Pasang Surut Boedi Oetomo

Dalam dokumen PERAN PAKU BUWONO X DALAM PERGERAKAN NASIONAL (Halaman 91-96)

BAB IV. HASIL PENELITIAN

B. Peran Keraton Dalam Pergerakan Kebangsaan

2) Pasang Surut Boedi Oetomo

Periode akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan periode awal pertumbuhan modernisasi masyarakat bumi putera. Modernisasi dalam hal ini diartikan sebagai hasrat untuk mencapai kemajuan dengan menunutut pelajaran dan pendidikan, terutama pendidikan model Barat. Paham-paham baru mulai berlaku, timbul keberanian meniggalkan tradisi kuno, dan adanya dorongan yang semakin kuat untuk memperoleh kemajuan. Boedi Oetomo sebagai suatu pergerakan nasional pertama didirikan atas dasar tuntutan kemajuan itu. Tuntutan kemajuan yang direfleksi dalam bentuk suatu organisasi itu sebenarnya suatu jawaban terhadap penetrasi Barat dengan imperialisme dan kolonialismenya (Cahyo Budi Utomo, 1995:49).

commit to user

Kongres Boedi Oetomo yang pertama diselenggarakan di Yogyakarta pada bulan Oktober 1908 dan diketuai oleh Dr. Wahidin Soedirihoesodo. Kongres pertama ini diadakan di daerah Vorstenlanden karena mendapat dukungan dari Pangeran Notodiredjo dari keluarga Pakualaman. Kongres ini diadakan untuk mengesahkan anggaran dasar dan untuk memilih pengurus. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira 300 orang Jawa, sebagian besar sendiri dari para priyayi yang datang dari Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pembesar yang hadir adalah Pangeran Notodiredjo. Dalam kongres pertama ini banyak diadakan diskusi mengenai pendidikan barat terhadap masyarakat. Banyak pro dan kontra mengenai hal ini. Dr. Wahidin dan Dr. Tjiptomangoenkoesoemo, mereka adalah dokter keraton dari keraton Kasunanan Surakarta, termasuk yang kontra. Juga ikut bicara Goenawan Mangoenkoesoemo dan Dr. Soetomo. Usul dari Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo agar Boedi Oetomo melangkah keluar, jangan hanya membatasi pada pebdidikan dan kebudayaan saja, melainkan juga harus terjun dalam bidang politik, tidak diterima oleh kongres. Mungkin kongres tidak berani mengambil resiko jika permohonan mendirikan partai ditolak oleh pemerintah Belanda (R.M Karno, 1990: 191).

Kongres itu menetapkan tujuan perumpulan adalah kemajuan yang selaras (harmonis) untuk negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industry, kebudayaan (kesenian dan ilmu). Sebagai ketua pengurus Besar yang pertama dipilih R.T Tirtokusumo bupati Karanganyar dan Wahidin Soedirohoesoedo sebagai wakil ketuanya. Sedang anggota-anggota pengurus besar yang lain adalah para pegawai negeri atau bekas pegawai negeri. Pusat perkumpulan ditempatkan di Yogyakarta (A.K Pringgodigdo, 1994: 1-2).

Dari kongres itu akhirnya berhasil diambil keputusan bahwa: 1) Boedi Oetomo tidak ikut mengadakan kegiatan politik.

2) Kegiatan terutama ditujukan kepada bidang pendidikan dan kebudayaan. Ruang gerak terbatas hanya untuk daerah Jawa dan Madura (kemudian diluaskan melingkupi Bali karena dianggap mempunyai kebudayaan yang sama) (Cahyo Budi Utomo, 1995:49).

commit to user

Menjelang akhir tahun 1908 Boedi Oetomo telah mempunyai 10.000 anggota dalam 40 cabang, tetapi karena kepemimipinan Tirtokoesoemo yang kurang bersemarak maka organisasi ini merana hingga ia mengundurkan diri pada tahun 1911 atau 1912. Sesudah ia diganti sebagai ketua dalam bulan Agustus 1912 oleh Pangeran Notodirojo maka Boedi Oetomo memperlihatkan semangat baru di Vorstenlanden, dengan segera mendirikan dua sekolah di Yogyakarta dan sebuah di Surakarta (George D. Larson, 1990: 85).

Pendirian Boedi Oetomo di Surakarta tidak begitu jelas kapan tepatnya, tetapi banyak kemungkinan hal ini terjadi kira-kira sekitar paruh terakhir tahun 1908. Kita tahu dengan pasti bahwa sudah ada cabang pada tahun 1909 yang dianggap luar biasa kuatnya. Akan tetapi pada tahun yang sama cabang ini tidak meneruskan kegiatannya sebab tidak bisa setuju dengan policy yang ditetapkan oleh pengurus pusat. Penghentian ini hanya bersifat sementara, dan kemudian cabang Surakarta tampil sebagai salah satu cabang yang paling penting. Misalnya, sekitar tahun 1912 kantor percetakan dari cabang Surakarta telah mengambil alih

Darmo Kondo, sebuah surat kabar Melayu Jawa yang didirikan pada tahun 1904

di bawah manajemen Cina. Pada bulan November 1913 ketika Jurnal resmi Boedi Oetomo menghentikan publikasi selam dua tahun, maka peranannya dipegang oleh Darmo Kondo (George D. Larson, 1990: 85-86).

Orang besar di belakang layar kebangunan kembali budaya Jawa adalah Prangwedana, kepala pura kedua di Surakarta yang maju, yaitu Mankunegaran. Ketika Prangwedana masih dengan nama R.M.A Soerjosoeparto, dari tahun 1914 sampai 1915 R.M.A Soerjosoeparto tinggal di negeri Belanda dan belajar di Leiden. Sekembalinya di Hindia, bulan Agustus 1915 ia menjadi ketua Boedi Oetomo, Maret 1916 ia menggantikan pamannya, Mangkunegoro VI. Akibatnya Soerjosoeparto harus melepaskan jabatan-jabatan politiknya. Soerjosoeparto adalah orang modern dan berpendidikan, yang berlainan dengan raja-raja lain secara aktif ikut campur dalam pemerintahan negerinya.Semangatnya untuk tidak hanya di dalam nama menjadi kepala swapraja menyebabkannya sering bentrok dengan residen-residen Surakarta yang konservatif seperti F.P Sollewijn Gelpke (1914-1918) dan A.J.W. Harloff (1918-1922). Sunan Paku Buwono X sebagai

commit to user

penguasa kerajaan yang lebih besar di Surakarta sama sekali tidak suka dengan aktivitasnya. Usaha-usaha Sunan untuk mengingatkan Prangwedana selalu mengakibatkan konflik (Hans van Miert, 2003: 120-121).

R.M.A Soerjosoeparto (calon Mangkunegoro VII) memainkan peran yang sangat menonjol dalam tahun-tahun pertama Boedi Oetomo cabang Surakarta. Pada tahun 1917 Pangeran Hadiwidjojo, salah seorang putra Paku Buwono X yang lebih terkenal, menjadi ketua cabang, dan sekitar Juni 1919 kedua calon terpenting untuk tahta Surakarta juga telah menjadi peserta. Pangeran Hangabehi, putra sulung Paku Buwono X, masuk dalam pengurus cabang, sedangkan putra kedua, Pangeran Koesoemojoedo, telah menjadi pelindung. Dibawah pimpinan dua ketua nasional yang pertama Boedi Oetomo membatasi dirinya pada soal sosio-kultural dan menjadi relative kurang dikenal karena munculnya organisasi lain, terutama Sarekat Islam yang mendapat dukungan massa.Tetapi dalam bulan September 1914 Boedi Oetomo untuk pertama kalinya mencoba memasuki dunia politik di bawah pimpinan Dr. Radjiman, dokter Istana Kasunanan Surakarta yang memegang kedudukan sebagai pejabat ketua dalam bulan Agustus 1914 sesudah Notodirodjo mengundurkan diri karena sakit. Radjiman adalah seorang nasionalis yang bergairah tetapi konservatif dengan loyalitas yang mendalam terhadap Susuhunan (George D. Larson, 1990: 86).

Pada kongres tanggal 8-9 Juli 1916 di Surabaya, Soerjosoeparto mengundurkan diri sebagai ketua Boedi Oetomo. Sebagai penggantinya terpilih RMA. Woerjaningrat, seirang yang terkenal anti Belanda dari Keraton Surakarta. Woerjaningrat memegang jabatan ketua sampai 9 tahun, dengan diselingi berhenti sebentar. Woerjaningrat sangat dongkol terhadap Belanda dalam masalah penggantian pepatih-dalem lama kepada yang baru Djojonegoro. Woerjaningrat merasa lebih berhak menggantikan Sosrodiningrat, bahkan sebenarnya sudah dicalonkan oleh Sinuhun. Tetapi Belanda tidak suka dengan Woerjaningrat karena selalu menentang Belanda, sampai-sampai salah seorang gubernur Surakarta member sebutan padanya “setan jahat dari keraton”. Dengan tidak diangkatnya menjadi pepatih-dalem, Woerjaningrat semakin membenci Belanda. Pepatih- dalem keraton merupakan abdi-dalem Sinuhun. Berhubung pentingnya kedudukan

commit to user

pepatih-dalem, pengangkatannya benar-benar dilakukan oleh Sinuhun sendiri, namun dari calon yang dipilh Belanda. Dibawah pimpinan Woerjaningrat, Boedi Oetomo menjadi lebih mantap. Pada tahun 1918 Boedi Oetomo cabang Surakarta berada digaris depan. Cabang Surakarta memiliki 315 anggota, Yogyakarta 70 anggota, Surabaya 139 anggota, Batavia 94 anggota dan weltevreden paling banyak yaitu 601 anggota, dengan keseluruhan anggota sekitar 10.000 orang. Cabang-cabangnya meningkat, yang tercatat pada tahun 1918 dari 40 menjadi 51 cabang. Ini menunjukan bahwa Boedi Oetomo bukan partai massa. Inilah sebenarnya yang kurang disukai Woerjaningrat, karena itu Weorjaningrat berupaya memperbesar basis partai. Pada tahun 1920 cabang partai meningkat menjadi 65 cabang dan 14 calon cabang, pada tahun 1921 manjadi 90 cabang (R.M Karno, 1990: 192-193).

Pada kongres Boedi Oetomo antara 5-7 Juli 1917 Pengurus Besar mengusulkan agar paragraf keagamaan yang bersifat netral dalam program partai digantikan dengan paragraf yang menguntungkan Islam. Tujuannya adalah untuk meluaskan keanggotaan. Sesudah Radjiman Widiodiningrat mengucapkan pidato garang, dimana ia mengemukakan pendiriannya bahwa budaya Jawa bukanlah budaya Islamis, melainkan Hinduis-Buddhis, maka versi lama dipertahankan (Hans van Miert, 2003: 165-166).

Pada tahun 1920 muncul muka baru di Keraton RT. Mr. Wongsonegoro, pimpinan pusat Jong Java, dan juga merupakan tangan kanan Woerjaningrat. Dr. Soetomo mendirikan Indonesische Studie Club di Surabaya pada tahun 1924. Dua tahun kemudian Surakarta menyusul mendirikan Studi Club ini. Keanggotaannya tidak besar, hanya beberapa politisi terkemuka diantaranya Woerjaningrat dan Dr. Rajiman Widiodiningrat. Salah satu kegiatannya adalah menerbitkan majalah Timboel, yang pro keraton Surakarta dan nasionalistis. Terbit dua bulan sekali sejak Januari 1927. Redaksinya Dr. Rajiman dan RP. Mr. Singgih. Majalah ini menerima subsidi 200 gulden tiap bulan dari kas keraton Surakarta dan dana pribadi dari Pangeran Koesoemojudo. Timboel berkampanye menyerang politik Belanda dan terus menuntut otonomi yang lebih longgar. Mr. Singgih, redaktur Timboel merupakan tokoh baru yang memperkuat suara keraton Surakarta. Ia

commit to user

sendiri berasal dari Pasuruan, sejak belajar ilmu hukum di negeri Belanda sudah menjadi anggota Perhimpunan Indonesia, suatu perkumpulan mahasiswa – mahasiswa Indonesia yang nasionalistis dan militant. Sekembalinya di Indonesia banyak diantara mereka yang menjadi pemuka gerakan nasional. Mr. Singgih juga ikut aktif di Boedi Oetomo sekretaris pertama pimpinan pusat. Dengan kembalinya Mr. Singgih ke Surakarta pada 28 April 1928, keraton Surakarta kembali akrab dengan Boedi Oetomo. Dalam pimpinan pusat Boedi Oetomo nampak duduk banyak tokoh-tokoh keraton Surakarta. RMA. Koesoemo Oetojo: ketua; RM. Woerjaningrat : wakil ketua; RP. Mr. Singgih : sekretaris pertama; M. Seodarjo : sekretaris kedua; S. Martodiharjo : sekretaris kedua; Dr. Radjiman; Widiodiningrat : komisaris; R. Mr. Soepomo : komisaris; R. Slamet : komisaris (R.M Karno, 1990: 196).

Dalam dokumen PERAN PAKU BUWONO X DALAM PERGERAKAN NASIONAL (Halaman 91-96)