• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARIWISATA BERKELANJUTAN (SUSTAINABALITY TOURISM)

PARIWISATA BERKELANJUTAN (SUSTAINABALITY TOURISM)  

6.1 Pengertian Pariwisata Berkelanjutan (Sustainability Tourism)

Pembangunan pariwisata yang terpadu dan berkelanjutan perlu memperhatikan dampak serta aspiratif dengan adat istiadat masyarakat di sekitar daerah tujuan wisata. Masyarakat setempat, wisatawan, pengusaha (investor), biro perjalanan serta Pemerintah Daerah harus saling terpadu untuk berupaya secara maksimal mengembangkan potensi wisata yang memperhitungkan keuntungan dan manfaat rakyat banyak.Dengan dibangunnya sarana dan prasarana kepariwisataan di daerah tujuan wisata tersebut maka akan banyak tenaga kerja yang diperlukan. Perputaran uang akan meningkat dengan adanya kunjungan para wisatawan baik domestik maupun non domestik, hal ini tentu akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap peningkatan penerimaan devisa negara, pendapatan nasional serta pendapatan daerah.

Adapun pengertian pariwisata yang berkelanjutan yaitu industri pariwisata yang berkomitmen untuk membuat dampak yang rendah pada lingkungan dan budaya lokal, sambil membantu menciptakan lapangan kerja di masa depan bagi masyarakat lokal.

Tujuan dari pengembangan pariwisata berkelanjutan adalah untuk membawa pengalaman positif bagi masyarakat setempat, perusahaan pariwisata dan wisatawan sendiri.Para ekonom global memperkirakan pertumbuhan pariwisata internasional, berkisar antara tiga dan enam persen per tahun, tergantung pada lokasinya. Sebagai salah satu industri terbesar dan yang berkembang cepat di dunia, pertumbuhan ini (pariwisata) akan memberikan dampak yang besar pada habitat biologis yang beragam dan budaya masyarakat asli, yang sering digunakan untuk mendukung pariwisata massal.Meskipun terdapat beberapa alasan di luar faktor ekonomis yaitu yang bersifat non ekonomis dalam pengembangan pariwisata. Pembangunan pariwisata perlu direncanakan secara matang dan terpadu dengan memperhatikan segala sudut pandang serta persepsi yang saling mempengaruhi.

Mulai dari potensi yang dimiliki daerah setempat, adat istiadat kebiasaan hidup masyarakat sekitar lokasi pariwisata, kepercayaan yang dianutnya, sampai kepada kebiasaan dan tingkah laku wisatawan yang direncanakan akan tertarik untuk berkunjung ke daerah tujuan wisata yang siap dikembangkan.

Kebijakan yang memperhatikan kompleksitas permasalahan tersebut diharapkan akan tercipta suasana lokasi daerah tujuan wisata yang harmonis, aman, nyaman, bersih, bebas polusi dan memiliki lingkungan yang terpelihara, sehingga menyenangkan semua pihak

khususnya para wisatawan.Pariwisata berkelanjutan yakni pengembangan pariwisata yang dijalankan tanpa merusak lingkungan, tatanan sosial & budaya setempat yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.Pada tahun 1992, dalam United Nation Conference on Environment and Development –the Earth Summit– di Rio de Janeiro, dirumuskan program tindak yang menyeluruh hingga abad ke-21 yang disebut Agenda 21, yang kemudian diadopsi oleh 182 negara peserta konferensi termasuk Indonesia.

Agenda 21 merupakan blueprint untuk menjamin masa depan yang berkelanjutan dari planet bumi dan merupakan dokumen yang mendapatkan kesepakatan internasional yang sangat luas, menyiratkan konsensus dunia dan komitmen politik di tingkat yang paling tinggi.Dalam tataran kepariwisataan internasional, pertemuan Rio ditindaklanjuti dengan Konferensi Dunia tentang Pariwisata Berkelanjutan pada tahun 1995 yang merekomendasikan pemerintah negara dan daerah untuk segera menyusun rencana tindak pembangunan berkelanjutan untuk pariwisata serta merumuskan dan mempromosikan serta mengusulkan Piagam Pariwisata Berkelanjutan.Prinsip-prinsip dan sasaran-sasaran dari piagam antara lain :

 Pembangunan pariwisata harus berdasarkan kriteria keberlanjutan, dapat didukung secara ekologis dalam waktu yang lama, layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial bagi masyarakat setempat.

 Pariwisata harus berkontribusi kepada pembangunan berkelanjutan dan diintegrasikan dengan lingkungan alam, budaya dan manusia.

 Pemerintah dan otoritas yang kompeten, dengan partisipasi lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat setempat harus mengambil tindakan untuk mengintegrasikan perencanaan pariwisata sebagai kontribusi kepada pembangunan berkelanjutan.

 Pemerintah dan organisasi multilateral harus memprioritaskan dan memperkuat bantuan, langsung atau tidak langsung, kepada projek-projek pariwisata yang berkontribusi kepada perbaikan kualitas lingkungan.

 Ruang-ruang dengan lingkungan dan budaya yang rentan saat ini maupun di masa depan harus diberi prioritas khusus dalam hal kerja sama teknis dan bantuan keuangan untuk pembangunan pariwisata berkelanjutan.

 Promosi dan dukungan terhadap berbagai bentuk alternatif pariwisata yang sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

 Pemerintah harus mendukung dan berpartisipasi dalam penciptaan jaringan untuk penelitian, diseminasi informasi dan transfer pengetahuan tentang pariwisata dan teknologi pariwisata berkelanjutan.

 Penetapan kebijakan pariwisata berkelanjutan memerlukan dukungan dan sistem pengelolaan pariwisata yang ramah lingkungan, studi kelayakan untuk transformasi sektor, dan pelaksanaan berbagai proyek percontohan dan pengembangan program kerjasama internasional.

6.2 Contoh Produk Sustainable Tourism

Gambar : Bali Treetop Adventure Park Bedugul (Dok: Pribadi)

Saat ini wisatawan yang berlibur ke pulau Bali, tidak hanya berlibur ke tempat wisata di Bali yang wajib dikunjungi. Tapi telah terjadi perubahan trend di kalangan wisatawan untuk melakukan aktivitas wisata petualangan atau yang sering disebut dengan nama Bali adventure. Tentunya dengan perubahan dan minat wisatawan akan wisata petualangan, membuat beberapa perusahaan menginvestasikan modal usaha mereka, untuk menyediakan fasilitas Bali adventure. Salah satu dari wisata petualangan yang terdapat di tempat wisata kebun raya Bali di Bedugul adalah Bali Treetop Adventure Park Tour Bedugul.

Bali Treetop merupakan aktivitas petualangan di alam terbuka dengan berbagai jenis tantangan di atas pohon. Wisatawan akan ditantang dengan 7 buah sirkuit dari satu pohon ke pepohonan yang lain dengan ketinggian 2 hingga 20 meter yang terdiri dari 72 tantangan untuk segala level dan umur diantaranya : Suspended bridges, Spider Nets, Tarzan-Jumps, Flying-Fox, Flying-Swings,dan banyak lagi tantangan yang lain.Jadi

pengunjung bisa melakukan aktifitas Bali Treetop sekalian melihat keindahan alam Kebun Raya yang berisi berbagai jenis tumbuhan langka. Juga sangat dekat dengan kawasan wisata Danau Beratan Bedugul. Bali Treetop Adventure Park bisa diikuti berbagai level dan berbagai kalangan. Dengan beberapa sirkuit berbeda yang ditawarkan menjadikan Bali Treetop bisa diikuti dari umur 4 – 70 tahun dengan berat badan maximun 120 Kg.

6.3Brand Image Tourism

Gambar : Four Seasons Resorts Bali at Sayan Ubud (Dok : Pribadi)

Pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan kearifan lokal membutuhkan manajemen wisata yang dapat menselaraskan antara tujuan dan prinsip-prinsip dari sustainable tourism. Untuk mewujudkannya, perlu adanya peningkatan branded image dari produk pariwisata yang ditawarkan. Wisatawan tidak hanya membeli produk wisata tersebut, tetapi juga special experienceand prestise.Peningkatan brand image pariwisata dilakukan dengan cara mengenalkan merk, iklan, dan promosi yang bagus. Dalam pariwisata yang berwawasan kearifan lokal, brand ini diciptakan untuk mengenalkan identitas daerah tujuan wisata kepada para wisatawan.Brand image umumnya ialah kata-kata pertama yang muncul ketika merek tertentu disebutkan. Contohnya, ketika disebutkan kata: Bali, maka brand image yang timbul adalah Pulau Dewata atau Paradise Island.

Four Seasons Bali at SayanUbud, sebuah resort yang mewah di Bali, menggunakan brand image Bali sebagai Pulau Dewata, yang indah dengan segala kekayaan budayanya.

Manajemen FourSeasons Bali at Sayan pun mengemas resortnya menjadi resort yang dibangun dengan konsep tradisional yang menyatu dengan alam Bali yang indah ditambah

dengan promosi yang menarik para wisatawan.Indonesia yang dianugerahi oleh Tuhan dengan keindahan alamnya yang melimpah serta keragaman budayanya yang kaya harus mampu mengambil peluang dari industri pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan kearifan lokal. Industri pariwisata dapat dijadikan sebagai media untuk menjaga anugerah Tuhan tersebut.Kekayaan alam berupa hutan, laut, sungai, danau, flora dan fauna, keanekaragaman budaya, dan lain-lain dapat menjadi modal bagi kesejahteraan masyarakat Bali dan Indonesia umumnya.

Dengan menggunakan prinsip-prinsip sustainable tourism yang dijalankan dengan benar, bukan hal yang mustahil Bali menjadi daerah tujuan utama wisata nomor satu di dunia.Kenyataan di lapangan masih menunjukkan sebaliknya. Banyak hutan yang sudah rusak, sungai dan danau yang tercemar, serta nilai-nilai budaya yang sudah luntur. Hal ini harus segera dibenahi agar hal-hal tersebut tidak menjadi penghambat serta dapat menjadi modal bagi industri pariwisata di Indonesia.Untuk mewujudkan Indonesia sebagai daerah tujuan wisata utama di dunia, terutama dalam hal pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan kearifan lokal, masih banyak yang perlu dibenahi. Contoh, analisis mengenai dampak terhadap lingkungan di tempat-tempat wisata. Sebagaimana pembangunan Skyrail di Australia yang diperhitungkan agar dampak negatif yang ditimbulkan kecil, pembangunan-pembangunan tempat wisata di Bali pun harus dilakukan analisis yang mendalam agar meminimalisasi dampak negatif yang ditimbulkan. Selama ini, banyak tempat-tempat wisata yang “asal bangun” sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.Penguatan brand image pariwisata juga perlu untuk menarik wisatawan agar datang berkunjung. Selama ini, Bali memang masih menjadi primadona destinasi wisata Indonesia di mata internasional, tetapi Indonesia masih memiliki ribuan tempat menarik lainnya yang belum memiliki brand yang kuat.

Oleh karena itu, promosi yang baik akan sangat mendukung pariwisata Indonesia.Pedoman pembangunan pariwisata berkelanjutan dapat diaplikasikan ke semua bentuk aktifitas pariwisata di semua jenis destinasi wisata, termasuk pariwisata massal dan berbagai jenis kegiatan pariwisata lainnya.Prinsip-prinsip keberlanjutan mengacu pada aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial-budaya dari suatu destinasi wisata. Untuk menjamin keberlanjutan jangka panjang, maka keseimbanganantar 3 dimensi tersebut harus dibangun dengan baik.

6.4 Aspek dalam Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan

 Aspek Lingkungan

Memanfaatkan secara optimal sumber daya lingkungan yang merupakan elemen kunci dalam pengembangan pariwisata, mempertahankan proses ekologi dan turut andil dalam melestarikan warisan alam dan keanekaragaman hayati di suatu destinasi wisata.

 Aspek Ekonomi

Memastikan kegiatan ekonomi jangka panjang yang layak memberikan manfaat sosial ekonomi kepada semua stakeholder dengan adil seperti pekerjaan tetap, kesempatan mendapatkan penghasilan (membuka usaha) dan pelayanan sosial kepada masyarakat lokal serta membantu mengurangi kemiskinan.

 Aspek Sosial-Budaya

Menghormati keaslian sosial budaya masyarakat setempat, melestarikan nilai-nilai warisan budaya dan adat yang mereka bangun dan berkontribusi untuk meningkatkan rasa toleranssi serta pemahaman antar-budaya.Pengembangan pariwisata berkelanjutan memerlukan pastisipasi dari para stakeholder terkait serta kepemimpinan politik yang kuat untuk memastikan adanya partisipasi yang aktif dan kesepakatan antar stakeholder.Pencapaian pariwisata berkelanjutan merupakan proses yang berkesinambungan dan membutuhkan pemantauan yang konstan, inovasi mengenai langkah-langkah pencegahan dan perbaikan yang diperlukan terhadap dampak dari kegiatan pariwisata juga harus terus dilakukan.Pariwisata berkelanjuatan juga harus menjaga tingkat kepuasan dan memastikan pengalaman yang berarti untuk para wisatawan meningkatkan kesadaran mereka tentang isu-isu berkelanjutan dan mengajak wisatawan untuk turut serta mempromosikan praktik pengelolaan lingkungan di sekitar mereka.

Pulau Bali yang dianugerahi oleh Tuhan dengan keindahan alamnya yang melimpah serta keragaman budayanya yang kaya harus mampu mengambil peluang dari industri pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan kearifan lokal. Industri pariwisata dapat dijadikan sebagai media untuk menjaga anugerah Tuhan tersebut.Kekayaan alam berupa hutan, laut, sungai, danau, flora dan fauna, keanekaragaman budaya, dan lain-lain dapat menjadi modal bagi kesejahteraan masyarakat Bali. Dengan menggunakan prinsip-prinsip

sustainable tourism yang dijalankan dengan benar, bukan hal yang mustahil Indonesia menjadi daerah tujuan utama wisata nomor satu di dunia.

Berdasarkan paparan di atas disimpulkan bahwa pada kenyataan di lapangan masih menunjukkan sebaliknya. Banyak hutan yang sudah rusak, sungai dan danau yang tercemar, serta nilai-nilai budaya yang sudah luntur. Hal ini harus segera dibenahi agar hal-hal tersebut tidak menjadi penghambat serta dapat menjadi modal bagi industri pariwisata di Indonesia.Untuk mewujudkan Indonesia sebagai daerah tujuan wisata utama di dunia, terutama dalam hal pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan kearifan lokal, masih banyak yang perlu dibenahi. Pembangunan tempat wisata di Bali dan Indonesia pun harus dilakukan analisis yang mendalam agar meminimalisasi dampak negatif yang ditimbulkan. Selama ini, banyak tempat-tempat wisata yang “asal bangun”

sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.Penguatan brand image pariwisata juga perlu untuk menarik wisatawan agar datang berkunjung. Selama ini, Bali memang masih menjadi primadona destinasi wisata Indonesia di mata internasional, tetapi Indonesia masih memiliki ribuan tempat menarik lainnya yang belum memiliki brand yang kuat. Oleh karena itu, promosi yang baik akan sangat mendukung pariwisata Indonesia.Ketertinggalan Indonesia dalam industri manufaktur dan teknologi dapat dikejar dengan memajukan industri pariwisata Indonesia. Pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan lokal diharapkan dapat menjadi andalan bagi perekonomian Bali khususnya dan Indonesia umumnya menjadi salah satu cara untuk membuat anugerah Tuhan kepada Indonesia tetap indah dan abadi selamanya.

6.5 Prinsip-prinsip Pariwisata Berkelanjutan Prinsip pariwisata berkelanjutan antara lain :

 Menjamin pemerataan dan keadilan sosial

 Menghargai keanekaragaman (diversity)

 Memberikan manfaat ganda pada sektor lainnya

 Meminta perspektif jangka panjang

 Pembangunan pariwisata melibatkan masyarakat lokal

 Menciptakan keseimbangan antara kebutuhan wisatawan &

masyarakat

 Melakukan program peningkatan sumber daya manusia.

Upaya-upaya untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan

 Tidak melakukan eksploitasi alam yang berlebihan

 Melakukan reboisasi

 Tidak membuang sampah sembarangan

 Berpartisipasi dalam pengendalian pembangunan

 Melakukan pemantauan terhadap kegiatan pariwisata yang berpotensi menimbulkandampak buruk terhadap lingkungan alam & sosbud

 Menggunakan produk ramah lingkungan

 Pemerintah

 Membuat kebijakan pelanggaran terhadap eksploitasi alam yang berlebihan

 Membangun sarana pembuangan secara maksimal

 Gencar mempromosikan dalam upaya mengenalkan pariwisata lestari

 Membangun suaka margasatwa dan cagar alam

 Masyarakat

o Tidak membuang sampah di tempat pariwisata o Menjaga kelestarian pariwisata

o Menanam pohon bakau untuk mencegah terjadinya abrasi Kriteria pembangunan pariwisata berkelanjutan

 Pembangunan pariwisata didukung secara ekologis dalam waktu yang lama serta adil bagi masyarakat setempat

 Pariwisata berkelanjutan harus bersatu dengan alam , budaya dan manusia

 Masyarakat mengambil peran dalam usaha pariwisata yang berkelanjutan

 Pemerintah memperioritaskan bantuan untuk perbaikan kualitas lingkungan

 Pemerintah harus berpartisipasi dalam usaha pariwisata yang berkelanjutan

 Menetapkan pengelolahan pariwiata yang ramah lingkungan.

Hambatan dalam upaya Pengembanga Pariwisata Berkelajutan

 Kurangnya kesadaran dalam pelestarian alam

 Daya saing yang kurang

 Kurang menyadari prinsip – prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan

 Kurangnya koordinasi antara pemerintah dengan daerah

Indikator untuk mengukur tingkat keberlanjutan suatu destinasi wisata Kesejahteraan masyarakat setempat

Terlindungnya aset aset budaya Partisipasi masyarakat

Kepuasan masyarakat Jaminan masyarakat

Pengelolahan sumber daya alam yang langka.

6.6 Permintaan dan Penawaran Pariwisata

Permintaan suatu wisata adalah banyaknya kesempatan rekreasi dari individu untuk menggunakan waktu luang.Meningkatnya jumlah pengunjung pada suatu areal wisata khusus wisata dapat disebabkan karena :

 Areal wisata tersebut mempunyai potensi yang menarik

 Kebutuhan rekreasi meningkat

 Tersedianya sarana dan prasarana yang ditunjang oleh fasilitas akomodasi

Penawaran suatu objek wisata adalah kualitas dan kuantitas sumberdaya yang ada untuk digunakan pada waktu luang.Sumberdaya alam yang terdiri dari unsur fisik lingkungan berupa tumbuhan, satwa, geomorfologi, tanah, air, udara serta atribut lingkungan yang menurut anggapan manusia memiliki nilai-nilai tertentu seperti keindahan, kelangkaan, keunikan, kekhasan, keanekaragaman, bentang alam, serta keutuhan sumberdaya alam.

Dalam menilai penawaran objek wisata (khusus wisata alam) dan pengembangannya ada beberapa faktor penting yang dinilai ( Dirjen PHPA, 1993), yaitu :

 Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari objek wisata tersebut :

o Daya tarikmerupakan suatu factor yang dapat membuat orang berkeinginan untuk berkunjung dan melihat secara langsung keindahan alam, banyaknya sunbberdaya alam yang menonjol, kebersihan udara dan lokasi, ruang gerak pengunjung dan kepekaan sumberdaya alam

o Pengelolaan Penawaran dan Pelayanan; merupakan suatu kegiatan untuk memanfaatkan objek wisata sehingga pengunjung mendapatkan kepuasan dalam kunjungannya juga untuk pelestarian dari objek itu sendiri. Unsur – unsurnya adalah status pengelolaan, jumlah pegawai, pendapatan perbulan, dana anggaran, sumber dana, status pegawai, mutu pelayanan, kemampuan bahasa dan sarana perawatan dan pelayanan

o Tersedianya air bersih, adanya air bersih merupakan faktor yang penting dalam pengembangan suatu objek wisata. Unsur – unsurnya adalah dapat tidaknya air dialirkan ke objek wisata, jarak sumber air dengan lokasi objek

o Kondisi perhubungan, merupakan suatu indikasi yang menyatakan mudah tidaknya suatu objek wisata dijangkau dengan melihat unsur-unsur seperti kondisi jalan, jumlah kendaraan dikabupaten objek wisata tersebut berada, frekuensi kendaraan umum dari unsur penyebaran wisata ke objek wisata tersebut dan jumlah alat transportasi umum menuju lokasi tersebut dan lain – lain

o Kondisi Lingkungan, yaitu keadaan lingkungan alam maupun masyarakt setempat.

Unsur – unsurnya adalah tata guna tanah atau perencanaan, status pemilikan tanah, kepadatan penduduk, sikap masyarakat, tingkat pengangguran, mata pencaharian penduduk, pendidikan, media yang masuk, dampak sumberdaya biologis dan sumber daya fisik

o Kondisi Iklim, merupakan salah satu factor yang dapat mempengaruhi jumlah kunjungan dengan melihat unsur –unsurnya yaitu pengeruh iklim terhadap waktu kunjungan, suhu udara musim kemarau, jumlah bulan kering dan kelembaban rata – rata pertahun, rata – rata penyinaran matahari pada musim hujan, kecepatan angina pada musim kemarau dan rata- rata kelembaban udara pertahun.

o Akomodasimerupakan faktor penunjang dalam kegiatan wisata khususnya bagi pengunjung yang berasal dari tempat yang jauh. Unsurnya adlah jumlah hotel , kamar, penginapan yang paling tidak dipusat kota yang terdekat dengan objek wisata.

 Faktor Eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar objek wisata antara lain :

 Potensi pasarmerupakan suatu faktor yang menentukan berhasil tidaknya pemanfaatan suatu objek wisata, menyangkut peluang dan kunjungan yang berhubungan dengan jumlah penduduk sebagai konsumen. Unsur – unsur yang menjadi potensi pasar adalah jumlah penduduk berdasarkan zonasi, kepadatan penduduk, lokasi berdasarkan zonasi per kilometer persegi dan jarak objek wisata tersebut ke pusat kota

 Hubungan dengan objek wisata lain, dalam pengembangan objek wisata, disuatu pihak perlu juga memperhatikan objek wisata lain (sejenis maupun tidak sejenis) yang disekitarnya agar dapat menunjang jumlah kunjungan, tetapi dlain ipihak merupakan saingan baginya objek yang akan dikembangkan

 Prasarana dan sarana penunjang, Prasarana dan sarana penunjang yang berada dikecamatan tempat objek wisata tersebut berada sangat penting. Unsur-unsurnya yaitu pasarana, sarana penunjang, fasilitas khusus dan fasilitas kegiatan wisata.

6.7 Tenaga Kerja dan Infrastruktur Penunjang Industri Pariwisata

Pengembangan pariwisata harus merupakan pengembangan berencana secara menyeluruh sehingga dapat diperoleh manfaat yang optimal bagi masyarakat, baik dari segi ekonomi social dan kultural. Disamping itu, rencana tersebut harus mampu memberikan kerangka kerja kebijaksanaan pemerintah untuk mendorong dan mengendalikan pengembangan pariwisata. Peranan pemerintah dalam mengembangkan pariwisata dalam garis besarnya adalah menyediakan infrastuktur (tidak hanya dalam bentuk fisik), memperluas berbagai bentuk fasilitas, kegiatan koordinasi antara aparatur poemerintah dengan pihak swasta, pengaturan dan promosi umum keluar negeri.Tidak dapat disangkal bahwa hampir diseluruh daerah Indonesia terdapat potensi pariwisata, maka yang perlu diperhatikan adalah sarana angkutan, keadaan infrastruktur, dan sarana – sarana pariwisata yang menuju ke dan terdapat di daerah – daerah tersebut.Hal-hal inilah yang sesungguhnya menjadi pokok persoalan. Mengembangkan kesemuanya secara simultantidak mungkin karena untuk itu dibutuhkan biaya yang besar, padahal dana yang tersedia terbatas, karena itu pengembangan pariwisata haruslah berdasarkan skala prioritas. Dalam pengembangan selanjutnya pemerintah harus menitikberatkan pada peranan periwisata terhadap kesejahteraan social, penggunaan tanah, perlindungan terhadap lingkungan social dan alam, serta pada pelestarian tradisi dan kebudayaan.Bukan hanya terbatas pada perencanaan dan pengembangan proyek-proyak pariwisata saja, melainkan secara lebih menyeluruh dan terpadu.Seperti yang lebih berkali-kali dikemukakan, pariwisata menyangkut segala aspek kehidupan manusia.

Pemerintah Provinsi Bali sadar akan pengembangan pariwisata harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

 Perencanaan pengembangan pariwisata harus menyeluruh, sehingga seluruh segi pengembangan pariwisata diperhitungkan dengan memperhatikan pula perhitungan untung rugi apabila dibandingkan dengan pembangunan sector lain.

 Pengembangan pariwisata harus diintegrasikan, karena pengembangan pariwisata saling terkait dengan sector lain dan dapat mempengaruhi sector lain

 Pengembangan pariwisata harus dikembangkan sedemikian rupa, sehingga dapat membawakan kesejahteraan ekonomi yang tersebar luas Dalam masyarakat

 Pengembangan periwisata harus sadar lingkungan sehingga mencerminkan ciri –ciri khas budaya dan lingkungan alam suatu Negara, bukannya justru merusak lingkungan alam dan budaya yang khas itu.

 Pengembangan pariwisata harus diarahkan sedemikian rupa, sehingga sedapat mungkin harus menampakan perubahan – [erubahan social yang positif

 Penentuan tata cara pelaksanaannya harus disusun sejelas – jelasnya berdasar pertimbangan – pertimbangan yang masak sesuai dengan kemampuan.

 Pencataatan ( monitoring )secara terus menerus mangenai pariwisata terhadap sesuatu masyarakat dan lingkungan, akan merupakan bahan yang baik untuk diluruskan kembali akibat perkembangan pariwisata yang merugikan, sehingga merupakan sarana pengendalian pengembangan yang terarah. (Prajogo dalam Spilane, 1985)

Apabila pengembangan ditinjau dari sudut pelaksanaannya yang lebih bersifat teknis operasional, maka yang harus diperhatikan adalah :

 Pembinaan produk wisata, merupakan usaha terus menerus untuk meningkatkan mutu maupun palayanan.Pembinaan tersebut dapat berupa berbagai kombinasi usaha – usaha seperti pendidikan dan pelatihan. Pengaturan atau pengerahan pemerintah, memberi rangsangan, ataupun terciptanya kondisi iklim persaingan sehat yang mendorong peningkatan atau mutu produk dan pelayanan

 Pemasaran, secara umum pemasaran yakni sebagai kegiatan untuk

 Pemasaran, secara umum pemasaran yakni sebagai kegiatan untuk