• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PEMBAHASAN

3.1. Partisipasi Masyarakat dan Peraturan Desa

a. Pengertian Partisipasi Masyarakat dan Peraturan Desa.

Pengertian partisipasi banyak dikaitkan dengan berbagai hal dan digunakan secara umum dan luas. Arti partisipasi sering disangkut pautkan dengan banyak kepentingan dan agenda yang berbeda yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat dan pembuatan keputusan secara politis.34Partisipasi adalah konsep sentral, dan prinsip dasar dari pengembangan masyarakat35. Partisipasi sering dikaitkan dengan persoalan, HAM, demokrasi, pembangunan dan sebagainya. Paul berpendapat bahwa dalam partisipasi harus mencapkup kemampuan rakyat untuk memengaruhi kegiatan-kegiatan sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan kesejahteraanya.36

Partisipasi masyrakat adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi yang ada dimasyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif solusi untuk menangani masalah, pelaksanaan upaya mengatasi masalah, keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi.37

Dalam lain hal, Partisipasi masyarakat merupakan hak dan kewajiban warga Negara untuk memberikan konstribusinya kepada pencapaian tujuan kelompok,sehingga mereka diberi kesempatan untuk ikut serta dalam pembangunan dengan menyumbangkan inisiatif dan kreatifitasnya.38

Menurut Oakley,at all, partisipasi dapat dimaknai sebagai cara dan sebagai tujuan dengan beberapa kelemahan dan kelebihannya.39

Partisipasi sebagai cara:

1. Berimplikasi pada penggunaan partisipasi untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

2. Merupakan suatu upaya pemanfaatan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan program atau proyek.

34

Jim Ife .2006. Community Development. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Hal 294 dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Partisipasi_masyarakat.

35

https://id.wikipedia.org/wiki/Partisipasi_masyarakat

36 Ibid.

37

Isbandi Rukminto Adi. Revisi 2012. Pemberdayaan Masyarakat dan Partisipasi Masyarakat. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hal 227,

38

Finna Rizqinna. 2010. Partisipasi Masyarakat. www.lontar.ui.id. Hal 14

39

20

3. Lebih umum dalam program-program pemerintah, yang pertimbangan utamanya adalah untuk menggerakkan masyarakat dan melibatkan mereka dalam meningkatkan efisiensi sistem penyampaian.

4. Partisipasi umumnya jangka pendek.

5. Partisipasi sebagai cara merupakan bentuk pasif dari partisipasi.

Partisipasi sebagai tujuan:

1. Berupaya untuk memberdayakan rakyat untuk berpartisipasi dalam membangun mereka sendiri secara lebih berarti.

2. Berupaya untuk menjamin peningkatan peran rakyat dalam inisiatif-inisiatif pembangunan.

3. Fokus pada peningkatan kemampuan rakyat untuk berpartisipasi bukan sekadar mencapai tujuan-tujuan proyek yang sudah ditetapkan sebelumnya.

4. Pandangan ini relatif kurang disukai oleh badan-badan pemerintah. 5. Pada prinsipnya LSM setuju dengan pandangan ini.

6. Partisipasi dianggap sebagai suatu proses jangka panjang. 7. Partisipasi sebagai tujuan relatif lebih aktif dan dinamis

Terkait dengan partisipasi masyarakat desa menurut chambers dengan metodenya yang disebut Participatory Rural Apprasial (Pemahaman desa secara partisipatif)40adalah pendekatan atau metode yang memungkinkan masyarakat desa untuk berbagi, meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan desa, membuat rencana dan bertindak. Hal ini bermakna bahwa masyarakat terlibat dalam proses pembangunan dan melakukan analisis terhadap masalah dan potensi pada tempat mereka berada.

Dari uraian tersebut diatas, maka partisipasi masyarakat diperlukan dalam kegiatan pembangunan untuk mencapai tujuan negara sebagaimana ditentukan dalam Pembukaan UUD Tahun 1945, termasuk dalam pembentukan Peraturan Desa (Perdes) sebagai salah satu jenis peraturan perundang-undangan yang mengatur kepentingan masyarakat desa. Peraturan Desa adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan olehKepala Desa bersama Badan Permusyawaratan Desa.41

Sementara itu dalam Pasal 1 angka 7 UU No.6 Tahun 2014 tentang desa, disebutkan bahwa Peraturan Desa adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa.

Dalam pembentukan peraturan desa sebagaimana halnya dengan peraturan perundang-undangan lainnya maka harus memperhatikan asas/prinsip peraturan perundang-perundang-undangan yang baik (good legislation) baik secara formal maupun material sebagaimana diuraikan diatas. Hal lainnya yang perlu juga diperhatikan adalah:42

40

Edi Suharto. 1997. Pembangunan, Kebijakan Sosial & Pekerjaan Sosial. Bandung: LSP STKS. Hal 332

41 https://id.wikipedia.org/wiki/Peraturan_desa

42

Moh Fadi, Jazim Hamidi, Mustafa Lutfi, 2011, Pembentukan Peraturan Desa Partisipatif (Head To a Good Village Governance), Universitas Brawijaya Press,hlm.97.

21

1. Berlaku secara yuridis, yakni apabila peraturan tersebut disusun sesuai dengan prosedur atau tatacara pembentukan peraturan perundang-undangan.

2. Berlaku secara filosofis, yakni apabila isi peraturan tersebut sesuai dengan nilai-nilai tertinggi yang berlaku dan dihormati didalam masyarakat tersebut.

3. Berlaku secara sosiologis, yakni apabila isi peraturan tersebut sesuai dengan aspirasi dan nilai-nilai yang hidup didalam masyarakat tersebut.

Tujuan pembuatan Perdes adalah:43

1.Melindungi dan memperluas ruang otonomi desa

2.Membatasi kewenangan pemerintah daerah dan pusat ,serta melindungi hak-hak prakarsa masyarakat desa,

3.Menjamin kebebasan masyarakat desa,

4.Melindungi dan membela kelompok yang lemah di desa,

5.Menjamin partisipasi masyarakat desa dalam proses pengambilan keputusan, antara lain,dengan memastikan baha masyarakat desa terwakili kepentingannya dalam Badan Permusyawaratan Desa,

6.Memfasilitasi perbaikan dan pengembangan. Pentingnya pembentukan Perdes yang partisipatif adalah:

1.Mewujudkan pemerintahan yang baik melalui dukungan perdes yang bisa mengarahkan penyelenggara pemerintahan desa untuk mewujudkan kesejahtraan masyarakat desa.

2.Mengubah perilaku yang berpihak kepada rakyat disuatu desa, maka penyusunan instrumen hukum berupa perdes haruslah dilakukan secara partisipatif, dengan melibatkan semua unsur yang ada dalam masyarakat dan dilakukan secara terbuka. 3. Dengan penyusunan perdes yang partisipatif, peluang pemerintah desa untuk

menggunakan perdes sebagai alat politik dalam rangka memperjuangkan kepentingan pribadi dapat diminimalisir.

4. Partisipasi dapat digunakan sebagai elemen pembatasan kekuasaan pemerintahan desa dan sebagai mekanisme kontrol sosial bagi pemerintahanan desa dalam penyusunan perdes yang berdampak pada masyarakat.44

Dari pemaparan diatas maka jelas pembentukan Perdes yang partisipatif sangat diperlukan guna mewujudkan negara hukum yang demokratis.Partisipasi merupakan sistem yang berkembang dalam sistem politik modern. Penyediaan ruang publik atau adanya partisipasi masyarakat merupakan tuntutan yang mutlak sebagai upaya mewujudkan demokratisasi. Masyarakat perlu dilibatkan dalam pembangunan termasuk dalam pembentukan perdes karena masyarakat sudah semakin sadar akan hak-hak politiknya. Pembuatan peraturan perundang-undangan, tidak lagi semata-mata menjadi wilayah dominasi birokrat dan parlemen, dan ditingkat desa tidak lagi semata-mata menjadi wilayah kepala desa dan Badan

43 Loc Cit

44

22

Permusyawaratan Desa (BPD) namun menjadi wilayah bersama masyarakat desa. Disatu sisi meskipun partisipasi masyarakat ini sesuatu yang ideal namun bukanlah jaminan bahwa suatu peraturan perundang-undangan yang dihasilkannya akan dapat berlaku efektif di masyarakat.Namun demikian setidak-tidaknya langkah partisipatif yang ditempuh oleh lembaga legislatif dalam setiap pembentukan peraturan perundang-undangan, diharapkan dapat lebih mendorong masyarakat dalam menerima hadirnya suatu peraturan perundang-undang. Keberadaan partisipasi masyarakat dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan sangat penting dalam mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan melalui pengawasan masyarakat.45

b. Pengaturan partisipasi masyarakat dalam pembentukan Perdes.

Mengingat pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembentukan perdes, maka ada beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal tersebut yaitu:

1. UU No.12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yang diundangkan pada tanggal 12 Agustus 2011.Dalam pembentukan peraturan perundang-undangan pada BAB XI, Pasal 96 menentukan:

(1) Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

(2) Masukan secara lisan dan/atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan melalui:

a. rapat dengar pendapat umum; b. kunjungan kerja;

c. sosialisasi; dan/atau

d. seminar, lokakarya, dan/atau diskusi.

(3) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah orang perseorangan atau kelompok orang yang mempunyai kepentingan atas substansi Rancangan Peraturan Perundang-undangan.

(4) Untuk memudahkan masyarakat dalam memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setiap Rancangan Peraturan Perundang-undangan harus dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat.

2. UU No.6 Tahun 2014 Tentang Desa

Dalam Bab VII UU No.6 Tahun 2014 mengatur tentang Peraturan Desa. Pasal 69 ayat (9) menyebutkan: Rancangan Peraturan Desa wajib dikonsultasikan kepada masyarakat Desa. Selanjutnya dalam ayat (10) menyebutkan : Masyarakat Desa berhak memberikan masukan terhadap Rancangan Peraturan Desa.

23

Rumusan ini mewajibkan dalam pembentukan perdes adanya konsultasi dengan masyarakat desa.

3. PP No.Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6Tahun 2014 tentang Desa.

Dalam Bab V tentang Tata Cara Penyusunan Peraturan di Desa pada Bagian kesatu tentang Peraturan Desa, dalam Pasal 83 ayat (3) nya disebutkan bahwa : Dalam Rancangan peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) wajib dikonsultasikankepada masyarakat Desa untuk mendapatkan masukan

4. Permendagri No.111 Tahun 2014 tentang Pedoman Teknis Peraturan di Desa. Dalam Pasal 13 tentang penyebarluasan disebutkan :

(1). Penyebarluasan dilakukan oleh Pemerintah Desa dan BPD sejak penetapan rencana

penyusunan rancangan Peraturan Desa, penyusunan Rancangan Peratuan Desa, pembahasan Rancangan Peraturan Desa, hingga Pengundangan Peraturan Desa.

(2) Penyebarluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk memberikan informasi dan/atau memperoleh masukan masyarakatdan para pemangku kepentingan.

5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang Produk Hukum Daerah. Dalam Pasal 166 mengatur pula tentang partisipasi masyarakat dalam pembentukan produk hukum daerah, dimana dalam ayat (1) nya disebutkan : Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis dalam pembentukan Perda, Perkada, PB KDH dan/atau Peraturan DPRD. Dalam pasal ini hanya menyebutkan produk hukum daerah adalah Perda, Perkada, PB KDH dan/atau Peraturan DPRD tidak menyebutkan tentang Perdes seperti halnya dalam Pasal 7 UU No.12 Tahun 2011. Namun demikian dalam Pasal 8 UU No.12 Tahun 2011 menyebutkan :

(1) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) mencakup peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yudisial, Bank Indonesia, Menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat.(garis miring dari penulis)

(2) Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau dibentuk berdasarkan kewenangan.

Atas dasar ketentuan tersebut maka dapat ditafsirkan bahwa peraturan yang dibuat oleh kepala desa ataupun yang sederajat (seperti BPD) diakui sebagai peraturan perundang-undangan dan

24

secara mutatis mutandis pembentukan perdes mengacu kepada tatacara pembentukan peraturan perundang-undangan. Demikian juga dengan apa yang ditentukan dalam Pasal 2 UU No.23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menentukan bahwa:

(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas Daerah provinsi dan Daerah provinsi itu dibagi atas Daerah Kabupaten dan kota.

(2) Daerah kabupaten/kota dibagi atas Kecamatan dan Kecamatan dibagi atas kelurahan dan/atau Desa.

Dengan demikian maka desa adalah merupakan kesatuan pemerintahan terbawah dibawah kabyang diberi kewenangan untuk menyelenggarakan pemerintahan dan membentuk perdes, sehingga pembentukan perdes harus berpedoman pada peraturan tersebut diatas. 5.Permendagri No.111 Tahun 2014 Tentang Pedoman Teknis Peraturan di Desa.

Dalam Pasal 13 berkaitan dengan penyebarluasan ditentukan bahwa:

(1) Penyebarluasan dilakukan oleh Pemerintah Desa dan BPD sejak penetapanrencana penyusunan rancangan Peraturan Desa, penyusunan RancanganPeratuan Desa, pembahasan Rancangan Peraturan Desa, hinggaPengundangan Peraturan Desa.

(2) Penyebarluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untukmemberikan informasi dan/atau memperoleh masukan masyarakat danpara pemangku kepentingan.

c. Bentuk-bentuk Partisipasi Masyarakat

Partisipasi masyarakat dalam pembentukan peraturan perundang-undangan secara teoritis dapat dilakukan dalam berbagai model, sesuai dengan perkembangan dan situasi suatu negara. Partisipasi masyarakat ini akan tergantung dari kesadaran masyarakat dalam tatanan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.Berikut adalah model-model partisipasi masyarakat dalam pembentukan UU:46

1.Pure Representative Democracy. Dalam model partisipasi publik yang pertama ini, sifat partisipasi masyarakatnya masih pure atau murni. Artinya, rakyat selaku warga negara dalam suatu negara demokrasi keterlibatannya dalam pengambilan keputusan publik dilakukan oleh wakil-wakil yang dipilih melalui pemilihan umum untuk duduk dalam

46

25

lembaga perwakilan. Dalam hal ini, masyarakat hanya tinggal menerima saja apa yang akan diproduk oleh legislator dalam pembentukan UU.

2.A Basic Model of Public Participation. Dalam model yang kedua ini digambarkan bahwa rakyat telah melakukan interaksi keterlibatannya dalam proses pengambilan keputusan, tidak hanya melalui pemilihan umum tetapi dalam waktu yang sama juga melakukan kontak dengan lembaga perwakilan. Meskipun demikian model partisipasi ini belum dapat dikatakan sebagai bentuk dan hakikat interaksi yang sebenarnya.

3.A Realism Model of Public Participation.Dalam model pilihan yang ketiga ini, public participation pelaku-pelakunya cenderung dilakukan dan didominasi oleh adanya kelompok-kelompok kepentingan dan organisasi-organisasi lainnya yang diorganisir.Publik, selain ikut dalam pemilihan umum juga melakukan interaksi dengan lembaga perwakilan. Akan tetapi tidak semua warga negara melakukan public participation dalam bentuk membangun kontak interaksi dengan lembaga perwakilan. Pelaku-pelaku public participation telah mengarah pada kelompok-kelompok kepentingan dan organisasi-organisasi lainnya yang diorganisir. Dengan demikian terdapat kecenderungan untuk memahami “public” dalam konteks yang terbatas.

4.The Possible Ideal for South Africa. Model alternatif yang diperkenalkan sebagai bentuk keempat dari berbagai partisipasi masyarkat ini, merupakan perluasan dalam memasukkan tiga kelompok partisipan, yaitu : those who are organized and strong; those who are organized but weak; and those who are weak and unorganized. Dengan menerapkan model ini, pemerintah dapat mengembangkan visi strategis yang dapat ditujukan kepada ketiga kelompok tersebut secara bersama-sama. Dalam model ini, pada gilirannya memunculkan dua tambahan dimensi yaitu: a) dimensi peranan partai-partai politik dan partai mayoritas; b) dimensi hubungan perwakilan dengan eksekutif.

Dalam sumber yang lain juga dinyatakan beberapa bentuk-bentuk partisipasi yang lain yang dapat di tempuh oleh masyarakat dalam pembentukan peraturan perundang-ndangan. Proses pembentukan UU pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu:47

1. tahap ante legislgtive, 2. tahap legislative dan 3. tahap post legislative.

1. Partisipasi masyarakat pada tahap ante legislative, Pada tahap ante legislative terdapat empat bentuk partisipasi masyarakat yang dapat dilakukan dalam proses pembentukan UU,

47

26

yaitu: i. penelitian ii. diskusi, lokakarya dan seminar, iii. pengajuan usul inisiatif; dan iv. perancangan. Secara ringkas berbagai bentuk partisipasi masyarakat dalam proses pembentukan UU pada tahap ante legislatif ini adalah:

1) Partisipasi masyarakat dalam bentuk penelitian.Partisipasi masyarakat dalam bentuk penelitian ini dapat dilakukan masyarakat ketika melihat adanya suatu persoalan dalam tatanan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang perlu diteliti dan dikaji secara mendalam dan memerlukan penyelesaian pengaturan dalam suatu UU. Penetitian ini dapat dilakukan secara mandiri maupun kerjasama dengan suatu instansi pemerintahan yang menangani bidang tersebut. Hasil dari penelitian dituangkan dalam format laporan penelitian sehingga dapat dipakai sebagai dasar dalam proses lebih lanjut pembentukan UU. Untuk model ini sudah banyak dilakukan dikalangan masyarakat, pemerintah, maupun perguruan tinggi.

2) Partisipasi masyarakat dalam bentuk diskusi, Iokakarya dan seminar, Partisipasi masyarakat dalam bentuk diskusi, lokakarya dan seminar pada tahap ante legislatif ini dapat dilakukan sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian terhadap suatu obyek yang akan diatur dalam UU, ataupun sebagai tindak lanjut dari hasil pengamatan terhadap suatu persoalan dimasyarakat. Diskusi, lokakarya dan seminar ini akan memberikan sumbangan yang penting dalam pengkajian terhadap persoalan materi muatan suatu RUU karena dilakukan oleh para akademisi, pengamat, dan pakar di bidangnya masing-masing. Oleh karena itu wacana yang dihasilkan dari suatu diskusi, lokakarya dan seminar akan lebih utuh dan komprehensif dalam melihat suatu persoalan yang akan dimuat dalam RUU. Dengan demikian melalui diskusi, lokakarya dan seminar akan memperkaya wawasan terhadap materi yang akan dituangkan dalam RUU sehingga akan sangat membantu dalam proses penuangan dalam naskah akademik maupun RUUnya. Salah satu contoh adalah diskusi yang dilakukan oleh kelompok diaspora ke Fakultas Hukum Unud untuk mencari masukan terhadap kemungkinan perubahan UU tentang Kewarganegaraan berkaitan dengan kewarganegaraan ganda tidak terbatas.

3) Partisipasi masyarakat dalam bentuk pengajuan usul inisiatif, pengajuan usul inisiatif untuk dibuatnya suatu UU dapat dilakukan masyarakat dengan atau tanpa melalui penelitian, diskusi, lokakarya dan seminar terlebih dahulu. Akan tetapi, usul inisiatif ini tentu akan lebih kuat jika didahului dengan penelitian, diskusi, lokakarya dan seminar terhadap suatu masalah yang akan diatur dalam suatu UU.Pengajuan usul inisiatif dari masyarakat dapat diajukan melalui tiga jalur pilihan yaitu: Presiden, DPR dan DPD (untuk RUU tertentu). Agar usul inisiatif ini dipertimbangkan dan lebih mudah diterima

27

maka usul inisiatif masyarakat untuk dibuatnya suatu UU harus disesuaikan dengan program legislatif nasional yang telah ditentukan oleh Badan Legislasi di DPR.

4) Partisipasi masyarakat dalam bentuk perancangan terhadap suatu RUU, Partisipasi masyarakat dalam bentuk perancangan terhadap suatu UU dapat dilakukan masyarakat sebagai wujud partisipasi masyarakat yang terakhir dalam tahap ante legislatif. Artinya, setelah melakukan penelitian, pengusulan usul inisiatif maka pada gilirannya masyarakat dapat menuangkan hasil penelitian dalam RUU. Di dalam RUU sebaiknya didahului dengan uraian Naskah Akademik dibuatnya suatu RUU.Selanjutnya dari berbagai pokok pikiran dalam Naskah Akademik kemudian dituangkan dalam RUU menurut format yang standar sebagaimana diatur dalam UU No.12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

b. Partisipasi masyarakat pada tahap legislative.

Pada tahap legislatif terdapat enam bentuk partisipasi masyarakat yang dapat dilakukan masyarakat dalam proses pembentukan UU. Adapun keenam bentuk partisipasi masyarakat tersebut adalah:

1) Partisipasi masyarakat dalam bentuk audensi/RDPU di DPR.Partisipasi masyarakat dalam bentuk audensi/RDPU di DPR ini dapat dilakukan masyarakat baik atas permintaan langsung dari DPR (RDPU) maupun atas keinginan masyarakat sendiri (audensi). Apabila partisipasi masyarakat ini atas dasar permintaan dari DPR, maka partisipasi masyarakat disampaikan kepada yang meminta dilakukannya rapat dengar pendapat umum (RDPU). Akan tetapi untuk partisipasi masyarakat dalam bentuk audensi atas keinginan langsung dari masyarakat, maka masyarakat dapat memilih alat kelengkapan DPR yang diharapkan dapat menyalurkan aspirasi masyarakat, misalnya Panitia Verja, Komisi, Panitia Khusus, Fraksi dsb. Audensi/RDPU ini dapat dilakukan oleh masyarakat baik secara lisan, tertulis maupun gabungan antara lisan dan tertulis. 2) Partisipasi masyarakat dalam bentuk RUU alternatif.Partisipasi masyarakatdalam

bentuk penyampaian RUU altematif ini dapat dilakukan oleh masyarakat dengan membuat RUU alternatif ketika RUU yang tengah dibahas di lembaga legislatif belum atau bahkan tidak aspiratif terhadap kepentingan masyarakat luas. Penyusunan RUU alternatif dilakukan dengan mengikuti format sebagaimana diatur dalam UU No.12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Penyampaian RUU alternatif ini harus dilakukan pada tahap awal pembahasan RUU di lembaga legislatif, yaitu, bersamaan dengan dilakukannya pengajuan RUU kepada DPR baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun DPR sendiri. Sebab, jika penyampaian RUU

28

alternatif baru diajukan pada pertengahan atau bahkan diakhir pembahasan suatu RUU, maka sasaran disampaikannya RUU alternatif tidak akan effektif dalam mempengaruhi pembahasan suatu RUU.

3) Partisipasi masyarakat dalam bentuk masukan melalui media cetak.Partisipasi masyarakat dalam bentuk masukan melalui media cetak ini dapat dilakukan oleh masyarakat dengan membuat opini terhadap suatu masalah yang tengah dibahas dalam lembaga legislatif. Opini masyarakat ini dapat berupa artikel, jumpa pers, wawancara, pernyataan-pernyataan, maupun berupa tajuk-tajuk berita dari surat kabar dan majalah. Partisipasi masyarakatmelalui media cetak ini banyak dilakukan masyarakat, karena caranya yang relatif praktis bila dibandingkan dengan bentuk partisipasi masyarakat lainnya. Artinya pelaku partisipasi masyarakat tidak akan kehilangan banyak waktu untuk melakukannya. Akan tetapi, bentuk partisipasi masyarakat melalui media cetak ini, mempunyai sisi kelemahan yaitu opini yang disampaikan belum tentu sampai ke tangan yang berwenang membahas suatu RUU. Oleh karena itu selain disampaikan kepada media cetak sebaiknya materi dikirim juga ke DPR baik melalui pos maupun email sehingga langsung diterima oleh alat kelengkapan DPR yang tengah membahas suatu RUU.

4) Partisipasi masyarakat dalam bentuk masukan melalui media elektronik. Partisipasi masyarakat dalam bentuk masukan melalui media elektronik ini dapat dilakukan oleh masyarakat dengan membuat dialog dengan menghadirkan narasumber yang kompeten terhadap suatu masalah yang tengah dibahas dalam lembaga legislatif. Dialog melalui media elektronik ini mempunyai jangkauan yang cepat luas dan dapat mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam membahas persoalan yang menyangkut masyarakat luas. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat dalam bentuk media elektronik ini perlu digalakkan dalam proses pembentukan UU sehingga akan menyadarkan masyarakat tentang hak dan kewajibannya yang akan diatur dalam UU.

5) Partisipasi masyarakat dalam bentuk unjuk rasa.Partisipasi masyarakat dalam bentuk unjuk rasa ini dapat dilakukan masyarakat dalam rangka mendukung, menolak maupun menekan materi yang tengah dibahas dalam proses pembentukan UU. Unjuk rasa ini dapat dilakukan baik secara individual maupun kelompok masyarakat dengan jumlah yang besar. Akan tetapi, pengaruh dari unjuk rasa ini akan lebih berhasil dalam

Dokumen terkait