• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

PADANG RUMPUT ALAM KEBAR

Pengamatan ekologi padang rumput alam Kebar terdiri atas tiga komponen antara lain: 1) pengamatan komposisi botani petak pengamatan; 2) perhitungan proyeksi kapasitas tampung dan; 3) pengukuran komposisi jenis vegetasi dan asosiasi banondit dengan tumbuhan lainnya.

Waktu dan Tempat

Penelitian dilakukan di areal padang rumput alam Kebar yang luasnya 622,2 ha, yang berlangsung selama tiga bulan, yaitu pada bulan Juni-Agustus 2009.

Bahan dan Peralatan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi vegetasi atau tumbuhan yang ada di areal padang rumput alam Kebar. Peralatan yang digunakan antara lain: kompas, kamera, parang, pisau, tali rafia, meteran/rol meter, kayu untuk patok, lembar pengamatan, buku kunci identifikasi, buku tulis, plastik sampel, kertas koran, label/kode gantung, dan pensil/pena.

Metode Pengambilan Data 1. Komposisi Botani Petak Pengamatan

Penentuan lokasi untuk pembuatan petak pengamatan dilakukan dengan menyesuaikan letak dan tempat tumbuh banondit di padang rumput alam, kemudian dilakukan pengukuran lahan. Luas lahan yang digunakan adalah 80 m x 20 m = 1600 m2. Metode yang digunakan adalah “dry weight rank” (Mannetje & Jones 2000) yaitu perbandingan yang memberikan persentase relatif tentang kedudukan masing-masing spesies (relative importance percentages). Metode ini digunakan untuk menaksir komposisi botani padang rumput atas dasar bahan kering tanpa dilakukan pemotongan dan pemisahan spesies hijauan.

2. Proyeksi Kapasitas Tampung

Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam menentukan kapasitas tamping (Susetyo 1980), yaitu : (1) penafsiran kuantitas produksi hijauan, (2)

Proper use factor (3) menaksir kebutuhan luas tanah per bulan, (4) menaksir kebutuhan luas tanah per tahun berdasarkan rumus Voisin, dan (5) menentukan

kapasitas tampung. Berdasarkan langkah-langkah ini, digunakan juga untuk menentukan kapasitas tampung padang rumput alam Kebar dalam penelitian ini.

3. Komposisi Jenis Vegetasi dan Asosiasi Banondit

Metode yang digunakan adalah metode transek garis berpetak (line plot

transect), yang diawali dengan pembuatan jalur-jalur (Fachrul 2007). Setiap petak

contoh berbentuk segiempat dengan ukuran 1 m x 1 m sehingga jumlah petak contoh seluruhnya 55 buah. Petak contoh tersebut disusun secara sistematis dengan jarak antarpetak contoh dalam satu garis rintis 100 m, sedangkan jarak antargaris rintis 100 m. Garis rintis dibuat searah dengan gradien ketinggian tempat dan tegak lurus dengan garis dasar (base line) (lihat Gambar 5). Pengukuran dilakukan dengan kuadran ukuran 1 m x 1 m, hijauan yang berada di dalam kuadran diamati jenisnya, dan dihitung jumlahnya. Jenis yang tidak diketahui, diambil sampelnya, diberi label/kode untuk dibuat spesimen dan selanjutnya dilakukan indentifikasi di Herbarium Manokwariense Pusat Studi Keanekaragaman Hayati (PSKH) Unipa Manokwari.

100 m

Garis dasar

100 m

Prosedur Pelaksanaan 1. Komposisi Botani

Prosedur yang digunakan dalam pengamatan komposisi botani (Mannetje & Jones 2000) adalah :

1) Tabel isian dan semua peralatan yang akan digunakan, disiapkan.

2) Bingkai/kuadran ukuran 1m x 1m dilempar secara acak di petak pengamatan sesuai dengan jumlah cuplikan yang akan diambil yaitu 20 cuplikan atau 10 cluster. Kemudian vegetasi yang ada dalam kuadran pada setiap cuplikan yang diambil, dan dibuat rangking sesuai dengan proporsinya. Proporsi yang digunakan terdiri dari Imperata cylindrica (A), banondit (B), leguminosa (C), dan gulma/hijauan lain (D).

3) Proporsi hijauan yang telah diranking dimasukkan/ditulis dalam tabel isian. 4) Perhitungan komposisi botani menggunakan koefisien konstanta rasio,

antara lain:

 untuk jumlah ranking sama/data lengkap : ranking 1 = 70,2 ; ranking 2 = 21,1 dan ranking 3 = 8,7.

 untuk jumlah ranking berbeda/data tidak lengkap : ranking 1 = 8,04; ranking 2 = 2,41 dan ranking 3 = 1.

2. Proyeksi Kapasitas Tampung

Prosedur yang digunakan dalam pengamatan ini (Susetyo 1980) adalah : 1. Tabel isian dan semua peralatan yang akan digunakan, disiapkan.

2. Bingkai/kuadran dilempar secara acak di areal petak pengamatan sesuai dengan jumlah cuplikan yang akan diambil yaitu 10 cuplikan atau 5 cluster. Kemudian vegetasi yang ada dalam kuadran pada setiap cuplikan yang diambil, dan dipotong setinggi 5 cm dari permukaan tanah.

3. Hijauan yang telah dipotong dimasukkan ke dalam amplop sampel yang telah disediakan, kemudian diberikan kode. Hal ini dilakukan sama untuk semua jumlah cuplikan yang diambil.

4. Hijauan yang telah dimasukkan dan diberikan kode tersebut ditimbang untuk mengetahui berat segarnya dan dicatat hasil penimbangannya pada tabel isian.

5. Perhitungan kapasitas tampung berdasarkan produksi hijauan yang diperoleh.

3. Pengamatan ekologi padang rumput alam Kebar

Data yang dikumpulkan meliputi jenis vegetasi/tumbuhan, kerapatan (jumlah individu per luasan), dan frekuensi.

Pengolahan dan Analisis Data 1. Pengamatan ekologi padang rumput alam Kebar

a. Komposisi dan Dominansi Jenis

Untuk mengetahui komposisi jenis dan tingkat dominansi jenis vegetasi di areal padang rumput alam, digunakan beberapa rumus menurut Soerianegara dan Indrawan (2008), sebagai berikut :

1. Kerapatan (individu/m2) Kerapatan (K)

= Jumlah individu suatu jenis Total luas petak contoh 2. Kerapatan Relatif (%)

Kerapatan Relatif (KR) = Kerapatan dari suatu jenis x 100% Kerapatan dari seluruh jenis

3. Frekuensi

Frekuensi (F) = Jumlah petak contoh ditemukannya suatu jenis Jumlah seluruh petak contoh

4. Frekuensi Relatif (%)

Frekuensi Relatif (FR) = Frekuensi suatu jenis x 100% Frekuensi seluruh jenis

5. Index Nilai Penting (INP)

Index Nilai Penting = Kerapatan Relatif (KR) + Frekuensi Relatif (FR)

6. Dominansi jenis/spesies tumbuhan

Dominansi jenis/spesies tumbuhan ditentukan dengan parameter perbandingan nilai penting (summed dominance ratio/SDR). Perbandingan nilai penting dihitung dengan rumus sebagai berikut Muller et al. 1974):

Tinggi atau rendahnya tingkat dominansi jenis ditentukan dengan rumus sebagai berikut :

SDR tertinggi – SDR terendah

Interval kelas penguasaan jenis (I) = ---

3

Kriteria tingkat penguasaan jenis adalah:

(1) Tingkat penguasaan rendah : SDR < (SDR terendah + I)

(2) Tingkat penguasaan sedang : SDR = (SDR terendah + I) – (SDR terendah +

2I)

(3) Tingkat penguasaan tinggi : SDR > (SDR terendah + 2I)

7. Indeks keragaman jenis (H’) (Misra 1980; Kusmana 1997; Fachrul 2007) yaitu:

ni ni H’ = - ∑ --- log --- N N Dimana:

H’ = indeks keragaman Shanon-Wienner ni = jumlah individu dari suatu jenis ke-i N = jumlah total individu seluruh jenis

8. Indeks Asosiasi

Pengukuran indeks asosiasi untuk mengetahui asosiasi antar Biophytum

petersianum Klotzsch (banondit) dan alang-alang dengan tumbuhan

lainnya menggunakan indeks Ochiai (Ludwig & Reynold 1988) yaitu: a

Oi = --- (√a + b) (√a + c)

Dimana:

a= jumlah petak ditemukannya kedua jenis (a dan b) b= jumlah petak ditemukannya jenis a

c= jumlah petak ditemukannya jenis b Asosiasi terjadi pada selang nilai 0-1

PENELITIAN II: UJI PRODUKTIVITAS BANONDIT (Biophytum

Dokumen terkait