• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelajaran dari Mirriam, si Budak Kulit Hitam

Dalam dokumen Kisah Penelusuran "Masa Lalu" (Halaman 51-56)

pulalah yang akan saya

bab 7 Pelajaran dari Mirriam, si Budak Kulit Hitam

Pada waktu saya bergabung di bisnis network marketing (MLM), saya berkesempatan mengikuti banyak seminar. Sejujurnya, dari bisnis itulah saya mengetahui bahwa ada cara belajar yang sangat cepat, yaitu seminar. Di bisnis network marketing jugalah realitas dan pikiran saya akhirnya terbuka luas membentang. Di sana pula saya belajar bahwa kekuatan pikiran itu tidak terbatas adanya. Bahwa, segala sesuatu itu mungkin dilakukan apabila kita percaya, ada tekad yang sangat kuat, dan kita mau memperjuangkannya.

Dari bisnis network marketing pula saya berjumpa seorang guru yang memberikan shock therapy pada realitas saya. Sebut saja namanya Agnes (bukan nama sebenarnya). Suatu sore, dia mengundang saya, Gunawan kekasih saya, serta dua orang teman saya untuk berbincang-bincang di sebuah kafe. Saya ingat betul kejadian sore itu, karena dia seakan merobek "kertas penutup realitas" saya, dan membuatnya menjadi sebuah layar lebar sehingga saya bisa melihat segala sesuatunya dengan jauh lebih jelas.

Agnes bercerita bahwa dia pernah mengikuti sebuah seminar hebat yang biaya inyestasinya saja sampai Rp75 juta. Bayangkan, betapa shocknya saya mendengar hal itu. Waktu itu, biaya seminar yang cuma RplOO ribu saja sudah saya anggap cukup mahaL Terasa sekali, cerita tentang pengalaman Agnes itu telah memperluas realitas saya. Saya sungguh berterima kasih padanya akan hal itu. Tanpa ceritanya tersebut, saya pasti sudah melewatkan banyak seminar yang terbukti telah mampu mengubah hidup saya untuk selamanya.

Dalam pertemuan itu Agnes juga bercerita tentang perjalanan bag packing -nya ke Tibet dan Himalaya. Ceritanya lucu sekali, soal bagaimana dia sampai ke base salah satu puncak Himalaya yang udaranya sangat tipis. Perjalanan bag packing selama empat puluh hari itu berlangsung sangat menarik dan menghibur. Dari ceritanya, saya seperti diperlihatkan sisi lain dari sebuah koin.

Hampir seluruh anggota keluarga saya membuka usaha sendiri atau bekerja di kantor. Ayah dan ibu saya pun tidak pernah atau tidak s empat liburan panjang karena harus membuka toko setiap hari.

Realitas saya terbuka saat itu, bahwa sebenarnya ada suatu kehidupan yang mana waktu kita tidak harus dihabiskan hanya untuk mencari uang. Dan, saya sangat mendambakan kehidupan seperti itu.

Saya merasa cukup beruntung pernah bergabung di bisnis network marketing yang telah memperkenalkan saya dengan guru saya itu. Mungkin. memang itulah gunanya bisnis network marketing atau MLM dalam salah satu tahap kehidupan saya.

Tetapi, saya lebih penasaran dengan keberadaan Agnes sebagai guru wawasan saya dalam kehidupan sekarang. Dan, saya pun bertanya-tanya, apakah saya mempunyai

kehidupan lalu bersama dia? Pasti bukan kebetulan dia hadir di kehidupan saya dan mengubah hidup saya.

Akhirnya, saya meregresi diri dan hasilnya menjelaskan siapa saya dan siapa Agnes di kehidupan lalu, dan mengapa sekarang kami bertemu kembali.

T : .Apa yang kamu lihat?

J : Aku sedang berdiri di atas bukit. Aku sedang memandangi deretan rumah kayu bercat putih dengan pagar-pagar pendek berwarna putih di hamparan tanah yang hijau.

T: Kamu laki-laki atau perempuan? Dan, siapa namamu? J : Aku bocah perempuan berkulit hitam. Namaku Mirriam.. T : Berapa usia kamu sekarang?

J : Antara enam atau tujuh tahun.

T : Kamu lahir di negara mana? Tahun berapa?

J : Di Kalifornia, Amerika. Angka tahunnya sangat buram. Tapi, sekarang adalah masa perbudakan orang kulit hitam di Amerika.

T : Apakah kamu mempunyai keluarga?

J : Ya. Aku mempunyai ibu, ayah, dan adik laki-laki. Ayahku bekerja di perkebunan. Dia selalu memakai topi. Ibuku gemuk dan sangat suka makan.

T: Apakah mereka ada di kihidupanmu jang sekarang?

J : Hanya ibuku yang ada. Dia adalah tanteku di kehidupan sekarang. Tanteku sekarang juga gemuk dan suka makan.

T: Kita maju beberapa tahun untuk meilihat perjumpaanmu dengan gurumu, Agnes, di kehidupan saat ini. Berapa usiamu?

J : Dua belas tahun.

T : Bagaimana peijumpaanmu dengan gurumu?

J : Aku dijual untuk bekerja di rumah orang kulit putih. Pekerjaanku menggosok lantai kayu. Aku mempunyai nona, dia adalah guruku dalam kehidupanku yang sekarang.

T: Kita maju beberapa tahun untuk melihat keseharian hidupmu sebagai Mirriam. Besrapa usiamu sekarang? Apa jang kamu ketjakan sehari-hari?

J : Tugasku sudah bukan menggosok lantai lagi. Tugasku sekarang menyajikan makan an dan membersihkan kamar nona. Malam harinya aku membaca buku di kamarku. Aku suka sekali membaca.

T: Dari mana kamu mendapatkan buku-buku jang kamu baca?

J : Buku-bukunya aku ambil dari buku-buku nona yang sudah tidak terpakai.

tidak bisa membaca?

J : Aku belajar membaca sewaktu keciL Di daerahku ada seorang perempuan kulit hitam yang bisa membaca. Dia diajari oleh nonanya dan dia mengajari anak-anak di sekitar rumahku untuk membaca. Aku juga diajari membaca olehnya.

T: Kita maju ke saat penting di kehidupanmu sebagai Mirriam jang berhubungan dengan gurumu. Apa jang terjadi?

J : Aku sedang berada di kamar nona, sedang membersihkan kamarnya. Nona duduk di ranjang. Dia juga bertanya padaku, mengapa aku suka membaca.

T: Apa jawabanmu?

J : Aku menjawab, dengan membaca aku bisa hidup bebas, walaupun kebebasan itu hanya ada dalam pikiranku. Dan, dengan membaca aku bisa melupakan kenyataan hidupku sebagai seorang budak. Walaupun aku hidup sebagai seorang budak, tapi buku bisa membuka pikiranku untuk bebas berkelana ke mana saja.

T : Lalu, apa jang dikatakan nonamu?

J : Nona berkata, tidak peduli apakah orang itu seorang budak atau tuan besar. Setiap orang mempunyai kebebasan untuk mengembangkan pikirannya. Lalu, dia menyuruhku mengambil buku apa pun yang aku mau dari tumpukan buku-buku di pojok kamarnya. Aku senang bukan main.

T: Kita maju beberapa tahun di kehidupanmu sebagai Mirriam untuk melihat perubahan hidupmu. Apa jang teijadi?

J : Aku telah menikah dengan seorang pengurus kuda. Nona memberi aku sebuah rumah kecil di pekarangan belakang rumahnya yang luas. Suamiku adalah seseorang yang tidak mempunyai mimpi. Dia hanya tahu melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya, yaitu mengurus kuda-kuda tuannya dengan baik. Tapi, dia tidak pernah melarangku membaca walau menurut dia itu tidak berguna.

T : Siapakah suamimu di kehidupan sekarang!

J : Tidak tahu. Aku tidak mengenalnya dalam kehidupan sekarang. T: Apa ada jang berubah pada kehidupan nonamu?

J : Ya. Nona juga sudah menikah dengan seorang laki-laki berkedudukan tinggi di pemerintahan kota. Pemikiran nona memberikan pengaruh besar pada karier suaminya. T: Sekarang kita maju ke saat-saat terakhir dabm kehidupanmu ssbagai Mirriam. Apa jang terjadi?

J : Aku merasakan dadaku sakit. Aku sedang berada di dapur rumah nona. Aku pulang ke rumahku dan berbaring di tempat tidur. Dadaku sakit sekali.

T : Apakah kamu meninggal?

anak-anakku sedang menangis di samping tubuhku.

T: Sekarang kita akan mengulas kshidupanmu sebagai Mirriam. Apa pelajaranmu dalam kehidupanmu sebagai Mirriam?

J : Aku belajar bahwa kekuatan pikiran kita tidaklah terbatas. Jauh melampaui tubuh dan hidup kita yang terbatas ini.

Sudah dari dulu saya mengetahui nasihat yang berbunyi: "Kita dilahirkan dengan dua telinga dan satu mulut, maka kita harus lebih banyak mendengar daripada berbicara." Saya mendengarnya dari beberapa seminar dan membacanya dari beberapa buku, tetapi saya tidak pernah memahaminya secara serius. Setelah saya menjadi seorang hipnoterapis, barulah saya sungguh-sungguh sadar akan kekuatan nasihat bijak tersebut. Memang benar bahwa kebanyakan dari kita sulit sekali menjadi pendengar yang baik. Hampir seluruh klien yang saya tangani, pada pertemuan awal selalu mengeluhkan betapa beratnya berbagai masalah yang mereka rasakan. Rasanya, mereka hampir-hampir tidak ada harapan lagi untuk menjadi lebih baik.

Ajaibnya, pada akhir sesi terapi mereka merasa sangat ringan seolah beban berat mereka telah terangkat. Tahukah Anda, apa yang saya lakukan pada awal sesi terapi itu, sampai-sampai beban clien-clien saya itu bisa terangkat? Saya tidak melakukan apa pun! Saya hanya diam dan menjadi pendengar yang baik untuk apa pun yang mereka keluhkan.

Bukankah luar biasa kalau hanya dengan mendengarkan cerita-cerita mereka saja, lalu kita sudah bisa menjadi seorang penyembuh? Dari mendengarkan kisah itu juga saya malah bisa memetik banyak sekali pelajaran hidup.

Saya menemukan bahwa di balik setiap masalah ada pelajaran yang sedang hendak tumbuh. Masalah-masalah itu muncul supaya kita bisa mengambil pelajaran darinya dan menjadi lebih matang baik secara mental maupun spiritual.

Sungguh sulit bagi kita untuk jadi seorang pendengar yang baik. Padahal dengan berlatih menjadi pendengar yang baik---misalnya dalam pembicaraan dengan seorang mentor yang baik---dapat membuat kita jadi orang yang mudah dinasihati. Dengan sikap itu pula, sesungguhnya kita telah membuka diri dan siap untuk belajar dari pengalaman lawan bicara kita yang dapat membuat diri kita jadi lebih bijaksana. Dan, setiap kali kita belajar dan berlatih dengan menjadi pendengar yang baik, berarti kita telah memperluas realitas pikiran kita dan menjadi lebih bijaksana.

Dari kehidupan lalu saya sebagai Mirriam, saya sadar bahwa setiap orang adalah guru kita. Setiap pertemuan dengan orang-orang yang hadir dalam hidup kita adalah sebuah kesempatan untuk saling belajar. Kita pun bisa memilih belajar dari siapa saja yang kita temui dalam hidup ini. Karena, setiap orang mempunyai sebuah kisah untuk disampaikan dan kita bisa memilih menjadi seorang pendengar yang baik dan belajar dari kisah-kisah itu.

"Realitas pikiran kita tidak terbuka dengan

sendirinja. Dia membutuhkan seseorang

Dalam dokumen Kisah Penelusuran "Masa Lalu" (Halaman 51-56)