• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paradigma Hukum Positivistik – Legalistik

D. Kritik Terhadap Realitas Birokrasi Pada Peradilan Kita

6. Paradigma Hukum Positivistik – Legalistik

Secara kuantitatif dan kualitatif, kita mungkin sudah cukup mempunyai aturan hukum yang dapat digunakan sebagai jaminan kepastian dan keadilan bagi masyarakat yang sedang berurusan dengan masalah hukum. Namun, secara faktual, sangat sulit mendapatkan data yang menggembirakan mengenai rasa keadilan yang timbul dari praktek hukum.

Dunia peradilan nyaris menghasilkan putusan-putusan hukum yang mencederai rasa keadilan masyarakat.

Dengan dalih sudah sesuai atau tidak sesuai dengan hukum dan prosedur hukum yang berlaku, seorang itu harus dibebaskan atau ditahan, walaupun menurut pengetahuan dan dugaan kuat masyarakat umum, yang bersangkutan telah melakukan perbuatan yang tidak atau melanggar

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 66 ]

hukum. Banyaknya koruptor dibebaskan itu lebih kepada masalah karena secara legal-formal ia tidak bisa dibuktikan telah melakukan korupsi.

Selama ini sudah menjadi suatu pemikiran yang mapan dan dominan di dalam masyarakat yang dipelopori oleh para akademisi dan profesional hukum, yaitu paradigma “positivistik-legalistik”. Konsep atau pemikiran tersebut yang mereka namakan “lawyer’s law”, yakni bahwa hukum itu identik dengan undang-undang, dan proses hukum harus berjalan menurut prinsip “aturan dan logika” (rules and logic), dan undang-undang itulah yang dianggap paling mampu menertibkan masyarakat (kepastian hukum)30.

Pandangan ini, melihat hukum sebagai suatu institusi pengaturan yang sederhana, linier, mekanistik dan deterministik, khususnya untuk keperluan profesi. Hal yang dominan dalam hal ini adalah melihat dan memahami hukum sebagai sesuatu yang rasional, logis dan penuh keteraturan yang rasional. Tegasnya, hukum itu adalah suatu order, suatu perintah, yang harus diterapkan dan karenanya manusia harus tunduk kepadanya.

Pandangan/paradigma yang berbasiskan teori/aliran hukum positif dengan tokohnya John Austin ini, berpendapat bahwa hukum adalah perintah dari penguasa politik yang berdaulat dalam suatu negara. Austin berpendapat bahwa “Ilmu tentang hukum itu berurusan dengan hukum positif, atau dengan aturan-aturan hukum lainnya yang secara tegas dapat disebut demikian, yaitu yang harus diterima dan dilaksanakan tanpa harus memperhatikan kebaikan atau keburukannya31. Menurut Austin tugas dari ilmu hukum hanyalah menganalisis unsur-unsur yang secara nyata ada dalam sistem hukum modern32.

Demikian pula dengan Hans Kelsen tokoh aliran hukum positif yang mengintrodusir TEORI HUKUM MURNI, dengan tegas menyatakan bahwa ilmu hukum adalah “Ilmu normatif”. Hukum semata-mata berada dalam dunia “sollen”, ciri hakiki dari norma adalah sifatnya yang hipotesis. Hukum lahir bukan karena proses alami, melainkan karena kemauan akal manusia yang dibingkai dalam format-format tertentu. Hukum seperti inilah yang kemudian disebut sebagai “Hukum Modern”, yang berbeda dengan hukum tradisional yang lahir secara alami dari dan untuk masyarakat. Selanjutnya Kelsen merumuskan teorinya bahwa “analisis tentang struktur hukum

30 Kompas, 7 Sept 1998, hlm. 4.

31 Boden Heimer, 1974 , hlm. 94

32 Satjipto Rahardjo, 1991, hlm. 268

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 67 ]

positif, harus dilakukan seeksak mungkin,bebas dari semua pengaturan etik atau politik mengenai nilai33.

Sejak hukum modern semakin bertumpu pada dimensi bentuk yang menjadikannya bersifat formal dan prosedural, maka menurut Satjipto Rahardjo, sejak itu pula timbul perbedaan antara keadilan formal atau keadilan menurut hukum disatu pihak dan keadilan sejati (hakiki, pen.) atau keadilan substansial dipihak lain. Dengan adanya dua macam dimensi keadilan tersebut, maka terlihat dalam praktiknya, hukum itu ternyata dapat digunakan untuk menyimpang dari keadilan substansial. Penggunaan hukum secara demikian itu tidaklah berarti melakukan pelanggaran hukum, melainkan semata-mata menunjukkan bahwa hukum itu dapat digunakan untuk tujuan lain selain untuk mencapai keadilan34 ().

Sifat atau karakter hukum yang teknikalitas seperti ini yang membuat hukum itu pada posisi yang selalu “siap direkayasa”. Bahwa setiap masalah yang berkaitan dengan hukum seolah-olah dapat dicarikan pembenarannya, meskipun untuk hal-hal yang sebenarnya kurang masuk akal sekalipun.

Tindakan para aparat hukum, termasuk putusan-putusan hakim yang kadang-kadang aneh dan kontroversial, selalu ada pembenarannya dari segi hukum. Dengan cara ini, kebenaran disingkirkan dan kepastian hukum terpelihara, meskipun secara semu, karena yang disebut dengan kepastian hukum dalam hal ini adalah tafsir-tafsir subyektif aparat hukum atas aturan hukum yang tidak jarang secara substansial justru menimbulkan ketidak pastian.

Akibatnya bagi aparat hukum yang menguasai aturan hukum dan mahir dalam teknik hukum, tetapi mempunyai moralitas yang rendah akan dapat memanfaatkan hukum dengan sebaik-baiknya untuk memenangkan kasus/perkara yang ditanganinya. Bagi yang senang berkolusi dengan pihak yang melakukan kejahatan, maka baginya hukum sewaktu-waktu dapat diubah sebagai alat kejahatan (law as a tool of crime). Menurut Ronny Nitibaskara, bahwa perbuatan jahat dengan hukum sebagai alatnya merupakan kejahatan sempurna, sulit dilacak, karena diselubungi hukum dan berada dalam hukum35.

33 Allen, 1958, hlm. 51

34 Khuzaifah, Teorisasi Hukum : Studi Tentang Perkembangan Pemikiran Hukum Di Indonesia 1945-1990, Muhammadiyah University Press, Surakarta, 2004, hlm. 181

35 Kompas, 16 Oktober 2000, hlm. 7

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 68 ]

Sistem hukum Indonesia adalah termasuk dalam kategori paradigma hukum modern (positivistik-legalistik) yang liberal tersebut pada prinsipnya diadakan tidak untuk memberikan keadilan kepada masyarakat, melainkan untuk melindungi kemerdekaan individu, yang senjata utamanya adalah kepastian hukum. Demi kepastian, maka keadilan dan kemanfaatan boleh dikorbankan dan diabaikan. Konsepsi atau paradigma yang demikian ini merupakan hal yang bersesuaian dengan ketegangan antara keadilan hukum formal dan keadilan substansial.

Tegasnya, pola pikir hukum yang legalistis/positivistis memang telah banyak mencelakakan bangsa Indonesia, karena dalam praktiknya sejak berdirinya NKRI hingga sekarang, negaralah yang memonopoli kekuasaan membuat hukum, sehingga hanya produk-produk hukum dari legislatiflah yang dianggap sah sebagai hukum. Di luar produk penguasa tidak diakui sebagai produk hukum, sehingga otoritas hukum masyarakat tidak diakui sama sekali. Tanpa disadari, hegemoni negara ini sesungguhnya merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai demokrasi, sebab apapun perintah hukum dari negara yang menuntut ketaatan dari warganya sebenarnya membutuhkan persetujuan (sesuai dengan aspirasi) seluruh warga negara. Inilah hakekat dari kedaulatan rakyat.

Akibat sistem hukum yang lebih menonjolkan kemerdekaan individu daripada pencarian kebenaran dan keadilan itu rupanya telah banyak memakan korban, baik di negara asalnya di Barat maupun di negara-negara yang menganut paham positivistisme hukum belakangan. Di Amerika, fenomena proses peradilan yang positivistik yang telah memakan korban tersebut, acap kali dijuluki sebagai “peradilan / putusan yang sesat”36.

Dengan demikian, apakah situasi bernegara hukum dengan paradigma positivistik, yang serba linier, mekanistik dan deterministik yang mengedepankan “rules and logic” tersebut masih dapat menyelamatkan krisis hukum di Indonesia? Maka dengan tegas dijawab : Tidak !, karena saat ini Indonesia sedang menghadapi extra ordinary problem, masalah yang luar biasa sulit. Berpikir dan bekerja dalam formalitas dan prosedur hukum (undang-undang) yang serba teknikalitas tidaklah cukup menjanjikan keterpurukan bangsa Indonesia, termasuk keterpurukan hukum formal tersebut.

36 Ahmad Ali, Tinjauan Normatif dan Sosiologis Kasus Dugaan Suap Hakim Agung, Diktum (Jurnal Kajian Putusan Pengadilan), LeIP, Edisi I tahun 2002. hlm. 41

| Hukum dan Perkembangan Masyarakat |

[ 69 ]

Dengan demikian, adalah sudah sangat mendesak untuk mencari agenda dan cara berfikir alternatif agar bangsa Indonesia bisa keluar dari situasi yang serba tidak pasti dari praktik kepastian dan keadilan prosedural hukum tersebut, yang nyatanya hingga kini tidak mampu berbuat banyak.

Oleh karenanya bukan hal yang tabu jika para pendukung aliran positivistis ini agar merubah pendangannya untuk digantikan oleh ilmu hukum yang lebih menjanjikan dan memiliki karakter progresif.

C. Reformasi Birokrasi Sistem Peradilan dalam Upaya Pemberantasan