• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENJATUHAN PIDANA DALAM TINDAK PIDANA MALPRAKTIK MEDIK (Studi Putusan Nomor: 75/Pid.Sus/2019/PN.Mbo)

C. Analisis Terhadap Pertimbangan Hukum Hakim Atas Pidana Yang Dijatuhkan

2. Pasal Yang Terbukti Menurut Hakim dalam Persidangan

Pasal yang terbukti terhadap Terdakwa kelalaian yang dilakukan oleh Tenaga Kesehatan dalam persidangan adalah Pasal alternatif kedua dari dakwaan Jaksa Penuntut Umum yaitu Pasal 84 Ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 yang di dalamnya termuat unsur sebagai berikut:

1) Unsur Tenaga Kesehatan, bahwa yang dimaksud Tenaga Kesehatan adalah orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan, yang meliputi subyek hukum orang, korporasi, maupun orang bersama korporasi yang diajukan ke persidangan karena didakwa melakukan tindak pidana Tenaga Kesehatan.

Bahwa adapun subyek hukum yang diajukan Penuntut Umum sebagai Terdakwa dalam perkara ini adalah orang yang bernama Erwanty, Amd.Keb (perawat staf ruang anak) dan Desri Amelia Zulkifli, Amd.Kep (staf ADM ruang anak).

2) Unsur melakukan kelalaian berat yang mengakibatkan kematian penerima pelayanan kesehatan, bahwa yang dimaksud dengan kelalaian (culpa) ada 2 sebagai berikut:

- Tidak adanya kehati-hatian;

- Kurangnya perhatian terhadap apa yang terjadi;

Bahwa kematian penerima pelayanan kesehatan (pasien yang bernama Alfareza) disini tidak dimaksud sama sekali oleh Terdakwa, akan tetapi kematian pasien tersebut hanya merupakan akibat dari kurang hati-hati atau lalainya Terdakwa (delik culpa).

Pada kasus ini Majelis Hakim berpendapat bahwa oleh karena tidak adanya kehati-hatian yang dilakukan oleh para Terdakwa dalam melakukan tindakan medis sehingga mengakibatkan korban Alfa Reza meninggal dunia sehingga unsur melakukan kelalaian berat yang mengakibatkan kematian penerima pelayanan kesehatan telah terpenuhi dari perbuatan para Terdakwa. Karena semua unsur dari Pasal 84 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 telah terpenuhi, maka Terdakwa dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan dalam dakwaan alternatif kesatu.

Di dalam persidangan, Majelis Hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana baik sebagai alasan pembenar maupun alasan pemaaf, maka Terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan oleh karena Terdakwa mampu bertanggung jawab, maka harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana.

Penjatuhan hukuman oleh Hakim kepada Terdakwa pelaku tindak pidana bukanlah merupakan hal yang salah, akan tetapi sebaiknya Hakim

menimbang kembali apakah putusan hukuman yang dijatuhkan telah memberikan perlindungan terhadap Terdakwa, dan telah memberi manfaat atau sebaliknya.

Perkara para Terdakwa Tenaga Kesehatan Erwanty, Amd.Keb dan Desri Amalia Zulkufli, Amd.Kep Nomor: 75/Pid.Sus/2019/PN.Mbo, Hakim telah menjatuhkan putusan pidana penjara masing-masing selama 2 (dua) Tahun kepada para Terdakwa. Penjatuhan pidana tersebut oleh Hakim tentu memiliki pertimbangan-pertimbangan, baik pertimbangan yuridis maupun non yuridis. Berikut pertimbangan yuridis dan non yuridis hakim dalam menjatuhkan putusan dalam perkara Terdakwa kelalaian yang dilakukan oleh Tenaga Kesehatan:

a. Pertimbangan Yuridis

Pertimbangan yuridis merupakan pertimbangan hakim yang didasarkan pada fakta-fakta yuridis yang terungkap dalam persidangan dan oleh undang-undang di tempatkan sebagai hal yang harus dimuat di dalam putusan.

a) Dakwaan Jaksa Penuntut Umum, Hal yang akan dilihat oleh Majelis Hakim dari dakwaan Jaksa Penuntut Umum adalah Hakim akan mempertimbangkan apakah terdakwa telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa. Apabila unsur-unsur perbuatan pidana yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum telah terpenuhi berdasarkan fakta-fakta hukum dalam persidangan serta alat bukti dan barang-barang bukti, maka Hakim akan menjatuhkan pidana yang sesuai dengan perbuatan

pidana dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum terhadap terdakwa.

Dan sebaliknya, apabila unsur-unsur dalam perbuatan pidana yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum tidak terpenuhi maka Hakim dapat menjatuhkan putusan bebas terhadap terdakwa.139 Perkara Nomor 75/Pid.Sus/2019/PN.Mbo dengan Terdakwa Erwanty, Amd., Keb dan Desri Amelia Zulkifli Amd,. Kep, telah didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum dengan menggunakan sistem dakwaan alternatif yakni:

Kesatu:

Jaksa Penuntut Umum mendakwa Erwanty, Amd. Keb dan Desri Amelia Zulkifli, Amd. Kep melanggar Pasal 84 Ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan.

Kedua:

Jaksa Penuntut Umum dalam uraian dakwaan keduanya menilah bahwa terdakwa Erwanty, Amd. Keb dan terdakwa Desri Amelia Zulkifli telah melanggar Pasal 359 KUHP.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan Hakim terhadap surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum dan berdasarkan fakta-fakta hukum yang diajukan dalam persidangan Terdakwa, Hakim Majelis berpendapat bahwa dakwaan alternatif kesatu yang lebih tepat didakwakan kepada Terdakwa dan oleh karena itu pula maka

139 Waluyo, Bambang, Pidana dan Pemidanaan, Jakarta (Sinar Grafika, 2008), hlm. 86

Hakim Majelis memilih untuk mempertimbangkan dakwaan alternatif kesatu dan mengesampingkan dakwaan alternatif kedua.

Dakwaan alternatif kesatu Jaksa Penuntut Umum terhadap Terdakwa adalah bahwa perbuatan para Terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 84 Ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan.

Pasal 84 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan memiliki unsur antara lain:

- Unsur setiap Tenaga Kesehatan;

- Unsur melakukan kelalaian berat yang mengakibatkan kematian penerima pelayanan kesehatan.

Hakim dalam perkara Nomor: 75/Pid.Sus/2019/PN.Mbo telah mempertimbangkan unsur-unsur dalam Pasal 84 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan telah dipenuhi oleh perbuatan para Terdakwa dan oleh karena menurut pertimbangan Majelis Hakim, tidak terdapat adanya alasan-alasan pemaaf maupun alasan-alasan pembenar atas perbuatan yang dilakukan oleh Terdakwa Anak tersebut, maka para Terdakwa harus dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam surat dakwaan pasal alternatif kesatu dan harus dijatuhi pidana.

Berdasarkan pertimbangan Hakim terhadap dakwaan Jaksa Penuntut Umum diatas jelaslah bahwa dakwaan Jaksa Penuntut Umum dalam perkara Nomor : 75/Pid.Sus/2019/PN.Mbo menjadi dasar pertimbangan yuridis Hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana terhadap para Terdakwa.

b) Keterangan Saksi

Persidangan Terdakwa Tenaga Kesehatan telah menghadirkan 17 (tujuh belas) orang saksi, 5 (lima) orang ahli, yaitu 17 (tujuh belas) orang saksi yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum, 3 (tiga) orang ahli yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum, 2 (dua) orang ahli yang diajukan para terdakwa.

Keterangan dari saksi-saksi dan ahli tersebut membenarkan bahwa telah terjadi perbuatan pidana yang dilakukan oleh Terdakwa sesuai dengan dakwaan Jaksa Penuntut Umum, antara lain perbuatan melakukan kelalaian berat yang mengakibatkan kematian penerima pelayanan kesehatan.

Hakim berpendapat bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi dan ahli dalam persidangan benar telah terjadi perbuatan pidana sesuai dengan dakwaan Jaksa Penuntut Umum dan pelakunya merupakan Terdakwa Erwanty, Amd.Keb dan Desri Amelia Zulkifli Amd.Kep. Hal ini mengartikan bahwa keterangan saksi dan ahli merupakan salah satu bahan pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan perkara Nomor : 75/Pid.Sus/2019/PN.Mbo. Dan berdasarkan pertimbangan hakim

terhadap keterangan saksi-saksi dalam perkara Nomor : 75/Pid.Sus/2019/PN.Mbo, Hakim berkeyakinan bahwa benar telah terjadi perbuatan kelalaian (culpa) sesuai dengan dakwaan Jaksa Penuntut Umum yang dilakukan oleh para Terdakwa.

c) Keterangan Terdakwa

Terdakwa yang dalam keterangannya dipersidangan telah mengakui perbuatannya akan mempermudah Hakim menemukan kebenaran dan menjadi pertimbangan Hakim untuk meringankan sanksi pidana terdakwa. Namun dalam hal terdakwa tidak mengakui perbuatannya akan menjadi kesulitan bagi Hakim dalam mencari kebenaran suatu perkara.

Terdakwa Erwanty, Amd.Keb dan Desri Amelia Zulkifli, Amd.Kep dalam perkara Nomor : 75/Pid.Sus/2019/PN.Mbo telah memberi keterangan yang pada pokoknya adalah:

- Terdakwa membenarkan telah terjadi perbuatan pidana yang dilakukannya sesuai dengan dakwaan jaksa penuntut umum;

- Terdakwa telah menyadari perbuatannya dan mengakui bersalah telah melakukan tindak pidana sesuai dengan dakwaan jaksa penuntut umum;

- Terdakwa berjanji tidak akan mengulangi perbuatan tersebut.

Keterangan para Terdakwa dalam persidangan telah menjadi pertimbangan Hakim dan menambah keyakinan

Hakim bahwa benar telah terjadi perbuatan pidana oleh Terdakwa sesuai dengan dakwaan Jaksa Penuntut Umum dalam perkara Nomor : 75/Pid.Sus/2019/PN.Mbo ditambah dengan fakta-fakta hukum yang terungkap di dalam persidangan.

Kemudian dengan pengakuan Terdakwa lewat keterangannya, Hakim mempertimbangkan hal tersebut untuk meringankan Terdakwa karena telah mempermudah jalannya persidangan dan berdasarkan pertimbangan Hakim terhadap keterangan Terdakwa dalam perkara Nomor:

75/Pid.Sus/2019/PN.Mbo, Hakim berkeyakinan bahwa benar telah terjadi perbuatan kelalaian sesuai dengan dakwaan Jaksa Penuntut Umum yang dilakukan oleh para Terdakwa.

d) Barang Bukti

Sebagai alat-alat bukti yang sah, menurut ketentuan Pasal 184 ayat (1) KUHAP, adalah:

- Keterangan saksi;

- keterangan ahli;

- surat;

- petunjuk;

- keterangan terdakwa.

Dalam KUHAP, selain istilah alat bukti, juga dikenal istilah barang bukti. Dari daftar alat-alat bukti yang sah yang

dikemukakan di atas, tampak bahwa barang bukti tidak disebutkan sebagai termasuk ke dalam salah satu alat bukti yang sah. Dengan kata lain, barang bukti bukanlah alat bukti.

Dalam Bahasa Indonesia, digunakannya istilah barang bukti sudah langsung menunjukkan bahwa hal itu berupa suatu barang atau benda. Beberapa contoh barang bukti dalam perkara pidana, yaitu:140

1) Barang yang digunakan untuk melakukan tindak pidana;

2) Barang yang merupakan hasil suatu tindak pidana;

3) Benda yang menjadi obyek dalam tindak pidana.

Dalam Perkara Nomor: 75/Pid.Sus/2019/PN.Mbo telah ditetapkan beberapa Barang bukti yakni Barang Bukti A yang dianalisis adalah positif mengandung Ketorolac yang berfungsi sebagai NSAID/Analgesic, Barang Bukti B yang dianalisis adalah positif mengandung Ranitidine yang berfungsi sebagai Histamine H2 Receptor Antagonist dan barang bukti C yang dianalisis adalah positif mengandung Atracurium Besilate yang berfungsi sebagai Skeletal Muscle Relaxant (Perelaksasi Otot). Yang mana pada saat kejadian Terdakwa I melakukan kelalaian dengan menyuntikkan barang bukti C ke tubuh korban Alfa Reza yang menyebabkan korban Alfa Reza kejang hingga meninggal dunia.

e) Barang Bukti Surat

140 Lokas, Richard, Lex Crimen: “Barang Bukti dan Alat Bukti Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana”, Vol. II No. 3, Juli 2013, hlm. 47

Persidangan Terdakwa dalam perkara Nomor:

75/Pid.Sus/2019/PN.Mbo telah mengahadirkan alat bukti surat yang berupa buku pengeluaran obat DEPO Farmasi IGD RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, Tanggal 02 Oktober 2018 s/d 25 Oktober 2018 dan 1 (satu) Eksemplar berkas rekam medik atas nama Alfareza, jenis kelamin laki-laki, umur 11 tahun, pekerjaan pelajar, alamat Gp. Pante Ceuremen Kab. Aceh Barat. Alat bukti surat tersebut dijadikan bahan pertimbangan oleh Hakim untuk membuktikan terpenuhinya unsur-unsur dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum terhadap Terdakwa.

Berdasarkan pertimbangan Hakim tersebut diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa apabila Terdakwa dijatuhkan pidana penjara, maka pidana penjara yang dijatuhkan adalah ½ (seperdua) dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum yaitu ½ (seperdua) dari 5 (lima) tahun pidana penjara, yaitu pidana penjara 2 (dua) tahun dan 5 (lima) bulan. Namun dalam kasus perkara Nomor : 75/Pid.Sus/2019/PN.Mbo Hakim memutus perkara Terdakwa Erwanty, Amd.Keb dan Desri Amelia Zulkifli, Amd.Kep dibawah 2 (dua) tahun dan 5 (lima) bulan yaitu pidana penjara selama 2 (dua) tahun.

b. Pertimbangan Non Yuridis

Pertimbangan-pertimbangan Non yuridis Hakim dalam perkara Nomor: 75/Pid.Sus/2019/PN.Mbo antara lain:

a) Hal-hal yang memberatkan Terdakwa antara lain:

- Perbuatan para Terdakwa mengakibatkan korban Alfareza meninggal dunia;

- Perbuatan para Terdakwa Dilakukan secara sadar dan tidak sesuai dengan SPO yang ditetapkan oleh oleh RSUD Cut Nyak Dhien Melabouh dan para Terdakwa mengetahui serta menyadari penuh akan hal tersebut tetapi tetap melakukannya.

b) Hal-hal yang meringankan Terdakwa antara lain:

- Para Terdakwa berterus terang dan menyesali perbuatannya;

- Para Terdakwa bersikap sopan selama di persidangan;

- Para Terdakwa belum pernah dihukum sebelumnya.

Menimbang bahwa dengan pemikiran yang demikian ini, maka tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang menuntut agar Terdakwa dijatuhi pidana penjara selama 5 (lima) tahun, menurut Hakim Majelis masih terlalu berat bagi para Terdakwa dan oleh karena itu pula harus diturunkan, sehingga tujuan dari pemidanaan itu sendiri khususnya terhadap diri Para Terdakwa akan lebih tepat dan bermanfaat. Sehingga, pertimbangan Yuridis dan Non Yuridis sendiri menjadi salah satu bahan pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap Para Terdakwa yang akhirnya Majelis Hakim menjatuhkan pidana penjara pada masing-masing Terdakwa selama 2 (dua) Tahun dan membebani para Terdakwa

untuk membayar biaya perkara masing-masing sejumlah Rp. 2.000,- (Dua Ribu Rupiah).

Dari sudut pertanggungjawaban pidana, para Terdakwa dapat dimintakan pertanggung jawaban karena tidak cacat secara kejiwaan, tidak karena terpaksa bertindak, tidak karena jabatan dan perintah penguasa dia melakukannya atau yang diatur dalam KUHP mengenai siapa siapa saja yang tidak dapat diminta pertanggungjawaban.Jika berpedoman dengan hal tersebut maka secara mutlak terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Malpraktik medik adalah kelalaian dari seorang dokter maupun tenaga kesehatan untuk mempergunakan tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim dipergunakan dalam mengobati pasien atau orang yang terluka dengan cara yang tidak sesuai menurut ukuran di lingkungan dan situasi yang sama. Pengaturan terkait malpraktik medik sendiri terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) antara lain di Pasal 322, 359, 360, 361, 386, dan 531. Di dalam kasus malpraktik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, ada 3 unsur yang menonjol yaitu tenaga kesehatan telah melakukan kesalahan dalam melaksanakan profesinya, tindakan tenaga tersebut dilakukan karena kealpaan atau kelalaian, kesalahan tersebut akibat tenaga kesehatan tidak mempergunakan ilmu pengetahuan dan tingkat keterampilan yang seharusnya dilakukan berdasarkan standar profesi, dan adanya suatu akibat yang fatal yaitu meninggalnya pasien atau pasien menderita luka berat.

2. Dalam contoh kasus nomor 03/Pid.B/2015/PN.Jkt.Brt, 79PK/Pid/2013, dan nomor 590K/Pid/2012, Jaksa membuat dakwaan dengan menggunakan pasal-pasal dalam KUHP Buku II tentang Kejahatan, yaitu Pasal 263 ayat (1) dan (2) (pemalsuan surat); Pasal 359 (menyebabkan

kematian karena kealpaan); Pasal 360 ayat (1) dan (2) (menyebabkan luka berat karena kealpaan); Pasal 361 (Pasal 359 dan 360 dilakukan dalam menjalankan suatu jabatan atau pekerjaan); Pasal 378 (penipuan). Hakim juga menjatuhkan pidana dengan pasal-pasal KUHP pada kasus nomor 6 dan 7. Pasal yang digunakan yaitu Pasal 359, 360 ayat (1) dan (2), serta Pasal 361.

3. Hal yang akan dilihat oleh Majelis Hakim dari dakwaan Jaksa Penuntut Umum adalah Hakim akan mempertimbangkan apakah terdakwa telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa.

Apabila unsur-unsur perbuatan pidana yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum telah terpenuhi berdasarkan fakta-fakta hukum dalam persidangan serta alat bukti dan barang-barang bukti, maka Hakim akan menjatuhkan pidana yang sesuai dengan perbuatan pidana dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum terhadap terdakwa. Dan sebaliknya, apabila unsur-unsur dalam perbuatan pidana yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum tidak terpenuhi maka Hakim dapat menjatuhkan putusan bebas terhadap terdakwa. Hakim dalam menjatuhkan putusan dalam perkara Terdakwa kelalaian yang dilakukan oleh Tenaga Kesehatan menggunakan pertimbangan Yuridis dan Non Yuridis. Pertimbangan yuridis merupakan pertimbangan hakim yang didasarkan pada fakta-fakta yuridis yang terungkap dalam persidangan dan oleh undang-undang di tempatkan sebagai hal yang harus dimuat di dalam putusan. Sedangkan untuk pertimbangan-pertimbangan Non yuridis Hakim melihat dari hal-hal yang memberatkan Terdakwa antara lain perbuatan para Terdakwa

mengakibatkan korban meninggal dunia, perbuatan para Terdakwa Dilakukan secara sadar dan tidak sesuai dengan SPO yang ditetapkan oleh RSUD Cut Nyak Dhien Melabouh dan para Terdakwa mengetahui serta menyadari penuh akan hal tersebut tetapi tetap melakukannya, dan hal-hal yang meringankan Terdakwa antara lain para Terdakwa berterus terang dan menyesali perbuatannya, para Terdakwa bersikap sopan selama di persidangan, para Terdakwa belum pernah dihukum sebelumnya, maka dari hal tersebut para Majelis Hakim menjatuhkan pidana penjara pada 2 (dua) terdakwa tersebut.

B. SARAN

Adapun saran yang dapat Penulis sampaikan adalah sebagai berikut:

1. Hendaknya bagi para Tenaga Kesehatan harus memperhatikan seluruh aspek yang akan dilakukan dan selalu memegang prinsip kehati-hatian sebelum pemberian tindakan agar kedepannya pasien tidak lagi menjadi korban dari suatu kelalaian atau malpraktik yang diperbuat oleh Tenaga Kesehatan yang dapat menyebabkan timbulnya suatu perbuatan pidana yang dapat dijatuhkan pidana akibat dari perbuatan kelalaian tersebut, dan perlunya memberikan pemaparan mengenai pengaturan penjatuhan pidana di dalam Undang-Undang Khusus maupun KUHP yang berkaitan dengan kesehatan kepada para tenaga kesehatan, agar para tenaga kesehatan mampu memahami apa saja perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang bertentangan dengan hukum pidana dan apabila perbuatan tersebut dilakukan maka dapat dijatuhkan hukuman pidana.

2. Dapat dilihat dari beberapa contoh kasus, bahwasannya jika ada pelanggaran pidana yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam menjalankan profesinya seharusnya Jaksa dan Hakim harus menerapkan asas Lex Spesialis Derogat Legi Generalis yang mana pada asas ini dapat diartikan Undang-Undang yang Khusus akan mengenyampingkan Undang-Undang yang Umum. Akan tetapi dalam beberapa contoh kasus pada Tabel 1 tersebut Hakim dan Jaksa masih saja menggunakan Pasal-Pasal yang ada di dalam KUHP dalam membuat dakwaan dan menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa, seharusnya ketika sudah ada Undang-Undang Khusus yang mengatur atau berkaitan dengan ketentuan pidana kesehatan maka para Jaksa dan Hakim haruslah menggunakan Undang-Undang yang Khusus dan Mengesampingkan Undang-Undang Yang Umum untuk mendakwakan dan menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa tenaga kesehatan yang melakukan pelanggaran pidana dalam menjalankan profesinya.

3. Dalam penjatuhan pidana terhadap tenaga kesehatan, Hakim harus dapat mencari dan mengetahui dengan sungguh-sungguh apa penyebab tenaga kesehatan melakukan tindak pidana dan unsur-unsur apa saja yang telah terpenuhi dalam perbuatan tersebut. Oleh karena itu, Hakim-Hakim yang kompeten dalam menangani perkara pidana mengenai kesehatan diharapkan dapat meneliti dengan baik perkara tenaga yang melakukan tindak pidana sehingga dapat dijatuhkan sanksi yang sesuai dan mencerminkan perlindungan terhadap pasien. Penjatuhan sanksi terhadap tenaga kesehatan yang melakukan tindak pidana harus mempertimbangkan berbagai faktor yang ada di persidangan. Oleh karena itu, Hakim harus jeli untuk melihat

berbagai faktor tersebut agar dapat menjatuhkan sanksi yang adil bagi masyarakat. Pertimbangan-pertimbangan tersebut harus dibuat dengan sejelas-jelasnya dalam suatu putusan sebagai wujud pertanggungjawaban terhadap masyarakat.