• Tidak ada hasil yang ditemukan

Overall Equipment Effectiveness(OEE)

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 29-35)

8. Manajemen Awal pada Peralatan kerja(Early Equipment Management) Early Equipment Management merupakan pilar TPM yang menggunakan

2.3.4. Overall Equipment Effectiveness(OEE)

Maintenanceberasal dari kata ”to maintain”yang memiliki arti ”merawat”.

Dan memiliki padanan kata yaitu ”to repair”yang berarti memperbaiki. Sehingga maintenance (perawatan) adalah sebuah perlakuan merawat atau memperbaiki suatu komponen agar dapat kembali digunakan dan berumur panjang.

OEE merupakan ukuran menyeluruh yang mengidentifikasikan tingkat produktivitas mesin/peralatan dan kinerjanya secara teori. Pengukuran ini sangat penting untuk mengetahui area mana yang perlu untuk meningkatkan produktivitas ataupun efisiensi mesin/peralatan dan juga dapat menunjukkan area bottleneck yang terdapat pada lintasan produksi. OEE jugamerupakan alat ukur untuk mengevaluasi dan memperbaiki cara yang tepat untuk menjamin peningkatan produktivitas penggunaan mesin/peralatan.14

1. Avability ratio merupakan suatu rasio yang menggambarkan pemanfaatan waktu yang tersedia untuk kegiatan operasi mesin atau peralatan.

Overall Equipment Effectiveness (OEE) merupakan metode yang digunakan sebagai alat ukur dalam penerapan program TPM guna menjaga peralatan pada kondisi ideal dengan menghapuskan six big losses peralatan.

Pengukuran OEE inii didasarkan pada pengukuran tiga rasio utama, yaitu:

2. Performance ratio merupakan suatu rasio yang menggambarkan kemampuan dari peralatan dalam menghasilkan barang.

3. Quality ratio atau quality product merupakan suatu rasio yang menggambarkan kemampuan dari peralatan dalam menghasilkan produk yang sesuai dengan standar.

Gambar 2.25 Ilustrasi instrument OEE

Overall equipment effectiveness (OEE) merupakan ukuran menyeluruh yang mengindikasikan tingkat produktivitas mesin/peralatan dan kinerjanya secara teori. Pengukuran efektivitasperalatan secara keseluruhan sebagai dasaruntuk melaksanakan kegiatan/ implementasiTotal Productive Maintenance (TPM). Dari hasil komparasi secara teoritisbeberapa metode diatas dan hasil studipendahuluan di lapangan, metode yangdigunakan peneliti untuk pengukuranequipment losses di sebuah pabrik adalah Overall Equipment Effectiveness(OEE) sebagai objek pengukuran efektivitasperalatan secara keseluruhan sebagai dasaruntuk melaksanakan kegiatan/implementasiTotal Productive Maintenance (TPM).15

15Ljungberg, Orjan. Measurement of overall Equipment Efectiveness, As a Basic for TPM Activities. 1998.

Pengukuran ini sangat penting untuk mengetahui area mana yang perlu untuk ditingkatkan produktivitas ataupun efisiensi mesin/peralatan dan juga dapat menunjukkan area bottleneck yang terdapat pada lintasan produksi.

Formula matematis dari overall equipment effectiveness (OEE) dirumuskan sebagai berikut :

OEE = Availability x Performance efficiency x Rate of quality product x 100%

Kondisi operasi mesin/peralatan produksi tidak akan akurat ditunjukkan jika hanya didasarkan pada perhitungan satu faktor saja, misalnya performance efficiency saja. Enam faktor pada six big losses baru minor stoppages saja yang dihitung pada performance efficiency mesin/peralatan.Rugi-rugi lainnya belum dihitung.Keenam faktor dalam six big losses harus diikutkan dalam perhitungan OEE, kemudian kondisi aktual dari mesin/peralatan dapat dilihat secara akurat.

1. Ketersediaan (Availability) Availability

Merupakan rasio operation time terhadap waktu loading timenya. Sehingga untuk dapat menghitung availability mesin dibutuhkan nilai-nilai dari :

1. Waktu Operasi (Operation time) 2. Waktu Persiapan (Loading time) 3. Waktu tidak bekerja (Downtime)

Loading time = Total availability time – Planned downtime Operating time = Loading time –Downtime

Downtime = Breakdown + Set up and adjusment

Nilai availability dihitung dengan rumus sebagai berikut : 𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴 = 𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝑂𝑂𝑂𝑂 𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂

𝐿𝐿𝑂𝑂𝐴𝐴𝐿𝐿𝐴𝐴𝑂𝑂𝐿𝐿 𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂 𝑥𝑥 100 %

𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴 = 𝐿𝐿𝑂𝑂𝐴𝐴𝐿𝐿𝐴𝐴𝑂𝑂𝐿𝐿 𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂 − 𝐷𝐷𝑂𝑂𝐷𝐷𝑂𝑂𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂

𝐿𝐿𝑂𝑂𝐴𝐴𝐿𝐿𝐴𝐴𝑂𝑂𝐿𝐿 𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂 𝑥𝑥 100 %

Loading time adalah waktu yang tersedia (availability time) perhari atau perbulan dikurangi dengan waktu downtime mesin yang direncanakan (planned downtime).

Planned downtime adalah jumlah waktu downtime yang telah direncanakan dalam rencana produksi termasuk didalamnya waktu downtime mesin untuk pemeliharaan (scheduled maintenance) atau kegiatan manajemen lainnya.

Operation time merupakan hasil pengurangan loading time dengan waktu downtime mesin (non-operation time), dengan kata lain operation time adalah waktu operasi yang tersedia (available time) setelah waktu-waktu downtime mesin dikeluarkan dari total available time yang direncanakan.

Downtime mesin adalah waktu proses yang seharusnya digunakan mesin akan tetapi karena adanya gangguan pada mesin/peralatan (equipment failures) mengakibatkan tidak ada output yang dihasilkan. Downtime mesin berhenti beroperasi akibat kerusakan mesin/peralatan, penggantian cetakan (dies), pelaksanaan prosedur set-up dan adjusment dan lain sebagainya.

2. Performance Effieciency

Merupakan hasil perkalian dari operating speed rate dan net operating speed, atau rasio kuantitas produk yang dihasilkan dikalikan dengan waktu siklus idealnya terhadap waktu yang tersedia untuk melakukan proses produksi (operation time).

Operating speed rate merupakan perbandingan antara kecepatan ideal mesin sebenarnya (theoretichal/ideal cycle time) dengan kecepatan aktual mesin (actual cycle time). Persamaan matematikanya dapat ditunjukkan sebagai berikut :

𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝑂𝑂𝑂𝑂 𝑆𝑆𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝐿𝐿 𝑅𝑅𝐴𝐴𝐴𝐴𝑂𝑂 = 𝐼𝐼𝐿𝐿𝑂𝑂𝐴𝐴𝐴𝐴 𝑐𝑐𝐴𝐴𝑐𝑐𝐴𝐴𝑂𝑂 𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂

𝐴𝐴𝑐𝑐𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴 𝑐𝑐𝐴𝐴𝑐𝑐𝐴𝐴𝑂𝑂 𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂 𝑥𝑥 100 %

𝑁𝑁𝑂𝑂𝐴𝐴 𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝑂𝑂𝑂𝑂 𝑅𝑅𝐴𝐴𝐴𝐴𝑂𝑂 = 𝐴𝐴𝑐𝑐𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴 𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑐𝑐𝑂𝑂𝑝𝑝𝑝𝑝𝐴𝐴𝑂𝑂𝐿𝐿 𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂

𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝑂𝑂𝑂𝑂 𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂 𝑥𝑥 100 %

Net operating time merupakan perbandingan antara jumlah produk yang diproses (processed amount) dikalikan dengan actual cycle time dengan operation

time. Net operating time berguna untuk menghitung rugi-rugi yang diakibatkan oleh minor stoppages dan menurunnya kecepatan produksi (reduced speed). Tiga faktor penting yang dibutuhkan untuk menghitung Performance efficiency :

1. Ideal cycle time (waktu siklus ideal/waktu standar) 2. Processed amount (jumlah produk yang diproses) 3. Operation time (waktu operasi mesin)

Performancy effieciency dapat dihitung sebagai berikut :

Performance effieciency = Net operating x operating speed rate

=𝑃𝑃𝑂𝑂𝑂𝑂𝑐𝑐𝑂𝑂𝑝𝑝𝑝𝑝𝑂𝑂𝐿𝐿 𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂𝐴𝐴𝑂𝑂𝐴𝐴 𝑥𝑥 𝐴𝐴𝑐𝑐𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴 𝑐𝑐𝐴𝐴𝑐𝑐𝐴𝐴𝑂𝑂 𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂

𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝑂𝑂𝐿𝐿 𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂 𝑥𝑥 𝐼𝐼𝐿𝐿𝑂𝑂𝐴𝐴𝐴𝐴 𝑐𝑐𝐴𝐴𝑐𝑐𝐴𝐴𝑂𝑂 𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂 𝐴𝐴𝑐𝑐𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴 𝑐𝑐𝐴𝐴𝑐𝑐𝐴𝐴𝑂𝑂 𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂 𝑃𝑃𝑂𝑂𝑂𝑂𝑃𝑃𝑂𝑂𝑂𝑂𝑡𝑡𝐴𝐴𝑂𝑂𝑐𝑐𝑂𝑂 𝑂𝑂𝑃𝑃𝑃𝑃𝐴𝐴𝑐𝑐𝐴𝐴𝑂𝑂𝑂𝑂𝑐𝑐𝐴𝐴 = 𝑃𝑃𝑂𝑂𝑂𝑂𝑐𝑐𝑂𝑂𝑝𝑝𝑝𝑝𝑂𝑂𝐿𝐿 𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂𝐴𝐴𝑂𝑂𝐴𝐴 𝑥𝑥 𝐴𝐴𝐿𝐿𝑂𝑂𝐴𝐴𝐴𝐴 𝑐𝑐𝐴𝐴𝑐𝑐𝐴𝐴𝑂𝑂 𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂

𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝑂𝑂𝐿𝐿 𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂 𝑥𝑥 100 % 3. Rasio Kualitas Produk (Rate of Quality Products)

Adalah rasio jumlah produk yang baik terhadap jumlah total produk yang diproses. Jadi Rate of quality products adalah hasil perhitungan dengan menggunakan dua faktor berikut :

1. Processed amount (jumlah produk yang diproses) 2. Defect amount (jumlah produk yang cacat)

Rate of quality products dapat dihitung sebagai berikut :

𝑅𝑅𝐴𝐴𝐴𝐴𝑂𝑂𝑂𝑂𝑃𝑃𝑅𝑅𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝐴𝑃𝑃𝑂𝑂𝑂𝑂𝐿𝐿𝐴𝐴𝑐𝑐𝐴𝐴 = 𝑃𝑃𝑂𝑂𝑂𝑂𝑐𝑐𝑂𝑂𝑝𝑝𝑝𝑝𝑂𝑂𝐿𝐿𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂𝐴𝐴𝑂𝑂𝐴𝐴 − 𝐷𝐷𝑂𝑂𝑃𝑃𝑂𝑂𝑐𝑐𝐴𝐴𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂𝐴𝐴𝑂𝑂𝐴𝐴

𝑃𝑃𝑂𝑂𝑂𝑂𝑐𝑐𝑂𝑂𝑝𝑝𝑝𝑝𝑂𝑂𝐿𝐿𝐴𝐴𝑡𝑡𝑂𝑂𝐴𝐴𝑂𝑂𝐴𝐴 𝑥𝑥 100 % TPM mereduksi rugi-rugi mesin/peralatan dengan cara meningkatkan availability, performance efficiency dan rate of quality products. Sejalan dengan meningkatnya ketiga faktor yang terdapat dalam OEE maka kapabilitas perusahaan juga meningkat.

Dengan memasukkan keenam faktor yang terdapat dalam six big losses dalam perhitungan OEE pada pertama kali umumnya perusahaan hanya

Japan Institute of Plant Maintenance (JIPM) telah menetapkan standar benchmark yang telah dipraktekan secara luas di seluruh dunia. Berikut OEE Benchmarktersebut :

Jika OEE = 100%, produksi dianggap sempurna: hanya memproduksi produk tanpa cacat, bekerja dalam performance yang cepat, dan tidak ada downtime.

Jika OEE = 85%, produksi dianggap kelas dunia. Bagi banyak perusahaan, skor ini merupakan skor yang cocok untuk dijadikan goal jangka panjang.

Jika OEE = 60%, produksi dianggap wajar, tapi menunjukkan ada ruang yang besar untuk improvement.

Jika OEE = 40%, produksi dianggap memiliki skor yang rendah, tapi dalam kebanyakan kasus dapat dengan mudah di-improve melalui pengukuran langsung (misalnya dengan menelusuri alasan-alasan downtime dan menangani sumber-sumber penyebab downtime secara satu per satu).

Untuk standar benchmark world class yang dianjurkan JIPM, yaitu OEE = 85%,%, Tabel 2.1. menunjukkan skor yang perlu dicapai untuk masing-masing faktor OEE.

Tabel 2.1 World Class OEE

Sumber :www.oee.com/world-class-oee.html OEE Factor World Class

Availability 90.0%

Performance 95.0%

Quality 99.0%

Overall OEE 85.0%

Standar benchmark world class OEE tersebut relatif karena pada beberapa buku dan perusahaan menunjukkan standar skor yang berbeda, standar word class ini selalu didorong lebih tinggi sejalan meningkatnya persaingan dan harapan. Misal jika di pabrik sepatu mungkin quality rate>90% dapat diterima, tapi jika di pabrik ban pesawat terbang quality rate 99.9% atau setara ~3σ mungkin merupakan minimal word class, dan tentu saja bagi perusahaan yang mempunyai program kualitas six sigma tidak akan puas dengan quality rate 99.9%.16

Dalam era persaingan bebas saat ini pengukuran sistem produksi yang hanya mengacu pada kuantitas output semata akan dapat menyesatkan, karena pengukuran ini tidak memperhatikan karakteristik utama dari proses yaitu:

kapasitas mesin, efisiensi dan efektivitas. Mengunakan mesin/peralatan seefesien mungkin artinya adalah memaksimalkan fungsi dari kinerja mesin/peralatan produksi dengan tepat guna dan berdaya guna untuk dapat meningkatkan produktivitas.

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 29-35)

Dokumen terkait