• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan biah lughoh di UIN Suska Riau

Dalam dokumen INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PADANGSIDIMPUAN (Halaman 127-133)

IAIN PADANGSDIMPUAN T.A 2020/2021

2. Pelaksanaan biah lughoh di UIN Suska Riau

Pelaksanaan biah lughoh arabiah di lingkungan Ma’had UIN Suska Riau berangkat dari visi dan misi UIN SUSKA yang ingin menjadi Universitas yang mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ajaran Islam secara integral di kawasan Asia Tenggara tahun 2013. Integrasi ilmu di harapkan tidak lagi melahirkan ahli-ahli agama yang bersaing dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan sebaliknya lahir pula ilmuan-ilmuan sekuler yang hampa dari jiwa agama. Ma’had Al-Jamiah ini merupakan salah satu usaha untuk menghilangkan dikotomi ilmu di UIN SUKA RIAU dan berganti menjadi kesatuan ilmu pengetshuan (the unity of knowledge). Berdasarkan integrasi ilmu tersebut, UIN SUSKA telah mengembangkan diri menjadi delapan fakultas, yaitu Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, Fakultas Usuluddin, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, Fakultas Psikologi dan Fakultas Pertanian dan Peternakan. Keunggulan Universitas tidak hanya tinggi dalam penguasaan Ilmu Pengetahuan Teknologi, tetapi juga kuat dalam iman dan taqwa. Kehidupan ini tidak saja membutuhkan insan-insan yang cerdas serta memiliki sumber daya manusia berkualitas dan produktif, tetapi juga tenaga yang bermoral dan memiliki komitmen terhadap akhlak.

Kebutuhan masyarakat terhadap figur yang mapan dalam acquired knowledge dan mapan dalam prennial knowledge. Ma’had Al-jamiah di bentuk dalam rangka mempersiapkan mahasiswa yang memiliki integrasi ilmu, amal dan akhlak yang berkualitas dan memiliki nilai strategis yang di butuhkan oleh masyarakat seperti: 1) Kemampuan memahami ajaran Islam secara sistematik, baik Islam sebagai agama, tata nilai maupun sumber budaya. 2) Kemampuan mengetahui dan memahami persolan zaman yang ada dewasa ini, khususnya persolan-persolan aktual yang di hadapi ummat Islam. 3) Kemampuan memadukan pengetahuan Islam dengan persolan konseptual dalam rangka membimbing umat sehingga terwujudnya rangkaian kegiatan bimbingan yang mantap dan dinamis.

Meneliti lebih jauh lagi bahwa visi misi Ma’had UIN Suska Riau secara intensif melaksanaka pembelajaran bahasa arab dan menjadikan bahasa arab

128

sebagai salah satu bahasa asing yang dugunakan dalam pergaulan sehari-hari.

Untuk mencapai visi misi ini tentunya di buatkanlah kurikulum yang akan di laksanakan. kurikulum diartikan sebagai semua yang di alami oleh santri yang memungkinkan merek untuk belajar dalam pengertiannya yang luas selama berada di lingkungan Ma’had Al-Jamiah.

a. Program kompetensi

Ma’had Al-jamiah dianggap sebagai wadah yang paling efektif dalam menciptakan biah lughoh arabiah di UIN Suska Riau. Program kompetensi ini di laksanakan dengan membuat bergilaran digunakan antara bahasa arab dan bahasa Inggris yaitu tiga hari bahasa arab dan tiga hari bahasa inggris. Program ini sebagai penguat kepada mahasiswa yang tingga di asrama karena latihan setiap hari menggunakan bahasa arab dengan bimbingan musyrif/ah serta dalam pengawasan muwajjihnya. Kemudian dari metode pelaksanaannya di buat dalam bentuk kurikulum.

Secara kompetensi kebahasaan mengedepankan seluruh aspek maharoh lughoh yang terdiri dari maharoh istima’, kalam, qiroah dan kitabah. Di dalam lingkungan Ma’had Al-jamiah seluruh kompetensi ini menjadi tujuan dalam pembelajaran bahasa arab. kompetensi ini mejadi syarat yang harus di penuhi oleh mahasantri untuk mengikuti perkuliahan yang di desain menggunakan bahasa arab.

maka untuk mencapai tujuan tersebut di buatlah target capaian yaitu dari aspek istima’ harus memahami percakapan natural, pidato dan berita berbahasa arab.

takallum mampu bercakap-cakap, berpidato, berdiskusi dan berdebat menggunakan bahasa arab. aspek qiroah mampu membaca dan memahami kitab-kitab kuning.

Pada aspek kitabah mampu menulis karya ilmiah dan popular menggunakan bahasa arab.

Melihat dari target-target pembelajaran bahasa arab yang di laksanakan tentu beriringan dengan arah pembelajaran bahasa arab secara umum karena mengedapankan seluruh kompetensi kebahasa araban. Dari segi istima’ sudah di bimbing mendenagrkan pidato-pidato menggunakan bahasa arab sebagai upaya dalam membiasaakan dan mengarbkan bahasa arab dengan alat dengar

129

mahasanteri/ah. Begitu juga takallum, qiroah dan kitabah di arahkan untuk penguasaan yang sangat memadai.

Kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut di buatlah tiga kegiatan yang menjadi kegiatan rutin mahasantri selama di asrama yang terdiri dari:

1. Lailatullughoh. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkat penguasaan pengetahuan bahasa arab yang akan digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari.

2. Language explor. Kegiatan ini sebagai ajang eksplorasi kreativitas mahasantri dalam berbahasa yang sering di tuangkan dalam berbagai penampilan seperti pidato, drama, puisi dan lain-lain.

3. Pengayaan mufrodat, yaitu penambahan mufrodat baru pada mahasantri/ah berikut dengan contoh penggunaan yang baik dan benar dalam ungkapannya.

Dari tiga kegiatan inilah proses penciptaan lingkungan bahasa arab di Ma’had Al-jamiah UIN Suska Riau terbentuk. Malam di suguhi dengan pengetahuan tentng bahasa arab dari dosen yang di datangkan dari luar kampus atau yang profesional di bidangnya dan mampu mengajarkannya. Materi yang di sampaikan pada kegiatan ini adalah berupa ilmu alat seperti nahwu dan shorof. Pengetahuan bahasa arab ini sebagai bekal kepada mahasantri dalam berbahasa arab atau fokus pada memahami kitab kuning seperti yang du tuliskan dalam program kompetensi. Kegiatan yang sangat di tunggu-tunggu oleh mahasantri/ah adalah language explor karena akan menampilkan kaecakapannya dalam bentuk kreatifitas yang beragam. Dan juga pengayaan mufrodat sebagai bekal utama dalam berkomunikasi bahasa arab.

Kegiatan-kegiatan yang sangat mendukung dalam pembentukan biah lughoh arabiah pada Ma’had al-jamiah

1. Biah lughoh di jadikan sebagai program utama dalam asrama. Dengan dijadikannya sebagai kegiatan utama maka tentunya pelaksanaan akan lebih massif dan terkotrol dengan baik.

2. Kemudian adanya pelayanan konsultasi bahasa yang di peruntukkan untuk menyelesaikan permasalah mahasantri yang kesulitan dalam bahasa arab.

130 3. al-yaum al-arabi

4. musabaqoh al-arabi 5. shabah al-lughoh 6. siaran dengan bilingual

Berdasarkan dari observasi yang dilakukan peneliti di Ma’had Al-jamiah UIN Suska Riau tentang pelaksanaan lingkungan bahasa arab adalah sebagai berikut :

1. Lingkungan pergaulan atau intraksi belajar mengajar dengan menggunakan bahsa arab. Berdasarkan data yang dikumpulkan melalui observasi maka dapat di jelaskan bahwa untuk lingkungan pergaulan dilaksanakan kegiatan pembelajaran mufrodat pada pagi hari atau malam hari menyesuaikan dengan jadwal mahasantri/ah, praktek kalam juga tetap dilaksanakan selama masih di asrama, kemudian juga dilaksanakan kegiatan muhadhoroh dengan nama language explor, untuk mendukung terlasananya biah lughoh ma’had juga mempunyai aturan tentang bahasa yaitu hari berbahasa arab atau inggris, acara-acara juga dilakasanakan menggunakan bahasa arab akan tetapi tidak memberikan hukuman kepada mahasantri yang tidak menggunakan bahasa arab, kemudian tidak ada kelas pembelajaran bahasa arab khusus oleh dosen karena penghuni asrama atau Ma’had tidak satu angkatan dan juga karena kurikulum pusat pengembangan bahasa dan ma’had tidak terintegrasi.

2. Lingkungan akademik, berupa kebijkan lembaga dalam mewajibkan kawajiban berbahasa arab pada hari-hari tertentu. Untuk lingkungan akademik para musyrif/ah berkomunikasi kepada mahasantri tetap menggunakan bahasa arab akantetapi justru pada acara-acara formal seperti waktu pengarahan tidak menggunakan bahasa arab, begitu juga komunikasi sesama mauyrif/ah dalam porgaulan tidak meggunakan bahasa arab. pergaulan sesama mahasantri tetap di upayakan menggunakan bahasa Arab walaupun terdapat kendala karena

131

mahasantri yang terdapat di Ma’had Al-jamiah tidak dalam satu angkatan sehingga sedikit kesulitan dalam melakukan pengawasan.

3. Lingkungan Psikologis, yaitu lingkungan yang dibentuk dalam mencitrakan bahasa arab sebagai bahasa yang mudah. Bahasa harian yang digunakan dalam lingkungan ma’had sudah banyak yang menggunakan bahasa indonesia atau daerah karena tidak adanya paksaan dan hukuman, begitu juga kurangnya motivasi dari para musyrif/ah kepada mahasantri/ah karena program bahasa lebih dominan dari musyrif/ah artinya belum mempunyai rancangan mufrodat atau pola pembelajaran bahasa selama di ma’had.

4. Lingkungan pandang dan penglihatan (Al-Biah al-marwiyah). Dalam membiasakan mengingat dan menghafal mufrodat melalui gambar-gambar bahasa arab sangat dominan di Ma’had UIN Suska riau, begitu juga pamlet-pamlet banyak menggunakan bahasa arab serta pengumuman berbahasa arab seperti nama tempat atau nama-benda-benda yang ada di sekitar asrama sangat banyak. Akantetapi belum mempunyai mading khusus untuk bahasa arab serta papan informasi.

5. Lingkungan pendengaran dan visual (biah As-syam iyyah dan Al-marwiyah). Selama melakukan penelitian melalui observasi peneliti menemukan bawa Ma’had UIN Siska termasuk cukup dalam hal fasilitas karena untuk pelaksanaan biah lughoh visual sangat baik, dimana banyak pidato-pidato menggunakan bahasa arab baik pada acara-acara resmi maupun pada kegiatan language explor, serta video-video banyak yang menggunakan bahasa arab baik berisi materi kuliah, atau music berbahasa arab. dan fasilitas internet yang memadai serta telivisi menggunakan bahasa arab sehingga mahasantri dapat menyaksikan secara langsung orang arab berbicara.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti di Ma’had Al-jamiah UIN Suska Riau dalam pelaksanaan biah lughoh arabiah terdapat enam aspek yang di tanyakan yaitu:

132

1. Kebijakan. Membuat buku panduan khusus untuk mahasiswa yang berada di asrama yang di bagikan kepada setiap mahasiswa. Aturan lebih cendrumg kepada pengutan bukan menjadi ketetapan. Mahasiswa UIN Suska tidak ada pengwajiban untuk tinggal di asrama. Sistem ma’had al-jamiah hanya terbatas 300 orang sudah terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi. Kemudian pembina asrama yang ada di ma’had tidak ada sistem roling akantetapi selama masih bersedia akan di pertahankan.

Belum menerapkan kebijakan untuk mewajibkan seluruh mahasiswa tinggal di asrama

2. Kurikulum pada Ma’had Al-jamiah adalah kurikulum yang terpisah dari mata kuliah yang ada pada fakultas maupun pusat pengembangan bahasa. Ma’had al-jamiah mempunyai kurikulum tersendiri untuk kegiatan ma’had sehingga kurang dalam mensinergikan peran antara ma’had dan fakultas maupun unit lain. Bahasa arab tidak menjadi materi yang wajib di ma’had karena mahasiswa hanya terbatas. Ada kurikulum yang jelas akantetapi banyak yang belum terlaksana karena kurangnya dukungan dari pimpinan kampus terutama dalam hal pendanaan.

Kemudian bahasa arab menjadi kebutuhan tambahan dalam lingkungan kampus sehingga keterpaksaan tidak kelihatan.

3. Kegitan penerapan biah lughoh yang dilaksanakan adalah shobahul lughoh/lailatul lughoh yaitu memberikan mufrodat kepada mahasiswa/i yang tinggal di asrama yang di laksanakan selama tiga hari dalam seminggu. Kegiatan pembelajaran banyak di isi materi kuliah yang lain sperti fiqih, al-qur’an, hadist dan lain-lain. Adanya kegiatan language explor yang di laksanakan setiap satu bulan atau dua bulan yaitu kegiatan yang di isi dengan kegiatan-kegiatan ke bahasaan dalam bentuk yang kreatif. Adanya perlombaann kebahasaan yang di laksanakan di tingkat Ma’had sebagai ajang menunjukkan bakat bahasa arab.

4. Peran muwajjih adalah menjadi pengarah terhadap program-program ma’had yang terkait dengan bahsa dan non bahasa dan memastikan program berjalan dengan baik. Memberikan evaluasi terhadap kinerja musyif/ah

133

5. Bahasa di jadikan sebagai bahasa sehari-hari pada mahasiswa/i selama tinggal di asrama dan juga di ajar musyrif/ah yang tinggal di asrama. Di berikan fasilitas internet yang memadai baik berupa akses internet, televisi maupun fasilitas kendraan. Pengajaran bahasa di asrama oleh musyif/ah yang sudah senior karena sistemnya juga di gaji sehingga tumbuh semangat dalam mengajar bahasa arab.

6. Latar belakang input mahasiswa yang tinggal di asrama yang berbeda-beda dalam bahasa arab. Tidak ada kewajiban belajar bahasa arab karena banyak dari jurusan umum. Waktu mufrodat pagi sering bentrok dengan jadwal perkuliahan di fakultas serta banyak materi kuliah yang lain yang juga program ma’had

Dari hasil data wawancara diatas tentang penerapan biah lughoh di UIN Suska Riau menunjukkan adanya Langkah-langkah yang terukur dan terorganisir dari seluruh pihak yang terkait dengan Ma’had Al-jamiah baik dari pimpinan, muwajjih/ah, musyrif/ah dan mahasantri. Langkah-langkah yang terukur ini dapat di pahami berdasarkan kebjikan, kurikulum dan program-program yang di laksanakan. Untuk menciptakan lingkungan Bahasa yang berhasil tentunya harus ada komitmen yang kuat dari seluruh sector. Sehubungan dengan Ma’had al-jamiah tidak di tetapkan kepada seluruh mahasiswa akantetapi pada mahasiswa yang berminat saja, jadi secara pelaksanaan dapat di kategorikan lebih mudah di lihat dari jumlah yang tinggal di asrama. Dan yang menjadi hambatan adalah karena input mahasantri yang berbeda dan juga terdiri dari berbagai macam semester tergolong terkendala dalam mendisiplinkannya.

3. Perbedaan antara Ma’had Al-jamiah IAIN Padangsidimpuan dan

Dalam dokumen INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PADANGSIDIMPUAN (Halaman 127-133)