• Tidak ada hasil yang ditemukan

B PENDEKATAN SISTEM

D. MODEL STRATEGI DIVERSIFIKASI TEBU

2. Output Model Strateg

Hasil perhitungan dengan metode AHP adalah urutan prioritas dari tiap elemen dari tiap level. Data penilaian pembandingan antar elemen setelah diinput, akan didapat total nilai perhitungan untuk masing-masing elemen yang terdapat dalam hirarki. Dari penilaian pendapat agregat didapat nilai

inconsistency ratio analisis tujuannya adalah 0,03. Hasil analisis tujuan

disajikan pada Tabel 16 berikut. Tabel 16. Hasil agregat tujuan

No. Tujuan Bobot AHP Prioritas

1 Minimisasi Biaya 0.249 2

2 Peningkatan Pendapatan 0.568 1

3 Green Factory/Manufacturing 0.183 3

Penentuan tujuan disesuaikan dengan kepentingan dari pihak yang berkaitan dengan gula. Hasil analisis menunjukkan bahwa tujuan yang paling berpengaruh dalam menentukan strategi diversifikasi tebu adalah peningkatan pendapatan. Dengan adanya peningkatan pendapatan kegiatan pengembangan produk turunan tebu akan berkembang dengan baik, karena semua pihak akan merasakan manfaat ekonomi yang merupakan tujuan utama dalam bisnis.

Tujuan yang menempati prioritas yang kedua adalah minimisasi biaya. Dalam pencapaian tujuan yang pertama dapat dicapai dengan melakukan minimisasi biaya. Tujuan selanjutnya yang berpengaruh adalah green

factory/manufacturing. Untuk keadaan Indonesia saat ini tujuan green

agribisnis gula yang tidak baik saat ini. Namun, arah kebijakan pergulaan Indonesia telah menunjukan niatnya untuk pengembangan industri gula yang yang berbasis tebu.

PG Jatitujuh merupakan salah satu Pabrik gula yang mengarah ke green factory/manufacturing. Hal ini dapat dilihat dari usaha pengembangan produk yang dilakukan di PG Jatitujuh. Pabrik Cane Top sebagai pabrik pakan ternak dengan bahan baku pucuk tebu dan pembuatan pupuk MIX oleh PuslitAgro untuk kebutuhan pupuk tebu di PG Jatitujuh dan PG lainnya.

Dalam pengembangan strategi diversifikasi tebu, ada aktor-aktor yang memiliki peranan penting dengan fungsi yang berbeda-beda. Dengan agregat konsistensi ratio untuk tujuan minimisasi biaya 0,03; peningkatan pendapatan 0,02; green manufacturing 0,02. Data lengkap mengenai prioritas aktor secara agregat disajikan pada Tabel 17.

Tabel 17. Hasil agregat aktor

No Aktor Bobot AHP Prioritas

1 Pemerintah 0.11128 5

2 Investor 0.151131 4

3 Pelaku Industri 0.382917 1

4 Litbang/PT 0.162489 3

5 Lembaga keuangan 0.192432 2

Tabel di atas menyajikan aktor yang berpengaruh dalam strategi diversifikasi tebu. Aktor yang menduduki prioritas pertama adalah pelaku industri. Prioritas aktor kedua adalah lembaga keuangan. Aktor selanjutnya yang memiliki peranan adalah lembaga penelitian dan pengembangan /perguruan tinggi, investor, pemerintah.

Pelaku industri sebagai pihak pengelola tebu akan menentukan kegiatan pengembangan diversifikasi tebu, karena merupakan pihak yang terjun langsung dalam bisnis tebu ini. Sebenarnya petani merupakan salah satu pihak yang amat berkepentingan dalam diversifikasi tebu. Namun studi kasus penelitian ini dilakukan di PG Jatitujuh yang memiliki HGU atas lahan seluas ±11,921.6 Ha, sehingga dalam penelitian ini petani tidak menjadi bagian dari aktor.

Aktor prioritas kedua adalah lembaga keuangan merupakan salah satu aktor penting sebagai pemberi pinjaman untuk kebutuhan investasi ataupun

modal kerja pabrik produk turunan tebu yang akan didirikan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, produktivitas lahan tebu, industri gula yang tidak berjalan efisien dan pasar gula dunia yang distortif mengharuskan adanya revitalisasi dalam industri gula yang diarahkan menjadi industri berbasis tebu. Tentunya hal ini akan membutuhkan investasi yang besar sehingga peran lembaga keuangan sangat penting.

Lembaga penelitian dan pengembangan/perguruan tinggi merupakan aktor yang berperan dalam melakukan inovasi dan perbaikan kualitas. Perbaikan kualitas ini dari mulai input hingga output berupa produk yang dibutuhkan konsumen. Investor dapat berasal dari pihak luar negeri yang berminat berinvestasi dalam pengembangan diversifikasi produk tebu dan pemerintah sebagai penentu kebijakan sekaligus penegak kebijakan menyiapkan situasi yang kondusif bagi kepentingan bersama. Akhirnya ,kerjasama semua pihak dalam diversifikasi produk tebu menjadi sangat penting.

Faktor-faktor yang berkaitan dalam diversifikasi tebu merupakan parameter keberhasilan untuk mencapai goal yang dituju. Dengan agregat konsistensi ratio untuk aktor pemerintah 0,02; investor 0,02; pelaku industri 0,04; lembaga penelitian dan pengembangan 0,04; lembaga keuangan 0,03. Data lengkap mengenai prioritas faktor secara agregat disajikan pada Tabel 18.

Tabel 18. Hasil agregat faktor

No Faktor Bobot AHP Prioritas

1 Infrastruktur 0.148619 3

2 Kelayakan Usaha 0.386178 1

3 Potensi PDT 0.133659 4

4 SDM 0.211733 2

5 Dukungan Pemerintah 0.120786 5

Faktor yang paling utama dalam pengembangan diversifikasi tebu adalah kelayakan usaha. Produk turunan tebu yang telah terbukti layak baik secara teknologi maupun ekonomi untuk dikembangkan maka patut untuk didirikan pabrik pengolahannya. Tentu saja pendirian pabrik tersebut harus disesuaikan dengan tujuan utama yaitu untuk meningkatkan pendapatan.

Kemudian faktor kedua adalah sumberdaya manusia, seterusnya, infrastruktur, potensi PDT dan dukungan pemerintah.

Prioritas alternatif strategi adalah prioritas strategi yang akan menjadi tumpuan dalam pengembangan diversifikasi tebu. Hasil alternatif ini adalah strategi dalam mencapai tujuan peningkatan pendapatan. Hasil penilaian responden disajikan pada Tabel 19.

Tabel 19. Hasil agregat alternatif strategi

No Alternatif Bobot AHP Prioritas 1 Efektifitas dan Efisiensi 0.611555 1 2 Pengembangan PDT 0.224948 2 3 Pendirian Pabrik PDT 0.164472 3

Efektifitas dan efisiensi memiliki bobot yang tertinggi yaitu 0.611555. Dari hasil penggabungan pendapat pakar dalam kasus ini strategi yang dipilih adalah efektifitas dan efisiensi. Strategi Efektif dan efisien yang dimaksud disini adalah efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaan industri gula dan termasuk pabrik produk tebu lain yang telah didirikan. Telah disebutkan sebelumnya, untuk studi kasus di areal PG Jatitujuh terdapat pabrik lain yang memproduksi produk berasal dari hasil samping tebu seperti PT Cane Top yang memproduksi pakan ternak dari pucuk tebu.

Menurut Mardianto et al (2005), kemunduran industri gula Indonesia yang sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1940-an. Dimana efisiensi industri gula (yang tercermin pada produktivitas tebu dan hablur) yang pernah dicapai selama periode 1930-1940, lambat laun mengalami penurunan dan tidak pernah mengalami perbaikan hingga tahun 2004 (lihat Tabel 19).

Menurut Mardianto et al (2005), Trend peningkatan produktivitas tebu dan hablur selama kurun waktu lima tahun terakhir masih jauh lebih rendah daripada yang pernah dicapai pada kurun waktu 1930-1940. Pada saat itu, produktivitas tebu hampir mendekati 140 ton per hektar dan produktivitas hablurnya mendekati 18 ton per hektar, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas tebu dan hablur saat ini yang hanya sekitar 78 ton dan 6 ton per hektar.

Berbagai program peningkatan industri gula yang dibuat pemerintah sejak tahun 1950 hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Bahkan selama diberlakukannya program Tebu Rakyat Intensifikasi, yang ditetapkan melalui INPRES No. 9 Tahun 1975, produktivitas tebu dan hablur justru terus mengalami penurunan dibandingkan dengan periode sebelumnya (Mardianto et al, 2005). Data perkembangan produksi disajikan pada Tabel 20. Tabel 20. Perkembangan produksi dan produktivitas gula di Indonesia, 1930-2004 Tahun Luas Tanam Tebu (Ha) Produksi tebu (ton) Produktivitas Tebu (ton/ha) Produksi Hablur (ton) Produktivitas Hablur (ton/ha) Rendeman (%) 1930 196,592 25,680,901 130.63 2,907,078 14.79 11.32 1935 28,262 3,953,435 139.89 492,598 17.43 12.46 1940 83,522 11,512,776 137.84 1,472,484 17.63 12.79 1950 27,783 2,452,984 88.29 259,771 9.35 10.59 1955 72,426 7,281,504 100.54 813,344 11.23 11.17 1960 72,726 5,985,399 82.30 651,810 8.96 10.89 1965 87,408 7,368,946 84.31 775,950 8.88 10.53 1970 8,1677 7,895,276 96.66 715,312 8.73 9.06 1975 104,777 9,848,259 93.99 1,035,052 9.76 10.51 1980 188,772 13,888,289 73.57 1,249,946 6.55 9.00 1985 285,529 21,048,681 73.72 1,707,048 5.98 8.11 1990 365,926 27,895,448 76.23 2,083,790 5.69 7.47 1995 420,630 30,096,060 71.55 2,096,471 4.98 6.97 1996 403,266 28,603,531 70.93 2,094,195 5.19 7.32 1997 385,669 27,953,841 72.48 2,189,974 5.68 7.83 1998 378,293 27,177,766 71.84 1,491,553 3.94 5.49 1999 340,800 21,401,834 62.80 1,488,599 4.37 6.96 2000 340,660 24,031,355 70.54 1,690,667 4.96 7.04 2001 344,441 25,186,254 73.12 1,725,467 5.01 6.85 2002 350,723 25,533,431 72.80 1,755,434 5.01 6.88 2003 335,725 22,631,109 67.41 1,631,919 4.86 7.21 2004 345,550 26,743,179 77.39 2,051,651 5.94 7.67 Sumber : 1930-1985 (Bahari, 1989); 1990-1995 (Anonim, 1997); 1996-2004

(DGI, 2004) dalam Mardianto et.al (2005)

Penyebab utama terpuruknya keadaan pergulaan Indonesia saat ini adalah keadaan hulu yang tidak baik. Namun demikian, ini tidak berarti usaha di hilir tidak dikembangkan. Dengan adanya perbaikan di hulu dan pengembangan di hilir dimana pabrik gula selain menghasilkan gula juga memanfaatkan hasil sampingnya menjadi produk bernilai jual maka akan menjadikan Indonesia, siap menghadapi keadaan pergulaan dunia yang distortif.

Di banyak negara, produsen gula telah melakukan diversifikasi produk tebu. Hal ini dilakukan untuk menyiasati penurunan harga gula, menekan ongkos produksi, memperluas pasar, serta mengurangi risiko kerugian pabrik gula. Dengan diversifikasi tebu di percaya dan terbukti adanya peningkatan

pendapatan karena adanya pemanfaatan hasil samping menjadi produk bernilai. Karena itu kegiatan penelitian dan pengembangan produk turunan tebu dan pendirian pabrik sangat baik dilakukan untuk menunjang industri gula yang sedang terpuruk. Hal ini sejalan dengan visi, misi dan startegi Direktorat Jendral Bina Produksi Perkebunan yang mengarah pada industri berbasis tebu (pemanfaatan hasil samping).

Terkait dengan hal ini, menurut Mardianto et al (2005), arah kebijakan industri gula tebu yang berkelanjutan perlu ditopang oleh tiga pilar yang kokoh, berimbang dan terintegrasi, yaitu : (i) usahatani tebu; (ii) pabrik gula; dan (iii) penelitian dan pengembangan.

Dokumen terkait