• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

44. Analisa Bivariat

5.1 Pegaruh Pendidikan terhadap terjadinya Perilaku Moral Hazard

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa ada hubungan yang signifikan

antara pendidikan dengan Moral hazard dengan nilai Sig = 0,001 (P< 0,05).

Sebahagian besar responden yang berpendidikan rendah menunjukkan Frekuensi

melakukan Moral hazard, dibandingkan dengan responden yang berpendidikan tinggi

Pendidikan rendah didalam penelitian ini adalah pendidikan SD, SMP dan SMA

sedangkan yang dimaksud pendidikan tinggi adalah responden yang tamatan

perguruan tinggi dan Akademi/Diploma.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Dahlan (2013) bahwa tarap pendidikan sangat

berpengaruh terhadap terjadinya perilaku Moral hazard, rendahnya pendidikan

menyebabkan seseorang menjadi kurang tahu bahkan tidak tahu (ignorance). Hal

oleh pendidikan dan pengetahuan (prediposisi faktor). Scott (2000) juga menyatakan

Moral hazard terjadi adanya asimetri informasi yang diterima oleh peserta asuransi.

Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) yang dikembangkan

oleh Badan Pembangunan-Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) mencakup tiga

indikator utama, yakni pendidikan (education), kesehatan (health), dan ekonomi

(ekonomy). Hal ini sangat beralasan karena memang ketiga faktor ini bukan hanya

saling terkait dan mempengaruhi ,tetapi saling melengkapi dalam membentuk kualitas

hidup manusia. Pada masyarakat di Negara berkembang seperti Indonesia tiga

masalah sosial yang ada adalah: kebodohan (ignorancy) akibat rendahnya pendidikan,

berbagai penyakit (disease ) akibat rendahnya derajat dan pelayanan kesehatan dan

kemiskinan (proverty) akibat rendahnya ekonomi, ketiga hal saling mempengaruhi

dan membentuk lingkaran setan. Pendidikan bertujuan untuk memerangi kebodohan ,

dapat berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan berusaha atau bekerja, sehingga

dapat meningkatkan pendapatan (ekonomi), selanjutnya akan dapat meningkatkan

kemampuan mencegah penyakit, meningkatan kemampuan untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatan (Notoatmojo, 2012).

Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor internal (dari

dalam diri manusia) maupun faktor eksternal (di luar diri manusia). Faktor internal

ini terdiri dari faktor fisik dan psikis. Faktor eksternal terdiri dari berbagai faktor,

antara lain : sosial, budaya masyarakat, lingkungan fisik, politik, ekonomi,

Faktor pendidikan merupakan hal yang mendasar yang dapat mempengaruhi

perilaku peserta asuransi kesehatan, semakin tinggi pendidikan seeorang maka akan

semakin baik pula perilakunya, hal ini dapat mengurangi munculnya perilaku moral

hazard pada peserta asuransi kesehatan (Courbage and Couland, 2004).

Fungsi pendidikan sendiri adalah menanamkan aspek-aspek kehidupan di

masyarakat agar nantinya dapat diterima dan dicerna oleh individu secara baik dan

tidak melenceng dari harapan. Aspek itu juga melingkupi bidang kesehatan. Pada

nantinya sang individu diberikan pemahaman dari pihak sekolah untuk menanamkan

perilaku sehat dan juga nilai-nilai terkait kesehatan agar nantinya siswa dapat

mengerti benar apa itu pola hidup sehat dan tentunya akan mempraktikannya dalam

kehidupan.

Tinggi rendahnya tingkat pendidikan seseorang menentukan sikap dan pola

perilakunya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin tinggi pula

tingkat pola perilakunya, namun semakin rendah tingkat pendidikan seseorang maka

hampir dapat dipastikan tingkat pola perilakunya juga rendah. Walaupun kenyataan

itu sekarang mulai banyak terpatahkan karena banyak orang dengan tingkat

pendidikan yang rendah ternyata memiliki tingkat pola perilaku yang tinggi karena

ada faktor pemahaman agama dan juga pemahaman lainnya.

Kesehatan menurut UU No. 23 tahun 1992 adalah suatu keadaan sejahtera

dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial

bahwa kesehatan merupakan sesuatu keadaan yang sangat diharapkan oleh seseorang

agar nantinya tetap dapat beraktifitas secara maksimal. Tingkat kesadaran kesehatan

seseorang sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu meliputi : (1) environment

atau lingkungan, (2) behaviour atau perilaku, (3) heredity atau keturunan yang

dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk dan sebagainya, dan (4) health care

service atau program kesehatan yang bersifat preventif, promotif, kuratif, dan

rehabilitatif (Notoatmodjo, 2007:120).

Menurut Green dalam Notoatmodjo (2007:17) mengatakan bahwa yang paling

mempengaruhi kesehatan seseorang adalah perilaku dan faktor non perilaku. Perilaku

sendiri terbentuk karena adanya proses pendidikan sebelumnya yang melalui

beberapa tahap hingga kemudian terbentuk pola perilakunya. Hal itu menunjukkan

bahwa secara tidak langsung pendidikan juga berpengaruh terhadap kesehatan

seseorang.

Hasil dari pendidikan terkait kesehatan adalah dalam bentuk kesadaran

kesehatan. Kesadaran adalah keadaan dimana seseorang dalam keadaan siap dari segi

fisik dan pikiran untuk menerima atau melakukan hal-hal tertentu.Kesadaran

merupakan keadaan yang optimal pada seseorang dimana orang tersebut dalam

keadaan tersebut mampu menyerap segala hal yang diberikan dengan baik dan

maksimal.

Jadi dari sini dapat disimpulkan bahwa kesadaran kesehatan merupakan

kesehatan pada diri seseorang. Kesadaran kesehatan menjadi titik yang menentukan

sejauh mana seseorang mengerti dan memahami mengenai kesehatan. Pemahaman itu

bisa berbentuk tindakan, pengetahuan, maupun upaya pencegahan untuk tetap

menjaga kesehatan pada dirinya agar tetap optimal.

Kesadaran kesehatan sendiri terdiri dari beberapa hal yaitu: (1) kesadaran

tentang penyebab penyakit, gejala-gejala, cara-cara pengobatan atau kemana mencari

pengobatan, cara penularan, dan juga cara pencegahan. (2) kesadaran tentang

cara-cara pemeliharaan kesehatan dan cara-cara hidup sehat seperti kesadaran pentingnya

olahraga, makan bergizi, bahaya merokok, dll. (3) kesadaran tentang kesehatan

lingkungan seperti manfaat air bersih, cara-cara pembuangan limbah dan sampah

akibat populasi dan sebagainya (Notoatmodjo, 2005:56).

Perilaku hidup bersih dan sehat di Indonesia saat ini masih rendah, hal ini

terkait dengan berbagai permasalahan kesehatan atau penyebaran penyakit berbasis

lingkungan yang secara epidemiologis masih tinggi di Indonesia (Tursilowati et al,

2007). Data Departemen Kesehatan menyebutkan, sedikitnya 30 ribu desa di 440

kabupaten di Tanah Air memiliki sanitasi lingkungan yang buruk. Ini berarti banyak

kabupaten yang masyarakatnya belum berperilaku hidup sehat. Akibatnya,angka

kesakitan masyarakat sangat tinggi, terutama diare, DBD, thypoid, dan kolera (Tim

Teknis Pembangunan Sanitasi, 2009).

Selama ini upaya yang dilakukan masyarakat untuk mengatasi masalah

kesehatan (penyakit), masih banyak berorientasi pada penyembuhan penyakit. Dalam

penyakit yang telah terjadi atau menimpanya, dimana hal ini dirasa kurang efektif

karena banyaknya pengeluaran. Upaya yang lebih efektif dalam mengatasi masalah

kesehatan sebenarnya adalah dengan memelihara dan meningkatkan kesehatan serta

mencegah penyakit dengan berperilaku hidup sehat, namun hal ini ternyata belum

disadari dan dilakukan sepenuhnya oleh masyarakat (Sulastomo, 2000).

Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang terhadap

stimulus yang berkaitan dengan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta

lingkungan. Perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh

pengetahuan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan salah satunya ádalah

pendidikan. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang

lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri

bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka menerima

informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya.

Sebaliknya jika tingkat pendidikan seseorang rendah, akan menghambat

perkembangan perilaku seseorang terhadap penerimaan, informasi dan nilai-nilai

yang baru diperkenalkan. Pendidikan lebih menekankan pada pembentukan

manusianya (penanaman sikap dan nilai-nilai) (Mubarak et al, 2007).

Kepedulian masyarakat Indonesia terhadap asuransi kesehatan secara umum

masih rendah, khususnya mereka yang berpendapatan rendah, hal ini juga akan

mempengaruhi tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat sebagai peserta

asuransi kesehatan, dengan demikian upaya untuk meningkatkan kepedulian

secara langsung melalui penyuluhan, pendampingan atau melalui media masa

(Zamroni, 2013).

Spiritual intelegensi mereprensentasikan tingkat kesadaran spiritual setiap individu

yang mencakup prinsip, nilai, etika dan perilaku individu. Spiritual intelegensi ini

juga termasuk tingkat kesadaaran seseorang terhadap orang lain /lingkungan

sekitarnya. Orang yang mempunyai spiritual intelegensi yang tinggi cenderung

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait