• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV MAKNA PATUNG SLEEPING BUDDHA DI VIHARA BUDDHA

A. Patung Sleeping Buddha Secara Umum

Kata Buddha berasal dari akar kata Bodhi (hikmat), yang dalam deklensi (Tashrif) menjadi budhi (nurani) dan juga budha (yang beroleh terang). Oleh karenanya sebutan budha pada masa selanjutnya memperoleh berbagai pengertian sebagai berikut:

1. Yang sadar (awaken one)

2. Yang beroleh terang (enlightened one)

Panggilan itu diperoleh Sidharta sesudah menjalani sikap hidup penuh kesucian,bertapa, mengembara untuk menemukan kebenaran, hamper tujuh tahun lamanya dibawah sebuah pohon (yang dewasa ini berada di kota Gaya). Ia pun memperoleh hikmat dan terang, hingga pohon itu sampai sekarang disebut dengan pohon hikmat (Tree of Bodhi).

Menurut tradisi Buddha, tokoh historis Buddha Siddharta Gautama dilahirkan dari suku Sakya pada awal masa Magadha (546–324 SM), disebuah kota, selatan pegunungan Himalaya yang bernama Lumbini. Sekarang kota ini terletak di Nepal sebelah selatan. Ia juga dikenal dengan nama Sakyamuni (harafiah: orang bijak dari kaum Sakya”). 76

Buddha merupakan sebuah sebutan atau gelar yang diberikan kepada seseorang yang telah mencapai Pencerahan (Enlightenment). Buddha sendiri tidak hanya satu. Namun secara historis pada zaman ini hanya dikenal satu Buddha yaitu Buddha Gautama. Buddha Gautama hidup dibagian utara India sekitar abad ke-6 SM. Nama pribadinya adalah Siddhartha sedangkan Gautama adalah nama keluarganya. Pada tahun 563 SM lahirnya Pangeran Siddhartha di Taman Lumbini. Pangeran Siddhartha adalah penerus kerajaan Kapilawastu dari suku Sakya. Ayahnya adalah Raja Suddhodana dan ibunya adalah Ratu Maha Maya Dewi.77

                                                                                                               

76 Khairiah, AGAMA BUDHA, (Yogyakarta : KALIMEDIA, 2008), hlm. 1

77 Upa. Sasanasena Seng Hansen, Ikhtisar Ajaran Buddha, (Yogyakarta : Vidyasena production, 2008), Hlm. 4

41    

 

Shiddarta yang hidup sebagai perorangan tidaklah dianggap penting dalam ajaran Buddha. Tetapi dia sebagai tokoh Buddha yang menjelma pada dirinya adalah mempunyai pengaruh yang kuat dalam ajaran Buddha. Buddha sebagai tokoh atau gelar yang menitis pada diri Shiddarta dianggap pernah hidup dan menjelma menjadi manusia di dunia ini. Hal ini tetap diyakini oleh para Buddhis. Menurut keyakinan Buddhis sebelum tahap zaman sekarang ini, telah ada tahap zaman-zaman yang tak terbilang banyaknya diwaktu Buddha turun ke dunia. Jadi tiap zaman memiliki Buddha sendiri-sendiri. Shiddarta sebagai Buddha pada masa sekarang bukan pertama kalinya, tetapi beberapa Buddha telah mendahuluinya turun ke dunia untuk mendapatkan gelar Buddha yang sesungguhnya, atau untuk mendapatkan pencerahan Bodhi.78

Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 623 SM di Taman Lumbini. Oleh para pertapa dibawah pimpinan Asita Kaladewala diramalkan bahwa Pangeran Siddharta kelak akan menjadi Maharaja Diraja atau akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang mewarisi tahta kerajaannya. Para petapa itu menjelaskan bahwa Sang Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa, jika itu terjadi maka ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah orang tua, orang sakit, orang mati, orang petapa.

Sejak kecil sudah terlihat bahwa sang pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik. Dalam usia 16 tahun pangeran Siddharta menikah dengan puteri Yasodhara yang dipersuntingnya.79

Pada suatu hari Pangeran mohon kepada ayahnya agar diizinkan berjalan-jalan keluar istana. Pada saat itu ia melihat orang tua rentan,                                                                                                                

78 Arief Wibowo, Jurnal : Makna Patung Buddha dalam Agama Buddha, SUHUF, Vol. 20, No. 1, Mei 2008: hlm. 80

79 Pandita s. Widyadharma, Intisari Agama Buddha, (Jakarta : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, 1977), hlm. 1-2

rambutnya sudah memutih, mukanya keriput, matanya rabun, giginya ompong, badannya kurus kering, setelah melihat itu hatinya menjadi sedih sekali. Kedua ia melihat pemandangan yang menyedihkan melihat seorang yang terserang penyakit, menderita banyak luka-luka dibadannya merintih-rintih tambah daya. Ketiga ia melihat mayat orang mati yang dipikul oleh empat orang, melihat kejadian ini terpikir olehnya, seperti halnya makhluk lain akupun dapat menderita karena sakit, umur tua dan yang semua makhluk tidak dapat menghindarinya.

Keempat pangeran melihat seorang pertapa berjubah kuning menghampirinya dan berkata : “pangeran yang mulia saya seorang pertapa menjauhi kenikmatan duniawi, tinggal di hutan yang sunyi untuk mencari jalan yang dapat membebaskan manusia dari usia tua, penyakit dan kematian. Segala sesuatu didunia ini tidak kekal berjuanglah untuk mencapai pembebasan.” Setelah berkata demikian pertapa itu berlalu dan terus menghilang. Pangeran merasa gembira hatinya aku ingin menjadi pertapa seperti dia.80

Setelah melihat empat peristiwa itu Pangeran Siddharta menjadi murung dan kecewa melihat kenyataan hidup yang penuh dengan derita.81 Demikian kerasnya pergolakan didalam hati Pangeran Siddharta berjalan terus sampai beliau berusia 29 tahun saat putra tunggalnya Rahula lahir. Peristiwa kelahiran putranya merupakan puncak dari masalah yang dihadapi beliau.

Akhirnya Pangeran Siddarta meninggalkan istananya yang mewah, ayah, istri dan anak yang tercinta tahta kerajaan yang penuh kegemerlapan, harta kekayaan yang berlimpah-limpah, kehidupan yang penuh dengan kenikmatan duniawi telah ditinggalkannya demi mencapai cita-cita yang luhur dan mulia untuk menolong dan menyelamatkan umat manusia dari penderitaan.82

                                                                                                               

80 Bhiksu Andhanavira, RIWAYAT SINGKAT BUDDHA, (Jakarta : Vihara Lalitavistara. 1986), hlm. 15

81 Pandita s. Widyadharma, Intisari Agama Buddha, (Jakarta : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, 1977), hlm. 2

82 Bhiksu Andhanavira, RIWAYAT SINGKAT BUDDHA, (Jakarta : Vihara Lalitavistara. 1986), hlm. 17

43    

 

Pangeran Siddharta pada suatu malam disaat istri dan anaknya Rahula sedang tertidur pulas, Siddharta bersama dengan pelayannya yang setia Channa dengan diam-diam pergi meninggalkan istana, melakukan pelepasan agung meninggalkan istana dengan menunggangi kuda berwarna putih salju bernama khanthaka, mereka pergi bersama hingga menyeberangi sungai Anoma. Ditempat inilah pangeran siddharta melepas jubah kerajaannya, ia memberikan pakaian dan kudanya pada Channa untuk mengembalikannya ke istana, kemudian Siddharta mengenakan sebuah jubah oranye dan memotong rambut panjangnya lalu pergi dengan membawa sebuah mangkuk di tangannya.83 Hanya seorang Maha Bodhisattva yang sanggup berkorban sedemikian besarnya.84

Dalam usia 35 tahun pertapa Siddarta memperoleh Penerangan Agung, menjadi Buddha di bawah pohon Bodhi di hutan Uruvela (kini tempat tersebut disebut Buddha Gaya). Untuk pertama kalinya beliau mengajarkan Dharma yang maha sempurna kepada lima orang petapa kawan beliau di taman Rusa Isipatana didekat Benares. Adapun kelima orang pertapa itu adalah Kondanna, Bodhiya, Vappa, Mahanama, dan Assaji.

Setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, Kondanna segera menjadi Sotapana dan kemudian menjadi Arahat. Kemudian yang lainnya menyusul menjadi Arahat. Khotbah pertama ini kemudian dikenal sebagai

Khotbah Pemutaran Roda Dharma (Dhama Cakka Pavattana Sutta). Sang

Buddha sangat giat dalam mengajarkan Dharmma kepada para siswaNya sampai Beliau mangkat di Kusinara dalam usia 80 tahun.85 Ketika mencapai usia ke-80, sang buddha mengalami sakit karena faktor usia yang semakin menua. Namun, berkat kekuatan batinnya. Sang Buddha mampu mengatasi rasa sakit tersebut. Batin Sang Buddha selalu bersinar

                                                                                                               

83 Dian Sri Pandewi, Buddha, (Denpasar : Vidya Aksara, 2008), hlm. 16-17

84 Bhiksu Andhanavira, RIWAYAT SINGKAT BUDDHA, (Jakarta : Vihara Lalitavistara. 1986), hlm. 17

85Pandita s. Widyadharma, Intisari Agama Buddha, (Jakarta : Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, 1977), hlm. 2

laksana berlian, meskipun jasmaniNya telah mulai melemah86 Akhirnya pada sebuah tempat yang bernama Kusira, ia berbaring di bawah pohon Sala dan menghembuskan nafas terakhirnya.87 Dan pada usia ini pula Buddha mencapai Mahaparinibbana atau wafatnya sang buddha.

Pada posisi wafatnya sang Buddha inilah menjadi salah satu jenis patung Buddha yaitu Patung Sleeping Buddha atau patung Buddha Tidur. Patung Buddha tidur merupakan gambaran posisi wafatnya sang buddha dengan posisi tidur ke arah kanan, Patung buddha menggambarkan pusat konsentrasi, manusia agung yang dianggap telah menemukan dharma (ajaran kesempurnaan) tentang kehidupan.88

B. Makna Simbolik Patung Sleeping Buddha di Vihara Buddha Dharma