HASIL DAN PEMBAHASAN
4.6 Parameter Fisik-Kimia Perairan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh rata-rata nilai faktor fisik-kimia pada setiap stasiun seperti pada Tabel 9. dibawah ini :
Tabel 9. Nilai Faktor Fisik-Kimia yang Diperoleh pada Setiap Stasiun Penelitian
No Parameter Satuan Stasiun
1 2 3
Stasiun 1 : Daerah kontrol
Stasiun 2 : Daerah Pengerukan Pasir
Stasiun 3 : Daerah Pembangunan PLTA WAMPU
Berdasarkan Tabel 9. dapat dilihat bahwa setiap faktor fisik-kimia pada tiap stasiun penelitian sangatlah memiliki nilai yang berbeda. Menurut Anzani (2012), keberadaan makrozoobentos di perairan dipengaruhi oleh faktor lingkungan biotik dan abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya ialah bakteri
27
(dekomposer) yang membantu proses dekomposisi bahan organik. Bahan organik tersebut merupakan salah satu sumber makanan bagi makrozoobentos. Faktor abiotik yang berpengaruh ialah seperti parameter fisika dan kimia perairan, diantaranya suhu, kecerahan, pH, oksigen terlarut, kebutuhan oksigen biokimiawi (BOD), arus, dan kedalaman.
Odum (1993) menjelaskan bahwa komponen biotik dapat memberikan gambaran mengenai kondisi fisika, kimia, dan biologi dari suatu perairan. Salah satu biota yang dapat digunakan sebagai parameter biologi dalam menentukan kondisi suatu perairan adalah hewan makrozoobentos. Sebagai organisme yang hidup di perairan, hewan makrozoobentos sangat peka terhadap perubahan kualitas air tempat hidupnya sehingga akan berpengaruh terhadap komposisi dan kelimpahannya. Hal ini tergantung pada toleransinya terhadap perubahan lingkungan, sehingga organisme ini sering dipakai sebagai indikator tingkat pencemaran suatu perairan. Pada Tabel 9. bisa dilihat bahwa Suhu yang telah didapat pada setiap stasiun penelitian berkisar antara 25 - 28oC. Suhu terendah terdapat pada stasiun 1 yaitu sebesar 24oC dan suhu tertinggi terdapat pada stasiun II yaitu 28oC. Perbedaan suhu pada setiap stasiun penelitian ini mungkin pengaruh dari substrat dasar perairan dimana tingginya suhu pada stasiun II dapat disebabkan oleh aktivitas pengerukan pasir, substrat berupa pasir dan sedikitnya vegetasi tumbuhan disekitar perairan sehingga cahaya matahari dapat dengan mudah langsung sampai mencapai permukaan air. Menurut Barus (2004), secara umum kisaran suhu 26 - 27⁰C merupakan kisaran normal bagi mahkluk hidup perairan terutama makrozoobentos. Fluktuasi suhu di perairan tropis umumnya sepanjang tahun mempunyai fluktuasi suhu air juga tidak terlalu besar.
Pada penelitian ini dapat juga diketahui intensitas cahaya yang didapat berkisar antara 367 - 477. Perbedaan intensitas cahaya ini dipengaruhi oleh cuaca yang cerah ataupun mendung. Menurut Barus (2004) bahwa, vegetasi yang ada disepanjang aliran air juga dapat mempengaruhi intensitas cahaya yang masuk kedalam air, karena tumbuh-tumbuhan tersebut juga mempunyai kemampuan untuk mengabsorbsi cahaya matahari. Bagi organisme air, intensitas cahaya berfungsi sebagai alat orientasi yang akan mendukung kehidupan organisme tersebut dalam habitatnya. Nilai penetrasi cahaya berkisar antara 0,5 - 1,5. Nilai
penetrasi tertinggi yaitu 1,5, yang terdapat di stasiun I dan nilai terendah yaitu 0,5 di stasiun III. Menurut Effendi (2003), menyatakan bahwa kekeruhan pada perairan lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi dan partikel-partikel halus.
Nilai pH air pada ketiga stasiun penelitian berkisar antara 6,0 – 7,3. Nilai pH air tertinggi terdapat pada stasiun I dan terendah pada stasiun III. Rendahnya pH air pada stasiun III diduga disebabkan banyaknya aktivitas pembangunan PLTA Wampu yang membuang limbahnya ke perairan tersebut. Menurut Cole (1983), adanya perbedaan nilai pH pada suatu perairan disebabkan karena adanya penambahan atau kehilangan CO₂ melalui proses fotosintesis yang akan menyebabkan perubahan pH di dalam air.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada setiap stasiun, nilai oksigen terlarut berkisar antara 6,4 mg/L - 7,2 mg/L. Oksigen terlarut tertinggi terdapat pada stasiun I dan terendah pada stasiun III. Menurut Agustatik (2010), konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu rendah akan mengakibatkan organisme air salah satunya makrozoobentos yang membutuhkan oksigen akan mati.
Sebaliknya konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu tinggi juga mengakibatkan proses pengkaratan yang semakin cepat karena oksigen akan mengikat hidrogen yang melapisi permukaan logam. Kelarutan oksigen sangat mempengaruhi keberadaan makrozoobentos untuk bertahan hidup. Menurut Agusnar (2007), konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu rendah akan mengakibatkan organisme air salah satunya makrozoobentos yang membutuhkan oksigen akan mati.
Sebaliknya konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu tinggi juga mengakibatkan proses pengkaratan yang semakin cepat karena oksigen akan mengikat hidrogen yang melapisi permukaan logam. Kelarutan oksigen sangat mempengaruhi keberadaan makrozoobentos untuk bertahan hidup.
Nilai BOD (Biological Oxygen Demand) merupakan salah satu indikator pencemaranperairan. Nilai BOD pada setiap stasiun berada pada kisaran 0,9 - 1,2 mg/L. Nilai BOD tertinggi terdapat pada stasiun III dan terendah terdapat pada stasiun I. Menurut Brower et al., (1990), nilai konsentrasi BOD menunjukkan suatu kualitas perairan yang masih tergolong baik apabila konumi O2 selama periode 5 hari berkisar sampai 5 mg/L O2 maka perairan tersebut tergolong baik.
29
Menurut Sukadi (1999), Penguraian bahan organik, apabila tersedia oksigen terlarut dalam jumlah yang cukup, maka proses penguraian akan berlangsung dalam suasana aerobik sampai semua bahan organik terkonsumsi.
Kemampuan penyerapan oksigen yang sebenarnya dari masing-masing stasiun penelitian dapat dilihat melalui perhitungan kejenuhan oksigen dengan cara membandingkan hasil pengukuran DO dengan nilai DO sebenarnya yang dapat larut dalam air pada temperatur lapangan yang diukur. Nilai kejenuhan oksigen pada ketiga stasiun penelitian berkisar antara 82,580 – 88,779%. Nilai kejenuhan oksigen tertinggi terdapat pada stasiun I dan terendah terdapat pada stasiun stasiun II, hal ini disebabkan oleh badan perairan memiliki sumber pemasukan oksigen yang cukup besar yang berasal dari hasil fotosintesis fitoplankton, didukung lingkungan yang jauh dari aktifitas penduduk. Menurut Barus (2004), konsumsi oksigen bagi organisme air berfluktuasi mengikuti proses-proses hidup yang dilalui. Pada umumnya konsumsi oksigen bagi organisme air akan mencapai maksimum pada masa-masa reproduksi berlangsung.
Nilai kandungan organik substrat yang didapatkan pada semua lokasi penelitian berkisar 0,11 – 0,18%. Kandungan organik substrat tertinggi terdapat pada stasiun I dan stasiun II sedangkan terendah terdapat pada stasiun III.
Tingginya kadar organik substrat pada stasiun I dan II mungkin dikarenakan adanya pengaruh aktivitas pengerukan pasir yang secara tidak langsung mempengaruhi faktor biotik maupun abiotik pada ekosistem perairan. Kandungan organik substrat merupakan sangat penting untuk kehidupan dan perkembangan makrozoobentos. Nilai kadar organik substrat mempengaruhi ketersediaan nutrisi untuk makrozoobentos dalam suatu perairan. Menurut Wood (1987), adanya perbedaan ukuran partikel sedimen memiliki hubungan dengan kandungan bahan organik, dimana perairan dengan sedimen yang halus memiliki presentase bahan organik yang tinggi karena korelasi lingkungan yang tenang yang memungkinkan pengendapan sedimen lumpur yang diikuti oleh akumulasi bahan-bahan organik dasar perairan.
Tabel 10. Analisis Substrat Dasar Perairan
Keterangan:
P : Pasir
Semua stasiun penelitian cenderung sama yaitu bersubstrat pasir. Selanjutnya Chusing dan Walsh (1976) menambahkan bahwa jenis substrat dan jenis partikel merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap distribusi hewan bentos karena masing – masing jenis bentos mempunyai cara hidup yang berbeda yang disesuaikan dengan jenis substrat dasar habitatnya.
Ada tidaknya perbedaan substrat pada setiap stasiun pastilah mempengaruhi kondisi fisik-kimia lingkungan juga, dan secara tidak langsung hal inilah yang membuat adanya keanekaragaman spesies yang berbeda di setiap stasiun. Hal ini sesuai pernyataan Odum (1993) yang mengatakan bahwa keanekaragaman identik dengan kestabilan suatu ekosistem, yaitu jika keanekaragaman suatu ekosistem tinggi, maka kondisi ekosistem tersebut cenderung stabil.