BAB V PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
5.1.1. Paradigma Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat
community organizing dalam pengertian umum adalah suatu usaha yang ditujukan untuk membantu kelompok-kelompok dalam mencapai kesatuan tujuan dan tindakan. Hal ini merupakan praktek yang tujuannya adalah untuk mencapai sumber-sumber daya yang dibutuhkan oleh dua atau lebih kelompok-kelompok yang ada, dan pada bab yang sama dimana Arthur Durkheim juga menyatakan bahwa community development adalah suatu proses yang bertujuan untuk meningkatkan keadaan ekonomi dan sosial seluruh masyarakat dengan partisipasi aktif masyarakat. Akan tetapi di suatu sisi, SPI memiliki paradigma tersendiri dalam pengorganisasian dan pengembangan masyarakat walau tidak jauh berbeda dengan apa yang digambarkan oleh kedua ilmuan tersebut. SPI menyesuaikan paradigma dalam gerakan-gerakannya untuk mencapai apa yang menjadi cita-cita organisasi tersebut dengan dilatarbelakangi kondisi masyarakat Indonesia atas ketimpangan-ketimpangan dalam struktur sosial budaya, ekonomi, dan politik yang dimana setiap daerahnya masing-masing memiliki banyak perbedaan.
SPI sebagai organisasi petani pada dasarnya terorganisir karena adanya ketimpangan atau ketidak-beradilan dalam struktur sosial budaya, ekonomi, dan politik tersebut yang dihadapi oleh petani itu sendiri. Dalam pandangan SPI,
permaslahan-permaslahan yang dihadapi petani harus dapat diselesaikan oleh petani tersebut secara bersama-sama dan terorganisir. Seperti apa yang disampaikan oleh Sekretaris BPW (Badan Pengurus Wilayah) SPI Sumatera utara:
“Pada dasarnya, petani harus memiliki kesadaran akan permasalahannya dan mampu menyelasaikan permasalahannya tersebut. SPI yang terorganisir dalam langkah-langkahnya, sebenarnya lebih mengedepankan kemauan bersama, jadi pengorganisasian itu dimulai ketika memang ada sebuah permasalahan yang itu dianggap menjadi permasalahan bersama.”
SPI sebagai organisasi perjuangan petani lahir atas keinginan petani untuk dapat keluar dari permasalahannya. Permasalahan yang sering dihadapi oleh petani di Indonesia ialah penguasaan alat produksi utama, yaitu lahan pertanian atau tanah yang tidak berkeadilan. Ketimpangan penguasaan lahan yang ada di Indonesia atau bahkan adanya pengambilan paksa lahan dari petani oleh pihak-pihak tertentu akan memaksa petani mencari jawaban akan permasalahannya tersebut dan bagaimana dapat lepas dari permasalahannya tersebut. Keinginan dan kesadaran yang disertai dengan perjuangan yang berasal dari diri sendiri atau petani tersebut ialah sub yang mendasari terorganisirnya para petani dalam bentuk organisasi SPI. Walaupun sejarahnya SPI terbentuk pada awalnya atas karsa Yayasan Sintesa yang didalamnya mengaku sebagai aktivis sosial yang memperjuangkan hak-hak petani, akan tetapi proses tersebut bersifat pendampingan terhadap petani untuk dapat menumbuhkan kesadaran bagi para petani akan kondisinya dan memiliki keinginan untuk berjuang menyelesaikan permasalahannya secara terorganisir dalam bentuk organisasi SPI. Karena dalam pegorganisasiannya, SPI adalah organisasi petani yang mengorganisir dirinya sendiri secara bersama-sama untuk dapat
menyelesaikan permasalahannya dan berjuang atas nama keadilan. Seperti bagaimana yang disampaikan oleh Henri Saragih selaku Ketua Umum SPI:
“Bagi SPI ini suatu hal yang utama, SPI itu suatu organisasi petani yang memperjuangkan dirinya sendiri. Logikanya bahwa bukan orang lain yang akan menyelesaikan permasalahannya, akan tetapi dialah (petani) yang mengatasi permasalahannya sendiri ... kalau saya kutip dari Al-Qur’an, tidak akan Aku rubah suatu kaum sebelum kaum itu merubah dirinya sendiri ... maka dari situ, pokok pengorganisasian SPI ialah petani yang mengorganisir dirinya sendiri secara bersama-sama untuk dapat memperjuangkan dirinya (petani) agar dapat menyelesaikan pernasalahannya... walaupun ada orang lain, misalnya pengacara atau ekonom dan lain-lain ya itu sifatnya mendampingi seperti dalam memperjuangkan petani ketika tanahnya dirampas oleh pihak-pihak tertentu maupun ketika petani ingin mengambil alat produksi yang memang menjadi haknya... ya jadi memang petani itu yang harus memperjuangkan dirinya sendiri dimana seperti sejak awal yang diorganisir oleh Sintesa sebelum adanya SPI ataupun SPSU... ya akhirnya Serikat Petani Indonesia itu terorganisir dari tingkat basis, daerah, kabupaten, provinsi, nasional, hingga internasioanal... kalaupun ada seseorang yang bukan dia itu adalah pihak yang korban ataupun pihak yang sedang secara langsung memperebutkan alat produksi, ya dia harus mengindentifikasi diri sebagai petani itu, di tidak boleh memisahkan diri sebagai orang yang membantu, tetapi orang yang memperjuangkan kehidupan petani, jadi apabila ada seorang aktivis yang bergabung bersama SPI, di harus mengandaikan dirinya sebagai petani itu sendiri.”
Pengorganisasian masyarakat yang dijalankan SPI sebagai bagian dari gerakan sosial petani ialah keuatan utama petani itu sendiri. Dengan adanya kesadaran untuk berubah dan dengan adanya kebrsamaan bagi petani, maka ketika adanya masalah yang dihadapi oleh petani, hal tersebut akan lebih mudah dihadapi oleh petani. Seperti bagaimana yang disampaikan oleh Jean Ari:
“Yang paling penting dari itu semua adalah dari setiap orang yang terlibat dalam proses pengorganisasian itu harus mengerti akan kebutuhan kenapa harus melakukan pengorganisasian, itu harus terjawab dulu! Karena yang terpenting dalam perjuangan itu kita harus bersama-bersama, hal tersebut juga dikarenakan kunci dari perjuangan itu ada di masa itu sendiri, jadi membangun kekuatan itu haruslah dengan kekuatan masa dengan mengorganisasikan diri. Maka ketika diketemukan masalah yang paling mendasar di diri mereka sendiri, maka pertanyaan permalasahan itu akan dikembalikan ke mereka sendiri, apakah perjuangan ini akan dilanjutkan atau tidak. Karena secara struktur ekonomi, memang jadi maslah semuanya, Cuma memang harus ada keberanian untuk menyatakan sikap bahwa memang ini penting dan ini yang utama yang harus diperjuangkan dan dipertahankan, sehingga kesadaran bersama itu timbul. Ketika memang sudah pada level tersebut, maka sebenarnya sudah dapat kita bayangkan bagaimana kedepannya secara bersama-sama,hal-hal penting apa lagi yang harus kita persiapkan menuju proses recleaming, penguasaan lahan, dan lain-lain itu, maka disitulah peran kita sebagai organizer timbul secara signifikan, ketika kita mendorong proses penguatan dan pengkonsolidasian, baik itu kekuatan pemahamannya, pengetahuannya, analisa konflik, analisa sosial, dan macam- macam lainnya sampai aksi bersama yang beraneka ragam juga.”
Dalam perjuangannya, SPI yang telah terorganisir harus mampu berjuang secara bersama-sama satu sama lain walau berbeda wilayah bahkan bentuk-bentuk permasalahan yang beraneka ragam. Walaupun permaslahan yang paling dominan dihadapi petani di Indonesia adalah penguasaan alat produksi utama, yaitu penguasaan lahan pertanian atau penguasaan tanah yang tidak berkeadilan, akan tetapi tidak hanya sampai disitu saja, karena masih banyak lagi ketidak adilan yang dihadapi petani baik dari segi proses produksi hingga pemasaran yang mencakup dari segi sosial budaya, ekonomi, dan politik. Maka oleh karena itu dibutuhkannya kesadaran dalam kebersamaan yang terorganisir bagi para petani untuk dapat berjuang menghadapi permaslahannya. Seperti juga yang disampaikan oleh Henri Saragih:
“Ketika bicara tentang metodologi, kita angoota SPI yang telah terorganisir tidak hanya harus memperjuangkan alat produksinya atau tanahnya saja, karena anggota SPI juga harus saling bersama-sama membantu dalam perjuangan, misalnya ada yang telah berhasil merebut kembali tanahnya, dan dia tidak boleh berhenti berjuang sampai disitu saja karena dia juga harus mengkomparasikan atau berjuang bersama petani lain yang belum mendapatkan tanahnya.. dan tidak juga hanya sampai disitu saja, karena perjuangan SPI tidak hanya jangka pendek seperti itu saja atau opportunity, akan tetapi masih banyak lagi permasalahan yang harus dihadapi, yang baik itu permasalahan yang berbentuk sosial ekonomi, budaya, hingga politik yang masih saja melemahkan petani.... maka oleh karena itu petani juga harus memiliki kesadaran sosial ekonomi, budaya, dan politik... Karena kesadaran itu sangat diperlukan petani dalam perjuangan seperti apa yang dicita-citakan SPI.”
Pengembangan masyarakat sebagai pandangan yang digunakan SPI tidak berbeda jauh dari pandangan mengenai pengorganisasian masyarakat oleh SPI yang dimana lebih banyak didasari atas kepentingan petani itu sendiri secara masing- masing wilayah atau daerah yang memiliki perbedaan dalam hal sosial kultural dan ekonomi hingga ekologinya. Maka oleh karena itu, tidak ada suatu keharusan dalam metode yang digunakan, tetapi bagaimana kemudian proses pengembangan masyarakat itu menjadi seperti apa yang diinginkan oleh petani itu sendiri dalam bentuk-bentuk yang mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang dihadapi petani setelah adanya bentuk kesadaran kritis, baik itu dari pendidikan yang dilakukan oleh petani tersebut. Seperti apa yang disampaikan oleh Piter Padang selaku Ketua Biro Koperasi BPW (Badan Pengurus Wilayah) SPI Sumatera utara:
“Walaupun SPI memiliki GBHO (Garis Besar Haluan Organisasi), akan tetapi dalam proses pelaksanaan pengembangan masyarkat tidak dapat dipaksakan sesuai kehendak struktur organisasi dari tingkatan tertinggi, karena setiap basis akan memiliki perbedaan dalam hal sosial kultural dan ekonomi hingga ekologinya. Metode yang dibangun dalam pengembangan masyarakat SPI sebenarnya lebih banyak merujuk kepada kepentingan petani itu sendiri, jadi tidak ada suatu keharusan dalam metode yang digunakan, tetapi bagaimana kemudian proses pengembangan masyarakat itu menjadi seperti apa yang mereka (petani di masing-masing Basis) inginkan, karena proses beserta metode pengembangan masyarakat itu harus lahir dari petani itu sendiri karena SPI sebagai organisasi perkaderan yang adanya pendidikan dari, untuk, dan oleh petani itu sendiri yang didalamnya petani harus mampu saling belajar dari, untuk, dan oleh satu sama lain.”
Pengembangan masyarakat didalam SPI lahir karena kesadaran bahwa tidak hanya alat produksi saja yang menjadi kebutuhan petani. Karena masih besarnya tantangan-tantangan atau permasalahan yang dihadapi petani untuk dapat mencapai tingkat kesejahteraan yang berkeadilan. Permasalahan yang kerap dihadapi petani yang diantaranya paling melemahkan posisi petani dalam struktur ekonomi di Indonesia yaitu dari segi proses produksi sampai system pemasaran. Maka oleh karena itu dibutuhkan alternatif-alternatif bagi gerakan petani itu sendiri untuk dapat keluar dari tekanan-tekanan ekonomi pasar. Seperti bagaimana yang disampaikan oleh Piter Padang:
”SPI itu lahir kan karena kebutuhan petani itu sendiri dan munculnya SPI sebagai gerakan itu lahir dari kesadaran masyarakat khususnya masyarakat tani tentang pentingnya alat produksi, dimana alat produksi utamanya adalah tanah. Dalam perkembangannya, ternyata tidak cukup hanya tanah sebagai alat produksi yang diperlukan untuk membangun tingkat ekonomi yang bisa dianggap sejahtera. Ternyata banyak aspek yang lain, termasuk misalnya kemerdekaan dalam pembibitan, penguasaan teknologi, proses produksi hingga sistem distribusi dan sistem pemasarannya, dimana hal tersebut menjadi suatu kesatuan yang itu menjadi suatu pertanyaan dan pekerjaan rumah dalam gerakan petani. Dalam pengembangan masyarakat sebagai proses dimana ada yang disebut sebagai basis produksi atau yang dulu basic structure, dimana harus adanya penguatan sistem produksi yang itu berupa tanah, bibit, tekhnologi sampai dalam pemasaran yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.”
Berdasarkan beberapa keterangan tersebut, baik Pengorganisasian Masyarakat maupun Pengembangan Masyarakat yang dijalankan oleh SPI ialah
suatu usaha petani bersama yang didasarkan atas kesadaran petani itu sendiri untuk berjuang. Kondisi ketimpangan struktur sosial ekonomi, budaya, dan politik yang tidak berkeadilan bagi para petani secara luas dan yang utamanya adalah bagi petani kecil yang memiliki permasalahan dengan alat produksi pokok/utama hingga sistem produksi sampai distribusi pasar, harus disadari petani sebagai permasalahan yang harus dihadapi oleh petani itu sendiri. Maka denga adanya kesadaran tersebut, mendorong para petani untuk mampu mengorganisir diri secara bersama-sama dan mampu mengembangkan diri secara bersama-sama agar juga mampu menghadapi permaslahan-permaslahan yang kerap dihadapi oleh petani.
5.1.2 Sejarah Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat SPI Basis Mekar Jaya.
Dewan Pengurus Basis (DPB) Serikat Petani Indonesia (SPI) Mekar Jaya merupakan organisasi yang memiliki sejarah panjang yang dimulai dari semangat perjuangan petani di Desa Mekar Jaya yang tepatnya di Dusun Paya Kasih, Paya Redas, dan Batu Bara/Blok Istimewa Desa Stabat Lama (sebelum berubah nama menjadi Desa Sumber Mulyo dan sekarang Desa Mekar Jaya), Kecamatan Wampu Kabupaten Langkat. Masyarakat di tiga dusun tersebut sebelum tahun 1954 telah membuka hutan belantara di Blok Istimewa, Bukit Hantu, Paya Kasih, Paya Redas Lama dan Bukit Taat seluas 500 ha untuk dijadikan tempat tinggal dan lahan pertanian secara bersama-sama/ berkelompok oleh masyarakat. Sebagaimana yang disampaikan oleh Suriono yang merupakan Ketua Badan Pelaksana Basis SPI Mekar Jaya:
“Pada awalnya di Dusun Paya Kasih, Paya Redas, Batu Bara/Blok Istimewa... Masyarakat di tiga dusun ini sebelum tahun 1954 telah membuka hutan
belantara di Blok Istimewa, Bukit Hantu, Paya Kasih, Paya Redas lama dan bukit taat seluas 500 ha untuk dijadikan tempat tinggal dan lahan pertanian secara bersama-sama/ berkelompok dan kami tanami dengan tanaman padi, cengkeh cempedak dan juga rambung/karet, dan tanah yang dikelola itu telah mempunyai surat tanah yang dikeluarkan oleh Bapak Kepala Kampung Tengku Abdul Hamit dan asisten wedan Selamat Prioto BA serta kepala wilayah kecamatan Stabat pada saat itu Aminullah P. BA.”
Beberapa tahun setelah warga mengelola lahan dengan memiliki surat-surat kepemilikan hak untuk menggarap lahan, tepat pada tahun 1966 Perusahaan PTPN II Gohor Lama melakukan penggusuran tanah penduduk sekitar Paya Redas lebih kurang 300 ha dan tahun 1974 PTPN II kebun Gohor Lama menggusur tanah masyarakat Paya Kasih seluas 212 ha secara paksa dan intimidasi. Sebagaimana juga yang disampaikan oleh Suriono:
“Namun disayangkan sekitar tahun 1966 dan akhir tahun 1974 tanah yang kami kuasai sebagai tempat tinggal kami dan tempat kami bercocok tanam telah dirampas oleh PTPN II secara paksa dan intimidasi dengan menggunakan centeng perkebunan dan aparat keamanan di tanah penduduk sekitar Paya Redas lebih kurang 300 ha dan tanah masyarakat Paya Kasih seluas 212 ha, pada saat itu PTPN II dengan Adm James Tarigan dan asistem Makmun, apabila kami (masyarakat) melakukan pembelaan dan menuntut hak kami pada saat itu kami di cap sebagai PKI dan dibilang menghambat pembangunan, akhirnya kami tidak berani melawan pihak perusahaan walaupun tanah kami dirampas dan rumah kami di gusur serta tanaman kami di buldoser. Akhirnya kami sadar bahwa kami di
cap sebagai PKI atau yang lainnya adalah upaya dari pihak PTPN II untuk meredam gejolak masyarakat.”
Dalam kurun waktu yang telah dilalui masyarakat Mekar Jaya dalam kesdaran akan hak-hak yang telah dirampas, akhirnya pada tahun 1998 diadakan suatu perkumpulan dari beberapa orang tua dirumah Suriono untuk membahas permasalahan tanah yang telah diambil alih oleh pihak PTPN II dan beberapa jalan keluarnya. Hingga melahirkan kesepakatan tentang metode-metode yang dilakukan yang diantaranya adalah mengumpulkan berkas-berkas atau data-data yang dapat membuktikan adanya hak masyarakat di desa tersebut dalam lahan tanah yang akan diperjuangkan kembali dan juga membentuk kelompok tani. Dengan usaha-usaha untuk mengkonsolidasikan warga yang ingin berjuang merebut kembali haknya hingga pada tahun 2000 terbentuk kelompok tani yang bernama Teratai Putih. Akan tetapi dikarenakan kurangnya pemahaman akan landasan hukum dan strategi- strategi perjuangan, mengakibatkan penurunan semangat perjuangan masyarakat itu sendiri. Sebagaimana juga yang disampaikan oleh Suriono:
“Setelah kami sadar akan apa yang menjadi hak-hak kami yang telah mereka rampas, maka tepatnya pada malam satu suroh di tahun 1998 diadakan suatu perkumpulan para orang tua sebagai ahli sejarah dirumah saya untuk membahas permasalahan tanah kami yang telah dirampas. Maka pada saat itu saya ditunjuk untuk menjumpai para mantan kepala desa atau mantan kepala kampung dan juga sembari mencari data-data yang bisa saya kumpulkan dari mereka ataupun para ahli sejarah yang lain. Dari kesepakatan perkumpulan itu juga disepakati untuk mempersatukan masyarakat untuk sama-sama berjuang merebut tanah kami hingga terbentuklah kelompok bernama Teratai Putih pada
tahun 2000 walaupun akhirnya usaha-usaha kami gagal dan menurunnya semangat perjuangan kami karena kurangnya kemampuan kami dan pemahaman juga dikarenakan memang latar belakang pendidikan kami yang membuat kami tidak paham, apa lagi tentang hukum dan strateginya dalam merebut tanah kami, karena pada saat itu yang kami tahu hanya berjuang melawan dengan tenaga kami dan kami siap mati untuk itu.”
Pada tahun 2003, salah seorang pengurus Serikat Petani Sumatera Utara (sebelum berubah bentuk menjadi SPI) yang dipanggil dengan sebutan Ibu Meli, melakukan kunjungan ke Desa Mekar Jaya untuk melihat kondisi petani di desa tersebut. Dengan mengetahui adanya keinginan para petani Desa Mekar Jaya untuk melakukan perjuangan, maka pada saat itu beliau yang sama-sama sebagai seorang petani dan pengurus SPSU melakukan tahap-tahap pengorganisasian di Desa Mekar Jaya. Seperti apa yang disampaikan oleh Legimin yang merupakan tokoh orang tua di Desa Mekar Jaya dan juga salah satu Majelis Basis Petani SPI Mekar Jaya:
“Itulah ada yg nunjukkan, mungkin dari tuhan juga yang nunjukin supaya kami bergabung dengan SPSU. Pada awalnya ibu Meli (pengurus SPSU) datang ke desa kami mencari keterangan-keterangan bagaimana kondisi petani-petani Mekar Jaya, lalu setelah itu memang pelan-pelan terbentuklah Persada (OTL anggota SPSU). Setelah kami diberikan pendidikan selama bergabung dengan SPSU, dengan sadar kami dan juga memiliki strategi-strategi sendiri kami pun merasa memiliki kekuatan untuk perang (berjuang) untuk mengambil kembali tanah kami yang sudah lama sekali dirampas oleh PTPN.”
Serikat Petani Indonesia (SPI) yang sebelumnya SPSU juga memiliki tahapan-tahapan mekanisme Pengorganisasian Masyarakat yang telah ditentukan secara taktis yang juga dijalankan pada proses pengorganisasian SPI Mekar Jaya, yaitu: (sumber data: Sekretariat Deawan Pengurus Wilayah (DPW) Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumatera Utara)
1. Mengumpulkan informasi awal.
2. Memperbaiki hubungan dengan masyarakat (proses integrasi), termasuk didalamnya menjalankan kegiatan:
a) Menjaring informasi dan merekrut kontak person,
b) Melakukan analisa sosial awal (gambaran situasi sosial-ekonomi- politik-budaya di desa).
3. Menemukan, menseleksi, dan merekrut orang-orang kunci sekaligus membentuk kelompok inti (kaderisasi lapisan pertama).
4. Pembagian tugas-tugas underground kepada kelompok inti (khususnya dalam persiapan peretmuan kelompok). Kelompok inti adalah kelompok pendukung utama sekaligus tangan kanan organizer.
5. Mengadakan pertemuan kelompok terseleksi, termasuk didalamnya melakukan:
a) Orientasi pertemuan (upaya pengkondisian suasana belajar yang demokrasi),
b) Penggalian masalah secara bersama (dialogis-kritis),
c) Merumuskan masalah melalui analisa sosial (akar historis masalah lokal dan kepentingan strategis),
d) Perumusan tujuan (pendek, menengah, dan panjang) melalui prinsip SMART (simple, measureable, achieveable, rational, time limitation) sederhana, dapat diukur, bisa dihargai, rasional, dan ada batas waktu, e) Analisa kekuatan, kelemahan, ancaman, dan peluang (KKAP),
f) Membuat beberapa pilihan-pilihan kegiatan berdasarkan analisa KKAP, g) Memilih kegiatan-kegiatan yang paling rasional (skala prioritas),
h) Merencanakan aksi, i) Memperteguh komitmen, j) Pembagian tugas.
6. Pembentukan kelompok aksi berdasarkan pembagian tugas. Kelompok aksi merupakan cikal bakal organisasi permanen di kemudian hari (kelompok inti tetap dipelihara jika diperlukan).
7. Mobilisasi logistik aksi dan menjalin kerjasama. 8. Melaksanakan aksi.
9. Monitoring, refleksi, dan evaluasi.
10.Melanjutkan pendidikan terhadap kader (khususnya lapisan kedua), memberikan tugas-tugas (khususnya ekspansi), serta membimbing dan menjaga kader lapisan kedua.
Dengan adanya beberapa pertemuan dan pengenalan secara organisasi hingga masyarakat Desa Mekar Jaya yang masih dalam memperjuangkan hak-hak atas lahan tanah mereka memutuskan untuk bergabung dengan Serikat Petani Sumatera Utara (SPSU) yang merupakan bagian dari Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI) dan atas semangat baru juga yang sebelumnya kelompok bernama Teratai Putih akhirnya berganti nama menjadi Organisasi Tani Lokal (OTL)
Persada yang masih tetap berada di Dusun Paya Kasih, Paya Redas, Batu Bara/Blok Istimewa Desa Sumber Mulyo (nama pada saat itu), Kecamatan Wampu Kabupaten Langkat.
Setelah terbentuknya Organisasi Tani Lokal (OTL) Persada, maka tahapan yang dijalankan sebagai langkah-langkah pengorganisasian ialah memperkuat intensitas pendidikan di dalam anggota OTL Persada. Pada tahapan yang masih mula, pendidikan yang dijalankan masih seperti kelompok diskusi untuk mendapatkan pemahaman organisasi beserta metode-metode perjuangan petani dan juga pelatihan-pelatihan keterampilan. Hal tersebut dikarenakan diperlukannya pemahaman dan keterampilan bagi para petani dalam perjuangan agar petani memiliki kemampuan sendiri untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dan akan mereka hadapi. Seperti bagaimana yang disampaikan oleh Zubaidah (Ketua DPW SPI Sumatera Utara):
“Setelah si Meli berhasil mengajak para petani di Mekar Jaya, maka terbentuklah OTL Persada itu.. karena juga mereka sedang konflik dengan PTPN dan mereka masih pemula pada saat itu, maka tahap CO yang harus dijalankan pada saat itu disitu ialah memperkuat pendidikan dulu, agar mereka bisa berjuang.. pendidikan yang dijalankan pada saat itu disana ya masih diskusi- diskusi kelompok dan beberapa pelatihan.”
Dalam perkembangannya, setelah berjalannya pendidikan-pendidikan bagi anggota OTL Persada dan juga adanya Pendidikan Kader. Masyarakat tani Desa Mekar Jaya yang tergabung didalam OTL Persada mulai memikirkan langkah- langkah dalam mengelola organisasi secara baik. Selain mempersiapkan langkah- langkah perjuangan merebut kembali hak pengelolaan lahan tanah yang sedang
dikuasai oleh PTPN, OTL Persada juga menyiapkan langkah membangun ekonomi