• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN

B. Paparan Data dan Hasil Penelitian

2. Paparan Data SD Islam As-Salam Malang

a. Karakteristik Siswa Kelas IV SD Islam As-Salam Malang Ketika Berpikir Kritis dalam Pengajuan Masalah Matematika

Berpikir kritis membutuhkan upaya secara terus-menerus dalam menganalisis dan mengkaji pengetahuan yang dimiliki yang didukung dengan bukti-bukti yang ada. Siswa yang berpikir kritis tidak akan mudah menerima informasi begitu saja. Akan tetap ia akan melakukan penilaian terhadap informasi berdasarkan bukti-bukti yang ada. Berpikir kritisnya siswa akan muncul ketika siswa dihadapkan pada suatu masalah. siswa akan menelaah lebih dalam masalah apa yang dihadapi dari soal itu kemudian menganalisisnya agar dapat menentukan solusi pemecahannya.

Dalam konteks siswa kelas Kelas IV SD Islam As-Salam Malang, terdapat karakteristik siswa yang terlihat ketika siswa tersebut menggunakan pemikiran kritisnya dalam membuat soal pengajuan masalah. Adapun karakteristik siswa yang berpikir kritis tersebut dapat disajikan sebagai berikut:

1) Mengemukakan Pertanyaan-Pertanyaan dan Permasalahan

Siswa mengemukakan pertanyaan dan masalah yang dihadapi sebagai langakah awal dalam membuat soal. Pertanyaan dan permasalahannya dikemukakan dalam bentuk perumusan soal penjumlahan satuan jarak. Sebagaimana permasalahan yang diungkapkan oleh Hasan sebagai berikut:

„‟Yang dinyatakan dalam soal itu adalah „‟mm‟‟ ditambah „‟cm‟‟ jika dirubah ke „‟m‟‟ sama dengan berapa ?.‟‟108

Berdasarkan hasil observasi, ketika siswa membuat soal yang telah diperintah oleh guru, mereka mendiskusikannya dengan teman sekelompoknya dengan melihat kembali buku catatan matematika serta buku paket matematika.109

Selain dari hasil wawancara, ada juga siswa dalam membuat soal yaitu dengan membuat coretan soal di buku tulisnya terlebih dahulu sebelum menyalinnya pada kertas di berikan guru. Adapun wujudnya dapat dilihat pada gambar siswa berikut ini:

108 Wawancara dengan Hasan, Siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang pada tanggal 14 Mei 2019.

Gambar 4.9 Siswa membuat coretan soal di buku tulisnya 2) Mengumpulkan dan menilai iformasi-informasi yang relevan

Siswa yang berpikir kritis, ketika dirinya sudah mengetahui masalah apa yang dihadapinya, ia akan berupanya mengumpulkan dan menilai informasi-informasi yang relevan dengan permasalahan yang dihadapinya.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan ketika siswa membuat soal matematika, terdapat siswa yang membuka-buka bukunya baik buku tulis pelajaran ataupun buku cetak yang disediakan dari sekolah. Tidak hanya itu mereka juga bekerja sama memiliki konsep materi metematika apa yang relevan dengan masalah dalam soal.110

Selain dari hasil observasi, karakteristik tersebut didukung juga dengan dokumentasi siswa yang bekerja sama memilih informasi yang relevan dengan masalah yang dihadapi. Adapun gambarannya dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 4.10 Siswa bekerja sama memilih informasi yang relevan dengan masalah

Siswa yang berpikir kritis, dia akan berusaha mencari informasi yang relevan baik ke guru ataupun ke orang tuanya dan mengerjakan soal tersebut. Cara yang dilakukannya dengan melihat contoh-contoh soal yang ada di buku tulisnya atau di buku cetak lainnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Bu Fatonah selaku guru yang mengerjakan mata pelajaran matematika di kelas IV SD Islam As-Salam Malang.

„‟Biasanya mereka mau berusaha walaupun tidak bisa. Dia mau mendengarkan, terus dia mau coba lihat-lihat contoh soal yang sudah diberikan sebelumnya, dia memiliku buku panduan lebih

banyak dari teman-temannya. Biasanya siswa yang berpikir kritis itu meskipun sudah bertanya kepada gurunya, dia juga bertanya kepada guru lainnya atau kepada kedua orag tuanya.‟‟111

3) Menarik kesimpulan dengan alasan yang kuat

Karakteristik ini menunjukkan siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang mengajukan masalah juga dengan menuliskan prosedur penyelesaiannya. Menghitung dengan data-data yang diperolehnya dari soal sehingga menemukan jawaban berdasarkan prosedur yang dimiliki. Hal tersebut berdasarkan hasil wawancara dengan Ihsan yang mengatakan:

„‟15 cm = 150mm + 20mm = 20mm + 3dam = 30.000mm + 40m = 40.000mm.‟‟112

Berdasarkan hasil observasi, ketika siswa sudah mengetahui informasi apa yang relevan dengan soal yang dimaksud, mereka langsung menggunakan cara itu untuk menyusun soal dan menuliskan prosedur pengerjaannya sampai menjadi sebuah pertanyaan yang dapat diajukan.113

Hal tersebut diperkuat dengan hasil dokumentasi kertas jawaban siswa seperti pada gambar berikut:

111 Wawancara dengan Ibu Fatonah, guru kelas IV SD Islma As-Salam Malang pada tanggal 8 Mei 2019.

112 Wawancara dengan Ihsan, Siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang pada tanggal 14 Mei 2019.

Gambar 4.11 Prosedur penyelesaian penyusunan soal

Selain mampu mengajukan masalah dalam soal dengan prosedur yang dimiliki, siswa juga memiliki alasan penggunaan prosedur tersebut Davin mengatakan :

“Alasanya saya menggunakan cara ini karena saya pernah tau ibu mengukur kain yang akan dijahitnya dengan menggunakan meteran seperti penggaris yang ada cm nya dan angkanya banyak begitu bu. Kemudian saya tau dibuku ternyata satuan panjang itu banyak dan bisa dirubah-rubah ke satuan yang lain.” 114

Hal yang serupa juga di sampaikan oleh siswa yang bernama Rafi “Alasannya saya membuat soalnya seperti ini bu karena waktu kenaikan kelas ibu mengajak saya membeli kain, kemudian ibu menyebutkan panjang kain yang akan dibuat seragam saya atasan sama bawahan. Tapi ketika di bawah ke penjahit diukur lagi menggunakan meteran yang satuannya juga berbeda begitu bu.”115

114

Wawancara dengan Davin, Siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang pada tanggal 14 Mei 2019.

115 Wawancara dengan Rafi, Siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang pada tanggal 14 Mei 2019.

4) Mengatasi Kebingugan

Siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang yang berpikir kritis akan mengatasi kebingungan yang dihadapi. Mereka akan bertanya kepada gurunya terkait perihal yang belum dimengertinya. Hal tersebut dikarekan adanya keingintahuan yang dimiliki agar yang dibingungkan dapat dipecahkan, dan berusaha untuk mencoba menggunakan cara-cara yang diketahuinya. Sebagaimana Bu Fatonah mengatakan:

„‟Biasanya dia mau berusaha walaupun tidak bisa. Dia mau mendengarkan, terus dia mau coba lihat-lihat contoh soal saya pernah berikan, dia punya buku panduan lebih banyak dari temannya. Kan tadi ada yang bawa sampe berapa tadi karena sulitnya, karena dia pengen tahu. Biasanya anak yang berpikir kritis itu meskipun tanya ke gurunya dia juga tanya ke guru lainnya atau ke orang tuanya.”116

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, ketika siswa mengalami kebingungan, mereka membuka-buka buku cetak, berdiskusi dengan temannya dan bertanya kepada guru.

Hal tersebut diperkuat dengan hasil dokumentasi sebagai berikut:

116 Wawancara dengan Ibu Fatonah, guru kelas IV SD Islma As-Salam Malang pada tanggal 8 Mei 2019.

Gambar 4.12 Beberapa siswa bertanya kepada guru

b. Proses Berpikir Kritis Siswa Kelas IV SD Islam As-Salam Malang dalam Pengajuan Masalah Matematika

Seperti pada pembahasan sebelumnya, berpikir kritis dapat dikembangkan melalui latihan intens. Tanpa adanya latihan siswa akan sulit untuk berpikir kritis terlebih lagi jika dihadapkan dengan suatu permasalahan. Berpikir kritis menjadi salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang berbentuk ke dalam pengajuan sioal dalam matematika. Dengan berpikir kritis, siswa akan menelaah masalah tersebut lebih dalam, merefleksikan masalah yang dimiliki yang akan digunakannya untuk membuat keputusan pengajuan masalah tersebut. Banyak tokoh-tokoh yang mengemukakan gagasan tentang proses berpikir kritis, adapun diantaranya adalah; a) Ennis dan Norris (klarifikasi elementer, dukungan dasar, penarikan kesimpulan, klarifikasi lanjut, strategi dan

taktik), b) Perkins dan Murphy (klarifikasi, assesmen, penyimpulan dan strategi), c) Henri (klarifikasi dasar, klarifikasi mendalam, inferensi, assesmen, dan membuat strategi), d) Facione (interpretasi, analisis, inference, evaluasi, eksplanasi, pengendalian diri).

Proses berpikir kritis siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang tidak terlepas dari proses berpikir kritis yang dikemukakan oleh para tokoh. Adapun proses yang dilalui oleh siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang antara lain sebagai berikut:

1) Klarifikasi

Klarifikasi merupakan proses pertama yang dilalui siswa dalam berpikir kritis. Pada proses ini, siswa mengklarifikasi, menyatakan dan mengenali masalah yang terdapat dalam soal pengajuan masalah. begitupun yang dilakukan oleh siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang ketika meraka mendapat soal matematika yang berbentuk pengajuan masalah, mereka menyatakan masalah sebagaimana jawaban yang dikatakan dari salah satu siswa yang bernama Hasan:

„‟1 km ditambah 1 hm jika dirubah ke satuan dam‟‟117

Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan oleh Ihsan ketika di wawancara:

„‟Jika 10 cm ditambah 10 mm dan ditambah lagi sama 20 m berarti jumlahnya sama dengan berapa mm.‟‟118

117

Wawancara dengan Hasan, Siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang pada tanggal 14 Mei 2019.

118 Wawancara dengan Ihsan, Siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang pada tanggal 14 Mei 2019.

Berdasarkan hasil observasi, ketika siswa membaca soal yang telah diberikan oleh guru, mereka memahaminya dengan penuh teliti lalu memberikan menganalisis pada soal tersebut sebagai informasi yang penting untuk dijadikan cara dalam membuat soal nantinya.119

Selain dari hasil wawancara, ada juga siswa yang membuat coretan soal sebagai tanda permasalahan yang terdapat dalam soal. Adapun wujudnya dapat dilihat pada gambar lembar jawaban siswa berikut ini:

Gambar 4.13 Siswa memberikan coretan soal di kertas sebagai tanda masalah yang akan diajukan

2) Dukungan Dasar

Proses selanjutnya yang dilalui siswa setelah mengklarifikasi masalah yang terdapat dalam soal ialah proses dukungan dasar. Pada proses ini siswa mempertimbangkan materi matematika yang pernah

dipelajarinya yang akan digunakan untuk pengajuan masalah. sebagaimana yang disampaikan oleh Rafi:

„‟Materi yang dapat digunakan utuk mengajukan soal adalah materi tentang konvensi satuan panjang.‟‟120

Hal senada juga disampaikan oleh Davin yang mengatakan :

„‟Materi matematikanya yang dapat digunakan itu tentang konvensi satuan berat.‟‟121

Selain hasil wawancara kepada siswa terkait proses pengerjaannya, berdasarkan observasi yang dilakukan ketika siswa membuat soal pengajuan masalah matematika, peneliti melihat mereka mencoba menyusun kata-kata dan angka yang dengan melihat contoh soal yang ada di buku serta yang dicontohkan guru di papan tulis. Tidak hanya itu siswa juga membuka buku cetak matematikanya guna untuk menelusuri materi apa yang sesuai dengan masalah yang akan di ajukan.

Selain dari hasil observasi, karakteristik tersebut didukung juga dengan dokumentasi siswa yang bekerja sama memilih informasi yang relevan dengan masalah yang dihadapi. Adapun gambarnya dapat dilihat sebagai berikut:

120

Wawancara dengan Rafi, Siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang pada tanggal 14 Mei 2019.

121 Wawancara dengan Davin, Siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang pada tanggal 14 Mei 2019.

Gambar 4.14 Siswa bekerja sama menentuakan soal yang relevan dengan materi

3) Analisis

Setelah siswa mengetahui permasalahan yang diketahuinya, kemudian siswa yang berpikir kritis akan masuk ke proses analisis. Pada tahap ini siswa mengidentifikasi masalah kemudian menghubungkan dengan konsep penyelesaian yang dimiliki. Indikator yang ditunjukkan oleh siswa ketika pada proses analisis yaitu siswa mampu menentukan dan menguji ide/gagasan yang diajukannya untuk mengajukan masalah dalam materi tersebut. Hal ini diperkuat dari hasil wawancara dengan siswa yang bernama Ihsan:

„‟ Pertama kita buat tangganya dulu biar enak, kemudian kita tentukan angka berapa yang mau di buat soal, lalu kasih satuan

beratnya ada yang sama dan ada yang berbeda terus nanti terahir menentukan dirubah kesatuan berapa.‟‟122

Selain dari hasil wawancara, berdasarkan observasi yang dilakukan, peneliti melihat siswa menentukan dan menuliskan rumus untuk memudahkan membuat soal matematika.

Adapunrumus yang ditulis dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.15 Rumus yang ditulis siswa

4) Inference

Proses berpikir kritis berikutnya yang siswa lalui setelah analisis yaitu proses inference. Proses ini merupakan proses dimana siswa menggunakan data-data dan konsep materi yang dimiliki untuk membuat kesimpulan melalui penalaran deduktif ataupun induktif. Ringkasnya membuat soal itu dengan konsep rumus yang sesuai

122 Wawancara dengan Ihsan, Siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang pada tanggal 14 Mei 2019.

dengan materi yang digunakan dalam soal itu sendiri. Sebagaimana hal tersebut disampaikan oleh Hasan ketika diwawancara:

„‟ 8 hm ditambah 5 dam ditambah 10 dm, Berapakah jumlah satuan jaraknya jika dirubah menjadi m. Sehingga satuan hm dan satuan dm masing-masing harus dirubah menjadi m terlebih dahulu.‟‟123 5) Ekplanasi

Pada tahap isi siswa membenarkan konsep yang dimiliki dalam penyelesaian soal pemecahan masalah. siswa mengatakan alasan kenapa dirinya menggunakan prosedur tersebut. Proses ini dapat dilihat dari jawaban siswa yang bernama Davin:

„‟Alasanya saya menggunakan cara ini karena lebih cepat dalam menghitungnya, kalau ke atas dibagi nolnya berkurang dan kalau turun dikali nolnya bertambah.”124

Hal yang serupa juga di sampaikan oleh siswa yang bernama Rafi : “Alasannya ya biar lebih mudah menghitung kalau merubah satuannya dulu pada pada satuan berat yang ditanyakan, setelah itu baru dijumlahkan.‟‟125

c. Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD Islam As-Salam Malang Melalui Problem Posing dalam Matematika

Hasil belajar siswa yang berpikir kritis di kelas IV SD Islam As-Salam Malang tidak jauh berbeda dengan siswa kelas kelas IV SD Islam Surya Buana Malang. Hasil belajar siswa yang berpikir kritis

123 Wawancara dengan Hasan, Siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang pada tanggal 14 Mei 2019.

124

Wawancara dengan Davin, Siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang pada tanggal 14 Mei 2019.

125 Wawancara dengan Rafi, Siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang pada tanggal 14 Mei 2019.

tetap ditinjau dari tiga ranah meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Adapun hasil belajarnya dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Ranah Kognitif

Siswa yang berpikir kritis di kelas IV SD Islam As-Salam Malang jika dilihat dari ranah kognitifnya, mereka memilik ingatan yang variasi. Setiap dari mereka menerjemahkan sendiri apa yang diamati berdasarkan ilmu yang telah dipelajari. Hal demikian berdasarkan dari hasil wawancara dengan Bu Fatonah yang mengatakan:

„‟Kalau ingatannya itu variasi, kalau dalam matematika yang saya ketahui kalau ada operasi penjumlahan satuan berat atau panjang yang harus dirubah dulu satuannya kadang ada beberapa siswa yang masih terbawa konsep kalau turun 1 dikali 10, sedangkan kalau turun 2 mereka kalikan 20.‟‟126

Bu Fatonah juga menegaskan:

“Terkadang ingatan itu apa yang diingat jadi melekat antara dia tahu dan tidak tahu. Tahu diberitahu melekat jadi pengetahuan, tidak tahu apa yang diberikan, bingung jadinya. Itu yang paling jadinya tidak tahu, tapi tidak bertanya. Yang repot itu yang tidak tahu dan tidak bertanya. Kita mengira kalau mengajar ada siswa yang diam itu dianggap sudah mengerti kan begitu ya, tapi kadang-kadang diam, tidak juga mengerti.‟‟

Tidak sebatas sebagai mata pelajaran yang dikaji saja di dalam kelas, siswa kelas IV SD Islam As-Salam Malang mampu menerapkan pemahaman tentang konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari, hal ini sebagaimana disampaikan oleh Bu Fatonah:

“Kalau penerapan matematika setiap hari, siswa-siswi itu menerapkannya dalam kegiatan yang pernah meraka lakukan atau mereka lihat dalam sehari-hari. Misalnya ketika mereka ikut ibunya

126 Wawancara dengan Ibu Fatonah, guru kelas IV SD Islma As-Salam Malang pada tanggal 8 Mei 2019.

ke pasar atau ketika mereka sedang dalam perjalanan. Itu yg paling mudah dipahami oleh siswa-siswi. Pokoknya yang berhubungan dalam kehidupan sehari-hari itu. Jadi paling sering anak itu menerapkannya dalam jual beli. Yang paling seneng dilihat itu jual beli karena hubungannya dengan barang-barang belanjaan yang mereka suka seperti ketika membeli buah dengan ibunya baik di pasar maupun super market. Mereka juga mampu mengurutkan urutan tangga satuan berat dan panjang bahkan dengan membuat gambar tangga nada. ‟‟

Ada juga siswa yang mampu mengkritik keputusan yang dibuat guru, terutama mengkritisi soal dan jawaban yang diberikan oleh guru dengan pengondisian terlebih dahulu sebelumnya. Sebagaimana Bu Fatonah mengatakan:

“Kalau mengkritik dan memeriksa itu ada mungkin dari 24 ada 2 atau 3 siswa. Ya siswa-siwa diberi kesempatan, “Tolong ini yang dikerjakan oleh bu guru dikritisi.” Kadang memang saya sengaja salahkan, agar siswa ini bisa atau tidak. Saya pancing seperti itu. Saya salahkan dalam artian ya gitu saja, perbesarannya apa bagaimananya, biar dijawab sendiri.‟‟

2) Ranah Afektif

Hasil siswa yang berpikir kritis juga mempengaruhi sikap afektif siswa. Siswa yang berpikir kritis memiliki sikap sopan kepada gurunya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bu Fatonah:

„‟Ya biasanya anak yang berpikir ktitis itu ke gurunya sopan ketika pembelajaran matematika, ketika bertanya dan mengajari ke temannya yang belum mampu membuat soal cara mereka sopan tidak merasa paling bisa.

Pada saat pembelajaran berlangsung pun siswa yang berpikir kritis akan terlihat diam, namun dengan diamnya mereka memerhatikan dengan penuh konsentrasi terhadap apa yang sampaikan oleh guru. Ketika belum memahami materi mereka akan merembukkan dan

memecahkan permasalahan dalam materi tersebut dengan teman-temannya

Sebagaiamana hasil wawancara yang mengatakan:

„‟Biasanya kalau yang berpikir kritis itu diam-diam mendengarkan kayak konsentrasi gitu. Dan juga mereka ketika belum memahami materi mereka akan merembukkan dan memecahkan permasalahan dalam materi tersebut dengan teman-temannya .‟‟

3) Ranah Psikomotor

Pada ranah psikomotor, siswa yang berpikir ktitis akan lebih mampu mengikuti pembelajaran yang aktif. Ketika mengerjakan soal mereka melengkapi dan menyajikan jawaban yang mendekati kebenaran, siswa juga mampu mendemontrasikan cara mengajukan soal kepada teman-temannya yang belum memahami materi dan cara membuatnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bu Fatonah:

„‟Siswa-siswa itu kalau di sekolah mengikuti pembelajaran dengan aktif, ketika mengerjakan soal mereka melengkapi dan menyajikan jawaban yang mendekati kebenaran. Bahkan anak-anak mampu mendemontrasikan cara mengajukan soal kepada teman-temannya Pokoknya pembelajaran aktif, mengerjakan tugas, dan komunikasi lancar.‟‟