Bab II Tinjauan Pustaka
2.2. Air Sungai
2.2.4 Parameter Uji Kualitas Perairan Sungai
Kualitas air sungai menurut Alaerts dan Santika (1987) sangat tergantung pada komponen penyusunnya dan banyak dipengaruhi oleh masukan komponen
yang berasal dari pemukiman. Perairan yang melintasi daerah pemukiman dapat menerima masukan bahan organik yang berasal dari aktivitas penduduk. Dengan demikian ekosistem sungai keberadaannya terkait integral dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik disekitarnya.
Menurut Riyadi (1984) parameter-parameter yang digunakan untuk mengukur kualitas air meliputi sifat fisik, kimia, dan biologis. Parameter- parameter tersebut adalah :
1. Sifat Fisik
Parameter fisik air yang sangat menentukan kualitas air adalah kekeruhan (turbiditas), suhu, warna, bau, rasa, jumlah padatan tersuspensi, padatan terlarut dan daya hantar listrik (DHL).
a. Suhu
Kenaikan suhu air akan mengakibatkan menurunnya oksigen terlarut dalam air, meningkatnya kecepatan reaksi kimia, terganggunya kehidupan ikan dan hewan air lainnya. Naiknya suhu air yang relatif tinggi seringkali ditandai dengan munculnya ikan-ikan dan hewan air lainnya ke permukaan air untuk mencari oksigen. Jika suhu tersebut tidak juga kembali pada suhu normal, lama kelaman dapat menyebabkan kematian ikan dan hewan lainnya.
b. Total Suspended Solid( TSS)
Total Suspended Solids (TSS) adalah padatan dalam air yang bisa terperangkap oleh filter. TSS dapat mencakup berbagai materi, seperti
materi lumpur, tanaman membusuk dan hewan, limbah industri, dan limbah. Konsentrasi tinggi padatan tersuspensi dapat menyebabkan banyak masalah bagi kesehatan aliran dan kehidupan akuatik.
Total Suspended Solid (TSS), adalah salah satu parameter yang digunakan untuk pengukuran kualitas air. Pengukuran TSS berdasarkan pada berat kering partikel yang terperangkap oleh filter, biasanya dengan ukuran pori tertentu. Umumnya, filter yang digunakan memiliki ukuran pori 0.45 μm (Clescerl, 1905).
Nilai TSS dari contoh air biasanya ditentukan dengan cara menuangkan air dengan volume tertentu, biasanya dalam ukurtan liter, melalui sebuah filter dengan ukuran pori-pori tertentu. Sebelumnya, filter ini ditimbang dan kemudian beratnya akan dibandingkan dengan berat filter setelah dialirkan air setelah mengalami pengeringan. Berat filter tersebut akan bertambah disebabkan oleh terdapatnya partikel-partikel tersuspensi yang terperangkap dalam filter tersebut. Padatan yang tersuspensi ini dapat berupa bahan-bahan organik dan inorganik. Satuan TSS adalah miligram per liter (mg/l).
Kandungan TSS memiliki hubungan yang erat dengan kecerahan perairan. Keberadaan padatan tersuspensi tersebut akan menghalangi penetrasi cahaya yang masuk ke perairan sehingga hubungan antara TSS dan kecerahan akan menunjukkan hubungan yang berbanding terbalik (Blom, 1994).
Nilai TSS umumnya semakin rendah ke arah laut. Hal ini disebabkan padatan tersuspensi tersebuit disupply oleh daratan melalui aliran sungai (Helfinalis, 2005). Keberadaan padatan tersuspensi masih bisa berdampak positif apabila tidak melebihi toleransi sebaran suspensi baku mutu kualitas perairan yang ditetapkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup, yaitu 70 mg/l (Helfinalis, 2005).
c. Total Padatan Terlarut (TDS)
Total padatan terlarut (TDS) adalah jumlah total dari ion bermuatan mobile, termasuk mineral, garam atau logam dilarutkan dalam volume tertentu air, dinyatakan dalam satuan mg per satuan volume air (mg / L), juga disebut sebagai bagian per juta (ppm).
TDS (Total Dissolve Solid) yaitu ukuran zat terlarut (baik itu zat organik maupun anorganik, mis: garam, dll) yang terdapat pada sebuah larutan. TDS meter menggambarkan jumlah zat terlarut dalam Part Per Million (PPM) atau sama dengan milligram per Liter (mg/L).
2. Sifat Kimia
Sifat kimia yang dapat dijadikan indikator yang menentukan kualitas air adalah pH, oksigen terlarut, BOD, dan COD.
a. pH
pH adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan intensitas keadaan asam dan basa sesuatu larutan ( Sutrisno, 2004). Skala pH diukur dengan pH meter atau lakmus. Air murni mempunyai pH 7. Apabila air
dibawah 7 berarti air bersifat asam, sedangkan bila diatas 7 bersifat basa (rasanya pahit) ( Kusnaedi,2004).
b. BOD (Biological Oxigen Demand)
BOD merupakan ukuran jumlah zat organik yang dapat dioksidasi oleh bakteri aerob/jumlah oksigen yang digunakan untuk mengoksidasi sejumlah tertentu zat organik dalam keadaan aerob. Menurut Mahida (1981) BOD akan semakin tinggi jika derajat pengotoran limbah semakin besar. BOD merupakan indikator pencemaran penting untuk menetukan kekuatan atau daya cemar air limbah, sampah industri, atau air yang telah tercemar. BOD biasanya dihitung dalam 5 hari pada suhu 200 C. Nilai BOD yang tinggi dapat menyebabkan penurunan oksigen terlarut tetapi syarat BOD air limbah yang diperbolehkan dalam suatu perairan di Indonesia adalah sebesar 30 ppm. Kristanto (2002) menyatakan bahwa uji BOD mempunyai beberapa kelemahan di antaranya adalah:
1. Dalam uji BOD ikut terhitung oksigen yang dikonsumsi oleh bahan- bahan organik atau bahan-bahan tereduksi lainnya, yang disebut juga Intermediate Oxygen Demand.
2. Uji BOD membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu lima hari. 3. Uji BOD yang dilakukan selama lima hari masih belum dapat
4. Uji BOD tergantung dari adanya senyawa penghambat di dalam air tersebut, misalnya germisida seperti klorin yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang dibutuhkan untuk merombak bahan organik, sehingga hasil uji BOD kurang teliti.
c. Chemical Oxygen Demand (COD)
Untuk mengetahui jumlah bahan organik di dalam air dapat dilakukan suatu uji yang lebih cepat dari uji BOD, yaitu berdasarkan reaksi kimia dari suatu bahan oksidan. Uji ini disebut dengan uji COD, yaitu suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan misalnya kalium dikromat, untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air. Banyak zat organik yang tidak mengalami penguraian biologis secara cepat berdasarkan pengujian BOD lima hari, tetapi senyawa-senyawa organik tersebut juga menurunkan kualitas air. Bakteri dapat mengoksidasi zat organik menjadi CO2 dan H2O kalium dikromat dapat mengoksidasi lebih banyak lagi, sehingga menghasilkan nilai COD yang lebih tinggi dari BOD untuk air yang sama. Di samping itu bahan-bahan yang stabil terhadap reaksi biologi dan mikroorganisme dapat ikut teroksidasi dalam uji COD. 90 % hasil uji COD yang selama 10 menit, kira-kira akan setara dengan hasil uji BOD selama lima hari (Kristanto, 2002). Senyawa klor, selain mengganggu uji BOD, juga dapat mengganggu uji COD, karena klor dapat bereaksi dengan kalium
dikromat. Cara pencegahannya adalah dengan menambahkan merkuri sulfat yang akan bereaksi dengan klor membentuk senyawa komplek. d. Chromium
Berdasarkan sifat kimianya logam chromium dalam persenyawaannya mempunyai bilangan oksidasi +2, +3 dan +6. Namun yang lebih bersifat toksik adalah chromium heksavalen (Cr6+). Jika kadar chromium yang masuk ke dalam tubuh manusia melebihi batas yang ditentukan maka akan menyebabkan kerusakan pada sistem pencernaan serta pada sistem pernapasan (Palar, 2008). Analisa chromium heksalen dilakukan untuk mengetahui apakah sampel dalam air sungai Babura memiliki kadar chromium heksavalen melebihi batas ambang. Kadar chromium maksimum yang diperkenankan bagi kepentingan air minum adalah 0,05 mg/Liter. Oleh karena itu chromium merupakan salah satu parameter kimia yang penting dalam analisa kualitas air.
e. Arsen(As)
Salah Satu logam yang mencemari adalah arsen. Dengan nomor atom 33, berat atom 74,92 g/mol. Gejala toksisitas arsen per oral antara lain berupa: ketidak normalan kulit, antara lain berupa spot gelap/ terang pada kulit, keratosis pada telapak tangan/ kaki, dan akhirnya berkembang menjadi kanker kulit. (widiowati,2008).