BAB XXII KETENTUAN PENUTUP
II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1
Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas.
187 Pasal 6 Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 9 Huruf a
Dalam upaya meningkatkan pelayanan transportasi dan mengantisipasi permasalahan kemacetan lalu lintas di Kota Larantuka maka perlu direncanakan penataan jaringan jalan. yang telah ada baik jalan arteri, jalan kolektor maupun jalan lingkungan, serta pengembangan jalan alternatif baru yang menghubungkan antar kawasan.
Huruf b
Untuk meningkatkan aksesibilitas antara Adonara Barat dengan Kota Larantuka maka perlu direncanakan jembatan penghubung antar kedua pulau tersebut. Rencana lokasi jembatan tersebut adalah Kelurahan Sarotari Tengah dengan Tanah Merah. Selain meningkatkan aksesibilitas antar wilayah dalam Sub Satuan Wilayah Pengembangan (SSWP)-1, keberadaan jembatan sejalan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2007-2027, yaitu untuk menghubungkan ruas jalan Provinsi di Pulau Flores dengan di Pulau Adonara.
Huruf c
Pengembangan Terminal Lamawalang berdasarkan klasifikasi pelayanannya termasuk tipe B yang berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam provinsi, angkutan kota dan/atau angkutan pedesaan.
Rencana pengembangan Terminal Lamawalang untuk Terminal Tipe B adalah memperluas terminal dari luasan sekarang ± 925 m² diperluas menjadi ± 2 ha (sesuai ketentuan standar terminal tipe B).
188 Huruf d
Dalam upaya meningkatkan layanan terhadap angkutan umum maka rute yang dilalui haruslah menjangkau pusat-pusat kegiatan masyarakat, sehingga masyarakat di seluruh wilayah kota dapat terlayani dengan angkutan umum. Hal ini perlu dilakukan sehingga masyarakat dapat memanfaatkan angkutan umum untuk berpergian sehingga dapat menekan pertumbuhan kendaraan pribadi. Perlu dilakukan kajian terhadap keberadaan rute eksisting dan penataan kembali rute dan jumlah trayek angkutan.
Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 11 Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Pasal 13 Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas. Pasal 16 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas.
189 Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. Pasal 25 Cukup jelas. Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 27 Cukup jelas. Pasal 28 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 32 Cukup jelas. Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 34 Cukup jelas. Pasal 35 Cukup jelas.
190 Pasal 36 Cukup jelas. Pasal 37 Cukup jelas. Pasal 38 Cukup jelas. Pasal 39 Cukup jelas. Pasal 40 Cukup jelas. Pasal 41 Cukup jelas. Pasal 42 Cukup jelas. Pasal 43 Cukup jelas. Pasal 44 Cukup jelas. Pasal 45 Cukup jelas. Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 47 Cukup jelas. Pasal 48 Cukup jelas. Pasal 49 Cukup jelas. Pasal 50 Cukup jelas.
191 Pasal 51 Cukup jelas. Pasal 52 Cukup jelas. Pasal 53 Cukup jelas. Pasal 54 Cukup jelas. Pasal 55 Cukup jelas.
192
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR
No. 5, 2012 Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Daerah
Kabupaten Flores Timur Nomor 0082 PERATURAN DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR
NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG
RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN WAIWERANG TAHUN 2012-2032
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI FLORES TIMUR,
Menimbang : a. bahwa untuk mengarahkan pemanfaatan ruang di Kawasan Perkotaan Waiwerang secara berdaya guna, berhasil guna, serasi, selaras, seimbang dan berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, perlu disusun rencana detail tata ruang kawasan;
b. bahwa dalam rangka mewujudkan keterpaduan pembangunan antar sektor, daerah dan masyarakat, maka rencana detail tata ruang kawasan merupakan arahan blok peruntukan/zoning bagi investasi pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah Daerah, masyarakat, dan/atau dunia usaha;
c. bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 13 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Flores Timur Tahun 2007-2027, maka strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang
193
wilayah Kabupaten perlu dijabarkan ke dalam Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Waiwerang Tahun 2012-2032;
Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II Dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1655); 3. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4169);
4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4437), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4844);
6. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
194
7. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3934);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4385);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelanggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat Dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 118,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5160);
14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1998 tentang Penyelengaraan Penataan Ruang di Daerah;
15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah;
195
16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan;
17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2008 tentang Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Daerah;
18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 2009 tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah;
19. Peraturan Daerah Propinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 1 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2010-2030 (Lembaran Daerah Propinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2011 Nomor 02, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 0045);
20. Peraturan Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 14 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Tahun 2006 Nomor 7 Seri E Nomor 1), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 17 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 14 Tahun 2005 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur
Tahun 2011 Nomor 17, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 0068);
21. Peraturan Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 13 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Flores Timur 2007-2027 (Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Tahun 2008 Nomor 13, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 0033);
22. Peraturan Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 4 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintah yang Menjadi Kewenangan Kabupaten Flores Timur (Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Tahun 2008 Nomor 4, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Flores Timur Nomor 0024);
196
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN FLORES TIMUR dan
BUPATI FLORES TIMUR MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA DETAIL TATA
RUANG KAWASAN PERKOTAAN WAIWERANG
TAHUN 2012-2032.
BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Kabupaten Flores Timur.
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Flores Timur. 3. Bupati adalah Bupati Flores Timur.
4. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
5. Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
6. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hirarkis memiliki hubungan fungsional.
7. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.
8. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
9. Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan penataan ruang.
197
10. Pengaturan penataan ruang adalah upaya pembentukan landasan hukum bagi Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam penataan ruang.
11. Pembinaan penataan ruang adalah upaya untuk meningkatkan kinerja penataan ruang yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah dan masyarakat. 12. Pelaksanaan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
13. Pengawasan penataan ruang adalah upaya agar penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan. 14. Perencanaan tata ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang
dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. 15. Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola
ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
16. Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang.
17. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
18. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan/atau aspek fungsional.
19. Rencana Detail Tata Ruang Perkotaan Waiwerang yang selanjutnya disingkat RDTR Perkotaan Waiwerang adalah rencana tata ruang kawasan perkotaan Waiwerang.
20. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung dan budidaya. 21. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.
22. Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan.
23. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
198
24. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
25. Pusat kegiatan lokal adalah pusat permukiman kota sebagai pusat jasa, pusat pengolahan dan simpul transportasi yang mempunyai pelayanan satu Kabupaten atau beberapa Kecamatan.
26. Kawasan prioritas adalah kawasan yang dianggap perlu diprioritaskan penanganannya serta memerlukan dukungan penataan ruang segera dalam kurun waktu perencanaan.
27. Kawasan pengendalian ketat adalah kawasan yang memerlukan pengawasan secara khusus dan dibatasi pemanfaatannya untuk mempertahankan daya dukung, mencegah dampak negatif, menjamin proses pembangunan yang berkelanjutan.
28. Bagian Wilayah Kota yang selanjutnya disingkat BWK adalah suatu wilayah dengan satu dan/atau semua bagian wilayah kota-perkotaan di dalamnya mempunyai hubungan hirarki yang terikat oleh arah kecenderungan pengembangan, ketersediaan sarana dan prasarana (fasilitas, utilitas), fungsi pelayanan, batasan fisik, aksesbilitas/kemudahan keterjangkauan.
29. Unit Lingkungan yang selanjutnya disingkat UL adalah suatu wilayah dengan satu dan/atau semua wilayah BWK di dalamnya mempunyai hubungan hirarki yang terikat oleh kesamaan fungsi dan peran utama kawasan.
30. Ekosistem adalah sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
31. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi mendatang.
32. Daya dukung lingkungan adalah kemampuan ekosistem untuk mendukung kehidupan organisme secara sehat sekaligus mempertahankan produktivitas, kemampuan adaptasi dan kemampuan memperbaruhi diri.
33. Ramah lingkungan adalah suatu kegiatan industri, jasa dan perdagangan yang dalam proses produksi atau keluarannya mengutamakan metoda atau teknologi yang tidak mencemari lingkungan dan tidak berbahaya bagi makhluk hidup. 34. Kawasan resapan air adalah kawasan di sekitar daerah permukiman yang
berfungsi untuk menampung, meresapkan dan mengalirkan limpahan air hujan, guna mencegah terjadinya genangan dan bahaya banjir.
199
35. Sempadan Sungai adalah kawasan di sekitar daerah aliran sungai yang berfungsi untuk melindungi sungai dari kegiatan yang dapat mengganggu atau merusak bantaran/tanggul sungai, kualitas air sungai, dasar sungai, mengamankan aliran sungai dan mencegah terjadinya bahaya banjir dan longsor.
36. Kawasan Cagar Budaya adalah kawasan yang di dalamnya terdapat atau mengandung bangunan dan lingkungan cagar budaya yang harus dilindungi untuk menjaga kelestarian bangunan dan lingkungan cagar budaya tersebut. 37. Kawasan Perumahan, adalah kawasan yang pemanfaatannya untuk perumahan
dan berfungsi sebagai tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan.
38. Kawasan Fasilitas Umum adalah kawasan yang dominansi pemanfaatan ruangnya sebagai tempat untuk melakukan aktifitas sosial dan pelayanan umum kepada masyarakat.
39. Kawasan Kantor Pemerintahan adalah kawasan yang dominansi pemanfaatan ruangnya adalah untuk penyelenggaraan kegiatan pemerintahan.
40. Kawasan pendidikan adalah kawasan yang dominansi pemanfaatan ruangnya adalah untuk penyelenggaraan kegiatan pendidikan dasar, lanjutan menengah sampai lanjutan atas.
41. Kawasan kesehatan adalah kawasan yang dominansi pemanfaatan ruangnya adalah untuk penyelenggaraan kegiatan pelayanan kesehatan.
42. Kawasan Perdagangan dan Jasa adalah merupakan kawasan yang didominansi pemanfaatan ruangnya untuk penyelenggaraan kegiatan perdagangan dan jasa baik dalam skala lokal wilayah Perkotaan Waiwerang, maupun dalam skala regional Kabupaten Flores Timur.
43. Kawasan Peribadatan adalah kawasan yang dominansi pemanfaatan ruangnya adalah untuk penyelenggaraan kegiatan peribadatan.
44. Kawasan Industri adalah kawasan yang didominasi pemanfaatan ruangnya untuk kegiatan-kegiatan di bidang industri yang dibedakan atas industri menengah dan industri kecil.
45. Kawasan Khusus adalah kawasan dengan kondisi dan karakteristik yang bersifat khusus karena jenis kegiatan yang diwadahi memiliki kondisi dan perlakuan tertentu seperti kawasan militer, kawasan industri strategis, kawasan lapangan terbang dan kawasan pelabuhan.
200
46. Kawasan sarana kebersihan adalah kawasan yang dominansi pemanfaatan ruangnya adalah untuk penyelenggaraan kegiatan penampungan sementara sampah kota.
47. Ruang Terbuka Hijau yang selanjutnya disingkat RTH adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja di tanam.
48. Koefisien Dasar Bangunan yang selanjutnya disingkat KDB adalah perbandingan antara luas dasar bangunan dan luas persil.
49. Koefisien Lantai Bangunan yang selanjutnya disingkat KLB adalah perbandingan antara luas lantai bangunan dan luas persil.
50. Tinggi Lantai Bangunan yang selanjutnya disingkat TLB adalah jumlah tinggi lantai bangunan dalam persil.
51. Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disingkat GSB adalah garis batas dalam mendirikan bangunan dalam suatu persil atau petak yang tidak boleh dilewati, sebagai garis pembatas fisik bangunan ke arah depan, belakang ataupun samping.
52. Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah yang selanjutnya disingkat BKPRD adalah Badan bersifat ad-hoc yang mempunyai fungsi untuk membantu pelaksanaan tugas Bupati dalam koordinasi penataan ruang di Daerah.
BAB II RUANG LINGKUP
Pasal 2
(1) Ruang lingkup teretori RDTR Perkotaan Waiwerang meliputi wilayah administratif Kelurahan Waiwerang Kota, Desa Lamahala Jaya, Desa Terong, Desa Waiburak, Dusun Watanpao Desa Beloto, Desa Saosina, Dusun Purinara Desa Narasaosina, Dusun Riang Bunga, Dusun Riang Rindu Desa Kiwangona dan Dusun Libu Desa Lamalota.
(2) RDTR Perkotaan Waiwerang meliputi Buku Rencana dan Album Peta RDTR Perkotaan Waiwerang yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 3
(1) RDTR Perkotaan Waiwerang memuat aturan tentang tujuan pengembangan kawasan fungsional perkotaan, struktur dan pola pemanfaatan ruang kawasan perkotaan.