• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Gambaran Umum SMK N 2 Salatiga

1. Sejarah Singkat SMK N 2 Salatiga

SMK Negeri 2 Salatiga berdiri tahun 1999. Pada awal

berdiri, SMK Negeri 2 Salatiga masih menginduk di SMK Negeri 1

Salatiga. Selama menginduk itu, pembangunan kampus SMK

Negeri 2 Salatiga sedang dilakukan di Dusun Warak, Desa Dukuh,

Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga.

Saat itu, SMK Negeri 2 Salatiga memiliki 3 jurusan, yaitu

jurusan Bangunan, Elektro, dan Otomotif. Kini, SMK Negeri 2

Salatiga sudah mempunyai 9 program keahlian, yaitu:

1. Teknik Konstruksi Gedung / Teknik Sipil

2. Teknik Perkayuan

3. Teknik Gambar Bangunan / Arsitek

4. Teknik Audio Video

5. Teknik Elektronika Industri

6. Teknik Kendaraan Ringan

7. Teknik Pemesinan

8. Teknik Komputer dan Jaringan

9. Teknik Body Otomotif

60 2. Profil sekolah

a. Identitas sekolah

1) Kode Registrasi (NSS) : 321 036 203 006 2) Nama Resmi Sekolah : SMK N 2 SALATIGA 3) SK. Pendirian Nomor SK : 270/O/2000 Tanggal SK :17 NOVEMBER 2000 4) Akreditasi Program Status Akreditasi : A Tanggal SK : 9 Nopember 2010

5) Alamat Lengkap Sekolah

Jalan : PARIKESIT

Desa/Kelurahan : DUKUH

Kecamatan : SIDOMUKTI

Kabupaten/Kota : SALATIGA

Propinsi : JAWA TENGAH

No Telepon : (0298) 313403

Fax : (0298) 324069

Email : [email protected]

Website : www.smkn2salatiga.sch.id

6) Identitas Kepala Sekolah

Nama Lengkap :Drs. Kamaruddin, M.Pd Tempat & Tanggal Lahir :Pemangkat, 16 November

61

Alamat Lengkap : Gang Kantil I/1177 RT 02 RW 08 Kemirirejo Magelang Tengah Kota Magelang Telepon Rumah/HP : 08122765274

SK Pengangkatan terakhir :

Pejabat yang mengangkat : Walikota

Nomor SK Pengangkatan : 821.2/3873/2013

Tanggal Pengangkatan : 3 Januari 2014

7) Komite Sekolah

Jumlah Anggota : 9 Orang

NomorSK Pengangkatan : 421.5/043/2008 Tanggal SK Pengangkatan : 1-Februari- 2008

Sumber: Profil SMK N 2 Salatiga 2016/2017

3. Profil Program Keahlian

a. Akreditasi Kompetensi Keahlian

Tabel 3.1

Kompetensi Keahlian Akreditasi

Tahun diakreditasi

Teknik Gambar Bangunan A 2010

Teknik Batu Beton A 2010

Teknik Konstruksi Kayu A 2010

Teknik Audio Video A 2010

Teknik Elektronika Industri A 2008

Teknik Kendaraan Ringan A 2010

Teknik Pemesinan A 2007

Teknik Komputer Jaringan A 2010

Sumber: Profil SMK N 2 Salatiga 2016/2017

b. Jumlah siswa

Tabel 3.2

Paket Keahlian X XI XII Jumlah

T. Gambar banguan 68 70 67 205

62 T. konstruksi Kayu 34 36 34 104 T. Audio Video 68 70 68 206 T. Elektonika Industri 102 107 105 314 T. Pemesinan 69 72 72 213 T. Kendaraan Ringan 104 71 101 276 T.Komputer & Jaringan 69 70 71 210 T.Perbaikan Body

Otomotif 0 36 0 36

Jumlah 583 597 556 1736

Sumber: Profil SMK N 2 Salatiga 2016/2017

c. Kegiatan Ekstrakurikuler

Di SMK Negeri 2 Salatiga terdapat beberapa kegiatan

ekstrakurikuler untuk menunjang prestasi non akademik para siswa.

Kegiatan ekstrakurikuler tersebut diantaranya:

1) Pramuka

2) Drumband

3) Pleton Inti

4) Rebana

5) SKI (Sie Kerohanian Islam)

6) Pencak Silat

7) English Debate Club

8) Basket

9) Renang

10)Volly

11)Futsal

Sumber: Profil SMK N 2 Salatiga 2016/2017 4. Visi-Misi sekolah

63

Menjadi sekolah dengan budaya industri untuk menyiapkan

tamatan siap bersaing di era global

b. Misi :

1) Menyiapkan tamatan siap masuk kerja.

2) Menyiapkan tamatan memiliki budaya industri sebagai

bagian dari pembentukan karakter bangsa.

3) Menyiapkan tamatan mampu menerapkan jiwa

kewirausahaan.

4) Menyelenggarakan sekolah bersih, indah, teratur dengan

wawasan lingkungan sebagai cerminan budaya industri.

5) Menyelenggarakan sekolah sebagai pusat kegiatan

masyarakat kecil yang teratur, sebagai sumbangan

membentuk masyarakat madani yang lebih luas.

Sumber: Profil SMK N 2 Salatiga tahun 2016/2017 5. Pembelajaran pendidikan agama Islam di SMK N 2 Salatiga

“Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di SMK N 2 Salatiga terdapat 5 guru agama untuk 45 kelas, setiap guru memegang 9 kelas. Dalam pembelajaran agama Islam pun masing-masing guru menggunakan metode yang berbeda serta sistem kurikulum yang berbeda juga dalam menyampaikan pelajaran pendidikan agama Islam. Kurikulum yang dipakai dalam pembelajaran adalah berbasis K13. Evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran agama Islam di SMK N 2 Salatiga adalah segala macam bentuk evaluasi, seperti: tes tulis, praktek, maupun lisan dan untuk setiap pertemuan diberikan tugas pada siswa yang natinya tugas-tugas tersebut akan menjadi penilaian portofolio”. Dari evaluasi tersebut dapat diketahui kemampuan siswa, dan dari situ diadakan pengklasifikasian terhadap siswa yang kurang mampu dalam pelajaran pendidikan agama Islam. Atau akan diadakan waktu tambahan bagi siswa yang benar-benar tertinggal dari siswa lainya.”(W/ KP/PP/5-4-2017/10.00-11.00)

64

B. Penyajian Data

1. Problematika Pembelajaran Agama Islam Di SMK N 2 Salatiga

Ketika peneliti mengajukan pertanyaan pengertian problematika

dalam pembelajaran PAI di SMK N 2 Salatiga berikut ini keterangan

narasumber.

“Problematika adalah permaslahan yang sangat pokok dalam pembelajaran PAI.” (W/MH;RA/PPP/05-04-2017/14.00-15.00) Dalam hal ini kepala sekolah juga mengungkapkan hal yang sama yaitu

“Problematika adalah masalah/persoalan yang terdapat dalam pembelajaran PAI” (W/KP/PPP/05-04-2017/14.00-15.00)

Dalam pembelajaran agama Islam di SMK N 2 Salatiga

ditemukan berbagai macam problem, mulai dari problem peserta didik

itu sendiri, pendidik, manajemen, kurikulum, sarana dan prasarana dan

lingkungan disekitar pembelajaran.

a. Problematika Guru Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Di SMK N 2 Salatiga

“Dari segi Pendidik yaitu kurang bisa maksimal dalam pembelajran karena terbatasnya jam pelajaran atau alokasi waktu yang sedikit belum lagi terpotong dengan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti melakukan shalat dhuha dan membaca asmaul husna. Sehingga seringkali materi yang harus diselesaikan tidak bisa diselesaikan. Dan juga dalam penyampaian materi terkadang metode yang saya lakukan kurang mengena pada peserta didik mungkin karena metode yang sekarang diberlakukan adalah berbasih K13 beda dengan tahun-tahun kemaren yang masih menggunakan KTSP. Dan menurut saya guru agama jarang sekali mendapat perhatian untuk menjadi guru yang profesional atau bisa dikatakan

65

informasi-informasi yang baru tentang pembelajaran itu masih sangat kurang.”(W/RA/PPP/05-04-2017/14.00-15.00)

b. Problem Peserta Didik Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama

Islam Di SMK N 2 Salatiga.

Ketika peneliti mengajukan pertanyaan mengenai

problematika peserta didik terkait pembelajaran PAI di SMK N 2

Salatiga berikut ini keterangan narasumber.

“Untuk siswa sendiri masalah yang sering terjadi pada peserta didik adalah kebanyakan dari mereka kurang bisa dalam baca tulis al-Quran padahal pembelajaran PAI banyak menggunakan ayat al-Qur’an dan Hadist sehingga menyebabkan kurangnya minat terhadap pelajaran PAI”. (W/RA/PPP/05-04-2017/14.00-15.00)

c. Problem menejemen dan kurikulum dalam pembelajaran pendidikan

agama Islam di SMK N 2 Salatiga

Ketika peneliti mengajukan pertanyaan mengenai

problematika menejemen dan kurikulum terkait pembelajaran PAI

di SMK N 2 Salatiga berikut ini keterangan narasumber.

“Kurikulum mengalami kendala yaitu dalam menerapkan K13 di semua pelajaran tidak terkecuali pelajaran PAI akan tetapi karena dirasa kesulitan, maka kurikulum disesuaikan saja dengan kebutuhan siswa.” (W/KP/PPP/05 -04-2017/10.00-11.00)

Pernyataan tersebut hampir sama seperti yang diungkapkan

66

“Kurikulum yang berasis K13 yang diberlakukan pada semua mata pelajaran dirasa sulit dalam mempraktekan pada peserta didik, karna kurikulum dirasa masih baru sehingga guru kurang paham tentang sistem tersbut.” (W/MH/PPP/05-04-2017/13.00-14.00)

“Sedangkan dari segi menejemen adalah kurang terjalinnya keerjasama orang tua dengan pendidikan sehingga aktifitas peserta didik yang seharusnya dikerjakan dirumah hanya dikerjakan di sekolah.” (W/KP/PPP/05 -04-2017/10.00-11.00)

d. Problem Lingkungan Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama

Islam Di SMK N 2 Salatiga

Ketika peneliti mengajukan pertanyaan mengenai

problematika menejemen dan kurikulum terkait pembelajaran

PAI di SMK N 2 Salatiga berikut ini keterangan narasumber.

“Dalam pembelajaran PAI masalah yang sangat pokok terdapat dalam lingkungan pembelajaran PAI di SMK N 2 Salatiga adalah kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga yang minim tentang agama dan terlebih di SMK ini siswa-siswinya tidak hanya berasal dari keluarga muslim tapi dari keluarga non muslim juga ada. (W/MH/PPP/05-04-2017/13.00-14.00)

2. Langkah-langkah Yang Dilakukan Oleh SMK N 2 Salatiga Dalam

Mengatasi Problem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Dalam menghadapi problematika tersebut pihak SMK N 2 Salatiga

mennggunakan berbagai macam langkah.

a. Langkah-langkah dalam mengatasi problem guru dalam

67

Ketika peneliti mengajukan pertanyaan mengenai

upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi problem guru terkait

pembelajaran PAI di SMK N 2 Salatiga berikut ini keterangan

narasumber.

“karena maslah ternatasnya waktu dalam mengajar padahal materu yang harus diselesaikan belum selesai maka dari guru agama melakukan jam tambahan bagi siswa setelah pulang sekolah. Untuk guru yang kurang mengetahui tentang K13 dianjurkan untuk bertanya dengan guru lainnya yang lebih paham dan pernah mengikuti pelatihan atau seminar tentang K13.” (W/RA/UPP/05-04-2017/13.00-14.00)

b. Langkah-langkah dalam mengatasi problem peserta didik dalam

pembelajaran pendidikan agama Islam di SMK N 2 Salatiga

Ketika peneliti mengajukan pertanyaan mengenai

upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi problem peserta didik terkait

pembelajaran PAI di SMK N 2 Salatiga berikut ini keterangan

narasumber.

“Metode yang saya gunakan dalam mengatasi siswa yang kurang minat dalam pembelajaran PAI adalah dengan melakukan pendekatan terhadap siswa secara personal sehingga siswa dapat menerima pembelajaran dengan semangat. (W/RA/UPP/05-04-2017/13.00-14.00)

c. Langkah-langkah dalam mengatasi problem menejemen kurikulum

dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di SMK N 2 Salatiga

Ketika peneliti mengajukan pertanyaan mengenai

68

kurikulum terkait pembelajaran PAI di SMK N 2 Salatiga berikut ini

keterangan narasumber.

“upaya untuk kurikulum yaitu dengan mendelegasikan guru untuk mengikuti MGMP dan seminar-seminar tentang K13 yang ada.” (W/KP/UPP/05-04-2017/10.00-11.00)

d. Langkah-langkah dalam mengatasi problem lingkungan dalam

pembelajaran pendidikan agama Islam Di SMK N 2 Salatiga

Ketika peneliti mengajukan pertanyaan mengenai

upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi problem lingkungan terkait

pembelajaran PAI di SMK N 2 Salatiga berikut ini keterangan

narasumber.

“Karena keluarga siswa masih banyak yang minim terhadap pendidikan agama Islam, maka pihak sekolah mengadakan pertemuan wali murid dengan guru di sekolah dalam satu semester atau pada saat menerima rapor, sehingga orang tua dapat mengetahui perkembangan pengetahuan anak dalam pembelajaran khususnya pembelajaran pendidikan agama Islam. (W/MH/UPP/05-04-2017/13.00-14.00)

69

BAB IV PEMBAHASAN

A. Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMK N 2

Salatiga

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di SMK

N 2 Salatiga menunjukkan bahwa problematika pembelajaran pendidikan

agama Islam di SMK N 2 salatiga terdapat pada 4 bagian yaitu :

1. Problem Guru Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK N 2

Salatiga

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang peneliti

lakukan SMK N 2 salatiga, Guru pendidikan agama Islam sudah bisa

dikatakan professional dalam mengajar meskipun terkadang mengalami

beberapa kendala seperti terbatasnya waktu dalam pembelajaran dan

kesulitan guru dalam menggunakan metode yang dapat diterima sisiwa

sesuai dengan K13. Hal tersebut tidak menjadi penghalang dalam

melaksanakan tugas mengajar. Jika alokasi waktu dalam pembelajaran

tidak cukup dalam menyelesaikan materi guru biasanya memberikan

jam tambahan setelah pulang sekolah. Sedangkan saat guru mengalami

kesulitan dalam pelaksanaan K13 pada pembelajaran PAI guru

biasanya menggunakan metode yang dapat diterima oleh siswa

meskipun terkadang masih menggunaakan metode lama yaitu KTSP.

70

amalan-amalan sehari-hari seperti pembiasaan shalat jamaah, shalat dhuha , pembacaan asma’ al husna.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwasanya

Guru/Pendidik dalam pendidikan agama Islam dituntut untuk

komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya.

Seseorang dikatakan profesional bilamana pada dirinya melekat sikap

dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen terhadap mutu

proses dan hasil kerja, serta sikap continous improvement, yaitu selalu

berusaha memperbaiki dan memperbaharui model-model yang sesuai

dengan tuntutan zamannya, yang dilandasi oleh kesadaran tinggi bahwa

tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang akan

hidup pada masa zamannya (Muhaimin, 2002;4).

2. Problem Peserta Didik dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

di SMK N 2 Salatiga

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang peneliti

lakukan SMK N 2 salatiga, kebanyakan dari siswa-siswi SMK N 2

Salatiga masih kurang minat mereka terhadap mata pelajaran

pendidikan agama Islam sehingga membuat siswa banyak sekali yang

kurang pengetahuan agamanya. Dalam hal baca tulis misalnya, anak

didik harus benar-benar diajari secara intensif untuk membaca dan

menulis ayat-ayat al-Qur’an. Sedangkan yang berkaitan tentang pengamalannya siswa tentang pendidikan agama Islam dalam hal

71

amalan-amalan sehari-hari sebelum pembelajaran dimulai seperti

melaksanakan shalat jama’ah, shalat dhuha dan pembacaan asma’ al -husna secara bersama-sama. Bagi siswa-siswi yang beragama non

muslim boleh mingikuti pendidikan agama Islam namun tidak ikut

berperan dalam pembelajaran.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Kemauan

dianggap sebagai tetapnya kekuatan yang stabil dan dinamis bagi

perjalanan seseorang agar dapat mewujudkan tujuan tertentu dalam

hidupnya. Kemauan juga berpengaruh besar dalam kegiatan belajar.

(Ays-Sakhs 2001:25)

Jadi jika seseorang sudah tidak mempunyai motivasi dalam

melakukan pembelajaran maka dia akan mengalami kejenuhan dan

tidak ada gairah untuk bersungguh-sungguh. Sebagaiman pengertian

motivasi sendiri yaitu, suatu tenaga atau faktor yang terdapat di dalam

diri manusi, yang menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan

tingkah lakunya.

3. Problem Kurikulum Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di

SMK N 2 Salatiga

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang peneliti

lakukan di SMK N 2 salatiga, pada problematika kurikulum PAI

yang terdapat di SMK N 2 Salatiga berkaitan erat dengan

72

agama Islam. Yang mana ketika dari pihak guru sendiri kurang

mengetahui apa sebenarnya K13 dan bagaimana K13 itu diterapkan,

maka kurikulum tersebut hanya akan menjadi simbolik dan tidak

lagi menjadi ukuran dan paduan dalam proses belajar mengajar.

Keadaan guru agama di SMK N 2 Salatiga sebagian belum mengerti

dan belum bisa mengaplisikanya sehingga dalam pembelajaran

pendidikan agama Islam di SMK N 2 Salatiga sebagian besar masih

menggunakan kurikulum yang lama.

Dalam kerangka penerapan kurikulum PAI pada sekolah,

para guru agama diperlukan mampu membaca visi sebuah

kurikulum, yakni ide-ide pokok yang terkandung di dalam

tujuan-tujuan kurikulum. Perlunya kemampuan membaca visi kurikulum

PAI, terutama agar persepsi yang dibentuk dalam pemikiran para

guru agama itu terdapat relevansi dan visi kurikulum yang secara

prinsip terkandung dalam tujuan-tujuan kurikulum. (Hujair,

2003;163).

4. Problem Lingkungan Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di

SMK N 2 Salatiga

Pendidikan tidak hanya terpacu pada lingkup sekolah saja, akan

tetapi lingkungan selain sekolah seringkali mengambil peran

penting dalam pendidikan tersebut, begitu juga dengan pendidikan

73

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang peneliti

lakukan di SMK N 2 salatiga, pada problematika lingkungan PAI

yang terdapat di SMK N 2 Salatiga ditemukan pada lingkungan

keluarga yaitu kurangnya perhatian kelurga terhadap anaknya dalam

mempelajari dan melaksanakan pendidikan agama Islam.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwasanya

problematika pendidika bukan hanya terletak pada pendidik dan

peseta didik akan tetapi lingkungan juga menjadi factor

tertinggalnya siswa terhadap pendidikan agama Islam. Di SMK N 2

Salatiga ditemui factor keluarga yang mana orang tua sangat minim

terhadap ajaran agama Islam, sehingga apa yang didapatkan di

sekolah oleh siswa sudah tidak lagi mendapat perhatian di sekolah.

Padahal pendidikan agama Islam sebenarnya merupakan

pembiasaan pada setiap hari yang dilakukan oleh siswa, yang mana

hal itu membutuhkan bimbingan dan perhaian dari keluarga karena

sebagian besar waktu siswa hidup bersama dengan keluarga.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa problematika

pembelajaran pendidikan agama Islam di SMK N 2 Salatiga diantaranya

adalah problem guru, problem peserta didik, problem kurikulum dan

74

B. Langkah-Langkah Yang Dilakukan Dalam Oleh SMK N 2 Salatiga

Dalam Mengatasai Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Dalam menghadapi problem tersebut pihak SMK N 2 Salatiga

menggunakan berbagai macam langkah

1. Langkah-langkah dalam mengatasi problem guru dalam pembelajaran

pendidikan agama Islam

Dalam problematika yang terdapat dalam pembelajaran pendidikan

agama Islam di SMK N 2 Salatiga, maka dari guru agama Islam serta

pihak sekolah sendiri melakukan berbagai macam kebijakan dalam

mengatasi problematika tersebut. Dalam terbatasnya waktu yang ada

pada pembelajaran pendidikan agama Islam yang mana terbatasnya

waktu tersebut mengakibatkan guru agama Islam kurang bisa maksmial

terhadap pembelajaran pendidikan agama Islam. Maka dari pihak guru

agama Islam di SMK N 2 Salatiga mengadakan kebijakan dengan

menambah jam pelajaran sepulang siswa dari sekolah. Hal tersebut

dilakukan satu minggu sekali.

Sebagaimana syarat guru yang telah disebutkan dalam kajian teori,

yaitu dalam kemapuan mengajar ia harus ahli maka dalam hal itu

seorang guru harus mempunyai wawasan luas. Tidak dapat dipungkiri

bahwa setiap guru itu ada kesanggupan dan kemampuan meningkatkan

75

maupun tuntutan belajar mengajar di sekolah/ madrasah adapun

peningkatan kualitas guru yang dilakukan secara individual meliputi:

1) Peningkatan profesi melalui penataran.

2) Peningkatan profesi melalui belajar mengajar.

3) Peningkatan profesi melalui media massa (Subroto, 1984: 141).

Dan ketika di SMK N 2 Salatiga ditemukan adanya problem guru

tentang minimnya wawasan atau pengetahuan mengajar maka pihak

sekolah harus mempunyai kebijakan dalam menyelesaikan

problematika tersebut, karena ketika problem tersebut tidak diatasi,

maka pembelajaran pendidikan agama Islam sendiri tidak akan berjalan

secara maksimal, karena sebagus apapun kurikulum maupun sarana

yang ada, hal itu tidak akan berfungsi tanpa diimbangi dengan guru

yang professional dan bersikap kreatif.

2. Langkah-langkah dalam mengatasi problem peserta didik dalam

pembelajaran pendidikan agama Islam

Sesuai dengan problem yang ada pada siswa yakni rendahnya

kemauan atau motivasi maka untuk mengatasi problem tersebut di

SMK N 2 Salatiga mengadakan pendekatan pada siswa secara personal,

yang dengan pendekatan tersebut diharapkan siswa SMK N 2 Salatiga

mau mengatakan permasalahan yang dihadapi sehingga nantinya guru

pendidikan agama Islam dapat membantu permasalahan yang dihadapi

76

Seperti yang sudah dijelasakan pada bab II oleh Usman (2011:26)

bahwa melalui minat dapat ditemukan kemauan dan motivasi karena,

kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan

perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan sesuatu sifat yang

relative menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali

pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat seseorag akan

melakukan sesuatu yang diminatinya, sebaliknya, tanpa minat

seseorang tidak mungkin melakukan sesuai.

c. Langkah-langkah dalam mengatasi problem kurikulum dalam

pembelajaran pendidikan agama Islam

Dalam problem ini kebijakan yang dilakukan pada guru

agama dalam pembelajaran pendidikan agama Islam yaitu

mendelegasikan guru untuk mengikuti MGMP dan seminar-seminar

tentang K13 yang diadakan oleh pemerintah. Akan tetapi karena

kurangnya sosialisasi tersebut, maka kurikulum disesuaikan dengan

kemampuan siswa dan dapat diterima siswa di SMK N 2 Salatiga.

Dalam hal ini penulis menyimpulkan bahwa dalam

mengatasi problem kurikulum maka kurikulum haruslah

memperhatikan kesesuaian kurikulum dengan perkembangan

zaman.

Oleh karena itu kurikulum harus mempunyai beberapa prinsip,

77

Prinsip kesinambungan 4) Prinsip flesibelitas 5) Prinsip berorientasi

pada tujuan 6) Prinsip pendidikan seumur hidup dan 7) Prinsip

pengembangan

kurikulum.(https://www.google.co.id/amp/s/akhmadsudrajat.wodpr

ess.com/2008/01/31/prinsip-pengembangan-kurikulum/amp/ akses

30 Maret 2017 pukul 10.30)

3. Langkah-langkah dalam mengatasi problem lingkungan dalam

pembelajaran pendidikan agama Islam.

Suasana lingkungan akan sangat berpengaruh terhadap

perkembangan proses belajar siswa terhadap pendidikan agama

Islam. Lingkungan pendidikan tidak hanya mengacu pada

lingkungan di sekolah saja akan tetapi lingkungan masyarakat dan

keluarga sangat berpengaruh. Jika lingkungan masyarakat

memberikan pengaruh baik maka akan berdampak positif pada

perkembangan penddidikan agama Islam di SMK N 2 Salatiga.

Sedangkan lingkungan keluarga sangat berpengaruh sekali pada

tingkah laku dan pola pikir anak didik.

Di lingkungna SMK N 2 Salatiga lingkungan keluarga

kurang memperhatikan pendidikan agam Islam sehingga anak

didikpun terpengaruh dengan kondisi dan situasi yang ada.

Kurangnya perhatian orang tua dengan anaknya dalam hal ini

78

pemecahannya ini yaitu dengan mengadakan pertemuan wali murid

dengan guru di sekolah dalam satu semester atau pada saat

menerima rapor, dengan begitu orag tua bisa mengetahui sejauh

mana pengetahuan pendidikan anaknya khususnya pendidikan

79

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah

diuraikan pada bagian sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai

berikut:

1. Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di SMK N 2

Salatiga banyak sekali ditemukan prolem/masalah. Problem

tersebut ditemukan dari beberapa faktor. Pertama pada Guru

yaitu terbatasnya alokasi waktu dan kesulitan guru dalam

menggunakan kurikulum baru. Kedua pada peserta didik yaitu

kurangnya minat siswa terhadap pendidikan agama Islam

khususnya dalam hal baca tulis Al-Qur’an dan juga ketidaksukaan siswa terhadap pengajar . Ketiga pada kurikulum

yaitu minimnya pemahaman guru PAI terhadap K13. Keempat

pada lingkungan yaitu kurang adanya dukungan dan perhatian

dari keluarga kepada siswa dalam mempelajari dan

melaksanakan PAI.

2. Sedangkan upaya pemecahan problematika pembelajaran

pendidikan agama Islam di SMK N 2 Salatiga. Pertama pada

Guru yaitu kepala sekolah mengambil kebijakan bagi guru

khususnya guru pendidikan agama Islam untuk mengikut

80

pembelajarannya dirasa kurang, guru melakukan jam tambahan

bagi siswa setelah pulang sekolah dengan menggunakan metode

yang dapat diterima oleh siswa. Kedua pada peserta didik yaitu

melakukan pendekatan secara personal terhadap peserta didik

yang kurang memiliki minat dalam mempelajari pendidikan

agama Islam. Ketiga pada kurikulum yaitu mendelegasikan

guru untuk mengikuti MGMP dan seminar-seminar tentang K13

yang ada. Keempat pada lingkungan yaitu mengadakan

pertemuan dengan wali murid dengan guru di sekolah dalam satu

semester atau pada saat menerima rapor sehingga orang tua

mengetahui sejauh mana pengetahuan pendidikan anaknya

khususnya pendidikan agama Islam.

Dokumen terkait