• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................... 10-29

C. Pasangan Pernikahan Usia Dini

1. Pengertian Pasangan Pernikahan Usia Dini

Pasangan pernikahan usia dini adalah dua orang (laki-laki dan perempuan) yang mengikatkan diri dalam pernikahan untuk membentuk sebuah keluarga, dimana salah seorang atau keduanya berada dalam usia yang belum pada saatnya untuk menjalani hubungan tersebut. Secara hukum ditegaskan dalam UU No.1 Tahun 1947, pasal 7 ayat 1 yang berbunyi, “pernikahan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun”.31

Dilihat dari segi hukum yang berlaku, usia di atas telah dibolehkan menikah namun jika dilihat dasi segi psikologi usia tersebut merupakan usia yang rentan dalam menjalani pernikahan. Usia yang dianggap telah matang adalah pada masa dewasa yaitu umur diatas 21 tahun. Sehingga dalam pandangan psikologi usia dibawah 21 tahun merupakan masa pernikahan yang belum semestinya dan disebut pernikahan usia dini. Usia yang belum mencapai masa kedewasaan dijelaskan dalam buku psikologi perkembangan merupakan usia remaja.32

2. Alasan Pernikahan Usia Dini

31Bimo Walgito, op. cit., h. 103

32 Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan (Cet.I; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1991), h. 85.

Ada beberapa alasan terjadinya pernikahan usia dini, Rini Fitriani mengemukakan beberapa faktor,33 faktor tersebut antara lain:

a. Faktor Sosial Budaya

Tradisi menikah pada usia dini masih banyak ditemukan sampai sekarang, ini terutama terjadi di Desa karena mereka lebih cenderung untuk terus melestarikan budaya. Selain itu dalam pandangan sosial, semakin cepat ada anak yang dinikahkan maka itu sebuah indikator keluarga tersebut merupakan keluarga yang telah memiliki kemampuan terutama dalam hal ekonomi (untuk pihak yang melakukan pelamaran).

b. Faktor Ekonomi

Keterbatasan orang tua dalam membiayai perekonomian keluarga juga menjadi penyebabnya, orang tua yang menganggap dirinya sudah tidak dapat lagi membiayai anaknya karena bertumpuknya beban lain yang harus dipikulnya cenderung untuk segera menikahkan anaknya. Langkah ini diambil dengan alasan setidaknya dapat meringankan beban perekonomian keluarga karena anak yang telah menikah tersebut akan menjadi tanggungan dari suaminya.

c. Pendidikan Islam

Keterbatasan pendidikan yang didapatkan dibangku pendidikan juga merupakan salah satu faktor terjadinya pernikahan usia dini. Kurangnya pengetahuan tentang dampak dari pernikahan usia dini menjadikan kurang dipertimbangkannya untuk segera melaksanakan pernikahan walaupun diusia yang masih dini. Pendidikan agama Islam yang didapatkan anak dibangku sekolah juga masih kurang dalam menanamkan nilai-nilai moral dan tatakrama bagi kehidupan sehari-hari remaja.

d. Kemajuan Teknologi

33

Teknologi yang semakin modern membuat komunikasi bagaikan tanpa batas. Melalui jarak jauhpun sudah bisa diperoleh informasi baik dalam bentuk bacaan, suara, gambar dan video. Kemajuan teknologi ini dirasa menjadikan salah satu penyebab pernikahan usia dini seperti yang diakui oleh kepala Desa Bontosunggu bahwa

Saat ini dengan banyaknya teknologi yang mempermudah komunikasi membuat anak-anak yang masih dalam usia sekolah semakin sering untuk berhubungan secara rahasia dari orang tuanya. Seperti halnya dalam penggunaan telepon mereka sering bercerita dan saling berkirim pesan tanpa diketahui oleh orang tuanya tentang apa pembicaraan mereka. Dengan seringnya mereka berkomunikasi maka pernyataan untuk memutuskan menikah juga semakin cepat. Oleh karena itu, banyak anak tersebut yang beralasan cinta sehingga ingin cepat menikah.34

Senada dengan pernyataan bapak Kepala Desa, penyuluh Kantor Urusan Agama (KUA) Bontonompo Selatan juga mengakui bahwa adanya fenomena pernikahan usia dini tak terlepas dari dampak teknologi.

Teknologi saat ini sudah mudah diakses baik di kota maupun di Desa, berbagai macam dapat dijelajahi melalui internet dan tak ada yang dapat membatasi apa yang dilihat anak saat mereka membuka internet. Dalam masa mereka yang masih remaja dan serba ingin tahu maka mereka mencoba mencari tahunya. Mudahnya mereka menyaksikan berbagai tontonan yang belum pantas mereka lihat menjadikan mereka untuk cepat mendesak orang tuanya agar segera dinikahkan.35

Melihat realitas tersebut beliau mengungkapkan bahwa ia mendukung pernikahan usia dini karena akan begitu banyak dampak negatif yang terjadi apabila anak ditahan untuk menikah sedangkan mereka sudah menginginkannya. Hal ini tak lepas dari pengaruh teknologi itu. Menurutnya daripada kemudharatan yang tejadi lebih baik kemaslahatan yang dilaksanakan apalagi menikah secepatnya memang dianjurkan dalam agama Islam.

6. Annyala

34

H. Laba Dg. Nyorong, Kepala Desa Bontosunggu, Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa, Sul-sel, wawancara oleh penulis di Dusun Bontociniayo, 17 Februari 2013.

35

Bohari,Penyuluh KUA sekaligus imam Kelurahan Bontoramba, Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa, Sul-sel, wawancara oleh penulis di Bontonompo Selatan, 14 Februari 2013.

Annyala artinya berbuat salah, dalam arti melakukan pelanggaran terhadap adat perkawinan yang berbentuk minggat. Annyala menimbulkan ketegangan dalam keluarga perempuan yang minggat yang dikenal dengan siri’, siri’ dalam masalah annyala ujung-ujungnya adalah pembunuhan terhadap pasangan yang melakukannya.36 Siri’ dan pacce’ ini akan berlangsung hingga akhir hayat di kandung badan, artinya akan tetap berlangsung hingga mereka mange a’baji (datang baik) pada keluarga perempuan dengan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi dan selama keluarga perempuan menerima maksud baik dari laki-laki tersebut dan terkadang lamaran ma’baji ditolak.37

Kerangka tersebut menunjukkan bahwa annyala, apapun bentuknya menimbulkan masalah dalam keluarga perempuan, tetapi setiap tu manyala (si minggat) mempunyai maksud untuk ma’baji (mohon restu) dalam istilah masyarakat datang baik, agar jiwanya tidak terancam, artinya bisa hidup tenang dalam masyarakat lainnya dan proses ma’baji’ ini terjadi dua kemungkinan, diterima atau tidak diterima. Kalau tidak diterima maka tetap berlaku siri’ dan pacce terhadapnya.38 Proses ma’baji’ ini sangat dibutuhkan agar pasangan suami istri mendapatkan ketenangan dalam kehidupan rumah tangganya.

36Abd. Kadir Ahmad, Sistem Perkawinan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Makassar: Indobis, 2006), h.53

37

Ibid,. h. 54-55

38

Dokumen terkait