• Tidak ada hasil yang ditemukan

Partisipasi Masyarakat

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Partisipasi Masyarakat

Partisipasi masyarakat adalah proses keterlibatan masyarakat melalui komunikasi dua arah yang terus-menerus untuk meningkatkan pemahaman masyarakat secara penuh atas proses pengelolaan kawasan konservasi (Carter, 1977 dalam Sembiring dan Husbani, 1999). Partisipasi masyarakat sebagai obyek dan subyek dalam kegiatan pengelolaan pemanfaatan kawasan konservasi masih sangat terbatas.

Dalam pasal 7 ayat (1) UU no.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup disebutkan bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup

yang pelaksanaannya dijelaskan pada ayat (2) yaitu dengan cara a) meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan; b) menumbuh-kembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat; c) menumbuhkan ketanggap-segeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial; d) memberikan saran pendapat; dan e) menyampaikan informasi dan/ atau menyampaikan laporan.

Manfaat dari partisipasi masyarakat menurut Hardjasoemantri (1993) adalah:

1). Sebagai proses pembuatan suatu kebijakan, karena masyarakat adalah kelompok yang berpotensi menanggung konsekuensi dari suatu kebijakan memiliki hak untuk diajak konsultasi;

2). Sebagai suatu strategi, dimana melalui peran serta masyarakat duatu kebijakan pemerintah mendapat dukungan masyarakat sehingga keputusan tersebut memiliki kredibilitas;

3). Peran serta masyarakat ditujukan sebagai alat komunikasi bagi pemerintah, untuk mendapatkan masukan dan informasi dalam

pengambilan keputusan sehingga melahirkan keputusan yang responsif; dan

4). Peran serta masyarakat dalam penyelesaian sengketa atau konflik didaya- gunakan melalui upaya pencapaian konsensus dari pendapat yang ada. Karena dengan bertukar pikiran dan pandangan dapat meningkatkan pengertian dan toleransi serta mengurangi rasa ketidak-percayaan dan kerancuan.

2.4.2. Mekanisme dan Model Partisipasi

Menurut UU no.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, mekanisme partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan dapat dikembangkan melalui cara-cara berikut:

1). Meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat dan kemitraan; 2). Menumbuhkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat;

3). Menumbuhkan ketanggapan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial;

4). Memberikan saran dan pendapat; dan 5). Menyampaikan informasi dan/atau laporan.

Menurut Mitchell et al (2003) partisipasi dalam suatu kerjasama berdasarkan pembagian kekuasaannya dapat dibedakan menjadi empat (Tabel 3) yaitu : 1) kontribusi; 2) operasional; 3) konsultatif; dan 4) kolaboratif.

Tabel 3 Bentuk kerjasama strategik No. Bentuk

kerjasama Tujuan

Pembagian kekuasaan strategik

1. Kontribusi Support sharing

Menyalurkan dana untuk suatu proyek/program.

Pemerintah memegang kontrol tetapi kontributor mengajukan usulan atau sepakat dengan tujuan proyek/program

2. Operasional Working sharing

Mengijinkan peserta untuk bekerjasama dan bertukar informasi

Pemerintah memegang kontrol. Peserta dapat mempengaruhi keputusan melalui kesertaan praktis 3. Konsultatif Advisory

Mendapatkan masukan kebijakan dan strategi, serta merancang program

evaluasi dan penyesuaian

Pemerintah

mempertahankan kontrol, kepemilikan dan resiko, tapi terbuka terhadap masukan peserta dan stakeholders

4. Kolaboratif Decision making

Meningkatkan kerjasama dalam perumusan kebijakan, perencanaan, implementasi, evaluasi dan penyesuaian

Kekuasaan, pemilikan dan resiko dibagi bersama

Sumber : Mitchell et al (2003)

Partisipasi dalam perencanaan pengelolaan taman nasional harus dilakukan secara kontinyu dan bersifat saling sinergis dalam bentuk kerjasama antara pihak pengelola taman nasional dengan stakeholders (Warner, 1997). Proses partisipatori sendiri melibatkan sejumlah pertemuan yang bersifat konsultatif dimana semua stakeholderss berpartisipasi. Oleh karenanya tingkat partisipasi akan tergantung pada tingkat konsultasi, mulai dari sekedar memberi informasi, konsultasi dan partisipasi penuh (Pirot et al, 2000). Juga harus dilakukan pembedaan antara kelompok publik aktif dan pasif. Walaupun demikian ada tantangan bagi pengelola lingkungan yaitu apakah isu yang disampaikan kelompok yang aktif mewakili isu-isu stakeholders yang akan dipengaruhi atau terkena suatu kebijakan, karena kelompok yang aktif tidak selalu mewakili semua stakeholderss (Mitchell et al, 2003).

Tabel 4 Tingkat partisipasi menuju terwujudnya pengelolaan kolaboratif

No Pendekatan Tingkat partisipasi 1. Non-

partisipasi

Pemilik proyek atau agenda bertindak sebagai inisiator, yang menentukan agenda, dan mengatur, mengawasi, serta mengevaluasi kegiatan-kegiatan proyek. Pada tingkatan ini, pemilik proyek dapat melibatkan pihak lain untuk melaksanakan sebagian atau seluruh kegiatan proyek dengan imbalan. Pihak lain tersebut kemungkinan bertindak ebagai konsultan atau kontraktor.

2. Kooperatif Pemilik agenda atau proyek mendapatkan masukan-masukan dari para pemangku kepentingan, dan kemudian menganalisis masukan-masukan tersebut. Setelah itu pemilik proyek atau agenda tersebut menyusun rencana, melaksanakan kegiatan, dan mengevaluasi hasil-hasil kegiatan proyek.

3. Kemitraan Pemilik atau pengusul proyek atau agenda bersama pemangku kepentingan lain yang telah bersepakat membentuk kemitraan dan bersama-sama menentukan agenda kegiatan. Dalam hal ini pemilik yang pertama kali mengusulkan proyek atau agenda memimpin pelaksanaan kegiatan dan bertanggung jawab atas hasil-hasil kegiatan.

4. Kolaborasi Proyek atau agenda diusulkan dan dirancang bersama. Para pemangku kepentingan setara dan bersama-sama mengidentifikasi permasalahan, merumuskan kegiatan, dan mengevaluasi hasil-hasil kegiatan. Proses belajar dilakukan bersama-sama secara terus menerus, dan rencana- rencana kegiatan disusun secara adaptif dan lentur (fleksibel). Pada tahapan ini, diperlukan fasilitator untuk mempercepat proses-proses kolaborasi. Peranan fasilitator sebagai pengamat proses-proses, penasehat dan tidak menentukan arah ataupun melakukan intervensi.

Sumber: Cornwall (1995) dalam Anshari (2006).

Hardjasoemantri (1993) membedakan peran serta masyarakat dalam proses pengambilan keputusan berdasarkan sifatnya, yaitu (1) bersifat konsultatif, dimana anggota masyarakat mempunyai hak untuk didengar pendapatnya dan untuk diberitahu, akan tetapi keputusan akhir tetap di tangan pejabat pembuat keputusan; dan (2) bersifat kemitraan dimana masyarakat dan pejabat pembuat keputusan secara bersama membahas masalah, mencari alternatif pemecahan dan membuat keputusan. Sehingga peran serta masyarakat dapat meningkatkan kualitas keputusan pemerintah, dan di sisi lain dapat mengurangi kemungkinan munculnya konflik.

Tipe kelembagaan partisipasi masyarakat menurut IIRR (1998) dan Bass et al (1995) dalam Tadjudin (2000) adalah:

1). Partisipasi manipulatif dalam pemberian informasi. Masyarakat menjawab pertanyaan, tidak berkesempatan mpengaruhi karena temuan tidak dibagikan;

3). Partisipasi konsultatif, masyarakat dimintai tanggapan, tidak terlibat dalam pengambilan keputusan;

4). Partisipasi dengan imbalan materi, memberi konstribusi sumberdaya yang dimiliki untuk memperoleh imbalan materi;

5). Partisipasi fungsional, masyarakat membentuk kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan;

6). Partisipasi interaktif, terlibat dalam analisa, perencanaan kegiatan, pemberdayaan. Partisipasi dipandang sebagai hak, masyarakat memiliki kewenangan jelas untuk melihara struktur dan kegiatannya; dan

7). Mobilisasi swakarsa, inisiatif mandiri untuk melakukan perubahan sistem. Masyarakat membangun hubungan konsultatif dengan pihak luar.

Tipologi partisipasi yang diharapkan muncul dalam pengelolaan kolaboratif adalah partisipasi interaktif dan mobilisasi swakarsa (Bass et al, 1995 dalam Tadjudin, 2000) atau kemitraan, pendelegasian kekuasaan dan pengawasan masyarakat (Fisher, 1995).

Dokumen terkait