TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.2 Pasar Modal
Pasar modal atau yang lebih dikenal dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan,baik dalam bentuk utang maupun modal sendiri. Instrumen yang diperjualbelikan di BEI seperti saham, obligasi, warrant, right, obligasi konvertibel, dan berbagai produk turunan (derivative) seperti opsi (put atau call).
Menurut Undang-Undang Pasar Modal No.8 tahun 1995, pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.
Menurut Robbert Ang (1997), pasar modal merupakan suatu situasi para penjual dan pembeli dapat melakukan negosiasi terhadap pertukaran suatu komoditas atau kelompok komoditas, dan komoditas yang dipertukarkan disini adalah modal. Sedangkan Husnan (2004) mengartikan pasar modal sebagai pasar dengan berbagai instrumen keuangan (sekuritas) dalam jangka panjang yang dapat diperjual belikan di bursa, baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk modal sendiri, yang diterbitkan oleh pemerintah, publik, maupun perusahaan swasta.
Pasar modal juga dapat diartikan sebagai tempat pertemuan antara penawaran dengan permintaan surat berharga. Ditempat inilah para pelaku pasar yang memiliki kelebihan dana (surplus funds) melakukan investasi dalam surat berharga yang ditawarkan oleh emiten. Sebaliknya, perusahaan yang
membutuhkan dana menawarkan surat berharga dengan cara listing terlebih dahulu pada badan otoritas di pasar modal sebagai emiten.
BEI memberikan peran besar bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal memberikan dua fungsi sekaligus, fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena pasar modal menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer).
BEI dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena BEI memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih. Jadi diharapkan dengan adanya pasar modal aktivitas perekonomian menjadi meningkat karena pasar modal merupakan alternatif pendanaan bagi perusahaan- perusahaan untuk dapat meningkatkan pendapatan perusahaan dan pada akhirnya memberikan kemakmuran bagi masyarakat yang lebih luas.
2.1.3 Earning Per Share (EPS)
Laporan keuangan yang terdiri dari laporan laba rugi, laporan perubahan modal, neraca, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan, menyediakan informasi keuangan perusahaan, yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan pada perusahaan tersebut. Salah satu penggunanya adalah investor, yang menggunakan laporan keuangan untuk membantu kegiatan investasinya di pasar modal. Sebagian investor sebelum berinvestasi mereka terlebih dahulu melakukan analisis terhadap informasi keuangan emiten. Untuk
mengukur seberapa baik kinerja suatu perusahaan dan menentukan pilihan investasi, investor dapat menggunakan angka laba per saham (earnings per share) dari perusahaan yang bersangkutan.
Laba per saham (LPS) adalah data yang banyak digunakan sebagai alat analisis keuangan. Investor tertarik pada dividen dan dapat menggunakan data laba per saham untuk menghitung rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio). LPS juga menyajikan kinerja perusahaan dikaitkan dengan saham beredar yaitu price-earning ratio yang bisa memberikan gambaran tentang kinerja perusahaan dibanding dengan uang ditanam pemilik perusahaan.
Laba per lembar (LPS) juga bisa diartikan sebagai laba bersih yang tersedia untuk pemegang saham biasa untuk suatu periode dibagi dengan jumlah rata-rata lembar saham biasa yang beredar. Angka ini menunjukkan hasil kepada pemegang saham biasa untuk setiap lembar saham yang dimiliki.
Menurut Tjiptono (2006:139), semakin tinggi nilai EPS suatu perusahaan, maka akan menggembirakan pemegang saham karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham, yang kemudian juga akan berpengaruh terhadap harga saham yang diperdagangkan di pasar modal dikarenakan aktivitas jual beli yang meningkat.
Dalam menentukan LPS harus memahami bagaimana struktur modal suatu perusahaan. Struktur modal perusahaan dapat diklasifikan dalam dua jenis yaitu struktur modal sederhana (simple capital structure) dan struktur modal kompleks (complex capital structure). FASB Statement No.128 mewajibkan perusahaan
yang memiliki struktur modal kompleks untuk menyajikan dua perhitungan LPS yaitu LPS dasar (basic earnings per share) dan LPS dilusian (diluted earnings per share).
2.1.3.1 Earning Per Share (EPS) Dasar
Jika suatu perusahaan hanya memiliki saham biasa, atau saham biasa dan saham preferen tidak dapat dikonversi yang beredar, dan tidak memiliki sekuritas lain yang dapat dikonversi, opsi saham, waran, atau rights yang beredar, maka perusahaan tersebut diklasifikasikan sebagai perusahaan dengan struktur modal sederhana. LPS untuk perusahaan ini sering disebut dengan LPS Dasar (Earnings per Share) yang dihitung dengan :
EPS = � ℎ � ℎ − ℎ
� ℎ − ℎ �
Laba bersih disini tidak memperhitungkan pos-pos yang terkait dengan operasi yang tidak dilanjutkan (discontinued operations). Laba bersih dimaksud juga tidak memperhitungkan pos-pos luar biasa (extraordinary items) dan dampak perubahan kebijakan akuntansi (accounting changes) serta koreksi kesalahan (error corrections) mendasar.
Sedangkan dividen saham preferen yang disebutkan di atas meliputi :
a) Jumlah dividen dari saham preferen bukan kumulatif (noncumulative preferred stock) yang diumumkan bagi periode yang bersangkutan; dan b) Jumlah dividen saham preferen kumulatif (cumulative preferred stock)
sudah atau belum diumumkan. Jumlah deviden saham preferen kumulatif untuk periode bersangkutan tidak mencakup deviden saham preferen kumulatif periode lalu meskipun deviden tersebut diumumkan atau dibayar dalam periode kini.
Jika terjadi rugi bersih dalam suatu periode, deviden saham preferen untuk periode tersebut, termasuk deviden saham preferen kumulatif yang belum diumumkan, ditambahkan pada rugi bersih, atau formulanya adalah :
EPS(rugi)= ℎ � ℎ + ℎ
ℎ − ℎ �
Perhitungan LPS dasar tidak akan menimbulkan masalah apabila saham biasa yang diterbitkan dan beredar tidak berubah selama satu periode berjalan. Namun apabila pada periode berjalan ada penerbitan saham tambahan atau perolehan kembali saham dari peredaran (treasury stock) maka rata-rata tertimbang jumlah saham biasa yang beredar (weighted average common shares outstanding) selama periode berjalan harus dihitung. Juga ketika jumlah saham biasa yang beredar telah berubah selama satu periode sebagai akibat dari deviden saham (stock dividens) dan pemecahan saham (stock splits), pengakuan rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar harus berlaku surut (retroactive).
2.1.3.2 Earning Per Share (EPS) Dilusian
Perusahaan yang memiliki struktur modal kompleks akan mengalami penurunan laba per saham (yang disebut dengan laba per saham dilusian/diluted earnings per share) yang potensial apabila efek berpotensi saham biasa
dilakukan/dilaksanakan. Dalam penghitungan LPS dilusian, laba bersih dan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa beredar harus disesuaikan dengan memperhitungkan dampak dari semua efek berpotensi saham biasa yang dilutif. Efek berpotensi saham biasa yang dilutive adalah instrument keuangan atau kontrak lain yang memungkinkan pemiliknya memperoleh saham biasa.
Contohnya adalah :
a. Efek utang (debt security) atau instrument ekuitas selain saham biasa yang ditukar dengan saham biasa;
b. Opsi saham, waran, atau rights;
c. Kebijakan kepegawaian yang memberikan hak kepada karyawan untuk menerima saham biasa sebagai bagian dari remunerasi atau hak untuk membeli saham dengan syarat tertentu;dan
d. Saham yang akan diterbitkan saat terpenuhinya kondisi-kondisi tertentu yang dimuat dalam suatu perjanjian, seperti kontrak pembelian usaha atau asset lain.
Untuk perusahaan dengan struktur modal kompleks, perhitungan LPS dasar dan LPS dilusian memberikan informasi kepada para pemakai laporan keuangan mengenai titik akhir dari laba per saham. Perhitungan LPS dasar menggunakan hasil transaksi actual untuk menentukan baik pembilang maupun penyebut dalam perhitungannya, sedangkan LPS dilusian dihitung dengan membuat asumsi berkenaan dengan transaksi yang tidak terjadi.
2.1.3.3 Langkah-Langkah dalam Menghitung Earning Per Share (EPS)
Secara ringkas, langkah-langkah dalam menghitung LPS adalah sebagai berikut :
1. Hitung LPS dasar dengan menggunakan angka rata-rata tertimbang dari jumlah lembar saham yang beredar selama setahun;
2. Untuk perusahaan dengan struktur modal yang kompleks, tentukan manakah opsi,waran,rights,dan convertible securities yang berpotensi dilutif.
Opsi, waran, dan rights : berpotensi dilutif jika harga pelaksanaan (exercise price) lebih kecil daripada harga pasar saham biasa pada akhir periode (ending market price), dengan asumsi seolah-olah opsi, waran, dan rights dilaksanakan. Jika opsi, waran, dan rights benar-benar dilaksanakan, berpotensi dilutive jika harga pelaksanaan (exercise price) lebih kecil daripada harga pasar saham biasa (market price).
Convertible securities : menghitung laba bagi tiap tambahan saham (incremental EPS) untuk masing-masing sekuritas secara individual. Untuk sekuritas yang nilai tambahannya lebih besar daripada LPS dasar setelah memperhitungkan opsi, waran, rights adalah bersifat antidilutif dan dikeluarkan.
Pertama-tama masukkan semua opsi,waran,dan rights yang bersifat dilutif;
Masukkan semua convertibke securities yang berpotensi dilutif pada satu waktu, dimulai dari sekuritas yang memiliki laba bagi tiap tambahan saham/incremental LPS (incremental EPS) paling kecil. Hitung LPS yang baru. Lanjutkan dengan memilih dan mengaplikasikan sekuritas yang dapat dikonversi sampai pada sekuritas berikutnya yang memiliki laba bagi tiap tambahan saham/incremental LPS (incremental EPS) lebih besar daripada perhitungan LPS terakhir. Jangan lanjutkan proses pada titik tersebut.
4. Melaporkan LPS dasar dan LPS dilusian pada halaman depan laporan laba rugi.