E. Tes Formatif 6
7. PAJAK PENJUALAN BARANG MEWAH
A. Indikator
a. Peserta diklat dapat menjelasakan karakteristik PPn BM
b. Peserta diklat dapat menjelaskan jenis-jenis barang mewah dan tarif PPn BM c. Peserta diklat dapat menjelaskan mekanisme pengenaan PPn BM
B. Uraian dan Contoh a. Karakteristik PPn BM
Pajak penjualan barang mewah (PPn BM) adalah pajak yang dikenakan terhadap impor dan penyerahan barang-barang tertentu yang masuk dalam ketegori barang mewah. Seperti halnya PPN, PPn BM mempunyai karakteristik sebagai pajak atas konsumsi dalam negeri, merupakan tidak langsung dan pajak objektif. PPn BM sebagai pajak konsumsi dalam negeri artinya PPn BM dikenakan atas impor dan penyerahan barang mewah yang dilakukan di dalam negeri (dalam daerah pabean). Sebagai pajak tidak langsung artinya dalam transaksi dalam negeri pemikul beban PPn BM adalah pembeli, tapi yang berkewajiban menyetor ke kas negara adalah pihak penjual. Sedangkan PPn BM merupakan pajak objektif artinya PPn BM dikenakan atas peristiwa hukum yang terutang PPn BM (objek PPn BM) tanpa harus memperhatikan kondisi subjeknya.
Namun, ada beberapa karakteristik PPn BM yang membedakannya dengan PPN, yaitu : a) PPn BM merupakan pungutan tambahan disamping PPN. Salah satu pertimbangan
pengeanaan PPn BM sebagai pungutan tambahan disamping PPN adalah karakteristik PPN sebagai pajak objektif, dimana pengenaan PPN yang tidak memperhatikan kondisi subjeknya menimbulkan dampak regresifitas.48
b) PPn BM hanya dikenakan satu kali yaitu saat impor atau saat penyerahan di dalam negeri (dalam daerah pabean) barang kena pajak yang tergolong mewah oleh pabrikan yang menghasilkannya.
Sehingga untuk barang-barang yang masuk dalam kategori barang mewah selain dikenakan PPN juga akan dikenakan PPn BM. Dengan demikian pengenaan PPn BM tidak berdiri sendiri, semua barang yang dikenakan PPn BM pasti dikenakan PPN. Mekanisme pemungutan dan pelaporannya juga ikut dalam mekanisme PPN misalnya dalam penerbitan faktur pajak dan pelaporan SPT.
48 Yang dimaksud dengan regresifitas adalah semakin tinggi penghasilan seseorang maka beban pajak yang dipikul akan terasa semakin ringan. Contohnya sebuah barang harga jualnya Rp10.000.000 dikenakan pajak 10% yaitu Rp1.000.000. Bagi orang yang penghasilannya Rp10.000.000 beban Pajak IIni terasa lebih berat dibandingkan dengan orang yang penghasilannya Rp100.000.000. Artinya semakin tinggi penghasilan seseorang beban pajak terasa lebih ringan
c) PPn BM tidak dapat dikreditkan dengan PPN atau PPn BM.49 Namun, pengusaha kena pajak yang mengekspor BKP yang tergolong mewah dapat meminta kembali PPn BM yang telah dibayar pada waktu perolehan BKP yang tergolong mewah yang diekspor tersebut.
b. Jenis barang mewah dan tarif PPn BM
Atas penyerahan Barang Kena Pajak yang tergolong mewah oleh produsen atau atas impor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah, di samping dikenai Pajak Pertambahan Nilai, dikenai juga Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan pertimbangan bahwa:
a. perlu keseimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang berpenghasilan rendah dan konsumen yang berpenghasilan tinggi;
b. perlu adanya pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Pajak yang tergolong mewah;
c. perlu adanya perlindungan terhadap produsen kecil atau tradisional; dan d. perlu untuk mengamankan penerimaan negara.
Undang Undang PPN memberikan kriteria suatu barang dimasukkan dalam kategori Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yaitu :
a. barang yang bukan merupakan barang kebutuhan pokok b. barang yang dikonsumsi oleh masyarakat tertentu
c. barang yang pada umumnya dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi; dan/atau
d. barang yang dikonsumsi untuk menunjukkan status.
Berdasarkan pasal 8 Undang Undang No.42 Tahun 2009 tarif PPn BM ditetapkan paling rendah 10% dan paling tinggi 200%. Sedangkan untuk Ekspor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah dikenai pajak dengan tarif 0%. Ketentuan mengenai kelompok Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif diatur dengan Peraturan Pemerintah. Sedangkan ketentuan mengenai jenis Barang yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. Dalam pelaksanaannya Barang Kena Pajak yang tergolong mewah dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a. Barang kena pajak yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor
b. Barang kena pajak yang tergolong mewah selain kendaraan bermotor. Daftar jenis dan tarif Barang kena pajak yang tergolong mewah selain kendaraan bermotor dapat dilihat di lampiran modul ini
Adapun kelompok dan tarif barang kena pajak yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor adalah sebagai berikut :50
1. Kelompok Barang Kena Pajak yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif sebesar 10% adalah:
a. kendaraan bemotor untuk pengangkutan 10 orang sampai dengan 15 orang termasuk pengemudi, dengan motor bakar cetus api atau nyala kompresi (diesel atau semi diesel) untuk semua kapasitas silinder; dan
49 Untung Sukardji. Pokok-Pokok Pajak Pertambahan Nilai Indonesia Edisi Revisi. 2011. Rajawali Pers
b. kendaraan bermotor untuk pengangkutan kurang dari 10 orang termasuk pengemudi selain sedan atau station wagon, dengan motor bakar cetus api atau nyala kompresi (diesel atau semi diesel) dengan sistem 1 gardan penggerak 4x2, dengan kapasitas isi silinder sampai dengan 1.500 cc.
2. Kelompok Barang Kena Pajak yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif sebesar 20%, adalah:
a. kendaraan bermotor untuk pengangkutan kurang dari 10 orang termasuk pengemudi selain sedan atau station wagon, dengan motor bakar cetus api atau nyala kompresi (diesel atau semi diesel), dengan sistem 1 gardan penggerak (4x2), dengan kapasitas isi silinder lebih dari 1.500 cc sampai dengan 2.500 cc; dan
b. kendaraan bermotor dengan kabin ganda (double cabin) dalam bentuk kendaraan bak terbuka atau bak tertutup, dengan penumpang lebih dari 3 orang termasuk pengemudi, dengan motor bakar cetus api atau nyala kompresi (diesel atau semi diesel), dengan sistem 1 gardan penggerak (4x2) atau dengan sistem 2 gardan penggerak (4x4), untuk semua kapasitas isi silinder, dengan massa total tidak lebih dari 5 (lima) ton
3. Kelompok Barang Kena Pajak yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif sebesar 30% adalah kendaraan bermotor untuk pengangkutan kurang dari 10 orang termasuk pengemudi, berupa kendaraan bermotor untuk pengangkutan kurang dari 10 orang termasuk pengemudi berupa:
a. kendaraan bermotor sedan atau station wagon dengan motor bakar cetus api atau nyala kompresi (diesel atau semi diesel) dengan kapasitas isi silinder sampai 1.500 cc; dan
b. kendaraan bermotor selain sedan atau station wagon dengan motor bakar cetus api atau nyala kompresi (diesel atau semi diesel) dengan sistem 2 gardan penggerak (4x4), dengan kapasitas isi silinder sampai 1.500 cc.
4. Kelompok Barang Kena Pajak yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif sebesar 40% adalah kendaraan bermotor untuk pengangkutan kurang dari 10 orang termasuk pengemudi, berupa kendaraan bermotor untuk pengangkutan kurang dari 10 orang termasuk pengemudi, berupa:
a. kendaraan bermotor selain sedan atau station wagon dengan motor bakar cetus api, dengan sistem 1 gardan penggerak (4x2) dengan kapasitas isi silinder lebih dari 2.500 cc sampai dengan 3.000 cc;
b. kendaraan bermotor dengan motor bakar cetus api, berupa: 1. Sedan atau station wagon; dan 2. selain sedan atau station wagon dengan sistem 2 gardan penggerak (4x4), dengan kapasitas isi silinder lebih dari 1.500 cc sampai dengan 3.000 cc; fan
c. kendaraan bermotor dengan motor bakar nyala kompresi (diesel atau semi diesel), berupa:
1. sedan atau station wagon; dan
2. selain sedan atau station wagon dengan sistem 2 gardan penggerak (4x4) dengan kapasitas isi silinder lebih dari 1.500 cc sampai dengan 2.500 cc.
5. Kelompok Barang Kena Pajak yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif sebesar 50% adalah semua jenis kendaraan khusus yang dibuat untuk golf.
6. Kelompok Barang Kena Pajak yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif sebesar 60%, adalah:
a. kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas isi silinder lebih dari 250 cc sampai dengan 500 cc; dan
b. kendaraan khusus yang dibuat untuk perjalanan di atas salju, di pantai, di gunung, dan kendaraan semacam itu.
7. Kelompok Barang Kena Pajak yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor yang dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan tarif sebesar 125%, adalah:
a. kendaraan bermotor untuk pengangkutan kurang dari 10 orang termasuk pengemudi, dengan motor bakar cetus api, berupa:
1. sedan atau station wagon; dan
2. selain sedan atau station wagon dengan sistem 1 gardan penggerak (4x2) atau dengan sistem 2 gardan penggerak (4x4), dengan kapasitas isi silinder lebih dari 3.000 cc;
b. kendaraan bermotor untuk pengangkutan kurang dari 10 orang termasuk pengemudi,
dengan motor bakar nyala kompresi (diesel atau semi diesel) berupa: 1. sedan atau station wagon; dan
2. selain sedan atau station wagon dengan sistem 1 gardan penggerak (4x2) atau dengan sistem 2 gardan penggerak (4x4),dengan kapasitas isi silinder lebih dari 2.500 cc;
c. kendaraan bermotor beroda 2 dengan kapasitas isi silinder lebih dari 500 cc; dan d. trailer, semi-trailer dari tipe caravan, untuk perumahan atau kemah.
Fasilitas untuk Mobil Murah
Pemerintah memberikan fasilitas untuk mobil murah (low cost and green car), dengan memberikan pengurangan dasar pengenaan pajak. Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang termasuk dalam kelompok kendaraan bermotor tarif 10%,20%,30%,40% dan 125% dihitung dengan Dasar Pengenaan Pajak sebesar:
a. 75% (tujuh puluh lima persen) dari Harga Jual untuk kendaraan bermotor yang menggunakan teknologi advance diesel/petrol engine, dual petrol gas engine (converter kit CNG/LGV), biofuel engine, hybrid engine, CNG/LGV dedicated engine, dengan konsumsi bahan bakar minyak mulai dari 20 kilometer per liter sampai dengan 28 kilometer per liter atau bahan bakar lain yang setara dengan itu;
b. 50% (lima puluh persen) dari Harga Jual untuk kendaraan bermotor yang menggunakan teknologi advance diesel/petrol engine, biofuel engine, hybrid engine, CNG/LGV dedicated engine, dengan konsumsi bahan bakar minyak lebih dari 28 kilometer per liter atau bahan bakar lain yang setara dengan itu; dan
c. 0% (nol persen) dari Harga Jual untuk kendaraan bermotor yang termasuk program mobil hemat energi dan harga terjangkau, selain sedan atau station wagon, dengan persyaratan sebagai berikut:
1. motor bakar cetus api dengan kapasitas isi silinder sampai dengan 1.200 cc dan konsumsi bahan bakar minyak paling sedikit 20 kilometer per liter atau bahan bakar lain yang setara dengan itu; atau
2. motor nyala kompresi (diesel atau semi diesel) dengan kapasitas isi silinder sampai dengan 1.500 cc dan konsumsi bahan bakar minyak paling sedikit 20 kilometer per liter atau bahan bakar lain yang setara dengan itu.
Pengecualian dan Fasilitas Pembebasan PPn BM
PPnBM tidak dikenakan atas impor atau penyerahan:51
a. Kendaraan CKD; b. Kendaraan Sasis;
c. Kendaraan Pengangkutan Barang;
d. Kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas isi silinder sampai dengan 250 cc; dan e. Kendaraan bermotor untuk pengangkutan 16 (enam belas) orang atau lebih termasuk
pengemudi.
Pemerintah juga memberikan fasilitas pembebasan PPn BM untuk kendaraan tertentu. Kendaraan bermotor yang dibebaskan dari pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yaitu :
a. kendaraan bermotor yang digunakan untuk kendaraan ambulan, kendaraan jenazah, kendaraan pemadam kebakaran, kendaraan tahanan, dan kendaraan angkutan umum; b. kendaraan bermotor yang digunakan untuk tujuan protokoler kenegaraan;
c. kendaraan bermotor angkutan orang untuk 10 orang atau lebih termasuk pengemudi, dengan motor bakar nyala kompresi (diesel atau semi diesel) dengan semua kapasitas isi silinder sebagaimana dimaksud dalam yang digunakan untuk kendaraan dinas TNI atau POLRI; dan
d. kendaraan bermotor yang digunakan untuk keperluan patroli TNI atau POLRI.
Apabila kendaraan bermotor yang dibebaskan dari pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tersebut dalam jangka waktu 5 tahun sejak impor atau perolehannya ternyata dipindahtangankan atau diubah peruntukannya sehingga tidak sesuai dengan tujuan semula, Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang pada saat impor atau perolehannya tersebut wajib dibayar kembali dalam jangka waktu 1 bulan sejak Barang Kena Pajak tersebut dipindahtangankan atau diubah peruntukannya.
Apabila dalam jangka waktu 1 bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang tersebut tidak atau kurang dibayar, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) ditambah sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.
c. Mekanisme Pengenaan PPn BM
PPn BM hanya dikenakan satu kali yaitu saat impor atau saat penyerahan di dalam negeri (dalam daerah pabean) barang kena pajak yang tergolong mewah oleh pabrikan yang menghasilkannya. Pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas impor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah tidak memperhatikan siapa yang mengimpor Barang Kena Pajak tersebut serta tidak memperhatikan apakah impor tersebut dilakukan secara terus menerus
atau hanya sekali saja. Selain itu, pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah terhadap suatu penyerahan Barang Kena Pajak yang tergolong mewah tidak memperhatikan apakah suatu bagian dari Barang Kena Pajak tersebut telah dikenai atau tidak dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah pada transaksi sebelumnya.
PPn BM terutang atas penyerahan barang kena pajak yang tergolong mewah oleh pabrikan yang menghasilkannya. Yang termasuk dalam pengertian menghasilkan adalah kegiatan:
a. merakit, yaitu menggabungkan bagian-bagian lepas dari suatu barang menjadi barang setengah jadi atau barang jadi, seperti merakit mobil, barang elektronik, dan perabot rumah tangga;
b. memasak, yaitu mengolah barang dengan cara memanaskan baik dicampur bahan lain maupun tidak;
c. mencampur, yaitu mempersatukan dua atau lebih unsur (zat) untuk menghasilkan satu atau lebih barang lain;
d. mengemas, yaitu menempatkan suatu barang ke dalam suatu benda untuk melindunginya dari kerusakan dan/atau untuk meningkatkan pemasarannya; dan
e. membotolkan, yaitu memasukkan minuman atau benda cair ke dalam botol yang ditutup menurut cara tertentu;
serta kegiatan lain yang dapat dipersamakan dengan kegiatan itu atau menyuruh orang atau badan lain melakukan kegiatan tersebut.
Untuk memberikan gambaran pengenaan PPn BM atas transaksi impor dan penyerahan oleh pabrikan dapat disimak ilustrasi berikut ini.
Mekanisme PPn BM Impor
PT IMPORTIR melakukan impor barang dengan nilai impor Rp100.000.000. Oleh PT IMPORTIR barang tersebut dijual ke PT DISTRIBUTOR dengan harga jual Rp150.000.000. Oleh PT DISTRIBUTOR tersebut dijual ke konsumen akhir dengan harga jual Rp200.000. Barang tersebut termasuk kelompok barang kena pajak yang tergolong mewah dikenakan PPn BM tarif 20%.
Dalam kasus diatas PPn BM hanya dipungut satu kali saja yaitu pada saat impor oleh PT IMPORTIR. PPn BM yang dibayar oleh PT IMPORTIR saat impor tidak dapat dikreditkan, sehingga menjadi biaya (beban) bagi PT IMPORTIR. Atas penyerahan berikutnya oleh PT IMPORTIR ke PT DISTRIBUTOR dan dari PT DISTRIBUTOR ke KONSUMEN tidak lagi dikenakan PPn BM. Sedangkan untuk PPN, dipungut disemua rantai distribusi, mulai saat impor oleh PT IMPORTIR, penyerahan dari PT IMPORTIR ke PT DISTRIBUTOR dan dari PT DISTRIBUTOR ke KONSUMEN
Pajak-pajak yang harus disetor ke kas negara oleh PT IMPORTIR terdiri dari PPN dan PPn BM dengan penghitungan sebagai berikut:
Pajak keluaran 15.000.000 Pajak masukan
PPN Kurang Bayar 5.000.000 (10.000.000)
PPn BM 20.000.000
Pajak yang harus disetor ke kas negara oleh PT DISTRIBUTOR hanya dari PPN saja dengan penghitungan sebagai berikut:
Pajak keluaran 20.000.000 Pajak masukan
PPN Kurang Bayar 5.000.000 (15.000.000)
Mekanisme PPn BM Penyerahan oleh Pabrikan
PT PABRIKAN menghasilkan barang yang termasuk dalak dalam kategori barang mewah. Oleh PT PABRIKAN barang tersebut dijual ke PT DISTRIBUTOR dengan harga jual Rp100.000.000. Oleh PT DISTRIBUTOR barang tersebut dijual ke PT PENGECER dengan harga jual Rp150.000.000. Oleh PT PENGECER barang tersebut dijual ke konsumen akhir dengan harga jual Rp200.000. Barang tersebut termasuk kelompok barang kena pajak yang tergolong mewah dikenakan PPn BM tarif 20%.
Gambar 5. Mekanisme PPn BM Penyerahan Pabrikan
Dalam kasus diatas PPn BM hanya dipungut satu kali saja yaitu pada saat penyerahan dari PT PABRIKAN ke PT DISTRIBUTOR. PPn BM yang dibayar oleh PT DISTRIBUTOR tidak dapat dikreditkan, sehingga menjadi biaya (beban) bagi PT DISTRIBUTOR. Atas penyerahan berikutnya oleh PT DISTRIBUTOR ke PT PENGECER dan dari PT PENGECER ke
KONSUMEN tidak lagi dikenakan PPn BM. Sedangkan untuk PPN, dipungut disemua rantai distribusi, mulai penyerahan PT PABRIKAN ke PT DISTRIBUTOR, penyerahan dari PT DISTRIBUTOR ke PT PENGECER dan dari PT PENGECER ke KONSUMEN
Pajak-pajak yang harus disetor ke kas negara oleh PT PABRIKAN terdiri dari PPN dan PPn BM dengan penghitungan sebagai berikut:
Pajak keluaran 10.000.000 Pajak masukan
PPN Kurang Bayar 10.000.000 -
PPn BM 20.000.000
Pajak yang harus disetor ke kas negara oleh PT DISTRIBUTOR hanya dari PPN saja dengan penghitungan sebagai berikut:
Pajak keluaran 15.000.000 Pajak masukan
PPN Kurang Bayar 5.000.000 (10.000.000)
Pajak yang harus disetor ke kas negara oleh PT PENGECER hanya dari PPN saja dengan penghitungan sebagai berikut:
Pajak keluaran 20.000.000 Pajak masukan
PPN Kurang Bayar 5.000.000 (15.000.000)
C. Latihan Kasus 1
PT IMPORTIR mengimpor 100 unit mesin pengatur suhu udara (AC), biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan impor tersebut
– Harga FOB Rp 250.000.000 – Asuransi Rp 5.000.000 – Pengangkutan Rp 7.500.000 – Biaya pengurusan Rp 800.000 – Bea Masuk 5%
Oleh PT IMPORTIR AC tersebut dijual ke PT DISTRIBUTOR senilai Rp 400.000.000 Oleh PT DISTRIBUTOR AC tersebut dijual ke PT KONSUMEN senilai Rp 500.000.000 Asumsi : AC tersebut termasuk dalam kelompok Barang Mewah yang terutang PPn BM 20% Permasalahan : Hitung dan jelaskan mekanisme PPN dan PPn BM transaksi diatas
Kasus 2
PT PABRIKAN memproduksi 100 unit mesin pengatur suhu udara (AC), biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan produksi tersebut
• Pembelian Bahan baku dan komponen dari PT KOMPONEN Rp150.000.000 • Biaya Upah Langsung Rp 500.000
Oleh PT PABRIKAN AC tersebut dijual ke PT DISTRIBUTOR senilai Rp 400.000.000 Oleh PT DISTRIBUTOR AC tersebut dijual ke PT KONSUMEN senilai Rp 500.000.000 Asumsi : AC tersebut termasuk dalam kelompok Barang Mewah yang terutang PPn BM 20% Permasalahan : Hitung dan jelaskan mekanisme PPN dan PPn BM transaksi diatas
Kasus 3
PT. KARPET mengimpor 1000 lembar permadani dari Irak. Permadani tergolong sebagai Barang Kena Pajak yang tergolong mewah, sehingga atas impor permadani terutang PPnBM 40%. Sehubungan dengan itu, PT. KARPET telah membayar Rp. 11.250.000.000 yang meliputi Harga Impor (CIF), PPN 10% dan PPnBM 40% dan Bea Masuk 50%.
Pada tanggal 7 Januari 2008, importir ini menyerahkan 50 lembar permadani tersebut kepada PT MATAHARI dengan harga kontrak Rp. 693.000.000 termasuk PPN.
Hitung :
a. Hitung PPN dan PPn BM ketika PT KARPET melakukan impor tersebut b. Hitung Harga jual permadani dari PT KARPET ke PT MATAHARI
c. Hitung PPN dan PPn BM ketika PT KARPET menjual permadani tersebut ke PT MATAHARI
Kasus 4
PT MONTORE adalah sebuah importir kendaraan bermotor yang memiliki unit perakitan sendiri. Pemasaran kendaraan bermotor hasil rakitannya dilakukan melalui anak perusahaannya PT MONTORA.
Pada akhir Januari 2014, telah masuk di pelabuhan Tanjung Priok 300 unit sedan dalam bentuk CKD yang diimpor dari Korea dengan Harga Impor (CIF) Rp 15.000.000.000 yang terutang Bea Masuk dengan tarif 50%. Setelah selesai dirakit, pada awal Maret 2014 sebanyak 200 unit diserahkan kepada PT Montora dengan harga penyerahan Rp 104.000.000 per unit termasuk PPN dan PPnBM masing-masing dengan tarif 10% dan 20%.
Kemudian 100 unit di antaranya oleh PT Montora diserahkan kepada sebuah perusahaan persewaan kendaraan bermotor PT SEWAN, dengan memperhitungkan nilai tambah sebesar Rp 20.000.000 dalam harga jual per unitnya. Sejumlah 50 unit lagi oleh PT MONTORA diserahkan kepada dealer pada akhir April 2014 dengan memperhitungkan nilai tambah Rp 20.000.000 dan diberikan potongan harga Rp 10.000.000 per unitnya. Pada saat penyerahan, dealer membayar 30% dari seluruh kendaraan bermotor yang diterimanya.
Hitung :
a. Berapa PPN/PPnBM yang terutang atas penyerahan 200 unit sedan yang dilakukan oleh PT MONTORE kepada PT MONTORA?
b. Berapa PPN/PPnBM yang wajib dibayar ke Bank Devisa sehubungan dengan impor tersebut?
c. Berapa PPN yang terutang atas penyerahan 150 unit sedan oleh PT MONTORA? d. Berapa PPn BM yang harus dipungut pada saat penyerahan tersebut pada huruf c?
D. Rangkuman
Pajak penjualan barang mewah (PPn BM) adalah pajak yang dikenakan terhadap impor dan penyerahan barang-barang tertentu yang masuk dalam ketegori barang mewah. PPn BM mempunyai karakteristik yang membedakannya dengan pajak yang lain, yaitu :
a) PPn BM merupakan pungutan tambahan disamping PPN.
b) PPn BM hanya dikenakan satu kali yaitu saat impor atau saat penyerahan di dalam negeri (dalam daerah pabean) barang kena pajak yang tergolong mewah oleh pabrikan yang menghasilkannya.
c) PPn BM tidak dapat dikreditkan dengan PPN atau PPn BM. Latar belakang pengenaan PPn BM adalah:
a. perlu keseimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang berpenghasilan rendah dan konsumen yang berpenghasilan tinggi;
b. perlu adanya pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Pajak yang tergolong mewah;
c. perlu adanya perlindungan terhadap produsen kecil atau tradisional; dan d. perlu untuk mengamankan penerimaan negara.
Undang Undang PPN memberikan kriteria suatu barang dimasukkan dalam kategori Kriteria Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yaitu :
a. barang yang bukan merupakan barang kebutuhan pokok; b. barang yang dikonsumsi oleh masyarakat tertentu;
c. barang yang pada umumnya dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi; dan/atau
d. barang yang dikonsumsi untuk menunjukkan status.