• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTRET KESEHATAN MASYARAKAT DESA TANJUNG PASIR

3.1. Kesehatan Ibu Dan Anak

3.1.2. Pasangan Suami Istri

Setelah menikah, seperti layaknya pasangan suami istri pada umumnya, kehadiran seorang anak tentunya menjadi sesuatu yang diinginkan oleh keluarganya. Oleh karena itu kebanyakan pasangan suami istri yang baru menikah tidak menunda lagi untuk memiliki anak. Ditambah lagi dorongan keluarga besar yang juga kerap menanyakan kapan pasangan tersebut hamil.

Jika tidak kunjung hamil pada masa awal pernikahan, mereka biasanya sadar bahwa berarti ada penyakit yang mengakibatkan mereka tidak bisa hamil. Pengetahuan mereka akan penyakit ini didapatkan dari orang tua mereka. Pengantin muda yang belum banyak pengalaman disini biasanya menjadikan orang tua mereka sebagai tempat berkonsultasi.

Berdasarkan wawancara dengan bidan kampung mak An, ketidakhamilan pada pasangan bisa terjadi karena dua hal yaitu pertama karena senggugut yang ada pada perempuan dan yang kedua terjadi pada kesuburan dari suami.

Senggugut sendiri menurut kepercayaan masyarakat

adalah suatu makhluk yang berbentuk seperti cicak di dalam perut yang memakan atau menggigit di dalam perut atau rahim perempuan sehingga mengakibatkan kesuburan perempuan hilang atau berkurang. Tanda-tanda senggugut itu ada di dalam perut perempuan adalah pada saat menstruasi perut terasa sakit sekali dan terlihat darah yang dikeluarkan kotor dan tidak bersih.

Senggugut itu jika tidak diobati akan bertambah banyak dan

semakin sulit perempuan untuk hamil jika tidak segera diobati. Pengetahuan mengenai senggugut ini bukan hanya dipercayai oleh para orang tua namun juga para remaja ataupun pasangan muda sekarang ini. Seperti yang diceritakan oleh informan E, salah satu informan yang dulu sempat mengalami

senggugut sehingga tidak cepat hamil.

“Itu segunggut ka yang bikin penyakit di dalam ga jadi hamil itu. Nanti kalau dia keluar itu kaya cicak, bermata dan berekor. Tapi tidak ada kaki. Kalau itu sudah keluar baru kita bisa hamil. ga tau itu emang penyakit (senggugut) yang ada di rahim. Itu dia bisa makan yang bisa bikin hamil itu ka. Kita ga tau itu nama dokternya apa, karena kita ke bidan kampung kita taunya ya senggungut itu.”

Hal serupa mengenai senggugut juga dijelaskan oleh bidan kampong mak An

“Itu darah kotor yang pas haid tidak selesai. Dia membeku. Itu yang jadinya bikin penyakit. Selalu tumbuh di perut. Itu pas melahirkan tidak keluar semua bahaya.”

Untuk mengobati senggugut tersebut biasanya masyarakat masih mempercayakan pengobatannya kepada bidan

kampung ataupun dukun kampung. Pengetahuan masyarakat

mengenai senggugut itu membuat mereka lebih mempercayakan pengobatan untuk mendatangkan kehamilan kepada pengobat tradisional dibandingkan dengan pergi ke dokter kandungan ataupun rumah sakit. Senggugut tersebut menurut mereka bisa diobati dengan pengobatan tradisional.

Bidan atau dukun kampung dapat mendeteksi adanya penyakit senggugut itu pada saat perempuan sedang menstuasi,

jadi ketika tidak dalam keadaan menstruasi bidan/dukun

kampung kesulitan untuk melihatnya. Pertama nanti akan dilihat

darah dari si perempuan tersebut, jika darahnya warnanya kotor berarti memang dikarenakan oleh senggugut, namun jika tidak berarti bisa saja ada penyakit lain yang mengakibatkan ketidakhamilan. Penyakit tersebut bisa saja merupakan penyakit yang tidak bisa diobati oleh bidan/dukun kampung dan hanya bisa diobati oleh dokter atau suster. Hal ini seperti juga yang dikatakan oleh bidan kampung MI:

“Kemarin ada yang ke saya mau minta air untuk

senggugut. Setelah diperiksa saya coba liat dia tidak

apa-apa, bukan karena senggugut. Itu ternyata dia pernah keguguran dan ada yang tertinggal di dalam dan akhirnya menjadi tumor kalau seperti dokter bilang. Seperti itu tidak bisa saya obati jadi saya suruhlah dia periksa.”

Untuk mengobati penyakit senggugut tersebut ada cara yang dilakukan oleh bidan ataupun dukun kampung. Karena penyakit senggugut ini ada di dalam tubuh perempuan sehingga yang wajib diobati cukup perempuannya saja. Caranya adalah dengan meminum air mantera dari si bidan/dukun kampung tersebut. Cara ini bisa dikatakan adalah cara utama atau cara yang dianggap paling penting dalam proses pengobatannya. Menurut bidan kampung AI, air untuk minum tersebut adalah air hujan yang diambil pada waktu subuh. Air itu diambil dan untuk mempermudah dapat langsung dimasukkan ke dalam botol air mineral. Namun informan E mengatakan bahwa dukun kampung yang mengobatinya hanya meminta air mineral botol yang bisa dibeli di warung saja. Setelah itu air tersebut dibawa dan diberi mantera oleh si bidan/dukun kampung. Menurut bidan kampung, selain jampian biasanya mereka juga membaca shalawat dan doa

kepada tuhan sebagai tambahan, hal ini dilakukan karena segala sesuatu terjadi karena izin Allah SWT.

Air yang sudah diberi doa dan jampi tersebut lalu nantinya akan diminumkan oleh si perempuan selama 3 hari berturut-turut pada saat menstruasi. Setelah air tersebut selesai diminum, psangan bisa mencoba lagi untuk berkumpul (berhubungan badan) dan melihat hasilnya. Biasanya bidan

kampung juga kembali memeriksakan darah mens dari si

perempuan, kalau memang darahnya sudah bersih tandanya ia bisa hamil, jika belum bersih bisa kembali lagi meminta air jampian kepada bidan ataupun dukun kampung. Apabila pada akhirnya setelah meminum air jampian tersebut tidak kunjung hamil maka kemungkinan penyakit bukan berasal dari senggugut.

Menurut salah satu informan, bidan kampung tempatnya berobat selain memberikannya air jampian untuk diminum juga memberikan timun yang juga harus dikonsumsi selama tiga hari berturut-turut. Timun tersebut pun menurutnya sudah dijampikan dan harus dikonsumsi pada saat segera setelah bangun tidur. Bahkan disarankan langsung dimakan sebelum melakukan aktivitas apapun, termasuk pergi ke kamar mandi.

Bidan kampung juga biasanya membantu atau

menyarankan si perempuan tersebut untuk meminum ramuan yang berasal campuran kunyit dan kencur. Ibu yang sedang ingin hamil dapat membuatnya sendiri bisa, namun jika malas bisa meminta tolong bidan kampung tersebut untuk membuatkannya.

Cara lain masyarakat untuk mendatangkan kehamilan adalah dengan cara berurut dengan bidan kampung. Beberapa informan menyatakan bahwa sebelum hamil mereka biasanya juga berurut dengan bidan kampung agar segera hamil. Menurut

bidan kampung urut tersebut dilakukan agar letak peranakkannya tepat sehingga ketika berkumpul cairan dari suami bisa masuk secara tepat ke istrinya.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, penyakit tidak dapat hamil dapat juga disebabkan karena suami. Jika sperma suami encer maka tidak akan menghasilkan anak. Biasanya untuk mengobatinya juga dapat dengan bantuan bidan kampung. Bidan

kampung biasanya akan meminta suaminya untuk diminumkan

telur ayam kampung yang dicampurkan dengan sedikit air kunyit. Tentunya sebelum diminum juga harus dijampikan dengan ayat pembuka yang dibacakan oleh si bidan kampung.

Untuk mendatangkan kehamilan, selain dengan menyembuhkan penyakit seperti yang diuraikan di atas, ada juga yang percaya bahwa dengan mengangkat anak orang lain bisa menjadi pancingan untuk memiliki anak sendiri. Ada yang memang membuktikan bahwa hal itu benar, namun ada juga yang tidak berhasil, seperti yang diceritakan oleh informan Sa:

“Kami menikah 18 tahun itu tidak punya anak. sudah ambil anak sampai 2 orang, dari umur 8 hari dan satu lagi dari umur setengah bulan. Memang katanya kalau bisa cepat punya anak begitu. Namun belum juga kami punya anak.”

Selain itu menurut bidan kampung pasangan yang belum pernah memiliki anak tidak boleh memakai KB ataupun tidak boleh berurut untuk menunda kehamilan. Jika hal tersebut dilakukan nanti akan berakibat tidak akan punya anak selamanya. Hal ini sudah dibuktikan juga dengan informan Y yang kesulitan untuk memiliki anak, dimana Y memakai KB pada saat awal pernikahan dan sekarang sudah 5 tahun tidak bisa punya anak. Ia pun sudah beberapa kali memeriksakan diri ke dukun namun tidak kunjung sembuh dan memiliki anak. Jadi masyarakat pantang untuk menunda kehamilan jika memang belum punya anak.

Ketika ditanyakan kepada informan yang pernah atau sedang mengalami kesulitan untuk hamil, kebanyakan dari

mereka belum pernah memeriksakannya ke dokter spesialis kandungan, alasannya adalah keterbatasan biaya dimana untuk memeriksakan ke dokter spesialis tersebut membutuhkan dana yang lebih, termasuk untuk menuju lokasi pemeriksaannya. Jarak desa menuju Rumah Sakit yang ada di Tembilahan tentunya membutuhkan waktu dan dana yang lebih.

3.1.3. Hamil

Kehamilan pada Etnik Laut adalah suatu proses penting dalam suatu kehidupan perempuan. Proses kehamilan tentunya untuk mereka yang sudah menikah merupakan waktu ditunggu, dimana kehamilan merupakan tanda mereka sebentar lagi akan mendapatkan keturunan keluarga mereka. Tentunya karena kehamilan ini cukup ditunggu oleh keluarga maka ada tradisi atas kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat pada masa kehamilan ini. Hal ini biasanya dilakukan sebagai bagian dari kepercayaan mereka agar ibunya ketika hamil dalam keadaan sehat dan tidak mengalami gangguan hingga pada saatnya nanti melahirkan bayi yang juga sehat.

Bisa dikatakan pada masa hamil ini kebanyakan wanita sudah tidak bekerja di luar rumah lagi. Karena pada dasarnya kebanyakan perempuan yang sudah menikah tidak lagi turut mencari nafkah, sehingga pada saat hamil ini pun mereka tidak bekerja. Namun meskipun tidak bekerja di luar rumah, mereka biasanya tetap melakukan kewajiban mereka sebagai pengurus rumah tangga, seperti memasak, mencuci, mengangkut air, membersihkan rumah hingga menjaga anak jika memang sudah memiliki anak.

Beberapa wanita Etnik Laut pun biasanya jika tidak bekerja di luar rumah, membuka usaha berupa warung sembako sebagai hasil tambahan mereka. Ada juga yang membantu

membuat dan mencetak belacan, membersihkan hasil tangkapan suaminya di laut dan menjajakannya di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Jadi bekerja pun dilakukan masih di lingkungan rumah saja. Namun untuk pergi ke laut untuk mencari ikan ataupun mencari kerang biasanya tidak pernah mereka lakukan. Berdasarkan informan lain halnya dengan perempuan dari Etnik Laut yang ada di kecamatan Concong, dimana disana banyak ditemukan kerang. Di sana perempuan dari Etnik laut masih turut bekerja bahkan sampai ketika hamil karena membantu mencari hasil kerang yang berlimpah.

Meskipun begitu masih ada juga yang bekerja dan beranggapan bahwa dengan bekerja dan banyak bergerak akan memudahkannya melahirkan seperti yang diceritakan oleh informan Is berikut ini

“Masih itu pas hamil yang terakhir ini aku kerja. sampe udah mau melahirkan masih naik boat itu ke tembilahan. aku sudah kembang naik 3 hari itu ke tembilahan, sore aku sampe sini, pagi melahirkan. Kesana aku mengantar belacan naik turun boat. Mudahlah aku melahir.”

Pola Konsumsi Ibu Ketika Hamil

Ketika hamil menurut ibu di masyarakat nampaknya tidak jauh berbeda dengan apa yang dikonsumsi mereka pada saat tidak hamil. Meskipun tentunya frekuensi lebih sering dan porsi ditambahkan namun mereka tidak ingin makan terlalu banyak karena takut nantinya anak di dalam perut ukurannnya akan terlalu besar dan mengakibatkan ibu terlalu lelah dan menyulitkan pada saat bersalin nantinya.

Jika di daerah lain biasanya makan laut menjadi pantangan, namun di daerah ini karena makanan laut adalah yang paling mudah ditemukan maka konsumsi makanan laut menjadi tetap makanan utama mereka. Konsumsi makanan laut

seperti ikan laut, udang, ketam dan kerang banyak mereka mengkonsumsi. Oleh karena konsumsi jenis makanan tersebut mereka beranggapan bahwa hal tersebut membuat tensi mereka tinggi. Seperti apa yang diceritakan oleh ibu H:

“Aku kemarin pas mau melahir tensiku tinggi, sampai 180 lebih. Sampai dibantu sama ibu C (bidan), dia kesini bawa infus. Saya nih hamil anak itu saja yang begitu, yang sebelumnya tidak. Ini karena itu saya ketika hamil senang sekali makan kepiting. Itulah ada tensi.

Sebagian dari mereka yang mempunyai uang lebih juga membeli susu formula untuk ibu hamil sebagai asupan tambahan. Begitupun juga dengan buah, jika mereka punya uang lebih mereka baru membeli buah. Untuk membeli buah dan juga susu formula tersebut memang membutuhkan biaya yang mereka anggap cukup besar, selain harganya yang mahal, dibutuhkan juga biaya dan waktu lebih untuk membelinya di kecamatan yang ada di seberang.

Untuk pantang makanan sendiri, kini sudah tidak banyak lagi makanan yang dipantang. Hanya sedikit pantangan yang makanan yang mereka jalani, yaitu antara lain:

1) Pantang makan nenas karena akan menggugurkan kandungan

2) Pantang makan makanan yang terlalu panas 3) Pantang makan jamu karena bersifat panas

4) Pantang makanan pedas karena akan mengakibatkan perut panas

5) Pantang makan makanan sisa hari kemarin atau makanan yang dipanaskan kembali

6) Pantang minum es karena akan membuat bayi besar dan sulit pada saat melahirkan

7) Pantang makan beberapa makanan laut seperti ketam (kepiting), sotong (cumi-cumi), kerang ataupun udang karena akan membuat perut gatal-gatal.

Namun dari beberapa pantangan tersebut tak semua juga dijalani oleh ibu hamil, hal ini karena keinginan mereka yang terlalu besar terhadap makan tersebut sehingga meskipun sudah dilarang akan dilanggarnya seperti dikatakan oleh informan E dan S berikut ini:

“E dilarang ka makan yang pedas-pedas tapi ga bisa memang kami ga pakai sambel. Itupun dilarang juga makan udang, kerang juga suka, namanya mau makan. Memang sih perut E jadi gatal-gatal ka.”

“S suka beli es, karena disini panas bu. Sebenarnya dilarang sama suami sama mamak. Biasanya beli kalau lagi jalan, ga ketauan, kalau ketauaan dimarahinya aku.”

Sesuai dengan pernyataan S di atas, maka bisa dikatakan masih banyak ibu hamil yang suka mengkonsumsi es dengan campuran serbuk rasa. Hal ini dikarenakan memang kebiasaan masyarakat mengkonsumsinya karena cuaca yang sangat panas membuat terdorong untuk mengkonsumsinya. Frekuensi ibu hamil mengkonsumsinya pun tergantung masing-masing, ada yang masih cukup sering seperti ketika tidak hamil dan ada juga yang menguranginya.

Ibu hamil disarankan untuk banyak meminum air kelapa yang dicampurkan dengan telur ayam kampung. Biasanya dilakukan pada saat ibu memasuki kandungan bulan kedelapan setiap 10 hari sekali. Air kelapa dianggap dapat membersihkan bayi dalam kandungan sedangkan telur baik untuk tenaga ibu pada saat akan bersalin. Meskipun banyak disarankan namun kendala jarangnya menemukan air kelapa membuat ibu tidak banyak mengkonsumsinya.

Pantang Perilaku Selama Kehamilan

Dalam masyarakat Desa Tanjung Pasir, termasuk orang Laut, selain pantangan makanan ada pula pantangan perilaku yang harus dituruti ibu hamil. Pantangan berikut antara lain:

1) tidak boleh membawa beban yang terlalu berat

2) tidak boleh keluar pada saat hujan panas karena banyak hantu yang berkeliaran dan bisa mengganggu

3) tidak boleh mandi terlalu sore, maksimal pukul 3 atau 4 sore karena dianggap bisa diganggu makhluk halus. Kalaupun ingin mandi di atas jam tersebut harus menabur garam di sekitar tempat mandi

4) tidak boleh berhenti di depan pintu, jika ingin keluar harus langsung keluar. Jika tidak nanti proses bersalin akan seperti itu terhambat dan sulit untuk keluar.

5) sehabis mandi tidak boleh memakai handuk terlalu lama 6) kalo menyisir rambut harus sampai tuntas di ujung, kalau

tidak nanti persalinan akan terhambat

7) tidak boleh membelitkan handuk di bahu karena nanti bayi di dalam perut akan terlilit tali pusat

Pantangan-pantangan di atas memang pantangan yang dijalani oleh generasi tua pada jamannya dan terus disosialisasikan kepada generasi berikutnya. Untuk pantangan ini biasa diajarkan kepada ibu hamil oleh ibu atau bidan kampung yang merawatnya. Namun menurut bidan kampung ibu hamil sekarang ini yang berusia muda tidak lagi mematuhinya sehingga itulah yang mengakibatkan kejadian meninggalnya ibu ataupun anaknya, seperti yang dikatakan bidan kampung Mak In berikut ini:

“Itu sekarang banyak kejadian begitu bu, sekarang malah tambah banyak yang mati karena beranak, dulu itu tidak ada bu. Tengok lah sekarang, tidak ada pantang. Banyak yang tidak mau nurut apa kata orang tua.”

Sedangkan untuk ibu hamilnya sendiri menyatakan bahwa mereka terkadang tidak melaksanakannya karena sering lupa dan tidak terlalu percaya akan pantangan-pantangan tersebut, meskipun bidan kampung atau ibu sering memperingatkan mereka.

Bunting Gajah

Dari beberapa informan yang diwawancarai, menurut mereka di desa ini banyak yang bersalin pada saat usia kandungan lebih dari 9 bulan atau yang biasa mereka sebut dengan bunting gajah (ada juga yang menyebutnya sebagai bunting kerbau). Bahkan beberapa ada yang mengandung hingga waktu 12 bulan (1 tahun). Hal tersebut nampaknya cukup biasa di mata masyarakat. Namun ada satu hal yang menjadi alasan yang diyakini oleh masyarakat penyebab bunting gajah tersebut, yaitu karena ibu yang sedang hamil tersebut keluar kampung dengan jarak yang cukup jauh dan bahkan sempat menempuh lautan. Jika menempuh jarak yang cukup jauh maka janin di dalam kandungan nantinya akan berkurang usianya atau bisa dikatakan kembali muda. Bayi dalam kandungan akan dianggap mengecil. Seperti juga apa yang dikatakan bidan kampung AI:

“Itu si D lama belum melahir, dia tuh berjalan terus. Dari patah parang (ket: nama desa lain di kecamatan lain) ke sini. Lewat lautan. Itulah dia lama jadi tidak kunjung melahir.”

Menurut pandangan masyarakat pun bunting gajah pun sudah biasa terjadi jadi tidak usah dikhawatirkan dan tidak berbahaya bagi kesehatan. Menurut mereka hal tersebut terjadi karena memang belum waktunya melahir. Bahkan ada pula yang beranggapan bahwa itu tergantung keinginan bayinya kapan ingin keluar dari perut ibunya seperti yang diceritakan oleh informan I berikut ini:

“Kakanya nih sampai 1 tahun. itu waktu itu sama bu C (bidan desa) disuruh ke rumah sakit rontgen karena takut itu pengapuran tulang. Kami pergi ke Kuala Tungkal. pergi ke dokter tapi katanya ga papa, cuma suruh tunggu aja. tapi memang kandungannya sudah sampai setahun. katanya gapapa bayinya bagus. ya itu kami balik dari Tungkal ketemu bapaknya. balik sini lahir. Kayanya memang bayi ini mau ketemu bapaknya dulu. Kan bapaknya ga balik 3 bulan, kirim duit aja. itu sudah 12 bulan lewat 2 hari.”

Untuk menghindari sulit atau lambatnya melahirkan

bunting gajah, maka ada kepercayaan yang mereka yakini dapat

menolong atau memperlancar proses persalinannya. Pertama adalah dengan membawa tanah asal kampung atau rumah dimana ibu hamil itu tinggal jika ingin bepergian ke tempat jauh ataupun melewati laut dan ingin menetap di daerah tersebut. Hal ini dilakukan agar bayi dekat dengan tanah kampungnya sehingga tidak mengecil atau kembali muda. Tanah tersebut bisa diletakkan di dekat kasur atau dipan dimana ibu hamil tersebut tidur di tempat barunya.

Cara lainnya yang diyakini bisa melancarkan proses

bunting gajah yaitu dengan cara ibu memakan rumput namun

tidak usah ditelan, cukup setelah digigit bisa langsung dimuntahkan. Hal ini merupakan simbol dimana nantinya bayi akan mudah keluar seperti muntahan rumput tersebut. Oleh

karena itu disarankan jika ibu hamil dengan usia kandungan yang sudah cukup besar jangan pergi terlalu jauh apalagi menempuh lautan, kalaupun akan pergi syarat yang disebutkan di atas dapat dipenuhi.

Tradisi yang Dilakukan Pada Masa Kehamilan

Masyarakat Desa Tanjung Pasir, baik dari Etnik Laut, Melayu, Banjar maupun Bugis, sampai saat ini masih banyak yang menjalankan beberapa ritual yang dijalankan pada masa kehamilan ini. Tradisi yang ditemui di desa ini adalah mandi pada saat hamil. Berdasarkan beberapa informan terkait, maka dapat disimpulkan bahwa ada 3 macam mandi yang biasa dilaksanakan, yaitu mandi pada saat kehamilan 7 bulan, mandi cindai dan terakhir mandi pada saat kehamilan 9 bulan. Ketiga ritual mandi ini biasanya melibatkan bidan kampung dalam prosesnya, namun ada juga yang melakukan ritual ini bersama orang yang dianggap mengerti. Pada dasarnya adat mandi tiga ini wajib atau banyak dilaksanakan dari jaman dahulu, namun menurut bidan kampung AI sekarang semuanya dikembalikan kepada si ibu hamil tersebut, apakah mau menjalankannya atau tidak. Biasanya yang rutin memeriksakan kehamilan pada bidan kampung biasanya menjalankan ketiga mandi ini.

Mandi 7 Bulan

Mandi 7 bulan seperti namanya dilaksakan ketika kehamilan memasuki usia 7 bulan. Mandi 7 bulan ini cukup dilaksanakan di rumah saja. Proses pelaksanaannya pun mudah dan memakan waktu yang tidak banyak. Mandi 7 bulan ini disebut juga dengan mandi tolak bala. Selain untuk menolak bala, mandi ini dianggap sebagai pembuka jalan. Mandi dilakukan pada bulan ini karena pada bulan ini bayi di dalam janin ibu dianggap

sudah mulai keras. Menurut bidan kampung jika bayi dimandikan pada bulan ini bayi akan menjadi kuat bahkan sampai nanti besar.

Selain itu mandi 7 bulan ini diutamakan untuk anak pertama, untuk anak selanjutnya menjadi pilihan saja. Semuanya