• Tidak ada hasil yang ditemukan

Para Manusia Berbudi Luhur

Dalam dokumen Seruan Zarathustra - F.nietzsche (Halaman 70-75)

Seruan Zarathustra

27. Para Manusia Berbudi Luhur

Dengan bergemuruh dan dengan semarak kembang-api yang menyenangkan seseorang itu harus berbicara pada perasaan-perasaan yang lamban dan mengantuk.

Tetapi suara keindahan berseru halus: dia masuk menyelinap hanya ke dalam para jiwa yang telah tergugahkan.

Dengan lembut cerminku bergetar dan tertawa padaku hari ini; ini adalah tawa dan getaran sucinya sang keindahan.

Pada kau sang keindahanku itu tertawa, kau yang berbudi luhur, hari ini. Lalu datang suaranya ke aku: „Mereka ingin – dibayar pula!‟

Kau ingin dibayar pula, manusia berbudi luhur! Kau ingin pahala bagi budi pekerti, dan surga bagi dunia, dan keabadian bagi keharinian kau?

Dan sekarang kau marah padaku karena aku ajarkan bahwa tidak ada sang pemberi-pahala tidak pula sang pemberi- upah? Dan sungguh, aku tidak mengajarkan bahwa budi pekerti itu adalah pahala itu sendiri.

Duh, ini adalah dukacitaku: pahala dan hukuman telah diterapkan secara tidak langsung ke dalam dasar pondasi segalanya – bahkan sekarang ke dalam jiwa kau, kau para manusia berbudi luhur!

Tetapi seperti moncong babi hutan kata-kataku akan mengkoyak-koyakan dasar-dasar pondasi jiwa kau; kau akan menamakan aku sang mata bajak.

Semua rahasia-rahasia di dalam hati kau akan dibawa ke cahaya; dan ketika kau berbaring di cahaya sinar surya, terkoyak-koyak dan patah hati, lalu kepalsuan kau akan memisahkan diri dari kebenaran kau.

Karena ini adalah kebenaran kau: Kau terlalu murni bagi kata-kata kotor: dendam, hukuman, pahala, pembalasan.

Kau mencintai budi pekerti kau laksana ibu mencintai anaknya; tetapi bilakah kau dengar ibu minta dibayar bagi cintanya?

Itu adalah diri kau yang kau sayangi, budi pekerti kau itu. Rasa dahaganya siklus ada di dalam diri kau: untuk mendapatkan kembali dirinya lagi dan lagi – setiap siklus berjuang dan berputar sendiri demi ini.

Seperti bintang yang padam, begitulah setiap karya dari budi pekerti kau itu: cahaya terangnya terus berjalan – dan kapan dia akan berhenti dari perjalanannya?

Begitulah sinar cahaya budi perkerti kau itu menjelajah, bahkan jika karyanya sudah selsai. Apa sudah dilupakan atau sudah mati, sinar cahayanya tetap hidup dan menjelajah.

Bahwa budi pekerti kau itu adalah Diri kau, dan bukan sesuatu yang asing, kulit, atau jubah penutup; bahwa budi pekerti ini adalah kebenaran dari dasar jiwa kau, kau manusia berbudi luhur!

Tetapi sungguh ada mereka yang bagi mereka budi pekerti itu adalah geleparan di bawah pecutan cemeti: dan kau terlalu banyak mendengarkan teriakan-teriakan mereka!

Dan dengan yang lainnya, kejahatan-kejahatan mereka tumbuh malas dan mereka menamakan ini budi pekerti; dan begitu kebencian dan kecemburuan mereka merebahkan diri untuk relaks, „keadilan‟ mereka menjadi hidup dan menggosok-gosokan mata kantuknya.

Dan ada lagi yang lainnya yang telah terseret ke bawah: setan-setan mereka menyeret mereka. Tetapi lebih dalam mereka kelelap, lebih terang sinar mata mereka dan rindu bagi Tuhan mereka.

Duh, teriakan mereka, sampai pula ke telinga-telinga kau, kau manusia berbudi luhur: „Apa yang bukan aku, bagiku adalah Tuhan dan budi pekerti!‟

Dan ada lagi yang berjalan, berat dan keriutan, seperti pedati membawa batu-batuan turun bukit: mereka banyak berseru akan martabat dan budi pekerti – rem mereka mereka namakan budi pekerti!

Dan ada lagi yang seperti jam; ketika diputar mereka berdetik, mereka dan meminta rakyat untuk menamakan tik-tok tik-tok mereka - itu budi pekerti!

Sungguh, aku mendapatkan kesenangan dalam semua ini: di mana saja aku temui jam-jam seperti ini aku akan putar mereka dengan cemoohanku; biar mereka berdesing oleh karena itu!

Dan yang lainnya lagi yang bangga akan budi pekerti kecil mereka, dan demi ini melakukan kekerasan ke segala sesuatunya: maka dunia terperosok ke dalam kejahilan mereka.

Duh, betapa tidak layaknya kata „budi pekerti‟ itu terdengar dari mulut-mulut mereka! Dan ketika mereka berkata: „Aku adalah adil,‟ ini senantiasa terdengar seperti: „Aku adalah dendam!‟

Dengan budi pekerti mereka, mereka ingin mencongkel biji mata musuh-musuh mereka; dan mereka ingin meninggikan diri mereka hanya demi merendahkan yang lainnya.

Dan lagi, ada mereka yang duduk di tengah-tengah rawa mereka, dan berkata demikian dari tengah-tengah rumput ilalang: „Budi pekerti – itu bermakna untuk duduk hening di tengah rawa.

„Kami tidak menggigit siapa pun dan menghindari ia yang ingin menggigit: dan dalam segala hal kami pegang opini yang telah ditujukan pada kami.‟

Dan lagi, ada mereka yang suka pamer dan berpikir: Budi pekerti itu semacam pameran.

Lutut-lutut mereka selalu memuja dan lengan- lengan mereka memuliakan budi pekerti, tetapi hati mereka sama sekali tidak mengerti apa itu budi pekerti.

Dan lagi, ada mereka yang menganggap itu sebagai budi pekerti, berkata: “Budi pekerti adalah penting‟; tetapi pada dasarnya mereka hanya percaya bahwa polisi itu penting.

Dan banyak manusia tidak bisa melihat keluhuran dalam diri manusia, dan menamakan ini budi pekerti supaya ia bisa melihat kerendahan manusia lebih dekat: maka ia menamakan mata jahatnya itu budi pekerti.

Dan banyak manusia yang ingin dimajukan dan ditinggikan dan menamakan ini budi pekerti; dan yang lainnya ingin dilempar ke bawah – dan menamakan ini budi pekerti pula.

Dan mereka semu berpikir bahwa mereka berpartisipasi dalam budi pekerti; dan setiap orangnya mengklaim bahwa ia adalah pemegang otoritas dalam hal “ kebaikan” dan “kejahatan.”

Tetapi Zarathustra bukannya telah datang untuk berseru pada semua para pendusta dan orang bodoh: „Apa yang kau tahu tentang budi pekerti? Apa yang kau bisa tahu tentang budi pekerti?‟

Agar kau, temanku, menjadi letih akan kata-kata kuno yang telah kau pelajari dari orang-orang bodoh dan para pendusta.

Supaya kau tumbuh letih akan kata-kata „pahala‟, „balasan‟, „hukuman‟, „dendam sejati‟.

Agar kau tumbuh letih akan perkataan “pahala,” “balas jasa,” “hukuman,” “dendam kesumat.”

Agar kau tumbuh letih akan perkataan „Suatu tindakan itu baik bila tindakan itu tidak mementingkan diri sendiri.‟

Ah, para temanku! Semoga Diri kau sendiri ada dalam tindakan, laksana ibu pada anaknya: biar ini menjadi prinsip budi pekerti kau!.

Sungguh, aku telah mengambil beratus-ratus prinsip-prinsip dan mainan-mainan kesayangannya budi pekerti kau jauh dari kau; dan kau cerca aku sekarang, seperti anak-anak mencerca.

Mereka sedang bermain di pesisir pantai – lalu datang gelombang dan menyapu mainan- mainan mereka ke tengah lautan dalam: sekarang mereka menangis.

Tetapi ombak yang sama ini akan membawa ke mereka mainan- mainan baru dan menggelar ke hadapan mereka aneka warna kulit-kulit kerang baru!

Maka mereka akan terlipur hatinya; dan kau pula, para temanku, akan serupa mereka, mempunyai pelipur-pelipur hati – aneka warna kulit-kulit kerang baru!

28. Gerombolan

Kehidupan itu bagai sumur yang mempesona; tetapi dimana si gerombolan ikut minum, semua air mancur teracunkan.

Aku sangat menyukai segala sesuatu yang bersih; aku tidak suka melihat seringai mulut- mulut dan dahaga-dahaga si yang tidak bersih.

Mereka melemparkan tatapan mereka ke dalam sumur: dan sekarang senyuman menjijikan mereka menatapku dari dalam sumur.

Mereka meracuni air suci ini dengan hawa nafsu mereka; dan ketika mereka menamakan impian- impian kotor mereka itu „pesona,‟ mereka meracuni kata-kata ini, pula.

Nyala api marah ketika mereka menaruh hati lembab mereka ke atas api; spirit ini sendiri menggelembung dan berasap tatkala gerombolan mendekati api.

Buah menjadi hambar dan kematangan di tangan mereka: pohon buah menjadi goyah dan layu di pucuknya di bawah tatapan mereka.

Dan banyak orang yang undur diri dari kehidupan, mereka hanya undur diri dari gerombnolan: ia benci untuk berbagi air mancur, api, dan buah-buahan bersama mereka.

Dan banyak orang undur diri ke padang pasir dan menderita dahaga bersama para binatang pemangsa, ia tidak ingin duduk di sekeliling waduk air bersama para penunggang unta kotor.

Dan banyak orang datang serupa sang penghancur dan hujan es ke semua taman-taman buah hanya untuk meletakan kakinya ke dalam rahang-rahang gerombolan dan menyumbat kerongkongannya.

Dan itu bukanlah kata-kata panjang yang telah mencekikku, agar tahu bahwa kehidupan itu membutuhkan permusuhan dan kematian dan syuhada-syuhada.

Tetapi aku bertanya sekala itu, dan pertanyaanku ini nyaris mencekikku: Apakah gerombolan itu dibutuhkan pula dalam kehidupan?

Apakah air-air mancur beracun itu perlu, dan api-api busuk dan impian-impian kotor dan belatung-belatung dalam roti kehidupan?

Bukanlah kebencianku tetapi kejijikanku dengan laparnya menggerogoti kehidupanku! Duh, aku kerap tumbuh letih akan spirit, ketika aku mendapatkan bahwa gerombolan pun punya spirit!

Dan aku membalikan punggungku terhadap para penguasa, ketika aku melihat apa yang mereka namakan kekuasaan: tukar- menukar dan tawar- menawar kekuatan – dengan si gerombolan!

Aku hidup ditengah-tengah para rakyat yang berbahasa janggal, memakai penyumbat telinga: lalu bahasa tukar menukar dan tawar- menawar kekuatan itu akan tetap janggal bagiku.

Menutup hidungku, aku pergi dengan murung melalui segala masa lampau dan masa kini: sungguh, semua masa lampau dan masa kini itu berbau busukan corat-coret tulisan gerombolan!

Serupa si timpang yang menjadi buta, tuli, dan gagu: maka aku telah hidup sebegitu lamanya, semoga aku tidak akan hidup dengan si gerombolan-penguasa, si gerombolan-penulis dan si gerombolan-penikmat kesenangan.

Dengan letih spiritku mendaki tangga-tangga dan berhati-hati; sedekah yang mempesona adalah makanannya; dengan orang buta kehidupan itu melata di atas tongkat.

Apa yang terjadi padaku? Bagaimana aku bisa membeb askan diriku dari kejijikan? Siapa yang telah menyegarkan kembali mataku? Bagaimana aku bisa terbang ke ketinggian di mana si gerombolan tidak lagi duduk di sumur-sumur?

Telahkah kejijikanku ini sendiri menciptakan sayap dan daya penemu air bagiku? Sungguh, ke puncak tertinggi aku musti terbang, untuk menemukan kembali sumur yang mempesona itu!

Oh, aku telah menemukannya, saudaraku! Di sini di ketinggian tertinggi ini dia muncrat bagiku sumur mempesona ini! Dan di sini ada satu kehidupan yangmana tidak ada seorang gerombolan pun minum bersamaku!

Kau muncrat sangat bersemangat, air mancur pesona! Dan kau kerap mengosongkan cawannya ketika ingin dipenuhi lagi!

Dan aku masih harus belajar untuk mendekati kau dengan lebih berendah hati: sangat bersemangat hatiku mengalir ke arah kau dan terlalu semberono.

Hatiku, di atas mana musim panasku membakar, yang singkat, panas, melankoli, musim panas penuh sukacita: bagaimana hati musim panasku merindukan kesejukan kau!

Sudah berakhir, sisa-sisa penderitaannya musim semiku yang masih tertinggal itu! Sudah berakhir kejahatannya serpihan-serpihan saljuku di bulan Juni! Aku telah menjadi musim panas seutuhnya, dan siang hari musim panas!

Musim panas di ketinggian tertinggi, dengan air-air mancur dingin dan keheningan yang membahagiakan: oh, mari, para temanku, semoga dengan keheningan ini bisa lebih membahagiakan lagi!

Karena ini adalah ketinggian kita dan rumah kita: terlalu tinggi dan terlalu curam kita di sini telah hidup, bagi orang-orang yang tidak besih dan bagi dahaga mereka.

Coba lemparkan tatapan murni kau ke dalam sumur pesonaku, para temanku! Kau tidak akan mengeruhi kemilaunya! Sumur ini akan tertawa kembali pada kau dengan segala kemurniannya!

Di atas pohon masadepan kita membuat sangkar kita; burung-burung elang akan membawakan makanan pada kita, kita para penyendiri, di paruh-paruh mereka!

Sungguh, makanan yangmana tidak ada manusia yang tidak bersih bisa makan bersama kita! Mereka pikir itu api yang mereka makan yang membakar mulut mereka!

Sungguh, kita tidak menyiapkan rumah di sini bagi para manusia kotor! Kebahagiaan kita itu seperti guha es ke tubuh juga ke spirit mereka!

Dan laksana badai, kita hidup di atas mereka, para tetangganya elang-elang, para tetangganya salju-salju, para tetangganya matahari- matahari: beginilah badai itu hidup.

Dan seperti angin aku di suatu hari nanti akan menghembus di tengah-tengah mereka, dan bersama dengan spiritku, mengambil nafasnya spirit mereka: maka masa depanku memaui ini.

Sungguh, Zarathustra adalah badai kencang ke semua dataran-dataran rendah; dan ia sajikan anjuran ini pada musuh- musuhnya dan pada semua yang muntah atau pun meludah: „Waspada jangan meludah melawan angin!‟

Ini seruan Zarathustra.

Dalam dokumen Seruan Zarathustra - F.nietzsche (Halaman 70-75)