Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.
Pimpinan yang saya hormati beserta seluruh Rekan-rekan Anggota Komisi V, Lalu kepada bapak ibu Mitra dari Komisi V,
Ada Kepala BMKG, Basarnas dan BPWS.
Karena masih dalam suasana Idul Fitri, karena kita baru ketemu sekarang ini izinkan saya mewakili rekan-rekan untuk mengucapkan minal aidzin wal faidzin, maaf lahir bathin.
Bapak-bapak Ibu-ibu yang dirahmati oleh Allah.
Saya tadi hanya ingin menekankan satu hal, saya di sini apresiasi sekali langkah dari pemerintah untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada di kawasan Madura. Kepada Bapak Kepala BPWS, ada beberapa hal yang harus diperhatikan di sini, yang ingin saya sampaikan salah satunya adalah saya di sini berharap pemerintah bisa salah satunya membuat kebijakan yang juga melindungi masyarakat lokal. Karena tadi sudah saya baca ada banyak pembangunan-pembangunan terutama di SDM-nya dan saya setuju sekali. Karena pembangunan infrastruktur harus disertai dengan peningkatna di human capital-nya, supaya menciptakan adanya sustainability jadi pembangunan itu bisa terjaga untuk di masa yang akan datang.
Peraturan mungkin kebijakan yang saya ingin sampaikan di sini adalah mungkin salah satunya bisa membuat kebijakan yang melindungi masyarakat lokal. Contohnya karena nanti adanya pengembangan kawasan industri, masuknya investor, harus ada perlindungan terhadap masyarakat lokalnya. Mungkin bisa dengan salah satunya membuat kebijakan yang mengharuskan mempekerjakan masyarakat lokal 30%-60% misalnya. Jadi tujuan kita di sini adalah untuk bukan hanya membangun perekonomian, tetapi juga kesejahteraan dari masyarakat itu sendiri.
Nah jadi saya harapkan pembangunan infrastruktur di sini juga disertai dengan perlindungan masyarakatnya dan pembangunan human capital-nya, peningkatan human capital-nya. Karena tadi banyak program-program yang gunanya juga untuk meningkatkan perekonomian dan meningkatkan kualitas masyarakatnya. Jadi baru setelah itu nanti tugas pemerintah untuk membuat kebijakan dan melindungi masyarakat tersebut. Jadi masyarakat bisa membuat aturan yang melindung masyarakatnya tetapi juga tanpa mengurangi daya tarik investor untuk masuk. Mungkin itu saja note yang saya sampaikan kepada Pak Kepala. Sekali lagi terima kasih semoga Allah merahmati kita, melindungi kita dan juga keluarga kita di rumah.
Terima kasih.
Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.
KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V (Ir. RIDWAN BAE/FPG): Terima kasih Athari.
Berikutnya Pak Muhamad Aras dari Fraksi PPP.
F-PPP (Dr. H. MUH. ARAS, S.Pd., M.M.): Terima kasih Pimpinan.
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.
Yang saya hormati Pimpinan dan Teman-teman Anggota Komisi V, Yang saya hormati Kepala Basarnas,
Kepala BMKG, dan Kepala BPWS.
Pertama-tama, izinkan saya menyampaikan Selamat Hari Raya Idul Fitri, minal aidzin wal faidzin, mudah-mudahan kita semua bisa diberi keselamatan dunia dan akhirat.
Pertama-tama, saya ingin ke Basarnas, ini Basarnas ini yang tangani bencana lalu kemudian hari ini kayanya kita melihat Basarnas juga dapat bencana ini, anggarannya turun begitu drastis. Jadi kita juga harus berpikir bagaimana Basarnas bisa terus kita pacu, kita bantu. Agar Kementerian Keuangan bisa memberikan support yang lebih, karena kita punya negara ini kan negara banyak bencananya ya.
Kami di Sulawesi Selatan baru saja terjadi bencana yang cukup besar, banjir besar di Lubuk Raya, lalu kemudian banjir bandang di Jeneponto dan Bantaeng di Dapil-nya Pak Hamka B. Kady, itu menelan korban jiwa yang cukup besar, kemudian kerugian material juga cukup besar. Nah ini juga kita harapkan bahwa Basarnas bisa maksimal untuk melaksanakan tugasnya, bahkan beberapa hari kemudian baru beberapa mayat bisa ditemukan.
Begitu juga dengan BMKG, ini tentu kita berharap bahwa kejadian-kejadian seperti ini tidak serta merta langsung muncul begitu saja, tanpa tentu pengawasan dan yang dilakukan oleh BMKG. Karena BMKG ini merupakan lembaga yang tentu kita berharap bahwa apa yang menjadi prediksi, apa yang menjadi prakiraan itu bisa menjadi lebih akurat. Sehingga ada kewaspadaan dari seluruh masyarakat terhadap kejadian yang akan terjadi.
Kemudian yang kedua adalah tentu kita berharap bahwa dengan anggaran yang ada bisa dimaksimalkan oleh Basarnas. Sehingga tentu fungsinya untuk menjaga negeri ini dari permasalahan-permasalahan yang
tidak kita inginkan dalam hal ini bencana bisa tetap maksimal walaupun dengan keterbatasan yang ada.
Kemudian untuk BMKG, tentu kita berharap ke depan apa yang menjadi selalu harapannya adalah memberikan prediksi yang tepat, yang akurat, yang mendekati ketepatan tentu ini kita harapkan. Sehingga negara kita yang selalu saja tidak siap menerima musibah, tidak siap menerima seluruh bencana yang ada bisa terprediksi sebelumnya. Sehingga masyarakat lebih waspada lebih siap untuk tentu berhadapan dengan apa yang akan terjadi.
Kemudian untuk BPWS, kita berharap bahwa support untuk BPWS terus dilakukan dan kalau memang dirasa bahwa BPWS ini tidak bisa meningkatkan kontribusinya terhadap pembangunan dan pengembangan Madura. Ya kalau terus-terus anggarannya tidak bisa juga ditambah ya lebih bagus kalau misalnya digabungkan saja dengan PUPR anggaran-anggarannya. Sehingga kita tidak berharap lagi bahwa ada BPWS yang harus melaksanakan tugas untuk pembangunan Madura tapi juga tidak bisa maksimal ya. Sehingga kita harapkan ke depan bahwa ada kajian yang mendalam apakah ini harus diteruskan atau ya sekalian dileburkan ke lembaga yang lainnya. Barangkali itu yang sempat kami sampaikan.
Wallaahulmuafik illa aqwamittoriq,
Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.
KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V (Ir. RIDWAN BAE/FPG): Terima kasih Pak Aras.
Kemudian berikutnya Pak Hamka B. Kady dari Fraksi Partai Golkar.
F-PG (DRS. HAMKA BACO KADY, MS): Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.
Pimpinan dan seluruh Anggota yang saya hormati dan saya banggakan, Pak Kepala Badan Basarnas masih Basarnas terus pak kalau saya ya, Ibu BMKG,
Waketua dan BPWS dan teman-teman sekalian.
Pertama, ada tiga poin yang ingin saya sampaikan. Pertama tentu menyangkut pandemi, yang kedua pesimisme kita dan yang ketiga adalah optimismenya nanti. Ini pelan-pelan tapi nanti akan kembali kepada optimisme.
Pertama, di dalam menyusun anggaran 2021 yang sangat menentukan anggaran ini bisa bertahan atau bertambah, tergantung penyelesaian pandemi Covid-19 sampai bulan Agustus dan Desember. Karena kalau tidak selesai paling tidak 80% selesai, maka pengaruh terhadap anggaran juga
tidak akan pernah mau selesai. Namun demikian pemerintah sudah berusaha bagaimana yang namanya new normal. New normal artinya bagaimana protokol kesehatan tetap kita jalankan seperti yang sekarang, juga kegiatan ekonomi bergerak. Jadi ada keseimbangan untuk menjamin diri kita dan diri keluarga kita khususnya terhadap penyakit itu supaya terhindar. Dan yang kedua roda ekonomi juga harus berjalan, itu yang harus kita tuju.
Namun demikian mudah-mudahan ini semua bisa sesuai dengan target bahwa pemerintah akan berusaha semaksimal mungkin untuk menurunkan grafik terinfeksinya itu dalam posisi yang landai. Saya kiri kanan kebetulan salah seorang Anggota Pengawas Covid pak dari sisi anggaran dan bencananya. Saya memang sangat-sangat prihatin melihat anggaran yang begitu besar habis. 600 pertama 405 untuk pandemi, naik menjadi Rp.677 Triliun posisi sekarang sudah masuk pada posisi Rp.698 Triliun.
Defisit anggaran pada saat ini sudah 1.000 hampir 1.000 Triliun, tetapi persoalan defisit masih ada solusinya karena pelebaran anggaran, yang tadinya 3% defisit anggaran dilebarkan sampai sekarang 6,34%. Artinya ada sumber pendanaan yang bisa dilakukan untuk membiayai APBN ini. Itu kira-kira gambarannya.
Nah pesimismenya adalah kalau pandemi ini semakin menonjol atau semakin besar, itu biaya juga yang dikeluarkan pasti besar. Nah oleh karena itu, ini yang harus kita rem. Tim Gugus Covid ini harus mengerem ini sebenarnya, baru bisa kita masuk pada anggaran.
Nah oleh karena itu bapak dan ibu sekalian, pada kebijakan asumsi-asumsi makro di dalam penyusunan anggaran yang ibu bapak sesuai dengan Surat Edaran Bersama Menteri Keuangan, pagu indikatif yang diberikan itu masih berasumsi bahwa pertumbuhan itu berada pada posisi kisaran 4 sampai 4,5. Tetapi kalau terjadi nanti sampai akhir Desember tidak bisa capai karena sampai kwartal kedua ini baru mencapai 2,4% pertumbuhannya. Nah masih ada waktu kalau itu misalnya kita dapat nanti sebentar pertumbuhannya sampai 4,5%, maka asumsi makro yang pagu indikatifnya kita tetapkan pada saat ini, itu bisa dilakukan apalagi kalau naik pertumbuhannya menjadi 5,3.
Nah oleh karena itu masih panjang perjalanan ini rapat pertama akan ada penyesuaian. Nanti kita lihat perkembangannya karena tergantung pada apa namanya pandemi ini, bagaimana kita menyiasati supaya apa namanya angka kematiannya sebenarnya yang harus ditekan. Kalau angka kematian bisa ditekan jangan terlalu besar. Kuncinya adalah perangkat yang ada di rumah sakit dan tenaga medis itu luar biasa investasinya.
Kemarin bapak, saya baru selesai rapat dengan Menteri Kesehatan kemarin, rata-rata antara Rp.50 Juta sampai Rp.100 Juta penanganan biaya Covid per orang mulai dari masuk sampai dikuburkan. Itu luar biasa besarnya. Jadi inilah kira-kira pesimismenya kita, tetapi dari sisi yang lain optimisme tetap ada. Optimismenya kalau kita bisa capai pertumbuhan akhir tahun sebentar dapat 5% atau 4,5% saja inshaAllah bisa diangkat ini, pagu indikatif
ini akan berubah. Nanti karena masih ada Rapat Pimpinan barangkali masih ada rapat selanjutnya pada tanggal antara tanggal 2 sampai 3 Juli karena ini rapat pendahuluan. Ya hasil rapat ini nanti dibahas lagi asumsi-asumsi makronya, mudah-mudahan ada pergeseran-pergeseran asumsi itu. Karena Menteri Keuangan masih positive thinking sekarang masih menetapkan angka pertumbuhan antara 4,5 sampai 5,5%.
Nah oleh karena itu bapak dan ibu sekalian, saya tidak mau masuk pada detilnya ini, harus masing-masing lembaga atau badan-badan ini memfokuskan backlog itu yang mana harus difokuskan ditambah. Yang mana jangan semuanya pak, yang priority karena persoalannya adalah persoalan anggaran. Inflasi kita Alhamdulillaah masih bisa tekan, kan seperti itu.
Nah oleh karena itu sasaran kita sekarang teman-teman semuanya adalah bagaimana supaya yang backlog itu yang benar-benar nanti bisa kita dorong itu yang kita coba-coba lakukan ya. Tapi untuk semua saya kira susah dengan asumsi itu. Ya saya kira optimismenya kita tetap ada, mudah-mudahan ada peluang-peluang lagi terjadi. Karena kalau melihat perkembangan pertumbuhan sekarang sampai kwartal kedua itu 2,97 menghampiri 3, nah masih ada 6 bulan ini ya. Nah kalau berhasil apa namanya new normal ini, inshaAllah akan bisa bertambah lagi pertumbuhan.
Nah dari sisi positivisme lagi adalah tetap ada pelebaran anggaran sampai 2022 ya. Jadi sebenarnya kita harus meminta juga tambahan itu karena ada pelebaran anggaran. Kalau tahun ini pelebaran anggarannya 3 sampai dengan 6,34, yang akan datang juga antara 3 sampai 5,5 tapi masih, oleh karena itu masih ada space fiskal daripada untuk menutupi anggaran itu dari sisi pendapatan negara dan pinjaman. Itu positifnya dan optimismenya kita.
Nah catatan saya Pimpinan, bagaimana semua lembaga kita ini yang kemitraan Komisi V yang priority benar, tolong diberikan detilnya supaya itu yang menjadi teman-teman perjuangkan nanti pada saat penyusunan penyempurnaan anggaran 2021. Saya kira ini yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya. Sekali lagi ini angka-angka yang saya sampaikan ini adalah hasil pembahasan resmi dari masing-masing kementerian yang ada di Badan Anggaran, termasuk Menko tadi pagi.
Terima kasih.
Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.
KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V (Ir. RIDWAN BAE/FPG): Terima kasih Pak Hamka.
Berikutnya dan mungkin yang terakhir ya untuk yang hadir, ada yang mesti mau tambahkan Pak Herson.
F-PDIP (H. HERSON MAYULU, S.IP.): Dari PDI Perjuangan belum.
KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V (Ir. RIDWAN BAE/FPG): Pak Herson ya, oke. Berikutnya Pak Ansar.
F-PDIP (H. HERSON MAYULU, S.IP.): Baik, terima kasih.
Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh, Selamat sore,
Shaloom.
Pimpinan Komisi yang saya hormati, cintai dan banggakan,
Teman-teman Anggota Komisi V baik yang hadir secara fisik maupun secara virtual yang mengikuti rapat ini yang saya hormati,
Kepala BNPP, BMKG dan BPWS yang saya hormati, Seluruh kita yang inshaAllah dirahmati Allah SWT.
Memang pembicaraan awal ini bukan hanya ketiga badan ini, saya pikir kalau diundang seluruh kementerian pasti akan teriak dananya ditambah-dananya ditambah. Tadi Pak Hamka sudah jelaskan kondisi kita, oleh karena itu BMKG kalau saya menilai mungkin BMKG yang pertama kali harus bersyukur dari Rp.3 Triliun lebih pagu kebutuhannya disetujui ada pagu indikatifnya 2 koma sekian Triliun. Ada apa namanya backlog-nya kurang lebih Rp.800 sekian Miliar. Kalau dibandingkan dengan Basarnas BNPP yang minta 4 koma sekian hanya diberi 2,1 hampir 50% backlog-nya, Rp.1,9 Triliun. Oleh karena itu BMKG ya tidak usah minta tambah-tambah lagi, bersyukurlah sudah yang ada.
Saya cuma berharap tahun depan kita jauh dari bencana, sehingga Kabasarnas tidak akan pusing dengan dana pagu yang tersedia begitu jauh dari harapan. Tetapi kita juga optimis seperti dikatakan Pak Hamka tadi mudah-mudahan pertumbuhan ekonomi kita makin membaik yang katanya sekarang sudah mendekati 3, harapan di akhir tahun bisa 4 koma sekian, bahkan 5. Nah ini mungkin ada suatu keajaiban yang akan terjadi di bumi nusantara ini. Mudah-mudahan dengan new normal kita akan bisa mencapai itu. Oleh karena itu tidak usah terlalu berharap di dana yang backlog tadi. Laksanakan saja apa yang bisa kita laksanakan seperti Pak Hamka bilang yang sangat-sangat prioritas itu yang diutamakan.
Yang terakhir, saya kembali dari awal pertemuan dengan BPWS. Saya masih tetap prinsip saya, usulan kepada pemerintah. Keberadaan badan ini dievaluasi lagilah, mau lanjut atau dibubarkan saja. Temanya saja tidak jelas, temanya kan sudah di Kementerian PUPR. Sedangkan Kementerian PUPR itu kalau di provinsi ada balai-balainya dan lain sebagainya. Nah tugas-tugas yang dilaksanakan oleh BPWS kegiatannya ada di sana, ngapain lagi bikin
badan lagi. Dengan dana yang tahun ini hanya Rp.1,56 Miliar, ini kan serahkan saja kepada Gubernur, kepada Bupati-bupatinya. Kalau cuma urusan permasalahan air bersih, ini kan program yang sudah jalan, apa lagi di Madura berhadapan dengan karakteristik masyarakat yang beda. Nah serahkanlah kepada daerah agar kebijakan-kebijakan lokal ini bisa diakomodir oleh pemerintah daerah.
Dengan melihat kondisi yang ada, capaian-capaian oleh BPWS selama ini, kan cuma bangun jalan, air bersih, ada pengembangan sumber daya manusia. Ini kan hal-hal yang sudah wajar, tidak ada yang spesifik yang harus dilaksanakan oleh BPWS. Saya tadi bolak balik baca ini halaman per halaman, temanya tidak jelas apa. Beda Basarnas temanya ada, BMKG temanya ada. Ya ini kan kalau saya melihat ini kan hanya proyek saja kemudian dijadikan badan. Sehingga saya juga melihat pemerintah seakan-akan seperti yang dikatseakan-akan oleh Pak Kyai tadi bahwa BPWS ini seperti main-main, pemerintah tidak serius dalam hal ini. Kalau mau BPWS berperan optimal dengan target-target pembangunannya kasih dia dana besar, saya kurang tahu kalau Pak Kepala masih Plt sekarang pak? coba lihat masih Plt sampai sekarang, sudah mau setahun Plt-nya. Nah saya tetap saran itu kembalikan saja ke Kementerian PUPR tugas-tugas yang ada, sehingga tidak mempusingkan lagi terlalu banyak. Kalau cuma bangun sarana air bersih, kan Kementerian PUPR sudah ada, apa namanya ada balai-balai prasarana pemukiman ya ada di provinsi, untuk bikin jalan ada balai jembatan. Ini kan hal-hal yang tidak spesifik yang dikelola oleh badan.
Ini mungkin dari saya Pimpinan. Mohon maaf kepada BPWS karena bapak sendiri sampai sekarang masih Plt pak. Saya kurang tahu kenapa. Padahal hari ini ada pelantikan di Kementerian PUPR, tapi BPWS juga masih Plt terus. Demikian.
Wallaahulmuafik illa aqwamittoriq,
Wassalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.
KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V (Ir. RIDWAN BAE/FPG): Wa'alaikumsalam.
Terima kasih Pak Herson.
Terakhir Pak Ansar Ahmad.
F-PG (H. ANSAR AHMAD, S.E., M.M.): Terima kasih Pimpinan.
F-P.GERINDRA (Ir. SUMAIL ABDULLAH): Sumail Ketua.
KETUA RAPAT/WAKIL KETUA KOMISI V (Ir. RIDWAN BAE/FPG): Ya baik, baik.
Pak Ansar Ahmad silakan.
F-PG (H. ANSAR AHMAD, S.E., M.M.): Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh, Selamat sore dan salam bahagia untuk kita semua.
Yang saya hormati Pak Ketua, para Wakil Ketua, Teman-teman Anggota Komisi V,
Kemudian Kepala BNPP beserta jajarannya, Ibu Kepala BMKG beserta seluruh jajaran BMKG, Dan Kepala BPWS beserta jajarannya,
Bapak Ibu Hadirin sekalian yang berbahagia.
Mungkin sebelum saya menyampaikan sesuatu secara singkat, supaya kita rileks sedikit saya ingin hadiahkan dua bait pantun boleh ini Pimpinan? Nah biar agak jangan tegang-tegang betul, sudah banyak yang mulai nguap-nguap soalnya.
Pantun pertama begini, karena masih suasana bulan Syawal, saya ingin menyampaikan satu bait pantun.
Sungguh enak si ikan patin Dijual orang di tengah pasar Mohon maaf lahir dan bathin Utang piutang tetap dibayar.
Nah maaf-maafan tetap, tapi utang tetap dibayar. Pantun yang kedua ini buat Mba Eneng ini khusus ini pantunnya begini.
Tinggi sungguh pohon beringin Tumbuh pula di tepi muara
Walaupun suasana sangat dingin Tapi semangat kita tetap membara.
Nah kenapa saya bilang Bu Neng, Bu Neng ini wanita ini yang luar biasa semangatnya.
Baiklah bapak ibu sekalian, saya ingin menyampaikan dua hal. Pertama terkait dengan Ibu Kepala BMKG. Kalau BPWS saya kira sudah banyak tadi yang menyampaikan. Begini bu, saya kira semua program kita hari ini, baik kementerian lembaga apapun muaranya tentu framework-nya untuk dua hal yang tadi sudah disampaikan. Pertama terkait dengan percepatan pemulihan ekonomi dan yang kedua reformasi sosial.
Nah saya kira meskipun lembaga yang Ibu pimpin ini seolah-olah kesannya selalu orang beranalogi berbicara soal memberikan dan menyediakan data untuk mencegah atau memberikan informasi awal kemungkinan terjadi bencana ini dan itu, tapi sebenarnya kan spektrumnya luas bu. Saya tidak tahu judulnya, tapi yang saya tahu ibu punya radar geologi cuaca di mana-mana. Radar geologi cuaca itu yang saya baca tidak hanya untuk kepentingan penerbangan, kepentingan pelayaran, tapi juga untuk kepentingan lain, khususnya seperti pertanian begitu. Nah nanti mungkin ibu bisa jelaskan berapa banyak yang ibu miliki, di mana wilayahnya.
Nah bu, urusan Covid ini adalah urusan yang penuh ketidakpastian. Tadi Pak senior saya Pak Hamka sudah sampaikan dan dampaknya sangat luas. Salah satu dampak yang menjadi kekhawatiran kita adalah ketersediaan pangan di negeri kita ini. Kita khawatir karena negara-negara lain juga mengalami hal yang sama. Mungkin negara-negara yang selama ini pengekspor bahan pangan, mungkin bisa menahan produksi mereka untuk kebutuhan di dalam negerinya. Mau tidak mau memang untuk menjamin ketahanan pangan di negeri ini, kita mesti menjaga agar kontinuitas panen itu mesti terjamin.
Nah kalau kita bicara petani, panen, ketersediaan pangan, juga terkait dengan cuaca bu. Maka saya mungkin menyarankan bu, agar radar-radar geologi cuaca ibu juga lebih difokuskan ini, untuk menjaga situasi ini. Memberikan informasi-informasi yang akurat kepada para petani agar kawasan-kawasan pertanian tetap produktif dan tidak terjadi gagal panen ke depan ini dan itu penting sekali. Urusan-urusan lain mungkin solusinya mudah, tapi kalau sudah urusan perut solusinya sangat berbahaya sekali. Saya kira itu satu. Kalau soal anggaran teman-teman sudah banyak tadi yang membahas dan menyampaikan.
Yang kedua BNPP, mohon izin Pak Kepala BNPP. Begini pak, saya memang agak prihatin melihat backlog bapak tadi, tapi saya kira Pak Hamka tadi sudah sampaikan yang ada Alhamdulillaah bapak terima dulu. Karena penuh ketidakpastian kemampuan keuangan kita ke depan, tapi kemungkinan untuk menambah itu masih ada Pak Hamka ya? Karena kita juga di Banggar ini beberapa ini. Asalkan itu benar-benar menjadi prioritas dengan referensi-referensi yang kuat, tapi saya hanya menyarankan seperti teman-teman yang lain sebaiknya belanja-belanja yang mungkin tingkat kebutuhannya yang sangat tinggi seperti pengadaan helikopter dan lain sebagainya, alangkah baiknya itu kalau memang belum menjadi prioritas penting ditunda. Kita lebih banyak menyarankan agar bapak lebih banyak mengembangkan kelompok-kelompok masyarakat sebagai perpanjang tangan kita di berbagai wilayah-wilayah terpencil diberikan kemampuan dasar, pengetahuan dasar untuk menangani bencana bersama-sama.
Pak kelompok-kelompok masyarakat itu kalau sudah bapak latih, Bapak kasih jaket atau kaos yang di belakangnya “Kelompok Masyarakat Peduli Bencana”, wah dia bangga itu ke pasar ke mana-mana dia pakai itu