• Tidak ada hasil yang ditemukan

ORANG BERKEPALA GEDE

Dalam dokumen BENDEMATARAM-H.PRATIKTO (Halaman 110-138)

9

ORANG BERKEPALA GEDE.

MALAM itu jadi Sangaji berpesta. Tak kuasa ia ingin membanggakan pengalamannya pergi berburu dengan keluarga Kapten de Hoop di hadapan gurunya yang sedang kecewa. Ketika pulang ke rumah, masakanpun belum siap. Baru keesokan harinya daging rusa telah tersulap menjadi beberapa macam masakan yang sedap menusuk hidung.

Namun Sangaji kehilangan nafsu makan. Ia duduk berjuntai di atas kursi. Pandangannya berkelana di kejauhan. Rukmini heran menyaksikan perangai anaknya. Sebagai seorang ibu tahulah ia kalau anaknya sedang berduka. Pikirannya menduga-duga, semalam ia kelihatan gembira kenapa sekarang berubah dengan tiba-tiba?”

Didekati anaknya dan ia berkata sayang, “Mana gurumu? Apakah mereka tak datang hari ini?” Dengan pendek Sangaji menjawab, “Guru sedang sibuk benar.”

Sehabis berkata demikian, Sangaji meninggalkan rumah. Ia menuju ke tepi pantai dan mulai berlatih dengan sungguh-sungguh. Matahari yang merangkak-rangkak tak peduli dari timur ke barat tak diindahkan. Ia seperti kemasukan setan. Tenaganya penuh dan terus berputar-putar tiada mengenal hari sampai terdengar suara menegor, “Sejam lagi napasmu bisa putus.”

Sangaji mengenal suara siapa itu. Ia menoleh dan gurunya berdiri berseri-seri tak jauh dari tempatnya. Segera ia menghampiri dan membungkuk memberi hormat.

“Eh, Sangaji! Mengapa semalam tak bilang, kalau kamu mau mengundang kami berpesta?” kata Jaga Saradenta dengan wajah berseri-seri. “Ibumu sampai memerlukan datang ke pondok

sendiri.”

Sangaji heran bercampur girang mendengar kata-kata gurunya. Cepat ia menghaturkan maaf dan berkata kalau ia tak berani mengundang berpesta karena mereka sedang sibuk.

“Ayo pulang!” ajak Wirapati kemudian. Dan mereka bertiga lalu pulang bersama. Di rumah Rukmini menjemput mereka dengan gembira. Pesta daging rusa akhirnya dapat juga

diselenggarakan dengan bernapas kegirangan dan keriangan.

“Mulai besok kamu akan benar-benar sibuk,” kata Jaga Saradenta. “Kami berdua telah menyusun rencana pelajaran. Barangkali terlalu berat untukmu.”

“Bagaimana beratnya aku akan mencoba,” sahut Sangaji girang.

Dan sesungguhnya apa yang dikatakan Jaga Sarandeta benar belaka. Pelajaran gerak badan dan ilmu-ilmu yang diturunkan semenjak itu bukan main sulitnya. Semuanya jauh berbeda dengan apa yang pernah dipelajari dua tahun yang lalu. Kali ini benar-benar meminta tenaga dan

kesungguhan. Tubuhnya cepat letih dan bergemetaran. Namun ia tak berani mengeluh di depan kedua gurunya yang bersikap garang dan memaksa, la mencoba dan akhirnya hampir kehilangan napas. Mendadak terdengarlah suara riang menusuk telinganya,

“Sangaji! Kau disiksa guru-gurumu lagi?”

Sangaji terkejut dan cemas. Yang datang ialah si Sonny. Gadis itu tak tahu, kalau kedua gurunya kini bersikap garang. Karena cemas ia sampai menggigit bibirnya. Lalu menyahut setengah memohon, “Sonny! Biarkan aku di sini dulu. Nanti aku bertandang ke rumahmu.”

“Ayah memanggilmu,” sahut Sonny tak per-duli.

'Ya—bilanglah, aku lagi sibuk. Sebentar lagi aku datang.”

“Mengapa begitu? Tidak senang ya aku datang menjengukmu berlatih?” “Sonny! Benar-benar aku sedang sibuk.”

Sonny mencibirkan bibirnya. Ia kemudian duduk di atas tanah. “Aku akan menunggu kamu di sini sampai latihanmu selesai.”

Benar-benar hati Sangaji risau diperlakukan demikian oleh Sonny. Sonny seorang gadis Indo yang polos dan bebas. Sedang kedua gurunya memegang teguh tata-susila ketimuran. Ketika ia melihat hadirnya si gadis, mereka nampak kurang senang. Segera mereka memanggil Sangaji dan diajaknya pergi menjauhi. Di sana mereka mencoba memberi latihan-latihan baru.

Tetapi bagaimana mereka bisa memasukkan semua ajarannya dalam waktu singkat. Selain ajaran-ajarannya sangat sulit tenaga Sangaji kian lama kian menipis. Akhirnya mereka mengeluh dan meninggalkan lapangan latihan dengan masgul.

Menyaksikan perangai kedua guru Sangaji, Sonny nampak geli. la tertawa panjang dan matanya bersinar-sinar. Katanya, “Kamu disesali gurumu? Aku senang melihatmu kena dampratan.”

Sangaji sedih bukan kepalang. Dengan napas tersengal-sengal ia menyahut, “Sonny! Mengapa kamu menggangguku sedang berlatih. Waktuku tinggal sedikit.”

“Kamu mau ke mana, sih? Apa perlu kamu begitu tekun berlatih berkelahi? Apa mau jadi seorang jagoan?”

Dihujani pertanyaan demikian hati Sangaji jadi kalang-kabut. Ia berputar mengungkurkan sambil membentak, “Sonny! Mulai hari ini maukah kamu menjauhi diriku?”

Sonny terperanjat dibentak demikian. Belum pernah sekali juga Sangaji berbicara sekeras itu. “Apakah aku mengganggumu? Aku datang ke mari semata-mata untuk kepentinganmu. Ayah memanggilmu. Apa aku salah menyampaikan kabar ini?”

Sangaji terhenyak mendengar ujar Sonny yang kekanak-kanakan. Terpaksa ia menyabarkan diri sambil menelan ludah. Tatkala hendak membuka mulut, Sonny mendahului, “Baiklah, kalau kamu tak suka berkawan denganku, mulai hari ini aku takkan menghampiri dirimu lagi.”

Sangaji terperanjat, la tahu watak Sonny polos. Apa yang dikatakan membersit dari hati

nuraninya. Karena itu, buru-buru ia menghampiri sambil berkata menyanggah, “Sonny! Janganlah kamu salah paham. Dengarkan, aku berbicara.”

Ia kemudian membujuk agar Sonny mengerti masalahnya. Tetapi tentang masa pertandingan dua tahun yang akan datang tak diterangkan.

Sonny dengan cepat dapat menerima semua penjelasan Sangaji. Ia kemudian berjanji tidak akan datang mengganggu lagi. Tetapi hari itu Sangaji harus ikut menghadap ayahnya.

Di rumah Sonny ternyata banyak juga kawan-kawan Sonny yang datang. Hari itu hari ulang tahun Sonny yang ke-18. Ayahnya memberi hadiah bermacam-macam benda kesayangan. Sonny mengucapkan terima kasih.

“Ayah, pada hari ulang tahun ini bolehkah aku mengatakan suatu permohonan?” “Tentu, tentu!” sahut ayahnya cepat.

“Pertama-tama, maukah Ayah membentuk regu pemburu. Kedua, aku minta hadiah sepucuk senapan berburu. Dan senapan itu akan kuhadiahkan kepada kawanku Sangaji. Ternyata dia pandai menembak dengan tidak ada celanya.”

Permohonan Sonny ini disambut dengan tepuk tangan riuh oleh kawan-kawannya. Ternyata ayahnya mengabulkan permintaannya dan mengangkat Sangaji menjadi salah seorang anggota regu pemburu. Sangaji merah padam karena segan dan malu. Tetapi Sonny sebaliknya

bergembira. Ia datang menghampiri dan membawanya berdiri di depan kawan-kawannya. Kemudian dia mengajak kawan-kawannya bernyanyi sebagai lagu kehormatan pelantikan itu.

Mau tak mau Sangaji harus membagi waktunya. Latihan-latihan gurunya yang makin lama makin berat tak dapat ditekuni secara penuh, karena pada setiap hari Minggu wajib ia berangkat berburu bersama keluarga Kapten de Hoop.

Waktu itu bulan pertama tahun 1803. Satu tahun lagi hari pertandingan bakal tiba. Meskipun Sangaji lebih maju daripada tahun yang lampau, tetapi kemajuannya terasa lambat. Pada suatu hari ia berada lagi dalam hutan perburuan. Semalam dia baru menerima jurus ke-36 dari Wirapati. Jurus itu indah, tetapi sulit luar biasa. Untuk dapat menirukan gayanya saja dia harus sanggup berlaku sebat dan gesit. Ia selalu merasa gagal, karena itu, hari-hari perburuan yang biasanya bisa membangkitkan suatu kegembiraan terasa menjadi tawar.

Ia kemudian menyisihkan diri dari mereka. Dengan membawa senapannya ia berdiri di tepi jurang. Kemudian mulailah dia berlatih jurus ke-36. Ia gagal lagi dan gagal lagi. Sekonyong-konyong terdengarlah suara dingin di belakangnya.

“Seratus tahun lagi masa kamu tidak berhasil.”

Sangaji menoleh. Ia melihat seorang laki-laki bertubuh kekar. Kulitnya hitam legam. Rambutnya terurai panjang. Kepalanya gede. Matanya tajam dan mulutnya berbibir tebal.

“Apa katamu?” kata Sangaji heran.

Laki-laki itu tersenyum. Tak lagi ia mengulangi ujarnya. Sekonyong-konyong menubruk dengan suatu kehebatan mengagumkan. Tahu-tahu tubuh Sangaji menjadi kaku dan tak bergerak lagi.

Sangaji pernah melihat kegesitan Wirapati empat tahun yang lalu. Sebenarnya tak perlu ia kagum pada kegesitan laki-laki itu. Tetapi yang diherankan ialah, gerakan laki-laki itu adalah jurusnya ke-36. Jurus itu dapat dilakukan dengan gampang dan sempurna.

“Nah, lihat! Apa susahnya?” katanya sambil tersenyum. Kemudian ia bergerak lagi

membebaskan rasa kaku Sangaji. Setelah itu menyambar batang pohon dan memanjat dengan cepat seperti seekor kera. Berpindah-pindah dari dahan ke dahan dan melompat-lompat tanpa menerbitkan suatu suara.

Ketika itu Sonny tiba-tiba muncul pula tak jauh daripadanya. Gadis itu ternganga-nganga menyaksikan kehebatan laki-laki itu. Dengan menahan napas tubuhnya tak bergerak. Mendadak saja laki-laki berkepala gede itu melayang mau menubruk si gadis.

Sangaji terperanjat. Cepat ia melompat menghadang di depan Sonny dan siap melontarkan serangan maut yang dipersiagakan Wirapati untuk menghadapi serangan Pringgasakti. Tetapi ternyata laki-laki berkepala gede itu tak meneruskan menubruk. Ia melesat dan melompati jurang pulang balik.

Sonny memejamkan mata. Tak tahan ia menyaksikan laki-laki itu melompati jurang. Sebab jika tak berhasil, tubuhnya pasti akan jatuh hancur luluh di bawah sana.

“Bagaimana? Apakah dia ...” tanyanya perlahan.

“Lihat! ia meloncat-loncat begitu gampang,” sahut Sangaji.

Mendengar keterangan Sangaji, Sonny membuka matanya. Justru pada waktu itu ia melihat tubuh laki-laki berkepala gede seolah-olah terpeleset dari tebing jurang dan tubuhnya terpelanting jatuh ke bawah.

Sonny memekik. Sekonyong-konyong terasalah kesiur angin. Tahu-tahu laki-laki berkepala gede itu telah berada di hadapannya, la tertawa lebar sambil berkata, “Kamu mestinya harus bisa

bergerak begini wajar.”

Waktu itu di atasnya bergerak sepasang lutung kira-kira berumur satu tahun. Laki-laki gede itu lantas saja melesat menangkap kedua lutung tersebut. Dengan tertawa ia menyerahkan kedua lutung itu kepada Sonny dan Sangaji.

“Inilah buah tanganku. Masing-masing seekor. Peliharalah dengan baik-baik. Di kemudian hari akan banyak manfaatnya.”

Sonny kegirangan. Segera ia mau menerimanya, tapi laki-laki berkepala gede itu berkata lagi, “Kalian harus berjanji dulu. Kalian kularang mengabarkan kepada siapa pun juga tentang diriku. Kalian kularang juga menceritakan perwujudanku. Kalian berjanji?”

Sonny berwatak polos. Lantas saja dia memanggut. Sedang Sangaji sibuk menebak-nebak siapakah laki-laki itu.

Sonny kemudian menerima kedua ekor lutung itu dan dibawa lari menjauh, la bermaksud hendak kembali dulu ke perkemahan. Sangaji mengawaskan dengan mulut ternganga-nganga, kemudian diam-diam memuji ketangkasan laki-laki berkepala gede.

Laki-laki berkepala gede mengawaskan dirinya, lalu bergerak hendak meninggalkan. Sangaji buru-buru menyanggah.

“Aki...! Janganlah pergi dahulu!”

Laki-laki itu memang pantas dipanggil aki, karena umurnya tak terpaut jauh dari Jaga Saradenta. Ia bergerak dan menghadap padanya.

“Mengapa?”

Sangaji menggaruk-garuk kepala. Sulit ia hendak mulai berbicara. Tapi hanya sejenak. Sekonyong-konyong ia membungkuk dan menangis terisak.

Laki-laki berkepala gede itu keheran-heranan. Tak dapat ia menebak maksud si bocah. Segera ia membangunkan.

“Kenapa kamu menangis?”

“Aki! Aku seorang anak bebal. Sudah kucoba jurus-jurus ini. Selalu saja aku gagal. Benar dugaan Aki, mungkin seratus tahun lagi aku belum berhasil.” Jawab Sangaji sambil berisak sedih.

“Ah! Itu yang kamu risaukan?” Sahut laki-laki berkepala gede. “Akupun akan mengalami nasib sepertimu juga kalau hanya berlatih secara wajar”

“Apakah gerakan-gerakan Aki yang begitu gesit tidak wajar?” Sangaji heran sambil membersihkan air matanya.

“Justru itulah gerak-gerakan wajar. Menurut perasaanku aku bergerak secara wajar sekali. Napasku tak usah memburu. Tak perlu pula aku mengeluarkan tenaga.” Keterangan laki-laki berkepala gede itu mengherankan Sangaji sampai mulutmya ternganga. Katanya meninggi, “Bagaimana mungkin tak mengeluarkan tenaga?”

“Benar tak mengeluarkan tenaga. Aku tidak bohong.”

“Bukan aku tak percaya kepada keterangan Aki, tapi... aku sudah lama menyusahkan kedua guruku. Ingin aku menyenangkan hati beliau berdua. Siang dan malam aku berlatih., tapi selalu saja aku...”

“Apa kamu ingin saranku?” potong laki-laki berkepala gede. “Benar,” sahut Sangaji bersemangat sambil memanggut-manggut.

Laki-laki berkepala gede itu tersenyum lebar. “Kulihat kamu jujur dan benar-benar berlatih, hanya saja belum menemukan suatu kemukjijatan. Begini saja, tiga hari lagi aku ada di tepi pantai. Aku akan membawa sebuah sampan. Datanglah pada tengah malam. Aku akan membawamu pergi.”

“Aku mau dibawa ke mana?” Sangaji bertanya tinggi.

“Itupun kalau kamu berhasil melompat dari pantai ke dalam sampanku. Kalau tidak, jangan lagi berharap berjumpa denganku,” kata laki-laki berkepala gede mengesankan. Setelah itu ia melesat meloncati jurang dan lenyap di tebing sana.

Sangaji kebingungan diperlakukan demikian. Teringatlah dia akan perlakuan Wirapati empat tahun yang lalu setelah memperlihatkan kepandaiannya. Akhirnya ia merasa diri yang tolol.

Katanya menyesali diri sendiri, Guru tak berada di sebelah bawah laki-laki itu. Diapun mengajarku dengan sungguh-sungguh. Ah, dasar aku yang tolol dan tak berguna...

Kemudian dia berlatih dengan bernafsu. Tapi jurus ke-36 tetap belum dapat dikuasai. Intisarinya belum tersentuh dan ia merasa gagal untuk kesekian kalinya. Dengan putus asa ia duduk berdiam diri di bawah pohon sampai Sonny datang menjenguknya.

Tiga hari kemudian Sangaji menerima ajaran jurus ke-14 dari Jaga Saradenta. Jurus itu kuat luar biasa dan sebentar saja menghabiskan tenaga. Baru saja berlatih empat lima kali napasnya sudah naik sampai ke leher, la makin sedih. Sekaligus ia merasa tak sanggup melakukan jurus ke-36 dan jurus ke-14 ajaran kedua gurunya.

“Sangaji! Jurus yang ingin kuwariskan kepadamu berjumlah 98,” kata Jaga Saradenta sungguh-sungguh. “Supaya dapat mengejar waktu kamu harus sudah dapat menguasai dua jurus untuk setiap minggunya.”

Mendengar keterangan Jaga Saradenta ia ter-longong-longong. Sembilan puluh delapan jurus! Banyak sekali! Baru jurus ke-14 napasnya sudah sesak dan merasa tak sanggup maju lagi. Belum lagi ditambah ilmu ajaran Wirapati yang berjumlah 165 jurus.

Karena hatinya tertekan-tekan, akhirnya teringatlah dia kepada pesan laki-laki berkepala gede. Ia menaruh harapan baru. Pada tengah malam berangkatlah dia seorang diri ke tepi pantai.

Waktu itu bulan gede. Laut sedang bergelombang besar. Di jauh sana nampaklah pelita perahu-perahu nelayan berkedipan. Di tepi pantai sunyi senyap. Hanya terdengar ombak berdebur tiada hentinya.

Sangaji terus mengawaskan tengah laut sambil berjalan menyusur pantai, la tak melihat sesuatu yang bergerak. Apakah dia tak datang, pikirnya. Di jauh sana dilihatnya segunduk batu karang. Sangaji mengira, laki-laki berkepala gede berada di balik batu karang. Maka bergegas ia menuju ke tempat itu. Tetapi sesampainya di atas gundukan karang suasananya sunyi sepi menyayat hati.

Ia berdiri tegak memutar penglihatan. Angin malam kian lama kian keras dan dingin menusuk tubuh. Mendadak dilihatnya suatu benda hitam mengambang di atas permukaan air. Benda itu laju sangat cepat dan melawan ayunan gelombang begitu angker. Kemudian terdengarlah suara

nyaring luar biasa. “Bocah! Itu kamu?”

Sangaji girang bukan kepalang sampai melompat-lompat kecil.

“Ya,” sahutnya. Tapi suaranya hilang ditelan deru ombak dan gelora angin. Sekarang ia baru merasa kagum dan tahluk kepada tenaga laki-laki berkepala gede yang suaranya saja dapat melawan deru ombak dan gelora angin.

Tapi laki-laki berkepala gede itu tajam pendengarannya. Meskipun suara Sangaji sangat lemah, pendengarannya dapat menangkap dengan jelas.

“Melompatlah!” Teriaknya dengan suara nyaring.

Sampannya ternyata berada dalam jarak dua puluh langkah dari gundukan batu karang. Sangaji berbimbang-bimbang. Pikirnya, bagaimana aku bisa mencapai sampan?

Tapi ia ingat pada pesan laki-laki berkepala gede itu. Jika tidak bisa mencapai sampannya, tidak ada harapan bisa berjumpa dengannya kembali. Padahal dia menaruh harapan kepadanya. Kalau kali ini gagal, semua ajaran kedua gurunya tidak ada gunanya lagi ditekuni. Walaupun ia

mengerahkan tenaga akan sia-sia belaka.

Memikir demikian timbullah kenekatannya. Pikirnya, lebih baik mati daripada menanggung kegagalan. Ia seorang anak yang berhati kukuh. Dulu dia berani mengadu nyawa ketika memutuskan untuk melindungi Willem Erbefeld semata-mata karena telah terdesak. Kini ia menghadapi persoalan yang bernada sama pula. Maka segera ia mundur beberapa langkah. Kemudian menjejak tanah dan melompati laut yang sedang bergelombang besar sambil memejamkan mata.

Tetapi bagaimana dia sanggup melompat sejauh dua puluh langkah, apalagi harus melawan deru angin yang sedang laju menusuk pedalaman? Ternyata dia hanya dapat melompat kurang lebih sebelas langkah saja. Tubuhnya lantas saja melayang ke bawah. Sekonyong-konyong ia merasa disambar suatu tenaga dahsyat. Kemudian ditolak tinggi dan jatuh jungkir balik tepat di

atas sampan. Sampan bergonyang-goyang. Tatkala ia membuka mata, laki-laki berkepala gede nampak berdiri bergoyangan di sampingnya.

“Terima kasih,” bisik Sangaji. Ia tahu, kalau laki-laki berkepala gede menolong dirinya.

“Bocah, kamu sungguh-sungguh bersemangat jantan,” kata laki-laki berkepala gede itu. “Mulai sekarang panggillah aku Ki Tunjungbiru.”

“Itulah nama Aki?”

“Sebenarnya itulah nama julukanku. Tapi biarlah kamu memanggilku begitu juga. Apa rugiku? Sekarang, ayo kita pergi.”

Perahu kemudian dikayuh melawan gelombang pasang. Tenaga Ki Tunjungbiru kuat luar biasa. Perahu seperti laju di atas permukaan telaga yang tiada gelombang.

“Kamu tahu ke mana kita mau pergi?” tanya Ki Tunjungbiru tiba-tiba.

Bagaimana Sangaji dapat menebak teka-teki itu. Selama hidupnya baru malam itu ia berpesiar di atas laut. Kalau saja tidak mabuk laut sudah untung baginya.

Ki Tunjungbiru tertawa dengan kepala mendongak. “Jauh di sana ada sebuah pulau yang berada di antara gugusan pulau-pulau. Pulau itu bernama Edam. Ha—kita ke sana. Kau nanti bakal melihat dan merasakan bagaimana mulai malam ini kamu akan menjadi manusia baru.”

Sangaji terlongong-longong keheranan. Benaknya mulai menduga-duga siapakah Ki

Tunjungbiru sebenarnya. Ia hanya melihat perawakan tubuhnya yang menyolok dibandingkan dengan manusia-manusia yang pernah dijumpainya. Gerak-geriknya diliputi penuh rahasia. Apakah dia manusia buruk atau berbudi, tak dapat ia memperoleh pegangan. Hanya selama dia

berkenalan, ia selalu menunjukkan sikap yang baik. Pertama-tama, dia ditunjukkan kelemahannya. Kedua, diberi hadiah seekor lutung. Ketiga, menolong dirinya di atas permukaan laut.

“Siapakah namamu?” tiba-tiba dia bertanya. “Sangaji.”

“Bagus!” orang itu gembira. “Kulihat kamu memiliki dua macam kepandaian yang mempunyai sumber berbeda. Pastilah gurumu dua orang.”

Sangaji mengangguk.

“Kedua gurumu bukan orang-orang lemah. Aku tahu dengan pasti. Karena itu, aku tak sudi kau angkat menjadi gurumu. Lagi pula andaikata aku mengambilmu sebagai murid, pastilah akan menyinggung kehormatan gurumu.”

“Tetapi, bukankah Aki akan memberi ajaran kepadaku?”

'Tidak! Sama sekali tidak! Aku hanya memberi petunjuk-petunjuk belaka.”

Kembali lagi Sangaji menebak-nebak maksud Ki Tunjungbiru yang penuh teka-teki. Tetapi tetap ia merasa seperti diselubungi kabut tebal. Akhirnya ia menyerah. Pikirnya, baik kulihat apa yang akan dilakukan padaku.

“Pernahkah kamu mendengar penjelasan tentang suatu kemukjizatan?” ujar Ki Tunjungbiru. “Kemukjizatan apa itu?” sahut Sangaji tak mengerti.

“Bahwa ada kecenderungan untuk menambah tenaga dan kegesitan tubuh dengan pertolongan khasiat sesuatu dari luar?”

Sangaji mengernyitkan dahi. Sibuk ia menebak teka-teki itu. Tetapi ia tak mengerti.

“Aki! Berkatalah yang jelas. Otakku terlalu bebal untuk dapat menebak-nebak hal-hal yang masih asing bagiku.” Jawab Sangaji tak mengerti.

“Otakmu tidak bebal. Hanya hatimu jujur dan bersih. Itulah yang menyebabkan kamu berpikir terlalu sederhana,” kata Ki Tunjungbiru. “Dengarkanlah! Di kolong langit ada suatu ajaran-ajaran ilmu yang dianggap sesat oleh mereka yang menekuni ilmu-ilmu sejati. Kamu seorang murid dari aliran sejati. Meskipun tak boleh kamu mempelajari ilmu sesat, setidaknya harus mengenal jenisnya. Umpamanya ada suatu ilmu sesat untuk menambah tenaga jasmani dengan menghisap darah seorang gadis atau memperkosanya sekali. Ada pula...”

Sangaji terperanjat mendengar ujar Ki Tunjungbiru. Sekelebatan teringatlah dia kepada tutur kata kedua gurunya, kalau mereka mempunyai seorang musuh sakti yang seringkali menghisap darah seorang gadis untuk menambah tenaga jasmaninya. Teringatlah kepada tutur kata kedua gurunya, meremanglah sekujur badannya. Dengan pandang curiga ia mengawaskan tubuh Ki Tunjungbiru. Apa dia Pringgasakti, pikirnya.

Dia tertawa berkakakkan sambil berkata, “Aha... aku tahu apa yang kaupikirkan. Pastilah kamu mengira aku mau mengajarimu menghisap darah seorang gadis. Dalam hal ini lapangkan dadamu. Tidak ada niatku untuk mengajarimu ilmu sesat. Maksudku tadi hanya ingin menceritakan

kepadamu tentang salah satu macam ilmu sesat yang pernah didengar orang. Memang kamu mau kuajar menghisap sesuatu agar tubuhmu menjadi kuat perkasa tiada tara.”

Dalam dokumen BENDEMATARAM-H.PRATIKTO (Halaman 110-138)

Dokumen terkait