FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS TEUKU UMAR
LEMBARAN PENGESAHAN
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Pakan Ikan
Pakan memegang peranan penting dalam budidaya ikan, yaitu berperan bagi pertumbuhan ikan dengan biaya yang dibutuhkan untuk penyediaan pakan ikan mencakup 30-60% dari biaya yang dibutuhkan. Pakan ikan dapat dibedakan menjadi empat, yaitu senyawa pakan, silase ikan rucah, dan pakan pakan hidup
11
untuk larva ikan. Pada dasarnya, pakan buatan yang sering kita jumpai termasuk dalam kelompok senyawa pakan dan silase ikan. Dua jenis senyawa pakan yang biasa dibuat oleh pabrik pakan adalah pakan yang berbentuk tepung, pasta, dan cake, serta pakan yang berbentuk pelet (Afriyanto dan Liviawaty, 2005).
Pakan yang biasa diberikan kepada ikan pemakan plankton atau alga, larva, dan benih adalah pakan dalam bentuk tepung kering, suspensi koloid, atau cake lunak. Oleh karena itu ikan pakan tersebut akan ditangkap langsung atau disaring dari air. Kelemahan pakan jenis ini adalah sering mengendap didasar kolam sehingga tidak termakan. Untuk mencegah hal tersebut dan untuk meningkatkan konsumsi pakan, campuran bahan baku harus diayak terlebih dahulu agar mempunyai bentuk yang seragam dan tercampur secara merata. Selanjutnya, campuran disemprot dengan minyak, cairan ikan yang kental, atau jaringan ikan yang telah dihaluskan sehingga dapat memantulkan cahaya, menolak air, dan meransang partikel halus untuk bergabung membentuk partiker yang lebih besar (Afriyanto dan Liviawaty, 2005).
Cara lain yang dapat dilakukan adalah mencampurkan bahan baku dengan air sehingga terbentuk pakan cair. Pakan cair dapat terbentuk karena adanya kemampuan mengingkat dari komponen protein atau karbohidrat (ubi kayu, kedelai, sagu, beras, alginate, gelatin, maupun gel buatan/CMC). Adonan ini selanjutnya disaring sehinggan membentuk suspense koloid, serpihan, gumpalan atau cake (Afriyanto dan Liviawaty, 2005). .
Pakan cair biasa dilakukan pertambahan atau pencampuran dengan air, lemak atau ikan rucah Sebagian besar pakan buatan dibuat dalam bentuk pelet. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan penyimpanan , transportasi, dan
12
penyaluran dalam mesin pakan (automatic feeder dan self feeder). Pakan buatan berbentuk pellet dibedakan menjadi empat jenis, yaitu serpihan (flake), remah (crumble), pellet porous, dan pellet panjang (spanghetti pellets). Beberapa penulis membagi pakan buatan menjadi dua golongan besar, yaitu pellet keras dan pellet lunak (Afriyanto dan Liviawaty, 2005).
Proses pembuatan pellet keras dilakukan dengan menggunakan mixer berkecepatan tinggi, dengan penambahan 4-6 % air dalam bentuk uap. air dalam bentuk uap akan memberikan kemudahan pada saat penekanan dan ekstrosi. Panas yang timbul selama penekanan dan ekstrosi menyebabkan terjadinya proses gelatinisasi permukaan oleh karbon hidrat oleh nabati yang ada dalam pakan. Proses gelatinisasi akan mengikat dan menstabilkan air pada komponen pakan (Afriyanto dan Liviawaty, 2005).
Komponen pakan yang terpenting adalah protein, akan tetapi sumber protein hanya bisa didapatkan dari tepung ikan yang harganya mahal. Oleh sebab itu, perlu dikembangkan alternatif penggunaan sumber protein lain yang dapat menggantikan fungsi tepung ikan. Salah satu bahan alternatif tersebut adalah pemanfaatan bahan baku yang mudah didapatkan tetapi kaya akan protein seperti cacing tanah, keong mas, cumi-cumi dan maggot. Penggunaan bahan baku tersebut dapat mengubah aroma, tekstur, dan bau dari pakan itu sendiri (Afriyanto dan Liviawaty, 2005).
2.3.1 Pakan Cair
Pakan cair merupakan jenis koloid dengan fase terdispersinnya berupa fase cair dengan medium pendispersinya bisa berupa zat padat, dan gas. Pakan cair merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak dapat bercampur,
13
biasanya terdiri dari minyak dan air, dimana cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. Dispersi ini tidak stabil, butir – butir ini bergabung ( koalesen ) dan membentuk dua lapisan yaitu air dan minyak yang terpisah yang dibantu oleh zat pencair merupakan komponen yang paling penting agar memperoleh pakan cair yang stabil. Cair dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu cair vera (cair alam) dan cair spuria (cair buatan). Cair vera dibuat dari biji atau buah, dimana terdapat disamping minyak lemak juga emulgator yang biasanya merupakan zat seperti putih telur (Anief, 2000).
Pakan cair adalah jenis pakan yang kita buat sendiri tanpa bantuan mesin dan mempunyai tingkat keawetan yang rendah, biasanya pakan cair ini digunakan untuk perawatan larva dari beberapa jenis ikan yang bertelur, tetapi bisa juga diberikan sebagai pakan tambahan pada ikan yang mempunyai buka mulut kecil, seperti jenis ikan leave bearier. Pakan cair dapat mengalami kestabilan namun juga dapat mengalami kerusakan (Demulsifikasi) dimana rusaknya pakan cair ini disebabkan faktor suhu, rusaknya emulgator sendiri, penambahan elektrolit sehingga semua ini akan dapat menyebabkan timbulnya endapan atau terjadi sedimentasi atau membentuk krim (Nuranimahabah,2009).
2.3.2 Cacing Tanah
Diversifikasi bahan pakan lokal dalam upaya untuk mensubstitusi sebagian atau semua pakan impor, perlu dikaji berkesinambungan secara teknis maupun ekonomis. Cacing tanah (Lumbricus rubellus) merupakan salah satu bahan pakan alternatif sebagai sumber protein yang mempunyai potensi baik produktivitas maupun kualitasnya. Pengembangan budidaya cacing tanah perlu ditunjang dengan perbaikan kualitas dan kuantitas media dan pakan yang sesuai
14
dengan kebutuhan. Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa perbedaan media dan pakan yang diberikan pada cacing tanah dapat mempengaruhi reproduksi dan kandungan zat nutrisinya. Pakan yang diperlukan cacing tanah bersumber dari berbagai bahan organik yang tidak mengandung unsur unsur berbahaya yang dapat mengakibatkan kematian atau penurunan kualitas hidupnya (Gardjito, 1999).
Menurut Gardjito (1999), komposisi nutrisi cacing tanah adalah sebagai berikut: Protein Kasar : 60 – 72 %, Lemak : 7 – 10 %, Abu : 8 – 10 %, Energi : 900–4100 kalori/gram, Karbohidrat : 17 %. Disamping kaya protein (50 –72 %), cacing tanah juga mengandung beberapa asam amino yang sangat penting bagi unggas seperti arginin (10,7 %), tryptophan (4,4 %) dan tytosin (2,25 %). Ketiga asam amino ini jarang ditemui pada bahan pakan lainnya.
2.3.3 Cumi-Cumi
Kandungan gizi cumi-cumi diantara protein asam amino esensial, selenium dan vitamin B1 (tiamin), vitamin B2 (Riboflavin), B 12, niasin, asam folat sertavitamin yang larut dalam lemak yaitu Vit. A,D,E,K. kandungan protein cukup tinggi yaitu : 17,9 g/100 gram cumi segar . Selain itu cumi-cumi juga mengandung mineral mikro dan makro yang cukup tinggi seperti natrium, fosfor, kalium, kalsium dan magnesium , kadar lemak pada protein cumi-cumi relative rendah yaitu 7,5 g/100 g. masing-masing terdiri dari 1.9 g asam lemak jenuh, 2,7 g asam lemak tidak jenuh tunggal , serta 2,1 g asam lemak tidak jenuh ganda . namun perlu diwaspadai , kolestrol cumi-cumi lumayan tinggi yaitu 260 mg /100 g bahan , walaupun dianggap berbahaya , kolestrol tetap dibutukan oleh tubuh (Hepner, 1990).
15
Cumi – cumi atau sotong punya cara itu untuk menghindari diri yaitu menyomprot tinta hitam, tinta hitam mengandung butir-butir melanik atau pigmen hitam melanik atau alami adalah protein yang mengandung sulfur, yaitu sistem.
Khasiat cumi-cumi sangat banyak diantaranya, anti tumor, mendukung pertumbuhan tulang, mencegah esteoporosis dan menyembuhkan kulit bernoda (Hepner, 1990).
2.3.4 Keong Mas
Keong mas (Pomacea canaliculata) atau dikenal GAS (golden apple snail) sering dianggap kegagalan panen padi. Keong mas merupakan salah satu moluska. selain menjadi hama padi , keong mas sebenarnya juga memiliki potensi ekonomi cukup tinggi kalau bisa dimanfaatkannya. Proporsi daging keong mas hanya sekitar 18% dari total keong mas hidup. Daging keong mas yang mempunyai kadar protein sekitar 54% (bobot kering ) dapat diberikan langsung pada ikan atau diolah terlebih dahulu menjadi konsenral sebagai mana pengolahan produk tepung ikan . dalam percobaan terhadap udang (Panaeus monodon), Bombeo-Turuban (1995) dalam Sulistiono (2007), membadingkan asam amino esensial daging udang dengan asam amino daging keong mas yang mempunyai Essential Amino Acid Index (EAAI) sekitar 0,84. Efisiensi pakan pada budidaya perikanan tergantung dari kesamaan profil asam amino pakan dengan dengan ikan yang diberikan tersebut (Sulistiono, 2007).
Keong mas cukup potensial dengan sumber protein untuk pakan ternak . dari sebagian penelitian menunjukan bahwa pemberian pakan pada ikan meningkatkan produksi telur dan bobot badan , untuk dijadikan pakan ternak keong mas dapat dijadikan keseluruh bagian tubuh keong mas sebagai sumber
16
protein dan mineral kandungan nutrisi keong mas. Menurut Sulistiono (2007), komposisi nutrisi keong mas adalah protein : 10,45 %, lemak : 0,37 %, kadar abu : 1,74 % dan serat kasar : 0,61 %
2.3.5 Maggot
Maggot merupakan salah satu alternative pakan yang memenuhi persyaratan sebagai sumber protein. Mudtidjo (2001) menyebutkan bahwa bahan makanan yang mengandung protein kasar lebih dari 19 %, digolomgkan sebagai sumber protein. Maggot mampu menggantikan pellet sebagai pakan ternak alternatif untuk ikan, selain kandungan gizinya tinggi, larva serangga itu juga ramah lingkungan karena tidak mengandung bahan pengawet dalam pembiakannya, sebab pakan ini mempunyai peranan penting terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan (Hartono 2011).
Proses pembuatannya maggot relative mudah, karena itu peternak bisa memproduksinya sendiri. Menurut sogbesar et al (2006) menyebutkan bahwa protein dari maggot dapat mencapai 50%. Kandungan nutrisi maggot berdasarkan penelitian oviver (2004), adalah protein : 42,1 %, lemak : 34,8 %, abu : 14,6 %, serat kasar : 7 % dan kadar air : 7,9 %.
17