• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1.3 Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR)

Model Pembelajaran Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR), diharapkan dapat membantu siswa, bukan hanya menjadi lebih cerdas dalam bidang pengetahuannya, tetapi berkembang menjadi pribadi yang peka pada sikap kebaikan, dan peka pada kebutuhan orang lain (Suparno, 2015). Menurut Subgya (2008), menyebutkan tiga unsur utama dalam PPR adalah pengalaman, refleksi dan aksi. Pembelajaran PPR adalah pembelajaran pengintergrasian pembelajaran bidang studi dan menekankan pada pengembangan nilai. Dalam pembelajaran bidang studi disesuaikan pada konteks siswa, sedangkan pada pengembangan nilai ditekankan pada suatu pengalaman, refleksi dan aksi. Dan nanti semua proses pembelajaran ini harus diakhiri dengan evaluasi. Sedangkan menurut Subagyo (2010: 23-24) PPR merupakan sebuah pola pikir dalam menumbuhkan dan mengembangkan pribadi siswa sepenuhnya, sehingga membawa mereka melaksanakan perbuatan-perbuatan.

Jadi berdasarkan pengertian para ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa Paradigma Pedagogi Reflektif adalah suatu model pembelajaran yang diharapkan dapat membantu siswa, bukan hanya menjadi lebih cerdas dalam bidang pengetahuannya, tetapi berkembang menjadi pribadi yang peka pada

kebaikan, dan peka pada kebutuhan orang lain. PPR menggunakan 5 tahapan yaitu konteks, pengalaman, aksi, refleksi, dan evaluasi.

2.1.3.2 Tujuan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR)

Dalam buku yang dikembangkan oleh Komunitas Studi dan Pengembangan PPR Yogyakarta (2012) disebutkan bahwa tujuan dari PPR adalah sebagai berikut :

1. Membentuk pria dan wanita untuk orang lain yang berarti kita bertujuan membentuk pemimpin-pemimpin pelayanan yang meneladan Yesus Kristus. Pria dan wanita yang kompeten (competence), dalam bidangnya, memiliki hati nurani yang benar (conscience), dan memiliki kepedulian yang tumbuh dari kasih kepada sesama (compassion)

2. Membentuk pribadi secara penuh dan lebih mendalam, yaitu suatu proses pembentukan yang menuntut keunggulan yang meliputi bidang intelektual, akademik, dan lainnya

Jadi berdasarkan pendapat ahli diatas peneliti menyimpulkan bahwa tujuan dari PPR yaitu adalah membentu pribadi yang kompeten (competence), memiliki hati nurani yang benar (conscience), dan memiliki kepedulian terhadap sesama (compassion).

2.1.3.3 Ciri-ciri PPR menurut Subagya (2010) :

1. Pembelajaran Paradigma Pedagodi Reflektif ini sangat fleksibel karena dapat diterapkan dalam semua kurikulum

2. Pembelajaran Paradigma Pedagogi Reflektif fundamental untuk proses belajar mengajar

3. Pembelajaran Paradigma Pedagogi Reflektif ini dapat menjamin para pengajar menjadi pengajar yang lebih baik

4. Pembelajaran Paradigma Pedagodi Reflektif mempribadikan proses belajar dan mendorong pelajar merefleksikan makna dan arti yang dipelajari Berdasarkan pendapat ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa ciri-ciri PPR yaitu sangat fleksibel, fundamenta, menjadikan pengajar lebih baik dan mendorong pelajar merefleksikan mengenai materi yang dipelajari

2.1.3.4 Pola PPR

Pola PPR menurut Komunitas Studi dan Pengembangan PPR Yogyakarta (2012 :63) meliputi konteks, pengalaman, refleksi, aksi dan evaluasi. Menurut Komunitas Studi dan Pengembangan PPR Yogyakarta dalam bukunya Pembelajaran Pedagodi Reflektif (2012) menggambarkan pelaksanaan PPR yang dapat dilakukan guru sebagai berikut :

Ganbar 2.1 Pelaksanaan Paradigma Pegadagogi Reflektif (PPR) yang dilakukan oleh guru

Jadi berdasarkan pendapat ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa PPR memiliki pola sebagai berikut : konteks, pengalaman, aksi, refleksi, dan evaluasi.

Pengalaman

Refleksi

Aksi

2.1.3.5 Tata Cara Pelaksanaan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR)

Menurut (Subagya, 2010) Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) harus meperhatikan proses belajar maupun proses pedagoginya. Selain itu mereka juga harus menunjukkan cara-cara untuk mendukung keterbukaan pada pertumbuhan, juga setelah siswa menyelesaikan suatu siklus pembelajaran tertentu. Berikut ini adalah langkah-langkah proses pembelajaran menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) :

a. Konteks

Pertama, siswa diajak untuk mengerti mengenai nilai-nilai yang akan dikembangkan, sehingga dengan demikian anggota komunitas, guru, dan juga siswa menyadari bahwa yang menjadi landasan pengembangan bukan hanya aturan melainkan juga nilai-nilai kemanusiaan.

Kedua, dalam tahap ini siswa diajak untuk mennghayati mengenai nilai-nilai yang dierjuangkan, terutama contoh yang diberikan oleh guru. Dengan demikian siswa melihat, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan nilai yang dihayati lingkungannya

Ketiga, dalam tahap ini siswa diajak untuk menjalin sebuah hubungan yang akrab, saling percaya, agar siswa bisa membangun komunikasi yang terbuka antara guru dengan siswa.

b. Pengalaman

Dalam tahap ini siswa diajarkan untuk menumbuhkan persaudaraan. solidaritas dan saling memuji adalah pengalaman bekerjasama dalam kelompok kecil yang “direkayasa” sehingga terjadi interaksi dan

komunikasi yang intensif, ramah dan sopan, penuh tenggang rasa, dan akrab.

c. Refleksi

Dalam tahap ini siswa difasilitasi menggunakan pertanyaan agar siswa terbantu untuk berefleksi. Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang divergen agar siswa secara otentik dapat memahami, mendalami dan meyakini temuannya. Siswa juga dapat diajak untuk diam dan hening sejenak untuk meresapi apa saja yang sudah dipelajari hari itu.

d. Aksi

Dalam tahap ini guu menfasilitasi siswa dengan pertanyaan aksi agar siswa tersebut terbantu untuk membangun niat dan bertindak sesuai dengan hasil refleksinya. Dengan niat yang sudah dibangun dan berperilaku dari kemauannya sendiri siswa membentuk pribadi yang menjadi pejuang bagi nilai-nilai yang direfleksikannya.

e. Evaluasi

Setelah pembelajaran guru memberikan evaluasi atas kompetensinya dari sisi akademik. Ini adalah wajar dan merupakan suatu keharusan karena sekolah dibangun untuk mengembangkan ranah akademik dan menyiapkan siswa menjadi komponen di bidang studi yang dipelajarinya.

Berdasarkan pendapat ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa PPR memiliki 5 tahapan antara lain adalah konteks, pengalaman, aksi, refleksi, dan evaluasi.

2.1.3.6 Kelebihan PPR

Menurut Subagya (2008) kelebihan PPR adalah sebagai berikut : 1. Murah meriah

Dalam pembelajaran tidak memerlukan atau penawaran khusus, kecuali yang dilakukan oleh bidang studi yang bersangkutan. Misalnya untuk menumbuhkan persaudaraan, solidaritas, saling menghargai, yang diperlukan adalah pengalaman yang dapat tercapai melalui belajar dengan kerja sama kelompok yang kemudian direfleksikan dan ditindaklanjuti dengan aksi, evaluasi dalam belajar dengan kerja sama kelompok

2. Segala Kurikulum

PPR dapat diterapkan pada semua kurikulum. Paradigma Pedagogi Reflektif ini tidak menuntut tambahan bidang studi baru, jam pelajaran tambahan, maupun peralatan khusus. Hal pokok yang dibutuhkan hanyalah pendekatan baru pada cara guru dalam mengajarkan mata pelajaran yang ada.

3. Cepat Kelihatan Hasilnya

Kenyataanya sekolah yang sudah menerapkan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) sebagai model pembelajarannya membawa dampak yang baik terhadap siswa-siswinya. Contohnya seperti : siswa-siswa akan terlihat akrab satu sama lain, mau solider dan saling membantu dalam belajar, mau saling menghargai satu sama lain. Dengan begitu pengelompokan kelas menjadi mudah, kenakalan berkurang. Secara garis besar dapat disimpulkan yaitu :

1) Dari segi integrasi

a. Pembelajaran berpola PPR murah karena tidak memerlukan banyak biaya

b. Tidak terhambat adanya kurikulum baru jadi bisa menggunakan kurikulum apapun karena PPR bersifat fleksibel

c. Mengajarkan dan melatih nilai-nilai kristiani 2) Dari segi pengalaman

a. Tidak memerlukan banyak aturan b. Penelitian yang otentik

3) Dari segi pendidikan kontekstual : a. Ciri khas sekolah dapat diwujudkan

b. Menjadikan keunggulan sekolah yang tidak dapat diunggulkan sekolah lain

Berdasarkan pendapat ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa kelebihan PPR antara lain sebagai berikut murah meriah, dapat digunakan dalam segala kurikulum dan cepat kelihatan hasilnya.

2.1.4 Hakekat Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)

Dokumen terkait