• Tidak ada hasil yang ditemukan

Orientasi Kancah dan Persiapan Penelitian

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Orientasi Kancah dan Persiapan Penelitian

1. Orientasi Kancah

Penelitian ini dilakukan pada subjek pasca stroke yang merupakan

pasien rawat jalan klinik syaraf Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Rumah

Sakit Bethesda Yogyakarta terletak di Jalan Jenderal Sudirman 70, Terban,

Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta.

Rumah Sakit Bethesda tergabung dalam suatu yayasan yang menaungi

rumah sakit – rumah sakit Kristen, yang bernama : YAKKUM (Yayasan

Kristen Untuk Kesehatan Umum). Yayasan ini resmi berdiri pada tanggal 1

Februari 1950. Rumah Sakit Bethesda memiliki visi untuk menjadi rumah

sakit pilihan dan jejaring yang memuaskan customer melalui pelayanan profesional, prima berdasarkan kasih Allah. Adapun misi dari Rumah Sakit

Bethesda adalah :

1) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang holistic, unggul, efisien dan

efektif, yang berwawasan lingkungan.

2) Menyelenggarakan pelatihan, penelitian dan pengembangan manajemen

yang berkesinambungan untuk menghasilkan SDM yang kapabel,

berkomitmen, sejahtera dan berjiwa kasih.

3) Mewujudkan pelayanan kesehatan terjangkau, memuaskan customer dan

mempertimbangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi agar pelayanan mampu bersaing di era globalisasi.

Rumah Sakit Bethesda memiliki program unggulan pada unit stroke, dengan penanganan yang menyeluruh, mulai dari diagnosa "tingkat kesakitan", fisioterapi dan rehabilitasi bagi para pasien pasca stroke, Unit Stroke RS. Bethesda senantiasa berusaha memberikan penanganan Stroke secara comprehensive.

2. Persiapan Penelitian

Penelitian dimulai dengan perijinan penelitian dengan meminta surat ijin permohonan penelitian dari dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Surat perijinan diberikan kepada direktur Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 6 Desember 2007 sampai dengan 20 Desember 2007.

Prosedur penelitian adalah dengan membagikan skala yang berjumlah 21 pernyataan, masing-masing pernyataan ini menggambarkan manifestasi depresi. Skala diberikan kepada subjek pasca stroke yang melakukan rawat jalan di klinik syaraf Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Jumlah subjek yang mengisi skala penelitian berjumlah 50 orang dengan perincian; 25 orang pria dan 25 orang wanita, dan umur berkisar antara 40 – 60 tahun.

1. Deskripsi Data Subjek

Subjek dalam penelitian ini adalah pria dan wanita pasca stroke . Setiap kelompok subjek terdiri dari 25 orang, maka jumlah keseluruhan subjek dalam penelitian ini adalah 50. Subjek penelitian berusia antara 40-60 tahun, dengan rata-rata usia 55 tahun.

Tabel 3

Deskripsi Subjek Penelitian

Pria Wanita 40- 44 3 3 45-49 3 4 50-54 5 6 Usia 55-60 14 12 PNS 2 5 Wiraswasta 14 9 Pensiunan 9 - Pekerjaan Ibu RT - 11 Kanan 7 4 Lokasi Lesi Kiri 18 21 6 bln- 1 thn 16 15 1 thn-1,5 thn 4 6 Lamanya terkena Stroke 1,5 thn- 2 thn 5 4

Dari hasil pelaksanaan penelitian diperoleh deskripsi data subjek penelitian sebagai berikut :

Tabel 4

Deskripsi Data Subjek Penelitian Skala Depresi Pria dan Wanita Pasca Stroke

Empiris Statistik Teoritis Pria Wanita N 50 25 25 Nilai Maks. 63 30 28 Nilai Min. 0 0 3 Mean 31,5 10,84 14,40 SD 10,5 6,811 6,076

Dari hasil analisis akan didapatkan mean teoritis dan mean empiris, mean teoritik adalah rata-rata skor alat penelitian yang diperoleh dari angka yang menjadi titik tengah alat ukur penelitian. Mean empirik adalah rata-rata skor data penelitian. Mean empirik diperoleh dari angka yang merupakan rata-rata dari hasil penelitian.

Skala depresi yang digunakan dalam penelitian ini berisi 21 item pernyataan, pada setiap item diberikan skor 1 untuk nilai terendah dan diberikan skor 3 untuk nilai tertinggi. Maka rentang maksimal dan minimal dalam skala ini adalah 3 x 21 = 63 sampai dengan 0 x 21 = 0. rentang skor

= 10, 5. 3. Uji Asumsi

a. Uji normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran skor pada kedua kelompok sample mengikuti distribusi normal. Jika p > 0,05 maka sebaran skor dinyatakan normal. Sebaliknya jika p < 0,05 maka sebaran skor dinyatakan tidak normal.

Uji normalitas dilakukan dengan One Sample Kosmogorov-Smirnov dengan program SPSS 13.00 for windows. Hasil uji normalitas menghasilkan probabilitas sebesar 0,637 ini berarti bahwa p > 0,05 sehingga distribusi skor adalah normal.

Tabel 5

Hasil Perhitungan Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov Skor Kolmogorov Sminov 0,744

Asymp. Sig (p) 0,637

b. Uji Homogenitas

Analisis ini bertujuan untuk menguji apakah kelompok sample memiliki varian yang homogen atau sama. Jika nilai p > 0,05 maka kelompok sampel memiliki varians yang sama. Sebaliknya, jika p < 0,05 maka kelompok sampel tersebut memiliki varians yang berbeda.

probabilitas atau p = 0,465. Karena p > 0,05 maka varians tersebut adalah homogen.

4. Uji Perbedaan

Uji perbedaan atau uji t dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian ini, yaitu ada perbedaan tingkat depresi antara pria dan wanita pasca stroke.

Pengujian ini menggunakan Independent Sample T-test melalui program SPSS versi 13.00 for windows. Uji–t dilakukan utuk membandingkan dua kelompok subjek dengan mencari perbedaan mean antara sifat atau keadaan atau tingkah laku dua kelompok tersebut (Hadi, 1997).

Tabel 6

Hasil Uji Hipotesis (Independent Sample t- test) Depresi N Mean SD Std Error Df p

(1-tailed) Pria 25 10,84 6,811 1,362 Wanita 25 14,40 6,076 1,215 48 0,028 Keterangan : N : Jumlah subjek

SD : Besarya standar deviasi t : Hasil perhitungan uji-t p : Probabilitas

sebagai berikut :

Jika p > 0,05 maka H0 diterima

Jika p < 0,05 maka H0 ditolak.

Berdasarkan hasil uji teoritik didapatkan bahwa p < 0,05 (p= 0,028). Hal ini berarti bahwa ada perbedaan tingkat depresi antara pria dan wanita. Jadi hipotesis penelitian yang berbunyi “ada perbedaan tingkat depresi antara pria dan wanita pasca stroke, yaitu bahwa wanita memiliki tingkat depresi lebih tinggi daripada pria” diterima.

5. Kategori Skor BDI

Tabel 7

Kategorisasi Skor BDI menurut Beck

Frekuensi % Rentang Tingkat Depresi

Pria Wanita Pria Wanita

1-10 Normal 12 5 48 % 20 %

11-16 Gangguan mood ringan 11 12 44 % 48 % 17-20 Garis batas depresi klinis - 4 - 16 %

21-30 Depresi sedang 2 4 8 % 16 %

31-40 Depresi parah - - - -

Uji regresi digunakan untuk menguji signifikansi pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat melalui uji F (Budi, 2006). Berdasarkan dari hasil uji regresi dengan variabel bebas lokasi lesi dan jenis kelamin diperoleh hasil bahwa lokasi lesi dan jenis kelamin secara bersamaan berpengaruh terhadap skor depresi pada taraf kepercayaan 95% (p= 0,036). Namun, secara terpisah baik jenis kelamin ataupun lokasi lesi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap skor depresi. Hal ini dibuktikan dengan nilai p untuk jenis kelamin sebesar 0,093 (p> 0,05) dan nilai p untuk lokasi lesi sebesar 0,082 (p> 0,05).

C. Pembahasan

Penyakit stroke dapat mengakibatkan ketidakmampuan fisik ataupun kognitif, hal ini menyebabkan penyesuaian emosional dapat menjadi sangat sulit. Permasalahan emosional setelah stroke menjadi hal yang biasa, yaitu penderita stroke sangat mudah mengalami depresi (Sarafino, 1998). Ditinjau dari segi sebab, depresi tidak dapat dilihat dari salah satu faktor saja, karena penyebab depresi merupakan kombinasi dari berbagai faktor seperti keturunan/ bawaan, lingkungan dan faktor sosial. Depresi adalah penyakit kompleks yang melibatkan faktor psikologis dan biokimia, serta didukung oleh pengaruh lingkungan (Greist & Jefferson, 1987).

Dari hasil uji hipotesis yang telah dilakukan didapatkan bahwa p < 0,05 (p= 0,028) pada taraf signifikansi 5% yang artinya bahwa Hi diterima atau ada

dilakukan oleh Glader, dkk (2003) dan Paradiso & Robinson (1996) yang menyebutkan bahwa wanita memiliki tingkat depresi pasca stroke yang lebih tinggi dibanding pria.

Adanya perbedaan tingkat depresi antara pria dan wanita pasca stroke, disebabkan karena adanya perbedaan dalam menyikapi situasi yang menimbulkan depresi. Menurut Folkman & Lazarus, 1980 (dalam Brannon, 1996) wanita akan lebih mengalami depresi pada sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan, sedangkan pada pria depresi dapat terjadi pada sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan.

Depresi pasca stroke pada wanita umumnya disebabkan karena wanita lebih emosional, ketika seorang wanita terserang stroke dia akan merasa tidak menarik lagi dan menjadi rendah diri. Subjek no. 28 yang berusia 50 tahun dan bekerja sebagai PNS, terserang stroke pada bagian otak kiri pada 2007 awal, pada saat mengisi skala BDI aitem 14, mengatakan “lha kalau sudah begini pasti lebih jelek ya, ga seperti dulu lagi”. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa subjek menyadari penampilan fisiknya tidak menarik lagi. Apabila dengan keadaan tersebut penderita stroke wanita mengalami perasaan rendah diri maka hal itu justru akan memperkuat tingkat depresi subjek. Akan tetapi jika subjek dapat menerima keadaan tersebut, maka perasaan rendah diri dapat dihindari dan tingkat depresi dapat berkurang. Pada saat wanita mengalami stroke, ketidakberdayaan akibat penyakit tersebut akan membuat wanita cenderung memikirkan dampak bagi dirinya. Mereka merasa tidak berharga dan penuh kekurangan, sehingga

menggunakan penalaran emosi untuk membenarkan persepsi yang menciptakan perasaan negatifnya, seperti merasa bahwa dirinya sebagai orang yang tidak mampu berbuat apa-apa lagi setelah terserang stroke. Pemikirannya yang seperti inilah yang akan membuat wanita menjadi lebih depresi, karena pemikiran negatif tersebut sesungguhnya menciptakan suasana jiwa yang buruk.

Tingkat depresi pasca stroke pada pria lebih rendah dibanding dengan wanita. Hal ini dapat dilihat dari kategori tingkat depresi yang disusun oleh Beck yaitu mulai dari garis batas klinis hingga depresi sedang, pria 8 % sedangkan wanita 32 %. Rendahnya tingkat depresi pria jika dibanding dengan wanita disebabkan karena pria dapat membuktikan bahwa perasaan negatif yang dirasakan itu tidak benar, dengan lebih memilih terlibat dalam kegiatan fisik sebagai bentuk pengalihan perasaan, mereka dapat berpikir bahwa mereka mampu untuk melakukan sesuatu hal. Dengan demikian distorsi kognitif yang dialaminya tidak berlangsung lama dan tingkat depresi menjadi lebih rendah.

Penyakit stroke tidak selalu mengakibatkan depresi bagi penderitanya, hal itu dapat dilihat dari hasil penelitian yaitu 48 % pria berada pada tingkat normal. Namun, diperoleh juga hasil bahwa 44 % subjek pria mengalami gangguan mood ringan dan 8 % subjek pria mengalami depresi sedang. Timbulnya depresi pada pria pasca stroke sebagian besar dipengaruhi oleh keterbatasan fisik (Morris, dkk dalam Paradiso dan Robinson, 1996). Keterbatasan fisik tersebut menyebabkan pria penderita pasca stroke cenderung tidak mampu melakukan berbagai aktivitas secara mandiri, hal ini yang kemudian akan membuat harga diri mereka menurun

dilakukan secara maksimal. Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar subjek pria dalam penelitian ini yang bekerja sebagai wiraswasta dan PNS berjumlah 16 orang, pekerjaan tersebut menuntut subjek agar tetap dapat bekerja secara maksimal untuk menafkahi keluarga. Pada saat subjek terkena serangan stroke, kemampuan subjek untuk melakukan segala sesuatunya mengalami perubahan dan keterbatasan baik dalam bergerak, berkomunikasi, maupun berpikir yang kesemuanya itu akan menimbulkan ketegangan dan kecemasan bagi subjek dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Ketegangan dan kecemasan tersebut membuat subjek memiliki pandangan negatif tentang dirinya sendiri dan masa depan sehingga memicu timbulnya gangguan depresi.

Berdasarkan norma skor BDI yang disusun oleh Beck dapat dilihat bahwa 48 % pria dan 20 % wanita berada pada kategori normal serta 44 % pria dan 48 % wanita pada gangguan mood ringan. Secara umum hal itu masih dapat digolongkan pada tingkat depresi yang rendah. Rendahnya tingkat depresi diantara sebagian besar subjek pria dan wanita disebabkan karena subjek dalam penelitian ini masih mendapatkan dukungan penuh baik secara medis maupun dukungan sosial dari keluarga. Hal ini dapat terlihat dari rutinnya subjek dalam penelitian ini melakukan check-up dengan selalu diantar oleh pihak keluarga. Adanya dukungan penuh dari pihak keluarga terhadap subjek yang belum mampu mandiri dalam kehidupan sehari-sehari akan dapat mengangkat kembali harga diri subjek.

52

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Dari hasil pengujian hipotesis, diperoleh hasil bahwa p < 0,05 (p= 0,028)

sehingga Hi diterima yang berarti ada perbedaan tingkat depresi antara pria

dan wanita pasca stroke, wanita memiliki tingkat depresi lebih tinggi

daripada pria.

2. Lokasi lesi dan jenis kelamin secara bersamaan berpengaruh terhadap skor

depresi pada taraf kepercayaan 95% (p= 0,036). Namun, secara terpisah

baik jenis kelamin ataupun lokasi lesi tidak memiliki pengaruh yang

signifikan terhadap skor depresi. Hal ini dibuktikan dengan nilai p untuk

jenis kelamin sebesar 0,093 (p> 0,05) dan nilai p untuk lokasi lesi sebesar

0,082 (p> 0,05).

3. Berdasarkan norma skor BDI yang disusun oleh Beck dapat dilihat bahwa

48 % pria dan 20 % wanita berada pada kategori normal serta 44 % pria

dan 48 % wanita pada gangguan mood ringan, hal ini menunjukkan bahwa

penyakit stroke tidak selalu mengakibatkan depresi bagi penderitanya.

B. Saran

1. Bagi pihak yang merawat

Menindaklanjuti hasil penelitian ini yang menyebutkan bahwa ada

perbedaan tingkat depresi antara pria dan wanita pasca stroke, hendaknya hal

sakit tempat pelayanan kesehatan, dalam melakukan pelayanan kepada pasien

pasca stroke agar diperhatikan perbedaan karakter antara pria dan wanita dari

segi emosi.

Bagi pihak keluarga yang merawat penderita stroke baik pria maupun

wanita diharapkan agar dapat memberikan dukungan sosial, karena dapat

dilihat berdasarkan penelitian disini adanya dukungan penuh dari keluarga

dapat mengurangi tingkat depresi. Khusus untuk wanita, diharapkan pihak

keluarga dapat mendorong wanita pasca stroke untuk dapat melakukan

aktivitas sehari-hari yang ringan agar pemikiran-pemikiran negatif mengenai

ketidakberdayaan yang dialami setelah stroke tersebut dapat dihindari.

2. Bagi peneliti lain

Mengingat ada beberapa aitem yang memiliki daya beda kurang dari

0,2, maka untuk selanjutnya diperlukan adaptasi ulang apabila hendak

menggunakan skala BDI. Penambahan subjek penelitian yang lebih banyak

diperlukan pada penelitian selanjutnya, sehingga validitas dari penelitian ini

Dokumen terkait