• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE

HASIL DAN PEMBAHASAN

C- Organik dan Kadar P

Survey lapang dilakukan dibeberapa titik pengamatan pada tiap kabupaten yang memiliki sebaran duku di Provinsi Jambi. Hasil analisis terhadap contoh- contoh yang diambil menunjukkan bahwa nilai C-organik pada tanah-tanah di daerah penelitian ini berkisar dari 0,18 % hingga 3,04%. Menurut kriteria PPT (2003), secara kualitatif kadar C-organik pada tanah-tanah di daerah penelitian ini umumnya tergolong sangat rendah sampai tinggi. Nilai C-organik terendah terdapat di Desa Senaning Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari yakni sebesar 0,18% dan yang tertinggi terdapat di Desa Durian Betakuk Kecamatan Renah Pemberab Kabupaten Merangin, yakni 3,04% (Lampiran 3).

Nilai kadar P pada contoh tanah pada tiap Kabupaten di Daerah penelitian berkisar antara 0,30 hingga 55,55 ppm. Berdasarkan kriteria PPT (2003), kadar P

(Analisis Metode Bray I) < 4 ppm tergolong sangat rendah, kadar 5–7 ppm tergolong rendah, kadar 8–10 ppm tergolong sedang, kadar 11–15 ppm tergolong tinggi, kadar >15 ppm tergolong sangat tinggi. Dengan demikian kadar P pada lokasi penelitian bervariasi dari sangat rendah hingga sangat tinggi (Lampiran 3).

Secara kualitatif kadar P sangat rendah ditemukan di Desa Lubuk Kambing Kecamatan Merlung Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan yang sangat tinggi ditemukan di Desa Teluk Singkawang Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo. Sebaran nilai C-organik, kadar P pada beberapa titik pengamatan secara lengkap disajikan pada Lampiran 3.

Kation-Kation Basa, KTK dan KB

Beberapa karakteristik lahan yang terkait dengan kemampuan tanah dalam mensuplai hara diantaranya adalah kation-kation basa, nilai KTK tanah dan kejenuhan basa. Kation-kation basa yang banyak diukur dalam kompleks jerapan adalah Ca, Mg, K, dan Na. Berdasarkan kriteria PPT (2003), contoh-contoh tanah dari daerah pengamatan memiliki kadar Ca yang berkisar dari sangat rendah hingga tinggi (Lampiran 3). Kadar terendah terdapat di Desa Lopak Alai Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi yakni sebesar 0,30 cmol (+) kg-1. Sementara nilai tertinggi terdapat di Desa Muaro Bantan Kecamatan Renah Pemberab Kabupaten Merangin yakni sebesar 17,79 cmol (+) kg-1.

Kadar K pada tanah-tanah pada titik pengamatan berkisar dari sedang hingga sangat rendah (Lampiran 3). Kadar terendah terdapat di Desa Lopak Alai Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi yakni sebesar 0,02 cmol (+) kg-1. Sementara nilai K tertinggi terdapat di Desa Lubuk Landai Kecamatan Kabupaten Bungo yakni sebesar 0,45 cmol (+) kg-1.

Kadar Mg pada daerah penelitian berkisar dari sangat rendah hingga tinggi (Lampiran 3). Kadar Mg terendah ditemukan di Desa Sungai Jering Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo yakni sebesar 0,03 cmol (+) kg-1. Sementara nilai tertinggi terdapat di Desa parit Culum Kecamatan Muara Sabak Barat Kabupaten Tanjung Jabung Timur yakni sebesar 3,10 cmol (+) kg-1.

Kadar Na pada daerah penelitian berkisar dari sangat rendah hingga rendah (Lampiran 3). Kadar Na terendah ditemukan di Desa lopak alai Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi yakni sebesar 0,00 cmol (+) kg-1. Sementara

nilai tertinggi terdapat di Desa teluk raya dan pemunduran Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muarojambi yakni sebesar 0,50 cmol (+) kg-1.

Nilai kapasitas tukar kation (KTK) tanah-tanah dari wilayah penelitian secara umum berkisar dari rendah hingga sangat tinggi. Nilai KTK terendah ditemukan pada Desa Lopak Alai Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi yakni 8,29 cmol (+) kg-1. Sedangkan nilai tertinggi ditemukan di Desa Teluk Singkawang Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo yakni 383,18 cmol (+) kg-1.

Kejenuhan basa (KB) merupakan rasio antara jumlah kadar basa-basa seperti Ca, Mg, Na dan K dengan nilai KTK. Pada tanah-tanah pada wilayah penelitian nilai KB berkisar antara 86,47 % (sangat tinggi) sampai dengan 1,54% (sangat rendah). Nilai tertinggi terdapat di Desa Padang Aur Kecamatan Pangkalan Jambu Kabupaten Merangin. Sedangkan nilai terendah terdapat di Desa Kroya Kecamatan Pamenang Kabupaten Merangin. Nilai KTK dan KB dari contoh tanah di wilayah penelitian dapat dilihat pada Lampiran 3.

Nilai pH (H20)

Kadar kemasaman tanah dinyatakan dengan nilai pH tanah. Hal ini berhubungan erat dengan kadar H dalam larutan tanah. Nilai pH tanah berkaitan dengan jerapan beberapa unsur beracun yang terlarut dalam tanah seperti Al dan Fe. Untuk tanah-tanah pada wilayah penelitian di Provinsi Jambi, pH tanah umumnya tergolong masam. Nilai pH tanah terendah tergolong sangat masam, terdapat di Desa Lopak Alai Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi dengan nilai 4,2. Sedangkan nilai tertinggi tergolong agak masam dijumpai di Desa Sungai Nilau Kecamatan Sungai Manau Kabupaten Merangin dengan nilai 6,5. Nilai pH tanah pada wilayah penelitian dapat dilihat pada Lampiran 3.

Kejenuhan Al

Kejenuhan Al merupakan salah satu karakteristik lahan yang berhubungan dengan toksisitas tanah, dimana semakin tinggi tingkat kejenuhan Al maka semakin tinggi pula tingkat toksisitas tanah tersebut. Untuk tanah-tanah pada wilayah penelitian, nilai kejenuhan Al- nya berkisar dari sangat rendah hingga sangat tinggi. Nilai kejenuhan Al terendah terdapat di Desa Tebing Tinggi Kecamatan Tebo Tengah Kabupaten Tebo yaitu 0,04 % dan nilai tertinggi

terdapat di Desa Kroya Kecamatan pamenang Kabupaten Merangin dengan nilai 70,99 %. Nilai Kejenuhan Al pada wilayah penelitian dapat dilihat pada Lampiran 3.

Peneraan Produksi Berdasarkan Umur Tanaman

Keterkaitan antara produktivitas dengan karakteristik lahan dibangun dengan menggunakan data dari 8 kabupaten di Provinsi Jambi. Model ini kemudian digunakan untuk menetapkan batas bagi penyusunan kelas produktivitas tanaman dalam kaitannya dengan karakteristik lahan.

Selain data-data karakteristik lahan, data-data lain yang diambil dilapangan adalah parameter produktivitas duku. Data-data tersebut menjadi bahan dalam penyusunan model-model hubungan karakteristik biofisik lahan dengan parameter-parameter produktivitas duku. Model-model ini dibuat dengan tujuan untuk melihat sejauh mana pengaruh dari karakteristik biofisik lahan terhadap produktivitas duku.

Parameter produktivitas yang diamati dan digunakan sebagai variabel tidak bebas dalam model-model hubungan yang disusun adalah produksi buah duku yang dihitung dalam satuan kg pohon-1 thn-1. Data-data hasil pengamatan tersebut disajikan pada Lampiran 2.

Meskipun hubungan yang dicari dalam penelitian ini adalah antara karakteristik biofisik lahan dengan parameter produktivitas tanaman, namun pada kenyataannya parameter produktivitas tanaman juga dipengaruhi oleh faktor- faktor lain diluar karakteristik biofisik lahan. Biasanya faktor-faktor ini bersifat genetik atau terkait dengan aspek budidaya. Dan faktor yang turut diamati karena berpengaruh terhadap produktivitas tanaman adalah umur tanaman.

Pengaruh umur tanaman terhadap parameter produktivitas tanaman bersifat genetik. Maksudnya yaitu bahwa setiap jenis tanaman mempunyai pola kecenderungan peningkatan yang khas dalam pertumbuhan dan produksinya. Setiap tanaman juga mempunyai umur optimum dalam berproduksi. Sedangkan faktor jarak tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman karena terkait dengan ruang hidup tanaman. Tanaman membutuhkan ruang hidup ideal untuk dapat tumbuh dan berproduksi secara baik, terutama untuk

mendapatkan penyinaran dan mendapatkan hara yang cukup. Hal ini terkait dengan keberadaan individu tanaman lainnya.

Berdasarkan pengamatan dilapangan, umur tanaman antara satu tanaman dengan tanaman lainnya tidak selalu sama. Keragaman umur tanaman ini sangat berpengaruh terhadap produktivitas tanaman, sehingga memperbesar keragaman nilai produksi yang diperoleh.

Adanya pengaruh dari faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan terjadinya bias dalam penyusunan hubungan karakteristik biofisik lahan dengan parameter produktivitas tanaman. Agar dapat melihat sejauh mana karakteristik biofisik lahan ini benar-benar berpengaruh terhadap tanaman, maka harus dilakukan peneraan faktor umur tanaman terhadap data-data yang diperoleh sebelum penyusunan model-model tersebut dilakukan.

Untuk melakukan peneraan, maka terlebih dahulu dicari persamaan korelasi antara umur tanaman dan produktivitas tanaman yang telah diukur (parameter aktual). Persamaan korelasi yang diperoleh kemudian menjadi dasar di dalam melakukan peneraan. Hubungan-hubungan antara umur tanaman dan produksi yang diukur diuraikan dibawah ini.

Hubungan Antara Umur Tanaman dengan Produktivitas Tanaman Produksi buah tanaman merupakan parameter produktivitas utama yang bukan saja semata-mata dipengaruhi sifat karakteristik biofisik lahannya saja, tetapi juga faktor-faktor lainnya, seperti umur tanaman.

Hubungan antara umur tanaman dengan produksi buah tanaman dapat terlihat dari persamaan yang disusun berdasarkan data-data yang diperoleh di lapangan. Parameter produktivitas yang digunakan dan yang dibuat korelasinya dengan karakteristik biofisik lahan adalah produksi buah dalam satuan kg-1pohon-1 th-1.

Hubungan regresi sederhana antara produksi aktual dengan umur tanaman disajikan pada Gambar 13 Persamaan hubungan antara produksi dan umur mempunyai pola kecenderungan polynomial, dimana produksi meningkat seiring dengan bertambahnya umur tanaman sampai tingkat produksi tertentu dan kemudian menurun kembali. Nilai koefisien determinasi persamaannya tergolong

tinggi yaitu R2 = 0,777. Besarnya koefisien tersebut menunjukkan bahwa faktor umur mempunyai hubungan erat terhadap produksi tanaman.

Berdasarkan grafik hubungan yang tersaji pada Gambar 14 tanaman duku masih berproduksi optimal pada umur lebih dari 125 tahun. Uji simulasi terhadap fungsi matematis persamaan regresi yang diperoleh menunjukkan bahwa produksi optimal tanaman duku yaitu pada umur 282 tahun sebesar 1123,88 kg. Walaupun di lapangan belum ditemukan tanaman duku dengan umur lebih 250 tahun, namun menurut masyarakat setempat, pernah ada tanaman duku yang telah berusia lebih dari 250 tahun dan tetap berproduksi optimal.

Gambar 14. Grafik hubungan antara Umur Tanaman terhadap Produksi Aktual

Hasil Peneraan Parameter Produktivitas Tanaman Berdasarkan Umur Tanaman

Faktor umur tanaman berpengaruh terhadap produktifitas tanaman oleh karena itu perlu dibangun suatu persamaan hubungan dalam upaya menera umur terhadap data-data yang diperoleh di lapangan (data aktual). Persamaan itu adalah persamaan regresi sederhana, kemudian persamaan yang dihasilkan tersebut menjadi dasar dalam melakukan peneraan. Metode peneraan produksi tanaman yang akan digunakan adalah sebagai berikut:

y = -0.0148x2 + 7.8844x + 13.926 R² = 0.7773 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 0 50 100 150 p ro d . akt u al ( kg/p o h o n ) umur

Y = f (t)

dimana : Y = produksi dugaan berdasarkan umur t = umur (tahun)

Produksi teraaan diketahui melalui persamaan: Yt = Y + (Yi – Y)

Dimana Yt = Produksi teraan Y = rataan umum Yi = produksi aktual

Y = produksi dugaan berdasarkan umur.

Berikut ini diuraikan peneraan umur tanaman dalam kaitannya untuk menghitung parameter produktivitas tanaman (produksi buah).

Berdasarkan analisis korelasi terhadap data-data aktual lapangan, diperoleh persamaan yang dihasilkan dari hubungan faktor umur tanaman dengan produksi buah hasil pengukuran di lapangan (aktual) sebagai berikut :

Yp = y = 11,33x0,885

Dimana : Yp = produksi buah dugaan X = faktor umur tanaman

Produksi buah dugaan ini (Yp) kemudian menjadi salah satu bahan input dalam menentukan produksi buah teraan (Yt) bersama-sama dengan faktor lainnya, yaitu produksi buah rataan (Y) dan produksi buah aktual (Yi) hasil pengukuran di lapangan sesuai dengan rumus yang telah dituliskan sebelumnya. Produksi buah teraan (Yt) hasil perhitungan disajikan dalam Lampiran 3.

Angka-angka produksi buah teraan inilah yang selanjutnya digunakan untuk melihat hubungan karakteristik lahan terhadap produksi tanaman duku. Gambar 15 memperlihatkan keadaan produksi sebelum ditera dan setelah dilakukan peneraan produksi.

Sebelum ditera Setelah ditera

Gambar 15. Produktivitas tanaman duku sebelum dan setelah dilakukan peneraan Pengelompokan Kelas Produktivitas Tanaman dan Hubungannya

dengan Karakteristik Lahan Pengelompokan Kelas Produktivitas Tanaman

Model pengelompokan ini dikembangkan dari korelasi karakteristik lahan dengan tingkat produksi tanaman yang telah ditera dengan faktor umur (produksi

teraan). Pengelompokan kelas produktivitas tanaman dibagi dalam tiga kelas yaitu

kelas 1 (produktivitas tinggi), kelas 2 (produktivitas sedang) dan kelas 3 (produktivitas rendah). Penetapan batasan untuk selang kelas menggunakan pendekatan produktivitas tanaman. Batasan kelas yang digunakan mengacu dan mengadopsi pada metoda DRIS dimana menurut Jones et al. (1991), untuk menormalisasi sebaran kurva, komponen produktivitas dibagi menjadi produktivitas tinggi dan rendah. Untuk produktivitas tinggi ditetapkan paling sedikit 10 % dari keseluruhan populasi sehingga produktivitas tinggi terdistribusi secara normal. Dalam penelitian ini batas produktivitas tinggi mewakili lebih kurang 15 % dari keseluruhan populasi produksi yang sudah ditera. Sedangkan batas nilai produktivitas rendah pada penelitian ini mengacu pada nilai produksi pada ambang batas ekonomis pengusahaan (break even point – BEP) yang dihitung berdasarkan data rata-rata selama 35 tahun, yang mengacu pada

y = 11,33x0.885 R² = 0,786 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 0 50 100 150 p ro d . a k tu a l (k g /p o h o n ) umur 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 0 50 100 150 p ro d . a k tu a l (k g /p o h o n ) umur

hasil penelitian Antony (2010) pada tanaman duku di kabupaten Muaro Jambi. Nilai Produktivitas sedang berada di antara nilai produktivitas rendah dan nilai produktivitas tinggi.

Kriteria produktivitas untuk masing-masing kelas ditetapkan melalui proyeksi perpotongan garis batas terluar dengan angka sekat produksinya, yang menghasilkan kisaran nilai sifat biofisik lahan yang menjadi batas produktivitas.

Berdasarkan hasil survey, dari sebaran data yang dikumpulkan (Lampiran 4) diperoleh nilai produktivitas tinggi yaitu pada nilai > 450 kg/pohon/tahun. Nilai produktivitas rendah yang mengacu pada hasil penelitian Antony (2010) berdasarkan nilai BEP yaitu 263,02 kg/pohon/tahun dan nilai produktivitas sedang berada pada kisaran 263,02 kg/pohon/tahun s/d 450 kg/pohon/tahun Beberapa kualitas lahan dan karakteristik lahannya yang akan dikorelasikan dengan tingkat produksinya dan disusun kelas produktivitasnya adalah sebagai berikut:

 Elevasi yaitu ketinggian tempat dari permukaan laut.

 Ketersediaan air, meliputi: (i) Curah hujan rata-rata tahunan (mm th-1), (ii) Bulan kering dan (iii) Bulan basah.

 Media perakaran, meliputi: (i) Tekstur (persentase pasir, debu dan liat), (ii) Kedalaman tanah (cm)

 Retensi hara, meliputi: (i) KTK (cmol (+) kg-1), (ii) pH tanah, (iii) C organik (%) dan (iv) KB (%).

 Hara tersedia, meliputi: (i) P tersedia (%), dan (ii) K dapat tukar

(cmol (+) kg-1).

 Toksisitas meliputi kejenuhan Al

 Kondisi terain, meliputi: Lereng (%).

Hubungan Produksi dengan Daerah Perakaran

Kedalaman tanah dan kelas tekstur tanah merupakan karakteristik lahan yang berpengaruh terhadap kualitas daerah perakaran tanaman. Setiap tanaman memerlukan kedalaman tanah yang cukup dan kelas tekstur yang sesuai agar perakarannya dapat berkembang dengan baik. Tanah yang terlalu tipis atau mempunyai kandungan pasir/liat terlalu tinggi dapat menghambat pertumbuhan

perakaran tanaman dan pada akhirnya berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

Kelas tekstur ditentukan oleh komposisi fraksi liat, pasir dan debu dalam tanah. Oleh karena itu untuk mencari kelas tekstur, terlebih dahulu ditentukan kisaran kadar fraksi liat dan pasirnya. Kadar fraksi debu kemudian dihitung dengan melakukan pengurangan dari seluruh fraksi mineral tanah (100%) oleh jumlah kadar fraksi liat dan pasir (% liat + % pasir). Angka-angka kisaran kandungan fraksi liat dan pasir tersebut kemudian ditumpangtindihkan dengan segitiga tekstur sehingga didapatkan kelas-kelas tekstur.

Hubungan produksi duku dengan karakteristik lahan yang berpengaruh terhadap kondisi perakaran, yaitu kedalaman tanah, kadar pasir dan kadar liat disajikan pada Gambar 15. Kelas produktivitas tanaman dan hubungannya dengan karakteristik-karakteristik tersebut yang diperoleh dari proyeksi perpotongan garis batas terluar dengan sekat produksi diuraikan dibawah ini.

Kedalaman tanah

Persamaan garis batas terluar dari data-data hubungan antara produksi duku teraan dengan kedalaman tanahnya mempunyai pola logaritmik, yaitu dengan persamaan matematiknya: y = 411,9ln(x) - 1208

Berdasarkan persamaan matematik dari proyeksi perpotongan sekat produksi dan garis batas terluar tersebut, maka kedalaman tanah yang menjadi batas untuk produksi tinggi yaitu lebih dari 56 cm di bawah permukaan tanah (dpt). Batas kelas untuk produktivitas sedang yaitu pada kedalaman tanah antara 36 – 56 cm dpt dan untuk kelas produktivitas rendah yaitu pada kedalaman tanah kurang dari 36 cm dpt. Berdasarkan hasil yang diperoleh, tampak bahwa tanaman duku cukup mampu tumbuh dengan baik pada daerah dengan perakaran relatif dangkal. Hal ini dimungkinkan karena tanaman duku dikenal sebagai tanaman yang memiliki akar papan yang pipih (Verheij dan Coronel, 1997) dimana tanaman mempunyai perakaran yang muncul ke permukaan sehingga seakan-akan melilit tanah di atasnya sehingga tanaman dapat berdiri dan tumbuh baik pada tanah bersolum dangkal. Hasil survey di lapangan ditemukan bahwa semakin tua umur duku maka semakin banyak akar yang muncul ke permukaan.

Kelas tekstur tanah

dalam tanah. Untuk itu pencarian kriteria kelas tekstur dilakukan melalui analisis terhadap sebaran data-data kadar fraksi liat dan pasir.

Garis persamaan batas terluar dari sebaran data-data hubungan produksi duku teraan dengan kadar fraksi liat adalah:

y = -0,333x2 + 23,51x + 196,7

Garis persamaan ini mempunyai pola polynomial, artinya peningkatan kadar liat akan diikuti dengan kenaikan produksi sampai titik tertentu, selanjutnya produksi akan menurun seiiring dengan penambahan kadar liat.

Berdasarkan persamaan matematik dari proyeksi perpotongan sekat produksi dengan garis batas terluar dari sebaran data hubungan produksi teraan dengan kadar liatnya, maka diperoleh kisaran kadar liat yang menjadi batas kelas produktivitas tinggi yaitu pada kadar liat antara 13% dan 57%, kelas produktivitas sedang antara 3% sampai 13% atau antara 57% sampai 68%, kelas produktivitas rendah yaitu pada kadar liat kurang dari 3% atau lebih dari 68%.

Untuk kadar pasir, diperoleh dua garis persamaan batas terluar dari sebaran data-data hubungan produksi teraan dengan kadar fraksi pasir, yaitu:

y = 174,8ln(x) – 151,3 dan y = -63,85x + 5129.

Berdasarkan proyeksi perpotongan sekat produksi dengan garis-garis persamaan batas terluar tesebut, maka diperoleh kadar pasir yang menjadi pembatas kelas produktivitas tinggi yaitu jika kadar pasir berada antara 31 % – 73 %, produksi sedang diperoleh jika kadar pasir antara 11 % – 31 % dan 73% – 76 %, produksi rendah diperoleh pada kadar pasir < 11 % atau > 76 %.

Untuk mendapatkan kelas tekstur tanahnya, kisaran angka-angka kadar pasir dan liat yang diperoleh kemudian ditumpangtindihkan (overlay) dengan segitiga tekstur. Dalam proses overlay tersebut batas kandungan fraksi pasir atau liat yang diperoleh berdasarkan proyeksi perpotongan sekat produksi dengan garis batas, tidak selalu sama tepat dengan batas kandungan liat atau pasir pada segitiga tekstur, karena itu dicari kelas tekstur yang nilainya paling mendekati dengan komposisi fraksi liat, debu dan pasir dari batasan kelas produktivitas yang telah dihasilkan.

Berdasarkan hasil overlay, diperoleh bahwa untuk produksi tinggi berada pada kelas tekstur liat berpasir, lempung liat berpasir, lempung, dan lempung berliat, produksi sedang pada kelas tekstur liat, lempung berpasir dan lempung berdebu. Produksi rendah berada pada liat berat, pasir berlempung, dan debu.

Gambar 16. Hubungan Produksi dengan kedalaman tanah, fraksi pasir dan fraksi liat.

Untuk kedalaman tanah, garis terluarnya memperlihatkan kecenderungan semakin dalam tanah, produksi semakin tinggi. Sedangkan pada kadar fraksi pasir dan liat, garis terluarnya memperlihatkan kecenderungan peningkatan produksi dengan meningkatnya kadar pasir dan liat sampai batas tertentu, dan kemudian menurun seiring dengan meningkatnya kadar pasir atau liatnya.

Kriteria produktivitas untuk tanaman duku berdasarkan masing-masing karakteristik lahan yang berpengaruh terhadap kondisi perakarannya disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Kriteria Kelas Produktivitas Berdasarkan Kondisi Daerah Perakaran untuk Tanaman Duku

Karakteristik lahan Produksi Tinggi Produksi

Sedang

Produksi Rendah

Kadar Liat (%) 13 -57 3 -13 atau

57 - 68

< 3 atau > 68.

Kadar Pasir (%) 31– 73 11–31 dan

73 – 76

< 11 atau > 76

Tekstur liat berpasir,

lempung liat berpasir, lempung, lempung berliat liat, lempung berpasir dan lempung berdebu

liat berat, pasir berlempung, dan debu.

Kedalaman tanah (cm) >56 36 – 56 < 36

Hubungan Produksi dengan Retensi Hara

Tingkat retensi hara yang tinggi dapat menyebabkan berkurangnya suplai hara bagi tanaman sehingga dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktifitas tanaman. Semakin tinggi tingkat retensi hara oleh tanah, semakin

y = 174,8ln(x) - 151,3 y = -63,85x + 5129. 150 250 350 450 550 650 20 40 60 80 p ro d u k s i ( k g /p o h o n ) pasir (%) y = 411,9ln(x) - 1208 150 250 350 450 550 650 35 85 135 p ro d u k s i (k g /p o h o n ) kedalaman tanah (cm) y = -0,333x2 + 23,51x + 196,7 150 250 350 450 550 650 0 20 40 60 80 p ro d u k s i (k g /p o h o n ) liat (%)

sedikit jumlah hara tersedia bagi tanaman. Beberapa karakteristik lahan yang terkait dengan sifat retensi hara oleh tanah di antaranya adalah pH tanah, kadar C- organik, kapasitas tukar kation tanah (KTK tanah) dan kejenuhan basanya. Garis- garis batas terluar yang terbentuk berdasarkan distribusi data-data hubungan karakteristik-karakteristik lahan tersebut dengan produksi terlihat pada Gambar 17. Berikut ini diuraikan hubungan antara karakteristik-karakteristik lahan tersebut dengan produksi teraannya.

Gambar 17. Hubungan Produksi dengan pH tanah, C-organik, KTK tanah dan kejenuhan basa

pH tanah

Nilai pH tanah adalah mencerminkan kemasaman tanah yang menunjukkan kadar ion H+ dalam tanah. Setiap jenis tanaman mempunyai nilai pH tertentu untuk dapat tumbuh dan berproduksi secara baik. Kondisi tanah yang terlalu masam (pH sangat rendah) atau terlalu basa (pH sangat tinggi) akan mengganggu pertumbuhan tanaman, selain itu kondisi kemasaman tanah yang terlalu ekstrim sangat berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara lain bagi tanaman.

y = 96,82ln(x) + 507,0 150 250 350 450 550 650 0 1 2 3 4 p ro d u k s i ( k g /p o h o n ) C organik(%) y = -186,3x2 + 1957x - 4534. y = -125,5x + 1248. 150 250 350 450 550 650 4.0 5.0 6.0 7.0 p ro d u k s i ( k g /p o h o n ) pH y = 75,04ln(x) + 243,4 150 250 350 450 550 650 0 50 100 150 200 p ro d u k s i ( k g /p o h o n ) KTK (cmol/kg) y = -0,437x2 + 30,44x + 313,0 150 250 350 450 550 650 0 50 100 p ro d u k s i (k g /p o h o n ) KB (%)

Berdasarkan sebaran data-data hubungan antara produksi teraan dengan nilai pH-nya, diperoleh dua persamaan matematik garis batas terluar yaitu:

y = -186,3x2 + 1957,x - 4534. dan y = -125,5x + 1248.

Dengan menggunakan kedua persamaan tersebut maka terdapat kecenderungan peningkatan pH akan diikuti peningkatan produksi sampai suatu titik optimum, setelah itu seiiring dengan meningkatnya nilai pH maka tingkat produksi akan menurun.

Berdasarkan proyeksi perpotongan sekat produksi kelas produktivitas dengan garis-garis persamaan batas terluar, maka diperoleh nilai pH tanah yang menjadi batas kelas produktivitas tinggi yaitu berkisar antara 4,5 – 6,4, produksi sedang 4,0 – 4,5 dan 6,4 – 7,9, produksi rendah jika pH < 4,0 atau > 7,9.

C-organik

Berdasarkan data-data hubungan produksi teraan dengan kadar C-organik tanah, diperoleh persamaan garis batas yang membungkus sebaran data- data hubungan tersebut, yaitu: y = 96,82ln(x) + 507,0

Garis persamaan batas terluar ini berpola logaritmik, dengan kecenderungan produksi teraan akan meningkat dengan meningkatnya kadar C- organik tanah. Berdasarkan proyeksi perpotongan sekat produksi dengan garis persamaan batas terluar, kadar C-organik yang menjadi batas kelas produksi tinggi untuk C organik adalah > 0,6 %, sedang 0,1 – 0,6 % dan rendah <0,1 %.

KTK tanah

Persamaan garis batas terluar yang membungkus sebaran data-data hubungan produksi teraan dengan kadar nilai KTK tanahnya adalah:

y = 75,04ln(x) + 243,4

Pola garis persamaan di atas adalah logaritmik, dengan kecenderungan produksi akan meningkat dengan meningkatnya nilai KTK tanah. Berdasarkan proyeksi perpotongan sekat produksi dengan garis persamaan batas terluar, kadar KTK yang menjadi batas kelas produksi tinggi untuk KTK, diperoleh jika nilai

Dokumen terkait