipan itu langsung menunjukkan sifat dan gambaran Profesor Pogob di dalam cerita.

Profesor terlihat sabar dalam menghadapi berbagai makian, bahkan dia justru tersenyum melihat makian itu. Menurut Profesor Pogob, amarah merupakan hak rakyat untuk menjadi rakyat yang progesif dan mematangkan demokrasi. Hal ini menunjukkan kepandaian Profesor Pogob dalam memandang sesuatu, karena dia memikirkan beberapa langkah ke depan. Selain itu, kutipan itu juga menunjukkan sisi heroik dari Profesor Pogob, yaitu ketika dia rela dimaki demi kemajuan demokrasi di negara itu.

Kutipan kedua menceritakan pembelaan Profesor Pogob terhadap undang-undang tindak pidana korupsi. Profesor Pogob berpedapat bahwa memanusiakan koruptor lebih penting daripada menghukumnya dengan hukuman berat. Menurut dia, koruptor mempunyai jasa yang besar terhadap Republik Bargallbaz dibanding dengan milyaran uang yang dikorupsi.

Kutipan ketiga menceritakan tentang Profesor Pogob yang berani melindungi rezim penguasa, bahkan dia rela mengorbankan fisik dan kehormatannya. Profesor Pogob juga menjelaskan sendiri bahwa dirinya bukan orang yang idealis dan pemimpi. Dari keseluruhan cerita bisa disimpulkan bahwa Profesor Pogob bersifat sebaliknya. Dia adalah orang yang praktis dan realistis.

Berbeda dengan kutipan mengenai Profesor Pogob, para koruptor di cerita justru memiliki peran yang tidak begitu banyak. Akan tetapi, diceritakan bahwa para koruptor adalah orang yang juga tahu cara membalas budi. Hal tersebut terbukti dari kutipan berikut.

“Para koruptor tersenyum. Mereka rela mengirim uang ke rekening Prof Pagob...” (Tranggono, 2019)

Kubu kedua adalah kubu yang berisikan demonstran dan mahasiswa. Kubu yang melawan undang-undang tindak pidana korupsi. Cerita di dalam cerpen menunjukkan bahwa rakyat beserta mahasiswa adalah orang-orang yang mudah tersulut emosi dan merusak. Hal tersebut dibuktikan dengan kutipan-kutipan berikut.

“Amuk massa, terutama mahasiswa, tumpah di jalan-jalan. Ratusan korban jatuh disambar timah panas atau dihajar polisi.” (Tranggono, 2019)

“Emosi para demonstran terbakar. Mereka ngamuk. Merusak fasilitas umum. Polisi bergerak. Terjadi gesekan. Korban-korban pun berjatuhan.” (Tranggono, 2019)

Berdasarkan kutipan pertama, demonstran mengamuk atas undang-undang tindak pidana korupsi. Hal itu menyebabkan polisi turun dan menyambar mereka dengan peluru dan menghajarnya. Kutipan kedua juga menunjukkan amukan demonstran akibat pernyataan Profesor Pogob. Hal tersebut menunjukkan betapa mudahnya emosi mereka tersulut dan berakhir dengan kekerasan. Tindakan itu pula yang menyebabkan jatuhnya banyak korban.

Dokumen terkait