• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perdagangan Angkutan Buruh Lainny a

4.4 Hasil Analisis Data .1 Identitas Responden .1 Identitas Responden

4.4.2 Orientasi Nilai Budaya dan Sikap Mental Responden

Pola-pola cara berpikir, bersikap, dan bertingkah bertingkah bertingkah laku warga masyarakat bersumber pada suatu sistem nilai budaya yang dianut oleh warga masyarakat tersebut. Jika sistem nilai budaya yang dianut itu berorientasi pada pembangunan, maka sikap yang timbul kemudian adalah sikap mental yang positif, yaitu sikap mental yang mendukung upaya-upaya menuju

peningkatan taraf hidup masyarakat. Sebaliknya, jika sistem nilai budayanya tidak berorientasi pada pembangunan, maka yang timbul kemudian adalah sikap mental negatif, yaitu sikap mental yang tidak mendukung upaya-upaya menuju peningkatan taraf hidup masyarakat. Sikap mental yang disebut terakhir ini mampu mempengaruhi tingkat kemiskinan yang dialami masyarakat.

Tabel 4.14

Jawaban Responden Tentang Hakekat Hidup Manusia Fatalis

No Desa/ Kelurahan Ya Tidak Absn

Mengenai sikap fatalis, 60% responden menyatakan setuju mengenai adanya kewajiban berusaha bagi seorang manusia sebagai upaya peningkatan taraf hidupnya. Dan 40 % responden yang setuju bahwa manusia tidak perlu bersusah payah memikirkan hidupnya. Hal ini dapat di artikan bahwa sebagian besar warga miskin sadar dan sepakat memiliki system nilai budaya yang cenderung positif dalam memahami hakekat hidup.Namun diketahui juga bahwa masih ada responden yang setuju manusia tidak perlu bersusah payah memikirkan

hidupnya Dan di kelurahan dendang responden dominan setuju menjawab manusia tidak perlu bersusah payah memikirkan hidupnya. Berdasarkan hasil kuesioner dalam segi pendidikan sikap mental negatife di dominasi oleh masyarakat yang berpendidikan rendah yaitu jenjang SD dan tidak tamat SD yaitu 22% dari 40 % yang bersikap fatalis berasal dari masyarakat yang berlulusan SD, dan 7 % berasaldari masyarakat yang tidak tamat SD. Sehingga dapat di simpulkan meskipun untuk keseluruhan system nilai budaya cenderung positif namun masih ada di beberapa daerah yang mana system nilai budaya cenderung negative dan sikap fatalis lebih dianut oleh mereka yang berpendidikan rendah.

Tabel 4.15

Jawaban Responden Tentang Hakekat Hidup Manusia Hidup Buruk Dan Tidak Ada Usaha Untuk Menjadi Lebih Baik

No Desa/ Kelurahan Ya Tidak Absn lebih baik, 63% responden menyatakan setuju mengenaihari esok harus lebih baik dari hari ini. Dan 37% responden yang setuju bahwa melihat keadaan seperti sekarang, saya tidak bisa membayangkan nasib keluarga saya nantinya. Hal ini

dapat di artikan bahwa sebagian besar warga miskin sadar dan sepakat memiliki system nilai budaya yang cenderung positif dalam memahami hakekat hidup.

Mereka sadar bahwa mereka harus berusaha untuk memperbaiki hidupnya dengan memperbaiki kualitas hidupnya setiap hari. Namun di beberapa desa & kelurahan, seperti di kelurahan Sidomulyo, Stabat Baru dan Dendang responden dominan setuju bahwa manusia tidak perlu bersusah payah memikirkan hidupnya.

Sehingga dapat di simpulkan meskipun untuk keseluruhan system nilai budaya cenderung positif namun masih ada di beberapa daerah yang mana system nilai budaya cenderung negatif.

Tabel 4.16

Jawaban Responden Tentang Hakekat Hidup Manusia Hidup Buruk Tetapi Manusia Wajib Berusaha Agar Hidup Menjadi Lebih Baik

No Desa/ Kelurahan Ya Tidak Absn menjadi lebih baik dimana 56% responden menyatakan setuju mengenai sikap

tersebut dan 44% responden yang setuju bahwa menerima keadaan hidup sekarang ini dengan apa adanya. Hal ini dapat di artikan bahwa sebagian besar warga miskin sadar dan sepakat memiliki sistem nilai budaya yang cenderung positif dalam memahami hakekat hidup. Dimana meskipun mereka merasa hidup buruk namun mereka tetap berusaha agar hidup mereka bisa lebih baik. Namun diketahui juga bahwa angka responden yang setuju menerima keadaan hidup sekarang ini dengan apa adanya juga cukup besar, yaitu 44%. Hal ini berarti warga miskin masih banyak merasa pasrah dengan keadaan hidupnya. Terdapat dominan daerah jawaban warga miskin yang menjawab dengan sikap budaya negatif di beberapa Desa & Kelurahan , seperti di Kelurahan Sidomulyo yaitu 4 dari 4, Stabat Baru 4 dari 4 responden yang artinya semua responden di Kelurahan tersebut setuju bahwa manusia harus menerima keadaan hidup sekarang ini dengan apa adanya. Sehingga dapat di simpulkan meskipun untuk keseluruhan system nilai budaya cenderung positif namun masih ada di beberapa daerah yang mana sistem nilai budaya cenderung negativ

Tabel 4.17

Jawaban Responden Tentang Hakekat Hidup Manusia Optimis No Desa/ Kelurahan Ya Tidak Absn

1 Ara Condong 1 8

2 Karang Rejo 4 5

3 Kwala Begumit 6 5

4 Mangga 2 2

5 Pantai Gemi 11 3

6 Paya Mabar 2 4

7 Perdamaian 4 3

8 Sidomulyo 1 3

9 Stabat Baru 1 3

10 Kwala bingai 4 10

No Desa/ Kelurahan Ya Tidak Absn

11 Banyumas 1 8

12 Dendang 5 4

Total 42 58

Sumber:Data Primer

Mengenai sikap optimis, 42% responden menyatakan setuju mengenai sikap tersebut dan 58% responden yang setuju bahwa merasa minder dan tidak bisa mengikuti pelatihan atau kursus yang diselenggarakan oleh kelurahan. Hal ini dapat di artikan bahwa sebagian besar warga miskin merasa tidak optimis dalam memaknai hidup dan sistem nilai budaya yang cenderung negatif dalam memahami hakekat hidup. Masyarakat miskin merasa minder untuk mengikutipelatihan atau kursus yang diselenggarakan pihak kelurahan, ini bernilai negatif. dominan setuju menjawab manusia tidak perlu bersusah payah memikirkan hidupnya. Berdasarkan hasil kuesioner dalam segi pendidikan sikap mental negatife di dominasi oleh masyarakat yang berpendidikan rendah yaitu jenjang SD dan tidak tamat SD yaitu 30% dari 58 % yang bersikapt idak optimis berasal dari masyarakat yang berlulusan SD, dan 10 % berasal dari masyarakat yang tidak tamat SD. Pada kasus ini mungkin dapat dipahami karena ebagaimana diketahui bahwa sebagian besar pendidikan warga miskin hanya setingkat SD dan bahkan ada yang tidak tamat sekolah. Sehingga wajar kalau warga miskin merasa minder tidak yakin akan kemampuannya untuk mengikuti pelatihan. Sehingga dapat di simpulkan nilai budaya cenderung bersifat mental negatif.

Tabel 4.18

Jawaban Responden Tentang Tentang Hakekat Karya Manusia Cepat Merasa Puas

Mengenai sikap cepat merasa puas, 32% responden menyatakan setuju mengenai sikap dengan ijazah atau keahlian dan pengalaman yang dimiliki, kita dapat menghasilkan karya yang lebih baik dan 68% responden setuju dengan ijazah atau keahlian dan pengalaman yang dimiliki, kita dapat memperoleh uang sebanyak banyaknya. Dominan setuju menjawab manusia tidak perlu bersusah payah memikirkan hidupnya. Berdasarkan hasil kuesioner dalam segi pendidikan sikap mental negatif di dominasi oleh masyarakat yang berpendidikan rendah yaitu jenjang SD dan tidak tamat SD yaitu 37% dari 68 % yang bersikap cepatmerasa puas berasal dari masyarakat yang berlulusan SD, dan 9%

berasaldari masyarakat yang tidak tamat SD Hal ini dapat di artikan bahwa sebagian besar warga miskin yang berpendidikan rendah merasa bahwa dengan ijazah atau keahlian serta pengalaman dapat diperoleh uang sebanyak-banyaknya.

Hal ini dapat diartikan bahwa orientasi karya bagi warga miskin relatif masih

terbatas pada perolehan uang atau materi dan belum kepada hasil karya itu sendiri seperti penghargaan, kepuasan dan lain-lain. Dan dapat disimpulkan bahwa nilai budaya cenderung bersifat sikap mental negatif.

Tabel 4.19

Jawaban Responden Tentang Hakekat Karya Manusia Karya Untuk Nafkah Hidup

Mengenai sikap karya untuk nafkah hidup, 41% responden menyatakan setuju mengenai sikap walaupun hasil panen sekarang (penghasilan sekarang) sudah cukup baik, saya akan terus berusaha agar hasilnya lebih baik lagi dan 59% responden setuju yang penting pekerjaan itu ada dan memberikan hasil, mengenai mutunya tidak usah di pikirkan dulu. Dalam hal ini masyarakat cenderung menilainegatif .Untuk jawaban responden yang setuju yang penting pekerjaan itu ada dan memberikan hasil, mengenai mutunya tidak usah di pikirkan dulu dirasa kurang memiliki etos kerja. Berdasarkan hasil kuesioner dalam segi pendidikan sikap mental negatif di dominasi oleh masyarakat yang berpendidikan rendah yaitu jenjang SD dan tidak tamat SD yaitu 25% dari 59 % dan 7% berasal

dari masyarakat yang tidak tamat SD Hal ini dapat di artikan bahwa meski terdapat jawaban di beberapa desa yang menujukan sikap positif seperti di Desa Pantai Gemi, Kelurahan Perdamaian, Kelurahan Kwala Bingai dan Desa Banyumas, namun jawaban responden masih dominan kepada sikap mental negatif. Dan jenjang pendidikan sangat mempengaruhi sikap mental negatif.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai budaya cenderung bersikap negatif.

Tabel 4.20

Jawaban Responden Tentang Hakekat Karya Manusia Karya Untuk Menambah Karya Dimasa Depan

responden menyatakan setuju mengenai sikap dari hasil panen nanti (penghasilan nanti) saya akan mengembangkan usaha di bidang lain (misal perikanan, peternakan, dagang, dan lain-lain). Dan 85% responden setuju bagi saya saat ini, keluarga bisa makan dan tidak ada hutang, saya sudah puas. Dalam hal ini masyarakat cenderung menilai dengan sikap mental negatif, namun kita Berdasarkan hasil kuesioner dalam segi pendidikan sikap mental negatif di

dominasi oleh masyarakat yang berpendidikan rendah yaitu jenjang SD dan tidak tamat SD yaitu 52% dari 85 % yang menjawab dengan sikap mental negatif berasal dari masyarakat yang berlulusan SD, dan 12% atau 100% responden dengan tingkat pendidikan tidak tamat sekolah menjawab dengan sikap mental negatif. Berdasarkan hasil wawancara dilapangan diketahui bahwa bukannya tidak ingin mengembangkan usaha di bidang lain. Hanya saja masyarakat yang miskin memiliki pendapatan yang terbatas sehingga kebutuhan utama yang harus dipenuhi adalah kebutuhan pangan.

Tabel 4.21

Jawaban Responden Tentang Hakekat Karya Manusia Selalu Ingin Berpartisipasi

Mengenai sikap selalu ingin berpartisipasi, 25% responden menyatakan setuju mengenai berdasarkan penghasilan sekarang, masih perlu kerja ekstra untuk menambah penghasilan.dan 75% responden setuju penghasilan sekarang adalah sebagai jatah dari yang Maha Kuasa, jadi ya harus dicukupkan dengan kebutuhan kita. Dalam hal ini masyarakat cenderung menilai dengan sikap mental

negatif. Berdasarkan hasil kuesioner dalam segi pendidikan sikap mental negatif di dominasi oleh masyarakat yang berpendidikan rendah yaitu jenjang SD dan tidak tamat SD yaitu 51% dari 75 % yang bersikap cepat merasa puas berasal dari masyarakat yang berlulusan SD, dan 11% berasal dari masyarakat yang tidak tamat SD Hal ini dapat di artikan bahwa sebagian besar warga miskin yang berpendidikan rendah mendominasi jawaban dengan sikap mental negatif.

Jawaban penghasilan sekarang adalah sebagai jatah dari yang Maha Kuasa memiliki sikap mental negatif namun ada beberapa hal yang harus diketahui bahwa beberapa dari mereka sebenarnya ingin berusaha lebih namun dikarenakan keterbatasan waktu dan upaya. Sehingga jawaban cenderung ke pada sikap mental negative.

Tabel 4.22

Jawaban Responden Tentang Hakekat Waktu Boros No Desa/ Kelurahan Ya Tidak Absn

Mengenai sikap bersifat boros, 99% responden menyatakan setuju mengenai sikap tersebut dan hanya 1% responden yang setuju tabungan itu perlu

untuk persiapan kalau mau mengadakan pesta (perkawinan, khitanan, dan lain- lain) atau pergi ”kondangan”. Hal ini dapat di artikan bahwa sebagian besar warga miskin sadar dan sepakat memiliki system nilai budaya yang cenderung positif dimana warga lebih memenitingkan hidup hemat agar dapat menabung untuk memupuk modal, membiayai sekolah anak-anak dan mempersiapkan hari esok yang lebih baik. Karena itu merupakan kebutuhan primer.

Tabel 4.23

Jawaban Responden Tentang Hakekat Waktu Masa kini

No Desa/ Kelurahan Ya Tidak Absn

Mengenai sikap masa kini, 69% responden menyatakan setuju mengenai sikap Manusia Hidup sepertinya berpacu dengan waktu, maka kita harus mengisi waktu kita dengan kualitas hidup yang selalu baik. 31% responden yang setuju Hidup ini bagaikan pangung sandiwara, maka kita hanya berlaku seadanya saja atau monoton. Hal ini dapat di artikan bahwa sebagian besar warga miskin sadar dan sepakat memiliki sistem nilai budaya yang cenderung positif dimana warga miskin juga tidak setuju kalau dalam mengisi hari-hari kehidupannya hanya dengan kegiatan yang monoton. Hal ini menunjukkan bahwa warga miskin juga

menginginkan variasi dalam mengisi hari-hari kehidupannya. Hanya terdapat 2 Kelurahan yang dominan menjawab dengan sikap mental negatif yaitu Kelurahan Sidomulyo dan Stabat baru. Sehingga dapat di simpulkan keseluruhan sikap mental nilai budaya cenderung positif.

Tabel 4.24

Jawaban Responden Tentang Hakekat Waktu Masa Depan

No Desa/ Kelurahan Ya Tidak Absn

Mengenai sikap bersifat masa depan, 82% responden menyatakan setuju mengenai sikap Manusia harus mempersiapkan dan merencanakan masa depannya sendiri danhanya 18% responden yang setuju hari esok tidak perlu dikhawatirkan sebab belum jelas keadaannya. Hal ini dapat di artikan bahwa sebagian besar warga miskin sadar dan sepakat memiliki sistem nilai budaya yang cenderung positif dimana warga merasa bahwa masa depan tergantung dengan diri sendiri dan meskipun hari esok belum jelas keadaannya namun mereka tetap wajib berusaha. Hanya terdapat satu kelurahan yang dominan menjawab dengan sikap mental negatif yaitu kelurahan Sidomulyo. Dimana 3 dari 4 responden merasa bahwa hari esok tidak perlu dikhawatirkan sebab belum jelas keadaan

nyata memiliki sikap mental yang negatif. Sehingga dapat di simpulkan keseluruhan sikap mental nilai budaya cenderung positif.

Tabel 4.25

Jawaban Responden Tentang Hakekat Waktu Hemat No Desa/ Kelurahan Ya Tidak Absn

Mengenai sikap hemat, 100% responden menyatakan setuju mengenai sikap pesta perkawinan itu tidak perlu mewah, yang penting akat nikahnya. Dan tidak ada responden yang setuju pesta perkawinan itu harus mewah agar lebih meriah, mengenai biaya bisa pinjam dulu dengan saudara atau tetangga. Hal ini dapat di artikan bahwa sebagian besar warga miskin sadar dan sepakat memiliki system nilai budaya yang cenderung positif dimana nilai budaya bahwa hidup dengan kesederhanaan dan tidak perlu berbuat melampaui kemampuan sendiri adalah positif. Warga miskin tidak setuju jika harus berhutang (pinjam) hanya untuk menyelenggarakan pesta pernikahan supaya lebih meriah. Hal ini menunjukkan bahwa warga miskin memiliki nilai budaya positif dan bersifat hemat. Sehingga dapat di simpulkan keseluruhan sikap mental nilai budaya

cenderung positif.

Tabel 4.26

Jawaban Responden Tentang Hubungan Dengan Alam: Sukar Menerima Inovasi

Mengenai sikap sukar menerima inovasi, 57% responden menyatakan setuju mengenai sikap Setiap orang harus mengolah alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena meskipun kita memiliki alam yang subur namun untuk memenuhi kebutuhan kita tetap harus berupaya untuk mengola alam tersebut perlunya mengolah alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan berhasil tidaknya usaha tersebut sangat tergantung pada usaha manusia itu sendiri kondisi alam hanya membatasi usaha manusia itu sendiri. Namun masih banyak responden yang menganggap Swasembada beras yang telah dicapai selama ini disebabkan suburnya alam Indonesia. Seperti dibeberapa desa dan kelurahan yang tertera pada tabel di atas yaitu Kelurahan Karang Rejo, Kelurahan Kwala Begumit, Kelurahan Sidomulyo, Kelurahan Stabat Baru dan Kelurahan Dendang.

Hal ini dapat di artikan bahwa sebagian besar warga miskin sadar dan sepakat

memiliki system nilai budaya yang cenderung positif dimanauntuk memenuhi kebutuhan kita tetap harus berupaya untuk mengola alam tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa warga miskin memiliki nilay budaya positif dan mau menerima inovasi. Namun kita ketahui juga bahwa 5 dari 12 desa masih sukar menerima inovasi.

Tabel 4.27

Jawaban Responden Tentang Hubungan Dengan Alam:

Tunduk Pada Alam

Mengenai sikap tunduk pada alam, 35% responden menyatakan setuju mengenai sikap dengan ilmu pengetahuan dan teknologi budidaya pertanian akan selalu mengalami kemajuan, karena itu kita harus selalu memperbaiki cara kita berusaha tani. Dimana dalam hal ini setiap perkembangan teknologi dalam pemberdayaan sumber daya alam membuat warga miskin berkeyakinan bahwa perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup manusia pada umumnya. Dengan demikian teknologi baru diharapkan dapat meningkatkan proses berproduksi dan kesejahteraan. Namun dalam hal ini waga miskin masih

cenderung bersikap mental negatif dimana responden memilih 65% jawaban kita harus mempertahankan cara-cara berusaha tani yang telah diajarkan oleh orang tua, kita tidak perlu mencoba teknologi baru.Yang artinya mereka masih lebih nyaman menggunakan alat tradisonal ketimbang mengikuti kemajuan teknologi untuk mempermudah pekerjan mereka. Dan dapat disimpulkan bahwa nilai budaya cenderung negatif dan sikap mental warga miskin negatif.

Tabel 4.28

Jawaban Responden Tentang Hubungan Dengan Alam: Berhasrat Menguasai Alam

Mengenai sikap berhasrat menguasai alam, 48% responden menyatakan setuju mengenai sikap teknologi pertanian bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup petani. Warga miskin berkeyakinan bahwa perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup manusia pada umumnya.

Dengan demikian teknologi baru diharapkan dapat meningkatkan proses berproduksi dan kesejahteraan. Namun dalam hal ini waga miskin masih cenderung bersikap mental negatif dimana responden memilih 52% jawaban

teknologi pertanian hanya menguntungkan petani kaya saja.Yang artinya mereka masih menganggap bahwa yang mampu menggunakan alat-alat modern dan canggih hanya orang kaya. Sehingga menguntungkan hanya untuk orang kaya saja. Berdasarkan hasil kuesioner dalam segi pendidikan sikap mental negatife di dominasi oleh masyarakat yang berpendidikan rendah yaitu jenjang SD dan tidak tamat SD yaitu 44% dari 65 % yang bersikap cepat merasa puas berasal dari masyarakat yang berlulusan SD, dan 2% berasaldari masyarakat yang tidak tamat SD. Hal ini dapat di artikan bahwa sebagian besar warga miskin yang berpendidikan rendah mendominasi jawaban dengan sikap mental negatif. Dan dapat disimpulkan bahwa bahwa nilai budaya cenderung negatif dan sikap mental warga miskin negatif.

Tabel 4.29

Jawaban Responden Tentang Hubungan Dengan Alam: Cepat Menerima Inovasi

Mengenai sikap cepat menerima inovasi, 95% responden menyatakan setuju mengenai sikap Setiap orang harus ikut menjaga kebersihan lingkungan

tempat tinggalnya. Hal ini menunjukkan bahwa warga miskin memiliki nilai budaya positif dan cepat menerima inovasi dimana warga miskin juga sangat peduli terhadap kebersihan lingkungan tempat tinggalnya. Sehingga dengan keterbatasan dana yang dimilikinya, warga miskin tidak setuju jika kebersihan itu diserahkan kepada pihak lain dengan cara dibayar terrhadap kebersihan lingkungan dan tempat tinggalnya. Dan hanya 5% warga miskin yang menjawab kebersihan lingkungan diserahkan saja pada orang lain, karena kita sudah bayar.

Hal ini menunjukkan bahwa warga miskin memiliki nilai budaya positif dan dan sikapmental positif dimana warga miskin cepat menerimainovasi.

Tabel 4.30

Jawaban Responden Tentang Hubungan Dengan Sesama Rasa Ketergantungan Tinggi

Mengenai sikap rasa ketergantungan tinggi, 53% responden menyatakan setuju mengenai sikap tersebut warga miskin juga lebih menilai pentingnya usaha atas kekuatan sendiri dan sejauh mungkin menghindari rasa ketergantungan pada sesama.Sikap mental seperti ini sangat mempengaruhi inisiatif warga miskin

dalam berupaya mengatasi setiap persoalan yang sedang dihadapinya. Hal ini menunjukkan bahwa warga miskin memiliki nilay budaya positif dan tidak bergantung pada orang lain. Namun 47% warga miskin menjawab keberhasilan dan kegagalan kita ditentukan juga oleh keberhasilan dan kegagalan orang-orang di sekitar kita. Yang artinya warga miskin juga menganggap lingkungan juga mempengaruhi berhasil dan gagalnya seseorang.Sehingga masih ada rasa ketergantungan. Dan berdasarkan table di atas persentase akan sikap negative tersebut cukup besar yaitu 47% dimana 2 dari 12 desa dan kecamatan yaitu kelurahan karang rejo dan desa kwala begumit cenderung menjawab dengan sikap mental negatif.

Tabel 4.31

Jawaban Responden Tentang Hubungan Dengan Sesama Konformis

Mengenai sikap konformis, 64% responden menyatakan setuju mengenai sikap kalau mengalami kegagalan dalam usaha, kita harus berusaha memperbaikinya sendiri dan jangan menunggu bantuan dari orang lain. Artinya

jika mereka mengalami kegagalan maka mereka akan lebih mementingkan untuk memperbaiki diri sendiri dari pada harus menyalahkan lingkungan. Sikap mental seperti ini sangat mempengaruhi inisiatif warga miskin dalam berupaya mengatasi setiap persoalan yang sedang dihadapinya. Hal ini menunjukkan bahwa warga miskin memiliki nilai budaya positif dan tidak bergantung pada orang lain. Dan 36% warga miskin menjawab selama masih ada hubungan baik dengan tetangga, kita tidak perlu khawatir dengan masa depan kita. Yang artinya warga miskin juga menganggap lingkungan juga mempengaruhi berhasil dan gagalnya seseorang.

Sehingga masih ada rasa ketergantungan keberhasilan dan kegegelan mereka dengan lingkungan sekitar.

Tabel 4.32

Jawaban Responden Tentang Hubungan Dengan Sesama Individualis

Mengenai bersifat individualis, 38% responden menyatakan setuju mengenai sikap kalau varitas itu lebih unggul dari yang lama, sebagai petani, saya pasti akan menanamnya, walaupun tidak diwajibkan pemerintah. Dimana Warga

miskin akan berinisiatif untuk melakukan usaha produktif yang diyakini akan meningkatkan kesejahteraan keluarga dan lingkungannya tanpa menunggu komando. Namun dalam hal ini waga miskin masih cenderung bersikap mental negative dimana responden memilih 62% jawaban tidak menjadi anggota kelompok tani karena tetangga saya juga tidak ada yang ikut. Mereka merasa tidak mau tau mengenai upaya untuk meningktkan produktifitas yang diyakini akan meningkatkan kesejahteraan keluarga dan lingkungan mereka. Dapat disimpulkan bahwa bahwa nilai budaya cenderung negatif dan sikap mental warga miskin negatif.

Tabel 4.33

Jawaban Responden Tentang Hubungan Dengan Sesma Menilai Tinggi Usaha Diri Sendiri

Mengenai sikap bersifat memilai tinggi usaha diri sendiri, 76% responden menyatakan setuju mengenai sikap kalau ada acara kerja bakti, saya pasti ikut

Mengenai sikap bersifat memilai tinggi usaha diri sendiri, 76% responden menyatakan setuju mengenai sikap kalau ada acara kerja bakti, saya pasti ikut

Dokumen terkait