• Tidak ada hasil yang ditemukan

15 Pasal 49 UU Kelautan, Ibid

Dalam dokumen Jurnal HLI Vol. 2 Issue 1 Juli 2015 (Halaman 107-116)

101

mengimplementasikan mandat-mandat hukumnya. Kesembilan PP yang dimandatkan tersebut adalah:

1. PP Kebijakan

Pembangunan Kelautan (Pasal 13)

PP mengatur proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan pembangunan kelautan, yang mencakup (a) pengelolaan Sumber Daya Kelautan; (b)

pengembangan sumber daya manusia; (c)

pertahanan, keamanan, penegakan hukum, dan keselamatan di laut; (d) tata kelola dan kelembagaan; (e) peningkatan kesejahteraan; (f) ekonomi kelautan; (g) pengelolaan ruang Laut dan pelindungan lingkungan Laut; dan (h) budaya bahari.

2. PP Industri

Maritim16 & Jasa Maritim17 (Pasal 27)

PP yang ada mengatur ketentuan detail agar industri dan jasa maritime mengacu pada Kebijakan Pembangunan Kelautan dan berorientasi pada kesejahteraan rakyatsesuai kebijakan ekonomi kelautan.

3. PP Penempatan

bangunan di

laut (Pasal 32)

PP yang ada memastikan bangunan di laut tidak mengganggu alur pelayaran maupun Alur Laut

Kepulauan Indonesia (“ALKI”) maupun

inkonsisten dengan daerah keselamatan, dengan mengatur kriteria, persyaratan dan mekanisme pendirian dan/atau penempatan bangunan di laut secara detail. Perihal aspek kelestarian sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil dalam pendirian bangunan laut juga merupakan aspek yang harus dijawab PP.

4. PP Kebijakan

Budaya Bahari (Pasal 36)

PP mengatur lebih lanjut mengenai Kebijakan Budaya Bahari dalam bentuk KRP, a.l. melalui: (a)

peningkatan pendidikan dan penyadaran

masyarakat tentang Kelautan yang diwujudkan melalui semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan; (b) identifikasi dan inventarisasi nilai budaya dan sistem sosial Kelautan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bagian dari sistem kebudayaan nasional; dan (c) pengembangan

16 Industri maritim a.l. mencakup galangan kapal, pengadaan dan pembuatan suku cadang, peralatan kapal dan/atau perawatan kapal. Lih: Pasal 27 ayat (1) UU Kelautan

17 Jasa maritime a.l. dapat berupa pendidikan dan pelatihan, pengangkatan benda berharga atas muatan kapal tenggelam, pengerukan dan pembersihan alur pelayaran, reklamasi, pencarian dan pertolongan, remediasi lingkungan, jasa konstruksi dan/atau angkutan sungai, danau, penyeberangan dan antarpulau. Lih: Pasal 27 ayat (2) UU Kelautan.

102

teknologi dengan tetap mempertimbangkan

kearifan lokal.

5. PP Pusat

Fasilitas

Kelautan (Pasal 38)

PP ini mengatur tugas, kewenangan, dan pembiayaan Pusat Fasilitas Kelautan, yang dimandatkan dibentuk oleh Pemerintah dengan bekerja sama dengan Pemerintah Daerah. Pusat Fasilitas Kelautan ini meliputi

fasilitas pendidikan, pelatihan, dan penelitian yang dilengkapi dengan prasarana kapal latih dan kapal penelitian serta tenaga fungsional peneliti.

6. PP Perencanaan

Ruang Laut

(Pasal 43)

Mendetailkan proses dan keluaran Perencanaan Ruang Laut yang meliputi (a) perencanaan tata ruang Laut nasional (menghasilkan Rencana Tata

Ruang Laut Nasional atau “RTRLN”); (b)

perencanaan zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (merujuk pada UU PWP2K); dan (c) perencanaan zonasi kawasan Laut (menghasilkan rencana zonasi kawasan strategis nasional, rencana zonasi kawasan strategis nasional tertentu, dan rencana zonasi kawasan antarwilayah).

7. PP Izin Lokasi di Laut yang berada di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi dan sanksi administratifnya (Pasal 47)

PP ini mendetailkan pemrosesan izin lokasi yang merupakan kewajiban bagi setiap orang yang melakukan pemanfaatan ruang Laut secara menetap di wilayah perairan dan wilayah Yurisdiksi untuk memiliki izin lokasi. PP juga akan mendetailkan sanksi administrative dalam hal terjadi pelanggaran.

8. PP Kebijakan

Tata Kelola dan Kelembagaan Laut (Pasal 69)

PP ini mendetailkan penetapan kebijakan tata kelola dan kelembagaan Laut oleh Pemerintah, yang meliputi rencana pembangunan sistem hukum dan tata pemerintahan serta sistem perencanaan, koordinasi, pemonitoran,

dan evaluasi Pembangunan Kelautan yang efektif dan efisien.

Penataan hukum laut dalam suatu sistem hukum nasional, baik melalui aspek publik maupun aspek

perdata dengan memperhatikan hukum

internasional juga dimandatkan dalam penyusunan kebijakan ini.

9. Bentuk dan Tata Cara Peran Serta

PP ini mendetailkan pelibatan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan

103 Masyarakat dalam Pembangunan Kelautan (Pasal 70)

kelautan. Partisipasi masyarakat ini dapat dilakukan dalam: (a) penyusunan kebijakan Pembangunan Kelautan; (b) Pengelolaan Kelautan; (c) pengembangan Kelautan; dan (d) memberikan

masukan dalam kegiatan evaluasi dan

pengawasan. Selain itu, partisipasi masyarakat juga dapat dilakukan dalam (a) melestarikan nilai budaya dan wawasan bahari serta merevitalisasi hukum adat dan kearifan lokal di bidang Kelautan; atau (b) pelindungan dan sosialisasi peninggalan budaya bawah air melalui usaha preservasi, restorasi, dan konservasi.

Kesembilan PP di atas merupakan pekerjaan rumah bagi pemerinah, namun juga merupakan peluang penormaan UU Kelautan ke dalam ketentuan-ketentuan pelaksana yang baik dan jelas. Secara umum, UU Kelautan merupakan peluang yang dapat didayagunakan dalam menjalankan penegakan hukum di laut apabila peratuan turunannya berhasil memfasilitasi peningkatan koordinasi. Dengan peningkatan

koordinasi, banyak “tangan” instansi sektoral yang selama ini memiliki

keterbatasan di laut terfasilitasi dengan pemberdayaan sumber daya yang ada dan jalur kerja sama yang saling memperkuat. Bagaimanapun, baik tidaknya implementasi koordinasi ini tidak terlepas dari (1) jelas tidaknya pembagian kewenangan agar tidak tumpang tindih; (2) bentuk dan mekanisme koordinasi antar instansi; dan (3) penanggung jawab yang memiliki otoritas memobilisasi kekuatan tersebut.

Hal lain yang juga sangat penting adalah harmonisasi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan UU Kelautan ini, termasuk mengintegrasikan harmonisasi sektoral ini dalam peraturan pelaksana UU Kelautan. DIM yang telah ada dalam proses pembuatan UU ini dapat menjadi patokan awal harmonisasi UU sektoral selanjutnya, akan tetapi penting dipikirkan bagaimana melakukan harmonisasi peraturan per-UU sektoral ini dan siapa lembaga yang akan memimpin pelaksanaannya. Kementerian Hukum dan HAM (Kemenhukham) melalui Direktorat Jenderal Harmonisasi Perundang-undangan merupakan salah satu lembaga yang potensial memimpin studi harmonisasi perundang-undangan sektoral di laut, utamanya dalam hal penegakan hukum.

Akhirnya, semua kalangan perlu berperan aktif mendukung maupun mengawasi kinerja pemerintah dalam menyelesaikan pekerjaan rumahnya

104

merumuskan semua PP yang dimandatkan UU ini. Kepentingan masyarakat sipil utamanya tercermin dalam PP Peran Serta Masyarakat dalam Pembangunan Kelautan. Lebih penting lagi, perlu didorong agar pembuatan semua PP dilakukan dengan transparan, tidak memihak kepentingan tertentu, dan dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya untuk mewujudkan gagasan sebagai poros maritim dunia sebagaimana telah dicanangkan pemerintah.

 

xi

 

P E D O M A N P E N U L I S A N

urnal Hukum Lingkungan Indonesia (JHLI) adalah media enam bulanan yang diterbitkan oleh Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) sebagai upaya mempublikasikan ide dan gagasan mengenai hukum lingkungan dan regulasi mengenai sumber daya alam. Jurnal Hukum Lingkungan Indonesia ditujukan bagi pakar dan para akademisi, praktisi, penyelenggara Negara, kalangan LSM serta pemerhati dan penggiat hukum lingkungan dan permasalahan tata kelola sumber daya alam.

Tema dan Topik

JHLI Volume II Issue 2, Desember 2015, bertema:

“Perlindungan dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Indonesia: Hukum dan Kebijakan”

Beberapa topik* yang dapat menjadi acuan dalam menyempitkan tema tersebut adalah: (1) perlindungan terhadap spesies terancam punah (endangered species), termasuk perburuan dan perdagangan internasional baik legal maupun illegal; (2) hak masyarakat adat dan hak asasi manusia dalam konservasi; (3) pengelolaan kawasan konservasi keanekagaraman hayati, termasuk pengamanan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya; (4) perdebatan hukum dalam preservasi versus konservasi lingkungan (nilai guna dan non-guna); (5) akses dan pembagian keuntungan sumber daya genetik; (6) perlindungan sumber daya genetik; dan (7) penegakan hukum (administrasi, pidana atau perdata).

Untuk setiap topik, diharapkan ulasan dapat menjawab satu atau lebih

pertanyaan kunci berikut:

1. Bagaimana potret hukum dan kebijakan lingkungan dalam topik yang bersangkutan?

2. Bagaimana persoalan-persoalan hukum dan kebijakan yang dihadapi dalam mengembangkan perlindungan & pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia dalam topik ybs?

3. Bagaimana gagasan-gagasan dalam memperbaiki dan mengembangkan hukum dan kebijakan terkait perlindungan & pengelolaan kenekaragaman hayati dalam topik ybs?

xii

*) Topik tidak bersifat wajib/mutlak, melainkan hanya sebagai panduan untuk mempermudah penulis dalam memilih isu terkait. Penulis dapat memilih topik apa saja yang masih relevan dan masuk dalam ruang lingkup tema besar.

Prosedur Pengiriman**

Penulis diharapkan mengirimkan abstrak sebelum 15 Agustus 2015 dengan menyertakan (1) nama lengkap; (2) institusi asal; (3) nomor telepon yang dapat dihubungi. Redaksi akan menghubungi penulis yang naskahnya diterima. Naskah final diterima paling lambat 31 Oktober 2015.

Abstrak maupun naskah artikel dapat dikirimkan melalui surat elektronik maupun melalui pos. Pengiriman melalui surat elektronik ditujukan ke

[email protected] dengan di-cc ke [email protected]. Pengiriman melalui pos disertai dengan tulisan “Jurnal Lingkungan Hidup Indonesia” di sudut kiri atas amplop, ditujukan ke alamat berikut:

Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) Jl. Dempo II no. 21, Kebayoran Baru

Jakarta Selatan 12120 DKI Jakarta

Pemilihan Tulisan

Pemilihan abstrak bersifat prosedural untuk menyaring artikel yang relevan dengan aspek hukum dan kebijakan, dilakukan secara internal oleh para peneliti ICEL. Redaksi akan menghubungi penulis yang abstraknya diterima selambat-lambatnya pada 31 Agustus 2015.

Pemilihan tulisan akhir melalui Sidang Redaksi yang terdiri dari para peneliti ICEL dan Mitra Bebestari. Tulisan yang dimuat akan diberikan honorarium yang layak, sementara tulisan yang tidak dimuat akan diberikan notifikasi pada tanggal 30 November 2015 dan merupakan hak penulis sepenuhnya. Sidang Redaksi dapat meminta penulis untuk melakukan perbaikan substansi maupun teknis terhadap tulisannya.

Persyaratan Formil

1. Abstrak ditulis dalam dua bahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris). Panjang abstrak tidak lebih dari 150 kata yang ditulis dalam

 

xiii

 

satu alinea. Abstrak mengandung ringkasan dari latar belakang, tujuan, metodologi, hasil dan kesimpulan;

2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan EYD dengan kalimat yang efektif;

3. Naskah diketik dengan Microsoft Word, ukuran halaman A4 dengan margin kiri 4 cm; kanan, atas, dan bawah 3 cm. Tulisan menggunakan huruf Times New Roman (TNR) 12 pt, spasi satu setengah tanpa spasi antar paragraph, dengan panjang naskah 4000 – 5000 kata.;

4. Tabel atau gambar harus jelas, dan ditempatkan di dalam naskah dengan keterangan daftar tabel dan/atau gambar pada bagian akhir naskah setelah daftar pustaka;

5. Artikel yang pernah disajikan dalam pertemuan ilmiah/seminar/lokakarya namun belum pernah diterbitkan dalam bentuk prosiding, perlu disertai keterangan mengenai pertemuan tersebut sebagai catatan kaki;

6. Judul artikel singkat dan jelas (maksimal 15 kata), diketik dengan huruf kapital. Nama ilmiah dan istilah asing lainnya diketik dengan huruf miring;

7. Semua kutipan harus mencantumkan referensi, dengan catatan kaki atau catatan akhir dengan format Chicago style sebagaimana dijelaskan dalam poin 7 dan 8, dan daftar pustaka pada bagian akhir naskah. 8. Tabel dan/atau gambar juga harus mencantumkan sumber. Untuk

memudahkan koreksi naskah, diharapkan penulisan catatan kaki (footnote) mengikuti ketentuan:

a. Phillipe Sands, Principles of Environmental Law, (Cambridge: Cambridge University Press, 2007), hlm. 342 – 344;

b. Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, Cetakan ke-8, Edisi ke-5, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991), hlm. 201 – 208;

c. Paul Scholten, Struktur Ilmu Hukum, Terjemahan dari De Structuur der Rechtswetenschap, Alih bahasa: Arief Sidharta, (Bandung: PT Alumni, 2003), hlm. 7;

d. “Peningkatan Kualitas Hakim Lingkungan Mendesak”, Sinar Harapan, 15 Januari 2014;

e. Prijono Tjiptoherijanto, “Jaminan Sosial Tenaga Kerja di Indonesia”, http://www.pk.ut.ac.id/jsi, diakses tanggal 2 Januari 2005.

Sedangkan untuk penulisan Daftar Pustaka sebagai berikut:

a. Sands, Phillipe. 2007. Principles of Environmental Law.

xiv

b. Burchi, Tefano. 1989. “Current Developments and Trends in Water Resources Legislation and Administration”. Paper presented at the 3rd Conference of the International Association for Water Law (AIDA). Alicante, Spain: AIDA, December 11-14. c. Dewiel, Boris. 2000. “What Is the People? A Conceptual History of Civil Society,” dalam Democracy, A History of Ideas. Vancouver: University of British Columbia Press.

d. Rahayu, Muji Kartika. 2006. “Sistem Peradilan Kita Harus Dibenahi: Analisis Putusan MK tentang UU Komisi Yudisial,”

Jurnal Konstitusi, Volume 3, Nomor 3, September 2006. Jakarta: Mahkamah Konstitusi.

e. Indonesia. Undang-undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

f. Sinar Harapan. “Peningkatan Kualitas Hakim Lingkungan Mendesak”. 15 Januari 2014.

g. Tjiptoherijanto, Prijono. Jaminan Sosial Tenaga Kerja di Indonesia, http://www.pk.ut.ac.id/jsi, diakses tanggal 2 Januari 2005.

9. Identitas penulis meliputi:

a. Nama lengkap penulis (dengan gelar akademis) b. Nama dan alamat lembaga penulis

c. Keterangan mengenai penulis untuk korespondensi disertai nomor telepon, handphone dan fax, serta alamat e-mail;

d. Nomor rekening Bank yang masih aktif;

Phone: (021) 7262740, 7233390

Fax: (021) 7269331

Dalam dokumen Jurnal HLI Vol. 2 Issue 1 Juli 2015 (Halaman 107-116)