• Tidak ada hasil yang ditemukan

Orang tidak bisa menjadi “besar” dan melakukan hal-hal yang

A NCAMAN , M ISTIK , P ENGHUNI M ARS ATAU M ESIAS ?

2. Orang tidak bisa menjadi “besar” dan melakukan hal-hal yang

Yesus lakukan. Dia menawarkan untuk mengampuni dosa orang-orang lain (termasuk pelanggaran-pelanggaran yang tidak dilakukan terhadap diri-Nya). Yesus membiarkan orang-orang lain menyembah-Nya. Dia mengajarkan bahwa hidup kekal seseorang tergantung pada apa yang dipikirkan orang itu secara pribadi tentang Dia. Orang besar (yang hanya seorang manusia) tidak akan melakukan hal-hal itu.

Yesus tidak bisa serta merta menjadi orang besar jika Dia mengaku sebagai Allah padahal tidak demikian. Pemikir Kristen C. S. Lewis membuat komentar yang berwawasan luas ini:

Anda bisa menyuruh-Nya diam bagaikan orang bebal, Anda bisa meludahi-Nya dan membunuh-Nya sebagai orang yang mengkhayal-kan dirinya sebagai Allah, atau Anda bisa tersungkur di kaki-Nya dan memanggil-Nya Tuhan dan Allah. Namun, marilah kita tidak semba-rangan menyebut-Nya sebagai guru besar umat manusia. Dia tidak membiarkan kita menyebut-Nya demikian dan Dia tidak ingin disebut demikian.17

Jadi, jika Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Allah (sebagaimana disampaikan oleh dokumen-dokumen sejarah yang sudah terbukti), padahal hanyalah seorang manusia, maka Dia mungkin orang yang bermoral buruk atau orang yang sakit jiwa. Namun, Dia pasti bukan orang besar.

Yesus mengaku sebagai Mesias yang Ilahi, padahal Dia tahu diri-Nya bukan Mesias. Karena itu, Dia sengaja menipu dan menyebarkan ancaman yang jahat.

Kalau Yesus mengatakan dan melakukan hal-hal yang dilakukan-Nya tadi, padahal Dia tahu Dia hanya manusia biasa, maka Dia seorang manusia yang sangat jahat. Penipuan spiritual yang disengaja mungkin merupakan jenis penipuan yang terburuk. Namun, dengan mengingat segala sesuatu yang diketahui tentang Yesus dari Nazaret, maka anggapan bahwa Dia merupakan ancaman yang jahat menciptakan kejanggalan yang sangat serius. Yesus yang digambarkan di dalam Injil mencermin-kan karakter pribadi dan moral yang patut dicontoh, yang melampaui kondisi moral manusia yang lemah dan tidak sempurna.

Selama tiga tahun pelayanan-Nya, Yesus secara konsisten menangani dilema-dilema moral yang menantang, tekanan-tekanan pribadi yang luar biasa, dan mengalami keadaan-keadaan yang sangat sulit termasuk penyik-saan fisik dan bahkan kematian. Namun, Dia tidak pernah menunjuk-kan kelemahan moral apa pun atau salah satu dari berbagai keburumenunjuk-kan yang begitu umum dilakukan oleh umat manusia.

Para pendusta, terutama yang kejam, hampir selalu meninggalkan petunjuk tentang motivasi mereka yang sebenarnya—biasanya di antara kalangan sendiri dan terutama ketika berada di bawah tekanan yang berat. Namun, teman-teman terdekat dari Yesus dan bahkan beberapa musuh-Nya bersikeras bahwa Dia menghadapi setiap keadaan dengan keberanian, kejujuran, dan kebajikan moral yang gemilang (Kis. 3:14; 1Pet. 2:22-23; 1Yoh. 3:4-5). Berbeda sekali dengan pendusta-pendusta lain, Yesus sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda termotivasi oleh kekayaan, ketenaran, kekuasaan, atau kesenangan. Sebaliknya, cinta, kebenaran, dan keadilan diperlihatkannya di dalam hidup-Nya yang menakjubkan. Memandang Yesus sebagai seorang penipu sungguh ber-tentangan dengan karakter-Nya yang tak bercacat serta pemikiran dan pengajaran moral-Nya yang sangat mendalam.

Teladan dan pengajaran moral Yesus menjadi dasar bagi banyak teori etika yang dianut dan dipraktikkan di seluruh peradaban Barat. Dia, secara luas dianggap, bahkan oleh orang-orang non-Kristen, sebagai pola ideal kebajikan moral. Apakah masuk akal jika kita menyimpulkan bahwa orang yang memberikan dampak sedemikian besar dalam sejarah manusia mengenai kebajikan moral, ternyata adalah seorang pembohong besar? Sejarah, penalaran, dan akal sehat dengan jelas menyatakan tidak!18

Bagi mereka yang telah meneliti kehidupan Yesus, jauh lebih mudah menerima Dia sebagai Mesias daripada menyimpulkan bahwa Dia sebagai penipu moral dan spiritual. Hipotesis penjelas ini sangat lemah dan karena itu sangat mustahil.

Yesus mengira diri-Nya Mesias, padahal bukan. Dia penderita psikosis yang delusif, orang gila.

Orang-orang yang mengaku sebagai Allah pada umumnya berada di lembaga pemulihan kesehatan mental. Delusi keagungan adalah gejala gangguan mental berat yang membuat orang kehilangan kontak dengan

realitas. Apakah Yesus menunjukkan tanda-tanda kekacauan seperti itu? Apakah ada indikator ketidakstabilan emosional dalam hidup-Nya seperti dalam kasus orang-orang yang menderita penyakit jiwa?

Dari semua orang, Yesus tampaknya sangat menguasai realitas. Secara konsisten Dia menunjukkan stabilitas mental dan emosional yang mendalam. Dalam setiap krisis yang dihadapi-Nya—entah diejek dan diinterogasi oleh musuh-musuh-Nya atau menjalani penyiksaan penya-liban yang mengerikan—pikiran Yesus mencerminkan kejelasan, kete-nangan, dan didasarkan pada stabilitas emosional yang luar biasa. Boleh dikatakan sebagai guru terhebat di dunia, Dia selalu berpikir logis dan koheren, pikiran-Nya jelas dan bicara-Nya fasih. Yesus mengatasi setiap kesempatan dengan luwes, tenang, kuat, dan seimbang. Perhatikan apa yang dikatakan tentang Yesus oleh orang-orang yang mengamati-Nya dengan saksama ketika Dia bekerja sebagai guru, pengkhotbah, dan pembuat mukjizat.

“Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka seba-gai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Mat. 7:28-29).

“Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: ‘Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk menga-dakan mujizat-mujizat itu?’” (Mat. 13:54).

“Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” (Yoh. 7:46).

Bahkan musuh-musuh-Nya kagum pada pengajaran dan otoritas Yesus yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Orang-orang yang mengenal dan mengamati-Nya tidak memberikan kesan sedikit pun bahwa mereka berpikir Yesus tidak seimbang secara psikologis.

Namun, mungkin Yesus tidak perlu menjadi orang gila yang meracau agar sudut pandang yang benar memiliki beberapa kekuatan penjelas. Mungkin Yesus hanya salah mengungkapkan jati diri-Nya sebagai Allah, namun Ia pada dasarnya masih waras. Penyakit jiwa bukan berbicara tentang pernyataan yang diterima atau ditolak. Sebaliknya, ketidak-stabilan mental diukur berdasarkan tingkat keparahannya. Tokoh-tokoh

agama lainnya telah membuat pernyataan-pernyataan Ilahi (Father Di-vine, Jim Jones, David Koresh), tetapi mereka juga tidak tampak benar-benar gila. Jadi, tidak mungkinkah Yesus hanya keliru tentang jati diri-Nya namun tidak gila? Seperti halnya banyak orang jenius, mungkin Dia hanya eksentrik, aneh, atau sedikit gila saja.

Filsuf Kristen Ronald Nash menjelaskan hipotesis ini, “Ada kesa-lahan-kesalahan kecil dan juga kesakesa-lahan-kesalahan besar, yang benar-benar besar.”19 Jika seorang rabi Yahudi abad I yang mulai belajar ajaran monoteisme Taurat yang keras menyebut diri-Nya Allah, tentu hal ini merupakan kesalahan besar. Bahkan, kesalahan sebesar ini pasti akan dirasakan di dalam Yudaisme sebagai pernyataan yang menghujat, dan karena itu ia akan dijatuhi hukuman mati (Im. 24: 13-16). Jika Yesus keliru tentang diri-Nya sebagai Mesias Israel, maka hal itu merupakan penyimpangan realitas yang serius. Seorang apologet Kristen, John Warwick Montgomery bertanya, “Kemunduran realitas apa yang lebih besar daripada percaya pada keilahian seseorang yang ternyata bukan Allah?”20

Meskipun pemimpin-pemimpin sekte tertentu telah menyebut diri sebagai Allah, ada banyak bukti kuat bahwa mereka sengaja menipu. Father Divine, Jim Jones, David Koresh, semuanya memberikan tanda-tanda yang sangat jelas bahwa mereka telah didorong oleh kombinasi keserakahan, kekuasaan, dan nafsu seksual. 21 Dan tidak satu pun dari para pemimpin sekte ini dapat dibandingkan dengan Yesus dalam hal kebajikan intelektual dan moral, apalagi dalam hal mandat Ilahi (mukjizat, nubuat yang digenapi, kebangkitan).

Namun, bagaimana dengan para pemimpin agama yang berbudi luhur, yang membuat klaim religius yang luar biasa? Sebagai contoh, Dalai Lama, pemimpin biksu Tibet, mengaku sebagai Bodhisattva (inkarnasi yang keempat belas dari tokoh yang menyerupai Buddha).22 Namun, karena pernyataan yang agung ini, ia menerima Hadiah Nobel Perda-maian pada tahun 1989. Tidakkah ia membuktikan bahwa pernyataan-pernyataan keagamaan yang luar biasa tidak perlu disamakan dengan kegilaan?

Sebenarnya situasi Yesus berbeda dengan Dalai Lama dalam tiga hal penting. Pertama, meskipun pernyataan Dalai Lama itu agung, ia tidak mengaku sebagai Allah yang menjadi manusia, Pencipta yang transenden,

dan Penebus dunia.23 Dalai Lama menyatakan bahwa dirinya hanya memiliki kesadaran yang dicerahkan atau dibangunkan, tetapi naturnya tetap manusia. Oleh sebab itu, klaim Yesus sebagai Mesias membawa dimensi yang lebih besar. Kedua, pernyataan-pernyataan Yesus bahwa diri-Nya adalah Allah adalah klaim yang terlarang bagi siapa pun dalam pandangan agama ortodoks saat itu. Yesus tahu bahwa Dia akan meng-hadapi perlawanan sengit, bahkan kematian. Meskipun Buddha Tibet telah menderita penganiayaan nyata di wilayah mereka di dunia, hal itu tidak disebabkan oleh klaim-klaim keagamaan pribadi Dalai Lama. Pernyataan-pernyataannya tidak menyimpang dari arus utama tradisi Buddhis. Itulah sebabnya klaim Yesus membawa risiko pribadi yang jauh lebih besar. Ketiga, meskipun Dalai Lama mungkin orang yang secara moral baik (berbeda dengan berbagai pemimpin sekte), ia tidak dapat menandingi keteladanan Yesus yang luhur, dan yang jelas ia tidak memiliki kualitas Ilahi seperti Yesus—terutama kuasa Yesus atas angin, gelombang, penyakit, dan kematian—yang mencakup kebangkitan tubuh-Nya yang bersejarah dari kematian (lih. Kebangkitan, bab 10).

Dan akhirnya, bahkan jika penyakit jiwa diukur menurut taraf kepa-rahannya, Yesus sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda ketidak-stabilan mental atau berperilaku aneh. Bahkan sebaliknya. Psikiater J. T. Fisher menarik kesimpulan ini:

Jika Anda menjumlahkan semua artikel yang berotoritas, yang pernah ditulis oleh para psikolog dan psikiater paling andal tentang masalah kesehatan mental—jika Anda menggabungkan semuanya dan menyaring semuanya dan membuang hal-hal yang bertele-tele—jika Anda meng-ambil seluruh dagingnya dan tidak mengmeng-ambil peterselinya, dan jika Anda memberikan potongan-potongan ilmu pengetahuan murni yang tidak tercampur ini agar diungkapkan secara ringkas oleh penyair-penyair paling andal yang masih hidup, Anda akan memiliki ringkasan Khotbah di Bukit yang kurang baik dan tidak lengkap. Dan ringkasan itu sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan Khotbah itu sendiri. Selama hampir dua ribu tahun dunia Kristen telah menggenggam jawaban yang lengkap untuk kerinduannya yang resah dan sia-sia.24

Bisakah cetak biru yang telah ditetapkan oleh orang yang sakit jiwa atau bahkan oleh orang yang sedikit kurang stabil ini mengoptimalkan kesehatan jiwa? Akal dan analisis informasi psikologis berkata tidak!

Yesus melampaui semua kategori mengenai kesehatan mental manusia, kestabilan emosi, dan kebajikan moral. Sebuah alasan yang kuat yang menyimpulkan bahwa Yesus memang Allah yang berinkarnasi karena Dia secara fundamental berbeda dari setiap manusia lainnya yang pernah hidup. Bahkan Socrates, Buddha, dan Konghucu tidak dapat diban-dingkan dengan diri-Nya. Bahkan, standar kebaikan manusia diukur menurut kehidupan dan karakter-Nya.

Yesus menyebut diri-Nya sebagai Tuhan, tetapi Dia bermaksud mengatakannya dalam arti mistis Timur bahwa “Semua manusia bersifat Ilahi.” Oleh karena itu, Dia adalah seorang guru mistik.

Dengan pertumbuhan agama-agama Timur di Barat selama beberapa dekade terakhir, seiring dengan munculnya New Age Movement,25

beberapa orang (dan beberapa kelompok) sekarang menunjukkan bahwa Yesus sesungguhnya adalah orang bijak yang mistis. Pendukung New Age bahkan menunjukkan bahwa selama tahun-tahun yang konon hilang dalam kehidupan Yesus (usia 12-30, sebelum pelayanan-Nya kepada masya-rakat), Dia sebenarnya melakukan perjalanan ke Persia, Timur Dekat, India, dan Tibet untuk belajar dari berbagai ahli yang terkenal.26 Karena itu Yesus mengembangkan “kesadaran-Nya sebagai Kristus” dan kemam-puan-Nya untuk membuat mukjizat selama perjalanan-Nya melalui mis-tisisme Timur. Bagaimana pandangan yang menyatakan Yesus sebagai sosok mistis ini dapat bertahan?

Pandangan ini sangat tidak masuk akal karena tiga alasan: